cover
Contact Name
Elan Ardri Lazuardi,
Contact Email
humaniora@ugm.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
humaniora@ugm.ac.id
Editorial Address
Humaniora Office d.a. Fakultas Ilmu Budaya UGM, Gedung G, Lt. 1 Jalan Sosiohumaniora, Bulaksumur, Yogyakarta 55281 Indonesia
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Humaniora
ISSN : 08520801     EISSN : 23029269     DOI : 10.22146/jh
Core Subject : Humanities,
Humaniora focuses on the publication of articles that transcend disciplines and appeal to a diverse readership, advancing the study of Indonesian humanities, and specifically Indonesian or Indonesia-related culture. These are articles that strengthen critical approaches, increase the quality of critique, or innovate methodologies in the investigation of Indonesian humanities. While submitted articles may originate from a diverse range of fields, such as history, anthropology, archaeology, tourism, or media studies, they must be presented within the context of the culture of Indonesia, and focus on the development of a critical understanding of Indonesia’s rich and diverse culture.
Articles 11 Documents
Search results for , issue "Vol 15, No 1 (2003)" : 11 Documents clear
Wayang Dalam Fiksi Indonesia Burhan Nurgiyantoro
Humaniora Vol 15, No 1 (2003)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (73.003 KB) | DOI: 10.22146/jh.769

Abstract

Munculnya unsur cerita wayang dan bentuk-bentuk transformasinya pada karya fiksi Indonesia secara intensif baru terlihat pada pertengahan tahun 70-an, yaitu dengan Umar Kayam, dan beberapa tahun sebelumnya Danarto menulis cerpen Nostalgia yang bersumber pada cerita Abimanyu gugur. Setelah itu karya-karya berikutnya menyusul seperti Pengakuan Pariyem (Linus Suryadi), Burung-burung Manyar dan Durga Umayi (Mangunwijaya), Canting (Arswendo Atmowiloto), Para Priyayi (Umar Kayam), Perang (Putu Wijaya), atau bahkan karya yang berangkat dari cerita wayang itu sendiri seperti Anak Bajang Menggiring Angin (Sindhunata), Balada Cinta Abimanyu dan Lady Sundari dan Balada Narasoma (Agusta T. Wibisono), Asmaraloka (Danarto), cerpen "Karna" dan "Gatotkaca" (Bakdi Sumanto), dan cerpen-cerpen dalam Baratayuda di Negeri Antah Berantah (Pipit RK). Kecuali Putu Wijaya yang berasal dari Bali, para pengarang tersebut adalah beretnis Jawa sehingga boleh dikatakan bahwa para pengarang dari Jawalah yang banyak mentransformasikan cerita wayang ke dalam sastra Indonesia.
Identitas Dan Nasionalitas Dalam Sastra Indonesia Aprinus Salam
Humaniora Vol 15, No 1 (2003)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (50.352 KB) | DOI: 10.22146/jh.770

Abstract

Identitas dan nasionalitas merupakan faktor penting bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Faktor yang menyebabkannya penting karena identitas dan nasionalitas secara teoretis merupakan unsur utama dalam menyangga keberlangsungan kehidupan berbangsa. Pernyataan itu berangkat dari satu pengandaian teoretis bahwa "kecintaan" dan perasaan "memiliki" seseorang kepada masyarakat dan bangsanya, bergantung pada bagaimana seseorang mendefinisikan dan mengidentifikasi dirinya, suatu konsep identitas yang sepenuhnya imajiner, terhadap lingkungan sosialnya. "Rumusan" seseorang dalam mendefinisikan dan mengidentifikasi diri tersebut, memberi implikasi langsung bagaimana seseorang mempraktikkan dirinya dalam kehidupan sosial, politik, atau dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Itulah sebabnya, suatu kajian tentang identifikasi terhadap identitas seseorang/ masyarakat dirasakan sangat penting. Kajian itu, diharapkan pula meliputi proses-proses konsolidasi apa saja yang menyebabkan seseorang merasa memiliki atau tidak memiliki identitas, wacana-wacana apa saja yang dimanfaatkan sebagai sarana pembentuk identitas, dan di atas semua itu, bagaimana keterkaitannya dengan nasionalitas. Pembicaraan ini secara khusus mengkaji persoalan identitas dan nasionalitas dalam beberapa karya sastra (novel) Indonesia dan hanya diambil beberapa saja yang dianggap mewakili satu "konteks" zaman.
Karya Religius Danarto: Kajian Kritik Sastra Feminis S. E. Peni Adji
Humaniora Vol 15, No 1 (2003)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (75.457 KB) | DOI: 10.22146/jh.771

Abstract

Membaca tulisan Danarto, yang berjudul "Refleksi Perempuan" dalam Republika (1993), menyebabkan penulis berpikir ulang tentang makna karya-karya Danarto yang selama ini hanya dinilai mengungkapkan permasalahan religiusitas. Dalam tulisan itu, terlihat bahwa Danarto memiliki perhatian dan juga keprihatinan yang sangat besar terhadap kaum perempuan. Menurutnya, masalah perempuan itu bervariasi dan dipengaruhi oleh kelas mereka. Perempuan kelas atas lebih mempunyai wewenang untuk menentukan dan mengatur diri sendiri. Sementara, perempuan kelas menengah dan bawah lebih banyak tertekan dalam kehidupan mereka. Perhatian dan keprihatinan Danarto ini merupakan bagian dari pandangan dunianya sebagai pengarang yang tentu saja sangat mewarnai karya-karya yang diciptakannya, juga pada cerpen-cerpennya yang dicipta setelah tahun 1980-an. Kritik-kritik yang menilai bahwa karya Danarto mengungkapkan perenungan religiusitas yang meliputi pantheisme dan mistik telah dilakukan oleh Teeuw (1989), Tjitrosubono dkk. (1985:8), Sriwidodo (dalam Eneste, 1983:146-161), Pujiharto (1996), dan Zamzanah (1998). Selain itu, karya Danarto oleh Toda (1984: 41-47) dinilai menggunakan bentuk kreativitas baru yang bersifat nonkonvensional. Sementara oleh Prihatmi (1989) karya Danarto dinilai banyak mengungkapkan fantasi. Dari penilaian-penilaian tersebut, terlihat bahwa kritik yang mengungkapkan perempuan dalam karya-karya Danarto belum pernah dilakukan. Padahal, cerpen-cerpen Danarto yang dicipta setelah tahun 1980-an banyak mengungkapkan permasalahan tersebut, khususnya sikap dan posisi perempuan dalam masyarakat (patriarki). Selain itu, penggambaran perempuan tersebut juga mencerminkan adanya sikap implied author dalam menanggapai masalah patriarkhi dan masalah isu gender.
Indonesian Vowels And Their Allophones I Dewa Putu Wijana
Humaniora Vol 15, No 1 (2003)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (42.094 KB) | DOI: 10.22146/jh.772

Abstract

Verhar's books entitled Pengantar Linguistik (Introduction to Linguistics) published by Gadjah Mada University Press and its elaborative edition Asas-asas Linguistik (The Principles of Linguistics) of the same publisher constitute linguistic works which strongly influence the development and advancement of linguistic studies in Indonesia. The innovations brought by these books are clearly seen in their formal approach towards linguistic units as the material object of any linguistic investigation. Long before the appearance of those Verhar's books, Indonesian Linguists or linguists of bahasa Indonesia had been shackled by the traditional (notional) approach, as shown in the works of Alisjahbana (1978); Mees (1955); Zain (1943); Lubis (1954) (see Ramlan, 1985). Their traditional approach is a reflection of the strong influence of Greece grammar. Meanwhile, the formal approach practised by the modern linguists, in many respects, is much more objective than that of the traditional one. The modern approach is used, for examples, to identify linguistic units (such as morphemes, words, sentences, etc.), parts of speech, syntactic functions and their fillers, sentence types, etc. Despite those advantages, Verhaar's works also conceal various linguistic problems which are either related to Indonesian, foreign or local languages in Indonesia. The problems presented in those books are very interesting, and frequently challenging for linguists to think of or give them some corrections or solutions. The superiority of these books has been discussed by Alif (2002) in a regional conference held by University of Sanata Dharma, Yogyakarta to commemorate the one hundredth day of the author's death. Accordingly, as a token of my respect to his service in developing Indonesian linguistics and his dedication to Gadjah Mada University, where he was formerly a visiting professor in Faculty of Letters (now Faculty of Cultural Sciences), I would like to discuss one important problem which exists in his second book Asas-asas Linguistik. The problem concerns with Indonesian vowels and their allophonic distribution, especially / i/ and /u/ in Indonesian syllabic systems. These problems have not been so far satisfactorily clarified in Indonesian phonology.
Kata-kata Konotatif Sebagai Indikator target Pembaca Selebaran PRD Aris Munandar
Humaniora Vol 15, No 1 (2003)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (61.681 KB) | DOI: 10.22146/jh.773

Abstract

Membaca memiliki peran yang besar dalam komunikasi tulis sebagai mitra tutur bagi penulis. Akan tetapi, pembaca juga telah memainkan peranannya dalam proses penciptaan sebuah teks. Dikemukakan oleh Coulthard (dalam Coulthard, 1994:5) bahwa teks didesain untuk kelompok pembaca tertentu. Oleh karena itu, begitu suatu teks dituliskan dengan serta merta ia menetapkan target pembacanya. Tidak ada satu kalimat pun yang ditulis tanpa membayangkan target pembacanya sehingga hampir setiap kalimat memberikan petunjuk kepada siapa kalimat tersebut sebenarnya ditujukan. Hal ini memungkinkan pembaca yang sesungguhnya untuk dapat menggambarkan secara utuh siapa lawan bicaranya.
Kemiskinan, Mobilitas Penduudk, Dan AKtivitas Derep: Strategi Pemenuhan Pangan Rumah Tangga Miskin DI Kabupaten Bantul, Yogyakarta Pande Made Kutanegara
Humaniora Vol 15, No 1 (2003)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (54.023 KB) | DOI: 10.22146/jh.774

Abstract

Program revolusi hijau yang dilaksanakan secara intensif sejak awal Orde Baru telah mendorong proses transformasi sosial-ekonomi yang sedemikian pesat di pedesaan Jawa. Kesuksesan program ini telah meningkatkan produksi pertanian dan memacu perubahan sosial ekonomi penduduk pedesaan Jawa. Jumlah penduduk miskin telah berkurang sangat cepat dari 47 persen pada tahun 1971 menjadi 15 persen pada tahun 1995. Indikator ekonomi juga menunjukkan peningkatan yang luar biasa, yakni dengan rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional sekitar 8 persen per tahun (Hill, 1996). Namun, di sisi lain, program ini membawa dampak yang kurang menguntungkan terutama di bidang ketenagakerjaan. Peluang kerja di sektor pertanian berkurang dengan cepat, sehingga kegiatan-kegiatan pertanian yang melibatkan penduduk miskin berkurang dan hilang. Salah satu peluang kerja yang hilang adalah derep. Aktivitas ini hilang bersamaan dengan berkembangnya sistem tebasan di pedesaan. Hal ini telah menghilangkan satu-satunya akses penduduk miskin terhadap ketersediaan pangan mereka. Oleh karena itu, secara tidak langsung, revolusi hijau telah mengakibatkan di pedesaan Jawa (Sairin, 1976; Stoler, 1978). Penelitian-penelitian intensif pada pertengahan masa Orde Baru menunjukkan bahwa minat peneliti terhadap proses transformasi tenaga kerja pedesaan di sektor pertanian turun drastis. Hal ini dipicu oleh dominasi penelitian tentang transformasi tenaga kerja sektor pertanian menuju sektor non pertanian, baik di pedesaan dan terutama di perkotaan. Penelitian tentang aktivitas buruh di sektor pertanian diabaikan. Hal ini tidaklah aneh karena pada pertengahan masa Orde Baru, peluang kerja nonpertanian terbuka sangat lebar. Bahkan, peluang kerja itulah yang dipandang sebagai penyelamat persoalan ketenagakerjaan di pedesaan Jawa.
Building Orientation On Traditional Balinese Culture I Gusti Bagus Wijaya Kusuma
Humaniora Vol 15, No 1 (2003)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (377.751 KB) | DOI: 10.22146/jh.775

Abstract

Traditional Balinese reasoning of zoning area follows the physics of microcosms (bhuwana alit) and macrocosms (bhuwana agung). According to four palm leaf manuscripts (named Lontar) the Asta Kosala, Asta Kosali, Asta Patali and Swakarman [anonymous], the housing area is divided into nine regions. The region is then named into three sub-areas called nista, madya and utama (poverty, middle, and primary areas, respectively). In traditional Balinese architecture, people follow the hulu and teben (upward and downward directions, respectively). Upwards and downwards directions are defined following the movement of the sun or the mount - sea direction. Sunrise is upward and sunset is downward, or the mount is upwards and the sea is downwards. The Balinese make a clear differentiation between the dwellinggrounds and the unlived parts of the village, those for public use such as temples, assembly halls and market. The village is a unified organism in which every individual is a body and every institution is an organ. The heart of the village is the central square, invariably located in the center of the village, at the intersection of the two main avenues. Consequently, the crossroads are the center of a rose of the winds formed by the entire village, the cardinal directions mean a great deal to the Balinese and the crossroads are a magic spot of great importance [Covarrubias, 1972].
Revitalisasi Dialektika Pliralitas Budaya Global Dalam Persepkif Poskolonial Kasiyan Kasiyan
Humaniora Vol 15, No 1 (2003)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (56.217 KB) | DOI: 10.22146/jh.776

Abstract

Mendiskusikan perihal entitas kebudayaan bangsa kita di saat ini, dalam kaitannya dengan wacana kebudayaan global, kiranya salah satu critical point yang mendasar adalah pada segmentasi substansi kualitas keberdayaan dan keadilan dialektikanya dengan kebudayaan asing (Barat), yang selama ini begitu dirasakan timpang. Dalam arti, ketika arus utama (mainstream) dari pilihan arah orientasi pengembangan kebudayaan nasional, akhirnya jatuh pada komitmen untuk membuka diri, dengan mengadakan sharing seluas-luasnya dengan pluralitas budaya global, sebagaimana dipelopori oleh Sutan Takdir Alisyahbana pada dekade 30- an, dalam sejarah pemikiran dan polemik kebudayaan yang panjang di masa lalu, ternyata telah begitu jauh bersinggungan dengan sisi sensitif nasionalisme dan kejatidirian kebudayaan nasional. Konklusi harapan besar dari komitmen terbukanya kita dengan peradaban dunia, demi kemungkinan kebudayaan kita mampu meng-"ada" secara bersama (being together) dalam format equal plurality yang sebenarbenarnya di antara semua bangsa, agar tercapai derajat kemanusiaan dan peradaban universal, ternyata tidak dapat termanifestasikan secara komprehensif. Betapa kita menyaksikan secara konkrit, bahwasanya selama ini telah terjadi paradigma ketidakadilan besar dalam dialektika kebudayaan yang dialami oleh bangsa kita dan juga bangsa-bangsa Timur lainnya dengan kebudayaan Barat, dalam semua sistem menimbulkan keprihatinan di mana-mana. Dalam hal ini, kaukus problematikanya di antaranya lebih disebabkan: pertama, sikap kita dalam memaknai eksistensi kebudayaan diri yang perlu direvitalisasi; dan kedua, sikap Barat yang telah demikian memaksakan dan melegitimasi posisi dirinya sebagai ordinat hegemoni bagi semesta kebudayaan dunia, yang dalam hal ini maknanya secara substansial, sebenarnya adalah tetap sebagai potret dari riwayat penjajahan baru, di era pos kolonial. Dalam kaitannya dengan dua hal tersebut, makalah ini mencoba mengambil posisi.
Penyelenggaraan Pemerintahan DKI Jakarta DI Mata Warga Masyarakatnya Bambang Sunaryo
Humaniora Vol 15, No 1 (2003)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (49.87 KB) | DOI: 10.22146/jh.777

Abstract

Menengok sejarah perjalanan pemerintahan Indonesia selama lebih dari 30 tahun terakhir, tidak bisa dipungkiri bahwa pola pendanaan pembangunan di Indonesia, terlalu bertumpu pada dua sumber utama, yaitu (1) eksploitasi intensif terhadap sumber daya alam, terutama minyak bumi, gas, emas, batubara, dan hasil hutan (2) utang luar negeri, yang hampir semua pengelolaannya telah dikendalikan oleh negara, atau lebih tepatnya oleh pemerintah pusat (Khotob Iskadir, 2000: 6-7). Dalam konstelasi politik pembangunan seperti di atas, dapat dimengerti apabila penyelenggaraan pemerintahan pada kurun waktu itu, mempunyai karakter yang lebih bersifat sentralistik (centralized government). Gerakan reformasi yang terjadi di segala bidang kehidupan berbangsa dan bernegara, yang sebetulnya sudah mulai berproses sejak lima tahun terakhir, akhirnya terasa menjadi sebuah keharusan sejarah sebagai upaya revolusi untuk melakukan perubahan, terutama untuk menuju kepada kehidupan bernegara yang lebih demokratis, serta untuk menciptakan penyelenggaraan pemerintahan yang lebih baik, berwibawa, serta bersih. Di samping merupakan tuntutan kebutuhan perubahan dari dalam, secara eksternal - terutama dalam rangka menghadapi arus globalisasi dalam segala aspek kehidupan di abad ke-21 ini - senang atau tidak senang, juga mengharuskan sistem pemerintahan kita untuk melakukan pergeseran paradigma (shifting paradigm), baik Meskipun masih mengandung berbagai perdebatan untuk perbaikan, dengan telah diimplementasikanya UU No. 22/1999 tentang Pemerintahan Daerah beserta PP N0. 25/2000 sebagai aturan pelaksanaannya, berarti segenap pemerintah daerah di Indonesia sudah mempunyai hak, kewajiban, dan tanggung jawab secara otonom dalam menyelenggarakan pemerintahan di wilayahnya, sesuai dengan potensi dan aspirasi segenap masyarakatnya.
Aspek Simbolisme Telepon Genggam Atik Triratnawati
Humaniora Vol 15, No 1 (2003)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (74.099 KB) | DOI: 10.22146/jh.778

Abstract

Perkembangan ilmu pengetahuan di Indonesia jauh tertinggal dibandingkan negara maju. Terlebih lagi dalam hal kemajuan teknologi. Era informasi yang berkembang sekarang ini telah mendorong negara maju dan negara berkembang terusmenerus melakukan penemuan-penemuan baru di bidang teknologi, termasuk teknologi komunikasi informasi. Kemajuan teknologi komunikasi informasi di negara India dan Cina yang luar biasa terjadi karena sumber daya manusia yang mampu mengembangkan dan mengendalikan teknologi tersebut (Komputer Aktif, 2002:76). Dibandingkan kedua negara tersebut, Indonesia tertinggal jauh, baik pada perangkat lunak, keras, juga akibat terbatasnya sumber daya manusia yang mampu mengembangkan teknologi. Di Indonesia tradisi pendidikan, pengembangan, termasuk penelitian di bidang ilmu pengetahuan belum begitu mendarah daging sehingga tradisitradisi penemuan-penemuan baru di segala bidang kurang berkembang. Permasalahan utama penelitian ini adalah bagaimana pemakai telepon genggam memfungsikan benda tersebut. Apakah lebih ditekankan pada fungsi utamanya atau pada gengsi yang melekat di dalamnya? Di samping itu, penelitian ini juga meneliti aspek simbolisme yang muncul dari pemakaian benda ini, termasuk etika pemakaiannya. Adapun tujuan penelitian ini adalah mengetahui fungsi dan manfaat telepon genggam, mengetahui aspek simbolisme, mengidentifikasi norma dan etika yang berlaku, serta mengidentifikasi aspek positif dan negatif pemakaian alat ini bagi masyarakat.

Page 1 of 2 | Total Record : 11


Filter by Year

2003 2003


Filter By Issues
All Issue Vol 37, No 1 (2025) Vol 36, No 2 (2024) Vol 36, No 1 (2024) Vol 35, No 2 (2023) Vol 35, No 1 (2023) Vol 34, No 2 (2022) Vol 34, No 1 (2022) Vol 33, No 3 (2021) Vol 33, No 2 (2021) Vol 33, No 1 (2021) Vol 32, No 3 (2020) Vol 32, No 2 (2020) Vol 32, No 1 (2020) Vol 31, No 3 (2019) Vol 31, No 2 (2019) Vol 31, No 1 (2019) Vol 30, No 3 (2018) Vol 30, No 2 (2018) Vol 30, No 1 (2018) Vol 29, No 3 (2017) Vol 29, No 2 (2017) Vol 29, No 1 (2017) Vol 28, No 3 (2016) Vol 28, No 2 (2016) Vol 28, No 1 (2016) Vol 27, No 3 (2015) Vol 27, No 2 (2015) Vol 27, No 1 (2015) Vol 26, No 3 (2014) Vol 26, No 2 (2014) Vol 26, No 1 (2014) Vol 25, No 3 (2013) Vol 25, No 2 (2013) Vol 25, No 1 (2013) Vol 24, No 3 (2012) Vol 24, No 2 (2012) Vol 24, No 1 (2012) Vol 23, No 3 (2011) Vol 23, No 2 (2011) Vol 23, No 1 (2011) Vol 22, No 3 (2010) Vol 22, No 2 (2010) Vol 22, No 1 (2010) Vol 21, No 3 (2009) Vol 21, No 2 (2009) Vol 21, No 1 (2009) Vol 20, No 3 (2008) Vol 20, No 2 (2008) Vol 20, No 1 (2008) Vol 19, No 3 (2007) Vol 19, No 2 (2007) Vol 19, No 1 (2007) Vol 18, No 3 (2006) Vol 18, No 2 (2006) Vol 18, No 1 (2006) Vol 17, No 3 (2005) Vol 17, No 2 (2005) Vol 17, No 1 (2005) Vol 16, No 3 (2004) Vol 16, No 2 (2004) Vol 16, No 1 (2004) Vol 15, No 3 (2003) Vol 15, No 2 (2003) Vol 15, No 1 (2003) Vol 14, No 3 (2002) Vol 14, No 2 (2002) Vol 14, No 1 (2002) Vol 13, No 3 (2001) Vol 13, No 1 (2001) Vol 12, No 3 (2000) Vol 12, No 2 (2000) Vol 12, No 1 (2000) Vol 11, No 3 (1999) Vol 11, No 2 (1999) Vol 11, No 1 (1999) Vol 10, No 1 (1998) No 9 (1998) No 8 (1998) No 6 (1997) No 5 (1997) No 4 (1997) No 3 (1996) No 2 (1995) No 1 (1995) No 1 (1994) No 3 (1991) No 2 (1991) No 1 (1989) More Issue