Humaniora
Humaniora focuses on the publication of articles that transcend disciplines and appeal to a diverse readership, advancing the study of Indonesian humanities, and specifically Indonesian or Indonesia-related culture. These are articles that strengthen critical approaches, increase the quality of critique, or innovate methodologies in the investigation of Indonesian humanities. While submitted articles may originate from a diverse range of fields, such as history, anthropology, archaeology, tourism, or media studies, they must be presented within the context of the culture of Indonesia, and focus on the development of a critical understanding of Indonesia’s rich and diverse culture.
Articles
12 Documents
Search results for
, issue
"No 3 (1996)"
:
12 Documents
clear
Verb Structure in Indonesian
B.R. Suryo Baskoro
Humaniora No 3 (1996)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (743.182 KB)
|
DOI: 10.22146/jh.1939
One of the major problems in studying Indonesian as a foreign language ismastering the verb structure. This is due to the complexity of its affixation. A good and well-formed verb will ensure a good, formal, and acceptable sentence; on the contrary, a lack of affixe where it should be, will give a non-grammatical sentence. Indonesian verbs have two structures: simple and derived verbs.
Commercialization and Pasisir Culture
Djoko Suryo
Humaniora No 3 (1996)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1994.506 KB)
|
DOI: 10.22146/jh.1940
Commercialization process and the establishment of coastal culture in Javawas one united history process where one cannot be separated from the other. The commercialization process and the establishment of the coastal culture cannot be separated from the commercialization process and the establishment of Malay World in South East Asia. In other words, we can say that basically, commercialization process and the establishment of the coastal culture had been part of commercialization process and the establishment of the Malay World. Commercialization process and the establishment of Malay World and coastal culture was a manifestation of the united Mainstreams of commercialization and Islamization processes being occured in South East Asia of Malay World.
Seni Pertunjukan Wayang Kancil dan Kemungkinan Pengembangannya di Indonesia
Eddy Pursubaryanto
Humaniora No 3 (1996)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (2046.964 KB)
|
DOI: 10.22146/jh.1941
Tulisan ini merupakan usaha untuk merekam dalam bentuk tulis peristiwa kebudayaan yang berujud pertunjukan Wayang Kancil di Daerah IstimewaYogyakarta (DIY) mulai tahun 1980 sampai sekarang. Pembatasan waktu inidisebabkan karena tahun itulah awal muncul kembalinya Wayang Kancil diYogyakarta. Di dalam pencatatan ini penulis selalu mengamati pementasan-pementasan yang dilakukan olen rekan-rekan dalang Wayang Kancil. Di samping itu, penulis juga mencatat pertunjukan-pertunjukannya sendiri karena ia juga terlibat secara aktif dalam memainkan Wayang Kancil dari tahun tersebut sampai sekarang. Untuk melengkapi catatan itu, telah diadakan pengecekan kepada seorang nara sumber yaitu Ki Ledjar Soebroto sebagai pencetus penggalian kembali Wayang Kancil di Yogyakarta.
"Aku" dalam Semiotika Riffaterre Semiotika Riffaterre dalam "Aku"
Faruk Faruk
Humaniora No 3 (1996)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1777.361 KB)
|
DOI: 10.22146/jh.1942
Tak dapat di ragukan lagi Chairil Anwar adalah seorang penyair besar. Setiap tahun, hingga sekarang, karya-karyanya masih terus diperingati, direproduksi, dibaca, dan direpresentasikan. Yang akan dibicarakan dalam makalah ini hanya salah satu puisi penyair tersebut, yaitu "Aku" yang terhimpun dalam kumpulan Deru Campur Debu (1965). Pilihan atas "Aku" ini dapat dianggap semaunya, tetapi dapat pula atas dasar tingkat popularitasnya yang cukup tinggi. Yang mendorong pemahaman kembali puisi-puisi lama seperti karya Chairil di atas bukan semata-mata kenyataan subjektifnya. Apabila dilihat dari caranya, kedua pembacaan mengenai karya-karya Chairil di atas tidak hanya terjadi karena kualitas internal karya-karya penyair itu sendiri, melainkan juga karena terjadinya perubahan cara pandang terhadap estetika dan bahkan kehidupan secara keseluruhan.
A Comparative Study of The Indonesian and English Articles
FX. Nadar
Humaniora No 3 (1996)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1607.12 KB)
|
DOI: 10.22146/jh.1943
Commonwealth Department of Education in Australia (1983:22) has concluded that articles will be an area of difficulty for Indonesian students. This is because the" BI (Bahasa Indonesia) has no real equivalents of the English definite and indefinite articles. In many cases where the articles are used in English no corresponding word occurs in Bahasa Indonesia". Errors related to the use of articles deserve close attention because articles are not only one of the grammar elements, but also "extremely frequent in English" (Berry,1991:252). Carrol, et al (1971) have found that articles account for almost every tenth word In English. This paper means to explore the similarities and differences of the articles in Indonesian and English, and how the findings may affect Indonesian students' difficulties in using the English articles.
Kalimat Anomali dan Kedudukannya dari Sudut Pandang Pragmatik
I Dewa Putu Wijana
Humaniora No 3 (1996)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (2223.212 KB)
|
DOI: 10.22146/jh.1944
Di dalam berbagai bahasa tentu ada kalimat-kalimat yang menyimpangdi lihat dari keselarasan kategori dan makna elemen pembentuknya. Kalimat-kalimat seperti ini dalam istilah linguistik dikenal dengan sebutan kalimat anomali (anomalous sentence) (Kridalaksana, 1993, 14; Fromkin & Rodman. 1983, 177). Hal yang menarik dipermasalahkan di sini adalah bahwa kalimat anomali (nonsense) tidak pernah di utarakan atau diucapkan di dalam pemakaian bahasa yang sebenarnya. Kalimat-kalimat itu diciptakan dalam konteks yang abstrak, tidak jelas siapa pembicaranya, dengan s1apa kalimat itu diutarakan, kapan kalimat itu diutarakan, dan sebagainya. Abstraknya konsepsi data yang melatarbelakangi teori Chomsky.
Persesuaian SUbjek-Verba dalam Bahasa Mai Brat Dialek Ayamaru dan Lamaholot Dialek lie Mandiri: Studi Perbandingan Pengaruh Bahasa Non-Austronesia terhadap Bahasa Austronesia
Inyo Yos Fernandez
Humaniora No 3 (1996)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1018.954 KB)
|
DOI: 10.22146/jh.1945
Bahasa Mai Brat dialek Ayamaru di Sarong, Irian Jaya, dan bahasa Lamaholot dialek lie Mandiri di Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, dalam kajian lingulstik diakronis Austronesia merupakan dua bahasa daerah di Indonesia bagian timur yang status relasi kekerabatannya di bidang sintaksis masih belum diketahui dengan jelas. Kelompok bahasa Non-Austronesla (NAN), merupakan suatu kelompok bahasa yang hingga kinibelum diidentifikasi lebih jauh untuk dapat membedakannya dari kelompokAustronesia (AN). Seperti diketahui pada hampir sebagian besar kawasanAsia Tenggara-Pasifik terdapat bahasa yang termasuk: dalam kelompok bahasa AN. Bahasa lamaholot dialek Ile Mandiri di Flores Timur, termasuk salah satu di antara bahasa-bahasa dl Propinsi Nusa Tenggara Timur yang secara fonologis dan leksikal tergolong dalam kelompok bahasa AN (Femardez, 1981).
Wayang Golek Menak sebagai Media Dakwah Islam
Kun Zachrun Istanti
Humaniora No 3 (1996)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (886.399 KB)
|
DOI: 10.22146/jh.1946
Salah satu makna kata "wayang" adalah bayangan angan-angan, yaitu menggambarkan nenek moyang dalam angan-angan. Oleh karena itu, dalam merciptakan segata bentuk wayang selalu dlsesuaikan dengan tingkah laku tokoh yang dibayangkan dalam angan-angan. Sebagai contoh, orang baik dgambarkan badannya lurus, mukanya tajam, sedangkan orang jahat digambarkan dengan bentuk mulut yang besar, muka lebar, dan sebagainya (Jasawi-dagdo dalam Zarkasi, 1977:21).Wayang golek dibentuk seperti manusia, dibuat dari kayu jaranan, kayu kemiri, dan kayu mentaos (Kuswaji. 1957:10). Wayang golek atau disebut wayang tengul biasanya menceritakan cerita Menak yang sejak dahulu jarang dipentaskan secara tuntas (menyeluruh) seperti halnya wayang purwa. Hal ltu terjadi karena terlalu banyak carangan cerita dengan dasar pola yang sama sehinggacenderung agak membosankan. Wayang golek itu serdiri tidak sepopuler ceritanya (dalam hal ini cerita Menak). Cerita Menak dianggap sebagai karya sastra yang terkenal sebab merupakan cerita kepahlawanan yang disela~selingi dengan adegan percintaan.
The Shelleyan Stylistics
Muh Arif Rokhman
Humaniora No 3 (1996)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1242.821 KB)
|
DOI: 10.22146/jh.1947
Style in literature has been the most unique way of expressing the authors' ideas. It is one of the authors' identities, one that distinguishes a given author from another. Style plays a distinctive role in the language of literature. It is "another way of saying" things. This is to say that both "what is said" and "how it is said - "which are studied under stylistics- exist in any work of literature, that both are not to be taken for granted, and that the vay ot saying it" is often more important than the thing said. Consisting of twenty two lines and written by Percy Bysshe Shetley, "Music" was chosen as tne topic of the study. The focus of the study will be on the relation between the meanings of the poem and its style. The study Isaimed at seeing the uniqueness of the poem's style.
Data dan Objek Penelitian dalam Penelitian Sastra
Sangidu Sangidu
Humaniora No 3 (1996)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1577.732 KB)
|
DOI: 10.22146/jh.1948
Pada tulisan ini akan disajikan perbedaan antara data dengan objek penelitian sastra. Kedua hal itu dipandang perlu dikemukakan karena orang sering tidak mempedulikan perbedaan antara keduanya dan bahkan cenderung mengacaukan. Karena itu, uraian berikut ini berusaha menunjukkan perbedaan antara keduanya dengan sejumlah bukti yang diharapkan dapat dipandang meyakinkan penulis sendiri khususnya dan para pembaca pada umumnya.