cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Rekayasa Proses
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject :
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 7, No 2 (2013)" : 5 Documents clear
Pelepasan Lambat (Slow Release) Diazinon dari Mikrokapsul Melamin Urea Formaldehid Retno Sulistyo Dhamar Lestari; Rochmadi; Supranto
Jurnal Rekayasa Proses Vol 7, No 2 (2013)
Publisher : Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (517.052 KB) | DOI: 10.22146/jrekpros.4949

Abstract

Konsep dasar slow release adalah pengaturan pelepasan bahan aktif dari mikrokapsul dengan pelapisan dari bahan semi permeable yang tidak larut dalam air atau bahan berpori yang permeable. Pengaturan ketebalan dinding mikrokapsul dapat digunakan untuk mengendalikan kecepatan difusi bahan aktif dari mikrokapsul. Mikrokapsul dengan bahan inti pestisida diazinon dibuat dengan metode insitu polimerisasi, menggunakan melamin, urea, dan formaldehid sebagai bahan dinding mikrokapsul. Polimerisasi dilakukan pada suhu 50˚C, pH 3, dengan waktu homogenisasi 30 menit dan waktu mikroenkapsulasi 2 jam. Pengujian kecepatan pelepasan pestisida dilakukan dengan merendam sejumlah mikrokapsul melamin urea formaldehid (MUF) dalam aquades dengan pH yang bervariasi dan ketebalan dinding mikrokapsul yang berbeda. Pada penelitian ini, diameter mikrokapsul MUF diperoleh pada kisaran 50 sampai dengan 160 μm. Tanpa penambahan surfaktan, hasil mikrokapsul memiliki ketebalan 13,8 μm. Sedangkan dengan penambahan SDS dan PVA tebal dinding mikrokapsul yang dihasilkan mengalami penurunan sebesar 45%, yaitu menjadi 7,55 μm. Pada mikrokapsul dengan ketebalan 13,8 μm, kecepatan pelepasan pestisida berada pada kisaran 0,52 x 10-6 sampai dengan 1,69 x 10-6 mg/cm2·s. Sedangkan pada mikrokapsul dengan ketebalan 7,55 μm, kecepatan pelepasan diazinon meningkat sebesar 74%, yaitu berada pada kisaran 0,66 x 10-6 sampai dengan 3,4 x 10-6 mg/cm2·s. Kata kunci : slow release, mikrokapsul melamin urea formaldehid, diazinon The basic concept of slow release is to control the active ingredient release from microcapsules by means of coating made from either water-insoluble, semi permeable or porous permeable materials. By designing microcapsules wall thickness, the diffusion rate of active ingredient can be controlled. Microcapsules containing diazinon pesticides as a core material have been prepared by in-situ polymerization using melamin urea formaldehyde prepolymer as the wall material. The polymerization had been done at 50 °C and pH 3, with homogenization time of 30 minutes, and microencapsulation time of 2 hours. To measure pesticide release rate, a number of Melamine Urea Formaldehyde (MUF) microcapsules were soaked in aquadest at various pH and microcapsules wall thicknesses. In this study, the diameter of MUF microcapsules ranged from 50 to 160 μm. Without surfactant addition, the microcapsule wall thickness was 13.8 μm, but by adding SDS and PVA the wall thickness of microcapsule decreased by 45% i.e. around 7.55 μm. For microcapsules with wall thickness of 13.8 μm, the pesticide releasing rate ranged from 0.52 x 10-6 to 1.69 x 10-6 mg/cm2·s. On the other side, the microcapsules with wall thickness of 7.55 μm the pesticide releasing rate dramatically increased by 74% ranged from 0.66 x 10-6 to 3.4 x 10-6 mg/cm2·s. Keywords: slow release, melamine urea formaldehyde microcapsules, diazinon.
Prediksi Kesetimbangan Adsorpsi Uranium pada Air dan Sedimen pada Berbagai pH Jasmi Budi Utami; Wahyudi Budi Sediawan; Bardi Murachman; Gede Sutresna Wijaya
Jurnal Rekayasa Proses Vol 7, No 2 (2013)
Publisher : Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (686.109 KB) | DOI: 10.22146/jrekpros.4950

Abstract

Kegiatan yang melibatkan uranium sebagai bahan bakar nuklir berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan. Uranium merupakan salah satu logam berat berbahaya dan bersifat radioaktif sehingga perlu diketahui penyebarannya di alam. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan model kesetimbangan adsorpsi uranium pada air dan sedimen. Model yang disusun diharapkan sesuai untuk berbagai pH air. Percobaan adsorpsi uranium dijalankan dalam sistem batch. Air limbah sebanyak 100 ml yang mengandung uranium dimasukkan ke dalam erlenmeyer dan pH larutan diatur menjadi 3, 5, 7, atau 9. Sebanyak 0,5 g tanah dimasukkan ke dalam erlenmeyer. Erlenmeyer ditempatkan dalam shaker dengan kecepatan 100 rpm selama 6 jam dan dibiarkan selama 24 jam sampai tercapai kesetimbangan. Filtrat yang terbentuk disaring dan dianalisis menggunakan spektrofotometer. Lima model kesetimbangan isotermal diajukan untuk mendekati data kesetimbangan. Sebagai hasil, kesetimbangan Chapman cocok dalam mendekati data percobaan pada berbagai pH air. Dari hasil perhitungan diketahui ion UO22+ memiliki nilai parameter α, β, γ masing-masing sebesar 25 mg/g, 2,3 l/mg, dan 18,1 sedangkan untuk ion (UO2)3(OH)7- masing-masing sebesar 19 mg/g, 0,095 l/mg, dan 3,4. Penelitian ini diharapkan bermanfaat sebagai data pendukung bagi analisis dampak lingkungan dalam pembangunan PLTN. Kata kunci: adsorpsi, kesetimbangan, uranium, prediksi, sedimen, pH Activities involving uranium as nuclear fuel has potentially polluted the environment. Since uranium is a toxic and radioactive heavy metal, it is necessary to identify its distribution in nature. This study aims to define uranium adsorption equilibrium model in water and sediment. The model is also supposed to be appropriate for various pH of water. Experiments were performed in a batch system. One hundred mL of waste water for National Atomic Energy Agency (BATAN) containing uranium was placed in an erlenmeyer flask and the pH was varied at 3, 5, 7, or 9. Soil was used as adsorbent. The process was shaken at 100 rpm for six hours and then was left for 24 hours to reach the equilibrium. The resulting filtrate was filtered and analyzed using a spectrophotometer. Five different isotherm equilibrium models were proposed in order to fit the equilibrium experimental data. It was found that Chapman equilibrium could fit the data more thoroughly than the other models. From the calculation, it was known that UO22+ parameter values of α, β, γ were 25 mg/g-soil, 2,3 l/mg, and 18,1 respectively, while for (UO2)3(OH)7- were 19 mg/g, 0,095 l/mg, and 3,4 respectively. It is expected that this research will be useful as supporting data for environment impact analysis in nuclear power plants development. Keywords: adsorption, equilibrium, uranium, sediment, pH
Pembuatan dan Karakterisasi Sabun Susu dengan Proses Dingin Diah S. Retnowati; Andri C. Kumoro; Ratnawati; Catarina S. Budiyati
Jurnal Rekayasa Proses Vol 7, No 2 (2013)
Publisher : Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (209.417 KB) | DOI: 10.22146/jrekpros.4951

Abstract

Pada penelitian ini, sabun susu dibuat dari larutan susu-NaOH dengan campuran minyak yang terdiri dari minyak sawit, minyak kelapa, minyak jarak dan minyak canola. Tujuan penelitian adalah mempelajari pengaruh perbandingan massa minyak kelapa terhadap minyak canola dan konsentrasi asam sitrat terhadap pH sabun, kekerasan sabun, kemampuan pembentukan busa dan derajat kebersihan. Percobaan dilakukan dengan menuangkan larutan susu-NaOH dan asam sitrat ke dalam campuran minyak dengan perbandingan berat tertentu dan diaduk dengan kecepatan 400 rpm. Setelah terjadi trace (jejak putaran pada larutan) larutan tersebut dicetak dan didiamkan selama 24 jam. Produk sabun dianalisis kekerasan, pH, kemampuan pembentukan busa dan derajat pembersihan setelah dilakukan proses pemeraman selama 4 minggu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 2% massa asam sitrat dapat menurunkan pH sabun dari 10,2 menjadi 9,8, tetapi juga menurunkan tingkat kekerasan, kemampuan pembentukan busa dan kemampuan membersihkan. Perubahan rasio massa minyak kelapa terhadap minyak canola dari 0,5-2, hanya berpengaruh terhadap kekerasan sabun. Kata Kunci: sabun susu, proses dingin, pH, kekerasan, tingkat kebersihan, pembentukan busa In this research, cold process was chosen to make soap from lye (NaOH solution) and mixture of palm, coconut, castor, and canola oils with certain ratio. This conducted research is to study the effect of palm to canola oil mass ratio and citric acid concentration on pH, hardness, foaming capacity and the cleansing power of the soap. The soap formation was first conducted by dissolving NaOH in the milk with certain concentration sufficient for the oil mixture saponification. The solution and citric acid solution were then added to the oil mixture and was stirred at 400 rpm. After trace occurred, the mixture was transferred to a mold and then was put in an open space for 24 hours. The soap was taken out from the mold and was cured for 4 weeks. The hardness, pH, the foaming capacity, and the cleansing power of the resulted soap were analyzed. The result show that the addition of 2% of citric acid reduces the pH of the soap from 10.2 to 9.8, the hardness, the foaming capacity, and the cleansing ability of the soap. The variation of the ratio of the mass of coconut to canola oil from 0.5 to 2 affects only the hardness of the soap. Keywords: milk-soap, cold process, pH, hardness, cleansing power, lathering
Pewarnaan Bahan Tekstil dengan Menggunakan Ekstrak Kayu Nangka dan Teknik Pewarnaannya untuk Mendapatkan Hasil yang Optimal Ainur Rosyida; Anik Zulfiya
Jurnal Rekayasa Proses Vol 7, No 2 (2013)
Publisher : Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (451.927 KB) | DOI: 10.22146/jrekpros.4952

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan jenis tumbuhan baru yang dapat digunakan sebagai zat pewarna tekstil beserta warna yang dihasilkan. Selain itu untuk mendapatkan teknik/cara pewarnaan bahan tekstil dari serat alam dengan zat pewarna dari ekstrak kayu nangka untuk mendapatkan hasil yang optimal. Larutan pewarna diperoleh dengan mengekstraksi kayu nangka. Sistim pewarnaan yang digunakan adalah secara perendaman, menggunakan mesin jigger, dengan tahapan proses sebagai berikut : Kain kapas (siap celup) direndam pada larutan ekstrak kayu nangka pada suhu kamar selama 30 menit, setelah itu dilakukan penambahan elektrolit dan pewarnaan diteruskan selama 45 menit. Berikutnya penambahan asam/basa diberikan untuk memperoleh pH yang sesuai dan pewarnaan dilanjutkan selama 30 menit pada suhu kamar. Selanjutnya kain diperas dan difiksasi selama 15 menit pada suhu kamar, setelah proses pewarnaan berakhir kain dilakukan pencucian. Dari hasil penelitian diketahui, ekstrak kayu nangka dapat digunakan untuk mewarnai bahan tekstil dari serat alam (kain kapas) dengan warna kuning dan coklat. Warna yang dihasilkan sangat tergantung dari jenis fiksator yang digunakan sedangkan ketuaan warna ditentukan oleh pH (suasana larutan) yang digunakan dalam pewarnaan. Cara/teknik pewarnaan yang digunakan terbukti memperoleh hasil yang optimal karena menghasilkan pewarnaan yang merata, permanen dengan warna tua. Hasil uji ketahanan luntur warna terhadap pencucian dan gosokan diperoleh nilai yang baik, yaitu antara 4-5. Ini menunjukkan larutan ekstrak nangka dapat digunakan sebagai zat warna pada bahan tekstil. Kata kunci: Ekstrak, kayu nangka, pewarnaan, serat kapas, zat warna alam This research aims to find a new plant that can be used as textile natural dye substance and the colour it produced. It also purposes to find coloration method of natural fabric by natural dye substance from jackfruit wood exstract to gain the optimum result. Dye solvent obtained by extracting jackfruit wood. Coloration system used exhaustion by jigger machine which included some steps namely : cotton fabric was impregnated into jackfruit wood extract in room temperature during 30 minutes, then electrolyte and coloration addition during 45 minutes. The next step was acid/base addition to get appropriate pH and coloration continued about 30 minutes in room temperature. Futhermore fabric was squeezed and fixated during 15 minutes in room temperature, the last step was fabric washing. Based on the research result, jackfruit wood extract can be used for coloring natural fibers (cotton fabric) of textile material into yellow and brown. Final result of coloring depends on fixator used but the color direction depends on pH used in coloration. The coloration method used shows that it gives optimum result because it produces smooth, permanent and dark colour as well. The result of faded tenacity caused by washing and incitement shows good value, it is 4-5. It proves that jackfruit wood extract can be used as fabric dye substance. Keywords: extraction, jackfruit wood, dyeing, cotton fiber, natural dye substances
Kinetika Reaksi Esterifikasi Palm Fatty Acid Distilate (PFAD) menjadi Biodiesel dengan Katalis Zeolit-Zirkonia Tersulfatasi Masduki; Sutijan; Arief Budiman
Jurnal Rekayasa Proses Vol 7, No 2 (2013)
Publisher : Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (512.038 KB) | DOI: 10.22146/jrekpros.4953

Abstract

Krisis energi karena menipisnya cadangan minyak bumi mendorong manusia untuk berinovasi menciptakan sumber energi alternatif. Salah satu sumber energi alternatif yang potensial untuk dikembangkan adalah biodiesel. Produksi biodiesel skala besar terkendala oleh harga bahan baku yang mahal dan cenderung bersaing dengan kebutuhan pangan. Oleh karena itu perlu dicari bahan baku yang lebih murah dan tidak bersaing dengan kebutuhan pangan. Salah satu bahan yang dapat memenuhi kepentingan tersebut adalah Palm Fatty Acid Distilate (PFAD). Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari kinetika reaksi esterifikasi PFAD menjadi biodiesel dengan katalis zeolit zirkonia tersulfatasi. Palm fatty acid distillate (PFAD) sebagai sumber asam lemak diesterifikasi menjadi biodiesel di dalam labu leher tiga yang dilengkapi dengan pemanas, pengaduk dan sistem refluks. Untuk memperoleh data kinetika, sampel diambil pada interval waktu 10 menit untuk dianalisis konversi asam lemaknya. Model kinetika reaksi esterifikasi PFAD menjadi biodiesel didekati dengan reaksi pseudo-homogen orde satu dan reaksi heterogen katalitik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua model kinetika yang diusulkan cukup sesuai dengan data percobaan. Hasil perhitungan model reaksi pseudo-homogen menghasilkan energi aktivasi sebesar 11,60 kJ/mol dan faktor pre-eksponensial sebesar 5,82.1016 s-1. Sedangkan untuk model reaksi heterogen katalitik diperoleh energi aktivasi sebesar 950,46 kJ/mol dan faktor pre-eksponensial sebesar 4,11 x 1010 dm6.gkat-1.mol-1.s-1. Konversi reaksi maksimum sebesar 75,68% diperoleh pada waktu reaksi 80 menit, suhu reaksi 65°C dengan konsentrasi katalis 3% dan perbandingan mol PFAD:metanol = 1:10. Kata kunci: biodiesel, kinetika, esterifikasi, palm fatty acid distillate, zeolit zirkonia tersulfatasi. Energy crisis due to depletion of crude oil resources has been a motivation for alternative energy search. Biodiesel becomes a potential among other alternative energy sources. However, large scale biodiesel production is hampered by the raw materials which become expensive and tent to compete with the source of food needs. Therefore, a search for an alternative inexpensive raw material is necessary. Palm fatty acid distilate (PFAD) is one of alternative raw materials can be utilized. The present work objective was to investigate reaction kinetics of PFAD esterification for biodiesel with zirconium sulphated zeolite as catalyst. PFAD as a source of fatty acid underwent esterification to produce biodiesel in a three necked flask equiped with heater, stirrer and reflux condensor. In order to study the reaction kinetics, samples were collected consecutively every 10 minutes and the conversion of the fatty acid in each sample was determined. Here, two esterification reaction models were proposed i.e. pseudo-homogeneous first order reaction model and heterogeneous catalytic reaction model. The results showed that calculated conversion for both proposed models were in a good agreement with the experimental data. The pseudo homogeneous reaction model has an activation energy of 11.60 kJ/mole and a pre-exponential factor of 5.821016 s1. Whereas, the heterogeneous reaction model has an activation energy of 950.46 kJ/mole and pre-exponential factor of 4.111010 dm6.g cat1.mol1.s1. The maximum conversion of 75.68% was obtained at 80 minute reaction time, at 65C with the use of 3% catalyst and a PFAD:methanol molar ratio of 1:10. Keywords: biodiesel, kinetics, esterification, palm fatty acid distillate, zirconium sulphated zeolite.

Page 1 of 1 | Total Record : 5