cover
Contact Name
Siti Nurul Rofiqo Irwan
Contact Email
rofiqoirwan@ugm.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
vegetalika.faperta@ugm.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Vegetalika
ISSN : 23024054     EISSN : 26227452     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Vegetalika ISSN (Cetak): 2302-4054 dan ISSN (Online): 2622-7452 adalah open access jurnal yang mempublikasikan artikel-artikel ilmiah berupa gagasan dan hasil penelitian. Topik publikasi berkaitan dengan disiplin ilmu Agronomi mencakup Manajemen dan Produksi Tanaman, Hortikultura, Ekologi Tanaman, Fisiologi Tanaman, Genetika dan Pemuliaan, Teknologi Benih, Bioteknologi Tanaman, dan Biostatistika.
Arjuna Subject : -
Articles 438 Documents
Pengaruh Jeluk Muka Air Genangan dalam Parit pada Berbagai Fase Pertumbuhan Padi Terhadap Gulma dan Hasil Padi (Oriza sativa L.) Eka Heskia Sebayang, Didik Indradewa, Dody Kastono
Vegetalika Vol 1, No 3 (2012)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/veg.1356

Abstract

Sistem genangan dalam parit adalah usaha pengairan yang dilakukan dengan meninggikan bedengan dan memberikan pengairan dalam parit terus-menerus. Sistem genangan dalam parit merupakan salah satu sistem yang dapat mengefisiensikan penggunaan air namun dapat meningkatkan pertumbuhan gulma Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan informasi tentang pengaruh jeluk muka air padi genangan dalam parit pada berbagai fase pertumbuhan terhadap pertumbuhan gulma dan hasil padi serta jeluk muka air yang paling baik untuk menekan pertumbuhan gulma.Penelitian ini merupakan penelitian lapangan yang dilaksanakan di desa Sidoarum, kecamatan Godean, kabupaten Sleman mulai bulan Juli sampai November 2011. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak blok lengkap dengan ulangan sebanyak 3 kali. Perlakuan yang digunakan adalah pengaturan jeluk muka air genangan 0, 10, dan 20 cm dari permukaan bedengan pada fase pertumbuhan tanaman yaitu fase vegetatif, reproduktif, dan pemasakan yang terdiri atas 10 aras. Parameter yang dikumpulkan adalah kadar lengas tanah, penerusan cahaya, SDR, berat kering gulma, dan berat gabah kering.Hasil penelitian menunjukkan: (1) Kadar lengas sistem genangan dalam parit dengan jeluk 0 dan 10 cm dapat menyamai sistem sawah saat fase pemasakan, (2) Pengaturan jeluk muka air sistem genangan dalam parit pada setiap fase pertumbuhan padi mengakibatkan berat kering gulma meningkat, (3) Peningkatan berat kering gulma menurunkan hasil gabah padi secara tidak nyata baik pada sistem genangan dalam parit maupun sawah.
Pengaruh Lapisan Debu Gunung Merapidan Dosis Pupuk NPK Terhadap Pertumbuhan Awal Buah Naga (Hylocereus undatus Haw.) di lahan Pasir Pantai Purworejo Eva Mahrani, Rohmanti Rabaniyah, Prapto Yudono
Vegetalika Vol 1, No 3 (2012)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/veg.1357

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian lapisan kedap debu gunung Merapi dalam menahan kehilangan air dari media perakaran dan untuk mengetahui pengaruh pemberian pupuk NPK terhadap pertumbuhan awal tanaman buah naga. Penelitian dilaksanakan di lahan pasir pantai milik Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada yang terletak di Purworejo, pada bulan Oktober 2011 sampai dengan Februari 2012. Rancangan yang digunakan adalah faktorial 3 x 3 yang disusun secara acak kelompok lengkap (RAKL) dengan 3 blok sebagai ulangan. Faktor pertama adalah lapisan kedap yang berupa debu gunung Merapi yang diberikan 1 kg/pot, 2 kg/pot, dan 3 kg/pot. Faktor kedua berupa dosis pupuk NPK sebanyak 50 gram/pot, 100 gram/pot, dan 150 gram/pot. Tanaman di tanam pada bis beton diameter 60 cm dan diberi pupuk kandang sebanyak 20 kg/pot. Setiap pot berisi 4 bibit. Perlakuan lapisan kedap debu gunung Merapi dan dosis pupuk NPK tidak berpengaruh nyata terhadap semua variabel pengamatan. Pertumbuhan awal buah naga baik, dilihat dari tinggi tanaman selama 4 bulan dapat mencapai rata – rata 154,50 cm dengan diameter tunas yang mencapai 4,23 cm. Pertumbuhan buah naga mulai meningkat setelah diaplikasikan pupuk NPK, yaitu setelah umur tanaman 6 mst yang ditunjukkan oleh tinggi tanaman, jumlah tunas, diameter tunas, dan panjang tunas.
Potensi Hasil dan Toleransi Curah hujan beberapa Klon Teh (Camelllia sinensis (L.) O. Kuntze) PGL di Bagian Kebun Kayulandak, PT. Pagilaran Gatot Wijoseno, Didik Indradewa, Eka Tarwaca Susila Putra
Vegetalika Vol 1, No 3 (2012)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/veg.1358

Abstract

Penelitian bertujuan untuk 1) mengetahui karakter morfologi, potensi hasil, dan ketahanan curah hujan rendah dan tinggi klon PGL 1, 3, 4, 7, 10, 11, 12, 15, dan 17, 2) menentukan klon PGL yang berdaya hasil tinggi dan tahan cekaman curah hujan rendah maupun cekaman curah hujan tinggi, dan 3) menentukan hubungan kekerabatan diantara klon-klon PGL yang diuji mendasarkan kepada data karakter morfologi dan potensi hasil. Penelitian lapangan disusun dalam rancangan acak kelompok lengkap (RAKL) faktor tunggal dengan tiga blok sebagai ulangan. Faktor tunggal yang diuji adalah sembilan klon PGL yaitu PGL 1, 3, 4, 7, 10, 11, 12, 15, dan 17. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bobot per pucuk dan panjang ruas tunas mempengaruhi potensi hasil tiap klon secara langsung, sedangkan karakter morfologi lainnya tidak berpengaruh. Klon PGL 12 memiliki potensi hasil pucuk tinggi dan tingkat ketahanan terhadap berbagai aras curah hujan sehingga berpeluang untuk dilepas sebagai klon unggul nasional. Berdasarkan data karakter morfologis dan potensi hasil, klon PGL dapat dikelompokkan menjadi empat kelompok, yaitu I (PGL 1, PGL 3, PGL 4, PGL 10 dan PGL 11), II (PGL 7 dan PGL 17), III (PGL 12), dan IV (PGL 15). Berdasarkan data produksi, klon PGL dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok, yaitu klon produksi rendah (PGL 1 dan PGL 7), klon produksi menengah (PGL 3, PGL 4, PGL 10, PGL 11, dan PGL 17), dan klon produksi tinggi (PGL 12 dan PGL 15).
Pertumbuhan dan Hasil Jagung (Zea mays L.), Kacang Tanah (Arachis hypogaea L.), dan Jahe (Zingiber officinale var. officinale) pada Sistem Agroforestri Jati di Zona Ledok Wonosari , Gunung Kidul Kiswanto , Didik Indradewa, dan Eka Tarwaca Susila Putra
Vegetalika Vol 1, No 3 (2012)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/veg.1359

Abstract

Penelitian telah dijalankan untuk menentukan pertumbuhan dan hasil jagung, kacang tanah, serta jahe pada beberapa tingkat perkembangan sistem agroforesti berbasis jati. Penelitian disusun dalam rancangan acak kelompok lengkap (RAKL) faktor tunggal dengan tiga blok sebagai ulangan. Faktor tunggal berupa tingkat perkembangan sistem agroforestri berbasis jati yaitu fase awal, tengah dan lanjut. Pengamatan dilakukan terhadap variabel pertumbuhan dan hasil jagung, kacang tanah serta jahe. Data yang diperoleh dianalisis Varians (ANOVA) pada level 5%, dan dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan jika terdapat beda nyata antar perlakuan. Hasil penelitian memberikan informasi bahwa tingkat perkembangan tegakan jati berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman sela. Jagung pada agroforestri fase awal memiliki pertumbuhan dan hasil yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan fase tengah dan lanjut. Namun, kacang tanah memiliki pertumbuhan dan hasil yang sama bila ditanam pada agroforestri fase awal dan tengah. Sementara itu, pada agroforestri fase lanjut kacang tanah memiliki pertumbuhan dan hasil yang rendah dibandingkan dengan agroforestri fase awal dan tengah. Berbeda dengan jagung dan kacang tanah, jahe memiliki pertumbuhan dan hasil tertinggi pada agroforestri fase tengah. Oleh karena itu, tanaman yang direkomendasikan untuk agroforestri berbasis jati fase awal adalah jagung dan kacang tanah (sebagai sumber pangan dan pakan ternak ruminansia). Pada agroforestri fase tengah dapat ditanami jahe sebagai bahan herbal. Sementara itu, agroforestri fase lanjut memiliki potensi sebagai sumber pakan ternak ruminansia apabila di bawah tegakan jati ditanami jagung maupun kacang tanah.
Pengaruh Tingkat Kemasakan Polong Terhadap Hasil Benih Delapan Aksesi Kacang Tunggak (Vigna unguiculata (L.) Walp.) Maranatha Bernard Ferryal, Prapto Yudono, Toekidjo
Vegetalika Vol 1, No 3 (2012)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/veg.1360

Abstract

Pengaruh umur panen terhadap hasil benih kacang tunggak merupakan kajian utama penelitian ini.Kualitas dan kuantitas benih menjadi faktor penting dalam kegiatan produksi benih.Kualitas benih diindikasikan dengan daya tumbuh (d.t.) dan indeks vigor yang berkaitan dengan tingkat kemasakan polong. Penelitian dilaksanakan dengan dua perlakuan, terdiri dari sepuluh kultivar kacang tunggak dan lima waktu panen. Delapan aksesi kacang tunggak asal D.I. Yogyakarta dan dua varietas unggul (KT-1 dan KT-6) menjadi material penelitian ini. Perlakuan waktu panen dibagi dalam lima tahap berselang sepuluh hari terhitung sejak antesis (hsa) di pertanaman mencapai 50 %. Masak fisiologis (m.f) benih Aksesi Bantul, Tempel, Wonosari, Wates, dan Kalibawang pada 30 hsa sedangkan benih Aksesi Imogiri, Prambanan, dan Semin serta KT-1 dan KT-6 pada 40 hsa. Penundaan waktu panen hingga 10 hari (20 hari pada Aksesi Wates dan Kalibawang) dapat dilakukan tanpa mempengaruhi kualitas benih (d.t. > 90 %). Umur panen mempengaruhi dua hal pada benih yaitu pengisian materi biji berupa cadangan makanan dan penurunan kadar air biji. Biji yang mencapai m.f. memiliki materi biji dengan kapasitas maksimum dan kadar air rendah sehingga memiliki mutu benih yang baik. Aksesi Wates dan Tempel dapat direkomendasikan calon varietas harapan. Aksesi Wates memiliki potensi hasil yang tinggi mencapai 2184,36 kg/ha, indeks panen tinggi, bobot brangkasan besar, dan berumur pendek (m.f. 75 hari), sedangkan Aksesi Tempel memiliki tipe pertumbuhan yang tegak, berumur pendek (m.f. 67 hari), indeks panen tinggi, dan potensi hasil cukup tinggi sebesar 1376,68 kg/ha.
Pengaruh Komposisi Media dan Kadar Nutrisi Hidroponik terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tomat (Lycopersicon esculentum Mill.) Ratna Indrawati, Didik Indradewa, Sri Nuryani Hidayah Utami
Vegetalika Vol 1, No 3 (2012)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/veg.1361

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan di daerahMangkudaranan, Margorejo, Tempel, Sleman, Yogyakarta mulai Juli 2011 hingga Januari 2012. Penelitian inimenggunakan rancangan petak terbagi dengan 3 ulangan dan 20 kombinasi perlakuan. Faktor pertama sebagaipetak utama komposisi media arang serbuk sabut kelapa yaitu 0%, 33%, 50%, 67%, dan 100%. Faktor keduasebagai anak petak kadar nutrisi, yaitu 2 ml/liter, 5 ml/liter, 10 ml/liter, dan 15 ml/liter. Pada penelitian inidilakukan pengamatan terhadap media komposisi meliputi pH, porositas total, kadar lengas, kapasitaspertukaran kation, daya hantar listrik, kadar C/N pengamatan terhadap pertumbuhan tanaman tomat. Hasilpenelitian menunjukkan bahwa arang serbuk sabut kelapa memiliki pori mikro lebih banyak dibandingkandengan arang sekam sehingga kemampuan menjerap dan menahan nutrisi arang serbuk sabut kelapa lebihtinggi. Hasil bobot buah total pada media dengan penambahan arang serbuk sabut kelapa setara dengan hasilbobot buah total media arang sekam sehingga arang serbuk sabut kelapa dapat digunakan sebagai mediatanam hidroponik. Kadar nutrisi lebih dari 5 ml/liter akan menghambat pertumbuhan tanaman tomat namundapat meningkatkan kandungan gula buah tomat.
Studi Aspek Fisiologis dan Biokimia Perkecambahan Benih Jagung (Zea mays L.) pada Umur Penyimpanan Benih yang Berbeda Tatag Chariesma Andhi.W.A, Aziz Purwantoro, dan Prapto Yudono
Vegetalika Vol 1, No 3 (2012)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/veg.1362

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari aspek fisiologis dan biokimia perkecambahan benih jagung (Zea mays) pada umur penyimpanan yang berbeda. Umur penyimpanan benih mempengaruhi kecepatan pertumbuhan serta produksi tanaman. Benih baru pada umumnya memiliki pertumbuhan yang lebih pesat dibandingkan dengan benih-lama. Penelitian ini disusun menggunakan 2 perlakuan berdasarkan umur penyimpanan benih. Perlakuan pertama adalah benih jagung baru dengan umur simpan 2 minggu, perlakuan kedua adalah benih jagung lama dengan umur simpan 10 bulan. Masing-masing perlakuan memiliki empat ulangan dengan setiap ulangan memiliki sampel 540 butir benih jagung. Masing-masing perlakuan dikecambahkan selama 7 hari dan dilakukan pengamatan terhadap gaya berkecambah, indeks vigor, pertumbuhan tunas, pertumbuhan panjang akar, berat kering kecambah normal, laju respirasi dan kadar pati. Perlakuan umur penyimpanan benih 2 minggu dan 10 bulan memberikan hasil yang berbeda nyata untuk variabel laju respirasi, kadar pati, pertumbuhan tunas, pertumbuhan akar, berat kering kecambah, daya berkecambah dan indeks vigor. Pada perlakuan umur penyimpanan benih 2 minggu, hubungan antara pertumbuhan tunas, pertumbuhan akar dan berat kering kecambah normal memiliki korelasi positif dengan laju respirasi benih, serta korelasi negatif dengan kadar pati benih. Pada perlakuan umur penyimpanan benih 2 minggu, hubungan antara daya berkecambah dan indeks vigor memiliki korelasi positif dengan laju respirasi benih, serta korelasi negatif dengan kadar pati benih.
Keragaan Sorgum Manis (Sorghum bicolor L.Moench ) pada Kondisi Tercekam Kekeringan Tika Rahma Yunita, Taryono, Nasrullah
Vegetalika Vol 1, No 3 (2012)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/veg.1363

Abstract

Saat ini dunia mulai mengalami kelangkaan sumber energi dari bahan bakar fosil, karena peningkatan jumlah kendaraan bermotor yang tidak diimbangi dengan ketersediaan bahan bakar minyak (BBM). Oleh karena itu diperlukan bahan bakar alternatif yang salah satunya adalah bioethanol, yang berbahan baku tanaman mengandung pati dan gula, seperti sorgum manis. Salah satu keunggulan sorgum manis adalah dapat ditanam di daerah kering, tetapi ketahanan masing-masing kultivar berbeda terhadap cekaman kekeringan, tergantung fase pertumbuhannya. Tujuan dari penelitian ini adalah mengkaji keragaan sorgum manis pada kondisi tercekam kekeringan. Cekaman kekeringan diberikan kepada 12 kultivar sorgum manis, berdasarkan fase pertumbuhannya yaitu tanpa cekaman kekeringan, cekaman kekeringan saat berdaun bendera, dan cekaman kekeringan saat berdaun delapan. Tidak terdapat pengaruh nyata cekaman kekeringan terhadap 12 kultivar sorgum manis pada sifat jumlah daun, panjang dan jumlah akar, panjang dan jumlah malai, berat 100 biji dan hasil biji, umur berbunga, umur panen, dan padatan terlarut, tetapi terdapat pengaruh nyata pada sifat tinggi tanaman, diameter batang, jumlah batang, berat berangkasan segar, dan berat berangkasan kering. Kultvar Sorgama 3 dan Sorgama 5 menunjukkan pengurangan tinggi tanaman. Kultivar Sorgama 4 menunjukkan diameter yang menurun, sedangkan UGM SS1 dan Sorgama 5 mengurangi jumlah batang. Kultivar UGM SS1, Kotabun, Sorgama 3, dan Sorgama 5 pada kondisi cekaman kekeringan lama mengurangi berat berangkasan segar. Sama seperti berat berangkasan segar, pada berat berangkasan kering kultivar Sorgama 3, dan Sorgama 5 menunjukkan pengurangan beratnya saat tercekam berdaun delapan. Kultivar Sorgama 5 dapat digunakan sebagai tanaman penghasil bioethanol, karena memiliki nilai padatan terlarut tinggi, dan tahan cekaman kekeringan.
Tanggapan Jagung (Zea mays L.) Terhadap Sistem Parit Berbahan Organik dan Dosis Kalium di Lahan Kering pada Tanah Bersifat Vertic Taufan Alam, Tohari, dan Dja’far Shiddieq
Vegetalika Vol 1, No 3 (2012)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/veg.1364

Abstract

Penelitian dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui tanggapan jagung terhadap sistem parit berbahan organik dan dosis kalium di lahan kering pada tanah vertic. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan yang dilaksanakan di lahan petani, Dusun Sidowayah, Kelurahan Wareng, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Gunung Kidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta mulai bulan Februari sampai Juni 2011.Rancangan Percobaan yang digunakan adalah rancangan petak terbagi (split plot). Faktor pertama adalah sistem parit terdiri 3 taraf yaitu tanpa parit + tanpa bahan organik, parit + tanpa bahan organic, dan parit + bahan organic. Faktor kedua adalah dosis KCL terdiri atas 3 taraf yaitu tanpa KCl, 50 % dari rekomendasi Dinas Pertanian (37,5 kg/ha), dan 100 % dari rekomendasi Dinas Pertanian (75 kg/ha). Data yang diperoleh dianalisis dengan sidik ragam α = 5 %, apabila terdapat beda nyata antar perlakuan maka dilanjutkan dengan Duncan Multiple Range Test (DMRT) α = 5 %.Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi antar perlakuan parit dengan dosis kalium berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman umur 6–12 minggu setelah tanam (mst), luas daun umur 12 mst, bobot kering umur 12 mst, indeks luas daun umur 12 mst, laju asimilasi bersih umur 12–6 mst, panjang tongkol, bobot biji per plot percobaan, bobot biji per hektar, dan serapan K. Parit berbahan organik meningkatkan hasil biji per hektar sebesar 40,34 % dibandingkan perlakuan tanpa parit + tanpa bahan organik. Pemupukan kalium 100 % dari rekomendasi Dinas Pertanian (75 kg/ha) meningkatkan hasil biji per hektar sebesar 43,68% dibandingkan perlakuan tanpa pupuk kalium.
Pengaruh Pengurangan Daun Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Dua Varietas Paprika (Capsicum annum var.Grossum) Hidroponik Putri Hapsari Murdianingtyas, Didik Indradewa, dan Nikardi Gunadi
Vegetalika Vol 1, No 3 (2012)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/veg.1365

Abstract

Paprika merupakan salah satu sayuran yang memiliki prospek yang bagus, namun produksi dalam negeri masih terbatas. Upaya untuk menanggulangi kendala tersebut dengan hidroponik dan pengurangan daun. Penelitian ini menggunakan dua varietas paprika yaitu varietas Inspiration dan Chang. Tujuan mengurangi daun dengan menyisakan daun per ruas per tanaman agar pertumbuhan dan hasil tanaman paprika dapat optimal.Penelitian ini menggunakan Rancangan Petak Terbagi (RPT) dengan 3 ulangan. Petak utama terdiri dari dua varietas, yaitu V1 = Varietas Inspiration, V2 = Varietas Chang, dan sebagai anak petak, yaitu P1 = pengurangan daun dengan sisa dua daun per ruas, P2 = pengurangan daun dengan sisa tiga daun per ruas, dan P3 = pengurangan daun dengan sisa satu, tiga, lima daun per ruas per tanaman. Pengamatan yang dilakukan adalah penyekapan cahaya, tinggi tanaman, diameter batang, jumlah daun, luas daun, jumlah buah, dan hasil panen buah. Hasil penelitian menunjukkan, varietas Chang memiliki hasil panen yang lebih tinggi daripada varietas Inspiration, namun pertumbuhan tanamannya tidak berbeda. Pengurangan daun dengan sisa dua daun menghasilkan tanaman yang lebih tinggi, namun ukuran daun dan hasil panen buahnya tidak berbeda dibandingkan dengan pengurangan daun sisa tiga daun dan sisa satu sampai lima daun.