cover
Contact Name
Jaka Ghianovan
Contact Email
attaisir5@gmail.com
Phone
+6281939242810
Journal Mail Official
attaisir5@gmail.com
Editorial Address
Jl. Cipondoh Makmur Raya, RT.003/RW.009, Cipondoh Makmur, Kec. Cipondoh, Kota Tangerang, Banten 15148
Location
Kota tangerang,
Banten
INDONESIA
AT-TAISIR: Journal of Indonesian Tafsir Studies
ISSN : 27750175     EISSN : 27753239     DOI : 10.51875/attaisir.v3i2.134
AT TAISIR Journal of Indonesian Tafsir Studies includes the study of Quranic interpretations from around the world, especially in textual and contextual studies. This study aims to gain some new knowledge in the interpretation of the Koran in Islam or gain development benefits such as the topics below sanad qiraat, study of rasm manuscripts, study of lughoh understanding in al quran, school of thought in interpretation, study of the science of bayan al quran, study of maani science in al quran, al quran and science, al quran and digital space, al quran science and technology, al quran and pop culture, al quran and politics, al quran and social movements, al quran and extremism, al quran and terrorism, al quran and the environment, al quran and peace building, al quran studies and hermeneutics, living al quran, al quran and social community.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 63 Documents
KRITIK FENOMENA PEMELIHARAAN BONEKA ARWAH PERSPEKTIF METAFISIKA, PSIKOLOGI ISLAM DAN TAFSIR Al-QUR’AN Fadhila Azka , Muhammad; Vika Andriani, Nuryah
AT-TAISIR: Journal of Indonesian Tafsir Studies Vol. 2 No. 1 (2021): AT–TAISIR: Journal of Indonesian Tafsir Studies
Publisher : LPPM Institut Daarul Qur'an Jakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (366.116 KB) | DOI: 10.51875/attaisir.v2i1.86

Abstract

At-Taisir: Journal of Indonesian Tafsir Studies 02 (1), (2021) 53-66 KRITIK FENOMENA PEMELIHARAAN BONEKA ARWAH PERSPEKTIF METAFISIKA, PSIKOLOGI ISLAM DAN TAFSIR Al-QUR’AN Muhammad Fadhila Azka Institut Daarul Qur’an, Indonesia jihadwadakwah@gmail.com Abstrak Islamisasi terhadap ontologi dan metafisika yang ditandai dengan keterputusan dari tradisi Aristotelian dimana hal tersebut merupakan peralihan hakiki dari metafisika mawjūd kepada metafisika wujūd. Keyakinan mengiringi pemeliharaan boneka arwah, penggunaan boneka arwah untuk mendapatkan ketenangan, mengusir kesepian, menambah rezeki, dan semisalnya sesungguhnya adalah tipuan syaiṭān dan bentuk penguasaannya terhadap jiwa manusia yang lalai dan jauh dari Allah. Secara metafisik, syaiṭān diafirmasi keberadaannya melalui penyebutan dalam wahyu yaitu al-Qur’an dan dapat dijelaskan secara ilmiah melalui hierarki ontologis serta pendekatan semantik yang dikaitkan kepada proses pewahyuan dan kesurupan. Kebahagiaan dan kesenangan senantiasa berasal dari Allah sehingga dapat disadari dan dirasakan oleh jiwa manusia. Bahagia dan senang merupakan nikmat dari Allah.Kebahagiaan adalah terkait kepada jiwa dan raga manusia serta kemampuan memilih kebenaran dan kebaikan. Kebahagiaan tidak dapat dilepaskan dari nilai dan dapat dikatakan tidak ada kebahagiaan bersama keburukan dan kesalahan. Adapun kesenangan harus selalu dikaitkan kepada nikmat-nikmat yang diberikan baik dari sisi kebutuhan maupun keinginan dan kedudukan duniawi. Penyelesaian bagi berbagai permasalahan psikologis manusia juga diperkirakan dapat melalui pendekatan tasawuf, khususnya perspektif maqamāt dan ahwal. Penekanan terhadap aspek spiritual, intelektual dan fisik saling berkaitan dalam pembentukan seseorang sehingga mampu membina pembangunan psikologi yang sehat dan kepribadian yang kokoh serta jasad yang bersih dan hal ini bisa ditemukan dan dijalani melalui dasar dan aturan ilmu tasawuf. Karena inilah maka ilmu tasawuf bisa menjadi dasar Islamisasi bagi ilmu psikologi sehingga terwujud psikologi Islam. Kata Kunci: Boneka Arwah, Metafisika Islam, Psikologi Islam, Kebahagiaan, Tasawuf Abstract This paper focused on the metaphysical realm called ruh, jinn and syathan. The existence of these three entities is determined by the Qur'an. The phenomenon that becomes the background of the problem is the belief that accompanies the maintenance of spirit dolls, so the author tries to write an analysis based on the construction of the verses of the Qur'an and then discuss the study of Islamic metaphysics because everything that exists has an ontological status, as well as a study of Islamic psychology on the soul, happiness, with the aim of answering the problem, namely "How is the phenomenon of spirit puppets in the review of the Qur'an with an Islamic metaphysics approach and Islamic psychology?" so that it can be a reference by Muslim intellectuals who have authority in society as a whole. The author finds that there has been an Islamization of ontology and metaphysics which is marked by a break from the Aristotelian tradition where it is an essential transition from mawjud metaphysics to manifest metaphysics. The use of spirit dolls to get peace, get rid of loneliness, increase sustenance, and the like is actually a trick of the syaiṭān and a form of mastery over the human soul who is heedless and far from God. Metaphysically, syaiṭān is confirmed by its existence through mention in revelation, namely the Qur'an and can be explained scientifically through an ontological hierarchy and a semantic approach that is associated with the process of revelation and trance. Happiness and pleasure must always be associated with God so that it can be realized and felt by the human soul. Happiness and pleasure are blessings from Allah. Happiness is related to the human body and soul and the ability to choose truth and goodness. Happiness cannot be separated from values and it can be said that there is no happiness with evil and mistakes. As for pleasure, it must always be related to the blessings given both in terms of needs and desires and worldly positions. The solution to various human psychological problems is also expected to be through a Sufism approach, especially the maqamāt and ahwal perspectives. Emphasis on spiritual, intellectual and physical aspects are interrelated in the formation of a person so he’s able to foster healthy psychological development and a strong personality and a clean body and this can be found and lived through the basics and rules of Sufism. Because of this, the science of Sufism can be the basis for Islamization of psychology so that Islamic psychology can be realized
PANDANGAN AL-QUR`AN DAN AS-SUNNAH TENTANG WASATIYYAH (MODERASI) SERTA IMPLEMENTASINYA TERHADAP HUKUM ISLAM Khoirun Nidhom
AT-TAISIR: Journal of Indonesian Tafsir Studies Vol. 2 No. 2 (2021): AT–TAISIR: Journal of Indonesian Tafsir Studies
Publisher : Institut Daarul Qur'an Jakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (383.538 KB) | DOI: 10.51875/attaisir.v2i2.90

Abstract

The discussion of the Wasathiyyah Concept (Moderation) in the review of the Qur'an and Sunnah is a very urgent issue. Phenomenon that has occurred and developed in the global community, including Indonesia, to date when things are violent, radical and others, Muslims are always the victims. And what becomes very strange and ironic is that the perpetrators themselves are Muslims who do not understand the essence of the concept of wasathiyyah, especially in the field of Islamic law, which by chance this problem can be said that almost no one has studied it. Most scientists only study the concept of wasathiyyah in general. So from that this literacy tries to provide an understanding of the implementation of the wasatiyyah concept in the field of Islamic law. This research uses literary methods and literacy studies from classical and contemporary scholars who are experts in their fields. The results of this study definitely answer the implementation of the wasathiyyah concept in the field of Islamic law in accordance with the instructions of the Al-Qur`an and As-Sunnah.
IMPLEMENTASI KONSEP MODERASI BERAGAMA: Rekonsiliasi Terhadap Konflik Pengeras Suara Di Masjid Zukhruful Irbah; Ida Kurnia Shofa; Aiga Georgia; Anggara Putra
AT-TAISIR: Journal of Indonesian Tafsir Studies Vol. 2 No. 2 (2021): AT–TAISIR: Journal of Indonesian Tafsir Studies
Publisher : Institut Daarul Qur'an Jakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (305.534 KB) | DOI: 10.51875/attaisir.v2i2.91

Abstract

Atas disahkannya Surat Edaran Nomor SE. 05 Tahun 2022 Tentang Pedoman Penggunaan Pengeras Suara di Masjid dan Musala, memunculkan polemik di kalangan masyarakat. Sebagaimana yang telah diketahui bahwasannya Indonesia terdiri dari berbagai agama, baik agama Islam sebagai agama mayoritas maupun agama seperti Hindu, Budha, Kristen dan Konghucu sebagai agama minoritas, sehingga masing-masing kalangan baik yang mayoritas maupun minoritas harus mendapatkan hak dan kewajiban yang sama untuk hidup bernegara. Indonesia yang mayoritas beragama Islam, terdapat kelompok yang menolak adanya peraturan tersebut karena dinilai dapat menghalangi atau menghambat syiar Islam. Pemahaman akan hal ini cukup menjadi sebuah kekhawatiran kontekstualisasi ajaran Islam sendiri. Al-Qur’an telah menyinggung permasalahan ini melalui surah Al Baqarah ayat 143 tentang bagaimana bersikap moderat dalam beragama, termasuk hak-hak dan kewajiban terhadap agama lain. Allah menjadikan umat Nabi Muhammad sebagai umat yang terbaik (Al Wasath). Dalam tafsir At-Thabari, kata ummatan wasathan bermakna penengah (hakim). Kemudian dalam tafsir Al-Qurthubi terdapat 3 makna, pertama yaitu sebagai agama yang adil, kedua, sebagai penengah dan ketiga, sebagai umat yang terpilih. Adapun menurut Buya Hamka Ummatan Wasathan memiliki arti penengah. Nilai-nilai islam dibangun atas dasar pola pemikiran yang lurus dan tidak berlebih-lebihan. Islam memberikan kelonggaran dalam cara mensyiarkan agama terhadap agama lain untuk mendapatkan haknya sehingga tidak terganggu oleh pengeras suara di masjid. Konsep moderasi beragama merupakan jalan tengah di antara keberagaman agama khususnya yang ada di Indonesia. Pemahaman Islam secara moderat dapat menjaga hubungan yang harmonis, dengan begitu islam akan memberikan kesan dengan wajah yang ramah, humaniter dan toleransi. Hal ini sekaligus menjadi jawaban dalam menghadapi era 5.0 yang mana pemahaman terhadap moderasi beragama menjadi kebutuhan yang urgent seiring dengan perkembangan zaman dan cara menyikapi berbagai permasalahan yang timbul. Jika dikorelasikan antara kontekstualisasi Ummatan Wasathan dengan konflik yang sedang terjadi, maka dapat disimpulkan bahwa umat islam dapat mensyiarkan agama islam melalui pengeras suara masjid yang didasari peraturan-peraturan yang jelas sehingga dapat berlaku adil dan menjaga keharmonisan dengan masyarakat non muslim. Dalam kepenulisan ini digunakan metode research library untuk menjawab permasalahan di atas. Dengan adanya Surat Edaran Nomor Se. 05 Tahun 2022 Tentang Pedoman Penggunaan Pengeras Suara Di Masjid Dan Mushola, dimaksudkan untuk mewujudkan ketentraman, ketertiban, dan kenyamanan bersama dengan ketentuan- ketentuan, pemasangan dan penggunaan serta tata cara penggunaan pengeras suara, di antaranya adalah pengeras suara terdiri atas pengeras suara dalam dan luar. Adapun ketentuan pemasangan dan penggunaan adalah volume pengeras suara diatur sesuai dengan kebutuhan, dan paling besar 100 dB (seratus desibel). Adzan dikumandangkan dengan pengeras suara luar akan tetapi setelah adzan dikumandangkan dalam pedoman tertulis hanya diperbolehkan menggunakan pengeras suara dalam. Volume pengeras suara dapat dikondisikan sesuai keadaan sekitar dan tidak berlebih-lebihan dalam penggunaan speaker luar ketika di masjid tersebut sedang menjalani kegiatan dan acara tertentu. Berpikir dan bersikap moderat merupakan hal yang harus diprioritaskan untuk mencapai tujuan bersama yaitu menjalani kehidupan berwarga negara yang harmonis diatas semua perbedaan.
PEREMPUAN DALAM PERSPEKTIF ALQUR’AN, STUDI TAFSIR ATH-THABARI Mohamad Mualim
AT-TAISIR: Journal of Indonesian Tafsir Studies Vol. 2 No. 2 (2021): AT–TAISIR: Journal of Indonesian Tafsir Studies
Publisher : Institut Daarul Qur'an Jakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (271.529 KB) | DOI: 10.51875/attaisir.v2i2.92

Abstract

This research discusses the views of the Alquran towards women, and the various important roles that are embedded in women in social life, from a small scale in the form of a family, as well as on a large scale as the leader of a group, groups and even the leader of a nation. So phenomenal is the role of this woman that the Alquran mentions many verses in the Alquran. This article will also discuss several types of women from the perspective of the Koran, as well as some of the views of scholars of interpretation of the role of women from time to time.
PENERAPAN NILAI KEJUJURAN DALAM PERISTIWA ISRA MI’RAJ DAN BURUNG HUDHUD Rizki Aminullah
AT-TAISIR: Journal of Indonesian Tafsir Studies Vol. 2 No. 2 (2021): AT–TAISIR: Journal of Indonesian Tafsir Studies
Publisher : Institut Daarul Qur'an Jakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (333.953 KB) | DOI: 10.51875/attaisir.v2i2.93

Abstract

Honesty is one of the commendable qualities that must be possessed by everyone, both believers and non-believers. In everyday life, this honest nature must be reflected in every activity. It often happens that someone's honesty is greatly influenced by the situation at hand. If the situation is favorable, then do not hesitate to tell the truth, but on the contrary if the situation is not favorable, then it is likely that honesty is hidden. This paper examines the application of the value of honesty contained in the Qur'an. Several events in the Qur'an write about the application of the value of honesty, including the Isra Mi'raj incident and the Hudhud bird incident. This paper will describe the conditions in which the application of the value of honesty in the isra mi'raj and hudhud bird events has a background and consequences in its implementation. This is expected to be a lesson for Muslims in particular, in applying the value of honesty in everyday life.
ISLAM DAN PENDIDIKAN MULTIKULTURAL Sobri Sobri
AT-TAISIR: Journal of Indonesian Tafsir Studies Vol. 2 No. 2 (2021): AT–TAISIR: Journal of Indonesian Tafsir Studies
Publisher : Institut Daarul Qur'an Jakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (368.569 KB) | DOI: 10.51875/attaisir.v2i2.94

Abstract

This study aims to determine the view that multicultural education in Islamic education has been taught, so that the relationship between humans and other humans cannot be separated. This research method is a library research method, namely a method of reviewing written data both books, literature and notes that have a correlation with the discussion. This study uses a descriptive-analytic method, which uses existing sources, then describes them, then analyzes the correlation between Islamic education and multicultural education. The results of this study conclude that education is a process of training and teaching, coaching, training, teaching through teaching and training efforts. Islam sees that education is the most strategic means of uplifting human dignity in various fields of life and implies that there are three dimensions in an effort to develop human life, namely: the dimension of worldly life, the dimension of ukhrawi life, the dimension of the relationship between worldly life and ukhrawi. Multicultural education must support the main principles in eradicating cliché views of race, culture and religion.
PENGARUH KEDISIPLINAN MEMBACA AL-QUR’AN DAN AKHLAK TERHADAP PRESTASI BELAJAR SANTRI I’DAAD SD SHIGAR PUTRA PONDOK PESANTREN TAHFIZH DAARUL QUR’AN Maryati Maryati
AT-TAISIR: Journal of Indonesian Tafsir Studies Vol. 2 No. 2 (2021): AT–TAISIR: Journal of Indonesian Tafsir Studies
Publisher : Institut Daarul Qur'an Jakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (332.941 KB) | DOI: 10.51875/attaisir.v2i2.95

Abstract

This research was conducted to determine the discipline of reading Al-Qur'an and morality towards the achievement of the sixth grade in learning Al-Qur'an at primary boarding school for boys of I'daad Shigar, Daarul Qur'an Islamic Boarding School. This research is a quantitative research with a survey method. Data collection techniques for disciplinary variable reading Al-Qur'an and morality were obtained through questionnaires that had been tested for validity and reliability. Data analysis techniques were carried out statistically with Crosstab techniques using the SPSS version 20 program involving 32 correspondents. From the research it can be produced that the influence of the discipline of Al-Qur'an reading and morality on Al-Qur'an learning achievement has a significant relationship between the two disciplinary and moral variables on students' learning achievement. Based on the results of calculations in statistics, it can be concluded: (1) Al-Qur'an learning achievement is influenced by Al-Qur'an reading discipline. (2) Al-Qur'an learning achievement is influenced by morals. (3) there is a positive relationship between the discipline of Al-Qur'an reading and morality towards the learning achievement of the Al-Qur'an students. This study can provide a positive contribution in building the discipline of students and the development of educational supervision techniques, especially in the supervision of the Al-Qur'an learning system, so it can encourage the improvement of quality in education.
PERTAHANAN NASIONAL DALAM SURAT ALI ‘IMRAN AYAT 200 MENURUT PENAFSIRAN HAMKA DAN M. QURAISH SHIHAB Jaka Ghianovan
AT-TAISIR: Journal of Indonesian Tafsir Studies Vol. 3 No. 1 (2022): AT–TAISIR: Journal of Indonesian Tafsir Studies
Publisher : Institut Daarul Qur'an Jakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (334.059 KB) | DOI: 10.51875/attaisir.v3i1.97

Abstract

Eksistensi negara maju dipengaruhi oleh tingkat keamanan internal. Tantangan yang dihadapi oleh suatu negara tidak hanya dari luar negeri, faktor dalam negeri pun mempengaruhi. Pertahanan nasional terdiri dari dua jenis yakni pertahanan militer dan non militer. Jenis pertama merupakan pertahanan yang melibatkan kalangan militer bersenjata. Sedangkan kedua dilakukan oleh kalangan sipil yang tidak bersenjata. Penelitian ini membahas penafsiran surat Ali Imran ayat 200 menurut Hamka dalam Tafsir Al-Azhar dan Muhammad Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah. Artikel ini lebih fokus kepada redaksi Wa Ra>bit}u> . Hamka berpendapat bahwa redaksi tersebut berarti Siap siaga dalam menjaga keamanan di perbatasan Da>r al-Isla>m dari serangan musuh di Da>r al-Kufr. Muhammad Quraish Shihab berpendapat bahwa redaksi tersebut bermakna sabar dalam mempertahankan keamanan negara. Dengan ini dapat diambil kesimpulan bahwa usaha untuk mempertahankan keamanan negara selaras dengan firman Allah Swt. Yang terdapat dalam surat Ali Imran ayat 200
KONSEP PENDIDIKAN TASAWUF DALAM KITAB FAIDHURRAHMAN SEBAGAI UPAYA PENANGANAN KRISIS SPIRITUAL Zukhruful Irbah; Ida Kurnia Shofa; Hana Rahadatul Aisy
AT-TAISIR: Journal of Indonesian Tafsir Studies Vol. 3 No. 1 (2022): AT–TAISIR: Journal of Indonesian Tafsir Studies
Publisher : Institut Daarul Qur'an Jakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (331.37 KB) | DOI: 10.51875/attaisir.v3i1.98

Abstract

Pada zaman modern saat ini krisis spiritual tergerus oleh berbagai kemajuan peradaban. Tidak jarang saat ini banyak dijumpai banyaknya masalah yang berkaitan tentang moral dan etika. Pada kenyataannya keberhasilan secara material dan intelektual saja tidaklah cukup, pendidikan agama membawa manusia lebih dekat kepada Tuhannya dan membuat manusia tidak kehilangan kendali atas kehidupan, kehilangan akal atau bingung menghadapi dunia modern yang berkembang pesat yang penuh dengan persaingan dalam berbagai hal dan individualisme yang tinggi. Pendidikan sufi atau tasawuf merupakan usaha secara sadar ke arah yang diharapkan, yaitu terbentuknya generasi yang berilmu dan berakhlak mulia, serta tidak hanya berakhlak mulia di luar, tetapi juga berakhlak mulia berdasarkan hukum Islam, yaitu mendukung Al-quran dan Hadits, melalui hati dan pikiran yang mulia yang bertawakal kepada Allah swt (Tauhid). Dalam kepenulisan ini digunakan metode research library untuk menjawab permasalahan di atas, serta literasi dari kitab Faidhurrahman, jurnal dan artikel. Hasil penelitian ini ini memuat inti dari tasawuf yaitu Takhalli, Tahalli dan Tajalli yang mana masing-masing terdiri dari berbagai aktivitas yang dapat menyucikan jiwa seorang individu.
KUALITAS RUHANI GURU, ADAB, SANAD, DAN PENGARUHNYA TERHADAP PELAKSANAAN PENDIDIKAN : TINJAUAN BERDASARKAN SURATAL KAHFI AYAT 60-82 Muhammad Fadhila Azka
AT-TAISIR: Journal of Indonesian Tafsir Studies Vol. 3 No. 1 (2022): AT–TAISIR: Journal of Indonesian Tafsir Studies
Publisher : Institut Daarul Qur'an Jakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (296.423 KB) | DOI: 10.51875/attaisir.v3i1.100

Abstract

Tulisan ini ingin memuat satu kajian yang menganalisis unsur-unsur utama pendidikan yang berkisar pada manusia dimana manusia terdiri dari jasmani dan ruhani, kemudian pada kisaran hakikat ilmu dan pengaruhnya kepada proses Pendidikan itu sendiri mengacu kepada pandangan Islam yang di tilik melalui Tafsir al Qur’an atas surat al kahfi ayat 65-82, filsafat pendidikan Islam dan tasawuf. Metodologi yang digunakan adalah library research atau studi literatur. Hasil yang didapat adalah Pendidikan merupakan suatu keseluruhan daya budaya yang mempengaruhi kehidupan perorangan maupun kelompok masyarakat. Artinya, pendidikan memiliki signifikansi berupa pembentukan, pengembangan, dan modifikasi. Bagi penulis, hal tersebut menggambarkan pengetahuan yang terus berkembang dan pendidikan senantiasa berkisar pada gagasan dan perbuatan alias ilmu dan amal. Guru menjadi sumber pengetahuan tunggal dan bahkan menjadi pengetahuan itu sendiri sehingga bagaimanapun keadaannya adalah sangat naïf untuk salah dan dikritik. Otoritas ilmu sepenuhnya ada pada guru. Dalam pendidikan selain Islam, hubungan terjalin hanya antara yang mengajar(guru) dengan yang diajar(murid) secara bilateral. Tindakan timbal balik yang terjadi pun hanya bersifat mekanistik, baik berupa sesuatu yang kompleks, ringkas, dan horizontal. Sementara dalam pendidikan Islam, Allah terlibat dalam proses pendidikan. Terdapat hubungan langsung antara Allah dengan guru, Allah dengan murid, dan hubungan antara guru dan murid. Hal tersebut bersifat fluid dan vertikal sekaligus horizontal. Andaikan hubungan seorang guru dengan Allah tidak dijaga sepanjang proses pendidikan, maka akan memberi dampak langsung bagi penerimaan murid. Begitu pula jika hubungan murid dengan Allah tidak terjaga maka akan memberi dampak kepada penyampaian gurunya.