cover
Contact Name
Yuniardi Fadilah
Contact Email
fajrulfalah.fib@live.undip.ac.id
Phone
+6285259699793
Journal Mail Official
jurnalwicara@gmail.com
Editorial Address
Prodi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro, Jalan Prof. Soedarto SH., Tembalang, Semarang, Indonesia
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Wicara
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 28300904     DOI : -
Core Subject : Humanities, Social,
Wicara: Jurnal Sastra, Bahasa, dan Budaya berfokus pada publikasi artikel penelitian sastra, bahasa, dan budaya. Fokus dan tujuan jurnal ini adalah menerbitkan tulisan analisis kritis dan teoritis terhadap segala objek penelitian kebahasaan, kesastraan, dan kebudayaan. Oleh karena itu, kami akan menerbitkan artikel orisinil yang berisi pemikiran kritis dalam ruang lingkup sastra, bahasa, dan budaya kontemporer. Adapun cakupan Jurnal Wicara meliputi: studi sastra interdisipliner; sastra kontemporer; studi sastra teoretik; sastra anak; linguistik; linguistik terapan; studi linguistik interdisipliner; filologi; sastra dan tradisi lisan; dan kebudayaan
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 1: April 2022" : 6 Documents clear
Nasionalisme, Segregasi, dan Separatisme dalam "Mayat yang Mengambang di Danau" Karya Seno Gumira Ajidarma Herpin Nopiandi Khurosan
Wicara: Jurnal Sastra, Bahasa, dan Budaya Vol 1, No 1: April 2022
Publisher : Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (261.26 KB) | DOI: 10.14710/wjsbb.2022.14332

Abstract

Sebagai lokus penolakan terhadap imperial, kajian nasionalisme dalam karya sastra nyaris selalu dioposisikan dengan kolonialisme semata. Untuk mengisi celah kajian yang ada sebelumnya, penulis akan mengkaji cerpen Mayat yang Mengambang di Danau karya Seno Gumira Ajidarma dengan tak hanya menghadapkan wacana nasionalisme pada kolonialisme, namun juga pada wacana lain yakni segregasi dan separatisme. Dalam penelitian ini penulis menggunakan perspektif pascakolonialisme dan metode diskursif untuk melihat bagaimana cerpen tersebut membentuk wacana nasionalisme yang labil dan terbuka untuk menjadi sesuatu yang lain. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa wacana nasionalisme itu labil tidak hanya semata ketika dihadapkan pada kolonialisme, namun juga ketika dihadapkan dengan wacana segregasi dan separatisme yang pada akhirnya melahirkan penindasan paralel tanpa ujung. 
Aspek Tasawuf dalam Video Musik Ceuk Aing Karya Sujiwo Tejo: Kritik terhadap Praktik Keagamaan di Indonesia Marta Widyawati
Wicara: Jurnal Sastra, Bahasa, dan Budaya Vol 1, No 1: April 2022
Publisher : Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (360.717 KB) | DOI: 10.14710/wjsbb.2022.14342

Abstract

Pluralitas agama di Indonesia seringkali menimbulkan konsekuensi berupa tantangan dalam menciptakan kehidupan masyarakat yang damai dan toleran. Penelitian ini bertujuan menganalisis tentang aspek tasawuf yang diekspresikan oleh video musik Ceuk Aing (2020) dalam kaitannya dengan kondisi keagamaan di Indonesia. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan teori Semiotika dan konsep Tasawuf. Hasil penelitian menunjukkan bahwa video musik Ceuk Aing (2020) karya Sujiwo Tejo dkk mengekspresikan imanensi Tuhan di alam semesta. Karya tersebut menunjukkan bahwa pemahaman atas kesatuan ontologis dalam wahdatul wujud dapat digunakan sebagai dasar untuk menumbuhkan toleransi. Dalam hal ini, manusia pada dasarnya egaliter dan nisbi di hadapan Tuhan. Dengan demikian karya Ceuk Aing berusaha memberikan solusi alternatif untuk menyikapi konflik beragama khususnya di Indonesia. Kesadaran tentang imanensi Tuhan semestinya dapat membuat manusia lebih menghargai perbedaan agama dan tidak memaksakan keyakinannya terhadap kelompok agama lain.
Keberkaitan Antar Unsur Realisme Magis Wendy B. Faris pada Novel "Wingit" Karya Sara Wijayanto Siti Komariya
Wicara: Jurnal Sastra, Bahasa, dan Budaya Vol 1, No 1: April 2022
Publisher : Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (253.113 KB) | DOI: 10.14710/wjsbb.2022.14320

Abstract

Wingit menjadi novel milik Sara Wijayanto yang termasuk kategori best seller di tahun 2021. Novel ini memuat cerita tentang hantu-hantu yang pernah ditemui Sara selama menjadi seorang naravlog horor. Salah satu kisah dalam novel ini yang menarik untuk diteliti berjudul Mary. Mary berkisah tentang hantu yang cukup mengganggu secara fisik bagi tokoh Oddie. Melalui lima unsur realisme magis Wendy B. Faris, kisah tentang Mary akan dikulik sehingga dapat dikategorikan sebagai realisme magis. Kelima unsur yang telah dianalisis tersebut kemudian akan dikaitkan satu sama lain sehingga dapat terlihat hubungan kausalitas antara satu unsur dengan unsur yang lainnya. Keberkaitan antar unsur ini yang kemudian akan menjadi penentu adanya indikasi realisme magis pada kisah Mary di novel Wingit karya Sara Wijayanto ini.Kata Kunci: Wingit, Realisme Magis, Sara Wijayanto
Unsur “Penasaran: Menarik dan Menggelitik” dalam “Permainan Bahasa” pada Teks Promosi Pariwisata Ary Setyadi
Wicara: Jurnal Sastra, Bahasa, dan Budaya Vol 1, No 1: April 2022
Publisher : Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (338.074 KB) | DOI: 10.14710/wjsbb.2022.14497

Abstract

AbstractThe main and especially function of language, including Indonesian, is a communication tool, both in the form of spoken and written variety. The content of the message can be packaged in a straightforward manner/denotation or figure of speech/connotation. The existence of Indonesian as a tourism promotion tool, because tourism objects are not always packaged in a straightforward manner, but can be packaged in a figurative way (so that the form of "language games" is used). Because the existence of promotional texts that contain elements of the form of "language games" has strategic value, which is able to arouse a sense of "curious: interesting and tickling" (for potential tourists). Based on the results of data analysis, it was found that there are three kinds of promotional text forms that contain elements of the form of "language games", namely: 1. form of deviation (sentence structure pattern), 2. form of: a. ambiguous type, and b. game sounds of words (word elements), and 3. accuracy of diction. Research implementations departs from three strategic stages, as applicable in linguistic research, namely: 1. stage of providing/collecting data, 2. stage of data classification and analysis, and 3. stage of writing/compiling reports. The application of the theory departs from linguistic theory: phonology, morphology, syntax, and semantics. Application of these four fields implies the existence of: language, users, uses, and usage. Provision of data departs from the findings of the listener, and author's creation efforts. The existence of data and data analysis serves as an effort to prove, namely that the existence of promotional texts that contain elements of the form of "language games" has strategic value. Keywords: Strategic, language game, text, tourism promotion AbstrakFungsi utama dan terutama bahasa, termasuk bahasa Indonesia, adalah alat komunikasi, baik ragam lisan maupun tulis. Isi pesan dapat dikemas secara lugas atau majas. Keberadaan bahasa Indonesia sebagai alat promosi pariwisata, sebab objek pariwisata tidak selamanya dikemas lugas, tetapi dapat dikemas secara majas (sehingga memanfaatkan bentuk “permainan bahasa”). Teks promosi yang berunsur bentuk “permainan bahasa” bernilai strategis mampu membangkitkan rasa “penasaran: menarik dan menggelitik” (bagi calon wisatawan). Berdasarkan hasil analisis data didapatkan tiga macam bentuk teks promosi yang berunsur bentuk “permainan bahasa”, yaitu: 1. adanya bentuk deviasi (pola struktur kalimat), 2. adanya bentuk: a. tipe ambigu, dan b. permainan bunyi kata (unsur kata), dan 3. adanya ketepatan diksi. Pelaksanaan penelitian bertolak pada tiga tahapan strategis, yaitu: 1. penyediaan data, 2. klasifikasi dan analisis data, dan 3. penyusunan laporan. Adapun penerapan teori bertolak pada teori linguistik: fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik. Penerapan keempat bidang tersebut mengisyaratkan keberadaan: bahasa, pengguna, penggunaan, dan kegunaan. Adapun penyediaan data bertolak dari temuan penyimakan, dan upaya penciptaan penulis. Analisis data berfungsi sebagai upaya pembuktian, yaitu bahwa keberadaan teks promosi yang berunsur bentuk “permainan bahasa” bernilai strategis.Kata kunci: Strategis, permainan bahasa, teks, promosi pariwisata
Interpretasi Lirik Lagu “Pilu Membiru”, “Rehat”, “Sulung”, dan “Saudade” Karya Kunto Aji dalam Album Mantra-Mantra Sebuah Kajian Semiotika Riffaterre Intan Tri Retnowati; Moh. Muzakka; Laura Andri Retno Martini
Wicara: Jurnal Sastra, Bahasa, dan Budaya Vol 1, No 1: April 2022
Publisher : Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (308.558 KB) | DOI: 10.14710/wjsbb.2022.14348

Abstract

AbstractThe purposes of this study are to describe heuristic and hermeneutic reading, matrices and model, hypogram, and indirect expression of the lyrics of the songs “Pilu Membiru”, “Rehat”, “Sulung”, dan “Saudade” by Kunto Aji in the Mantra-Mantra albums. This study uses descriptive method. The data was collected using listening and note-taking technique. The result of this study show that (1) the heuristic and hermeneutic reading, (2) matrices and model, (3) hypogram actual and potential, and (4) indirect expression of the lyrics of the songs “Pilu Membiru”, “Rehat”, “Sulung”, dan “Saudade” by Kunto Aji in the Mantra-Mantra albums using Riffaterre’s semiotic theory.Keywords: song lyrics, Riffaterre semiotic, Mantra-Mantra, Kunto Aji, hypogram AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pembacaan heuristik dan hermeneutik, matriks dan model, hipogram, dan ketidaklangsungan ekspresi dari lirik lagu “Pilu Membiru”, “Rehat”, “Sulung”, dan “Saudade” karya Kunto Aji dalam album Mantra-Mantra. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif.  Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik menyimak dan mencatat. Hasil penelitian menunjukkan (1) pembacaan heuristik dan hermeneutik, (2) matriks dan model, (3) hipogram aktual dan potensial, dan (4) ketidaklangsungan ekspresi dari lirik lagu “Pilu Membiru”, “Rehat”, “Sulung”, dan “Saudade” karya Kunto Aji dalam album Mantra-Mantra yang menggunakan teori semiotika Riffaterre.Kata kunci: lirik lagu, semiotika Riffaterre, Mantra-Mantra, Kunto Aji, hipogram
Proyeksi Nasionalisme Tribal Hannah Arendt: Xenofobia dan Diskriminasi Rasial dalam Cerpen “Eksodus” Karya Seno Gumira Ajidarma Yuniardi Fadilah; Fajrul Falah
Wicara: Jurnal Sastra, Bahasa, dan Budaya Vol 1, No 1: April 2022
Publisher : Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (325.138 KB) | DOI: 10.14710/wjsbb.2022.14331

Abstract

Persoalan minoritas dan mayoritas dalam cerpen “Eksodus”, sedari awal, menonjolkan dominasi salah satu pihak terhadap pihak lain. Dominasi ini diceritakan pada hampir seluruh penceritaan hingga menampilkan bentuk ketidakadilan. Di sisi lain, penggunaan sudut pandang orang pertama dalam cerpen berusaha mencitrakan posisi orang-orang yang terdominasi, bahkan cenderung mengalami proses eksklusi, dengan segala macam pengalaman buruk sepanjang cerita. Proses dominasi serta eksklusi, yang hadir dalam cerpen antara minoritas dan mayoritas, ini mengarah pada isu xenofobia dan diskriminasi rasial. Kedua isu tersebut, dengan melihat peristiwa yang ditulis dalam cerpen, merupakan hasil dari menguatnya keberadaan nasionalisme tribal. Mendasarkan analisis dengan konsep nasionalisme tribal yang dijabarkan oleh Hannah Arendt, penelitian ini menemukan bahwa cerpen, sebagai kritik, memproyeksikan bentuk nasionalisme tribal yang mewujud pada xenofobia dan diskriminasi rasial. Kedua hal itu tercipta karena pelabelan yang menggeneralisasi tokoh para pendatang atas stigma, suku, asal, dan historisitasnya semata. Selain itu, dominasi tokoh penduduk setempat—mayoritas—atas minoritas juga mewujud dalam bentuk-bentuk kekerasan, sebagai manifestasi xenofobia dan rasialisme, yang terjadi: pengusiran, penolakan, pembunuhan, bahkan pemusnahan.

Page 1 of 1 | Total Record : 6