cover
Contact Name
Muhammad Amin Sunarhadi
Contact Email
mamin.sunarhadi@staff.uns.ac.id
Phone
+6281390716299
Journal Mail Official
jurnalekosains@gmail.com
Editorial Address
Ilmu Lingkungan FMIPA Universitas Sebelas Maret Jl. Ir. Sutami No. 36A, Kentingan, Jebres Surakarta 57126 INDONESIA
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Ekosains
ISSN : 19797826     EISSN : -     DOI : -
Jurnal Ekosains mempublikasikan hasil penelitian di bidang lingkungan maupun interdisipliner terkait yang belum pernah dipublikasikan atau sedang dipertimbangkan untuk dipublikasikan di jurnal lain. Jurnal Ekosains menerima artikel baik dalam Bahasa Indonesia maupun Bahasa Inggris yang mencakup beberapa topik kajian lingkungan antara lain: Manajemen lingkungan Ekologi Lingkungan Konservasi Sumber Daya Alam dan Lingkungan Pembangunan dan Lingkungan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Perencanaan dan Administrasi Lingkungan Kesehatan lingkungan Teknik Lingkungan dan Pencemaran Lingkungan, dan Sistem Informasi Lingkungan Manajemen Bencana
Articles 12 Documents
Search results for , issue "Vol 7, No 03 (2015)" : 12 Documents clear
EFEKTIVITAS INSTALASI PENGOLAHAN AIR LIMBAH DAN KUALITAS LIMBAH CAIR RUMAH SAKIT UMUM DAERAH dr. H. M. ANSARI SALEH DI KOTA BANJARMASIN Andy Saputra Manurung; Sunarto S; Wiryanto W
Ekosains Vol 7, No 03 (2015)
Publisher : Program Studi ilmu Lingkungan, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (752.921 KB)

Abstract

Penelitian ini dilakukan di Instalasi Pengolahan Air Limbah Rumah Sakit Umum Daerah dr. H. M. Ansari Saleh Kota Banjarmasin, yang memiliki tujuan untuk mengetahui kualitas limbah cair di bagian inlet, outlet dan juga untuk mengetahui efektivitas dari IPAL rumah sakit tersebut, ditinjau dari penurunan parameter uji. Metode pada penelitian ini adalah dengan mengambil sampel limbah cair di bagian inlet dan outlet pada IPAL tersebut, dengan selang waktu seminggu sekali selama 5 (lima) kali pengambilan sampel, kemudian sampel tersebut dilakukan analisia di laboratorium dengan parameter kunci yang sudah ditetapkan, seperti suhu, pH, TSS, BOD, COD, NH3-bebas, PO4-P (ortho), dan total koliform. Berdasarkan hasil pengujian laboratorium, terhadap kualitas IPAL di bagian Inlet rumah sakit tersebut, parameter uji yang memenuhi standart baku mutu adalah parameter   pH dan NH3-bebas, sedangkan kualitas IPAL di bagian outlet menurut perhitungan STORET adalah sebesar -51 atau termasuk kategori kelas D (cemar berat), dan efektifitas IPAL pada rumah sakit tersebut tergolong berfluktuasi, tergantung dari parameter ujinya, dengan penurunan paling tinggi pada parameter uji untuk suhu adalah sebesar 2,62%, pH adalah sebesar 8,97%, TSS adalah sebesar 53,26%, BOD adalah sebesar 51,47%, COD adalah sebesar 52,88%, NH3-bebas adalah sebesar 25%, total PO4-P adalah sebesar 79,31%, dan total koliform adalah sebesar 99,72%. Apabila efektifitas IPAL tersebut dibandingkan dengan Peraturan Gubernur Provinsi Kalimantan Selatan Nomor 036 Tahun 2008, maka yang memenuhi standart baku mutu yang telah ditetapkan adalah parameter pH dan NH3-bebas.
KONSEP PENGELOLAAN SAMPAH MANDIRI OLEH RUKUN WARGA DI KOTA YOGYAKARTA Iswanjana I; Syafrudin S; Tukiman Taruna
Ekosains Vol 7, No 03 (2015)
Publisher : Program Studi ilmu Lingkungan, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (557.725 KB)

Abstract

Konsep pengelolaan sampah mandiri berbasis rukun warga merupakan  konsep dengan melibatkan peran rukun warga didalam pengelolaan sampah. Permasalahan pengelolaan sampah memerlukan keterlibatan semua pihak disamping pemerintah juga dibutuhkan keterlibatan aktif masyarakat salah satunya peran Rukun Warga (RW).  Rukun Warga berwenang mengajak masyarakatnya mengelola sampah sejak dari sumbernya (rumah tangga) yang diharapkan akan mengurangi jumlah timbulan sampah. Tujuan penelitian untuk mengetahui gambaran peran Rukun Warga dalam pengelolaan sampah mandiri berbasis Rukun Warga di RW 16 Karanganyar, Brontokusuman  Yogyakarta. Jenis penelitian ini adalah deskriptif  kualitatif yaitu penelitian yang bermaksud untuk mendeskripsikan fenomena yang terjadi berdasarkan hasil eksplorasi penanganan masalah sampah di Kota Yogyakarta khususnya yang berbasis Rukun Warga. Penelitian berusaha menelaah secara cermat, sistematis terhadap fenomena empirik aktual mengenai pengelolaan sampah secara mandiri berbasis Rukun Warga. Eksplorasi tidak sekedar pada laporan suatu kejadian atau fenomena saja melainkan juga dikroscek dengan dengan sumber lain yang relevan. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan gambaran peran Rukun Warga dalam pengelolaan sampah mandiri sebagai berikut munculnya fenomena perubahan  paradigma masyarakat dari membuang sampah menjadi memanfaatkan sampah,  masyarakat mengatasi permasalahan sampah dengan bank sampah, daur ulang dan komposting. Namun ada permasalahan juga masyarakat tidak tepat didalam melakukan pemilahan sampah, administrasi pembukuan bank sampah yang masih manual, produk daur ulang yang belum ada pemasaran serta proses pengomposan belum optimal Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan tersebut terdapat saran dan rekomendasi sebagai berikut : perlunya Rukun Warga terus menerus melakukan sosialisasi dan bimbingan kepada masyarakat  untuk selalu melakukan pengelolaan sampah,  melakukan pembukuan administrasi bank sampah yang lebih akuntanbel, mencari mitra kerjasama  untuk memasarkan produk daur ulang, pengoptimalan pengomposan.
PROSPEK PENGEMBANGAN SAYURAN ORGANIK DI KOTA MATARAM Baiq Sri Wahyu H; Lalu Sukardi; Taslim Sjah
Ekosains Vol 7, No 03 (2015)
Publisher : Program Studi ilmu Lingkungan, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (730.855 KB)

Abstract

Dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan kualitas lingkungan hidup, perlu menggalakkan program yang bersinergi pada keempat pilar yaitu pro-growth, pro-poor, pro-job, dan pro-environment, antara lain dengan mengembangkan usahatani sayuran organik di lahan pekarangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prospek pengembangan usahatani sayuran organik di Kota Mataram baik dari sisi kelayakan finansial, maupun dari aspek penawaran dan aspek permintaan. Metode penentuan sampel yang digunakan adalah purposive sampling pada dua kelompok wanita tani (KWT), yaitu KWT Seruni dan KWT Handayani. Hasil analisis dari daerah sampel kemudian diestimasi untuk Kota Mataram.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) usahatani sayuran organik di Kota Mataram layak secara finansial; (2) luas lahan potensial di Kota Mataram adalah sebesar 645,07 ha dan luas lahan aktual sebesar 251,94 ha, sehingga masih ada peluang tambahan pemanfaatan lahan sebesar 393,14 ha (60,94%); (3) produksi sayuran organik per bulan di Kota Mataram sebesar 90,21 kg dan  jumlah potensinya sebesar 45.454,18 kg, sehingga masih ada peluang penambahan produksi sebesar 45.364 kg (99,80%); (4) jumlah ketersediaan sampah organik per bulan di Kota Mataram sebesar 2.723.467 kg dan jumlah yang sudah dimanfaatkan adalah sebesar 3.750 kg, sehingga ada peluang tambahan pemanfaatan sampah organik sebesar 2.719.797 kg (99,86%); (5) jumlah permintaan potensial sayuran organik per bulan untuk Kota Mataram sebesar 1.375.989 kg dan jumlah permintaan aktualnya sebesar 23.553 kg, sehingga masih ada peluang tambahan jumlah permintaan sebesar 1.352.436 kg (98,29%); (6) konsumen bersedia membeli sayuran organik sampai dengan kenaikan harga 7,62%; (7) peluang pasar sayuran organik di Kota Mataram masih besar yaitu 1.307.072 kg/bulan (97%).
KAJIAN PERILAKU MASYARAKAT DALAM PEMANFAATAN SUMBERDAYA ALAM PADA SUB DAS KEEROM DISTRIK SENGGI KAB. KEEROM PROVINSI PAPUA Prabang Setyono; Sri Budiastuti; Semuel Jeujanan
Ekosains Vol 7, No 03 (2015)
Publisher : Program Studi ilmu Lingkungan, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (777.127 KB)

Abstract

Pemanfaatan sumberdaya alam oleh masyarakat di Sub DAS Keerom meliputi aktivitas berladang, aktivitas mencari sagu, aktivitas berburu dan aktivitas mengambil kayu. Aktivitas pemanfaatan sumberdaya alam tersebut dilakukan untuk pemenuhan kebutuhan pokok dan juga kebutuhan ekonomi. Aktivitas pemanfaatan sumberdaya alam tersebut mengakibatkan penurunan fungsi Sub DAS Keerom. Tujuan Penelitian untuk: 1. Melakukan identifikasi terhadap faktor-faktor yang terkait dengan penurunan fungsi Sub DAS Keerom, 2.Menemukan faktor dominan penyebab penurunan fungsi Sub DAS Keerom, 3. Melakukan identifikasi perilaku masyarakat 4.Mengkaji faktor-faktor pengaruh perilaku masyarakat.Penelitian lapangan dilakukan di Sub DAS Keerom yaitu kampung Senggi Distrik Senggi dengan metode wawancara mendalam, angket serta diskusi kelompok terfokus. Pemeriksaan kualitas air menggunakan data sekunder pada pemenelitian sebelumnya pada lokasi yang sama.Hasil identifikasi dilapangan diketahui aktivitas berladang dan penebangan kayu dilakukan di pinggir sungai mengakibatkan terjadinya erosi dan sedimentasi di sungai Keerom. Pemeriksaan kualitas air pada sungai Keerom menunjukkan parameter Zat Padat Tersuspensi (TSS) 792 mg/l, Biological Oxygen Demand (BOD) 15, 09 mg/l, dan Chemical Oxygen Demand (COD) 38 mg/l. Berdasarkan hasil analisis terhadap kondisi perairan pasa Sub DAS Keerom  telah terjadi pencemaran sungai taraf tercemar ringan menurut metode Indeks Pencemaran (Pollution index) berkisar 1,22 sampai 3,13. Faktor yang paling dominan dalam penurunan fungsi Sub DAS Keerom adalah aktivitas penebangan kayu yang dilakukan pada pinggir sungai sepanjang aliran sungai. Perilaku masyarakat dalam pemanfaatan sumberdaya alam tergolong kedalam  perilaku ramah lingkungan 64, 51 % yang terdiri dari perilaku memelihara 44 % dan perilaku memperbaiki 21 %. Perilaku tidak ramah lingkungan diketahui sebesar 35,49 %  yang terdiri dari perilaku merusak 23 % dan perilaku mengabaikan 12 %. Faktor yang  mempengaruhi perilaku masyarakat adalah faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal terdiri dari persepsi, motivasi dan keinginan masyarakat dalam merespon faktor-faktor eksternal seperti faktor fisik (sumberdaya alam) faktor ekonomi (pendapatan, permintaan), faktor pendukung (sarana dan prasarana jalan dan telekomunikasi) serta faktor pendorong (lemahnya penegakan hukum serta keterlibatan aparat).
STRATEGI PENGELOLAAN PERKEBUNAN BERBASIS KESTABILAN EKOSISTEM DI KECAMATAN NIBUNG, KABUPATEN MUSI RAWAS UTARA, SUMATERA SELATAN Danang Kusnadi; MTh. Sri Budiastuti; Edi Purwanto
Ekosains Vol 7, No 03 (2015)
Publisher : Program Studi ilmu Lingkungan, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (529.807 KB)

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengidentifikasi tingkat kestabilan ekosistem di perkebunan karet dan sawit di Kecamatan Nibung, Kabupaten Musi Rawas Utara dan memperoleh strategi pengelolaan perkebunan yang berbasis pada kestabilan ekosistem. Jenis penelitian adalah deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah perkebunan kelapa sawit, karet dan masyarakat. Metode yang digunakan adalah metode garis berpetak, dengan petak 20m x 20m digunakan untuk mengumpulkan data jenis pohon, 10m x 10m digunakan untuk mengumpulkan data jenis tiang (anak pohon), 5m x 5m digunakan untuk mengumpulkan data jenis tumbuhan bawah dan 2m x 2m digunakan untuk mengumpulkan data jenis rumput. Keberadaan satwa atau hewan teknik yang digunakan adalah wawancara dan identifikasi jejak hewan (feses dan sarang). Data sosial diperoleh dengan wawancara mendalam kepada masyarakat. Teknik analisa data menggunakan Program Exel 2007 dan Analisis SWOT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keseimbangan ekosistem di perkebunan karet dan sawit ditinjau dari aspek nilai indeks keanekaragaman berada dalam kategori rendah, pada vegetasi perkebunan kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq) pada tingkat pohon (0,05), tingkat anak pohon (0,57), tingkat tumbuhan bawah (0,83) berada dalam kategori rendah atau sedikit dan tingkat rumput (1,22) berada dalam kategori sedang. Sedangkan pada vegetasi perkebunan tanaman karet (Hevea brasiliensis) pada tingkat pohon (0,04), tingkat anak pohon (0,50), tingkat tumbuhan bawah (0,61) berada dalam kategori rendah atau sedikit dan tingkat rumput (1,42) berada dalam kategori sedang. Berdasarkan analisis SWOT ada dua strategi untuk pengelolaan berbasis kestabilan ekosistem Meningkatkan sumber daya manusia (SDM) petani karet dan sawit, untuk menghasilkan dan meningkatkan produksi lateks dan tandan buah segar (TBS) dalam hal kualitas dan kuantitas dengan mengelola perkebunan secara arif, bijaksana dan sesuai standar operasional prosedur (SOP) pengelolaan yang telah ada sebelumnya. Dan Meningkatkan sumber daya manusia (SDM) petani karet dan sawit, untuk mentaati perundang-undangan tentang lingkungan hidup agar peralihan lahan perkebunan menjadi permukiman terminimalisir dan dapat terwujudnya hutan konservasi di Kecamatan Nibung, Kabupaten Musi Rawas Utara.
ANALISIS PENAATAN DOKUMEN UKL UPL OLEH PEMRAKARSA PENAMBANGAN MINYAK BUMI PADA SUMUR TUA DESA BANGOWAN KECAMATAN JIKEN KABUPATEN BLORA Wahyu Yuwono; Purwanto P; Dwi P Sasongko
Ekosains Vol 7, No 03 (2015)
Publisher : Program Studi ilmu Lingkungan, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (448.424 KB)

Abstract

Kegiatan penambangan minyak bumi pada sumur tua tentu selain memiliki dampak positif bagi masyarakat juga memberikan dampak terhadap kondisi lingkungan sekitar. Dalam mengurangi dampak negatif dan mengoptimalkan dampak positif Pengelola Penambangan Minyak Sumur Tua diwajibkan untuk menyusun Dokumen UKL UPL. KUD Wargo Tani Makmur Jiken merupakan pemrakarsa Dokumen UKL UPL pada Kegiatan Pengusahaan Sumur Tua di Lapangan Banyubang Desa Bangowan Kecamatan Jiken Kabupaten Blora.Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui tingkat penaatan Dokumen UKL UPL yang telah dilakukan pemrakarsa dan kendala yang dialami untuk melaksanakan penaatan Dokumen UKL UPL. Untuk menilai kriteria penaatan  dilakukan modifikasi dari kriteria Proper dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No 5 Tahun 2011 tentang Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup.Hasil Penelitian menunjukkan bahwa pemrakarsa tidak taat dalam pengelolaan dan pemantauan lingkungan, dikarenakan tidak adanya karyawan yang khusus menangani dan menguasai pengelolaan lingkungan, belum dianggarkannya dana khusus untuk pengelolaan lingkungan berkaitan dengan besarnya anggaran yang diperlukan untuk secara kontinyu untuk pemantauan lingkungan.  Pengawasan Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Blora terhadap pemrakarsa masih bersifat menunggu adanya laporan dari masyarakat.
KESESUAIAN DAN DAYA DUKUNG KAWASAN UNTUK EKOWISATA MANGROVE DI DESA PASARBANGGI KABUPATEN REMBANG JAWA TENGAH Eko Setyawan; Fuad Muhammad; Bambang Yulianto
Ekosains Vol 7, No 03 (2015)
Publisher : Program Studi ilmu Lingkungan, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (629.329 KB)

Abstract

Kegiatan rehabilitasi hutan mangrove yang telah berhasil dilakukan di Desa Pasarbanggi perlu diikuti dengan upaya pengelolaan yang baik untuk mencegah kerusakan hutan mangrove. Pengelolaan hutan mangrove untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitarnya tanpa melakukan eksploitasi dapat dilakukan dengan kegiatan berwawasan lingkungan seperti ekowisata mangrove. Ekowisata mangrove merupakan salah satu inovasi baru pengelolaan mangrove yang diterapkan di kawasan pesisir. Dalam upaya mencapai pengelolaan berkelanjutan maka jenis kegiatan yang dilakukan harus memperhatikan aspek kesesuaian dan daya dukung. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis kesesuaian dan menghitung daya dukung kawasan untuk pengembangan kegiatan ekowisata mangrove. Penelitian dilakukan pada bulan Juli – Agustus 2014 dengan pengumpulan data primer melalui observasi lapangan dan data sekunder melalui studi pustaka. Metode yang digunakan yaitu metode deskriptif dengan analisis Indeks Kesesuaian Wisata (IKW) dan Daya Dukung Kawasan (DDK). Hasil perhitungan menunjukkan bahwa kawasan mangrove Desa Pasarbanggi termasuk dalam kategori sesuai (S2) untuk dikembangkan sebagai ekowisata mangrove dengan nilai Indeks Kesesuaian sebesar 74,36 % dan Daya Dukung Kawasan (DDK) adalah 356 orang per hari (8 jam buka/hari). Jika berdasarkan pada jam buka dari pengelola (12 jam buka/hari) maka Daya Dukung Kawasannya adalah 534 orang per hari.
PENGARUH PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN TERHADAP KOEFISIEN RUNOFF DI DAS KEMONING KABUPATEN SAMPANG Agus Eko Kurniawan; Suripin S; Hartuti Purnaweni
Ekosains Vol 7, No 03 (2015)
Publisher : Program Studi ilmu Lingkungan, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (788.971 KB)

Abstract

Perubahan penggunaan lahan memiliki dampak terhadap lingkungan fisik, sosial dan ekonomi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis perubahan penggunaan lahan dengan menggunakan citra satelit, SIG dan tabulasi silang, menganalisis perubahan curah hujan di hitung dengan metode arithmatik untuk mendapatkan hujan rata-rata pada tahun 2004, 2009, dan 2013. Menganalisis dinamika debit di DAS Kemoning pada tahun 2004, 2009 dan 2013 dengan metode FJ. Mock. Menganalisis perubahan penggunaan lahan dan pengaruhnya terhadap koefisien runoff di DAS Kemoning. Hasil penelitian menyatakan bahwa dari tahun 2004 sampai tahun 2013 penggunaan lahan hutan, kebun campur, lahan terbuka, mangrove, sawah, semak belukar mengalami penurunan luas. Sedangkan permukiman, ladang/tegalan dan tambak mengalami peningkatan luas lahan. Jumlah curah hujan dan debit aliran mempunyai kecenderungan meningkat dari tahun 2004 ke 2013 begitu juga dengan curah hujan tertingginya. Koefisien runoff cenderung meningkat dari tahun 2004 ke 2013. Kenaikan koefisien runoff menunjukkan kinerja DAS yang semakin memburuk. Perubahan penggunaan lahan sangat berpengaruh terhadap koefisien runoff.
KEMAMPUAN KULTIVAR Sanseviera trifasciata DALAM MENYERAP GAS KARBONMONOKSIDA (CO) ASAP ROKOK Whika Febria Dewatisari; Melly Lyndiani
Ekosains Vol 7, No 03 (2015)
Publisher : Program Studi ilmu Lingkungan, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (569.746 KB)

Abstract

Pencemaran dalam ruangan cenderung disebabkan oleh asap rokok. Gas pencemar dari asap rokok yang paling berpengaruh bagi tubuh manusia adalah gas karbon monoksida(CO) dan gas karbon dioksida (CO2). Sansevieria trifasciata merupakan contoh tanaman hias yang sering diletakkan di perkantoran, hotel, maupun rumah sebagai penetralisisr polusi. Hasil beberapa penelitian menunjukkan bahwa Sanseveira mampu menyerap 107 jenis racun. Termasuk racun-racun yang terkandung dalam polusi udara (karbonmonoksida), racun rokok, bahkan radiasi nuklir.Riset lainnya dapat disimpulkan bahwa untuk ruangan seluas 100 m3 cukup ditempatkan Sansevieria dewasa berdaun 5 helai daun agar ruangan itu bebas polutan.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kemampuan penyerapan gas CO keenam kultivar  S. trifasciata setelah pemaparan asap rokok dan mengetahui kultivar mana yang memiliki kemampuan penyerapan gas CO terbaik menyerap gas CO.Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan satuan percobaan homogen atau tidak ada faktor lain yang mempengaruhi respon di luar faktor yang diteliti. Rancangan ini menggunakan lima macam perlakuan.Analisa dilakukan selama penelitian dan secara menyeluruh  mulai dari tahap kalibrasi, pemaparan gas pencemar karbon monoksida (CO), menentukan tanaman yang memiliki penyisihan terbesar dalam penurunan polutan gas CO dan efek yang ditimbulkan terhadap tanaman. Data hasil pengamatan disusun dalam tabel kemudian dianalisis secara statistik dengan menggunakan Anova. Apabila terdapat pengaruh perlakuan yang berbeda nyata maka pengujian dilanjutkan dengan uji jarak Duncan/Duncan Multiple Range Test (Gaspersz, 1991).Hasil penelitian menunjukkan bahwa kultivar terbaik dalam menyerap kadar CO dari polutan asap rokok adalah S. trifasciata “Green tiger” yaitu sebesar 76%  dan kultivar terbaik dalam menyerap kadar CO2 dari polutan asap rokok adalah S. trifasciata “Green tiger” sebesar 80.07 %, serta yang mengalami kerusakan stomata paling banyak adalah S. trifasciata “Green tiger” ysitu sebesar 13.33%.
KAJIAN SENSITIFITAS KAWASAN TAMAN HUTAN RAYA (TAHURA) K.G.P.A.A MANGKUNAGORO I KARANGANYAR Hendro Widiyanto; Slamet Minardi; Sunarto S
Ekosains Vol 7, No 03 (2015)
Publisher : Program Studi ilmu Lingkungan, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (910.057 KB)

Abstract

Taman Hutan Raya (TAHURA) KGPAA Mangkunagoro I Karanganyar mempunyai fungsi sebagai sistem penyangga kehidupan, pelestarian keanekaragaman hayati beserta ekosistem dan bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat. Pengelolaan kawasan TAHURA secara efektif dan efesien untuk menjaga kelestarian fungsi TAHURA, diperlukan penataan kawasan berupa penentuan blok/zonasi ke dalam unit-unit bagian. Kajian sensitifitas ekologi digunakan sebagai kriteria dalam penentuan blok/zonasi kawasan TAHURA. Penelitian ini bertujuan 1. Mengidentifikasi kriteria Sensitifitas kawasan TAHURA KGPAA Mangkunagoro I Karanganyar 2. Menentukan blok/zonasi kawasan TAHURA KGPAA Mangkunagoro I  berdasarkan tingkat sensitifitas. Penggabungan penggunaan Sistem Informasi Geografis (GIS) dan survei digunakan untuk mengukur tingkat sensitifitas ekologi terhadap pengaruh dinamika perubahan ekologi sesuai fungsi masing-masing blok/zonasi kawasan TAHURA. Survei vegetasi dan satwa digunakan untuk mengetahui potensi biotik kawasan TAHURA. Pengambilan sampel vegetasi dan satwa dengan membuat metode transek line masing-masing jarak 400m,  jumlah sampel vegetasi sebanyak 46 petak ukur  dan jumlah sampel satwa (aves) sebanyak 25 petak ukur. Pengambilan sampel vegetasi bentuk petak ukur bujur sangkar dengan ukuran kuadrat sesuai tingkat pertumbuhan, jarak antar petak ukur 100m. Pengamatan satwa (aves) dalam radius 50m dengan jarak antar titik pengamatan 200m.Hasil survei vegetasi dan satwa diklasifikasikan dalam penilaian skoring, selanjutnya dimasukan kedalam peta vegetasi dan peta satwa. Peta kelerengan dan ketinggian tempat dibuat dengan metode Digital Elevation Model (DEM) dari peta kontur Rupa Bumi Indonesia (RBI) skala 1:25.000 dengan interval ketinggian 12,5m dengan memanfaatkan software ArcGIS 10.0. Penentuan sensitifitas ekologi merupakan hasil overlay atau tumpang susun dari peta vegetasi, peta satwa, peta ketinggian tempat, dan peta kelerengan TAHURA.Hasil penelitian menunjukkan tingkat Sensitifitas kawasan TAHURA Mangkunagoro I dalam penentuan blok/zonasi, yaitu: blok/zona perlindungan 107,25 ha (41,0%) sangat sensitive, blok koleksi sangat sensitif dan sensitif 136,51 ha (52,2%), blok pemanfaatan 17,46 ha (6,7%) sensitif dan tidak sensitive, dan areal 0,46 ha (0,2%) tidak sensitif  berada di tengah blok perlindungan masih direncanakan sebagai blok/zona tradisional. Berdasarkan tingkat sensitifitas kawasan TAHURA Mangkunagoro I, yaitu: sangat sensitif 130,48 ha (49,9%), sensitif 122,66 ha (46,9%), dan tidak sensitif 8,55 ha (3,2%).

Page 1 of 2 | Total Record : 12