cover
Contact Name
Respati Retno Utami
Contact Email
respatiutami@unesa.ac.id
Phone
+6285736709270
Journal Mail Official
jurnalbaradha@unesa.ac.id
Editorial Address
Jl Lidah Wetan, Lidah wetan, Kecamatan Lakarsantri, Kota Surabaya, Jawa Timur 60213
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Online Baradha
ISSN : -     EISSN : 22525777     DOI : https://doi.org/10.26740/job.v17n1
JOB (Jurnal Online Baradha) is an open access journal published by the Javanese language and Literature Education Study Program, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya. First published issue of Volume 1 No 1 in 2009 with 1 article in it. JOB: Jurnal Online Baradha is published twice a year, namely in June and November. JOB (Jurnal Online Baradha) has an International Standard Serial Number (ISSN) in both print and electronic versions, e-ISSN 2252-5777 (electronic version). Focus and Scope JOB (Jurnal Online Baradha) is a scholarly journal that presents literature, culture and local wisdom, linguistics, and Javanese philology or manuscripts and javanese language teaching, including: Javanese language education Javanese tradition Javanese folklore Javanese art Javanese literary criticism Javanese morphology Javanese semantics Javanese philology
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 386 Documents
Menurunnya Transmisi Pengetahuan Tradisi Tironan Di Kalangan Generasi Muda Desa Kedungadem Kabupaten Bojonegoro -, Suci Widya Narni Yuliansari
Jurnal Online Baradha Vol. 21 No. 4 (2025): Vol 21 No 4 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/job.v21n4.p58-62

Abstract

Modernisasi membawa dampak besar terhadap perubahan pola pikir dan gaya hidup generasi muda, termasuk dalam memaknai tradisi budaya lokal seperti Tironan. Tradisi Tironan, yang merupakan bentuk syukuran weton dalam budaya Jawa, mengalami penurunan keberlanjutan akibat melemahnya transmisi pengetahuan dari generasi tua kepada generasi muda. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tata cara pelaksanaan Tironan di Desa Kedungadem, menganalisis pengaruh modernisasi terhadap keberlangsungan tradisi tersebut, serta mengidentifikasi faktor-faktor yang menyebabkan menurunnya transmisi pengetahuan budaya di kalangan generasi muda. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Tironan masih dilakukan, namun hanya sebagai formalitas tanpa pemahaman filosofis mendalam. Faktor internal seperti kurangnya keterlibatan orang tua, serta faktor eksternal berupa dominasi budaya populer dan arus teknologi informasi menjadi penyebab utama pudarnya pewarisan nilai-nilai budaya. Diperlukan upaya edukatif dan pendekatan kreatif agar tradisi Tironan tetap relevan dan diapresiasi oleh generasi muda sebagai bagian dari identitas budaya lokal.
Perilaku Teladan “Ngajeni” Kanjeng Ratu Bendara dalam Babad Bendaran sebagai Solusi Pemerintahan Diktator Boby Dwi Januarta; Moch. Alex Febrianto
Jurnal Online Baradha Vol. 21 No. 4 (2025): Vol 21 No 4 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/job.v21n4.p86-103

Abstract

Artikel dengan judul Perilaku Teladan “Ngajeni” Kanjeng Ratu Bendara dalam Babad Bendaran sebagai Solusi Pemerintahan Diktator bertujuan untuk menggali lebih dalam sosok pemimpin perempuan yang berperilaku ngajeni dan perilaku tersebut dijadikan solusi bagi pemerintahan yang diktator. Penelitian ini termasuk ke dalam penelitian filologi melihat bahwa sumber utama penelitian ini adalah Serat Babad Bendaran dengan huruf aksara Jawa. Penelitian ini menggunakan teori sosiologi sastra Alan Swingewood. Pengumpulan data menggunakan metode filologi dan studi literatur. Metode yang digunakan yaitu kualitatif deksriptif. Penelitian ini menunjukkan hasil bahwa tokoh Kanjeng Ratu Bendara memiliki perilaku ngajeni yang dapat dijadikan solusi bagi pemerintahan diktator. Perilaku “ngajeni” yang dimiliki oleh Kanjeng Ratu Bendara diantaranya suka memberi, menghargai perempuan, empati terhadap rakyatnya, berdo’a kebaikan untuk rakyatnya, dan bermusyawarah dalam memutuskan putusan. Menerapkan perilaku “ngajeni” Kanjeng Ratu Bendara tersebut, diharapkan para pemimpin maupun pemerintah di Indonesia saat ini tidak menjadi pemerintahan yang diktator.
Konsep Wejangan Dewa Ruci Kepada Bima "Urip Sajrone Palastra" Saat Mencari Tirta Pawitra ANANDA SAPUTRI, DEA
Jurnal Online Baradha Vol. 21 No. 4 (2025): Vol 21 No 4 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/job.v21n4.p104-117

Abstract

Wejangan dalam bahasa Indonesia memiliki artı yang sangat luas. Wejangan bisa disebut dengan petuah,petunjuk atau ajaran. Dalam kehidupan kita didunia tidak lepas dengan wejangan atau nasehat. Karena wejangan memiliki dampak positif bagi kehidupan. Wejangan bisa kita dapat dimana saja dan kapan saja jika kita ingin melakukan sesuatu. Didalam Serat Dewa Ruci sebagian isinya menjelaskan wejangan atau nasehat Dan hal yang menarik yaitu wejangan Dewa Ruci kepada Bima yang ingin mencari Titra Pawitra atau air kesucian. Dalam serat ini Dewa Ruci memberi wejangan "Urip sajrone Palastra Sehingga artikel ini mengambil judul "Konsep Wejangan Dewa Ruci Kepada Bima "Urip sajrone Palastra" Saat Mencari Tirta Pawitra. Penelitian ini dilatarbelakangi pentingnya melakukan atau melaksanakan sebuah nasehat yang positif dengan menggunkan teori Semiotik menurut Charles Sanders Pierce Penelitian ini diharapkan bisa memberikan informası mengenai konsep wejangan Dewa Ruci kepada Bima "Urip sajrone Palastra” yang ada pada serat Dewa Ruci. Kata Kunci : Wejangan, Nasehat. Dewa Ruci, Tirta Pawitra
Fungsi Internal Frasa Adjektival Dalam Bahasa Jawa surana, Surana; Untari, Tunjung Dwi; Pairin, Udjang; Adipitoyo, Sugeng; Wijoyanto, Danang; Rizky Wahyudi, Ahmad
Jurnal Online Baradha Vol. 21 No. 4 (2025): Vol 21 No 4 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/job.v21n4.p118-129

Abstract

Penelitian ini menyelidiki struktur sintaksis internal frasa adjektival dalam bahasa Jawa, dengan fokus pada hubungan antara inti dan pewatas serta konfigurasi kontituen—sebuah topik yang masih minim dieksplorasi baik dalam linguistik Jawa maupun teori sintaksis. Dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif yang didasarkan pada kerangka sintaksis Aarts dan Aarts, penelitian ini menganalisis 14 tuturan alami dan beberapa sumber tertulis dari Kecamatan Sidoharjo, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipan, wawancara semi-terstruktur, dan analisis dokumen, sedangkan Immediate Constituent Analysis digunakan untuk mengkaji susunan internal tiap frasa. Temuan penelitian menunjukkan bahwa frasa adjektival bahasa Jawa secara konsisten menempatkan adjektiva sebagai inti serta memungkinkan beragam pewatas—meliputi adverbia, nomina, verba, pronomina, numeralia, bahkan adjektiva lain—baik di depan maupun di belakang inti. Frasa ini memperlihatkan pola endosentris maupun eksosentris, serta sering menampilkan struktur pewatas terputus (diskontinu) maupun pewatas bertingkat. Fleksibilitas internal semacam ini menegaskan kekayaan morfosintaksis bahasa Jawa dan memperluas pemahaman tentang model struktur frasa yang selama ini dianut. Hasil penelitian ini memberikan sumbangan penting terhadap tata bahasa deskriptif bahasa Jawa serta membuka perspektif tipologis yang lebih luas mengenai organisasi sintaksis dalam bahasa-bahasa dengan morfologi kompleks.
Gaya Bahasa Retoris Geguritan Karya Yusuf Susilo Hartanto dalam Majalah Panjebar Semangat Tahun 2023 (Kajian Stilistika) Nuzulul Ilya Burhanniddawam; Yunita Ernawati
Jurnal Online Baradha Vol. 21 No. 3 (2025): Vol 21 No 3 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/job.v21n3.p77-92

Abstract

Abstrak Dalam penelitian ini akan meneliti gaya bahasa retoris apa saja yang terdapat pada tiga geguritan karya Yusuf Susilo Hartanto dalam majalah Panjebar Semangat tahun 2023. Geguritan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Ing Jaman Kebo Nyusu Gudel, Alu Lumpang Lingga Yoni, dan Seprapat Abad Reformasi. Dengan dilakukannya penelitian ini untuk mendeskripsikan gaya bahasa retoris dalam geguritan karya Yusuf Susilo Hartanto. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif dengan rangkaian reduksi data, penyanjian data, dan pengambilan kesimpulan. Hasil analisis dan pembahasan dalam penelitian ini menunjukan beberapa gaya bahasa retoris yang terdapat dalam geguritan Yusuf Susilo Hartanto yaitu aliterasi, asonasi, asindeton, hiperbol, paradoks, eufemismus, erotesis, apostrof, pleonasme, dan tautology. Dan dari ketiga geguritan tersebut, Seprapat Abad Reformasi menjadi geguritan yang paling dominan mengandung beberapa gaya bahasa retoris. Kata Kunci : Geguritan, Gaya Bahasa Retoris, Stilistika
Simbolisasi Perhitungan Tahun Surya Sengkala dalam Serat Darmasayasa Ihya' Widhyatma Hudaya
Jurnal Online Baradha Vol. 21 No. 3 (2025): Vol 21 No 3 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/job.v21n3.p93-108

Abstract

Tahun Surya Sengkala merupakan konsep penting dalam sejarah dan budaya berbagai masyarakat di dunia. Konsep ini melibatkan penggunaan simbol-simbol untuk merepresentasikan tahun-tahun dalam kalender, dengan setiap simbol memiliki makna khusus yang berkaitan dengan kepercayaan dan tradisi tertentu. Dalam konteks budaya Jawa, misalnya, konsep Tahun Surya Sengkala seringkali terkait dengan ramalan dan pertanda pertanda penting dalam kehidupan masyarakat. Setiap tahun diwakili oleh gabungan dua buah simbol, yang masing-masing memiliki makna filosofis yang dalam. Simbol-simbol ini dapat berasal dari alam, binatang, objek-objek tertentu, atau bahkan kata-kata yang memiliki makna khusus. Simbolisasi dalam Tahun Surya Sengkala memainkan peran penting dalam membentuk persepsi masyarakat terhadap waktu dan peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Melalui simbol-simbol tersebut, masyarakat dapat menginterpretasikan makna dan signifikansi dari setiap tahun dalam konteks spiritual dan sosial. Kata Kunci: Tahun Surya Sengkala, Simbolisasi, Kepercayaan