cover
Contact Name
Tri Mulyaningsih
Contact Email
trimulya@unram.ac.id
Phone
+62274-512102
Journal Mail Official
jik@ugm.ac.id
Editorial Address
https://jurnal.ugm.ac.id/jikfkt/about/editorialTeam
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Ilmu Kehutanan
ISSN : 01264451     EISSN : 24773751     DOI : https://doi.org/10.22146/jik.28284
Focusing on aspects of forestry and environments, both basic and applied. The Journal intended as a medium for communicating and motivating research activities through scientific papers, including research papers, short communications, and reviews
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 9, No 1 (2015)" : 7 Documents clear
Menguatkan Kedaulatan Bangsa atas Keanekaragaman Hayati Muhammad Ali Imron
Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 9, No 1 (2015)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (75.979 KB)

Abstract

Menguatkan Kedaulatan Bangsa Atas Keanekaragaman Hayati
Kualitas, Komposisi Kimia, dan Aktivitas Anti Oksidan Minyak Kenanga (Cananga odorata) Rini Pujiarti; Titis Budi Widowati; Kasmudjo Kasmudjo; Sigit Sunarta
Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 9, No 1 (2015)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (374.038 KB) | DOI: 10.22146/jik.10179

Abstract

Minyak kenanga pada penelitian ini diperoleh dari bunga kenanga segar dengan penyulingan cara pengukusan. Uji kualitas fisik minyak kenanga cukup memuaskan dan sesuai dengan standar SNI 06-3949-1005. Komposisi kimia minyak kenangan diuji menggunakan GC-MS. Hasil analisis GC-MS mengidentifikasikan adanya 23 komponen kimia penyusun minyak kenanga. Komponen utama penyusun minyak kenanga yang dihasilkan pada penelitian ini adalah caryophyllene (36,44%), â-linalool (5,97%), á-caryophyllene (9,61%), germacrene D (17,23%), dan benzyl benzoate (7,18%). Pengujian antioksidan minyak kenanga dengan metode DPPH scavenging assay menunjukkan aktivitas antioksidan yang lembut dari minyak kenangan (IC50: 2,29 mg/ml) jika dibandingkan dengan kontrol positif BHA (IC50: 0,03 mg/ml). Penelitian ini mengidentifikasikan bahwa minyak kenanga memiliki potensi sebagai antioksidan alami yang lembut.Kata kunci: Cananga odorata, minyak atsiri, kualitas, komposisi kimia, antioksidan.  Quality, chemical composition, and antioxidative activity of cananga (Cananga odorata) oilAbstractCananga oil in this study was obtained from fresh flowers of Cananga odorata by water-steam distillation. The result of physical properties of cananga oil were compared with the SNI 06-3949-1005 showed that cananga oil was satisfied the quality prescribed by standard. The chemical composition of cananga oil was analyzed by GC-MS. GC-MS analysis showed that 23 compounds have been identified. The main compounds of cananga oil were caryophyllene (36.44%), â-linalool (5.97%), á-caryophyllene (9.61%), germacrene D (17.23%) and benzyl benzoate (7.18%). The DPPH scavenging assay showed that cananga oil possess mild antioxidant activity (IC50: 2.29 mg/ml) if compared with positive control of BHA (IC50: 0.03 mg/ml). This study indicated that cananga oil has potency as mild natural antioxidant. 
Sifat Fisika Mekanika dan Ketahanan Papan Partikel Bambu dengan Perekat Asam Sitrat terhadap Serangan Rayap Kayu Kering Ragil Widyorini; Ari Puspa Yudha; Ganis Lukmandaru; Tibertius Agus Prayitno
Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 9, No 1 (2015)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1071.221 KB) | DOI: 10.22146/jik.10180

Abstract

Penelitian mengenai penggunaan asam sitrat sebagai agen pengikat alami masih relatif sedikit. Oleh karena itu penelitian ini difokuskan pada pengaruh jumlah asam sitrat dan suhu pengempaan terhadap sifat papan partikel bambu, termasuk ketahanannya terhadap serangan rayap kayu kering. Bahan penelitian adalah partikel bambu petung. Komposisi kimia bahan baku bambu diuji untuk kadar ekstraktif, holoselulosa, lignin, dan alfa selulosa. Faktor pada penelitian ini adalah jumlah asam sitrat (0 - 40%) berdasarkan berat kering udara partikel) dan suhu pengempaan (200 oC dan 220 oC). Sifat fisika dan mekanika papan partikel diuji berdasarkan standar pengujian JIS A 5908. Analisis menggunakan Fourier transform infrared spectroscopy (FTIR) juga dilakukan untuk mengetahui perubahan gugus ester pada berbagai jumlah asam sitrat dan suhu pengempaan. Pengujian ketahanan terhadap serangan rayap kayu kering juga dilakukan dengan menghitung nilai pengurangan berat dan mortalitas rayap setelah 6 minggu. Hasil pengujian menunjukkan bahwa interaksi kedua faktor berpengaruh nyata terhadap nilai pengembangan tebal, penyerapan air, modulus elastisitas dan modulus patah. Intensitas gugus C=O yang ditunjukkan pada puncak 1720 cm-1 semakin bertambah besar seiiring dengan semakin banyaknya jumlah asam sitrat, yang menyebabkan kekuatan perekatan dan stabilitas dimensi papan partikel menjadi semakin kuat. Kondisi optimum pada penelitian ini adalah papan partikel dengan penambahan jumlah asam sitrat 20 % pada suhu pengempaan 200 oC dengan kualitas yang dapat memenuhi standar JIS A 5908 tipe 8. Penambahan asam sitrat dapat meningkatkan mortalitas rayap kayu kering secara nyata. Penambahan 20 % asam sitrat pada suhu pengempaan 200 oC menghasilkan nilai pengurangan berat 0,9 % dan mortalitas rayap 57 %.Kata kunci: bambu petung, asam sitrat, suhu pengempaan, jumlah asam sitrat. Mechanical properties and durability against the dry termite attacks of particleboard made from bamboo with citric acid as adhesive AbstractResearch on development of citric acid as natural adhesive are still limited. Therefore this research focused on effects of citric acid content and pressing temperature on properties of particleboard made from bamboo, including its durability to the dry termite attacks. Petung bamboo particles were used as raw materials. Chemical characteristics of petung bamboo were analyzed for its extractive, lignin, holocellulose and alpha cellulose. Factors used in this research were citric acid content (0 - 40 %) based on dry weight particles and pressing temperature (200 oC dan 220 oC). Properties of the particleboard were analyzed based on Japanese Industrial Standard (JIS) A 5908 for particleboard. Fourier transform infrared spectroscopy (FTIR) analysis was used for investigating the changes of ester groups at various citric acid content and pressing temperature. The dry termite resistance was then analyzed for its weight loss and mortality after 6 weeks. The results showed that interaction between two factors affected significantly on thickness swelling, water absorption, modulus of elasticity, and modulus of rupture. Intensity of C=O groups became stronger as increasing citric acid content, providing high mechanical properties and high dimensional stability. Optimum condition in this research was achieved at 20 % of citric acid content and 200 oC of pressing temperature, which the board properties met the requirement of JIS A 5908 type 8. Increasing of citric acid content would also increase the dry termite mortality. Addition of 20 % citric acid at 200 oC of pressing temperature produced particleboard with the weight loss was 0.9 % and 57 % of the dry termite mortality. 
Kontribusi Pendapatan Hasil Hutan Bukan Kayu pada Usaha Hutan Rakyat Pola Agroforestri di Kabupaten Tasikmalaya Dian Diniyati; Budiman Achmad
Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 9, No 1 (2015)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (172.32 KB) | DOI: 10.22146/jik.10181

Abstract

Hutan rakyat tidak hanya menghasilkan kayu akan tetapi juga memberikan hasil hutan bukan kayu (HHBK), malah pada beberapa tempat HHBK ini menjadi primadona. Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan data mengenai jumlah kontribusi pendapatan HHBK di hutan rakyat serta permasalahan dan keunggulan pengembangan HHBK. Kegiatan dilaksanakan di Desa Karyabakti Kecamatan Parungponteng Tasikmalaya, pada bulan Juni-Desember 2013. Obyek kajian adalah petani hutan rakyat yang dipilih secara stratified random sampling berdasarkan luas kepemilikan lahan hutan rakyat sebanyak 30 orang. Pengambilan data dilakukan dengan cara wawancara dengan menggunakan kuisioner. Selanjutnya data yang terkumpul dianalis secara statistik dan disajikan secara diskriptif. Hasil kajian menunjukkan bahwa rata-rata responden memiliki lahan seluas 0,374 ha dan paling luas diperuntukkan untuk usaha hutan rakyat yaitu 0,246 ha atau 65,78 %. Pola tanam yang dikembangkan adalah pola agroforestri yaitu percampuran antara tanaman kayu dan HHBK yang merupakan tanaman perkebunan, tanaman buah, tanaman obat dan tanaman pangan. Periode pendapatan dari tanaman HHBK ini adalah mingguan, bulanan dan tahunan. Kontribusi HHBK terhadap total pendapatan hutan rakyat adalah 67,56% (strata 1), 63,93 % (strata 2) dan 75,11 % (strata 3) sedangkan kontribusi tanaman kayu sebesar 32,44 % (strata I), 36,07 % (strata II) dan 24,89 % (strata III). Dengan demikian, kontribusi HHBK setiap tahunnya jauh lebih tinggi namun sayangnya pengembangan HHBK ini belum maksimal, padahal hasilnya masih dapat lebih ditingkatkan. Salah satu kendala pengembangan HHBK adalah aspek budidaya yang diterapkan masih belum sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP) dari Kementerian Kehutanan. Untuk itu, maka perlu upaya peningkatan HHBK salah satunya dengan transfer pengetahuan dan teknologi melalui penyuluhan.Kata kunci: hutan rakyat, hasil kayu, HHBK, kontribusi, pendapatan The  contribution of  income from Non Timber Forest Product to the  agroforestry business in community forest in Tasikmalaya RegencyAbstractCommunity forests is not merely producing timbers, but also non timber forest products (NTFPs) which are even more important at several places. The objective of the research was to obtain the data with regard to the advantage of developing NTFPs from community forests and its contribution to income of farmer. This study was conducted at Karyamukti village, Parungponteng Sub-district, Tasikmalaya District from June to December 2013. Thirty forest farmers were selected by stratified random sampling technique based on the size of forest ownership. Questioners were used to support interviews during data collection activities. Collected data were statistically analyzed and presented descriptively. The result showed that respondents own land areas averagely 0.374 ha whereas 0.246 ha or 65.78 % of them were utilized for community forest business. The developed planting system was agroforestry i.e. mixing the timber plants with NTFP plants such as estate, fruity, medicinal, and food plants. The period income gained from NTFP could be weekly, monthly, and annually. Income contributions of NTFPs to total income from farm forest were 67.56 % (level 1), 63.93 % (level 2) and 75.11 % (level 3), while the income contributions of timbers were only 32.44 % (level 1), 36.07 % (level 2), and 24.89 % (level 3). The annual income contribution of NTFPs, therefore, was higher than the one from timbers. The contribution, actually, could be increased if the NTFPs were developed seriously. One constrain in the NTFPs development was the silviculture technique operated by farmers, which did not follow the standard operational procedure (SOP) issued by The Ministry of Agriculture. Based on that condition, efforts to improve NTFPs development by transferring the knowledge and technology through extension are urgently required.
Prospek Pengembangan Pala (Myristica fragrans Houtt) di Hutan Rakyat Eva Fauziyah; Devy Priambodo Kuswantoro; Sanudin Sanudin
Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 9, No 1 (2015)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1014.723 KB) | DOI: 10.22146/jik.10182

Abstract

Hutan rakyat sebagian besar dikelola secara agroforestri. Salah satu jenis tanaman yang banyak dikembangkan di hutan rakyat adalah pala (Myristica fragrans). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prospek pengembangan pala di lahan hutan rakyat. Penelitian dilakukan di Desa Kemawi, Kecamatan Somagede, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah pada bulan Juni sampai dengan Juli 2012. Pengumpulan data dilakukan melalui penelusuran data sekunder, wawancara terbuka dan mendalam. Narasumber dipilih secara sengaja (purposive sampling) yaitu petani yang menanam pala di lahannya sebanyak 20 orang. Data yang diperoleh kemudian diolah dan dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pala memiliki prospek yang baik sebagai salah satu jenis tanaman untuk pengembangan hutan rakyat di Desa Kemawi karena terdapat faktor-faktor yang mendukung pengembangannya yaitu :1) lahan secara bio fisik sesuai untuk pertumbuhan tanaman pala, 2) secara sosial dapat diterima oleh masyarakat karena jauh sebelumnya sudah banyak petani yang membudidayakan pala di lahannya 3) secara ekonomi memiliki harga yang cukup tinggi dan stabil sehingga memberikan tambahan pendapatan, 4) kondisi pemasaran baik buah maupun bibitnya sangat mudah, dan 5) perhatian pemerintah terhadap pengembangan pala pada tingkat produksi hingga pengolahan pasca panen cukup besar yang telihat dari adanya beberapa program yang berkaitan dengan pengembangan tanaman pala di wilayah ini.Kata kunci: pala, hutan rakyat, prospek, Desa Kemawi, agroforestri. Development prospect of nutmeg (Myristica fragrans Houtt) in the community forest AbstractThe private forest is largely managed with agroforestry pattern. Nutmeg (Myristica fragrans) is a plant that has been developed in the private forest. This study aimed to determine the prospect of nutmeg in the private forest. This research was conducted in the Kemawi village, Somagede Subdistrict of Banyumas District, Central Java Province in June to July 2012. Data were collected through secondary data study, open and in-depth interviews. Twenty farmers who planted nutmeg were selected with purposive sampling technique. The obtained data were processed and analyzed descriptively. The results showed that nutmeg had a good prospect as one of the plantation species for private forest development in Kemawi village because of these several factors: 1) Kemawi land was biophysically suitable for nutmeg plantation, 2) socially, many farmers had been planting nutmeg in their land, 3) economically, nutmeg had a good and stable price that can provide additional income, 4) marketing of both fruit and seed of nutmeg were very easy, and 5) there were good attentions from the government to the nutmeg development program from production to post-harvesting process.
Pengaruh Cekaman Kekeringan terhadap Perilaku Fisiologis dan Pertumbuhan Bibit Black Locust (Robinia pseudoacacia) Novita Anggraini; Eny Faridah; Sapto Indrioko
Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 9, No 1 (2015)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (894.681 KB) | DOI: 10.22146/jik.10183

Abstract

Black locust (Robinia pseudoacacia) merupakan tanaman asli Amerika Utara dan telah tersebar ke Eropa dan Asia serta menjadi salah satu spesies yang digunakan untuk rehabilitasi lahan semiarid dan arid. Walau demikian, kemampuan adaptasi black locust pada daerah persebarannya cukup meresahkan disebabkan jenis ini memiliki potensi invasif yang cenderung menekan pertumbuhan tanaman asli setempat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari pengaruh cekaman kekeringan berupa volume penyiraman dan interval penyiraman terhadap perilaku fisiologis dan pertumbuhan bibit black locust, serta untuk menganalisis tingkat toleransi black locust terhadap kekeringan melalui karakter efisiensi penggunaan air (WUE) dan kandungan klorofil. Perlakuan volume penyiraman berupa kapasitas lapang 30-40 % mewakili kondisi kekeringan dan kapasitas lapang 70-80 % mewakili kondisi air yang memadai, sementara periode interval penyiraman adalah 1 hari, 3 hari dan 7 hari. Metode analisis yang digunakan ialah analisis tren. Hasil yang diperoleh pada penelitian ini adalah semakin rendah volume penyiraman (KL 30-40 %) dan semakin lama interval penyiraman (ke 7 hari) maka fotosintesis, transpirasi, konduktansi stomata, serta pertumbuhan (tinggi, diameter, berat kering tajuk dan akar) akan semakin rendah, sementara untuk WUE dan kandungan klorofil semakin tinggi. Peningkatan WUE dan kandungan klorofil merupakan dua indikator bahwa black locust mampu beradaptasi (toleran) pada kondisi cekaman kekeringan. Dengan begitu, dapat disimpulkan bahwa penggunaan black locust dalam upaya reklamasi lahan kering perlu didahului studi khusus dan pertimbangan yang matang agar tidak membawa dampak invasif pada kehidupan mendatang.Kata kunci: black locust, cekaman kekeringan, jenis invasif, water use efficiency, kandungan klorofil. Effect of drought stress on physiological behavior and growth ofblack locust (Robinia pseudoacacia) seedlingsAbstractBlack locust (Robinia pseudoacacia) is a native species from North America and it has spread to Europe and Asia. Black locust is also one species used for land rehabilitation in semiarid and arid areas. However, adaptability of black locust on their distribution area is quite disturbing due to its invasive potential that tends to suppress the growth of native plants. The purpose of this study is to examine the effect of drought stress through watering volume and watering intervals treatments on physiological behavior and growth of black locust seedlings, and to analyze the level of black locust on drought tolerance through water use efficiency (WUE) character and chlorophyll content. The watering volumes are 30-40 % of field capacity representing drought conditions and 70-80 % of field capacity representing good water conditions, while the watering intervals are 1, 3 and 7 days. Trend analysis is used to analyze the data. The results indicate that the lower watering volume (30-40 %) and the longer the watering interval (for 7 days), the lower the photosynthesis and transpiration rate, stomatal conductance and growth (height, diameter, shoot dry weight and root) of plants, but the higher the WUE and chlorophyll content. Increasing WUE and chlorophyll content are two indicators indicating that black locust is able to adapt (tolerant) to drought stress situations. Therefore, the use of black locust for dry land reclamation requires special attention and careful strategy to avoid its invasive impact in the future.
Sistem Perburuan Landak Moncong Panjang (Zaglossus bruijnii) pada Masyarakat Kampung Waibem dan Kampung Saukorem Tambrauw, Papua Barat Tresia Frida Awak; Sepus Fatem; Aksamina Yohanita
Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 9, No 1 (2015)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (495.495 KB) | DOI: 10.22146/jik.10184

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sistem perburuan landak moncong panjang (Zaglossus bruijnii) oleh masyarakat kampung Waibem dan Saukorem, Kabupaten Tambrauw. Penelitian ini dilakukan di Kampung Waibem dan Saukorem selama 1 bulan, yaitu sejak bulan Juli-Agustus 2014. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan teknik observasi lapangan dan wawancara semi struktural yang mengacu pada daftar kuisioner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa umumnya masyarakat Kampung Waibem dan Saukorem melakukan perburuan dengan 3 (tiga) tujuan, yaitu untuk dikonsumsi, dijual, dan sebagai hiburan. Masyarakat Kampung Waibem dan Saukorem berburu landak moncong panjang dengan menggunakan jerat, parang, bantuan anjing, dan berburu secara visual (bantuan mata). Waktu berburu landak moncong panjang adalah sehabis hujan, bulan sabit, dan pada malam hari. Pengembangan ekowisata berbasis satwa landak moncong panjang menjadi salah satu strategi untuk menambah pendapatan masyarakat pada kedua kampung serta secara perlahan-lahan mengurangi tingkat perburuan masyarakat.Kata kunci: sistem perburuan, Zaglossus bruijnii, landak moncong panjang, Saukorem Village, Waibem Village Hunting system of long-beaked echidna (Zaglossus bruijnii) by Waibem and Saukorem local communities, Tambrauw Regency, West PapuaAbstractThe objective of this research was to investigate hunting system of western long-beaked echidna (Zaglossus bruijnii) by Waibem and Saukorem Local Communities, Tambrauw Regency in Papua Province of Indonesia during July to August 2014. The observation technique and semi-structural interview were carried out by asking local people through questionnaire and analyzed by descriptive method. The result shows that local people in Waibem and Saukorem villagers generally do hunting for consumption, commercial/sale and hobby. The hunting method used by these communities were lasso, chopping knife, dog, and visual hunting. Hunting time of western long-beaked echidnais normally done after rain, crescent moon, and during night. Eco-tourism development is expected to increase the income of local people as well as reducing hunting pressure of this species.

Page 1 of 1 | Total Record : 7