cover
Contact Name
Siti Nurul Rofiqo Irwan
Contact Email
rofiqoirwan@ugm.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
vegetalika.faperta@ugm.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Vegetalika
ISSN : 23024054     EISSN : 26227452     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Vegetalika ISSN (Cetak): 2302-4054 dan ISSN (Online): 2622-7452 adalah open access jurnal yang mempublikasikan artikel-artikel ilmiah berupa gagasan dan hasil penelitian. Topik publikasi berkaitan dengan disiplin ilmu Agronomi mencakup Manajemen dan Produksi Tanaman, Hortikultura, Ekologi Tanaman, Fisiologi Tanaman, Genetika dan Pemuliaan, Teknologi Benih, Bioteknologi Tanaman, dan Biostatistika.
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 10, No 1 (2021)" : 6 Documents clear
Seleksi Pedigree Tomat (Solanum Lycopersicum L.) Generasi F4 berdasarkan Kekerasan dan Bentuk Buah Novelas Anandayu Wijayati; Rudi Hari Murti
Vegetalika Vol 10, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/veg.47339

Abstract

Seleksi tomat telah dilakukan pada generasi F4 menggunakan galur terpilih berdasarkan parameter kekerasan dan bentuk buah. Penelitian bertujuan untuk mendapatkan informasi keragaman antar dan dalam galur tomat, kekerasan buah, nilai heritabilitas dalam arti luas, bentuk buah, dan juga komponen hasil. Penelitian dilaksanakan diĀ  Jl. Boyong, Kaliurang, Sleman, Yogyakarta pada bulan Februari-September 2018 menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap dengan lima belas galur sebagai perlakuan dan tiga blok sebagai ulangan. Data dianalisis menggunakan analisis varian sub-sampel, komponen varian, uji lanjut HSD Tukey pada taraf kepercayaan 95% dan Analisis Komponen Utama. Hasil nilai varian dalam galur lebih besar dari varian antar galur pada karakter umur berbunga, jumlah bunga per tandan, jumlah buah per tanaman, jumlah buah per tandan, jumlah tandan per tanaman, rasio panjang per diameter, panjang, diameter, kekerasan, dan bobot buah. Pada generasi F4 diperoleh sebanyak 41 individu calon tanaman terpilih yang memiliki daya hasil tinggi, bentuk buah bulat/oval, dan kekerasan buah tinggi adalah pada 1A (2/30/1/1), 1A (3/4/2/3), 1A (3/4/2/2), 1B (3/22/1/2), 1B (3/22/1/6), 1A (1/13/1/6), 1A (3/4/4/6), 1A (3/4/4/2), 1A (3/4/4/1), 1A (1/27/4/1), 1A (3/4/1/9), 1A (3/4/1/8), 1A (3/4/3/8), 1A (1/27/3/8); 2A (2/30/2/7), 2A (1/13/1/2), 2A (1/13/1/4), 2A (1/13/1/10), 2A (1/13/1/1), 2A (1/13/1/5), 2A (3/4/4/2), 2A (3/4/4/5), 2A (1/27/3/6), 2A (3/4/2/2), 2A (3/4/1/7), 2A (3/4/3/7), 2B (3/22/1/8); 3A (3/4/3/2), 3A (3/4/3/9), 3A (3/4/3/1), 3A (3/4/3/8), 3A (1/13/1/8), 3A (1/13/1/7), 3A (1/27/4/9), 3A (3/4/2/2), 3A (1/27/1/10), 3A (1/27/1/7), 3A (1/27/1/2), 3A (3/4/1/6), 3A (3/4/4/7), dan 3A (3/4/4/8).
Pengaruh Berbagai Konsentrasi Giberelin (GA3) terhadap Pertumbuhan dan Hasil Bunga Krisan (Chrysanthemum morifolium L.) di Dataran Medium Elsi Kris Dayanti Sembiring; Endang Sulistyaningsih; Herni Shintiavira
Vegetalika Vol 10, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/veg.47856

Abstract

Tanaman krisan merupakan tanaman sub tropis yang apabila dibudidayakan di daerah tropis seperti Indonesia membutuhkan lingkungan tumbuh yang tepat. Intensitas yang tinggi, suhu udara yang tinggi serta kelembaban yang rendah tentu dapat menurunkan kualitas hasil bunga krisan. Oleh karena itu pemberian giberelin diharapkan mampu memperbaiki kualias hasil bunga krisan potong seperti diameter bunga. Penelitian ini dilakukan untuk menentukan konsentrasi Giberelin (GA3) yang lebih efisien untuk pertumbuhan dan kualitas hasil bunga krisan. Penelitian ini dilakukan di desa Gerbosari, Kecamatan Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo, DIY tepatnya 485 m dpl (dataran medium) pada bulan September 2018-Januari 2019. Bahan utama yang digunakan yaitu bunga krisan tipe spray varietas Yastayuki yang ditanam pada rumah plastik dan giberelin. Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan empat perlakuan konsentrasi giberelin yang terdiri dari 200 ppm, 400 ppm dan 600 ppm serta aquades sebagai kontrol. Perlakuan giberelin diaplikasikan dengan penyemprotan selama tiga kali berturut- turut, pada umur 8, 9 dan 10 minggu setelah tanam. Pemberian giberelin dengan konsentrasi 400 ppm sudah mampu meningkatkan panjang tangkai bunga dan lama kesegaran bunga (vase life), namun tinggi tanaman dan kelas mutu bunga grade AA terlihat signifikan ketika pemberian giberelin konsentrasi 600 ppm. Pada umur panen bunga, perbedaan yang signifikan telah terlihat pada pemberian konsentrasi terendah yaitu 200 ppm, semakin tinggi konsentrasi giberelin yang diberikan maka semakin cepat umur panen bunga yang dihasilkan.
Pengaruh Konsentrasi Kitosan Udang dan Kepiting sebagai Edible Coating terhadap Mutu dan Daya Simpan Tomat Ceri (Solanum lycopersicum var. Cerasiforme) Anggraeni Marganingsih; Eka Tarwaca Susila Putra
Vegetalika Vol 10, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/veg.53519

Abstract

Tomat ceri merupakan salah satu komoditas hortikultura yang memiliki nilai jual yang tinggi. Kehilangan hasil akibat kerusakan pascapanen tomat ceri perlu dicegah dengan penanganan pascapanen yang tepat. Salah satu metode yang dapat diaplikasikan adalah pelapisan edible coating menggunakan kitosan. Penelitian bertujuan untuk menentukan sumber dan konsentrasi kitosan yang optimal untuk mempertahankan mutu dan memperpanjang masa simpan buah tomat ceri. Penelitian dilaksanakan di Sub-Laboratorium Hortikultura, Laboratorium Manajemen Produksi Tanaman, Departemen Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian UGM pada bulan Juli-Agustus 2019. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok lengkap (RAKL) faktor tunggal dengan tiga blok sebagai ulangan. Perlakuan yang diuji yaitu sumber dan konsentrasi kitosan. Sumber kitosan berasal dari kepiting dan udang, masing-masing dengan konsentrasi yaitu 1%, 1,5%, 2%, 2,5%, dan 3%. Pengamatan dilakukan pada beberapa variabel iklim mikro di ruang penelitian, beberapa indikator kualitas buah, dan masa simpan buah tomat ceri. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis varian (ANOVA) dan dilanjutkan dengan uji Honestly Significance Difference (HSD) Tukey pada tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian memberikan informasi bahwa Aplikasi kitosan yang bersumber dari udang maupun kepiting sampai dengan konsentrasi 3% belum memberikan kontribusi yang positif terhadap mutu dan daya simpan buah tomat ceri. Oleh karena itu, diperlukan penelitian lebih lanjut menggunakan pelapisan kitosan yang bersumber dari udang maupun kepiting dengan konsentrasi yang lebih tinggi dari 3%.
Pengaruh Irigasi Tetes dan Mulsa terhadap Pertumbuhan Tajuk Tanaman Tomat (Solanum lycopersicum L.) di Lahan Kering Gunungkidul Melia Noor Kartika; Budiastuti Kurniasih
Vegetalika Vol 10, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/veg.55590

Abstract

Tomat (Solanum lycopersicum L.) merupakan tanaman yang sensitif terhadap cekaman kekeringan sehingga ketersediaan air merupakan faktor penting dalam budidaya tomat. Di lahan kering Gunungkidul, kekeringan merupakan salah satu masalah yang sering terjadi saat musim kemarau dan faktor pembatas pada pertumbuhan tomat. Penggunaan irigasi tetes dengan pemberian mulsa diharapkan mampu meminimalkan efek cekaman dan mendukung pertumbuhan tomat saat musim kemarau. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan irigasi tetes dan jenis mulsa terhadap pertumbuhan tajuk tanaman tomat. Penelitian dilaksanakan di Dusun Karang, Girikarto, Panggang, Gunungkidul, Yogyakarta dan Laboratorium Manajemen Produksi Tanaman Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta pada bulan Agustus-Desember 2019. Rancangan yang digunakan yaitu split plot dengan jenis irigasi sebagai petak utama dan jenis mulsa sebagai anak petak yang terdiri dari tiga blok sebagai ulangan. Perlakuan irigasi terdiri dari irigasi tetes (500 ml/tanaman/hari) dan penyiraman manual (750 ml/tanaman/hari) serta perlakuan mulsa terdiri dari mulsa plastik hitam-perak, mulsa jerami, dan tanpa mulsa (control). Hasil penelitian menunjukkan terdapat interaksi antara irigasi tetes dengan mulsa jeramiĀ  yang dapat mempercepat laju transpirasi dan meningkatkan sekapan cahaya sebesar 31,4% dibandingkan dengan perlakuan pengairan manual dan tanpa mulsa. Irigasi tetes dapat meningkatkan tinggi tanaman, jumlah daun, indeks luas daun serta meningkatkan laju pertumbuhan nisbi tajuk sebesar 38,8%, sementara penggunaan mulsa dapat meningkatkan laju pertumbuhan nisbi tajuk sebesar 31,6%.
Hubungan Nisbah Perakaran Dalam dengan Ketahanan Kekeringan dan Hasil Enam Kultivar Padi (Oryza sativa L.) Ahmad Zainal Abidin; Didik Indradewa
Vegetalika Vol 10, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/veg.57787

Abstract

Padi merupakan komoditas penting yang mengalami peningkatan kebutuhan tiap tahun. Perluasan areal penanaman ke lahan kering adalah salah satu cara meningkatkan produksi padi. Perlu penelitian terhadap ketahanan kekeringan pada padi agar kebutuhan dapat terpenuhi. Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan nisbah jumlah, bobot segar, bobot kering, panjang, luas permukaan, dan volume perakaran dalam yang mempunyai hubungan dengan ketahanan kekeringan pada tanaman padi gogo secara dini. Penelitian ini dilakukan di Kebun Tridharma Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada di Banguntapan, Bantul, Yogyakarta pada bulan Maret sampai Agustus 2019. Rancangan lingkungan yang dipakai split plot dengan dua faktor yaitu perlakuan kekeringan sebagai faktor pertama dan kultivar sebagai faktor kedua. Perlakuan kekeringan terdiri dari 2 aras yaitu cukup air dengan disiram 2 hari sekali dan kekeringan dengan disiram 10 hari sekali. Kultivar padi yang digunakan terdiri dari 6 macam yaitu Unsoed Parimas, Rindang 2, Inpago 9, Inpago 10, Inpago 11 dan IR 64. Variabel pengamatan berupa nisbah perakaran dalam (jumlah akar, bobot segar akar, bobot kering akar, panjang akar, luas permukaan akar, volume akar) dan indeks toleransi cekaman. Terdapat hubungan nyata nisbah bobot kering perakaran dalam, nisbah panjang perakaran dalam, dan nisbah luas permukaan perakaran dalam dengan indeks toleransi cekaman hasil saat panen. Nisbah perakaran dalam tidak dapat digunakan untuk pendugaan ketahanan kekeringan tanaman padi secara dini, yaitu pada 6 mst dan 9 mst.
Keragaman Genetik 27 Aksesi Kedelai (Glycine max L. Merr.) Introduksi Subtropis berdasarkan Marka SSR Puji Lestari; Rizki Eka Putri; Innaka Ageng Rineksane; Etty Handayani; Kristianto Nugroho; Rerenstradika Tizar Terryana
Vegetalika Vol 10, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/veg.58418

Abstract

Karakterisasi aksesi kedelai (Glycine max L. Merr.) dalam koleksi perlu dilakukan berdasarkan marka molekuler untuk mendukung karakter morfologi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keragaman genetik aksesi kedelai yang diintroduksi dari daerah subtropis menggunakan marka simple sequence repeats (SSR) yang didukung melalui informasi karakter morfologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 15 SSR berhasil dideteksi polimorfismenya pada 27 aksesi kedelai dari daerah subtropis dengan total 158 alel berukuran antara 100-368 bp dengan kisaran jumlah 4-18 alel per lokus. Rata-rata polymorphism information content (PIC) ditemukan sebesar 0,92 dengan nilai tertinggi 0,96 (SATT463, SATT249, SATT063) dan nilai terendah 0,87 (SATT038). Semua marka SSR memiliki nilai PIC >0,8 yang mengindikasikan sebagai marka sangat informatif, artinya mampu mendiferensiasi antar aksesi dan dapat diaplikasikan dalam mendeteksi keragaman genetik plasma nutfah kedelai lainnya. Keragaman genetik aksesi kedelai terebut sangat tinggi seperti yang direfleksikan oleh rata-rata indeks diversitas gen sebesar 0,93. Analisis klaster dengan marka SSR berhasil membagi 27 aksesi kedelai menjadi dua kelompok utama yang sebagian besar dalam kelompok I (26 aksesi) dan kelompok II khusus aksesi D76-8070. Karakterisasi molekuler dengan SSR tersebut mendukung keragaman yang tinggi karakter morfologi yang memisahkan total aksesi menjadi empat kuadran. Informasi keragaman genetik berdasarkan marka S yang didukung karakter morfologi tersebut dapat menjadi dasar awal seleksi tetua persilangan aksesi dari daerah subtropis untuk pengembangan varietas baru melalui pemuliaan kedelai di iklim tropis Indonesia.

Page 1 of 1 | Total Record : 6