Humaniora
Humaniora focuses on the publication of articles that transcend disciplines and appeal to a diverse readership, advancing the study of Indonesian humanities, and specifically Indonesian or Indonesia-related culture. These are articles that strengthen critical approaches, increase the quality of critique, or innovate methodologies in the investigation of Indonesian humanities. While submitted articles may originate from a diverse range of fields, such as history, anthropology, archaeology, tourism, or media studies, they must be presented within the context of the culture of Indonesia, and focus on the development of a critical understanding of Indonesia’s rich and diverse culture.
Articles
14 Documents
Search results for
, issue
"No 2 (1991)"
:
14 Documents
clear
ANTROPOLOGI EKONOMI VERSUS ILMU EKONOMI KAJIAN AWAL TENTANG MASALAH SEJARAH, OBYEK DAN METODE
Bambang Hudayana
Humaniora No 2 (1991)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1075.389 KB)
|
DOI: 10.22146/jh.2090
Antropologi ekonomi sebagai salah satu cabang disiplin antropologi nampak paling: banyak berurusan dengan ilmu ekonomi. Ini terjadi bukan sekedar karena kedua bidang studi tersebut sama-sama mengkaji fenomena ekonomi, melainkan berhubungan dengan adanya perbedaan pendapat di kalangan para ahli antropologi untuk benar tidaknya meminjam teori, konsep ataupun metodologi llmu ekonomi. Penganut pendekatan formalis menghendaki dipakainya teori-teori ekonomi yang bersifat universal dalam studi antropologi sedangkan pendekatan substantif menolak universalitas teori ekonomi dan mencobe mengembangkan teori-teori yang dipandanglebih empiris.
KEPEMIMPINAN PANGERAN D1PONEGORO DALAM PERSPEKTIF SEJARAH
Djoko Surjo
Humaniora No 2 (1991)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1499.097 KB)
|
DOI: 10.22146/jh.2091
Tulisan ini bermaksud menyorot segi kepemimpinan Pangeran Diponegoro dan perspektif sejarah. Pembahasan tentang kepemimpinan dan kepahlawanan tokoh Pangeran Diponegoro dipusatkan pada persoalan yang menyangkut tentang kedudukanperanan Diponegoro dalam panggung sejarah masyarakat Indonesia. Dengan pertanyaan apa, siapa, bagaimana dan mengapa Diponegoro memiliki tempat penting dalam sejarah. Sejarah Indonesia akan mengantar kedudukan dan perannya dalam sejarah dan masyarakat Indonesia. Pertanyaan itu sekaligus juga akan mengarahkan penjelasan tentang masalah kepahlawanan dan kepemimpinan Diponegoro.
WANITA DAN PEMBANGUNAN
Gandarsih Mulyowati Retno Santoso
Humaniora No 2 (1991)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (934.64 KB)
|
DOI: 10.22146/jh.2092
Program pembangunan di berbagai aspek kehidupan secara efektif telah dimulai oleh pemerintah orde baru sejak tahun 1969. Program tersebut banyak melibatkan wanita baik sebagai subyek maupun obyek pembangunan (Surbakti, 1987:1). Menurut Alfian (1986:11) pembangunan adalah perubahan dan pertumbuhan. Secara sederhana dapat diartikan sebagai usaha-usaha yang dilakukan baik oleh pemerintah maupun oleh masyarakat dengan berencana memperbaiki keadaan menjadi lebih baik. Suatu proses pembangunan yang berhasil biasanya disertai pula dengan lahirnya persoalan-persoalan baru yang memima pemecahan. Disadari bahwa jumlah wanita dalam struktur penduduk Indonesia merupakan mayoritas, merupakan potensi pembangunan yang harus dikembangkan secara terencana dan berkesinambungan Surniyeri, 1987:2).
SEKILAS TENTANG ASAL-USUL HURUF ARAB DAN SENI KALIGRAFI DI INDONESIA
Humam Abubakar
Humaniora No 2 (1991)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1071.07 KB)
|
DOI: 10.22146/jh.2093
Seni kaligrafi Arab di Indonesia akhir-akhir ini nampak semakin berkembang dengan pesat, berbeda sekali dengan perkembangan seni kaligrafi yang lain. Sebagai dampak dari adanva perbedaan tersebut ialah, jika kita mendengar istilah 'kaligrafi", maka yang terlintas dalam benak kita adalah sebentuk tulisan Arab yang ditulis dengan gaya sedemikian rupa, sehingga tulisan tersebut memiliki keindahan yang bernilai seni dan sedap dipandang mata. Nampaknya aspek 'kearaban' memang cukup dominan dalam seni kaligrafi, hingga dapat mengubah pandangan masvarakat bahwa yang disebut dengan 'kaligrafi' adalah segala sesuatu yang bersangkut-paut dengan huruf Arab. Padahal, kaligrafi memiliki pengertian yang bersifat umum, bisa Arab, Cina, Latin, Ibrani, Jawa dan sebagainya. Timbulnya salah pengertian tersebut sangat mungkin disebabkan oleh karena perkembangan seni kaligrafi Arab cukup mendapatkan posisi yang sangat baik sebagaimana yang disebutkan di atas.
RESEPSI SASTRA: TEORI DAN PENERAPANNYA
Imran T. Abdullah
Humaniora No 2 (1991)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (769.25 KB)
|
DOI: 10.22146/jh.2094
Sebenarnya istilah resepsi sastra atau disebut juga estetika resepsi sudah tidak asing lagi bagi telinga pengamat sastra Indonesia. Apalagi sejak tahun 80-an relah terbit dua buah buku penting yang membicarakan masalah ini terutama dari Prof. A. Teeuw (1984) dan Prof. Umar Junus (1985). Adanya tanggapan pembaca terhadap karya sastra sesungguhnya juga sudah berlangsung lama dalam kehidupan sastra baik lisan maupun tertulis. Pengamat sastra pun menyadari akan fungsi komunikasi sastra. Mukarovsky, misalnya,. sejak tahun 80-an telah membicarakan hal ini dalam sistem semiotiknya. Dikatakannya, karya sastra sebagai sistem tanda dibedakan dalam dua aspek, ialah penanda (signifiant) dan petanda (signifie ). Penanda merupakan artefak, struktur mati, petandalah yang menghubungkan artefak itu ke dalam kesadaran penyambut menjadi objek estetik (Fokkema, 1977:81). Dengan kata lain, karya sastra tidak dapat dipahami dan diteliti lepas dan konteks sosial.
BAHASA JURNALISTIK DALAM ERA PEMBANGUNAN
Inyo Yos Fernandez
Humaniora No 2 (1991)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1119.545 KB)
|
DOI: 10.22146/jh.2095
Bahasa Indonesia ragam jurnalistik atau disingkat bahasa jurnalistik, adakalanya diistilahkan dengan bahasa media massa atau disebut pula dengan bahasa surat kabar. Ragam bahasa ini merupakan salah satu variasi bahasa yang digunakan di kalangan wartawan untuk menyampaikan informasi tertulis dalam berkomunikasi. Dalam era pertumbuhan masyarakat Indonesia sebegai masyarakat informasi di satu sisi dan sebagai masyarakat edukasi di sisi lain , bahasa jurnalistik mempunyai peranan yang cukup penting baik yang berhubungan dengan berbagai upaya para wartawan untuk meliput aneka ragam informasi, maupun untuk menyajikan berbagai macam gagasan yang dapat dicerna oleh masyarakat.
KRATON, UPACARA DAN POLITIK SIMBOL: Kosmologi dan Sinkretisme di Jawa
lrwan Abdullah
Humaniora No 2 (1991)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1810.99 KB)
|
DOI: 10.22146/jh.2096
Upacara merupakan sisi paling menonjol pada perilaku sosial dan sistem gagasan orang Jawa. Upacara muncul secera luas melingkupi siklus hidup dan berbagai kegiatan sosial di dalam kehidupan masyarakat. Upacara yang meluas semacam ini menunjukkan bahwa upacara memiliki arti penting bagi masyarakat Jawa. Mempelajari upacara berarti mempelajari nilai-nilai penting di dalam masyarakat itu. Pemahaman makna-makna upacara tersebut selaniutya akan digunakan untuk menjelaskan proses sinkretisme di Jawa dan bagaimana kedudukan proses itu di dalam pembangunan kebudayaan dan masyarakat. Upacara gerebeg yang dilakukan oleh Kraron Yogyakarta digunakan sebagai acuan untuk menemukan kosmologi masyarakat Jawa yang selanjutnya dianalisa untuk menjelaskan pola berpikir yang mempengaruhi sikap dan perilaku.
UNSUR KEPAHLAWANAN HIKAYAT INDRAPUTRA
Kun Zachrun Istanti
Humaniora No 2 (1991)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1176.524 KB)
|
DOI: 10.22146/jh.2097
Bangsa Indonesia memiliki sejumlah warisan kebudayaan yang tersimpan dalam kebudayaan berbagai daerah di seluruh Nusantara yang berupa karya sastra daerah yang mampu memaparkan kembali kehidupan batiniah pendukungnya tahun-tahun silam. Di antara daerah Nusantara yang dipandang banyak memiliki perbendaharaan berupa karya sastra adalah suku bangsa Melayu. Ungkapan kebudayaan ideal atau kompleks gagasan, nilai, dan peraturan (Koentjaraningrat, 1974:15) suku Melayu masih banyak yang dipantulkan kembali dalam kesusastraan yang meliputi kurun waktu yang panjang. Salah satu ungkapan tersebut terwujud dalam Hikayat Indraputra (seterusnya disingkat HI).
BEBERAPA ASPEK KEKERABATAN PADA MASYARAKAT KARO
Masri Singarimbun
Humaniora No 2 (1991)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1211.422 KB)
|
DOI: 10.22146/jh.2098
Suku bangsa Karo adalah satu dari 6 suku bangsa -- Pakpak,Simelungun, Toba, Mandailing, Angkola dan Karo -- yang termasuk ke dalam kelompok suku bangsa Batak. Kesamaan dari suku bangsa-suku bangsa yang tergolong ke dalam Batak adalah sistem garis keturunan patrilineal dan hubungan kesemendaan yang khas, yakni antara apa yang secara populer dinamakan "pemberi dara" (Karo: kalimbunu, Toba: hulo-hula) dan "penerima dara" (Karo: anakberu, Toba: boru). Namun dari sudut bahasa terdapat perbedaan yang jelas antara suku bangsa-suku bangsa yang tergolong ke dalam Batak. Orang Karo dan orang Toba, umpamanya, tidak akan saling mengerti jika menggunakan bahasanya masing-masing.
PERILAKU UPAYA PENYEMBUHAN
Naniek Kasniyah
Humaniora No 2 (1991)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1211.422 KB)
|
DOI: 10.22146/jh.2099
Setiap masyarakat secara tradisional maupun modern, memiliki dan mengembangkan usaha dan cara pencegahan diri dari sakit. Usaha ini dapat dilaksanakan secara terbatas pada, atau dalam batas kemampuan perawatan rumah tangga, dan dapat pula dengan bantuan berbagai dukun. Kenyataan lain menunjukkan pula bahwa sebagai konsekuensi dan perkembangan dan penyebaran ilmu kedokteran masyarakat menggantungkan pemenuhan kebutuhan kesehatan pada praktek-praktekbiomedikal