cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Sain Veteriner
ISSN : 012660421     EISSN : 24073733     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 27, No 1 (2009): JUNI" : 6 Documents clear
EFEKTIVITAS PENGOBATAN PREPARAT KOMBINASI AMOKSISILIN DAN KOLISTIN SULFAT PADAKASUS INFEKSI BUATAN Escherichia coli PATOGEN PADA AYAM BROILER Michael Haryadi Wibowo; Surya Amanu
Jurnal Sain Veteriner Vol 27, No 1 (2009): JUNI
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5484.214 KB) | DOI: 10.22146/jsv.305

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas penggunaan preparat kombinasi amoksisilin dan kolistin suIfat pada kasus infeksi buatan Escherichia coli pada ayam broiler. Sebanyak 140 ekor ayam broiler dipelihara sejak umur satu hari menurut pemeliharaan standar yang lazim. Pada umur 21 hari, ayam tersebut dipisahkan menjadi duayaitu 118 ekor sebagai ayam perlakuan sedangkan sisanya 22 ekor sebagai kontrol. Ayam perlakuan diinfeksi E. coli patogenik isolat asal unggas (EC/Kls/4/02) secara intra peritoneal dosis 0,5 ml dari suspensi Mac Farland I. Segera setelah diinfeksi ayam tersebut diobati dengan preparat kombinasi amoksisilin dan kolistin dosis 1 gram per liter,diberikan selama 7 hari. Kelompok kontrol diinfeksi E. coli sebagaimana kelompok perlakuan tetapi tidak diobati. Respon pengobatan yang diamati adalah kesembuhan ayam yang teramati tanpa adanya gejala klinis, dan penampilan ayam paska pengobatan yang meliputi: rasio jumlah ayam terjual dari jumlah yang diinfeksi, berat badan dan tingkatkonversi pakan. Untuk membandingkan pengaruh pengobatan antara kelompok perlakuan dan kontrol diuji dengan analisis Chi- Square menggunakan program Student Edition of Statistic 4.0. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa prosentase ayam terjual sebanyak 86,4 %, dengan berat rerata pada umor 38 hari 1,48kg serta nilai efisiensipakan feedconvertion ratio 1,81. Secara statistik pengaruh pengobatan tersebut terdapat perbedaan yang bermakna pada tingkat signifikasi 0,5%, antara kelompok perlakuan dan kontrol. Berdasarkan data tersebut maka dapat disimpulkan bahwa respon pengobatan pada kasus infeksi buatan E. coli menggunakan preparat kombinasi amoksisilin dan kolistin sulfat,cukup baikuntuk mengatasi infeksi tersebut.Kata kunci: Escherichia coli, kombinasi antibiotik, potensi zooteknik ayam
PERBANDINGAN PROFIL FARMAKOKINETIK DOKSISIKLIN APLIKASI INTRAVENA DAN INTRAMUSKULER PADA ULAR SANCA ( PHYTON RETICULATUS ) Agustina Dwi Wijayanti; Slamet Rahardjo; Gagak Donny Satria
Jurnal Sain Veteriner Vol 27, No 1 (2009): JUNI
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3313.913 KB) | DOI: 10.22146/jsv.306

Abstract

Penelitian farmakokinetik doksisiklin pada ular sanca (Phyton reticulatus) ini dilakukan untuk mengetahui profil fannakokinetik obat pemberian intravena dan intramuskuler serta untuk mengetahui tingkat efektivitasnya melalui perbandingan kadar dengan nilai MIC (Minimum Inhibitory Concentration) beberapa agen infeksi yang penting.Hewan yang digunakan adalah 6 ekor ular sanca dewasa yang dibagi menjadi 2 kelompok perlakuan. Kelompok 1 diberi doksisiklin dosis 25 mg/kg bb lewat vena palatina dorsalis dan kelompok 2 melalui muskulus bagian sepertiga anterior.Darah diambil secara intrakardia pada menit ke 30,jam ke-I, 2, 4, 8, 24, 48, 72, 96 dan 120 setelahpemberianobat. Plasma dikoleksi secara sentrifugasi dan diekstraksi menggunakan asam trikloroasetat. Selanjutnya plasma dianalisis dan dilakukan pengukuran kadar obat secara HPLC (High Peiformance Liquid Chromatography), menggunakan fase gerak larutan asam oxalat : metanol: asetonitril (6:3:I) dan kolom C18. Parameter farmakokinetikyang dihasilkan untuk intravena adalah AUC 7135,155 uglmL.menit, Clearence 3,5 mLimenit/kg, Cmax 95,465 uglmL,Tmax 30menit,Tl/2 44,42 jam dan Vd 13477,1mL/kg bb dan untuk intramuskuler AUC 1185,56f.lglmL.menit, Clearence 3,49mL/menit/kg, Tmax 24 jam, Cmax 0,191 ug, T1/220,6 jam, Vd 62500 mL /kg bb. Kadar rata-rata obathinggajam ke 120 (5 hari) masih di atas minimum inhibory concentration (MIC) beberapa agen infeksi yang penting pada reptilia.Untuk selanjutnya, diperlukan penelitian untuk mengetahui MIC agen-agen infeksi pada ular sanca untuk dapat secara tepat mengetahui efikasi doksisiklin.Kata kunci: profil farmakokinetik, doksisiklin, ular sanca
STRUKTUR HISTOLOGI KELENJAR LUDAH BURUNG WALET (Collocalia fusiphaga) DAN BURUNG GEREJA (Passer montanus) Soehartini Jatman; . Ariana; Mas Untoro; Yosephine Nicolory Paulal Nicolory Paula
Jurnal Sain Veteriner Vol 27, No 1 (2009): JUNI
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2711.653 KB) | DOI: 10.22146/jsv.307

Abstract

Burung walet putih (Collocalia fusiphaga) mempunyai nilai ekonomi tinggi karena menghasilkan sarang dari cairan ludah yang mempunyai kandungan nutrisi tinggi. Burung tersebut termasuk burung liar, tidak dilindungi, tetapi habitat dan budidayanya diatur oleh pemerintah Indonesia demi pemanfaatan sebesar-besarnya untuk kesejahteraanrakyat. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan struktur histologi pada burung walet (Collocalia fusiphaga) dengan burung gereja (Passer montanus) sebagai pembanding. Empat ekor burung walet dewasa dan empat ekor burung gereja dewasa, diambil rahang bawah (mandibula) dan lidahnya, dibuat preparat histologi pemotongan serial dengan ketebalan 5 um. Sampel diwarnai dengan metoda hematoksilin-eosin (HE) dan dan alcian blue-periodic acid schiff(AB-PAS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua tipe kelenjar ludah adalah tubulo alveolar kompleks yang mengandung mukosakarida bersifat asam. Kelenjar ludah burung walet tersebar merata disepanjang lapisan mukosa mandibula dan mukosa organ lidah. Distribusinya semakin sedikit ke arah ujung lidah kelenjar, dan kemudian menghilang di ujung lidah. Pada burung gereja, kelenjar ludah di lapisan mukosa mandibula hanya terdeteksi di lateraldan dorsolateral secara berkelompok, sedangkan pada organ lidah berada ditepi dorsal, dorso lateral dan ventrolateral.Kata kunci: burung walet (Collacolia fusiphaga), burung gereja (Passer montanus), kelenjar ludah, struktur histologi
STUDI METODE SCHIFF UNTUK DETEKSI KADAR FORMALIN PADA IKAN BANDENG LAUT (Chanos-chanos) Yatri Drastini; Dyah Ayu Widiasih
Jurnal Sain Veteriner Vol 27, No 1 (2009): JUNI
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4314.575 KB) | DOI: 10.22146/jsv.309

Abstract

Penambahan zat pengawet berbahaya, formalin, pada bahan pangan telah terjadi di Indonesia. Deteksi formalin dengan larutan Schiff yang relatif murah dan mudah dilakukan pada ikan bandeng laut (Chanos chanos) yang dipapar dengan formalin dengan konsentrasi 0,03% (300 ppm), 0,04% (400 ppm), dan 0,05% (500 ppm) selama 1 jam.Sensitivitas dan spesifisitas Schiff untuk deteksi formalin dipelajari. Efek formalin terhadap ikan diamati baik pH, organoleptik dan gambaran histopatologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa larutan Schiff sangat sensitif dan spesifik (masing-masing sensitivitas dan spesifisitasnya 100%) untuk mendeteksi formalin dengan konsentrasi minimal 0,05%. Nilai pH ikan baik perlakuan maupun kontrol tidak berbedajauh. Nilai organoleptik menurun seiring dengan peningkatan konsentrasi formalin. Formalin berpengaruh pada gambaran histopatologi insang, tetapi tidakpada lambung, kulit, dan daging. Formalin menyebabkan ruptur lamellae, hiperplasia sel radang, dan hipertropi epitel insang.Kata kunci: formalin, Schiff, sensitifitas, spesifisitas, histopatologi
IDENTIFIKASI GLIKOKONJUGAT PENGHANTAR BAU DAN DISTRIBUSINYA PADA EPITELIUM OLFAKTORIUS HIDUNG KALONG KAPAUK (Pteropus vampyrus) DAN LASIWEN DEIGNAN (Myotis horsfieldii) Yosephine Nicolory Paula; Teguh Budipitojo
Jurnal Sain Veteriner Vol 27, No 1 (2009): JUNI
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3755.25 KB) | DOI: 10.22146/jsv.310

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis-jenis residu gula dalam glikokonjugat menggunakan 4 jenis lektin yaitu wheat germ agglutinin (WGA), soybean agglutinin (SBA), concanavalin A (Con A), Rhicinus communis Agglutinin (RCA) dan distribusinya pada epitelium olfaktorius tunika mukosa hidung kelelawar pemakan buah (Pteropus vampyrus) dan kelelawar pemakan serangga (Myotis horsfieldii). Sebanyak 3 ekor Kalong betina dewasa dan 2 ekor Lawabetina dewasa digunakan dalam penelitian. Preparat histologinelitian dari 3 ekor kalong betina dewasa dan 3 ekor lawa betina dewasa dicat dengan pewamaan Alcian Blue-Periodic Acid Solution (AB-PAS). Analisis preparat histologi dilakukan secara deskripstif. Dapat disimpulkan bahwa residu gula pada glikokonjugat epithelium Kalong adalah mannose, N-acetylgalactosamine dan N-acetylglucosamine. Jenis-jenis residu gula pada glikokonjugat epitelium olfaktorius lasiwen adalah mannose dan N-acetylglucosamine. Distribusi residu gula tersebut terdapat pada lapisan mukus permukaan, dendrit, zona supranuklear badan sel saraf olfaktorius, duktus kelenjar Bowman, kelenjar Bowman dan sel basal, sedangkan distribusi residu gula pada epitelium olfaktorius lasiwen tersebar di lapisan mukus permukaan dan zona supranuklear badan sel saraf olfaktorius.Kata kunci: Residu gula, glikokonjugat, epitelium olfaktorius, kalong, lasiwen
EFEK EKSTRAK BUAH MERAH (Pandanus conoideus Lam.) TERHADAP AKTIVITAS ENZIM DAN mSTOPATOLOGIK HATI TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus) YANG DIINDUKSI CCl4 Y. Sanata Lingga; Oky Yosianto Christiawan; Bambang Hariono
Jurnal Sain Veteriner Vol 27, No 1 (2009): JUNI
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4619.401 KB) | DOI: 10.22146/jsv.313

Abstract

Dua puluhekor tikus putih jantan (Rattus norvegicus) dibagi dalam lima kelompok. Kelompok I merupakan kelompok kontrol, kelompok II, III, IV dan V adalah kelompok perlakuan. Senyawa CC14 dengan dosis 0,125 mL/200 g bb diberikan peroral pada kelompok tikus perlakuan sebanyak 10 kali (hari ke-l sampai hari ke-19) dengan interval 2 hari, dan kelompok kontrol diberi akuades dengan volume yang sama. Mulai hari ke-21 sampai hari ke-35 tikus kelompok IV dan V diberi ekstrak buah merah sebanyak 0,54 mL, dan kelompok I, II dan III diberi akuades dengan volume yang sarna. Pada hari ke 21,23,27 dan 35, tikus kelompok III dan V masing-masing dibunuh satu ekor untuk pemeriksaan histopatologik hati. Pada akhir penelitian (hari ke-35) semua tikus penelitian yang tersisa dibunuh untuk kemudian dilakukan pemeriksaan histopatologik hati. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian CC14 dengan dosis 0,125 mL/200 g bb sebanyak 10 kali dengan interval 2 hari menyebabkan peningkatan aktivitas enzim ALT(p<0,05) dibandingkan kelompok kontrol. Selanjutnya pada hari ke-35 terjadi penurunan aktivitas enzim ALT pada kelompok tikus perlakuan II dan IV (p<0,05) dibandingkan pada hari ke-21. Pemeriksaan histopatologik terlihat kongesti, susunan radier hepatosit tidak jelas, degenerasi hidropik dan nekrosis sentrolobuler hati. Regenerasi hati tikuskelompok perlakuan yang diberi ekstrak buah merah memperlihatkan proses regenerasi yang lebih cepat ditandai dengan susunan radier hepatosit dibandingkan kelompok tikus yang hanya diberi CC14 saja.Kata kunci : Ekstrak buah merah, enzim ALT, CC14

Page 1 of 1 | Total Record : 6


Filter by Year

2009 2009


Filter By Issues
All Issue Vol 43, No 3 (2025): Desember Vol 43, No 2 (2025): Agustus Vol 43, No 1 (2025): April Vol 42, No 3 (2024): Desember Vol 42, No 2 (2024): Agustus Vol 42, No 1 (2024): April Vol 41, No 3 (2023): Desember Vol 41, No 2 (2023): Agustus Vol 41, No 1 (2023): April Vol 40, No 3 (2022): Desember Vol 40, No 2 (2022): Agustus Vol 40, No 1 (2022): April Vol 39, No 3 (2021): Desember Vol 39, No 2 (2021): Agustus Vol 39, No 1 (2021): April Vol 38, No 3 (2020): Desember Vol 38, No 2 (2020): Agustus Vol 38, No 1 (2020): April Vol 37, No 2 (2019): Desember Vol 37, No 1 (2019): Juni Vol 36, No 2 (2018): Desember Vol 36, No 1 (2018): Juni Vol 35, No 2 (2017): Desember Vol 35, No 1 (2017): Juni Vol 34, No 2 (2016): Desember Vol 34, No 1 (2016): Juni Vol 33, No 2 (2015): Desember Vol 33, No 1 (2015): JUNI Vol 32, No 2 (2014): DESEMBER Vol 32, No 1 (2014): JUNI Vol 31, No 2 (2013): DESEMBER Vol 31, No 1 (2013): JULI Vol 30, No 2 (2012): DESEMBER Vol 30, No 1 (2012): JUNI Vol 29, No 2 (2011): DESEMBER Vol 29, No 1 (2011): JUNI Vol 28, No 2 (2010): DESEMBER Vol 28, No 1 (2010): JUNI Vol 27, No 2 (2009): DESEMBER Vol 27, No 1 (2009): JUNI Vol 26, No 2 (2008): DESEMBER Vol 26, No 1 (2008): JUNI Vol 25, No 2 (2007): DESEMBER Vol 25, No 1 (2007): JUNI Vol 24, No 2 (2006): DESEMBER Vol 24, No 1 (2006): JUNI Vol 23, No 2 (2005): DESEMBER Vol 23, No 1 (2005): JUNI Vol 22, No 2 (2004): DESEMBER Vol 22, No 1 (2004): Juli Vol 21, No 2 (2003): DESEMBER Vol 21, No 1 (2003): JULI Vol 20, No 2 (2002): Desember Vol 20, No 1 (2002): Juli Vol 19, No 2 (2001): DESEMBER Vol 18, No 1&2 (2000) Vol 18, No 2 (2000) Vol 18, No 1 (2000) Vol 17, No 1 (1999) Vol 16, No 2 (1999) Vol 16, No 1 (1998) Vol 15, No 1&2 (1996) Vol 14, No 2 (1995) More Issue