cover
Contact Name
Dewi Astuti Herawati
Contact Email
dewitkusb@gmail.com
Phone
+6287836766465
Journal Mail Official
tek.kimia.u5b@gmail.com
Editorial Address
Jl. Letjend Sutoyo Mojosongo Solo 57127
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Kimia dan Rekayasa
Published by Universitas Setia Budi
ISSN : 27472841     EISSN : 27460886     DOI : https://doi.org/10.31001/jkireka
Core Subject :
Jurnal Kimia dan Rekayasa (J.Kireka) merupakan jurnal hasil penelitian laboratorium, studi lapangan, studi kasus, telaah pustaka yang diterbitkan oleh Program Studi S1 Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Setia Budi pada bulan Juli 2020. Jurnal ini diterbitkan 2 (dua) kali dalam satu tahun yaitu pada bulan Januari dan Juli. Bidang kajian yang termuat dalam Kimia dan Rekayasa adalah bidang Kimia (Kimia, Biokimia, Analisis Kimia, Kimia material, Kimia Lingkungan ) dan bidang Rekayasa (Rekayasa Kimia, Rekayasa Industri,Bioproses dan Technologi, Rekayasa Lingkungan dan Rekayasa Pangan).
Arjuna Subject : -
Articles 54 Documents
Decreasing Total Hardness of Dug Well Water Against Variations in Boiling Time: Penurunan Kesadahan Total Air Sumur Gali Terhadap Variasi Lama Perebusan Suseno; Naperta Bintaeka Saestri, Gisela
Jurnal Kimia dan Rekayasa Vol. 5 No. 1 (2024): Jurnal Kimia dan Rekayasa Edisi Juli 2024
Publisher : Program Studi S1 Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Setia Budi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Water is a basic needs for  humans, where one source of clean water is dug well. One of the problems that arise from dug wells is that water contains high hardness, when the water boiled it will cause a white crust on the bottom of the kettle or pan. This research aims to determine the level of the water in several wells owned by residents RT 1 RW 1 Mojosongo and to find out the decrease in hardness of well water with variations in the length of boiling water. This research refers to the analysis of hardness determination by complexometric method (SNI.06-6989.12-2004). After doing research on total hardness which is counted as CaCO3 the results are obtained : well A is 554,4 mg/l, well B is 567,6 mg/l, and well C is 580,8 mg/l. In variations of boiling 10 minutes, 20 minutes, 30 minutes, 40 minutes and 50 minutes for well water 1, 2 and 3, the total hardness results were below 500 mg/l as CaCO3 with an average decrease in total hardness respectively of 29 .07%; 42.51%; 57.62%; 64.34%; and 71.83%. The decrease in hardness by heating causing some calcium ions to precipitate as CaCO3 by releasing CO2 and H2O. AbstrakAir merupakan salah satu kebutuhan pokok bagi manusia, dimana salah satu sumber air bersih adalah sumur gali. Permasalahan yang timbul dari sumur gali salah satunya adalah airnya mengandung kesadahan yang tinggi dimana apabila air direbus menimbulkan kerak putih pada dasar ketel atau panci. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kesadahan air di beberapa sumur milik warga Krajan Rt 1 Rw 1 Mojosongo dan untuk mengetahui penurunan kesadahan air sumur dengan variasi lama perebusan air. Penelitian ini mengacu pada analisis penetapan kesadahan total  dengan metode kompleksometri (SNI.06-6989.12-2004). Setelah dilakukan penelitian kesadahan total yang dihitung sebagai CaCO3 didapatkan hasil sebagai berikut : sumur A sebesar 554,4 mg/l, sumur B sebesar 567,6 mg/l, sumur C sebesar 580,8 mg/l. Pada variasi perebusan 10 menit, 20 menit, 30 menit, 40 menit, dan 50 menit terhadap air sumur 1, 2 dan 3 didapatkan hasil rata-rata penurunan kesadahan total secara berturut – turut sebesar 29,07%; 42,51%; 57,62%; 64,34%; dan 71,83%.
Thin Layer Chromatographic Separation of Amino Acids by Determining the Resistivity Factor Value: Pemisahan Kromatografi Lapis Tipis pada Asam Amino dengan Menentukan Nilai Faktor Retensi Aulia Hafizah, Dila; Sunardi
Jurnal Kimia dan Rekayasa Vol. 5 No. 1 (2024): Jurnal Kimia dan Rekayasa Edisi Juli 2024
Publisher : Program Studi S1 Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Setia Budi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Research has been conducted to separate amino acids using thin layer chromatography (CLT) by determining the retention factor (Rf) value. Amino acids are important components of proteins that have various functions in the body. KLT is a simple chromatographic method that is often used to separate and identify chemical components in a mixture. In this study, KLT was used to separate four types of amino acids, namely histidine, tryptophan, glycine, and alanine. The KLT procedure includes silica plate preparation, sample bottling, chromatogram formation by elution of various solvents, and determination of the Rf value of each sample. The results showed that each amino acid sample has a different Rf value due to differences in the polarity of each amino acid to the stationary phase of the silica plate and the solvent used. However, the Rf values obtained are not in accordance with the theory because there are errors in the preparation of silica plates. AbstrakPenelitian telah dilakukan untuk memisahkan asam amino menggunakan kromatografi lapis tipis (KLT) dengan menentukan nilai faktor retensi (Rf). Asam amino adalah komponen penting dari protein yang memiliki berbagai fungsi dalam tubuh. KLT merupakan metode kromatografi sederhana yang sering digunakan untuk memisahkan dan mengidentifikasi komponen kimia dalam suatu campuran. Dalam penelitian ini, KLT digunakan untuk memisahkan empat jenis asam amino, yaitu histidin, triptofan, glisin, dan alanin. Prosedur KLT mencakup persiapan pelat silika, penotolan sampel, pembentukan kromatogram dengan elusi berbagai pelarut, dan penentuan nilai Rf setiap sampel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap sampel asam amino memiliki nilai Rf yang berbeda karena perbedaan kepolaran masing-masing asam amino terhadap fase diam pelat silika dan pelarut yang digunakan. Namun, nilai Rf yang diperoleh belum sesuai dengan teori karena terdapat kesalahan dalam persiapan pelat silika.
Yield and Characteristics of Biodiesel as an Impact of Varying Types of Cooking Oil Waste: Rendemen dan Karakteristik Biodiesel sebagai Dampak Variasi Jenis Limbah Minyak Goreng Haryono; Rostika Noviyanti, Atiek; Pramudya Sulaeman, Allyn; Dayu Kusuma, Hersandy; Rahmadona, Nova
Jurnal Kimia dan Rekayasa Vol. 5 No. 1 (2024): Jurnal Kimia dan Rekayasa Edisi Juli 2024
Publisher : Program Studi S1 Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Setia Budi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Increased activity in various sectors causes fuel demand to increase. Therefore, it is necessary to provide renewable alternative fuels. Biodiesel is an alternative fuel for diesel engines that comes from plant oils, animal fats or waste cooking oil. The aim of this research is to study the effect of the type of cooking oil waste on the yield and characteristics of biodiesel in the synthesis of biodiesel with a homogeneous catalyst. Biodiesel synthesis goes through four stages of treatment, namely: purification of waste cooking oil, esterification with a sulfuric acid catalyst, transesterification with a potassium hydroxide catalyst, and biodiesel purification. The types of cooking oil waste vary based on the waste source, in the form of waste oil from frying pans, seafood and fried chicken. The research results showed that biodiesel from waste cooking oil for frying fritters, chicken and seafood was obtained with successive yields of 54.70; 64.25; and 58.11%. The characteristics of biodiesel from each type of cooking oil waste meet the biodiesel quality requirements based on SNI 7182-2015. AbstrakPeningkatan aktivitas di berbagai sektor menyebabkan kebutuhan bahan bakar semakin meningkat. Oleh sebab itu dibutuhkan ketersediaan bahan bakar alternatif yang bersifat terbarukan. Biodiesel merupakan bahan bakar alternatif untuk mesin diesel yang berasal dari minyak tumbuhan, lemak hewan, ataupun limbah minyak goreng. Tujuan dari penelitian ini adalah mempelajari pengaruh jenis limbah minyak goreng terhadap rendemen dan karakteristik biodiesel pada sintesis biodiesel dengan katalis homogen. Sintesis biodiesel melalui empat tahap perlakuan, yaitu: pemurnian limbah minyak goreng, esterifikasi dengan katalis asam sulfat, transesterifikasi dengan katalis kalium hidroksida, dan pemurnian biodiesel. Jenis limbah minyak goreng divariasikan berdasarkan sumber limbah, berupa limbah minyak dari penggorengan gorengan, seafood, dan ayam goreng. Hasil penelitian menunjukkan bahwa biodiesel dari limbah minyak goreng untuk penggorengan gorengan, ayam, dan seafood diperoleh dengan rendemen berturut-turut sebesar 54,70; 64,25; dan 58,11%. Karakteristik biodiesel dari masing-masing jenis limbah minyak goreng tersebut telah memenuhi syarat mutu biodesel berdasarkan SNI 7182-2015.
Processing Of Laundry Wastewater With Continuous Electrocoagulation Method: Pengolahan Limbah Cair Laundri Dengan Metode Elektrokoagulasi Secara Kontinyu Velda Perlita Sakti, Claresta; Lailatul Fajriyah, Nurul; Widayatno, Tri
Jurnal Kimia dan Rekayasa Vol. 5 No. 1 (2024): Jurnal Kimia dan Rekayasa Edisi Juli 2024
Publisher : Program Studi S1 Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Setia Budi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Laundry activities produce liquid waste containing phosphates, surfactants, ammonia, nitrogen, TSS, BOD, and COD. Liquid waste treatment needs to be done so as not to disturb the environment. One method of liquid waste treatment is the electrocoagulation method. This study aims to determine the effect of time and voltage, as well as the effect of plate surface area and current strength on the decrease in BOD, COD, and TSS levels in laundry waste by continuous electrocoagulation method. Sampling was carried out at Basmala Laundry Kartasura. This study used variations in plate surface area (832; 1036; 1240 cm2) and current strength (1; 1.5; 2 amperes) as well as voltage (10; 17; 24 volts) and residence time (1; 2; 3 hours). The results showed a decrease in COD levels at a voltage of 17 volts with a residence time of 2 hours by 104 mg/L and at a plate surface area of 1240 cm2 with a current strength of 2 amperes by 48 mg/L. The decrease in BOD levels at a voltage of 17 volts with a residence time of 1 hour amounted to 64.5 mg/L and a plate surface area of 1240 cm2 with a current strength of 2 amperes amounted to 48 mg/L. The decrease in TSS levels at a voltage of 24 volts with a residence time of 3 hours was 12 mg/L and at a plate surface area of 832 cm2 with a current strength of 1.5 amperes and a plate surface area of 1036 cm2 with a current strength of 2 amperes was 15 mg/L Abstrak Kegiatan industri rumah tangga laundry menghasilkan limbah cair yang mengandung fosfat, surfaktan, amoniak dan nitrogen, TSS, BOD, dan COD. Pengolahan limbah cair perlu dilakukan agar tidak mengganggu lingkungan. Salah satu metode pengolahan limbah cair adalah metode elektrokoagulasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh waktu dan tegangan, serta pengaruh luas permukaan plat dan kuat arus terhadap penurunan kadar BOD, COD, dan TSS pada limbah laundri dengan metode elektrokoagulasi secara kontinyu. Pengambilan sampel dilakukan di Basmala Laundri yang terletak di Kartasura. Pada penelitian ini menggunakan variasi luas permukaan plat (832; 1036; 1240 cm2) dan kuat arus (1; 1,5; 2 ampere) serta tegangan (10; 17; 24 volt) dan waktu tinggal (1; 2; 3 jam). Hasil penelitian menunjukkan terdapat penurunan kadar COD pada tegangan 17 Volt dengan waktu tinggal 2 jam sebesar 104 mg/L dan pada luas permukaan plat 1240 cm2 dengan kuat arus 2 ampere sebesar 48 mg/L. Penurunan kadar BOD pada tegangan 17 Volt dengan waktu tinggal 1 jam sebesar 64,5 mg/L dan luas permukaan plat 1240 cm2 dengan kuat arus 2 ampere sebesar 48 mg/L. Penurunan kadar TSS pada tegangan 24 Volt dengan waktu tinggal 3 jam sebesar 12 mg/L dan pada luas permukaan plat 832 cm2 dengan kuat arus 1,5 ampere dan luas permukaan plat 1036 cm2 dengan kuat arus 2 ampere sebesar 15 mg/L.
Comparative Study of Variations in Oxidizing Agents on the Quality of Briquettes from Songgon Coconut Shells, Banyuwangi Regency: Studi Perbandingan Variasi Zat Pengoksidasi Terhadap Kualitas Briket Dari Tempurung Kelapa Songgon Kabupaten Banyuwangi Malis, Eko; Ridho, Rosyid; Ayun, Qurrata; Eka Evi Susanti, Reni
Jurnal Kimia dan Rekayasa Vol. 5 No. 1 (2024): Jurnal Kimia dan Rekayasa Edisi Juli 2024
Publisher : Program Studi S1 Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Setia Budi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Research has been carried out on the preparation of a Comparative Study of Variations in Oxidizing Substances on the speed of ignition of briquettes from Songgon Coconut Shell, Banyuwangi Regency. To determine the ignition time, several oxidizers NaNO2, KNO3 and K2Cr2O7 were used. The percentage of oxidizing agent is 10, 15, 20, 25, 30 %. Coconut shell briquettes are obtained through conventional pyrolysis in a wood-burning stove for 12 hours with liquid smoke as a byproduct. The adhesive used in this research was starch with its own variations 15 %. The characteristics of the briquettes produced include: ignition time, burning time, and water content. From the characterization results it can be seen that the best oxidizer used is K2Cr2O7 oxidizer with a concentration of 25%, flame time of 9 seconds. The best burning time is with the addition of the oxidizer Sodium NItrite, namely 18650 seconds, at a concentration of 5%. The ash content increases as the oxidizer increases. The briquettes produced are in accordance with SNI No. 1/6235/2000, namely &#8804 9%. The water content of the briquettes produced was smallest with the addition of the oxidizer K2Cr2O7 at 4.2% with a concentration of 5%. Abstrak Telah dilakukan penelitian preparasi Studi Perbandingan Variasi Zat Pengoksidasi Terhadap kecepatan waktu Nyala briket dari Tempurung Kelapa Songgon Kabupaten Banyuwangi. Untuk mengetahui waktu nyala digunakan beberapa oksidator NaNO2, KNO3 dan K2Cr2O7 . Persentase oksidator dilakukan yaitu10, 15, 20, 25, 30 (dalam %). Briket tempurung kelapa diperoleh melalui pirolisis konvensional dalam tungku yang dibakar dengan kayu bakar selama 12 jam dengan hasil samping liquid smoke. Perekat yang digunakan pada penelitian ini Tepung kanji dengan variasi masing-masing 15 %. Karakterisasi dari briket yang dihasilkan antara lain : waktu nyala, lama pembakaran, dan kadar air. Dari hasil karakterisasi dapat diketahui bahwa dari oksidator yang dipakai yang terbaik adalah osidator K2Cr2O7 dengan konsentrasi 25 %, waktu nyala 9 sekon. Lama pembakaran terbaik adalah dengan penambahan oksidator Natrium NItrit yaitu 18650 sekon, pada konsentrasi 5%. Kadar abu meningkat seiring peningkatan oksidator. Briket yang dihasilkan sudah sesuai berdasarkan SNI No. 1/6235/2000 yaitu &#8804 9%. Kadar air dari briket yang dihasilkan terkecil dengan penambahan oksidator K2Cr2O7 sebesar 4,2% dengan konsentrasi 5%
Determination of Halogenide Salt Content in Solutions of Two Salts Using the Gravimetric Method: Penentuan Kadar Garam Halogenida pada Larutan Dua Garamnya dengan Metode Gravimetri Darmawan, Petrus; Astuti Herawati, Dewi; Soebiyanto; Arif Wibawa, D. Andang
Jurnal Kimia dan Rekayasa Vol. 5 No. 2 (2025): Jurnal Kimia dan Rekayasa Edisi Januari 2025
Publisher : Program Studi S1 Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Setia Budi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

So far, gravimetric analysis has always been carried out to analyze a particular substance in the form of a single substance. This method is very rarely used to analyze substances in mixture form and in the learning process in the laboratory. The aim of this research is to determine the levels of halogenide salts in solutions of two salts using the gravimetric method. The outline of this research is that a mixture of two halogenide salts is given a precipitating reactant and then gravimetric analysis is carried out, where the precipitate formed is weighed until a constant weight is obtained. The results of research analysis to determine the content of halogenide salts KBr and KCl using a sample volume of 20 ml obtained an average precipitate weight of 0.4001 g and a sample volume of 10 ml obtained an average precipitate weight of 0.2101 g. The average KCl content was 67.80% and the KBr content was 32.68% in a sample volume of 20 mL, while in a sample volume of 10 mL the KCl content was 71.49% and the KBr content was 28.56%. The average weight from stoichiometric calculations on a sample volume of 20 mL KCl is 7.43 g and KBr weighs 3.5854 g, likewise on a sample volume of 10 mL the average weight of KCl is 7.847 g and KBr is 3.133 g. Based on statistical test analysis using the independent sample t test, it shows that there is no real difference in taking 2 different sample volumes. AbstrakAnalisis gravimetri selama ini selalu dilakukan untuk menganalisis suatu zat tertentu dalam bentuk zat tunggal. Metode ini sangat jarang digunakan untuk menganalisis zat dalam bentuk campuran dan pada proses pembelajaran di laboratorium. Tujuan penelitian ini adalah untuk menetapkan kadar garam halogenida pada larutan dua garamnya dengan metode gravimetri. Garis besar penelitian ini adalah larutan campuran dua garam halogenida diberikan reaktan pengendap kemudian dilakukan analisis gravimetri, dimana endapan yang terbentuk ditimbang sampai diperoleh bobot konstan. Hasil penelitian analisis penetapan kadar garam halogenida KBr dan KCl menggunakan volume sampel 20 ml diperoleh bobot endapan rata-rata 0,4001 g dan pada volume sampel 10 ml didapatkan bobot endapan rata-rata 0,2101 g. Kadar KCl rata-rata sebesar 67,80% dan kadar KBr sebesar 32,68% pada volume sampel 20 mL, sedangkan pada volume sampel 10mL diperoleh kadar KCl 71,49% dan Kadar KBr 28,56%. Bobot rata-rata dari perhitungan stoikiometri pada volume sampel 20 mL KCl 7,43 g dan bobot KBr 3,5854 g, demikian juga pada volume sampel 10 mL bobot rata-rata KCl 7,847g dan KBr 3,133 g. Berdasarkan analisis uji statistik menggunakan independent sample t test menunjukkan bahwa tidak ada beda nyata pada pengambilan 2 volume sampel yang berbeda.
Effect of Drying Air Flow Rate and Temperature on the Yield and Quality of Egg Flour of Purebred Chicken with Spray Dryer: Pengaruh Laju Alir dan Suhu Udara Pengering terhadap Kualitas dan Perolehan Tepung Telur Ayam Ras dengan Pengering Semprot Haryono; Solihudin; Dayu Kusuma, Hersandy
Jurnal Kimia dan Rekayasa Vol. 5 No. 2 (2025): Jurnal Kimia dan Rekayasa Edisi Januari 2025
Publisher : Program Studi S1 Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Setia Budi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Protein is one of the food macronutrients that is really needed by the human body. Potential sources of food protein that are familiar to the public include chicken eggs, especially purebred chicken eggs. This fact can be estimated from the total need for purebred chicken eggs for household consumption in Indonesia. In 2023, the total need for these breeds of chicken eggs will reach 1.86 million tons. However, eggs in general are relatively unable to withstand damage to their nutritional value for long. Therefore, an effort is needed to process eggs into derivative food products so that they last longer, but still maintain their nutritional value. One of these businesses is processing eggs into egg flour through a drying process. Various types of dryers can be used to process eggs into egg flour. Spray dryers have relatively many advantages compared to other types of dryers. This research aims to determine the optimum conditions, including flow rate and drying air temperature, in the process of making egg flour from purebred chicken eggs using a spray dryer. Optimum drying conditions are determined based on the quality and yield of egg flour. Research methods include egg and dryer preparation, drying (making egg flour), quality analysis (protein and water content), and determining the yield of egg flour. The research results showed that the optimum conditions for making egg flour using a spray dryer were achieved when using drying air at a flow rate of 63.3 L/minute and a temperature of 66 °C. Under these drying conditions, egg flour was obtained with a protein content of 47.21%, a water content of 8.57%, and a yield of 27.54%. AbstrakProtein merupakan salah satu makronutrien pangan yang sangat dibutuhkan oleh tubuh manusia. Sumber protein pangan potensial dan akrab di masyarakat diantaranya adalah telur ayam, khususnya telur ayam ras. Fakta tersebut dapat diperkirakan dari total kebutuhan telur ayam ras untuk konsumsi rumah tangga di Indonesia. Pada tahun 2023, total kebutuhan telur ayam ras tersebut mencapai 1,86 juta ton. Namun demikian telur pada umumnya relatif tidak bisa tahan lama dari kerusakan nilai gizinya. Oleh karena itu diperlukan suatu usaha untuk mengolah telur menjadi produk pangan turunan agar lebih tahan lama, namun dengan tetap mempertahankan nilai gizinya. Salah satu usaha tersebut adalah mengolah telur menjadi tepung telur melalui proses pengeringan. Berbagai tipe pengering dapat dimanfaatkan untuk mengolah telur menjadi tepung telur. Pengering tipe semprot (spray dryer) memiliki relatif banyak keunggulan dibandingkan tipe pengering lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kondisi optimum, meliputi laju alir dan suhu udara pengering, dalam proses pembuatan tepung telur dari telur ayam ras dengan pengering semprot. Keoptimuman kondisi pengeringan ditentukan berdasarkan kualitas dan yield tepung telur. Metode penelitian meliputi penyiapan telur dan alat pengering, pengeringan (pembuatan tepung telur), analisis kualitas (kadar protein dan air), dan penentuan perolehan tepung telur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi optimum pembuatan tepung telur dengan pengering semprot dicapai pada penggunaan udara pengering pada laju alir 63,3 L/menit dan suhu 66 °C. Pada kondisi pengeringan tersebut diperoleh tepung telur dengan kadar protein 47,21%, kadar air 8,57%, dan yield 27,54%
Analysis Of Nitrite (NO2¯) And Nitrate (NO3¯) Levels In Well Water By Viewing Light Spectrophotometer: Analisis Kadar Nitrit (No2¯) Dan Nitrat (No3¯) Pada Air Sumur Secara Spektrofotometer Sinar Tampak Mukti Wibowo, Yari; Dwi Ratna Sari, Anita
Jurnal Kimia dan Rekayasa Vol. 5 No. 2 (2025): Jurnal Kimia dan Rekayasa Edisi Januari 2025
Publisher : Program Studi S1 Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Setia Budi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Levels of nitrite and nitrate in water when consumed in large quantities can cause diarrhea, seizures, coma and death. When consumed by infants, it causes blue baby syndrome. The purpose of this study was to determine the levels of nitrite and nitrate contained in the borehole water and to determine whether the levels of nitrite and nitrate in the borehole water met the quality standards of environmental health requirements for sanitation hygiene purposes according to the Regulation of the Minister of Health of the Republic of Indonesia No. 32 of 2017. Determination of nitrite and nitrate levels in well water samples taken from the water laboratory of the Energy and Mineral Resources Office of the Solo Region, the sample came from the Mangkubumen Village, Banjarsari District, Surakarta City using a visible spectrophotometer HACH type 2800 with a nitrite wavelength of 507 nm and nitrate at 420 nm. Based on the results of the study, it was known that the nitrite levels in 3 samples of drilled well water were obtained, namely bore well A 0.012 mg/l; well B 0.005 mg/l; well C 0.003 mg/l and nitrate levels in 3 well water samples, namely well A 0.900 mg/l; well B 0.800 mg/l, well C 0.700 mg/l. The results obtained from the levels of nitrite and nitrate in 3 drilled well water samples met the quality standard of the Minister of Health of the Republic of Indonesia No. 32 of 2017 concerning water requirements for the use of sanitary hygiene, where the nitrite level in water is 1 mg/l and the nitrate level in water is 10 mg/l. AbstrakKadar nitrit dan nitrat dalam air apabila dikonsumsi dalam jumlah besar dapat menyebabkan diare, kejang, koma dan meninggal. Apabila dikonsumsi oleh bayi menyebabkan blue baby syndrome. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui berapakah kadar nitrit dan nitrat yang terdapat di dalam air sumur bor dan untuk mengetahui apakah kadar nitrit dan nitrat dalam air sumur bor memenuhi baku mutu persyaratan kesehatan lingkungan untuk keperluan higiene sanitasi menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI No.32 Tahun 2017. Penentuan kadar nitrit dan nitrat pada sampel air sumur yang diambil dari laboratorium air Cabang Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Wilayah Solo, sampel tersebut berasal dari daerah Kelurahan Mangkubumen, Kecamatan Banjarsari, Kota Surakarta menggunakan spektrofotometer visibel HACH tipe 2800 dengan panjang gelombang nitrit yaitu 507 nm dan nitrat yaitu 420 nm. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui kadar nitrit pada 3 sampel air sumur bor diperoleh hasil yaitu sumur bor A 0,012 mg/l; sumur B 0,005 mg/l; sumur C 0,003 mg/l dan kadar nitrat pada 3 sampel air sumur bor yaitu sumur A 0,900 mg/l; sumur B 0,800 mg/l, sumur C 0,700 mg/l. Hasil yang diperoleh dari kadar nitrit dan nitrat pada 3 sampel air sumur bor memenuhi baku mutu Permenkes RI No. 32 Tahun 2017 tentang persyaratan air untuk kegunaan higiene sanitasi, dimana kadar nitrit dalam air sebesar 1 mg/l dan kadar nitrat dalam air sebesar 10 mg/l.
Characteristics of Methyl Ester Sulfonate (MES) Laundry Soap With The Addition of Salt and Ecoenzyme Additives: Karakteristik Deterjen Methil Ester Sulfonat (MES) Dengan Penambahan Garam dan Aditif Ecoenzyme Rukmini, Piyantina; Indah Suryaningsih, Encis
Jurnal Kimia dan Rekayasa Vol. 5 No. 2 (2025): Jurnal Kimia dan Rekayasa Edisi Januari 2025
Publisher : Program Studi S1 Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Setia Budi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research aims to determine the characteristics of deterjen with the surfactant Methyl Ester sulfonate (MES), the addition of Salt and ecoenzyme additives.  The research was carried out by reacting MES surfactant with Salt in concentrations of 0%, 5%, 10%, 20%, 30% and 40% of the weight of MES.  Ecoenzyme is added to the reactor when the temperature of the washing soap has reached 300C.  The reaction was carried out in 6 reactors and the parameters observed were pH, color, aroma, viscosity and density.  The research results showed that the reactor H4 with a Salt concentration of 20% of the MES weight showed results that were close to the quality of soap referred to by the government (SNI). AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik deterjen dengan surfaktan Methil Ester sulfonat (MES), penambahan Garam dan aditif ecoenzim.  Penelitian dilakukan dengan mereaksikan surfaktan MES dengan Garam dalam konsentrasi 0%, 5%, 10%, 20%, 30%, dan 40% dari berat MES.  Ecoenzim ditambahkan ke dalam reaktor ketika suhu deterjen sudah mencapai 300C.  Reaksi dilakukan dalam 6 reaktor dan parameter yang diamati adalah pH, warna, aroma, viskositas, dan densitas.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada reaktor H4 dengan konsentrasi Garam 20% dari berat MES menunjukkan hasil yang mendekati kualitas deterjen yang dirujuk oleh pemerintah (SNI).
Analysis of Pb Metal Content in Tempeh Chips by Atomic Absorption Spectroscopy (AAS) Method: Analisis Kadar Logam Pb dalam Keripik Tempe dengan Metode Spektroskopi Serapan Atom (SSA) Rara Bahri, Rayhani; Khair, Miftahul
Jurnal Kimia dan Rekayasa Vol. 6 No. 1 (2025): Jurnal Kimia dan Rekayasa Edisi Juli 2025
Publisher : Program Studi S1 Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Setia Budi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tempeh chips are a popular soybean-based snack widely consumed by the public; however, they are potentially susceptible to contamination by heavy metals such as lead (Pb) during the production process. Pb exposure in food can pose serious health risks, making it essential to analyze Pb levels to ensure food safety. This study aims to determine the Pb content in tempeh chips using the Atomic Absorption Spectroscopy (AAS) method and to evaluate its safety based on the standards set by the Indonesian National Standard (SNI). The AAS method was employed to detect Pb concentrations in tempeh chip samples. The results showed that the Pb content in the samples was 0.029 mg/kg and 0.031 mg/kg, which are well below the maximum limit of 0.25 mg/kg as specified in SNI No. 2602-2018. Method validation indicated good linearity with an r² value of 0.9950 and acceptable precision with an RPD of 6.89%. Therefore, the AAS method is proven to be valid for analyzing Pb content in tempeh chips, and the tested samples are considered safe for consumption according to the applicable standards. AbstrakKeripik tempe merupakan salah satu olahan kedelai yang digemari masyarakat luas, namun berpotensi tercemar logam berat seperti timbal (Pb) selama proses produksinya. Paparan Pb dalam makanan dapat membahayakan kesehatan, sehingga diperlukan analisis kadar Pb untuk menjamin keamanan pangan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kadar logam Pb dalam keripik tempe menggunakan metode Spektroskopi Serapan Atom (SSA) dan mengevaluasi keamanannya berdasarkan standar yang ditetapkan oleh Standar Nasional Indonesia (SNI). Metode SSA digunakan untuk mendeteksi kandungan Pb dalam sampel keripik tempe. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar Pb pada sampel keripik tempe adalah 0,029 mg/kg dan 0,031 mg/kg. Kadar ini masih di bawah batas maksimum yang ditetapkan oleh SNI No. 2602-2018, yaitu 0,25 mg/kg. Validasi metode analisis menunjukkan linieritas yang baik dengan nilai r2 = 0,9950 dan presisi yang baik dengan %RPD = 6,89%. Dengan demikian, metode SSA terbukti valid untuk analisis kadar Pb dalam keripik tempe, dan sampel yang diuji aman untuk dikonsumsi sesuai dengan standar yang berlaku