cover
Contact Name
Siti Nurul Rofiqo Irwan
Contact Email
rofiqoirwan@ugm.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
vegetalika.faperta@ugm.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Vegetalika
ISSN : 23024054     EISSN : 26227452     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Vegetalika ISSN (Cetak): 2302-4054 dan ISSN (Online): 2622-7452 adalah open access jurnal yang mempublikasikan artikel-artikel ilmiah berupa gagasan dan hasil penelitian. Topik publikasi berkaitan dengan disiplin ilmu Agronomi mencakup Manajemen dan Produksi Tanaman, Hortikultura, Ekologi Tanaman, Fisiologi Tanaman, Genetika dan Pemuliaan, Teknologi Benih, Bioteknologi Tanaman, dan Biostatistika.
Arjuna Subject : -
Articles 438 Documents
Aplikasi Silika Sebagai Amelioran Air Salin Limbah Budidaya Ikan Kerapu Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Mentimun (Cucumis sativus L.) Hidroponik Muflikhatun Nurbaeti; Budiastuti Kurniasih
Vegetalika Vol 11, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/veg.45033

Abstract

Kebutuhan pangan bagi manusia seperti sayuran semakin meningkat seiring perkembangan jumlah penduduk, sehingga perlu adanya produksi untuk mencukupi kebutuhan tersebut. Salah satu teknologi budidaya yang dapat dikembangkan yaitu produksi mentimun dengan memanfaatkan air salin limbah kerapu dan aplikasi amelioran silika secara hidroponik. Penelitian ini bertujuan untuk menentukkan pengaruh salinitas air limbah budidaya ikan kerapu dan pengaruh dosis silika terhadap pertumbuhan dan hasil mentimun yang dibudidayakan secara hidroponik. Penelitian ini dilakukan di Kebun Percobaan milik PT INDMIRA di Jalan Kaliurang km 19 pada bulan Maret - Juni 2018. Penelitian ini disusun dalam rancangan acak kelompok lengkap faktorial (3 x 3 + 1) dengan faktor pertama berupa konsentrasi air salin limbah budidaya ikan kerapu yang terdiri dari 3 aras yaitu 3 dS/m (U1), 6 dS/m (U2), dan 9 dS/m (U3), dan faktor kedua berupa dosis silika yang terdiri dari tiga aras yaitu 50 ppm (P1), 100 ppm (P2), dan 150 ppm (P3). Kontrol digunakan tanaman mentimun yang tidak diberi air salin limbah budidaya ikan kerapu dan silika. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian salinitas air limbah budidaya ikan kerapu pada kisaran konsentrasi 3 dS/m – 9 dS/m meningkatkan bobot kering akar. Aplikasi silika dengan dosis 50 ppm, 100 ppm dan 150 ppm meningkatkan  bobot kering tajuk, kadar air nisbi. Dosis silika 100 ppm menunjukkan hasil klorofil yang paling tinggi dan meningkatkan rasio akar/tajuk. Aplikasi silika pada dosis 50 ppm dan 100 ppm pada salinitas 6 dS/m menunjukkan hasil ton/ha yang paling tinggi.
Tanggapan Kangkung Darat (Ipomoea reptans Poir.) Terhadap Monosodium Glutamat (MSG) Berbagai Konsentrasi Syam Widi Nugroho; Dody Kastono
Vegetalika Vol 11, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/veg.47801

Abstract

Pertambahan penduduk mendorong peningkatan kebutuhan pangan dan huga gizi salah satunya melalui tanaman sayuran. Kangkung merupakan salah satu tanaman yang digemari masyarakat dan memiliki umur pendek dan kandungan gizi yang cukup tinggi. Penelitian dilaksanakan untuk mengetahui tanggapan pertumbuhan dan hasil tanaman kangkung darat (Ipomoea reptans Poir.) dengan pemberian beberapa konsentrasi monosodium glutamat. Penelitian dilakukan di Rumah Kawat, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta pada bulan April-Mei 2019. Penelitian disusun dengan rancangan acak lengkap dan perlakuan berupa konsentrasi monosodium glutamat yang terdiri dari 0,5 g/l, 1 g/l, dan 1,5 g/l. Sebagai kontrol digunakan konsentasi 0 g/l. Metode yang digunakan adalah pengukuran kuantitatif beberapa parameter, kemudian dimasukkan dalam rumus perhitungan analysis of variance (ANOVA) dan uji lanjut menggunakan duncan’s multiple range test (DMRT). Hasil penelitian menunjukkan mulai pemberian monosodium glutamat 1 g/l mampu meningkatkan tinggi tanaman (14,13%), jumlah daun (28,85%), bobot segar total (84,21%), bobot segar tajuk (109,25%), bobot kering total (50,61%), bobot kering tajuk (94,84%), dan luas daun (114,011%) dibanding kontrol pada 35 hari setelah tanam.
Pengaruh Frekuensi Aplikasi Pupuk Hayati Bacillus sp. terhadap Pertumbuhan dan Hasil Enam Kultivar Wortel (Daucus carota L.) di Lahan Pasir Pantai Mohamad Gizus Albayani; Dody Kastono; Rohlan Rogomulyo; Muhammad Habib Widyawan
Vegetalika Vol 11, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/veg.59862

Abstract

Lahan pasir pantai merupakan lahan marginal yang mempunyai masalah mikroklimat sehingga kurang sesuai dengan syarat tumbuh untuk budidaya tanaman wortel yang menghendaki iklim sub tropis. Modifikasi yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah lahan pasir pantai adalah aplikasi Bacillus sp. dan penggunaan kultivar unggul wortel. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan kombinasi yang tepat antara frekuensi aplikasi Bacillus sp. dan beberapa kultivar wortel dalam menghasilkan pertumbuhan, hasil, dan kualitas wortel terbaik di lahan pasir pantai. Penelitian ini dilakukan di lahan pasir pantai Desa Bugel, Kecamatan Panjatan, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta yang berada di ketinggian 5 m dpl pada bulan Mei sampai Oktober 2019. Penelitian dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) Faktorial. Faktor pertama dalam penelitian ini adalah jumlah aplikasi Bacillus sp.(2 dan 4 kali). Sedangkan faktor kedua adalah kultivar wortel, yaitu: kultivar introduksi (‘New Kuroda’, ‘Kuroda’, ‘Shin Kuroda’ dan ‘Kuroda EW’) dan kultivar lokal Indonesia ‘Gundaling’ (Berastagi) dan ‘Gemuk’. Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat interaksi antara Bacillus sp. dan kultivar wortel pada sebagian besar pertumbuhan pengamatan, antara lain: tinggi tanaman, jumlah daun, segar dan berat kering umbi, diameter dan panjang umbi, produktivitas, uji kemanisan, dan uji warna umbi. Penggunaan kultivar wortel yang cocok dibudidayakan di lahan pasir pantai adalah kultivar introduksi (‘New Kuroda’, ‘Kuroda’, ‘Shin Kuroda’ dan ‘Kuroda EW’) di mana kultivar introduksi ini unggul di semua variabel pengamatan.
Tanggapan Aksesi Kacang Hijau (Vigna radiata L.) terhadap Mikoriza di Lahan Sawah Bekas Padi Hafidh Izzudin; Taryono Taryono; Muhammad Habib Widyawan
Vegetalika Vol 11, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/veg.63569

Abstract

Produksi kacang hijau nasional menurun selama kurun waktu tahun 2016 – 2018. Salah satu usaha untuk meningkatkan produktivitas tanaman secara ramah lingkungan adalah menambahkan agen hayati-mikoriza, karena pemberian mikoriza mampu meningkatkan pertumbuhan serta komponen hasil tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tanggapan beberapa aksesi kacang hijau terhadap inokulasi mikoriza serta memilih aksesi yang tanggap terhadap inokulasi mikoriza sebagai bahan kajian genetika dan fisiologi ketergantungan kacang hijau terhadap mikoriza. Penelitian dilaksanakan di lahan Pusat Inovasi Agroteknologi Universitas Gadjah Mada (PIAT-UGM) Kalitirto, Berbah, Sleman, Yogyakarta menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) petak terbagi yang terdiri atas dua faktor. Faktor utama yaitu perlakuan inokulasi dan anak faktor berupa 20 aksesi kacang hijau. Pengamatan meliputi infeksi mikoriza, sifat komponen hasil, dan  hasil. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis menggunakan analisis varian sesuai rancangan acak lengkap, uji lanjut Scott Knott, dan analisis korelasi. Pada penelitian ini masing-masing nomor aksesi kacang hijau memiliki tanggapan yang beragam terhadap inokulasi mikoriza. Persentase infeksi mikoriza  lebih tinggi pada perlakuan inokulasi. Inokulasi mikoriza mampu meningkatkan jumlah polong per tanaman, biji per polong, dan bobot biji per tanaman, namun tidak dengan bobot 100 biji tanaman. Persentase infeksi mikoriza pada umur 20 hari setelh tanam nyata berhubungan dengan hasil biji. Hasil penelitian memberikan informasi bahwa nomor aksesi 788, 797, 798, 805, 807, 810, 812, 826, 829, dan 832 berpotensi untuk dikembangkan sebagai bahan kajian genetika dan fisiologi ketergantungan kacang hijau terhadap mikoriza.
Respons Pertumbuhan dan Kadar Kapsaisin Tanaman Cabai Merah (Capsicum annuum L.) terhadap Kekeringan dan Pemberian Mikoriza Arbuskular Diah Rachmawati; Dewi Utari; Diah Rachmawati
Vegetalika Vol 11, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/veg.66916

Abstract

Kondisi iklim dan unsur hara sangat berpengaruh pada produksi cabai merah (Capsicum annuum L.). Ketersediaan unsur hara dipengaruhi oleh beberapa faktor salah satunya yaitu mikoriza. Mikoriza membantu tanaman dalam penyerapan air dan unsur hara. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari respons pertumbuhan tanaman cabai merah (Capsicum annuum L.) dan kadar kapsaisin buah cabai terhadap interval penyiraman dan pemberian mikoriza. Penelitian Ini menggunakan metode eksperimental dengan rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri atas dua faktor yaitu interval penyiraman dan pemberian mikoriza. Perlakuan interval penyiraman terdiri atas 2 kelompok yaitu penyiraman setiap hari dan tiga hari sekali. sedangkan perlakuan pemberian mikoriza terdiri atas 3 kelompok yaitu tanpa pemberian mikoriza, mikoriza 10 g/tanaman dan 15 g/tanaman. Parameter yang diamati yaitu tinggi tanaman, jumlah daun, kadar klorofil, jumlah buah, berat buah dan kadar kapsaisin buah cabai. Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan analisis variansi dan pengujian lanjut DMRT dengan α = 0,05. Hasil yang diperoleh yaitu kombinasi perlakuan mikoriza+interval penyiraman berpengaruh nyata terhadap jumlah daun, kadar klorofil, jumlah buah, berat buah dan kadar kapsaisin buah. Pemberian mikoriza meningkatkan kadar kapsaisin baik pada interval penyiraman setiap hari maupun tiga hari sekali. Interval penyiraman setiap hari menunjukkan berat buah lebih tinggi daripada interval penyiraman 3 hari sekali, namun kadar kapsaisin yang lebih rendah.  Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan  dapat disimpulkan bahwa perlakuan pemberian mikoriza 15g+interval penyiraman setiap hari menunjukkan hasil tertinggi pada jumlah daun, tinggi tanaman, jumlah buah, berat buah, serta kadar klorofil daun.
Interaksi Gen pada Beberapa Karakter Kualitatif Tomat (Solanum lycopersicum L.) Arya Widura Ritonga; Siti Marwiyah; Erin Puspitarini; Muhamad Syukur
Vegetalika Vol 11, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/veg.67540

Abstract

Program pemuliaan tanaman dapat lebih efektif dan efisien jika terdapat informasi pewarisan sifat dari karakter yang akan dimuliakan. Namun, belum semua karakter kualitatif pada buah tomat diketahui pola pewarisan sifatnya. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi tentang pewarisan sifat beberapa karakter kualitatif pada tanaman tomat. Penelitian ini dilakukan pada Januari – April 2020 di Kebun Percobaan IPB Leuwikopo, Bogor, Indonesia. Sebanyak 10 tanaman varietas Tora IPB, 10 tanaman genotype GIK serta 10 tanaman F1 (hasil persilangan Tora IPB x GIK) digunakan pada penelitian ini. Selain itu, juga digunakan sebanyak 185 tanaman populasi F2 (hasil selfing F1 Tora IPB x GIK) pada penelitian ini. Analisis data dilakukan menggunakan uji khi kuadrat dilakukan pada populasi F2 untuk menentukan rasio segregasi karakter kualitatif yang paling tepat. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa karakter posisi anak daun terhadap tangkai daun, bentuk ujung buah tomat, tinggi kelopak terhadap mahkota, dan karakter luas plasenta buah tomat dikendalikan oleh 2 gen dengan 2 alel per lokus. Tipe intraksi gen pada pewarisan karakter posisi anak daun terhadap tangkai daun dan bentuk ujung buah tomat yaitu epistasis dominan, sedangkan tipe interaksi gen pada pewarisan karakter tinggi kelopak terhadap mahkota dan karakter luas plasenta buah tomat berturut-turut adalah epistasis dominan ganda dan semi epistasis. Karakter green shoulder pada buah tomat dikendalikan oleh 1 gen dengan 2 alel per lokus. Gen pengendali karakter green shoulder bersifat dominan terhadap karakter tanpa green shoulder (polos) pada buah tomat.
Pertumbuhan dan Hasil Benih Lima varietas Cabai Merah (Capsicum annum L.) di Dataran Menengah Agus Budi Setiawan; Setyastuti Purwanti; Toekidjo Toekidjo
Vegetalika Vol 1, No 3 (2012)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/veg.1345

Abstract

Lima varietas cabai merah, yaitu Branang, Gantari, Lokal Pakem, Lembang-1, dan Kusuma dilihat pertumbuhan dan hasil benihnya dari bulan Desember 2011 hingga Mei 2012. Percobaan lapangan dilaksanakan di Dusun Pandanpuro, Desa Hargobinangun, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman pada ketinggian 505 m diatas permukaan laut. Penelitian disusun dalam rancangan acak kelompok lengkap dengan empat ulangan. Unit percobaan terdiri dari 60 tanaman dengan jarak tanam 50 cm x 50 cm. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pertumbuhan dan hasil benih lima varietas cabai merah di dataran menengah. Data hasil pengamatan dianalisis dengan sidik ragam pada tingkat kepercayaan 95%, dan untuk mengetahui perbedaan diantara perlakuan dilakukan dengan Uji Jarak Ganda Duncan (Duncan’s Multiple Range Test) pada tingkat kepercayaan 95%. Untuk mengetahui hubungan antara dua variabel dilakukan analisis korelasi sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lima varietas cabai merah memiliki pertumbuhan dan hasil benih yang berbeda di dataran menengah. Cabai merah keriting varietas Lembang-1 mempunyai pertumbuhan terbaik dan hasil buah tertinggi (10,22 ton/ha), diikuti oleh Kusuma (8,71 ton/ha), kemudian Lokal Pakem (7,37 ton/ha). Cabai merah besar varietas Gantari mempunyai pertumbuhan terbaik dan hasil buah tertinggi (8,5 ton/ha) dibandingkan dengan varietas Branang (6,5 ton/ha). Cabai merah keriting varietas Lembang-1 mempunyai hasil benih tertinggi (46,12 gram/tanaman), diikuti oleh Kusuma (37,21 gram/tanaman), dan Lokal Pakem (25,28 gram/tanaman). Hasil benih cabai merah besar varietas Branang (29,62 gram/tanaman) lebih baik dari pada varietas Gantari (28,05 gram/tanaman). Nilai komersial dari cabai merah adalah rasa pedas. Kadar capsaicin berpengaruh terhadap tingkat kepedasan. Kadar capsaicin tertinggi dimiliki oleh cabai merah keriting varietas Kusuma (1,12%) dan Lokal Pakem (0,91%) dibandingkan dengan ketiga varietas cabai merah lainnya.
Uji Efikasi Herbisida Pratumbuh untuk Pengendalian Gulma Pertanaman Tebu (Saccharum officinarum L.) Rizky Brian Wijaya, Prapto Yudono, Rohlan Rogomulyo
Vegetalika Vol 1, No 3 (2012)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/veg.1350

Abstract

Penelitian yang berjudul uji efikasi herbisida pratumbuh untuk pengendalian gulma pada pertanaman tebu (Saccharum officinarum L.) telah dilaksanakan di kebun percobaan Departemen Research & Development PT Gula Putih Mataram, Lampung Tengah pada bulan Desember 2011 sampai dengan Maret 2012. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok lengkap terdiri dari tiga blok yang masing-masing bloknya terdiri dari 9 perlakuan dan 1 kontrol. Perlakuan diterapkan adalah kombinasi dosis dan jenis herbisida pratumbuh diantaranya Diuron, Ametrin dan 2,4-D.Hasil penelitian menunjukkan dari seluruh petak perlakuan herbisida pratumbuh, efikasi perlakuan Diuron 2 kg/ha, 2,5 kg/ha, dan 3,5 kg/ha mampu menekan pertumbuhan gulma utama yaitu Dactyloctenium aegyptium, Boreria alata, Cynodon dactylon dan Cleome rutidospermae dengan lebih baik sampai dengan 8 Minggu Setelah Aplikasi. Aplikasi herbisida pra tumbuh tidak menunjukkan pengaruh negatif terhadap pertumbuhan tunas tebu. Perlakuan kombinasi herbisida Diuron + 2,4-D dengan dosis 2,5 kg/ha + 1,5 l/ha menunjukkan peningkatan populasi induk dan anakan tebu.
Pengaruh Suhu dan Lama Perendaman Benih Terhadap Perkecambahan dan Pertumbuhan Awal Bibit Kopi Arabika (Coffea arabica (LENN)) Desmawan Putra, Rohmanti Rabaniyah, Nasrullah
Vegetalika Vol 1, No 3 (2012)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/veg.1353

Abstract

Peningkatan produksi kopi harus diawali dengan penyediaan benih yang bermutu, terjangkau dan tersedia dalam jumlah yang cukup. Permasalahan yang kemudian muncul adalah benih kopi memiliki kulit biji yang keras sehingga impermiabel terhadap air Perkecambahan benih kopi di dataran rendah yang bersuhu 30°C - 35°C memerlukan waktu 3 – 4 minggu, sedangkan di dataran tinggi yang bersuhu relatif lebih dingin membutuhkan  waktu yang lebih lama yaitu 6 – 8 minggu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui suhu perendaman dan lama perendaman yang tepat untuk mempercepat perkecambahan benih kopi. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Teknologi Benih Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta dan di Desa Candiroto, Temanggung, Jawa Tengah pada bulan Mei-September 2011. Rancangan yang digunakan adalah RCBD Faktorial (3x3) + 1 kontrol dengan 4 ulangan sebagai blok. Faktor pertama berupa suhu air awal perendaman (30°C, 60°C, 90°C), sedangkan faktor kedua berupa lama perendaman (10 menit, 20 menit, 30 menit). Benih direndam selama 1 hari dan setiap hari selama 7 hari. Benih dilakukan 3 kali pengujian yaitu pada waktu sebelum perendaman, setelah 1 hari perendaman, dan setelah perendaman setiap hari selama 7 hari. Variabel yang diamati meliputi laju repirasi, DHL, kadar air benih, daya tumbuh benih, indeks vigor, kecepatan berkecambah, vigor hipotetik. Hasil penelitian menunjukkan perendaman benih setiap hari selama 7 hari dengan suhu air awal 90°C selama 30 menit mampu meningkatkan daya tumbuh dan indeks vigor benih kopi.
Pengaruh Warna Cahaya Tambahan Terhadap Pertumbuhan dan Pembungaan Tiga Varietas Tanaman Krisan (Chrysanthemum morifolium) Potong Dewi Ermawati, Didik Indradewa, Sri Trisnowati
Vegetalika Vol 1, No 3 (2012)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/veg.1354

Abstract

Krisan merupakan tanaman hari pendek yang perkembangan dan inisiasi bunganya dipengaruhi oleh lama penyinaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh warna cahaya tambahan terhadap pembungaan tiga varietas krisan dan mendapatkan warna cahaya yang paling sesuai bagi pertumbuhan dan pembungaan krisan. Penelitian terdiri dari dua faktor yang disusun dalam rancangan petak terbagi, warna cahaya tambahan merupakan petak utama dan varietas sebagai anak petak. Cahaya tambahan yang digunakan meliputi cahaya warna putih, merah, biru dan tanpa cahaya, sedangkan varietas yang digunakan yakni varietas Fiji kuning, Fiji putih dan Remix Red.Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanaman krisan yang mendapatkan cahaya tambahan memiliki pertumbuhan yang lebih baik dan umur yang lebih panjang, tanaman krisan dengan cahaya tambahan warna putih dan merah memilki umur paling panjang, begitu pula dengan induksi pembungaannya, tanaman yang mendapatkan cahaya tambahan berwarna putih dan merah memiliki induksi pembungaan yang lebih lama. Varietas Fiji kuning yang mendapat cahaya tambahan warna biru memiliki diameter bunga yang paling besar dan diameter bunga varietas Fiji putih paling besar pada cahaya berwarna merah. Diameter bunga krisan varietas Remix Red tidak terpengaruh oleh penambahan cahaya dengan berbagai warna.