cover
Contact Name
Muhammad Zaki Pahrul Hadi
Contact Email
zakipahrulhadi@gmail.com
Phone
+6285292915566
Journal Mail Official
jishum@journal.ikmedia.id
Editorial Address
Jln. Gotong Royong, Kebon Bawak Timur - Kebon Sari - Ampenan – Mataram 83118
Location
Kota mataram,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora
Published by CV Insan Kreasi Media
ISSN : -     EISSN : 29620120     DOI : https://doi.org/10.57248/jishum
JISHUM: Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora [e-ISSN 2962-0120] | DOI 10.57248] is intended to develop itself as a pioneer journal in social sciences and humanities. Starting from the year 2022, it publishes all papers in English and Indonesian. Areas relevant to the scope of the journal include Social Sciences, Education, Media and Communication studies, Law, Tourism, Arts and Culture, Linguistics, Literature and Philosophy. Research as well as literary study articles submitted to JISHUM should be original and have never been published anywhere. All submitted articles will be blinded peer-reviewed by panel of experts in the concern field of study. The manuscripts should follow guide line as found in the journal template for the purpose of both reviewing and editing.
Articles 245 Documents
Prinsip Good Faith dan Good Governance dalam Hukum Kontrak Bisnis Internasional dan Hukum Administrasi Negara Usman Munir; Firzhal Arzhi Jiwantara
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 4 No. 4 (2026): Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora (Juni)
Publisher : CV Insan Kreasi Media

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57248/jishum.v4i4.848

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis konvergensi prinsip good faith dalam hukum kontrak bisnis internasional dan prinsip good governance dalam hukum administrasi negara. Kajian ini penting karena hubungan hukum privat dan publik semakin menuntut adanya standar etik, transparansi, akuntabilitas, dan kepastian hukum dalam praktik bisnis maupun penyelenggaraan pemerintahan. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan konseptual. Bahan hukum yang dianalisis meliputi peraturan perundang-undangan, prinsip hukum kontrak internasional, doktrin hukum, serta literatur ilmiah yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prinsip good faith dan good governance memiliki kesamaan nilai dasar berupa kejujuran, keterbukaan, akuntabilitas, kepastian hukum, keadilan, dan larangan penyalahgunaan hak maupun wewenang. Dalam hukum kontrak bisnis internasional, good faith berfungsi menjaga keseimbangan hak dan kewajiban para pihak, mencegah perilaku oportunistik, serta memperkuat kepercayaan dalam hubungan kontraktual. Sementara itu, dalam hukum administrasi negara, good governance menjadi landasan penyelenggaraan pemerintahan yang baik sesuai Asas-Asas Umum Pemerintahan yang Baik (AUPB). Konvergensi kedua prinsip tersebut menunjukkan bahwa hukum privat dan hukum publik memiliki titik temu dalam membangun relasi hukum yang adil, transparan, dan berintegritas. Penelitian ini menyimpulkan bahwa integrasi nilai good faith dan good governance berkontribusi terhadap penguatan kepastian hukum, perlindungan hukum, dan tata kelola yang berkeadaban dalam hubungan hukum bisnis maupun administrasi negara.
An Analysis of Subtitle Translation Strategies in Miss Peregrine's Home for Peculiar Children Joanna Felicia Andrianto
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 4 No. 4 (2026): Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora (Juni)
Publisher : CV Insan Kreasi Media

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57248/jishum.v4i4.840

Abstract

This study examines subtitle translation strategies in the official Indonesian subtitles of Miss Peregrine's Home for Peculiar Children (2016), directed by Tim Burton. Guided by Pedersen's (2011) seven-strategy typological framework, the study employs a descriptive qualitative approach with content analysis as its primary method. A corpus of 44 purposively selected subtitle segments, drawn from Blu-ray rip files and cross-verified against official subtitles on Netflix and Disney+ Hotstar, was analyzed across four fantasy genre components: invented neologisms, world-building references, meaningful character names, and fantasy idioms and metaphors. Findings reveal that only three strategies were present in the corpus. Retention was dominant (68.2%), consistently applied to fantasy-specific neologisms such as ymbryne, hollowgast, and peculiar. Specification accounted for 22.7% of cases, used exclusively for the world-building term "loop" rendered as lingkaran waktu, while Direct Translation comprised the remaining 9.1%, applied to peculiarity as keanehan. The four remaining strategies were absent. The overall source-oriented tendency reflects translators' preference for terminological fidelity over cultural adaptation. These findings offer practical implications for subtitle translators and contribute to the growing body of audiovisual translation (AVT) research in Indonesia.
Strategi Penerjemahan Bahasa Figuratif Dalam Novel “The Midnight Library” Karya Matt Haig Monalisa; Hanif Safika
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 4 No. 4 (2026): Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora (Juni)
Publisher : CV Insan Kreasi Media

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57248/jishum.v4i4.874

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji strategi penerjemahan bahasa figuratif dalam novel The Midnight Library yang ditulis oleh Matt Haig dengan menggunakan kerangka metode penerjemahan Newmark. Penelitian ini ditulis dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan analisis isi untuk mengidentifikasi, mengklasifikasi, serta menganalisis strategi penerjemahan bahasa figuratif dari teks sumber ke bahasa sasaran. Analisis juga dilakukan untuk mengkaji faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan strategi penerjemahan, tingkat kesepadanan makna, serta mengidentifikasi potensi pergeseran makna yang terjadi dalam proses penerjemahan. Data penelitian berupa ungkapan figuratif yang ditemukan dalam novel The Midnight Library dan terjemahannya, yang meliputi 14 metafora, 12 simile, 9 personifikasi, 2 hiperbola, 1 idiom, dan 1 paradoks. Setiap data dianalisis berdasarkan jenis bahasa figuratif, metode penerjemahan yang digunakan, serta teknik penerjemahan yang mendukung proses alih bahasa tersebut. Hasil penelitian menunjukkan metode penerjemahan yang paling dominan digunakan adalah literal translation. Dominasi metode literal translation menunjukkan bahwa penerjemah cenderung mempertahankan struktur, makna leksikal, serta citra bahasa figuratif yang terdapat dalam teks sumber. Pemilihan strategi penerjemahan dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu faktor keberterimaan, keterbacaan, kealamian dalam bahasa sasaran, serta karakteristik bahasa figuratif itu sendiri yang sebagian besar memungkinkan penerjemahan secara langsung tanpa menyesuaikan bentuk dan struktur secara signifikan. Meskipun ditemukan pergeseran makna pada penerjemahan idiom, secara keseluruhan metode yang digunakan mampu mempertahankan makna, efek stilistika, dan nuansa emosional teks sumber. Temuan ini menunjukkan bahwa penerapan strategi penerjemahan yang tepat memiliki peran penting untuk mempertahankan pesan, fungsi komunikatif, dan pengalaman estetik yang ingin disampaikan penulis dalam teks sumber. Penelitian ini memberikan wawasan dalam memahami penerapan strategi penerjemahan bahasa figuratif serta implikasinya terhadap kualitas terjemahan karya sastra.
Pergeseran Makna dalam Terjemahan Lagu “Straight Edge” oleh Minor Threat: Sebuah Kajian Semiotik dan Ideologis Dian Listiani; Afriliani
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 4 No. 4 (2026): Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora (Juni)
Publisher : CV Insan Kreasi Media

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57248/jishum.v4i4.890

Abstract

Musik punk hardcore tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai bentuk penyampaian ideologi dan perlawanan sosial. Lagu “Straight Edge” karya Minor Threat pada 1981 menjadi salah satu representasi penting dari subkultur punk yang menolak alkohol, narkoba, dan perilaku destruktif. Namun, dalam proses penerjemahan ke bahasa Indonesia, terjadi pergeseran makna yang memengaruhi simbol, metafora, dan ideologi yang terkandung di dalamnya. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan jenis pergeseran makna semiotik dalam terjemahan lagu “Straight Edge”, mengkaji dampaknya terhadap ideologi dan identitas subkultur punk hardcore, serta menelaah interaksi antara terjemahan, budaya, dan konstruksi ideologis. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif deskriptif dengan analisis semiotika Barthes, teori pergeseran terjemahan Munday, serta model encoding-decoding Hall melalui pembacaan mendalam terhadap sembilan bait lirik asli lagu Straight Edge beserta terjemahan bahasa Indonesia yang disusun dan diinterpretasikan oleh penulis sebagai teks sasaran penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar simbol konotatif mengalami reduksi menjadi makna denotatif, bahasa kasar disensor, dan metafora sosial dilemahkan sehingga pesan perlawanan berubah menjadi seruan moral individual. Proses lokalisasi budaya dan netralisasi menyebabkan identitas subkultur Straight Edge kehilangan dimensi historis dan politisnya, serta lebih mudah diterima dalam konteks kolektivis dan religius masyarakat Indonesia. Temuan ini menegaskan bahwa penerjemahan lagu bukan sekadar konversi bahasa, melainkan juga rekonstruksi budaya dan ideologi yang menegosiasikan makna sesuai dengan audiens sasaran serta lebih mudah diterima dalam konteks budaya Indonesia sehingga mengalami penyesuaian terhadap nilai-nilai sosial yang dominan.
Managing the “Maju Bersama” Village-Owned Enterprise in Suka Maju Village, Kampar Regency Rini Rahayu; Rony Jaya
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 4 No. 4 (2026): Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora (Juni)
Publisher : CV Insan Kreasi Media

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57248/jishum.v4i4.864

Abstract

Effective management of Village-Owned Enterprises (BUM Des) can boost the village economy and independence, but in reality, many BUM Des are still not optimally managed. The purpose of this article is to analyze the management of BUM Des Maju Bersama in Suka Maju Village, Tapung Hilir District, Kampar Regency and identify obstacles in its management. The study used a descriptive qualitative method with data collection techniques in the form of interviews and documentation. Informants were selected through purposive sampling involving fifteen informants, consisting of the Village Head ex-officio Commissioner, Supervisor, Director, Secretary, Treasurer, and ten community members. Interactive data analysis was carried out through stages of condensation, presentation, drawing conclusions, and verification that ensured the validity of the data through triangulation of sources and techniques. The results of the study indicate that BUM Des management is carried out based on legal provisions and has involved the community in a participatory manner, but its management is still not running optimally. Identification of management obstacles includes immature business planning, weak commitment, managerial capacity and coordination between administrators, and ineffective evaluation.