cover
Contact Name
Tri Mulyaningsih
Contact Email
trimulya@unram.ac.id
Phone
+62274-512102
Journal Mail Official
jik@ugm.ac.id
Editorial Address
https://jurnal.ugm.ac.id/jikfkt/about/editorialTeam
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Ilmu Kehutanan
ISSN : 01264451     EISSN : 24773751     DOI : https://doi.org/10.22146/jik.28284
Focusing on aspects of forestry and environments, both basic and applied. The Journal intended as a medium for communicating and motivating research activities through scientific papers, including research papers, short communications, and reviews
Articles 11 Documents
Search results for , issue "Vol 14, No 1 (2020)" : 11 Documents clear
Analisis Finansial Perkebunan Kayuputih Skala Kecil: Studi Kasus Pilot Project Pengembangan Kayuputih untuk Kelompok Tani di Kampung Rimbajaya, Distrik Biak Timur Prastyono Prastyono; Noor Khomsah Kartikawati; Sumardi Sumardi; Anto Rimbawanto
Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 14, No 1 (2020)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (771.319 KB) | DOI: 10.22146/jik.57456

Abstract

Produksi minyak kayuputih dari Kepulauan Maluku dan Pulau Jawa saat ini masih jauh di bawah permintaan kayuputih dalam negeri. Ekstensifikasi perkebunan kayuputih skala kecil yang  dikelola oleh masyarakat dengan menggunakan benih unggul dapat menjadi solusi untuk meningkatakan produksi minyak kayuputih di Indonesia. Tulisan ini dimaksudkan untuk mengetahui tingkat kelayakan finansial dari usaha perkebunan kayuputih skala kecil dengan menggunakan data dari pilot project pengembangan industri kayuputih skala kecil di Kampung Rimbajaya, Distrik Biak Timur seluas 5 ha. Kelayakan finansial dilihat dari kriteria investasi yang umum digunakan yaitu net present value (NPV), internal rate of return (IRR), benefit-cost ratio (BCR) dan payback period. Hasil analisis finansial menunjukkan bahwa kebun kayuputih unggul skala kecil layak untuk diusahakan dengan NPV untuk jangka waktu 25 tahun pada discount rate 9,2% adalah sebesar Rp 757.171.972,00 (Rp 151.434.394,32 per hektar), IRR sebesar 72,74%, BCR sebesar 1,77 dan payback period setelah 2 tahun 3 bulan. Secara finansial perkebunan kayuputih yang menggunakan benih unggul lebih layak diusahakan dibandingkan dengan komoditas bambu, sengon, sawit dan kopi. Financial Analysis of a Small Scale Cajuput Plantation: A Case Study of A Pilot Project for A Farmer Group in Rimbajaya Village, East Biak DistrictAbstractProduction of cajuput oil from the Moluccas and Java Island is currently far below the domestic demand for the oil. Extensification of small-scale cajuput plantations managed by community using improved seeds is expected to increase cajuput oil production in Indonesia. This study investigates the financial feasibility of a 5 ha-cajuput plantation using data collected from a pilot project for a farmer group in Rimbajaya Village, East Biak District. Financial feasibility was assessed by calculating four investment criteria: net present value (NPV), internal rate of return (IRR), benefit-cost ratio (BCR) and payback period. The analysis showed that a small-scale cajuput plantation was financially feasible with NPV (25 years) at a 9.2% discount rate was IDR 757,171,972.00 (IDR 151,434,394.32 per hectare), IRR of 72.74%, BCR of 1.77 and payback period after 2 years and 3 months. Investation in a cajuput plantation planted with improved seeds is more feasible than that in bamboo, sengon, palm oil and coffee plantations.
Peranan Semut di Ekosistem Transformasi Hutan Hujan Tropis Dataran Rendah Noor Farikhah Haneda; Nisfi Yuniar
Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 14, No 1 (2020)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1487.983 KB) | DOI: 10.22146/jik.57459

Abstract

Deforestasi atau perubahan fungsi dari hutan menjadi non-hutan berperan dalam perubahan ekosistem dan spesies di dalamnya. Serangga sebagai salah satu fauna di dalamnya merupakan aspek yang menarik untuk dikaji khususnya semut. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi peranan-peranan dari genus semut yang ditemukan di ekosistem transformasi. Penelitian dilaksanakan di Desa Bungku, Kecamatan Bajubang, Kabupaten Batanghari, Provinsi Jambi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah membuat plot pengamatan secara purposive sampling. Plot pengamatan dipasang di empat eksosistem hutan dengan jumlah masing - masing ekosistem sebanyak empat plot. Setiap plot memiliki lima sub plot yang tersebar di empat eksosistem hutan untuk pemasangan pitfall trap. Teknik pengambilan sampel semut menggunakan pitfall trap di empat ekosistem. Empat ekosistem tersebut yaitu hutan sekunder, perkebunan kelapa sawit, kebun karet, dan hutan karet. Hasil penelitian ditemukan sebanyak 33 genus dari 6 subfamili. Selanjutnya dari 33 genus dikelompokkan berdasarkan peranannya. Berdasarkan peranannya terdapat 46% pencari makan , 36% predator, 3% semut tentara, 3% pemakan bangkai, dan 3% lainnya (semut pemanen/pemetik, omnivora, predator, dan pemakan bangkai). Camponotus sebagai genus dominan memiliki peranan pencari makan, dan Pheidole mempunyai peranan sebagai penghancur biji dan sebagian lainnya adalah omnivora. The Role of Ants in Lowland Tropical Rainforest TransformationAbstractDeforestation or changes functions from forest to non-forest play a role in changing ecosystems and the species within them. Insect as one of the fauna is an interesting aspect to study, especially ants. Aims of this study is to identify the roles of the genus of ants that found in the transformation ecosystem. This study was conducted in Bungku Village, Bajubang District, Batanghari Regency, Jambi. Method used in this study is to make a plot of observation by purposive sampling. Ant sampling techniques use pitfall traps in four ecosystems i.e.. secondary forest, oil palm plantation,rubber plantation, and jungle rubber. This study found 33 genera from 6 subfamilies. Furthermore, 33 genera are grouped based on their roles, i.e. (1) 46% foragers, (2) 36% for predators, (3) 3% for army ants, (4) 3% for scavengers, and (5) 3% for others (harvesting ants, omnivores, predators and scavengers too). Camponotus as the dominant genus has a role for foragers, and Pheidole has a role as a seed destroyer and the other part is omnivorous.
Sifat Ketahanan Api dan Degradasi Panas Tiga Jenis Kayu Dilapisi Arang Kayu Sengon Joko Sulistyo; Sri Nugroho Marsoem; Tomy Listyanto; Yus Andhini Bhekti Pertiwi Bhekti Pertiwi
Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 14, No 1 (2020)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3041.938 KB) | DOI: 10.22146/jik.57460

Abstract

Kayu sebagai biomaterial memiliki sifat yang tidak menguntungkan yaitu kayu dapat terbakar. Kebakaran dalam rumah dengan kostruksi material kayu membahayakan keselamatan jiwa manusia. Upaya telah dilakukan dalam mencegah kebakaran dengan meningkatan daya tahan material kayu. Penelitian ini dilaksanakan untuk mengembangkan material tahan api berbasis karbon (CFR) dari arang kayu sengon. Efektifitas CFR dari arang sengon untuk meningkatkan ketahanan api pada kayu jati, meranti merah dan pinus dipelajari. CFR dibuat melalui pencampuran serbuk arang sengon berukuran 10 mesh dan perekat PVAC dengan perbandingan (60:40), kemudian dikempa pada suhu 80 °C dengan tekanan 70 MPa selama 15 menit sehingga diperoleh lembaran komposit karbon berukuran 4 mm x 18 cm x 18 cm. Kayu jati, meranti merah dan pinus yang dilapisi dengan lembaran CFR diuji ketahanan terhadap api melalui pengumpanan pada api selama 1500 detik berdasarkan metode ASTM E 69-02 dengan modifikasi. Lembaran CFR dari arang sengon efektif untuk meningkatkan ketahanan api ketiga jenis kayu. Keberadaan lapisan CFR pada permukaan kayu efektif berfungsi sebagai solid material penghambat yang mampu memblok panas dari api dan melindungi dari terjadinya degradasi material kayu, yang ditunjukan dengan persentase luas penampang melintang yang tidak terbakar pada jati CFR sebesar 68,6% yang lebih besar dibanding jati kontrol sebesar 57,9%, rendahnya persentase kehilangan berat pada kayu pinus CFR dan meranti merah CFR sebesar 50,56% dan 26,57% dibandingkan kontrolnya sebesar 76,98% dan 30,72%, dan perubahan berat yang relatif sama dengan kontrol pada kayu jati dan meranti merah sampai 700-1.160 detik.  Fire Retardancy Properties and Thermal Degradation of Three Timber Species Overlayed by Sengon Wood CharcoalAbstractWood as biomaterial poses unfavorable property that is wood can burn. Fire disaster in wooden houses threaten human lifes. Efforts have been implemented to improve fire retardancy properties of timbers for wooden houses. This research was carried out to develop carbon-based fire-retardant materials (CFR) overlay on three timber species. The effectiveness of carbon-based fire-retardant material from sengon charcoal to improve fire resistance in teak, red meranti and pine timbers was studied. The CFR materials were prepared by mixing 10 mesh sengon charcoal powder and PVAC adhesive with a ratio (w/w) 0f 60:40 followed by a hot pressing at a temperature of 80 °C with a pressure of 70 MPa for 15 minutes resulting 4 mm x 18 cm x 18 cm carbon sheets. Teak, red meranti and pine timbers overlayed by CFR sheet from sengon charcoal were tested through feeding on fire for 1500 seconds based on ASTM E 6-02 method with a modification. CFR sheets from sengon charcoal were effective to improve the fire resistance of the three species of timbers. CFR overlayed on timber surface was functioned as solid barrier material which was able to block thermal from fire and protected timber from thermal degradation showing by lesser percentage of cross section unburning area on teak CFR i.e. 68.6% than that of teak control i.e. 57.9%, lower percentage of weight loss on pinus CFR and red meranti CFR i.e. 50.56% and 26.57% respectively comparing with the controls i.e. 76.98% and 30.72%, and similar values of weight change percentage between teak CFR and red meranti CFR with the control until 700-1,160 s.
Partisipasi Masyarakat Lokal dalam Pengembangan Ekowisata Kaharuddin Kaharuddin; Satyawan Pudyatmoko; Chafid Fandeli; Wisjnu Martani
Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 14, No 1 (2020)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (444.646 KB) | DOI: 10.22146/jik.57462

Abstract

Kelompok tani hutan kemasyarakatan (HKm) Mandiri Kalibiru mengelola hutan lindung yang salah satu kegiatannya berupa usaha pengelolaan ekowisata. Keterlibatan masyarakat lokal menjadi pelaku wisata merupakan ciri menonjol dalam usaha jasa tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menyajikan jenis partisipasi masyarakat lokal dalam mengembangkan ekowisata, dan peran kelembangaan HKm dalam mendorong masyarakat lokal berpartisipasi dalam pengembangan ekowisata. Konsep partisipasi level perencanaan, pelaksanaan dan pemanfaatan digambarkan pada tiga periode perkembangan obyek wisata: periode ke-1 perintisan, periode ke-2 mulai berkembang dan periode ke-3 berkembang. Pengumpalan data menggunakan teknik wawancara mendalam (indept interview) dan kajian dokumen. Analisis data dilakukan secara deskriptif dan proposisi teoritis. Terdapat perbedaan partisipasi masyarakat lokal pada ke tiga periode perkembangan obyek wisata tersebut. Partisipasi level perencanaan sangat bergantung pada pendamping selama periode ke-1 dan 2, namun ketika obyek wisata sudah berkembang perencanaan mampu dilakukan secara mandiri. Partisipasi level pelaksanaan pada periode ke-1 dan 2 dilakukan secara gotong royong, namun pada periode ke-3 pelaksanaan pembangunan menggunakan tenaga profesional. Partisipasi level pemanfaaatan dimulai pada periode ke-2 yang melibatkan anggota HKm dan tokoh pemuda secara terbatas, dan pada periode ke-3 masyarakat Kalibiru yang memanfaatkan peluang kerja dan usaha mencapai 85%. Tingginya partisipasi masyarakat tersebut tidak lepas dari peran pendamping, pemerintah dan aturan lembaga HKm dalam fasilitasi dan penyediaan ruang partisipasi bagi masyarakat lokal. Local Communities Participation in Ecotourism DevelopmentAbstractThe community forest Mandiri Kalibiru manages of protected forests one of activities is ecotourism management. The involvement of local communities as ecotourism actors is a major feature in the service business. This study aims to present the type of local communities participation in developing ecotourism, and the role of HKm institution in encouraging the local communities to participate in ecotourism. The concept of participation at the planning, implementation and utilization level is illustrated in three periods of tourism development: the first period-pioneering, the second-developing and the third-developed. Data collection uses in-depth interview techniques and document review. Data analysis was performed descriptively and theoretical propositions. There are differences in local communities participation in the three periods. Participation in the planning level is very dependent on the companion during periods 1 and 2, but when the third period, the planning can be done independently. Participation in the implementation level in periods 1 and 2 was carried out cooperatively, but in the third period, the implementation of the development uses professional staff. Participation in utilization rates began in the second period involving limited HKm members and youth leaders, and the 3rd period the Kalibiru community involved took advantage of work and business opportunities which reached 85%. The high local communities participation is inseparable from the role of partners, government and HKm institutional regulations in facilitating and providing of participating space for local communities.
PCR Primer Spesifik Berdasarkan Gen Cytochrome b untuk Deteksi Garangan (Herpestes javanicus) secara Molekuler Sena Adi Subrata; Subeno Subeno; Atus Syahbudin
Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 14, No 1 (2020)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (559.356 KB) | DOI: 10.22146/jik.57463

Abstract

Garangan (Herpestes javanicus) merupakan salah satu spesies meso-carnivora yang berperan penting dalam ekosistem sebagai pemangsa. Kehadirannya dianggap mampu mengendalikan populasi spesies mangsa, termasuk beberapa spesies hama. Namun anggapan ini dianggap hanya anekdot karena kekurangan data ekologis pendukungnya sebagai dampak dari kesulitan pengamatan visual atas spesies ini. Penelitian ini bertujuan untuk merancang PCR primer untuk deteksi Garangan secara molekuler dari material organik yang ditinggalkan, misalnya kotoran. Perancangan PCR primer dimulai dengan memilih penanda spesifik Garangan yang melibatkan 51 sekuen DNA gen Cytochrome-b dari 19 spesies karnivora Jawa, menentukan primer forward dan reverse, dan menguji in-silico dan in vitro dari primer yang berhasil dirancang. Proses tersebut dilakukan dengan bantuan software MEGA 5 dan SP-Designer, dan memanfaatkan basis data genetik dari GenBank (NCBI). Uji in silico dan in vitro menunjukkan bahwa sekuen primer forward 5’- CAAATCACACCCACTCATTAAAATC-3’ dan reverse 5’-TGTGGGTTACTGATGAAAAGG-3’ akan mampu mendeteksi Garangan secara molekuler dari material organik spesies ini. Penelitian ini berkontribusi dalam pengumpulan data dasar kehadiran Garangan untuk mengumpulkan informasi lanjut tentang okupansi, distribusi spesies, dan pakannya. Informasi ini merupakan fondasi untuk memahami peran spesies ini dalam ekosistem. Specific PCR Primers Based on Cytochrome-b Gene for Molecular Detection of JavanMongoose (Herpestes javanicus)AbstractJavan Mongoose is a meso-carnivore species that have an important role in ecosystem as a predator. It is believed that its occurrence controls prey populations including some pest species. However, the belief is an anecdote because of lacking supportive data. Difficulty in visually observing the species is a major problem preventing data collection. This study aims to design PCR primer for detecting the Mongoose molecularly from organic material remaining, such as feces. The design starts with selecting specific marker from 51 DNA sequences of cytochrome-b. The DNA sequences were of 19 Javan carnivore collected from GenBank (NCBI). PCR primers were designed and tested using both in-silico and in-vitro techniques. The sequence collection and selection, and primer design process employed MEGA 5 and SP-Designer software. We successfully designed PCR primers: forward 5’- CAAATCACACCCACTCATTAAAATC-3’ dan reverse 5’-TGTGGGTTACTGATGAAAAGG-3’. The primer is capable of detecting Javan Mongoose from remaining organic material. The study contributed to basic data collection of Javan Mongoose for advanced studies such as occupancy modeling, species distribution modeling and diet analysis. This information is fundamental for understanding the role of the Javan Mongoose in an ecosystem.
Dampak Perubahan Pemanfaatan Hutan Lindung di RPH Mangunan terhadap Pendapatan Penyadap Getah Pinus Slamet Riyanto; Wahyu Andayani; Hilma Nadhifa
Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 14, No 1 (2020)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (259.706 KB) | DOI: 10.22146/jik.57465

Abstract

Sejak tahun 2015 Balai Kesatuan Pengelolaan Hutan Yogyakarta mengehentikan kegiatan pemanfaatan hutan dalam bentuk penyadapan getah pinus di kawasan hutan lindung yang secara adminitrasi pengelolaan hutan berada di Resort Pengelolaan Hutan Mangunan Bagian Daerah Hutan Bantul-Kulonprogo. Bentuk pemanfaatan hutan lindung selanjutnya dialihkan menjadi pemanfaatan hutan untuk wisata alam dan jasa lingkungan. Perubahan bentuk pemanfaatan ini mempengaruhi penghidupan ekonomi bagi rumah tangga penyadap getah pinus yang telah memiliki ketergantungan sumber pendapatan terhadap kegiatan pemanfaatan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan tingkat pendapatan rumah tangga penyadap getah pinus serta kontribusi sumber pendapatan dari sumberdaya hutan terhadap pendapatan total rumah tangga. Penelitian ini menggunakan pendekatan survei dengan melibatkan 56 responden dari 69 penyadap getah pinus yang berdomisili di tiga desa yaitu Desa Munthuk, Desa Mangunan dan Desa Terong. Pengumpulan data melalui wawancara secara mendalam, observasi dan pemanfaatan data sekunder. Data dianalisis secara deskriftif-kuantitatif untuk memberikan penjelasan perubahan atau perbandingan aktivitas, tingkat dan kontribusi sumber pendapatan dari hutan dengan adanya perubahan pemanfaatan hutan. Temuan-temuan dari penelitian ini adalah: (1) Hanya sebagian dari penyadap getah pinus (35 responden) yang dapat beralih aktivitasnya menjadi pekerja hutan wisata, (2)Rata-rata tingkat pendapatan bagi penyadap yang tidak dapat beralih menjadi pekerja atau pengelola wisata sebelum dan sesudah adanya perubahan pemanfaatan berturut-turut sebesar Rp 16.033.062/tahun dan Rp 13.320.967/tahun, (3)Rata-rata tingkat pendapatan bagi penyadap yang dapat beralih menjadi pekerja atau pengelola wisata sebelum dan sesudah adanya perubahan pemanfaatan berturut turut sebesar Rp 12.076.329/tahun dan Rp 29.809.157/tahun, (4) Kegiatan penyadapan berkontribusi sebesar 23% dan pendapatan dari aktivitas di kegiatan wisata hutan pinus berkontribusi sebesar 62% terhadap pendapatan total tahunan.  The Impact of Change in Protected Forest Utilization in RPH Mangunan on Income of Pine Sap TapperAbstractSince 2015 the Balai Kesatuan Pengelolaan Hutan Yogyakarta has stopped the activity of utilizing pine sap tapping in protected forest areas which administratively located at Resort Pengelolaan Hutan Mangunan, Bagian Daerah Hutan Bantul Kulon Progo. Forest Utilization was then shifted into recreational forest. The change in forest utilization affected the livelihood of pine sap tapper households that already have dependence on a source of income based on these utilization activities. This study aims to compare the source diversity and level of household income of pine sap tappers as well as the share of income from forest resources to total income due to the change in forest utilization. This study used a survey involving 56 respondents from 69 pine sap tappers domiciled in three villages namely Munthuk, Mangunan and Terong Village. Data collection through in-depth interviews, observations and use of secondary data. The data were analyzed in a descriptive quantitative approach to provide an explanation of comparisons of activities, levels and contributions of sources of income from the forest due to changes in forest utilization. The important findings of this study are: (1) Only a portion of pine sap tappers (35 respondents) can switch their activities to workers in recrational forest (2) Average level of household income for tappers who cannot shift to workers in recreational forest are Rp 16033,062 /year and Rp. 13,320,967 /year, (3)Meanwhile, for tappers who can switch to workers in recreational forest are Rp. 12,076,329 / year and Rp. 29,809,157/year respectively for before and after changes in forest utilization(4) Income from tapping activitiy contributed 23% and income from activities in pine recreational forest contributed 62% to total annual income.
Pendugaan Simpanan Karbon pada Kawasan Rehabilitasi Pesisir Selatan Pulau Jawa Budiadi Budiadi
Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 14, No 1 (2020)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (661.714 KB) | DOI: 10.22146/jik.57473

Abstract

Konservasi karbon merupakan salah satu tindakan penting dalam rehabilitasi pesisir, khususnya pesisir selatan Pulau Jawa dengan keunikan ombak yang besar, salinitas tinggi dan sedimen beragam. Penelitian dilaksanakan untuk menduga simpanan karbon dalam berbagai bagian pada areal pesisir tersebut, yang terdiri dari tapak tergenang (tegakan mangrove 14 tahun jenis Avicennia/AV, Rhizophora/RH dan campuran/MX, lahan sedimen/SD, rumput/GR) dan tapak kering berpasir tegakan Casuarina equisetifolia/CS umur 18 tahun. Tiga sampai sembilan petak ukur dibuat untuk pengamatan dan pengukuran vegetasi, serta pengambilan sampel tanah (kedalaman 0-20, 20-40 dan 40-60 cm), dan pengukuran tegakan. Biomasa pohon diestimasi dengan mengkonvesri diameter batang (DBH) menggunakan persamaan alometrik. Biomasa pohon dirubah menjadi karbon tersimpan menggunakan berat jenis kayu yaitu 0,464 untuk above-ground (AGC), dan 0,39 untuk below-ground (BGC), serta untuk menduga biomasa karbon total (TBC). Karbon organik tanah (COT) dianalisis secara terpisah, dan digabungkan dengan karbon biomasa untuk memperkirakan simpanan karbon dalam ekosistem. Hasil penelitian menunjukkan variasi yang tinggi dari pertumbuhan dan kerapatan pohon, khususnya pada tegakan mangrove, dengan kemampuan regenerasi yang rendah. Tidak ditemukan perbedaan yang nyata dari simpanan karbon pada biomasa antara tegakan mangrove dengan Casuarina. Rerata TBC pada mangrove adalah 46,08 Mg C/ha, sedikit lebih rendah daripada CS (51,50 Mg C/ha). Di bawah tanah (hingga kedalaman 60 cm), tapak tergenang (AV, RH, MX, SD dan GR) secara nyata menyimpan COT lebih besar daripada tapak kering (CS). Kedalaman tanah secara nyata mempengaruhi COT, namun pada tapak tergenang semakin dalam tanah maka COT semakin besar, sedangkan tren sebaliknya pada tapak kering. Perkiraan total karbon tersimpan adalah 248.52 (±87.21) Mg C/ha, dengan terendah pada CS (94.46 Mg C/ha) dan tertinggi pada MX (324.77 Mg C/ha). Rehabilitasi pesisir berpeluang meningkatkan simpanan karbon ekosistem karena adanya adanya biomasa pohon, dibandingkan tapak terbuka yakni SD dan GR. Pada tapak tergenang/tegakan mangrove sebagian besar simpanan karbon berupa COT, dan lebih sedikit ditemukan pada CS. Perbedaan karakteristik simpanan karbon ini memerlukan penanganan atau konservasi yang berbeda, tetapi sama-sama membutuhkan rehabilitasi dan regenerasi buatan yang intensif. Carbon Stock Estimation in the South Coastal Rehabilitation Area of Java IslandAbstractCarbon conservation is one of important actions for coastal rehabilitation, in particular in the south coast of Java Island with its unique characteristics of strong tide, high salinity and diverse substrates. The research aimed to estimate carbon stocks from various carbon pools in the coast rehabilitation area, including wetland sites (14-year-old mangroves of Avicennia/AV, Rhizophora/RH and mix mangrove/MX, mudflat-sediment/SD, grassland/GR) and dry-sandy site of 18-year-old Casuarina equisetifolia/CS. Three to nine plots were established for observing and measuring vegetation, as well as taking soil sample at 0-20 cm, 20-40 cm, 40-60 cm depths. Tree biomass were estimated by converting treestem diameter using allometric equation. The tree biomass were converted into tree carbon using carbon density of 0.464 for aboveground (AGC), and 0.39 for below-ground (BGC), and to estimate total biomass carbon (TBC). Soil organic carbon (SOC) was analyzed separately, and combined with biomass carbon to estimate total carbon stock in the ecosystems. High variation of tree growth and density were found, especially in mangrove stands, with a low level of natural regeneration. No significant difference of carbon stock in biomass between mangroves and Casuarina was observed. Average TBC in mangroves (46.08 Mg C/ha) was slightly lower than in CS (51.50 Mg C/ha). In below ground (up to 60 cm depth), wetland sites (AV, RH, MX, SD and GR) significantly stored more SOC than dry land (CS). Soil depth significantly affected SOC, but in wetland sites deeper soil contained more carbon than upper, while an opposite trend was observed in CS. Estimated total carbon stock in the coast was 248.52 (±87.21) Mg C/ha, with the lowest in CS (94.46 Mg C/ha) and highest in MX (324.77 Mg C/ha). Rehabilitation activities in the coast possibly improve carbon stock in the ecosystems due to tree biomass, compared to open sites of SD and GR. In the wetland or mangroves, most of carbon was observed as SOC, and less in the dry-land site. The different characteristics of carbon storage in the south coast need different conservation techniques, but both sites need intensive rehabilitation work and artificial regeneration.
Sifat Papan Partikel Bambu Petung (Dendrocalamus asper) dan Bambu Wulung (Gigantochloa atroviolacea) dengan Perlakuan Ekstraksi Ragil Widyorini; Ikhwan Syahri; Greitta Kusuma Dewi
Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 14, No 1 (2020)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (901.951 KB) | DOI: 10.22146/jik.57476

Abstract

Bambu memiliki kandungan ekstraktif dengan persentase yang berbeda antar jenis bambu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perlakuan ekstraksi pada jenis bambu yang berbeda terhadap sifat papan partikel. Dua jenis bambu digunakan yaitu Bambu Petung (Dendrocalamus asper) dan Bambu Wulung (Gigantochloa atroviolacea). Perlakuan ekstraksi digunakan pada partikel bambu sebelum proses pembuatan papan partikel yaitu tanpa ekstraksi, ekstraksi air dingin dan ekstraksi air panas. Papan partikel dibuat dalam ukuran 25 cm x 25 cm x 0,7 cm, target kerapatan 0,9 g/cm3, jumlah asam sitrat 30%, serta kondisi pengempaan suhu 180°C selama 10 menit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi perlakuan ekstraksi dan jenis bambu hanya berpengaruh signifikan pada sifat penyerapan air dan keteguhan rekat internal, sedangkan jenis bambu berpengaruh signifikan pada nilai kadar air, modulus patah dan modulus elastisitas. Semua papan partikel yang dihasilkan memenuhi standar Japanese Industrial Standard (JIS) A 5908 tipe 13. Pada penelitian ini, papan partikel dari bambu wulung tanpa perlakuan ekstraksi mempunyai nilai yang memenuhi standar tipe 18 dan berpotensi sebagai bahan baku untuk produk furnitur eksterior. Perlakuan ekstraksi dapat meningkatkan secara signifikan nilai keteguhan rekat internal papan partikel bambu petung, walaupun secara umum dengan jumlah asam sitrat 30% perlakuan tersebut tidak diperlukan pada papan partikel bambu Properties of Particleboard made from Petung Bamboo (Dendrocalamus asper) and Wulung Bamboo (Gigantochloa atroviolacea) Particles with Extraction TreatmentAbstractBamboo has extractives, which the percentage of extractive was different based on bamboo species. This research aimed to investigate the effect of extraction treatment at different bamboo species on the particleboard properties. Two types of bamboo were used, i.e. Petung bamboo (Dendrocalamus asper) and Wulung bamboo (Gigantochloa atroviolacea). Three extraction treatments were conducted to the bamboo particles before the particleboard manufacture, i.e. unextracted, cold-water extraction, and hot-waterextraction. The particleboard was made in the size of 25 cm x 25 cm x 0.7 cm, target density of 0.9 g/cm³, citric acid content of 30%, and pressing temperature of 180°C for 10 min. The results showed that the interaction between extraction treatment and bamboo species significantly affected on the water absorption and internal bond strength, however bamboo species affected significantly on the moisture content, modulus of rupture, and modulus of elasticity. All of particleboards could met the requirement of the 13 type of Japanese Industrial Standard (JIS) A 5908. In this research, particleboards made from wulung bamboo particles without extraction treatment have properties that met the requirement of the 18 type and the products have potential to be as exterior materials for furniture. In general, an extraction treatment was not an important step on the manufacturing of bamboo particleboard using citric acid 30% as adhesive. However, the extraction treatment could increase significantly the internal bond strength of particleboard made from petung bamboo.
Pembuatan dan Analisis Karbon Aktif dari Cangkang Buah Karet dengan Proses Kimia dan Fisika Lisna Efiyanti; Suci Aprianty Wati; Mamay Maslahat
Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 14, No 1 (2020)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2006.452 KB) | DOI: 10.22146/jik.57479

Abstract

Penggunaan karbon aktif di Indonesia semakin meluas sejalan dengan meningkatnya kebutuhan tehadap karbon aktif tersebut, sehingga perlu terus diupayakan pencarian bahan baku dan metode pembuatan karbon aktif untuk menghasilkan karbon aktif yang berkualitas. Salah satu bahan baku yang dapat digunakan untuk menghasilkan karbon aktif adalah cangkang buah karet karena keberadaannya tidak termanfaatkan dengan baik. Pada penelitian ini dilakukan pembuatan karbon aktif dari cangkang buah karet masing-masing dengan metode aktivasi steam pada suhu 650°C, aktivasi dengan kalium hidroksida 10% dan aktivasi dengan asam fosfat 10%. Karbon aktif yang terbentuk kemudian dianalisa menggunakan metode SNI 06-3730-1995 dengan parameter kadar air, kadar abu, kadar zat terbang, kadar karbon terikat, daya jerap iod, daya jerap biru metilen dan daya jerap benzena. Gugus fungsi, kristalinitas dan morfologi karbon aktif dianalisa masing-masing menggunakan FTIR, XRD dan SEM. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai kadar air, kadar abu, kadar zat terbang, kadar karbon terikat, daya jerap iod, daya jerap biru metilen dan daya jerap benzena masing-masing sebesar 1,83-3,74%; 2,86-8,14; 7,36-13,55; 82,8-89,78%; 355,21-569,39 mg/g; 10,34-17,61 mg/g; 8,09-19,26%. Hasil FTIR menunjukkan bahwa gugus fungsi yang terdeteksi pada karbon aktif adalah gugus OH, CH alifatik, CH aromatik, C=O, C-C, C=C dan C-O, sedangkan kristalinitas karbon aktif berkisar antara 11,34-30,78% dengan ukuran pori sebesar 5-9 μm. Karbon aktif dengan aktivator KOH dapat menjerap senyawa iod dan metilen biru lebih baik sedangkan karbon aktif aktivasi steam memiliki daya jerap terbaik pada adsorpsi senyawa benzena. Manufacture and Analysis of Activated Carbon from Rubber Fruit Shell with Chemical and Physical ProcessingAbstract The utilization of activated carbon in Indonesia is increased, which is in line with the increase of activated carbon needs, therefore it is necessary to search the raw materials and methods continuously for good quality activated carbon. One of the raw materials that can be used to produce activated carbon is a rubber fruit shell because it is not properly utilized. In this research, activated carbon was made from rubber fruit shells by the steam activation method at a temperature of 650°C, 10% potassium hydroxide, and 10% phosphoric acid activation. The activated carbon was then analyzed using SNI 06-3730-1995 methods with parameters of water content, ash content, volatile matter content, fixed carbon content, iod adsorption, methylene blue adsorption, and benzene adsorption. The functional groups, crystallinity, and morphology of activated carbon also analyzed using FTIR, XRD, and SEM respectively. The results shows that the water content, ash content, volatile matter content, fixed carbon content, iod adsorption, methylene blue adsorption, and benzene adsorption are 1,83-3,74%; 2,86-8,14; 7,36-13,55; 82,8-89,78%; 355,21-569,39 mg/g; 10,34-17,61 mg/g; 8,09-19,26%, respectively. The FTIR results from activated carbon are contain of several functional groups, like OH; CH aliphatic, CH aromatic, C=O; C-C; C=C and C-O, meanwhile the degree of crystallinity from activated carbon formed are ranged 11,34-30,78% with 5-9 μm of pore size. The activated carbon with KOH activator has good adsorption in iod and methylene blue compound meanwhile activated carbon from steam activation can be a good adsorbent on the benzene compound.
Sifat Dasar Kayu Ganitri (Elaeocarpus sphaericus (Gaertn.) K. Schum.) dari Sukabumi dan Potensi Penggunaannya Esti Prihatini; Akhrudin Maddu; Istie Sekartinging Rahayu; Mersi Kurniati
Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 14, No 1 (2020)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1557.925 KB) | DOI: 10.22146/jik.57480

Abstract

Ganitri (Elaeocarpus sphaericus (Gaertn.) K. Schum.) adalah pohon cepat tumbuh yang banyak ditemukan di Sukabumi. Kayu ini tumbuh di hampir semua wilayah Indonesia. Tulisan ini menyajikan hasil pengujian sifat dasar (struktur anatomi, kimia, sifat fisis dan mekanis) kayu ganitri yang diambil dari hutan rakyat di daerah Sukabumi. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui potensi penggunan kayu ganitri berdasarkan sifat dasar dan penggunaan kayu oleh masyarakat sekitar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kayu ganitri memiliki kayu teras berwarna kuning dan kayu gubal berwarna putih. Corak kayu polos dan tekstur halus. Arah serat lurus sampai berpadu, kayu lunak, tidak mengkilap, dan tidak berbau. Berdasarkan nilai dimensi serat dan nilai turunannya, kayu ganitri termasuk ke dalam Kelas Mutu II. Kayu ganitri memiliki kadar holoselulosa dan selulosa yang tinggi (70,70% dan 54,58%), kadar sedang untuk lignin 21,60%, ekstraktif alkohol-benzena 3,47%, dan kadar abu 0,81%. Dengan berat jenis (BJ) kering udara 0,35 kayu ganitri termasuk ke dalam Kelas Kuat IV. Kayu tersebut disarankan untuk digunakan sebagai bahan bangunan konstruksi ringan, perkakas, furnitur, kayu lapis, papan sambung dan produk panel. Basic Properties of Ganitri Wood (Elaeocarpus sphaericus (Gaertn.) K. Schum from Sukabumi and Its Potential UsesAbsractGanitri (Elaeocarpus sphaericus (Gaertn.) K. Schum.) is a fastgrowing tree that is widely found in Sukabumi, West Java. It grows in all part of Indonesia. A research was carried out to investigate basic properties (anatomical, physical, mechanical, and chemical) of ganitri wood from the community forest of Sukabumi. The purpose of this study was to determine the potential use of ganitri wood based on its basic properties and local utilization. The results showed that the color of ganitri sapwood was white , and it was not clearly demarcated from the yellow, with fewer figure patterns. The texture was fine with straight to interlocked grain. The wood was soft, not lustrous, and no special odor. Based on the fibre dimensions and derivative values, the quality of ganitri wood fell in Class II as a raw material for pulp and paper. Ganitri had high holocellulose and cellulose levels (70.70% and 54.58%), moderate level in lignin (21.60%), and it contained 3.47% extractive soluble in alcohol-benzene, and 0.81% ash. Based on its air dry specific gravity (0,35), ganitri wood could be classified into wood Strength Class IV. The potential uses of ganitri are for lightweight construction material, tools, furniture, plywood, connecting boards, and other panel products.

Page 1 of 2 | Total Record : 11