cover
Contact Name
Elan Ardri Lazuardi,
Contact Email
humaniora@ugm.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
humaniora@ugm.ac.id
Editorial Address
Humaniora Office d.a. Fakultas Ilmu Budaya UGM, Gedung G, Lt. 1 Jalan Sosiohumaniora, Bulaksumur, Yogyakarta 55281 Indonesia
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Humaniora
ISSN : 08520801     EISSN : 23029269     DOI : 10.22146/jh
Core Subject : Humanities,
Humaniora focuses on the publication of articles that transcend disciplines and appeal to a diverse readership, advancing the study of Indonesian humanities, and specifically Indonesian or Indonesia-related culture. These are articles that strengthen critical approaches, increase the quality of critique, or innovate methodologies in the investigation of Indonesian humanities. While submitted articles may originate from a diverse range of fields, such as history, anthropology, archaeology, tourism, or media studies, they must be presented within the context of the culture of Indonesia, and focus on the development of a critical understanding of Indonesia’s rich and diverse culture.
Articles 11 Documents
Search results for , issue "Vol 12, No 3 (2000)" : 11 Documents clear
ULAMA DAN HIKAYAT PERANG SABIL DALAM PERANG B LANDA DI ACEH Imran T Abdullah
Humaniora Vol 12, No 3 (2000)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1099.536 KB) | DOI: 10.22146/jh.696

Abstract

Perang Belanda di Aceh pecah (April 1873) tidak lama setelah Traktat Sumatra (1 November 1871) ditandatangani antara Belanda dan Inggris untuk mengganti Traktat London (1824) yang menghormati kedaulatan Kerajaan Aceh . Traktat yang baru disahkan itu memberikan peluang besar bagi Belanda untuk menguasai Aceh, sebagaimana dinyatakan dalam pasal 1, "Inggris menghapus perhatiannya atas perluasan kekuasaan Belanda di mana pun di Pulau Sumatra" (Said, 1961 : 351) . Agresi pertama dapat dipatahkan oleh pasukan Aceh, pihak Belanda menderita banyak kerugian, bahkan Jenderal Kohler gugur beserta 8 opsir dan sejumlah prajurit . Agresi kedua (9 Desember 1873) terjadi di bawah pimpinan Letjen van Swieten . Keraton jatuh pada 31 Januari 1874, Sultan Mahmud Syah mengungsi ke Pagar Ayer dan meninggal di sana karena wabah kolera. Van Swieten memproklamasikan kemenangan karena dengan menduduki keraton dan menguasai sebagian kecil daerah Aceh Besar; is mengira seluruh wilayah Aceh akan menyerah . Ternyata perlawanan semakin meningkat, ulama yang kebanyakan pimpinan dayah (pesantren) ikut berpartisipasi bersama santri mereka .
AKRONIM DALAM BAHASA ARAB: PEMBAHASAN SEPUTAR PERKEMBANGAN MUTAKHIR DALAM BAHASA ARAB SERI IV Syamsul Hadi
Humaniora Vol 12, No 3 (2000)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (494.945 KB) | DOI: 10.22146/jh.697

Abstract

Kita lihat jumlah Pembahasan akan mencakup pula peng- akronim tersebut dengan membandingkan gabungan dua buah kata (atau lebih) men- 1 mlah kamus yang ada di dalam bahasa jadi sebuah kata . Dalam bahasa Arab peng- rab . Menurut bibliografi perkamusan ber- gabungan dua buah kata ada yang meng- 1 dul Al-Mu jamatul-Arabiyyah Bibliyujrafiy- alami penanggalan huruf dan ada yang y h Syamilah Masyrufah yang disusun oleh tidak mengalami penanggalan huruf. Itulah ajdi Rizki Ghaly, diterbitkan oleh Haiatul- yang kemudian disebut dengan akronim . ishriyyah Al-Ammah Li't-Ta'lifi wa'n-Nasyr . Dalam bahasa Arab isim dan fill mem- airo (1071), ada 707 buah kamus . Se- punyai bentuk yang selalu mengacu kepada I bihnya, kamus istilah yang ada di dalam wazan-wazannya . Berkaitan dengan kedua ahasa Arab jumlahnya tidak kurang dari hal tersebut, jika ada lafal yang menyim- 200 buah . Betapa banyaknya kosakata dan pang dari wazannya, akan segera dapat i tilah yang termuat dalam berbagai kamus diketahui bahwa kemungkinan lafal tersebut t rsebut . Dengan demikian, jumlah sing- berasal dari bahasa asing . Namun, tidak katan dan akronim dalam bahasa Arab ter- selamanya demikian karena di dalam baha- sebut sangat sedikit . sa Arab sekarang terdapat banyak sekali nacht atau akronim yang mungkin tidak se- suai dengan wazan isim maupun fi'il. Jumlah singkatan dan akronim dalam bahasa Arab jika dibandingkan dengan yang ada dalam bahasa Indonesia masih sangat terbatas . Dalam bahasa Indonesia terdapat paling tidak 28 .000 kependekan kata . Hal tersebut merupakan jumlah yang sangat besar jika dibandingkan dengan entri yang ada pads Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang memuat 62 .100 buah kata . Buku yang'membahas singkatan dan akronim dalam bahasa Indonesia ada paling tidak 13 buah .
MAKNA DALAM BAHASA Ferry Adenan
Humaniora Vol 12, No 3 (2000)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (607.579 KB) | DOI: 10.22146/jh.698

Abstract

Di negara-negara maju Systemic Functional Linguistics (SFL) banyak dimanfaatkan di dalam pengajaran dan pembelajaran bahasa Inggris . Di dalam SFL terdapat pengertian bahwa linguistic membedakan fungsi dalam konteks paradigma dan fungsi di dalam konteks sintakmatika. Yang disebut pertama umum dikenal sebagai sistem, sedang yang kedua dikenal sebagai struktur bahasa. Sistem menyebabkan orang dapat menginterpretasi hubungan paradigmatika sedangkan struktur bahasa memungkinkan orang menginterpretasi hubungan-hubungan sintakmatika. Systemic linguistics bukan sistem resmi bahasa, lebih tepat dikatakan sebagai suatu cara berpikir tentang bahasa dan lebih kena lagi dikatakan sebagai cara bertanya tentang bahasa sebagai objek . Pertanyaanpertanyaan itu terutama berupa pertanyaan tentang sifat dan fungsi bahasa .
ANGKA, BILANGAN, DAN HURUF DALAM PERMAINAN BAHASA I Dewa Putu Wijana
Humaniora Vol 12, No 3 (2000)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (543.262 KB) | DOI: 10.22146/jh.699

Abstract

Saya jadi teringat semasa kanak-kanak dahulu, seorang kawan sepermainan menyodorkan sebuah teka-teki kepada saya. l a menyuruh saya untuk menuliskan frase preposisional seperti Gareng ke dalam deretan kotak layaknya lajur TTS yang berjumlah lima buah . Tentu saja, saya jadi pusing tujuh keliling karena untuk menuliskan huruf-huruf yang menyusun frase itu, saya membutuhkan jumlah kotak yang lebih banyak, yakni 13 buah. Tujuh buah untuk menuliskan seperti dan 6 buah lainnya untuk Gareng, punakawan jenaka yang memiliki anggota tubuh yang serba panjang itu. Setelah saya menyatakan menyerah, dengan tenang bercampur sedikit mengejek, kawan sebaya saya memberikan solusinya. Dia menuliskan angka 1/3 (sepertiga) di sebuah kotak untuk mewakili bagian tuturan sepertiga dan bagian yang lain reng di empat kotak sisanya . Boleh juga akal kawan saya itu, pikir saya . Pengalaman yang kedua saya alami ketika saya dalam perjalanan pulang naik bus patas Surabaya-Yogya "Sumber Kencono" seusai memberikan kuliah tamu di Universitas Negeri Djember pada awal Desember 2000. Di depan Pabrik Gula Gondang, Klaten, secara kebetulan saya melihat di kaca belakang kendaraan umum berplat kuning yang akan didahului bus yang saya turnpangi ada tulisan yang berbunyi "ber-217- an". Bingung juga beberapa saat saya dibuatnya karena tidak dapat secara cepat menangkap maksud tulisan itu . Kebingungan ini disebabkan angka 217 pertama saya baca dua ratus tuju(h) belas.
STATUS INFORMASI DALAM KALIMAT DAN WACANA BAHASA PRANCIS . Sajarwa
Humaniora Vol 12, No 3 (2000)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (423.166 KB) | DOI: 10.22146/jh.700

Abstract

Analisis kalimat dapat dilakukan berdasarkan pada tiga fungsi, yaitu fungsi sintaktis, fungsi semantis, dan fungsi pragmatis (Dik, 1981) . Ketiga analisis fungsional itu secara berturut-turut akan menghasilkan (1) struktur gramatikal kalimat, (2) struktur makna kalimat, dan (3) or ganisasi ujaran . Analisis terhadap organisasi kalimat disebut juga analisis perspektif kalimat fungsional atau analisis organisasi kontekstual (Suparno, 1993: 18) . Analisis organisasi ujaran ini merupakan analisis kalimat dalam fungsinya sebagai pembawa informasi . Informasi yang dimaksud adalah informasi pragmatik (pragmatic information) .
PERSONA KEDUA DALAM BAHASA JAWA : KAJIAN SOSIO INGUISTIK Restu Sukesti
Humaniora Vol 12, No 3 (2000)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (691.117 KB) | DOI: 10.22146/jh.701

Abstract

Dalam komunikasi tersebut sering digunakan alat untuk menyebut pihak 0 1 , 02 , dan 03 . Salah satu alat itu ialah pronomina . Pronomina berfungsi menggantikan nomina pada yang dimaksud dalem tuturan (Kridalaksana, 1984 :138) . Pronomina pengganti 01 , dalam bahasa Indonesia, antara lain, saya, kami ; pengganti 02 , antara lain, kamu, ands, kalian ; pengganti 0 1 clan 02 ialah kita ; dan pengganti 03 ialah dia, ia, mereka (Alwi, 1998 :249). Namun, alat untuk menyebut pihak 0 1 , 02 , atau 03 tersebut dapat berwujud bukan hanya kata ganti (pronomina), tetapi dapat juga berwujud nama diri, nama panggilan, nama kedudukan, atau nama gelar, sejauh kata-kata itu untuk mengacu pihak 0 1 , 0 2 , atau 03 .
REGISTER PEMANDUAN WISATA Pratomo Widodo
Humaniora Vol 12, No 3 (2000)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (914.572 KB) | DOI: 10.22146/jh.702

Abstract

Dalam kaitannya dengan bahasa sebagai sistem tanda, Buhler, seperti dikutip oleh Pelz (1984), menggambarkan proses komunikasi sebagai segi tiga semiotik, segi yang pertama melambangkan pembicara sebagai penyampai pesan, segi yang kedua melambangkan pendengar sebagai penerima pesan, dan segi yang ketiga adalah lambang dari Gegenstand yang merupakan referensi dari realitas objek yang dibicarakan . Agar proses komunikasi tersebut berhasil, harus ada kegayutan clan ketiga elemennya . Apabila tidak ada kegayutan dari salah satu elemennya, niscaya proses komunikasi akan gagal . Berhasil atau tidaknya proses komunikasi, salah satunya ditentukan oleh pemahaman antara pembicara dan pendengar mengenai objek yang dibicarakan . Oleh sebab itu, referensi mengenai tuturan dalam suatu peristiwa komunikasi harus dipahami oleh kedua belah pihak, yaitu pembicara dan pendengar.
DISINTEGRASI SOSIAL : SEBUAH TINJAUAN BUDAYA Sjafri Sairin
Humaniora Vol 12, No 3 (2000)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (606.148 KB) | DOI: 10.22146/jh.703

Abstract

Akhir-akhir ini terlihat semacam isyarat yang mengarah kepada kemungkinan akan terjadinya disintegrasi dalam kehidupan bangsa . Isyarat ini semakin kuat denyutnya dalam detak jantung kehidupan politik bangsa Indonesia akhir-akhir ini . Sejumlah orang Aceh dan Papua secara transparan telah menunjukkan keinginannya untuk melepaskan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia, menjadikan negara mandiri yang merdeka, padahal dulu mereka sendiri turut mendukung berdirinya negara kesatuan Indonesia itu . Pada awal kemerdekaan dengan mengerahkan segala potensi yang ada padanya, masyarakat Aceh telah menunjukkan dukungan mutlak terhadap kemerdekaan yang diproklamasikan Bung Karno dan Bung Hatta, dengan mengumpulkan harta benda rakyat, membeli dan menyerahkan sebuah pesawat terbang yang diberi nama Seulawah menjadi milik negara yang baru merdeka itu . Ini adalah pesawat terbang pertama yang dimiliki negara ini . Begitu pula masyarakat Papua yang memilih menjadi bagian dari Republik Indonesia pada awal 1960 an . Namun, sekarang mereka seolah-olah merasa kecewa, dan ingin berdiri sebagai negara mandiri, lepas dari induknya, Republik Indonesia .
AKSES TERHADAP SPMBER DAYA DAN KEMISKINAN DI PEDESAAN JAWA : KASUS DESA SRIHAOJO, YOGYAKARTA Pande Made Kutanegara
Humaniora Vol 12, No 3 (2000)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (916.176 KB) | DOI: 10.22146/jh.704

Abstract

Pada awal Repelita I, diperkirakan 70juta penduduk atau 60 persen dad totalpenduduk Indonesia termasuk dalam kategorimiskin (World Bank, 1990) . Angka tersebutmenurun menjadi 40 persen atau54,2 juta pada tahun 1976 dan menurunlagi secara drastis menjadi 14 persen atau25,9 juta pada tahun 1993 (BPS, 1994) .Pada tahun 1996, angka kemiskinan diperkirakantelah turun menjadi 22,6 juta atau12 persen (Tjiptoherijanto, 1997). Angkakemiskinan yang turun sedemikian cepatdan cukup tajam, tiba-tiba mengalami peningkatanpada saat krisis . Banyak perdebatanmuncul berkaitan dengan jumlah pendudukmiskin pada saat krisis . Proyeksiyang dibuat oleh ILO-UNDP pada akhirtahun 1998 menunjukkan bahwa pada tahun1998, sebanyak 48 persen (sekitar 90juta orang) penduduk Indonesia berada dibawah garis kemiskinan .
BUDAYA ARIF LINGKUNGAN DAN SOLIDARITAS SOSIAL : KONTEKS KONSERVASI SUMBER DAYA NONHAYATI . Soehardi
Humaniora Vol 12, No 3 (2000)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (795.682 KB) | DOI: 10.22146/jh.705

Abstract

Dalam era kemajuan kini, sering kita menghadapi dilema terjadinya benturan antara pembangunan dengan keseimbangan lingkungan, balk Iingkungan fisik maupun sosial budaya . Tujuan pembangunan adalah jelas, yaitu untuk meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan manusia secara lahir dan batin dengan cara mengolah lingkungannya . Aktivitas pembangunan ini menyebabkan terjadinya perubahan- perubahan lingkungan manusia . Perubahan itu memberikan fasilitas-fasilitas kemudahan kepada hidup manusia itu . "Pembangunan menuntut adanya dinamika kemajuan dan tidak mengenal berhenti, sedang Iingkungan bersifat berkembang, tidak statis (Soemantri, 1974) . Akan tetapi, seiring dengan proses pembangunan itu, sering tanpa disadari, timbul akibat-akibat samping yang mengganggu keseimbangan Iingkungan itu. Banyak contoh kasus kerusakan di Indonesia yang dapat disebut, seperti Iimbah industri, pencemaran udara dari emisi pabrik, kendaraan bermotor dan kebakaran hutan, kerusakan hutan dari penebangan berlebihan, kerusakan karang laut dan hutan bakau, dan pecahnya ikatan-ikatan solidaritas dalam komunitas desa

Page 1 of 2 | Total Record : 11


Filter by Year

2000 2000


Filter By Issues
All Issue Vol 37, No 1 (2025) Vol 36, No 2 (2024) Vol 36, No 1 (2024) Vol 35, No 2 (2023) Vol 35, No 1 (2023) Vol 34, No 2 (2022) Vol 34, No 1 (2022) Vol 33, No 3 (2021) Vol 33, No 2 (2021) Vol 33, No 1 (2021) Vol 32, No 3 (2020) Vol 32, No 2 (2020) Vol 32, No 1 (2020) Vol 31, No 3 (2019) Vol 31, No 2 (2019) Vol 31, No 1 (2019) Vol 30, No 3 (2018) Vol 30, No 2 (2018) Vol 30, No 1 (2018) Vol 29, No 3 (2017) Vol 29, No 2 (2017) Vol 29, No 1 (2017) Vol 28, No 3 (2016) Vol 28, No 2 (2016) Vol 28, No 1 (2016) Vol 27, No 3 (2015) Vol 27, No 2 (2015) Vol 27, No 1 (2015) Vol 26, No 3 (2014) Vol 26, No 2 (2014) Vol 26, No 1 (2014) Vol 25, No 3 (2013) Vol 25, No 2 (2013) Vol 25, No 1 (2013) Vol 24, No 3 (2012) Vol 24, No 2 (2012) Vol 24, No 1 (2012) Vol 23, No 3 (2011) Vol 23, No 2 (2011) Vol 23, No 1 (2011) Vol 22, No 3 (2010) Vol 22, No 2 (2010) Vol 22, No 1 (2010) Vol 21, No 3 (2009) Vol 21, No 2 (2009) Vol 21, No 1 (2009) Vol 20, No 3 (2008) Vol 20, No 2 (2008) Vol 20, No 1 (2008) Vol 19, No 3 (2007) Vol 19, No 2 (2007) Vol 19, No 1 (2007) Vol 18, No 3 (2006) Vol 18, No 2 (2006) Vol 18, No 1 (2006) Vol 17, No 3 (2005) Vol 17, No 2 (2005) Vol 17, No 1 (2005) Vol 16, No 3 (2004) Vol 16, No 2 (2004) Vol 16, No 1 (2004) Vol 15, No 3 (2003) Vol 15, No 2 (2003) Vol 15, No 1 (2003) Vol 14, No 3 (2002) Vol 14, No 2 (2002) Vol 14, No 1 (2002) Vol 13, No 3 (2001) Vol 13, No 1 (2001) Vol 12, No 3 (2000) Vol 12, No 2 (2000) Vol 12, No 1 (2000) Vol 11, No 3 (1999) Vol 11, No 2 (1999) Vol 11, No 1 (1999) Vol 10, No 1 (1998) No 9 (1998) No 8 (1998) No 6 (1997) No 5 (1997) No 4 (1997) No 3 (1996) No 2 (1995) No 1 (1995) No 1 (1994) No 3 (1991) No 2 (1991) No 1 (1989) More Issue