cover
Contact Name
Dewi Astuti Herawati
Contact Email
dewitkusb@gmail.com
Phone
+6287836766465
Journal Mail Official
tek.kimia.u5b@gmail.com
Editorial Address
Jl. Letjend Sutoyo Mojosongo Solo 57127
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Kimia dan Rekayasa
Published by Universitas Setia Budi
ISSN : 27472841     EISSN : 27460886     DOI : https://doi.org/10.31001/jkireka
Core Subject :
Jurnal Kimia dan Rekayasa (J.Kireka) merupakan jurnal hasil penelitian laboratorium, studi lapangan, studi kasus, telaah pustaka yang diterbitkan oleh Program Studi S1 Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Setia Budi pada bulan Juli 2020. Jurnal ini diterbitkan 2 (dua) kali dalam satu tahun yaitu pada bulan Januari dan Juli. Bidang kajian yang termuat dalam Kimia dan Rekayasa adalah bidang Kimia (Kimia, Biokimia, Analisis Kimia, Kimia material, Kimia Lingkungan ) dan bidang Rekayasa (Rekayasa Kimia, Rekayasa Industri,Bioproses dan Technologi, Rekayasa Lingkungan dan Rekayasa Pangan).
Arjuna Subject : -
Articles 65 Documents
HCL Activate Concentration Effect On Nanoporied Active Carbon Powder Of Sugarcane Bagasse And Contact Time For Adsorption Of Heavy Metal Lead Pb (II): Pengaruh Konsentrasi Aktivator HCL Pada Serbuk Nanopori Karbon Aktif Ampas Tebu Dan Waktu Kontak Untuk Adsorpsi Logam Berat Timbal Pb( II ) Narimo; Peni Pujiastuti; Tri Wijayanti
Jurnal Kimia dan Rekayasa Vol. 6 No. 2 (2026): Jurnal Kimia dan Rekayasa Edisi Januari 2026
Publisher : Program Studi S1 Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Setia Budi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This far, bagasse waste has only been used as fuel, in its development can also be used as activated carbon for the adsorption of heavy metals including lead Pb (II). The making nanoporous activated carbon from bagasse are first by drying in the sun, after that crushing it , carbonizing it using a furnace at 300 0C, and activating it with HCL and ultrasonic irradiation using sonication. The results of characteristic testing of nano-porous activated carbon powder showed with irradiation taking place at ultrasonic with an amplitude of 40%, namely an average pore radius of 3.3202 e+01 0A, a surface area of 80.235 m2/ gr and a water content of 0.71%. The adsorption test results with the sample solution of Pb(NO3)2 concentration 100 ppm with each variation HCL 1 N, 2 N, 3 N, 4 N, 5 N, 6 N and the results were tested by Atomic Absorption Spectrophotometry, indicating that the best concentration of HCL solution was 5 N which was able to reduce sample content of Pb (II) was 99.71%. The same thing was done for testing samples of Pb(NO3)2 solution with each variable activation time of activated carbon 1, 2 , 3 and 4 hours. The test results show that the best activated carbon activation time is 3 hours which can reduce the concentration of Pb (II) samples by 99.68%. AbstrakLimbah Ampas tebu selama ini banyak digunakan hanya untuk bahan bakar  penghasil energi panas dalam bentuk uap ( steam boiler ) pada pabrik gula, tetapi pada perkembangan berikutnya ampas tebu juga dapat  dimanfaatkan sebagai karbon aktif untuk adsorpsi logam berat termasuk timbal Pb (II). Tahapan pembuatan karbon aktif nanopori dari ampas tebu dimulai dengan preparasi bahan baku yaitu pengeringan dibawah sinar matahari kemudian bahan di crusher, dikarbonisasi menggunakan furnace pada suhu 300 0C, diaktivasi dengan aktivator HCL dan iradiasi ultrasonik memakai sonikasi. Hasil pengujian karakteristik serbuk karbon aktif nanopori dari ampas tebu menunjukkan pembentukan pori pada karbon aktif dengan iradiasi berlangsung pada gelombang ultrasonik dengan amplitudo 40 % yaitu radius pori rata rata 3.3202 e+01 0A, luas permukaan  80.235 m2/ gram dan kadar air 0,71 %. Untuk hasil pengujian adsorpsi dengan sampel larutan Pb(NO3)2 konsentrasi 100 mg/L ( 100 ppm ) dengan masing masing variasi konsentrasi aktivator larutan HCL yaitu 1 N, 2 N, 3 N, 4 N, 5 N, 6 N dan hasilnya diuji dengan Spektrofotometri Atom Serapan (AAS) menunjukkan bahwa konsentrasi aktivator larutan HCL  terbaik adalah 5 N, mampu menurunkan kadar sampel Pb (II) sebesar 99,71 %. Hal yang sama dilakukan untuk pengujian sampel larutan Pb(NO3)2 dengan  masing masing variabel lama waktu aktivasi karbon aktif yaitu 1 jam, 2 jam, 3 jam dan 4 jam, hasil pengujian menunjukkan bahwa waktu aktivasi karbon aktif terbaik adalah 3 jam mampu menurunkan kadar sampel Pb (II) sebesar 99,68 %.
The Effect of Carbonization Temperature on the Synthesis and Characteristics of Fe3O4/CQDs: Pengaruh Suhu Karbonisasi Terhadap Sintesis dan Karakterisasi Nanokomposit Fe3O4/CQDs Angle Cendriani; Ali Amran
Jurnal Kimia dan Rekayasa Vol. 7 No. 1 (2026): Jurnal Kimia dan Rekayasa Edisi Juli 2026
Publisher : Program Studi S1 Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Setia Budi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aimed to investigate the effect of carbonization temperature on the formation and optical characteristics of Fe3O4/CQDs. Fe3O4/CQDs nanocomposites were synthesized using the hydrothermal method, with dried banana leaves employed as the carbon source. The results indicated that the optimum carbonization temperature for CQD synthesis was 400oC, at which a higher absorbance intensity was observed, suggesting the formation of a greater amount of CQDs in the sample. UV–Vis spectroscopy was employed to evaluate the optical properties of the synthesized nanocomposites, determine the maximum absorption wavelength (λmax), monitor changes in absorbance, and identify electronic transitions resulting from variations in carbonization temperature. The UV–Vis spectra revealed that the Fe3O4/CQDs nanocomposite synthesized at a carbonization temperature of 300oC exhibited a maximum absorption peak at 321 nm, whereas the sample synthesized at 400oC showed a maximum absorption peak at 283 nm. These differences in the absorption spectra indicate that carbonization temperature significantly influences the optical properties of the material through changes in the CQD structure and the electronic transition processes occurring within the samples. Careful control of the carbonization temperature is essential because temperatures above 300oC may lead to excessive oxidation, resulting in damage to the surface structure of CQDs and deterioration of their optical properties. Furthermore, this study discusses the formation of non-radiative pathways at higher temperatures, which reduce the photoluminescence intensity due to insufficient energy transfer between the CQD core and surface. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh suhu karbonisasi terhadap pembentukan dan karakteristik optik Fe3O4/CQDs. Sintesis Fe3O4/CQDs menggunakan metode Hidrotermal. Sumber karbon yang digunakan pada penelitian ini adalah daun pisang kering. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu optimal untuk mensintesis CQD adalah 300oC, yang mana intensitas absorbansi lebih tinggi diamati, yang menunjukkan jumlah pembentukan CQDs yang lebih besar dalam sampel. Pada penelitian ini karakterisasi menggunakan spektroskopi UV-Vis untuk mengevaluasi sifat optik, menentukan λmax, mengamati perubahan absorbansi, dan mengidentifikasi transisi elektronik akibat variasi suhu karbonisasi. Hasil karakterisasi menggunakan spektroskopi UV-Vis menunjukkan bahwa nanokomposit Fe3O4/CQDs yang disintesis pada suhu karbonisasi 300oC memiliki puncak absorbansi pada panjang gelombang 321 nm, sedangkan sampel yang disintesis pada suhu 400oC menunjukkan puncak absorbansi pada 283 nm. Perbedaan spektrum absorbansi ini mengindikasikan bahwa suhu karbonisasi memengaruhi sifat optik material melalui perubahan struktur CQDs dan proses transisi elektronik yang terjadi pada sampel. Pentingnya mengendalikan suhu karbonisasi, karena suhu di atas 300oC dapat menyebabkan oksidasi berlebihan, merusak struktur permukaan CQDs dan mengakibatkan berkurangnya sifat optik. Studi ini juga membahas pembentukan jalur non-radiatif pada suhu yang lebih tinggi, yang dapat mengurangi intensitas pendaran cahaya karena transfer energi yang tidak memadai antara inti dan permukaan CQDs.
Effect of Sulfuric Acid Concentration Variation in the Phosphogypsum Washing Process on Purity Improvement and Reduction P2O5 Content: Pengaruh Variasi Konsentrasi Asam Sulfat pada Proses Washing Phosphogypsum terhadap Peningkatan Kemurnian dan Penurunan Kandungan P2O5 Bety Itsnawati; Tri Widayatno
Jurnal Kimia dan Rekayasa Vol. 7 No. 1 (2026): Jurnal Kimia dan Rekayasa Edisi Juli 2026
Publisher : Program Studi S1 Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Setia Budi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Phosphogypsum (PG) is a solid by-product of phosphoric acid production that contains various impurities, particularly P2O5, resulting in purity levels of only 80 - 85%, which fall below the industrial standard of over 90%. This study aimed to investigate the effect of varying sulfuric acid concentrations using raw water (RCW) on improving phosphogypsum purity and reducing water soluble (WS) and total P2O5 content. The chemical washing method was applied by mixing 60 grams of PG with 140 mL of sulfuric acid solution at concentrations of 0%, 0.1%, 0.375%, and 1%, heated at 40 - 50oC for one hour  at 130 rpm stirring speed. P2O5 content was analyzed using UV-Vis spectrophotometry at 440 nm wavelength, while purity was determined through crystalline water content measurements. Results showed that washing with raw water alone yielded the highest purity for Sample 1 at 93.56%, while Sample 2 achieved optimal purity of 91.97% at 0.1% sulfuric acid concentration. P2O5 WS decreased significantly after raw water washing, and excessive sulfuric acid (1%) reduced purity due to gypsum re-dissolution. These findings demonstrate that low concentration acid washing is sufficient for improving phosphogypsum quality and meeting industrial standards. AbstrakPhosphogypsum (PG) merupakan limbah padat dari proses produksi asam fosfat yang mengandung berbagai pengotor, terutama P2O5. Akibatnya kemurniannya hanya berkisar 80 - 85% dibawah standar industri 90%. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh variasi konsentrasi (H2SO4) menggunakan air baku (RCW) terhadap peningkatan kemurnian phosphogypsum serta penurunan kadar P2O5water soluble (WS) dan P2O5 total. Metode yang digunakan adalah pencucian kimia dengan mencampurkan 60 gram Sampel PG bersama larutan asam sulfat pada konsentrasi 0%, 0,1%, 0,375% dan 1% sebanyak 140 mL yang dipanaskan pada suhu 40 - 50oC selama satu jam dengan kecepatan pengadukan dijaga konstan pada 130 rpm. Kadar P2O5 dianalisis menggunakan spektrofotometri UV-Vis pada panjang gelombang 440 nm, sedangkan kemurnian ditentukan melalui pengukuran kadar kristal air. Hasil menunjukkan bahwa pencucian dengan air baku tanpa penambahan asam sulfat menghasilkan kemurnian tertinggi pada Sampel 1 yaitu sebesar 93,56%, sedangkan pada Sampel 2 mencapai kemurnian optimal 91,97% pada konsentrasi asam sulfat 0,1%. Kadar P2O5 WS secara efektif turun setelah pencucian dengan air baku, sementara konsentrasi asam sulfat 1% justru menurunkan kemurnian akibat pelarutan kembali komponen pada gipsum. Temuan ini menunjukkan bahwa pencucian asam dengan konsentrasi rendah sudah cukup untuk meningkatkan kualitas phosphogypsum dan memenuhi standar industri.  
Analysis of Wood Drying Characteristics with Cylindrical and Spherical Geometric Variations: Karakteristik Pengeringan Kayu dengan Variasi Bentuk Geometri Silinder dan Bola Ani Purwanti; Diviona Mulyawati
Jurnal Kimia dan Rekayasa Vol. 7 No. 1 (2026): Jurnal Kimia dan Rekayasa Edisi Juli 2026
Publisher : Program Studi S1 Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Setia Budi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Drying is a chemical engineering operation used to reduce the moisture content of materials through heat transfer and mass transfer. This study aimed to determine the drying rate coefficient and analyze the effect of moisture content on the drying rate of cylindrical and spherical wood samples. A descriptive experimental method was applied using an oven at an average temperature of 89.9oC. The wood samples were first soaked to saturation, then dried and weighed at 10-minute intervals after cooling in a desiccator until a constant mass was reached. The observed data were used to calculate moisture content, drying rate, water vapor partial pressure, and drying rate coefficient. The results showed that the moisture content of both samples gradually decreased to 0% as drying time increased. The drying rate also declined and approached zero because surface water decreased and internal moisture transfer became more resistant. The drying rate coefficient was 0.00013 g/(cm²·menit·mmHg) for the cylindrical wood sample and 0.00019 g/(cm²·menit·mmHg) for the spherical wood sample. Therefore, drying time affected the reduction in moisture content, while sample geometry influenced drying characteristics; under the same operating conditions, the spherical wood sample exhibited a higher drying rate coefficient than the cylindrical sample. AbstrakPengeringan merupakan operasi teknik kimia yang digunakan untuk menurunkan kadar air bahan melalui perpindahan panas dan perpindahan massa sehingga stabilitas penyimpanan dan kualitas produk dapat ditingkatkan. Penelitian ini bertujuan menentukan koefisien laju pengeringan serta menganalisis pengaruh kadar air terhadap laju pengeringan kayu berbentuk silinder dan bola. Penelitian dilakukan secara deskriptif eksperimental menggunakan oven pada suhu rata-rata 89,9oC. Sampel kayu terlebih dahulu direndam hingga jenuh, kemudian dikeringkan dan ditimbang setiap 10 menit setelah didinginkan dalam desikator hingga massanya konstan. Data pengamatan digunakan untuk menghitung kadar air, laju pengeringan, tekanan parsial uap air, dan koefisien laju pengeringan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar air kedua sampel menurun secara bertahap hingga mencapai kadar konstan seiring bertambahnya waktu pengeringan. Laju pengeringan juga menurun hingga mendekati nol karena berkurangnya air pada permukaan dan meningkatnya hambatan perpindahan air dari bagian dalam bahan. Koefisien laju pengeringan kayu berbentuk silinder sebesar 0,00013 g/(cm2·menit·mmHg), sedangkan kayu berbentuk bola sebesar 0,00019 g/(cm2·menit·mmHg). Dengan demikian, waktu pengeringan berpengaruh terhadap penurunan kadar air, sedangkan bentuk geometri bahan memengaruhi karakteristik pengeringan; pada kondisi operasi yang sama, kayu berbentuk bola menunjukkan koefisien laju pengeringan lebih tinggi daripada kayu berbentuk silinder.  
Analysis Of Formaldehyde Content In Ground Spices Sold At Traditional Markets In Surakarta Using Chromotropic Acid Method And Uv-Vis Spectrophotometry: Analisis Kandungan Formalin Pada Bumbu Giling Di Pasar Tradisional Surakarta Menggunakan Metode Asam Kromatofat Dan Spektrofotometri Uv-Vis Agustin Ratnaningrum; D. Andang Arif Wibawa
Jurnal Kimia dan Rekayasa Vol. 7 No. 1 (2026): Jurnal Kimia dan Rekayasa Edisi Juli 2026
Publisher : Program Studi S1 Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Setia Budi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ground spices are widely used as ingredients in food preparation. Their relatively high moisture content and organic composition may accelerate quality deterioration during storage and potentially increase the risk of misuse of prohibited preservatives, including formaldehyde.This study aimed to identify formaldehyde in ground spices sold at traditional markets in Surakarta, determine the formaldehyde concentrations in positive samples using UV-Vis spectrophotometry, and evaluate the presence of formaldehyde in cooked chicken prepared with formaldehyde-positive ground spices.This study employed a descriptive experimental design. Five packaged ground spice samples were randomly collected from traders at a traditional market in Surakarta. Qualitative formaldehyde analysis was performed using the chromotropic acid method following distillation. Samples that tested positive were subsequently analyzed quantitatively using UV-Vis spectrophotometry at a maximum wavelength of 571 nm. The positive ground spice samples were also used to prepare cooked chicken, which was subsequently examined qualitatively for formaldehyde.Two of the five ground spice samples tested positive for formaldehyde, namely tongseng and curry spice samples. The mean formaldehyde concentrations were 0.45 ppm and 0.40 ppm, respectively. Standard solutions with concentrations ranging from 0.2 to 1.0 ppm showed increasing absorbance with increasing formaldehyde concentration. Qualitative analysis of the cooked chicken prepared with the positive ground spice samples showed negative results for formaldehyde. Formaldehyde was detected in some of the ground spice samples examined in this study. These findings highlight the importance of continuous food safety monitoring of ready-to-use ground spices sold in traditional markets. AbstrakBumbu giling merupakan produk pangan yang banyak digunakan sebagai bahan dasar pengolahan makanan. Karakteristiknya yang mengandung air dan bahan organik menyebabkan produk tersebut relatif mudah mengalami penurunan mutu sehingga berpotensi disalahgunakan dengan penambahan bahan pengawet yang tidak diperbolehkan, termasuk formaldehida. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi keberadaan formaldehida pada bumbu giling yang dijual di pasar tradisional Surakarta, menentukan kadar formaldehida pada sampel positif menggunakan spektrofotometri UV-Vis, serta mengetahui keberadaan formaldehida pada olahan daging ayam setelah penambahan bumbu giling positif. Penelitian menggunakan desain deskriptif eksperimental. Sebanyak lima sampel bumbu giling kemasan diperoleh secara acak dari pedagang di pasar tradisional Surakarta. Pemeriksaan kualitatif dilakukan menggunakan metode asam kromatofat setelah proses destilasi. Sampel yang menunjukkan hasil positif kemudian dianalisis secara kuantitatif menggunakan spektrofotometri UV-Vis pada panjang gelombang maksimum 571 nm. Sampel positif juga digunakan untuk mengolah daging ayam dan selanjutnya diperiksa secara kualitatif. Dua dari lima sampel bumbu giling menunjukkan hasil positif formaldehida, yaitu bumbu tongseng dan bumbu kare. Kadar rata-rata formaldehida masing-masing sebesar 0,45 ppm dan 0,40 ppm. Analisis larutan standar pada konsentrasi 0,2–1,0 ppm menunjukkan peningkatan absorbansi seiring peningkatan konsentrasi. Pemeriksaan kualitatif pada olahan daging ayam setelah penambahan bumbu tongseng dan kare menunjukkan hasil negatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa formaldehida masih ditemukan pada sebagian bumbu giling yang diperiksa dan menegaskan pentingnya pengawasan keamanan pangan pada produk bumbu siap pakai di pasar tradisional.