cover
Contact Name
Risko
Contact Email
risko@physics.untan.ac.id
Phone
+6285750630630
Journal Mail Official
manfishjournal@gmail.com
Editorial Address
Jl. Jenderal Ahmad Yani, Bansir Laut, Kec. Pontianak Tenggara, Kota Pontianak, Kalimantan Barat, Indonesia.
Location
Kota pontianak,
Kalimantan barat
INDONESIA
Manfish Journal
ISSN : 27212815     EISSN : 27212939     DOI : https://doi.org/10.31573/manfish.v2i3
Marine Science, Aquaculture, Fishery Product Processing, Capture Fisheries, Marine Biology, Oceanography, Fishery Biotechnology, Marine and Coastal, Remote Sensing, Conservation
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 4 No 1 (2023): MANFISH JOURNAL" : 8 Documents clear
Kemunduran Mutu Fisik Dendeng Cumi-Cumi (Loligo Sp) Dengan Berbagai Jenis Kemasan (Standing Pouch, Cup Dan Plastik) Leni Lasmi; Tri Wahyuni
Jurnal Kelautan, Lingkungan, dan Perikanan Vol 4 No 1 (2023): MANFISH JOURNAL
Publisher : Jurusan Ilmu Kelautan dan Perikanan Politeknik Negeri Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31573/manfish.v4i1.460

Abstract

Dendeng is a semi-wet form of food which is usually made of meat or fish, thin and wide, seasoned and dried. The processing is by soaking the raw materials into the spices for about one day and then putting it in the oven. This study aims is to describe duration of the squid jerky in some packages thourgh the scoring test of squid jerky with various types of packaging, namely Standing Pouch, Cup and Plastic. The results of the scoring test show that the deterioration of quality by means of the scoring test can be seen on the 55th day with a value of 3.11 in the Cup packaging, 2.96 Standing Pouch packaging and 3.52 Plastic packaging and until the 70 the day with a value of 1.76 in the Cup packaging. 1.67 Standing Pouch packages and 1.41 Plasik packages.
Efisiensi Pemberian Pakan Pada Usaha Pembesaran Udang Vaname (Litopenaeus Vannamei) Pola Tambak Intensif Pusat Unggulan Teknologi (PUT) Politeknik Negeri Pontianak di Mempawah Muhammad Idham Shilman; Suparmin Suparmin; Fadly Irmawan; Budiman Budiman
Jurnal Kelautan, Lingkungan, dan Perikanan Vol 4 No 1 (2023): MANFISH JOURNAL
Publisher : Jurusan Ilmu Kelautan dan Perikanan Politeknik Negeri Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31573/manfish.v4i1.483

Abstract

Udang vaname memiliki banyak keunggulan mulai dari harganya yang tinggi, cepat tumbuh dan tahan penyakit. Pakan merupakan faktor yang sangat penting dalam budidaya udang vaname karena menyerap 60-70% dari total biaya operasional, sehingga pemberian pakan perlu diperhatikan terutama efisiensinya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui rasio konversi pakan (FCR), tingkat efesiensi penggunaan paka (EP) dan kelangsungan hidup (SR) udang vaname pada usaha pembesaran dengan pola tambak intensif di Pusat Unggulan Teknologi (PUT) Politeknik Negeri Pontianak di Mempawah. Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini yaitu metode deskripif. Teknik pengumpulan Data yang yang dilakukan pada penelitian ini adalah dengan melakukan pengamatan terhadap jumlah pakan yang tersisa pada anco (dalam %) dari jumlah pakan yang diberikan pada setiap pemberian pakan untuk mengetahui Efisiensi pemberian Pakan (EP), Feed Convertion Ratio (FCR) dan Survival Rate (SR). Nilai FCR tambak A1 dan A2 memiliki nilai yang sama yaitu 1,3. Efisiensi pakan pada tambak A1 74.6 %, sedangkan pada tambak A2 sebesar 77.2 %. Nilai SR tertinggi yaitu pada tambak A2 dengan nilai 81.5 % dibanding dengan tambak A1 dengan nilai 75,0. Berdasarkan hasil yang diperoleh, tambak usaha pembesaran udang vaname (Litopenaeus vannamei) pada Pusat Unggulan Teknologi (PUT) Politeknik Negeri Pontianak di Mempawah yang menunjukan hasil terbaik, layak dan efisien adalah pada tambak A2.
Pemetaan Perubahan Tutupan Lahan Hutan Mangrove di Kawasan Balikpapan Barat Yossy Sihaloho; Abdunnur Abdunnur; Dewi Embong Bulan
Jurnal Kelautan, Lingkungan, dan Perikanan Vol 4 No 1 (2023): MANFISH JOURNAL
Publisher : Jurusan Ilmu Kelautan dan Perikanan Politeknik Negeri Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31573/manfish.v4i1.491

Abstract

Ekosistem mangrove yang ada terus mengalami perubahan selama 20 tahun terakhir. Perubahan ini perlu dipetakan untuk mengetahui letak dan luasan perubahan mangrove di Balikpapan Barat dari tahun 2009 hingga 2015. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan tutupan lahan pada hutan mangrove di kawasan Balikpapan Barat periode 1995-2015. Penelitian ini menggunakan data Penginderaan Jauh yaitu Citra Satelit Landsat 5, Landsat 7 Enhanced Thematic Mapper (ETM+) dan Landsat 8 Operational Land Imager (OLI). Sebaran tutupan lahan mangrove dipetakan secara digital melalui interpretasi citra satelit Landsat 5, Landsat 7 Enhanced Thematic Mapper (ETM+) dan Landsat 8 Operational Land Imager (OLI) menggunakan metode Supervised Classification. Hasil interpretasi tersebut kemudian dipetakan (layout) untuk memberikan informasi agar lebih mudah dibaca dan dipahami. Hasil klasifikasi ini kemudian diuji akurasi lapangan untuk mengetahui dimana terjadi perubahan, pola perubahan dan faktor-faktor penyebab perubahan tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan tutupan lahan hutan mangrove/konversi hutan mangrove dari tahun 1995 ke tahun 2015 menjadi vegetasi non-mangrove sebesar 6,97 ha, konversi lahan hutan mangrove menjadi lahan terbuka sebesar 3,44 ha, konversi lahan Lahan hutan mangrove menjadi pemukiman seluas 16,72 ha dan konversi lahan hutan mangrove menjadi badan air seluas 11,40 ha. Perubahan mangrove yang terjadi memiliki pola acak (penyebaran tidak merata) akibat meningkatnya faktor pertumbuhan manusia dan alih fungsi lahan menjadi tambak.
Pengaruh Warna Lampu dan Waktu Penangkapan Pada Alat Tangkap Bagan Tancap di Perairan Teluk Cina Kalimantan Barat Ho Putra Setiawan; Rasidi Rasidi; Frangky Tumion; Jumadi Sudarso
Jurnal Kelautan, Lingkungan, dan Perikanan Vol 4 No 1 (2023): MANFISH JOURNAL
Publisher : Jurusan Ilmu Kelautan dan Perikanan Politeknik Negeri Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31573/manfish.v4i1.539

Abstract

Kalimantan Barat memiliki potensi lestari sumberdaya perikanan ± 485.000 ton per tahun. Potensi sumberdaya ikan tersebut yang belum dimanfaatkan sebesar 87,32 % atau sebesar 423.498 ton. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa jauh pengaruh perbedaan warna lampu dan waktu penangkapan terhadap hasil tangkapan ikan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode percoban penangkapan langsung di lapangan dengan menggunakan warna lampu yang berbeda yaitu lampu berwarna hijau, kuning dan merah, yang dioperasikan pada selang waktu setiap tiga jam (18.30-21.30, 22.00-01.00 dan 01.30-04.30). Hasil tangkapan terbanyak dan terbaik dihasilkan oleh lampu berwarna hijau yaitu sebesar 5.3 kg (40.46 %) pada kisaran waktu 18.30 – 21.30 WIB. selanjutnya hasil tangkapan terbanyak dan terbaik dihasilkan oleh lampu berwarna kuning pada kisaran waktu 01.30 – 04.30 WIB yaitu sebanyak 17.4 kg (21.35 %), kemudian hasil tangkapan terbanyak dan terbaik dihasilkan oleh lampu berwarna merah sebesar 6.2 kg (39.49 %) pada kisaran waktu 22.00 – 01.00 WIB. Hasil analisis sidik ragam bagan tancap berdasarkan perlakuan warna cahaya lampu dan waktu penangkapan memperlihatkan bahwa nilai F hitung 3.94 ** < dari nilai F tabel (0.05) ; (4.28) dan (5.68). Hasil tersebut menunjukan bahwa perbedaan penggunaan warna cahaya lampu dan waktu penangkapan pada bagan tancap tidak berpengaruh nyata pada tingkat kepercayaan 0.01 % dan 0.05 %.
Pengamatan Suhu Permukaan Laut Melaui Citra Satelit Pada Pengoperasian Alat Tangkap Purse Siene di KM. Cemara Laut Indah II Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Pemangkat Ahijrah Ramadhani
Jurnal Kelautan, Lingkungan, dan Perikanan Vol 4 No 1 (2023): MANFISH JOURNAL
Publisher : Jurusan Ilmu Kelautan dan Perikanan Politeknik Negeri Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31573/manfish.v4i1.549

Abstract

Dalam pengoprasian alat tangkap purse siene di KM. Cemara Laut Indah II terdiri dari 2 tahap yaitu setting dan hauling. Setting alat tangkap purse siene di KM. Cemara Laut Indah II, pertama untuk menurunkan skiftboat dibantu oleh 5 orang ABK, lalu 1orang ABK mematikan seluruh lampu di kapal induk kemudian pelampung tanda diturunkan oleh 2 orang ABK dan setelah itu nakhoda akan kapal melingkarkan jaring. Pada saat hauling 1 orang ABK akan menyinari dengan cahaya senter dan 1 orang ABK mengangkat pelampung tanda, setelah itu menarik tali kerut dengan mengunakan gardan yang dilakukan 1 orang ABK menarik di bagian kiri kapal dan 1 orang ABK lagi menarik di bagian kanan kapal, lalu 4 orang ABK membantu untuk menaikan pemberat dan 1 orang ABK mengangkat pemberat dengan gardan, 2 orang ABK akan melespakan tali pemberat dari tali ris bawah setelah itu pemberat akan disusun di tempat pemebrat. Kemudian masukan tali ris bawah dan atas ke dalam power block setelah itu tali ris bawah di susun di bagian depan kapal dan tali ris atas yang menyatu dengan pelampung disusun pada bagian buritan kapal. Suhu permukaan laut di perairan subi berkisar 29oC - 30oC. Dengan suhu terendah suhu permukaan laut di perairan subi adalah 29 oC dan suhu tertinggi 30 oC. Suhu permukaan laut yang didapat dari citra satelit di kisaran 29,23 oC – 30,375 oC. Pada suhu 29oC memiliki perbedaan suhu sebesar 0,23oC sampai dengan 0,99oC dan pada suhu 30oC perbedaan suhu sebesar 0,01oC – 0,33oC. Perbedaan suhu permukaan laut di perairan subi dan suhu permukaan laut melalui citra satelit adalah 0,01oC – 0,99oC. Pada suhu 29oC - 30oC ikan tangkapan yang dominan pada alat tangkap purse siene di KM. Cemara Laut Indah II adalah ikan layang sebesar 49% dan ikan mata besar sebesar 33%, dan ikan yang paling sedikit tertangkap adalah ikan bawal dan cumi sebesar 1%.
Mutu Hedonik dan Cemaran Mikrobiologi Olahan Sambal Ikan Tongkol Asap (Euthynnus afinnis) dengan Kemasan Retort Pouch Lukas Wibowo Sasongko; Aloysius Masi
Jurnal Kelautan, Lingkungan, dan Perikanan Vol 4 No 1 (2023): MANFISH JOURNAL
Publisher : Jurusan Ilmu Kelautan dan Perikanan Politeknik Negeri Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31573/manfish.v4i1.551

Abstract

Ikan tongkol (Euthynnus affinis) memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai produk sambal ikan asap. Upaya diversifikasi olahan ikan tongkol dilakukan dengan aplikasi asap cair kemudian diolah menjadi sambal ikan tongkol dalam kemasan retort pouch. Penggunaan kemasan retort pouch akan meningkatkan daya awet dari produk tersebut. Tujuan penelitian ini adalah mengaplikasikan teknologi pengalengan sambal ikan tongkol asap dengan kemasan retort pouch, menganalisis mutu hedonik dan mengalisis cemaran mikrobiologi yang ada pada produk tersebut. Penelitian yang dilakukan menggunakan metode perendaman ikan tongkol dalam larutan asap cair 5% selama 5 menit. Ikan tongkol selanjutnya diolah menjadi sambal ikan dengan dua varian yaitu sambal balado dan sambal rica-rica. Produk disterilisasi dalam kemasan retort pouch pada suhu 121oC selama 20 menit, kemudian disimpan hingga 2 bulan. Penelitian dilakukan dalam dua kali ulangan. Parameter mutu produk diukur dengan uji hedonik, cemaran ALT, E.Coli dan Salmonella. Data mutu dianalisis secara deskriptif kualitatif. Penelitian akan menghasilkan produk tepat guna sambal ikan tongkol asap siap saji (ready to eat) yang memiliki mutu dan daya awet lebih baik dibandingkan dengan produk yang dikemas konvensional. Tingkat kesiapterapan teknologi (TKT) dari penelitian terapan ini adalah pada TKT 6 yaitu demonstrasi model/prototype pada lingkungan yang relevan
Kebiasaan Makanan Ikan Tembang (Sardinella fimbriata) di Perairan Selat Sunda Nidya Kartini
Jurnal Kelautan, Lingkungan, dan Perikanan Vol 4 No 1 (2023): MANFISH JOURNAL
Publisher : Jurusan Ilmu Kelautan dan Perikanan Politeknik Negeri Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31573/manfish.v4i1.554

Abstract

Fringescale sardinella is a small pelagic fish in the Sunda Strait which has important ecological value. Studying fish food habits is basically to determine the quality and quantity of fish food and the ecological relationship in the tropic level. The aims of this research were to examine the food habits of fringescale sardinella in the Sunda Strait which includes the composition of the type of food, the area of ​​the niche and the overlap of the food niches. Sampling Sampling was conducted from the catch of fishermen who landed at Labuan Coastal Fishing Port, Banten. Fish samples taken during the study consisted of 620 males and 321 females. The results showed that the highest IP value was in the Thalassiothrix frauenfeldii organism, both in male (55%) and female (54%), so that Halassiothrix frauenfeldii which is a class of Bacillariophyceae was the main food for fringescale sardinella, the largest area of ​​food niches is in male was in the medium size class of 9,0028, while the largest area of ​​food niches in female was in the small size class of 8,9609, the largest overlap value of male and female food niches is in the small fish size group (101-129 mm ) with the medium fish size group (130-158 mm) were 0,9062 and 0,8105 respectively.
Ekstraksi Enzimatik Kitin dan Kitosan dari Limbah Udang Kristina Novalina Nainggolan
Jurnal Kelautan, Lingkungan, dan Perikanan Vol 4 No 1 (2023): MANFISH JOURNAL
Publisher : Jurusan Ilmu Kelautan dan Perikanan Politeknik Negeri Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Chitin is a biopolymer that compiles the shells of insects and crustaceans and the cell walls of fungi, diatoms, bacteria, and algae, while chitosan is chitin derivate. Both of the products have essential roles in various industrial fields. Chitin and chitosan are often produced chemically from shrimp waste (head and the shell). However, chemical residues and poor product characteristics are the weaknesses of this method. Another alternative method is to extract the products enzymatically. Products with better and more specific results and more environmentally friendly processes but have longer processing times at higher costs are the considerations of the enzymatic method. This review focuses on the enzymatic extraction of chitin and chitosan from shrimp shells, including the development and challenges of the process. Chemically and enzymatically, chitin extraction consists of pre-treatment, demineralization, and deproteinization stages, followed by deacetylation to obtain chitosan. Enzymatic shrimp waste demineralization is mainly through a fermentation process using lactic acid bacteria while deproteination with bacteria or protease enzymes. Enzymatic deacetylation of chitin uses enzymes or microbial strains that produce chitin deacetylates. So far, microbial strains or enzyme and fermentation conditions that can extract shrimp waste into chitin with reasonable effectiveness have been found. Moreover, the by-products of enzymatic extraction are rich in high-quality protein, carotenoids (especially astaxanthin), and minerals (especially calcium).

Page 1 of 1 | Total Record : 8