cover
Contact Name
Dewi Astuti Herawati
Contact Email
dewitkusb@gmail.com
Phone
+6287836766465
Journal Mail Official
tek.kimia.u5b@gmail.com
Editorial Address
Jl. Letjend Sutoyo Mojosongo Solo 57127
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Kimia dan Rekayasa
Published by Universitas Setia Budi
ISSN : 27472841     EISSN : 27460886     DOI : https://doi.org/10.31001/jkireka
Core Subject :
Jurnal Kimia dan Rekayasa (J.Kireka) merupakan jurnal hasil penelitian laboratorium, studi lapangan, studi kasus, telaah pustaka yang diterbitkan oleh Program Studi S1 Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Setia Budi pada bulan Juli 2020. Jurnal ini diterbitkan 2 (dua) kali dalam satu tahun yaitu pada bulan Januari dan Juli. Bidang kajian yang termuat dalam Kimia dan Rekayasa adalah bidang Kimia (Kimia, Biokimia, Analisis Kimia, Kimia material, Kimia Lingkungan ) dan bidang Rekayasa (Rekayasa Kimia, Rekayasa Industri,Bioproses dan Technologi, Rekayasa Lingkungan dan Rekayasa Pangan).
Arjuna Subject : -
Articles 54 Documents
Analysis of Total Suspended Solid (TSS) and Ammonia (NH3-N) Levels in Textile Liquid Waste: Analisis Kadar Total Suspended Solid (TSS) dan Amonia (NH3-N) Pada Limbah Cair Tekstil Sih Jayaning Ratri; Argoto Mahayana
Jurnal Kimia dan Rekayasa Vol. 3 No. 1 (2022): Jurnal Kimia dan Rekayasa Edisi Juli 2022
Publisher : Program Studi S1 Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Setia Budi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31001/jkireka.v3i1.39

Abstract

Textile liquid waste is waste from textile operations that contains high organic and inorganic elements. Organic and inorganic elements may pollute the environment if dumped straight into water. The breakdown of organic and inorganic elements in water by microorganisms produces a very poisonous chemical called Ammonia (NH3), which causes high TSS levels owing to the buildup of organic and inorganic materials. TSS levels in textile wastewater A were determined using the gravimetric technique, which involves weighing the suspended precipitate after it has been filtered using a vacuum pump and dried in an analytical oven. To determine Ammonia levels, the sample’s Ammonia would react with Hypochlorite from Sodium Hypochlorite and Phenol reagent solutions, then be catalyzed by Sodium Nitroprusside to produce indophenol blue compounds, which were detected by UV-Vis spectrophotometer at 640 nm. TSS was 10,84 mg/l and Ammonia was 0,34 mg/l in textile wastewater sample A. This result satisfies the textile wastewater quality criteria set out in the Republic of Indonesia Minister of Environment and Forestry Regulation No. P. 16/ MENLHK/ SETJEN/ KUM. 1/ 4/ 2019 TSS limit of 50 mg/l and Ammonia maximum of 8,0 mg/l. Abstrak Limbah cair tekstil adalah limbah cair yang berasal dari beberapa proses di industri tekstil yang mengandung bahan organik dan anorganik yang tinggi. Adanya bahan organik dan anorganik ini dapat menyebabkan pencemaran terhadap lingkungan jika dibuang langsung ke perairan. Di perairan bahan organik dan anorganik akan mengalami proses dekomposisi oleh mikroba sehingga menghasilkan produk yang sangat toksik yaitu Amonia (NH3) serta menyebabkan kadar TSS di perairan menjadi tinggi akibat terakumulasinya bahan organik dan anorganik. Penentuan kadar TSS pada limbah cair tekstil A dilakukan dengan metode gravimetri yaitu dengan cara menimbang endapan tersuspensi yang sudah disaring dengan pompa vakum dan dikeringkan dengan oven analitik sampai diperoleh bobot konstan. Penentuan kadar Amonia dilakukan dengan metode spektrofotometri secara fenat yaitu Amonia yang berasal dari sampel akan bereaksi dengan Hipoklorit yang berasal dari larutan pereaksi Natrium Hipoklorit dan Fenol kemudian dikatalisis oleh Natrium Nitroprusida membentuk senyawa biru indofenol yang dideteksi dengan spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 640 nm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sampel limbah cair tekstil A memiliki kadar TSS sebesar 10,84 mg/l dan Amonia sebesar 0,34 mg/l. Hasil ini memenuhi syarat baku mutu air limbah tekstil menurut Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia No. P.16/MENLHK/ SETJEN/ KUM. 1/ 4/ 2019 Tentang Baku Mutu Air Limbah yaitu maksimal 50 mg/l untuk TSS dan maksimal 8,0 mg/l untuk Amonia.
Potensial Fatty Oil Pollution from Restaurant Wastewater: Potensi Pencemaran Minyak Lemak Dari Air Limbah Rumah Makan Virgian Nur Kharismasari Faradillah; Peni Pujiastuti
Jurnal Kimia dan Rekayasa Vol. 3 No. 1 (2022): Jurnal Kimia dan Rekayasa Edisi Juli 2022
Publisher : Program Studi S1 Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Setia Budi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31001/jkireka.v3i1.40

Abstract

Wastewater from community activities such as restaurants, with the characteristic number of parameters exceeding the quality standard of wastewater, which is not treated but is directly discharged into the receiving water body, will have the potential to cause environmental pollution. The source of waste generation comes from the use of soap in washing cutlery which will result in an increase in the pH of the wastewater, and the cooking process causes the presence of fatty oil waste. This study aims to determine the potential for water pollution from pH and fatty oil parameters in restaurant wastewater from three different categories in Karanganyar Regency. Laboratory descriptive research method. The test samples were taken in a time-composite manner at the outlets of fast food restaurants, traditional and coffee shops which were selected with the best-selling criteria. Determination of the potential for causing pollution is seen from the number of parameters compared to the quality standard of domestic wastewater according to Central Java Regional Regulation number 5 of 2012. The pH value is determined based on SNI 6989.11:2019, while the fat oil number is determined by the gravimetric method according to SNI 6989.10:2011. The results of the study showed that the pH value of the wastewater test samples from fast food restaurants was 7.5 – 7.82, traditional restaurants were 8.11 – 8.44, and coffee shops were 7.97-8.16. Fat oil figures show differences in the three test samples, fast food restaurant wastewater 92.67 mg/l, traditional restaurant 1,143 mg/l, and coffee 54.33 mg/l. Restaurant wastewater has a great potential to pollute the water environment on the fat oil parameters. Abstrak Air limbah dari kegiatan masyarakat seperti rumah makan, dengan karakteristik angka parameter melebihi baku mutu air limbah, yang tidak dilakukan proses pengolahan namun langsung dibuang ke badan air penerima, akan memiliki potensi menimbulkan pencemaran lingkungan. Sumber timbulan limbah berasal dari penggunaan sabun dalam pencucian alat makan akan mengakibatkan naiknya pH pada air limbah, dan proses memasak menyebabkan adanya limbah minyak lemak. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan potensi pencemaran air dari parameter pH dan minyak lemak pada air limbah rumah makan dari tiga kategori yang berbeda di Kabupaten Karanganyar. Metode penelitian diskriptif laboratoris. Contoh uji diambil secara komposit waktu pada outlet rumah makan cepat saji, tradisional dan coffee shop yang dipilih dengan kriteria terlaris. Penentuan potensi menimbulkan pencemaran dilihat dari angka parameter yang dibandingkan dengan baku mutu air limbah domestik sesuai Perda Jateng nomor 5 tahun 2012. Angka pH ditentukan berdasarkan SNI 6989.11:2019, sedangkan angka minyak lemak ditentukan dengan metode gravimetri sesuai SNI 6989.10:2011. Hasil penelitian nilai  pH contoh uji air limbah rumah makan cepat saji sebesar 7,5 – 7,82, rumah makan tradisional 8,11 – 8,44 sebesar, dan coffee shop sebesar 7,97- 8,16. Angka minyak lemak menunjukkan perbedaan pada tiga contoh uji,  air limbah rumah makan cepat saji sebesar 92,67 mg/, rumah makan tradisional l,143 mg/l, dan coffee shop 54,33 mg/l. Air limbah rumah makan memiliki potensi besar menimbulkan pencemaran lingkungan air pada parameter minyak lemak.
Analysis of Peroxide Numbers and Free Fatty Acids in Unbranded Bulk Cooking Oil in Traditional Markets: Analisis Bilangan Peroksida Dan Asam Lemak Bebas Pada Minyak Goreng Curah Tidak Bermerek Di Pasar Tradisional Greiszya Priskila; Petrus Darmawan
Jurnal Kimia dan Rekayasa Vol. 3 No. 1 (2022): Jurnal Kimia dan Rekayasa Edisi Juli 2022
Publisher : Program Studi S1 Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Setia Budi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31001/jkireka.v3i1.41

Abstract

Unbranded bulk cooking oil is widely sold in traditional markets at low prices. Cooking oil sold in the market must meet the quality set by the government, where cooking oil that does not meet the requirements will have an impact on health. The parameters used to determine the quality of cooking oil include the content of free fatty acids and peroxide numbers. The purpose of this study is to determine the levels of free fatty acids and peroxide numbers in unbranded bulk cooking oil and to determine whether the unbranded bulk cooking oil meets the requirements of SNI 7702: 2012. Determination of free fatty acids is done by the alkalimetry method using ethanol 95% neutral and PP indicator 1% then titrated with a standard NaOH solution to a pink color. The determination of the peroxide number was carried out by the iodometric method with the addition of glacial acetic acid: isooktan and saturated KI which was then titrated with a standard solution of sodium thiosulfate with the addition of 1% amylum indicator until the blue color disappeared. The results showed that all unbranded bulk cooking oil samples sold in the traditional market in Jebres Subdistrict, Surakarta had met the requirements for free fatty acid parameters, while for peroxide numbers only contained 1 sample that met the requirements of the seven samples, namely samples from the E market. AbstrakMinyak goreng curah tidak bermerek banyak dijual dipasar tradisional dengan harga yang murah. Minyak goreng yang dijual dipasaran harus memenuhi mutu yang ditetapkan oleh pemerintah, dimana minyak goreng yang tidak memenuhi persyaratan akan berdampak bagi kesehatan. Parameter yang digunakan untuk menentukan kualitas minyak goreng antara lain adalah kandungan asam lemak bebas dan bilangan peroksida. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui kadar asam lemak bebas dan bilangan peroksida dalam minyak goreng curah tidak bermerek dan untuk mengetahui apakah minyak goreng curah tidak bermerek tersebut sudah memenuhi persyaratan SNI 7702:2012. Penentuan asam lemak bebas dilakukan dengan metode alkalimetri menggunakan etanol 95% netral dan indikator PP 1 % kemudian di titrasi dengan larutan standar NaOH sampai warna merah muda. Penetapan bilangan peroksida dilakukan dengan metode iodometri dengan penambahan asam asetat glasial : isooktan dan KI jenuh yang kemudian dititrasi dengan larutan standar natrium tiosulfat dengan penambahan indikator amylum 1% sampai warna biru hilang. Hasil penelitian menunjukan semua sampel minyak goreng curah tidak bermerek yang dijual di pasar tradisional Kecamatan Jebres, Surakarta telah memenuhi syarat untuk parameter asam lemak bebas, sedangkan untuk bilangan peroksida hanya terdapat 1 sampel yang memenuhi syarat dari ke tujuh sampel, yaitu sampel dari pasar E.
Determination of Optimum Flow Rate in Textile Industry Wastewater Color Removal Using Electrooxidation Method With Continuous System: Penentuan Laju Alir Optimum Pada Penghilangan Warna Air Limbah Industri Tekstil Menggunakan Metode Elektrooksidasi Dengan Sistem Kontinyu Suseno; Petrus Darmawan; Argoto Mahayana
Jurnal Kimia dan Rekayasa Vol. 3 No. 1 (2022): Jurnal Kimia dan Rekayasa Edisi Juli 2022
Publisher : Program Studi S1 Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Setia Budi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31001/jkireka.v3i1.42

Abstract

An experiment to remove the color of textile wastewater by electrooxidation method using graphite electrodes with a continuous system has been carried out. The electrooxidation apparatus consists of an electrooxidation vessel with a size (p x l x h) = (60 x 30 x 18) cm equipped with 5 pairs of graphite electrodes, a flow rate meter and an adapter (DC power). The experiment was started by flowing wastewater into an electrooxidation device at a flow rate of 0.3 liters per minute (LPM). After that DC power is turned on and set at 3 volts. Waste water that has undergone oxidation is taken from the outlet of the electrooxidation device after a processing time of 20 minutes from the time the DC power is turned on. This experiment was repeated with varying voltages of 6, 9, 12 and 15 volts and at a flow rate of 0.5; 1.0; 1.5 and 2.0 LPM. The experimental results show that at each value the minimum absorbance voltage is obtained at a water rate of 0.5 LPM, this indicates that the optimum wastewater flow rate for decolorizing textile wastewater by electrooxidation method using graphite electrodes with a continuous system is 0.5 LPM. AbstrakTelah dilakukan percobaan penghilangan warna air limbah tekstil dengan metode elektrooksidasi menggunakan elektroda grafit dengan sistim kontinyu. Alat elektrooksidasi terdiri dari bejana elektrooksidasi dengan ukuran (p x l x t ) = 60 x 30 x 18 ) cm yang dilengkapi dengan 5 pasang elektroda grafit, alat pengukur laju alir dan adaptor ( DC power ). Percobaan dimulai dengan mengalirkan air limbah ke dalam alat elektrooksidasi dengan laju alir 0,3 liter per menit (LPM). Setelah itu DC power dihidupkan dan diatur pada tegangan 3 volt. Air limbah yang telah mengalami oksidasi diambil dari outlet alat elektrooksidasi setelah waktu proses 20 menit terhitung dari saat DC power dihidupkan. Percobaan ini diulangi dengan tegangan bervariasi yaitu 6, 9, 12 dan 15 volt dan pada laju alir 0,5; 1,0; 1,5 dan 2 LPM. Hasil percobaan menunjukkan bahwa pada setiap harga tegangan absorbansi minimum didapat pada laju air 0,5 LPM, hal ini menunjukkan bahwa laju alir air limbah optimum pada penghilangan warna air limbah tekstil dengan metode elektrooksidasi menggunakan elektroda grafit dengan sistim kontinyu adalah 0,5 LPM.
Parameter Analysis of Nitrite, Nitrate, Ammonia, Phosphate in Agricultural Wastewater., Genuk Harjo, Wuryantoro, Wonogiri : Analisis Parameter Nitrit, Nitrat, Amoia, Fosfat Pada Air Limbah Pertanian Dusun Bendungan, Genuk Harjo, Wuryantoro, Wonogiri Syahriyati Mutiah; Sumardiyono; Peni Pujiastuti
Jurnal Kimia dan Rekayasa Vol. 3 No. 1 (2022): Jurnal Kimia dan Rekayasa Edisi Juli 2022
Publisher : Program Studi S1 Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Setia Budi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31001/jkireka.v3i1.43

Abstract

The water quality of the Wuryantoro watershed decreased due to the entry of environmental pollutant burden in the form of land use and various human activities such as settlements, agriculture and industry. The land use of the Wuryantoro watershed was dominated by agricultural land. This study aimed to analyze the quality of agricultural wastewater based on the parameters of Nitrate, Nitrite, Ammonia, Phosphate and calculate the agricultural pollution load originating from the residence time of fertilization. Grabs sampling was carried out at 3 points of agricultural land outlets representing the entire population before entering the Wuryantoro river. The research was conducted in April - June 2015 by analyzing parameters of Nitrate, Nitrite, Ammonia and Phosphate used referring to SNI and APHA using a UV-Vis Spectrophotometer. The end point showed that the level and load of NO3 and NH3 parameters were still below the quality standard according to PP 82 of 2001 concerning Water Quality Management and Water Pollution Control, while the NO¬2 parameter for 2 days and 6 days of fertilization time exceeded the quality standard. The PO4 parameter was above the required threshold based on the Class II criteria according to PP 82 of 2001. AbstrakKualitas perairan DAS Wuryantoro semakin menurun akibat masuknya sumber beban pencemar lingkungan berupa pemanfaatan lahan dan berbagai aktivitas manusia seperti permukiman, pertanian dan industri. Penggunaan lahan DAS Wuryantoro didominasi oleh lahan pertanian. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kualitas air limbah pertanian berdasarkan parameter Nitrat, Nitrit, Amonia, Fosfat dan menghitung beban pencemaran pertanian yang berasal dari waktu tinggal pemupukan. Teknik sampling secara grabs sampling dilakukan pada 3 titik outlet lahan pertanian yang mewakili dari keseluruhan populasi sebelum masuk ke sungai Wuryantoro. Penelitian dilakukan pada bulan April - Juni tahun 2015 metode analisis parameter Nitrat, Nitrit, Amonia dan Fosfat yang digunakan mengacu pada SNI dan APHA dengan menggunakan alat Spektrofotometer UV-Vis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar dan beban pencemaran parameter NO3 dan NH3 masih berada di bawah baku mutu menurut PP 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air, sedangkan parameter NO­2 untuk waktu tinggal pemupukan 2 hari dan 6 hari melebihi baku mutu. Pada parameter PO4 sudah di atas ambang batas yang dipersyaratkan berdasarkan kriteria Kelas II menurut PP 82 tahun 2001.
KOH Activator Concentration Study on The Capacity and Surface Area of Kluwak Carbon for Methylene Blue Adsorption: Kajian Konsentrasi Aktivator KOH Terhadap Kapasitas Adsorpsi dan Luas Permukaan Karbon Tempurung Kluwak pada Penjerapan Methylene Blue Yuliani HR; Abigael Todingbu’a; Dewi Astuti Herawati; Haera Setiawati; Andi Musfirah Adhar; Isma Ayu Ningsih Putri Zainal; Ida Adriani Idris
Jurnal Kimia dan Rekayasa Vol. 3 No. 2 (2023): Jurnal Kimia dan Rekayasa Edisi Januari 2023
Publisher : Program Studi S1 Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Setia Budi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31001/jkireka.v3i2.47

Abstract

This study aims to determine the effect of KOH concentration on adsorbent performance in the form of adsorption capacity and the surface area of the kluwak shell carbon (CSK) on the uptake of methylene blue (MB). The research variables were variations of KOH 0, 1, 3 and 5M, MB concentrations 80,90,100,120, 130, 140 and 150 ppm at the adsorption process at 30 oC, MB volume 50 ml, the number of activated CSK and without activation 0.15 grams was shaken for 1.5 hours with speed 350 rpm. The solution was filtered to separate the filtrate and the CSK (adsorbent), the absorbance was then measured using the UV-VIS spectrometric at a wavelength of 662 nm, then the absorbance was obtained and then converted using a standard curve to obtain a balanced MB concentration. The test result data was calculated the surface area (A) of the MB adsorption method at 126 ppm and the adsorption capacity (qm) using the Langmuir equation. The results showed that activation could improve the adsorbent performance and the increasing KOH concentration would increase the adsorbent capacity and CSK surface area. CSK activation at 5 M was the highest results then others with A of 151.71m2/ g and qm of 47.05 mg /g compared to CSK without activation in the form of surface area of 70.37 m2/g and adsorption capacity of 15.27 mg /g.AbstrakPenelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh konsentrasi KOH terhadap kinerja adsorben berupa kapasitas adsorpsi dan luas permukaan karbon tempurung kluwak (KTK) pada penjerapan methylene blue (MB). Variabel penelitian yaitu variasi KOH 0, 1, 3 dan 5M, konsentrasi MB 80,90,100,120, 130, 140 dan 150 ppm pada proses adsorpsi suhu 30oC, volume MB 50 ml, jumlah KTK ativasi dan tanpa aktivasi 0.15 gram dishaker selama 1.5 jam dengan kecepatan 350 rpm. Larutan disaring untuk memisahkan filtrat dengan KTK (adsorben) selanjutnya filtranya diukur absorbansi menggunakan spekrometri UV-VIS pada Panjang gelombang 662 nm diperoleh absorbansi kemudian dikonversi mengguankan kurva standar didapatkan konsentrasi MB setimbang. Data hasil pengujian dihitung luas permukaan (A) metode adsorpsi MB pada 126 ppm dan kapasitas adsorpsi (qm) menggunakan persamaan Langmuir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivasi dapat meningkatkan kinerja adsorben dan semakin meningkatnya konsentrasi KOH maka kapasitas adsorpsi dan luas permukaan KTK meningkat. Aktivasi KTK pada 5 M merupakan hasil tertinggi dengan A sebesar 151.71m2/g dan qm yaitu 47.05 mg/g dibandingkan KTK tanpa aktivasi berupa luas permukaan 70.37 m2/g dan kapasitas adsorpsi senilai 15.27 mg/g.
Coliform and Colifecal Analysis In Water Form Various Sources Using The MPN (Most Probable Numbers) Method: Analisis Coliform dan Colifecal pada Air dari Berbagai Sumber Menggunakan Metode MPN (Most Probable Numbers) Ni’matus Sabila; Dyah Setyaningrum
Jurnal Kimia dan Rekayasa Vol. 3 No. 2 (2023): Jurnal Kimia dan Rekayasa Edisi Januari 2023
Publisher : Program Studi S1 Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Setia Budi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31001/jkireka.v3i2.48

Abstract

Water is a natural resource that is very important for the needs of many people, even for all living things. Therefore, clean water is a requirement for health assurance. The purpose of this analysis is to determine the number of Coliform and Colifecal bacteria contained in a body of water and to find out whether the quality of the water meets the requirements and is suitable for use in daily needs according to Government Regulation of the Republic of Indonesia Number 22 of 2021 concerning the implementation of environmental protection and management life. Coliform and Colifecal analysis was carried out in two stages, namely the predictor test and the confirmatory test with different media. The method used in this research is the Most Probable Number (MPN) to detect and count the number of bacteria. Based on the results obtained for 9 test samples. samples A and B did not contain Coliform and Colicefal bacteria, while samples C, D, E, F, G, H and I contained Coliform and Colifecal bacteria in water bodies. The conclusion of this study is that the water quality of all samples is still quite good according to the Class II water quality standards, namely 5000 MPN index/100 ml.AbstrakAir merupakan sumber daya alam yang sangat penting untuk keperluan hidup orang banyak, bahkan untuk semua makhluk hidup. Oleh karena itu, kebersihan air menjadi syarat bagi terjaminnya kesehatan. Tujuan dari analisis ini adalah untuk mengetahui jumlah bakteri Coliform dan Colifecal yang terkadung dalam badan air dan untuk mengetahui apakah kualitas air tersebut memenuhi persyaratan dan layak untuk digunakan dalam kebutuhan sehari-hari menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2021 tentang penyelenggaraan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Analisis Coliform dan Colifecal dilakukan dengan dua tahap yaitu uji penduga dan uji penegas dengan medium yang berbeda. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Most Probable Number (MPN) untuk mendeteksi dan menghitung jumlah bakteri. Berdasarkan hasil yang diperoleh terhadap 9 sampel uji. sampel A dan B tidak mengandung bakteri Coliform dan Colicefal, sedangkan sampel C,D,E,F,G,H dan I mengandung bakteri Coliform dan Colifecal pada badan air. Kesimpulan penelitian ini kualitas air semua sampel masih cukup baik sesuai dengan standar baku mutu air Kelas II yaitu 5000 indeks MPN/100 ml.
Comparison of Fat Level in Milk Cracker and Prawn Cracker Before and After Fried: Perbandingan Kadar Lemak Pada Kerupuk Susu dan Kerupuk Udang Sebelum dan Sesudah Digoreng Dewy Susanti; D Andang Arif Wibawa
Jurnal Kimia dan Rekayasa Vol. 3 No. 2 (2023): Jurnal Kimia dan Rekayasa Edisi Januari 2023
Publisher : Program Studi S1 Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Setia Budi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31001/jkireka.v3i2.49

Abstract

Milk cracker is kind of snacks favored by children and adult, which are made from dairy ingredient so have high nutritional value because contains protein, fat and vitamin needed by human body. Nutritional substances contained in it have perfect comparison, easy to digest and no residual waste. This study was aimed to determine the content of fat level before and after fried in milk cracker compared to fat level in prawn cracker.The sample used in this study using prawn cracker and milk cracker before fried and after fried that had been mashed to form powder, the sample that has been form powder weighed and added with HCl 1: 1 and heated, then filtered using filter paper Whatman No.41. Analytical method fat level of milk cracker and prawn cracker using soxhletation method with ether as solvent.The results showed that fat level contained in prawn cracker before fried was 4.32%, and fat level in prawn cracker after fried was 7.72%. Fat level in milk cracker before fried was 3.13%, and fat level in milk cracker after fried was 6.72%. The results showed that fat level in prawn cracker before and after fried was higher than milk cracker before and after fried.AbstrakKerupuk susu merupakan jenis makanan ringan yang disukai oleh anak-anak dan orang dewasa, yang terbuat dari bahan dasar susu sehingga mempunyai nilai gizi yang tinggi karena mengandung protein, lemak dan vitamin yang dibutuhkan oleh tubuh manusia. Zat- zat gizi yang terkandung di dalamnya mempunyai perbandingan yang sempurna, mudah dicerna dan tidak ada sisa yang terbuang. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kandungan kadar lemak sebelum dan sesudah digoreng pada kerupuk susu yang dibandingkan dengan kadar lemak pada kerupuk udang. Sampel yang digunakan pada penelitian ini menggunakan kerupuk udang dan kerupuk susu sebelum digoreng dan sesudah digoreng yang sudah dihaluskan sehingga membentuk serbuk, sampel yang sudah berbentuk serbuk ditimbang dan ditambahkan dengan HCl 1:1 dan dipanaskan, kemudian disaring menggunakan kertas saring Whatman No.41. Metode analisis kadar lemak kerupuk susu dan kerupuk udang ini menggunakan metode soxhletasi dengan pelarut eter.Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar lemak yang terdapat pada kerupuk udang sebelum digoreng adalah 4,32%, dan kadar lemak pada kerupuk udang sesudah digoreng 7,72%. Kadar lemak pada kerupuk susu sebelum digoreng adalah 3,13%, dan kadar lemak pada kerupuk susu sesudah digoreng adalah 6,72%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar lemak pada kerupuk udang sebelum dan sesudah digoreng lebih tinggi daripada kerupuk susu sebelum dan sesudah digoreng
Analysis of Biochemical Oxygen Demand (BOD) and Fecal Coliform Bacteria In Ngringo River Water, Karanganyar Regency: Analisis Biochemical Oxygen Demand (BOD) dan Bakteri Fecal Coliform pada Air Sungai Ngringo Kabupaten Karanganyar Attasya Putri Aji; Argoto Mahayana
Jurnal Kimia dan Rekayasa Vol. 3 No. 2 (2023): Jurnal Kimia dan Rekayasa Edisi Januari 2023
Publisher : Program Studi S1 Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Setia Budi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31001/jkireka.v3i2.50

Abstract

Ngringo River is one of the major rivers in Karanganyar Regency. There are various activities along the river, including domestic and industrial activities where waste discharges enter the river body, causing a decrease in water quality. One of the microorganisms contained in domestic waste that acts as an indicator of pollution in the Ngringo River is Fecal Coliform bacteria, so it is necessary to calculate the total Coliform to determine the presence of pollution in the Ngringo River. The purpose of this study was to determine the total abundance of Coliforms, BOD (biological Oxygen Demand) levels and water quality status based on PP RI No. 22 of 2021. Sampling method used in this study was a random sampling. Sampling consisted of 2 place, namely upstream and downstream. The results showed that the BOD (biological Oxygen Demand) value in the upstream part of the Ngringo river was 1.08 mg/l and 3.40 mg/l downstream, while the Fecal Coliform value in the upstream part of the Ngringo river was 16000 MPN/100ml. and in the downstream part of 5400 MPN/100ml. Based on research results that BOD still meets the quality standard according to PP RI Number 22 of 2021 while the Fecal Coliform value does not meet the quality standard according to PP RI Number 22 of 2021 which means there is pollution in the river Ngringo.AbstrakSungai Ngringo merupakan salah satu sungai besar di Kabupaten Karanganyar. Terdapat berbagai aktivitas di sepanjang aliran sungai tersebut, diantaranya aktivitas domestik dan industri dimana buangan limbah masuk ke dalam badan sungai sehingga menyebabkan penurunan kualitas perairan. Salah satu mikroorganisme yang terkandung dalam limbah domestik yang berperan sebagai indikator pencemaran di Sungai Ngringo yaitu bakteri Fecal Coliform sehingga perlu dilakukan perhitungan total Coliform guna mengetahui adanya pencemaran di Sungai Ngringo. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetehui total kelimpahan Coliform, kadar BOD (Biological Oxygen Demand) dan status mutu air berdasarkan PP RI No 22 Tahun 2021. Metode sampling yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode random sampling. Pengambilan sampel terdiri dari 2 tempat yaitu hulu dan hilir. Hasil penelitian menunjukan Nilai BOD (Biological Oxygen Demand) pada bagian hulu air sungai Ngringo sebesar 1,08 mg/l dan pada bagian hilir sebesar 3,40 mg/l, sedangkan Nilai Fecal Coliform pada bagian hulu air sungai Ngringo sebesar 16000 MPN/100ml dan pada bagian hilir sebesar 5400 MPN/100ml. Berdasarkan hasil penelitian bahwa BOD masih memenuhi baku mutu menurut PP RI Nomor 22 tahun 2021 sedangkan nilai Fecal Coliform tersebut tidak memenuhi baku mutu menurut PP RI Nomor 22 tahun 2021 yang berarti terjadi pencemaran di Sungai Ngringo.
Analysis of Color and Chemical Oxygen Demand (COD) in Textile Industry Wastewater: Analisis Warna dan Chemical Oxygen Demand (COD) pada Air Limbah Industri Tekstil Mareta Nur Shinta Dewi; Suseno
Jurnal Kimia dan Rekayasa Vol. 3 No. 2 (2023): Jurnal Kimia dan Rekayasa Edisi Januari 2023
Publisher : Program Studi S1 Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Setia Budi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31001/jkireka.v3i2.51

Abstract

Industry Textile including in Industry big that produces many waste especially waste water with content ingredient organic big who has color thick , smelly , and high Chemical Oxygen Demand (COD) , so that the waste water the should need processed more formerly before released to body of water with Fulfill raw the quality that has been set . Study this aim for knowing wastewater quality _ industry textile A if compared with raw quality according to Regulation Minister Environment Life and Forestry Republic of Indonesia Number P.16/MENLHK/SETJEN/KUM.1/4/ 2019 concerning Wastewater Quality Standards . Parameters studied is the color parameter with method spectrophotometry (SNI 6989.80:2011) and Chemical Oxygen Demand (COD) parameters with method spectrophotometry (SNI 6989.2:2019). After conducted study obtained score color of 4,277.5 Pt-Co and the value of Chemical Oxygen Demand (COD) is 1.640 mg O 2 /L. From result these two parameters , can be concluded that score color and the COD exceed raw quality according to Regulation Minister Environment Life and Forestry Republic of Indonesia Number P.16/MENLHK/SETJEN/KUM.1/4/ 2019 concerning Wastewater Quality Standards.AbstrakIndustri Tekstil termasuk dalam Industri besar yang menghasilkan banyak limbah terutama air limbah dengan kandungan bahan organik besar yang memiliki warna pekat, berbau, serta Chemical Oxygen Demand (COD) yang tinggi, sehingga air limbah tersebut sebaiknya perlu diolah terlebih dahulu sebelum dilepas ke badan air dengan memenuhi baku mutu yang telah ditetapkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas air limbah industri tekstil A jika dibandingkan dengan baku mutu menurut Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor P.16/MENLHK/SETJEN/KUM.1/4/2019 tentang Baku Mutu Air Limbah. Parameter yang diteliti ialah parameter warna dengan metode spektrofotometri (SNI 6989.80:2011) dan parameter Chemical Oxygen Demand (COD) dengan metode spektrofotometri (SNI 6989.2:2019). Setelah dilakukan penelitian didapatkan nilai warna sebesar 4.277,5 Pt-Co dan nilai Chemical Oxygen Demand (COD) sebesar 1.640 mg O2/L. Dari hasil kedua parameter tersebut, dapat disimpulkan bahwa nilai warna dan COD tersebut melebihi baku mutu menurut Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor P.16/MENLHK/SETJEN/KUM.1/4/2019 tentang Baku Mutu Air Limbah.