cover
Contact Name
Nur Asni Setiani
Contact Email
nur.asni@stfi.ac.id
Phone
+6285718360277
Journal Mail Official
jurnal@stfi.ac.id
Editorial Address
Gedung 1 Kampus Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia Jl. Soekarno Hatta no. 354 (Parakan Resik) Bandung, 40266 West Java, Indonesia
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Sains dan Teknologi Farmasi Indonesia
ISSN : 23032138     EISSN : 2830201X     DOI : http://dx.doi.org/10.58327/jstfi
Core Subject : Health, Science,
JURNAL SAINS DAN TEKNOLOGI FARMASI INDONESIA (P-ISSN: 2303-2138) is open access and peer-reviewed (double-blind) Scientific Journal that publishes all research articles/reviews/ short communication related to the pharmacy research. The focus of JURNAL SAINS DAN TEKNOLOGI FARMASI INDONESIA is to publish articles in pharmacy. Scope of this journal are: 1. Pharmacology, 2. Pharmaceutical biology, 3. Pharmacy, 4. Pharmaceutical chemistry, 5. Community pharmacy, 6. Biotechnology and biomolecular sciences.
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 6, No 2 (2017)" : 5 Documents clear
UJI AKTIVITAS INSULIN-SENSITIZER EKSTRAK ETANOL BUAH MALAKA (Phyllanthus emblica L.) PADA TIKUS JANTAN GALUR WISTAR YANG DIINDUKSI DIET TINGGI LEMAK Novi Irwan Fauzi; Yessi - Febriani; Risma Ayu Musthofa
JURNAL SAINS DAN TEKNOLOGI FARMASI INDONESIA Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (457.749 KB) | DOI: 10.58327/jstfi.v6i2.66

Abstract

AbstrakBuah malaka (Phyllanthus emblica L.) merupakan salah satu tanaman potensial yang dapat digunakan untuk mencegah prognosis buruk penyakit diabetes melitus. Akan tetapi, potensi tersebut belum diketahui jelas mekanismenya. Penelitian ini bertujuan mengetahui aktivitas insulin-sensitizer ekstrak etanol buah malaka dalam rangka karakterisasi mekanisme kerja dalam mengendalikan kadar glukosa darah pada penyakit diabetes melitus. Secara acak, 18 tikus jantan galur Wistar dibagi menjadi 6 kelompok (n=3). Kelompok kontrol tikus normal, kontrol tikus resitensi insulin, kontrol positif (metformin 45 mg/kgbb) dan 3 kelompok dosis ekstrak etanol buah malaka 100, 500 dan 1000 mg/kgbb. Induksi resistensi insulin dilakukan dengan cara pemberian emulsi tinggi lemak pada masing-masing kelompok selama 21 hari, kecuali kelompok kontrol tikus normal. Tes toleransi insulin dilakukan pada hari ke 22 untuk menilai aktivitas insulin-sensitizer setelah pemberian perlakuan. Hasil pengujian menunjukkan terjadinya peningkatan sensitivitas insulin yang signifikan pada semua kelompok tikus yang diberi ekstrak etanol buah malaka (p≤0,05), dinilai dengan cara membandingkan nilai konstanta tes toleransi insulin (KTTI) kelompok perlakuan terhadap kelompok tikus resistensi insulin. Nilai KTTI pada ketiga kelompok dosis ekstrak etanol buah malaka lebih besar dibandingkan kelompok kontrol tikus resistensi insulin, berturut-turut nilainya adalah 70,29; 76,14; 77,55 dan 38,41. Ekstrak etanol buah malaka menunjukkan aktivitas insulin-sensitizer pada tikus jantan galur Wistar yang diinduksi resistensi insulin menggunakan diet emulsi tinggi lemak.  Kata kunci: Buah Malaka (Phyllanthus emblica L.), Insulin-Sensitizer, Tes Toleransi Insulin, Diabetes Melitus  AbstractFruit malacca (Phyllanthus emblica L.) is one of potential plants that can be used to prevent bad prognosis of diabetes mellitus. However, this potential is not known unclear mechanism. This study was conducted to determine the activity of insulin-sensitizer ethanol extract of fruit Malacca in order to characterize the mechanism of action in controlling blood glucose levels in diabetes mellitus. Randomly, 18 Wistar male rats were divided into 6 groups (n = 3). Rats normal control group, insulin resistance rats control group, positive control group (metformin 45 mg/kgbb) and 3 doses of ethanol extract of fruit malacca 100, 500 and 1000 mg/kgbw. Insulin resistance induced by giving high-fat emulsions in each group for 21 days, except for the rats normal control group. Insulin tolerance tests were performed on day 22 to assess insulin-sensitizer activity after treatment. The results showed an increase in insulin sensitivity in all groups of rats given ethanol extract of fruit Malacca (p≤0,05), was assessed by comparing the value of the insulin tolerance test constant (KTTI) of the treatment group to the insulin resistance rats control group. The KTTI values in the three doses of ethanol extract of malacca were higher than those of insulin resistance rats control group, the values is 70,29; 76,14; 77,55 and 38,41 respectively. Malacca fruit ethanol extract showed activity of insulin-sensitizer in Wistar male rats induced insulin resistance using a diet high in fat emulsion.  Keywords: Fruit malacca (Phyllanthus emblica L.), Insulin-Sensitizer, Insulin Tolerance Test, Diabetes mellitus
[REVIEW] USAHA PENINGKATAN KELARUTAN DAN LAJU DISOLUSI ZAT AKTIF FARMASI SUKAR LARUT AIR Revika - Rachmaniar; Taofik - Rusdiana; Camellia - Panatarani; I Made Joni
JURNAL SAINS DAN TEKNOLOGI FARMASI INDONESIA Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (453.678 KB) | DOI: 10.58327/jstfi.v6i2.64

Abstract

AbstrakKelarutan dan laju disolusi obat pada saluran gastrointestinal merupakan parameter dalam mengendalikan absorpsi dan bioavaibilitas obat. Obat yang sulit larut air dan disolusi rendah dalam cairan gastrointestinal akan menghasilkan bioavaibilitas oral rendah sehingga peningkatan kelarutan dan laju disolusi menjadi tantangan. Salah satu upaya mengatasinya adalah dengan menurunkan ukuran partikel, tapi partikel kecil yang terbentuk berpotensi membentuk aglomerasi dan agregasi. Karya tulis ini merupakan kajian pustaka bertujuan untuk mengetahui teknologi rekayasa partikel dalam rangka mengatasi permasalahan kelarutan dan laju disolusi yang rendah. Upaya meningkatkan kelarutan dan laju disolusi, yaitu modifikasi ukuran partikel, kristalinitas, modifikasi permukaan, dan teknologi preparasi partikel. Penurunan ukuran partikel obat dapat meningkatkan luas permukaan kontak obat dan media disolusi sehingga laju absorpsi meningkat. Namun, semakin kecil ukuran partikel dikhawatirkan terjadi aglomerasi dan agregasi karena efek elektrostatik. Oleh karena itu, untuk mencegah terjadinya aglomerasi dan agregasi perlu ditambahkan stabilizer. Gugus fungsi pada stabilizer berfungsi untuk membantu meningkatkan obat yang sulit larut air, seperti polimer dan surfaktan. Partikel yang memiliki kristalinitas rendah (amorf) dapat memperbaiki kelarutan dan laju disolusi dengan luas permukaannya yang lebih besar dibandingkan partikel yang memiliki kristalinitas tinggi. Salah satu teknologi yang sering digunakan untuk meningkatkan kelarutan dan disolusi obat yang sukar larut air adalah spray drying. Kata kunci: spray drying, kelarutan, disolusi AbstractSolubility and dissolution rate of drug in gastrointestinal tract is an important in controlling absorption and bioavailability. Water insoluble and low dissolution drug will result low oral bioavailability. An effort to solve it is by reducing particle size, but fine particles have potential to form aggregation. This paper is a review which is aimed to determine the particle engineering technology in order to solve problems of solubility and dissolution rate. Several efforts of modification to increase solubility and dissolution rate, which is modification of particle size, crystallinity, surface, and preparation of particle technology. Decreasing size of drug particles can increas contact surface area of drug and dissolution medium so that the rate of drug absorption increases. However, agglomeration and aggregation occur in fine particle because of electrostatic effects. Therefore, stabilizer is needed to prevent aggregation. The functional groups on stabilizer has another function which improve the water insoluble drugs, such as polymers and surfactants. Particles which have a low crystallinity (amorphous) can improve the solubility and dissolution rate with a surface area larger than the particles which have high crystallinity. A technology which is often used in order to improve solubility and dissolution of water insoluble drugs is spray drying.  Keywords: spray drying, solubility,dissolution 
KARAKTERISASI BAKTERI Mycobacterium tuberculosis MENGGUNAKAN SPEKTROFOTOMETRI FOURIER TRANSFORM INFRARED Dewi - Astriany; Sri Gustini Husein; Reta Julan Mentari
JURNAL SAINS DAN TEKNOLOGI FARMASI INDONESIA Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (442.841 KB) | DOI: 10.58327/jstfi.v6i2.65

Abstract

AbstrakTuberkulosis merupakan salah satu penyakit yang sampai saat ini masih menjadi penyebab utama kematian di dunia. Mycobacterium tuberculosis mempunyai karakteristik unik karena dinding selnya kaya akan lipid dan lapisan tebal peptidoglikan yang mengandung arabinogalaktan, lipoarabinomanan dan asam mikolat. Asam mikolat tidak biasa dijumpai pada bakteri lain. Spektrofotometri Fourier Transform Infrared (FT-IR) dapat digunakan untuk karakterisasi mikroorganisme karena spektrum yang dihasilkan merupakan refleksi dari keseluruhan komposisi molekuler. Adapun penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola spektrum bakteri tersebut. Terdapat kesamaan pola spektrum bakteri Mycobacterium tuberculosis hasil lisis menggunakan pemanasan dan sonikasi yang ditandai dengan munculnya free–OH absorption band, regang simetris CH2, bending NH3, bending CH3 dan a asymmetric stretching P=O. Analisis sampel dialisis Mycobacterium tuberculosis hasil pemanasan menunjukkan perbedaan dengan sampel hasil sonikasi yaitu dengan munculnya amida II dan vibrasi C-O-C dan C-O serta tidak munculnya free–OH absorption band dari asam mikolat. Kata kunci : Tuberkulosis, Mycobacterium tuberculosis, spektrum FT-IR. AbstractTuberculosis (TB) is one of diseases that is still the main cause of death in the world. Mycobacterium tuberculosis has unique characteristics because its cell walls are rich in lipids and thick layers of peptidoglycan containing arabinogalactan, lipoarabinomannan, and mycolic acid. Mycolic acid is not common in other bacteria. Fourier Transform Infrared (FT-IR) spectrophotometry can be used to characterize microorganisms because the resulting spectrum is a reflection of the overall molecular composition. The purpose of this research is to determine the pattern of spectrum of bacteria. There are similar pattern of Mycobacterium tuberculosis spectrum using heating and sonication which is characterized by the appearance of free-OH absorption band, symmetric stretching CH2, bending NH3 , bending CH3 and a asymmetric stretching P=O. Analysis of dialysis heating samples of Mycobacterium tuberculosis showed differences with sonication samples results with the appearance of amide II and vibration C-O-C and C-O and the absence of free-OH absorption band from mycolic acid.  Keywords : Tuberculosis, Mycobacterium tuberculosis, FT-IR spectrum
PENGEMBANGAN MODEL HEWAN AUTISME PADA MENCIT YANG DIINDUKSI METILMERKURI PADA KONDISI PRENATAL Tiara - Berliani; Andreanusi A Soemardj; Kusnandar - Anggadiredja
JURNAL SAINS DAN TEKNOLOGI FARMASI INDONESIA Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (785.637 KB) | DOI: 10.58327/jstfi.v6i2.67

Abstract

AbstrakHubungan antara paparan merkuri melalui konsumsi ikan dengan autisme saat ini menjadi perhatian publik, dimana terdapat hipotesis bahwa paparan merkuri saat prenatal berperan penting dalam etiologi autisme. Merkuri dapat menimbulkan kerusakan dan kematian neuron di otak dimana kondisi tersebut hampir sama ditemukan pada diagnosa autisme. Penelitian ini bertujuan untuk mengatahui apakah induksi metilmerkuri pada kondisi prenatal dapat membentuk model mencit autisme pada anakan mencit (F1). Pembentukan model hewan autisme dilakukan dengan menginduksi mencit menggunakan dosis oral tunggal metilmerkuri klorida 4 mg/Kg dan 8mg/Kg, Pemberian dilakukan pada kondsi prenatal pada GD10. Pengaruh pemberian metilmerkuri diamati melalui pengamatan perilaku yang berkaitan dengan beberapa gangguan yang terjadi pada kondisi autisme. Parameter uji yang diamati meliputi aktivitas lokomotor menggunakan Open Field, abnormalitas interaksi sosial menggunakan Three Chambered Apparatus, perilaku berulang melalui Uji Marble Burying, Self-Grooming dan Digging serta uji intelegensia (kecerdasan) menggunakan Hebb-William Maze. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian metilmerkuri pada kondisi prenatal dosis oral 4mg/Kg maupun 8mg/Kg berpengaruh terhadap F1 mencit dimana terjadi gangguan perilaku seperti hiperaktifitias, defisit interaksi sosial, perilaku berulang yang terus-menerus, serta defisit memori spasial. Pengaruh metilmerkuri terhadap gangguan perilaku berbeda antara jenis kelamin pada F1 mencit. Induk yang diinduksi metilmerkuri 4mg/Kg gangguan secara umum dialami oleh F1 betina, sementara induk yang diinduksi metilmerkuri dosis 8mg/Kg mengakibatkan gangguan perilaku yang secara umum dialami oleh F1 jantan. Pemberian dosis oral tunggal metilmerkuri 8mg/Kg GD10 berpotensi membentuk model mencit autisme. Kata kunci: Metilmerkuri, model hewan autisme, prenatal AbstractCorrelation between mercury exposure through fish consumption with autism increased public awareness, there is emerging evidence supporting the hypothesis that autism may result from mercury prenatal exposure. Mercury exposure can cause damage until death of neurons in the brain where these conditions can be found in autism diagnosis as well. The aims of this study are to determine whether methyl mercury can form autism mice model. Forming animal model of utism is by inducing using single oral dose 4mg/Kg and 8mg/Kg of methylmercury chloride. Methylmercury chloride is given by prenatal condition on GD10. The effect of methyl mercury was observed by behavioral studies that represent some disorder that occurs on the condition of autism. Behavioral study including observation of locomotor activity in the Open Field, abnormality social interactions using Three Chambered Apparatus, repetitive behaviors by Marble Burying Test, Self-Grooming and Digging and also intelligence using Hebb-William Maze. Oral inducing prenatal of methyl mercury dose 4mg/Kg or 8mg/Kg affected in F1 mice in which occurs behavioral disorders such as hyperactivity, social interaction deficits, repetitive behaviors, as well as spatial memory deficits. The effect of methylmercury on behavioral disorders differ between the sexes in F1 mice. Mother that induced by methylmercury 4mg/kg generally caused disorders by F1 females, while mother that induced by methylmercury 8mg/kg caused behavioral disorder that are commonly by F1 male. Methylmercury single oral dose 8 mg/Kg administration prenataly in mice on GD10 potentially form of autism. Keywords : Methylmercury, mice model of autism, prenatal.
MODIFIKASI PATI JAGUNG DENGAN METODE REAKSI ENZIMATIS Lamhot Burju S; Anis Yohana C; Marline - Abdassah
JURNAL SAINS DAN TEKNOLOGI FARMASI INDONESIA Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (657.085 KB) | DOI: 10.58327/jstfi.v6i2.68

Abstract

AbstrakPati dikenal sebagai eksipien yang digunakan dalam tablet. Aliran air yang buruk dari pati dapat diperbaiki dengan modifikasi menjadi maltodekstrin. Tujuan penelitian ini untuk menghasilkan maltodekstrin yang digunakan sebagai pengisi formulasi tablet yang diproduksi dengan metode kompresi langsung. Dalam percobaan ini, maltodekstrin yang beredar di pasaran dan pati jagung asli digunakan sebagai standar. Proses modifikasi maltodekstrin dilakukan dengan menggunakan tiga parameter yang berbeda: total enzim (0,125 ml; 0,25 ml, dan 0,5 ml), suhu proses (60, 70 dan 80⁰C), dan waktu pengadukan (60, 120, dan 180 menit). Modifikasi maltodekstrin dengan total enzim α-amilase 0,5 ml, suhu pengolahan (60, 70 dan 80⁰C) dan waktu pengadukan 180 menit dievaluasi nilai Dextrose Equivalent (DE) sesuai standar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa maltodextrin F27 adalah formula terbaik (DE 17,49%) dengan jumlah enzim yang lebih tinggi (0,5 ml), suhu (80oC) dan waktu pengadukan (180 menit). Kata kunci : pati jagung, maltodekstrin, Dextrose Equvalen (DE) AbstractStarch is very well known excipient used in tablet. Poor flow property of native corn starch can be improved by modification into maltodextrin. The aim of the study was to produce maltodextrin to be used as filler in the tablets formulation manufactured by direct compression methods. In this experiment, marketed maltodextrin and native corn starch were used as standard. The modification process of maltodextrin were conducted by using three different parameters: total enzyme (0.125 ml; 0.25 ml; and 0.5 ml), processing temperature (60, 70 and 80oC), and the time stirring (60, 120, and 180 minutes). Maltodextrin modification which total enzyme α-amylase 0.5 ml, processing temperature (60, 70 and 80oC) and the time stirring 180 minute were evaluated Dextrose Equivalent (DE) to those of the standards. The results showed that maltodextrin F27 was the best formula (DE 17.49%) with the higher amount of enzyme (o.5 ml), temperature (80oC) and time stirring (180 minutes). Keywords : Corn Starch, Maltodextrin, Dextrose Equivalent (DE)

Page 1 of 1 | Total Record : 5