cover
Contact Name
Sonia Hanifati
Contact Email
soniahanifati@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
mdvi.perdoski@gmail.com
Editorial Address
Ruko Grand Salemba Jalan Salemba 1 No.22, Jakarta Pusat, Indonesia
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Media Dermato-Venereologica Indonesiana
ISSN : -     EISSN : 26567482     DOI : https://doi.org/10.33820/mdvi.v49i3
Core Subject : Health,
Media dermato Venereologica Indonesiana adalah jurnal open access dan peer-reviewed yang fokus di bidang dermatologi dan venereologi. Jurnal ini menerbitkan artikel asli, laporan kasus, tinjauan pustaka dan komunikasi singkat mengenai kesehatan kulit dan kelamin, diagnosis dan terapi pada bidang kulit dan kelamin dan masalah lainnya di bidang kesehatan kulit dan kelamin.
Arjuna Subject : Kedokteran - Dematologi
Articles 11 Documents
Search results for , issue "Vol 49 No 1 (2022)" : 11 Documents clear
LESI ATIPIKAL HERPES SIMPLEKS GENITALIS PADA PASIEN HUMAN IMMUNODEFICIENCY VIRUS STADIUM IV
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 49 No 1 (2022)
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1175.484 KB) | DOI: 10.33820/mdvi.v49i1.175

Abstract

Infeksi herpes simpleks genitalis akibat Herpes Simplex Virus (HSV) dapat berulang dan berlangsung seumur hidup. Infeksi HSV menjadi penyebab tersering dari ulkus genital pasien Human Immunideficiency Virus (HIV). Pasien HIV seringkali mengalami herpes simpleks genitalis dengan manifestasi yang atipikal, lebih berat dan lebih sering kambuh. Seorang perempuan berusia 30 tahun mengeluhkan luka di area kemaluan dan pantat sejak 1,5 bulan terakhir. Pasien terdiagnosis HIV stadium IV dan Tuberkulosis (TB) namun putus berobat. Pasien diterapi sebagai ulkus mole selama 1 minggu namun tidak ada perbaikan. Gambaran lesi atipikal yang didapatkan berupa ulkus luas multipel, dasar eritematosa, mudah berdarah, sangat nyeri dengan batas tegas dan tepi ireguler pada area inguinal dan gluteus. Hasil kultur tidak menunjukkan adanya Haemophilus Ducreyi dan hasil biopsi menyingkirkan diagnosis banding Donovanosis. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan CD4 9 sel/μL dan peningkatan Anti HSV-2 IgG. Pasien tegak didiagnosis sebagai herpes simpleks genitalis, HIV stadium IV dan TB. Perbaikan bermakna didapatkan setelah terapi supresi Asiklovir 3 x 400 mg per hari selama 6 minggu. Pasien dengan lesi atipikal memerlukan pemeriksaan serologis dalam menegakkan diagnosis. Tatalaksana yang tepat dapat mencegah komplikasi dan rekurensi herpes simpleks genitalis pada pasien HIV.
ALOPESIA AREATA DENGAN TERAPI KOMBINASI INJEKSI PLATELET-RICH PLASMA (PRP) DAN TRIAMSINOLON ASETONID INTRALESI
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 49 No 1 (2022)
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1803.897 KB) | DOI: 10.33820/mdvi.v49i1.217

Abstract

Alopecia Areata (AA) is an autoimmune disease characterized by sudden hair loss from the scalp. Treatment of existing AA is difficult, so a combination of more than one therapeutic modality is needed. This is a case report of a 29-year-old man who complained of hair loss on the occipital and temporal right scalp, causing local baldness. Neither itching nor pain in the affected area. The patient was suffered from hair loss for the past two months. Based on anamnesis, physical examination, and other supporting examinations, the patient was diagnosed with AA. The management was given in the form of combination intralesional therapy and obtained a satisfactory result. Although the diagnosis of AA is quite easy, the treatment of AA tends to be difficult and remains a clinical challenge. This is due to the lack of randomized controlled trials for the management of AA and the psychological aspect of AA that can cause anxiety and depression. The combination therapy was given in the form of an intralesional injection of triamcinolone acetonide followed by an intralesional injection of platelet-rich plasma (PRP) at intervals of 3 weeks in each session. Satisfactory results are obtained after 5 months of combined intralesional therapy.
PATOGENESIS DAN PENDEKATAN DIAGNOSTIK SINDROM NETHERTON
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 49 No 1 (2022)
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2200 KB) | DOI: 10.33820/mdvi.v49i1.228

Abstract

Sindrom Netherton merupakan genodermatosis autosomal resesif karena mutasi gen serine peptidase inhibitor Kazal type 5 (SPINK5) yang mengkode lymphoepithelial Kazal-type inhibitor (LEKTI). Defisiensi LEKTI menyebabkan berbagai perubahan fisiologis yang mengakibatkan kerusakan sawar kulit. Peningkatan kallikrein (KLK) khususnya KLK 5, 7, dan 14 akan mendegradasi desmosom dan korneodesmosom sehingga stratum korneum terlepas. Peningkatan elastase (ELA) 2 menyebabkan degradasi filaggrin dan abnormalitas lipid sehingga sawar kulit terganggu. Aktivasi PAR-2 dan peran katelisidin mencetuskan reaksi alergi dan inflamasi. Sindrom Netherton memiliki gejala klinis yang mirip beberapa dermatosis lain sehingga kadang tidak terdiagnosis. Diagnosis ditegakkan dengan pendekatan klinis yang komprehensif, pemeriksaan laboratorium, histopatologi, serta pewarnaan imunohistokimia. Pemeriksaan rambut dapat menggunakan trikoskopi, mikroskop cahaya, atau mikroskop elektron. Pemeriksaan genetik molekular dengan DNA sequencing dapat mengonfirmasi diagnosis dan memungkinkan konseling genetik yang lebih tepat.
REAKSI SIMPANG KULIT AKIBAT PENGGUNAAN APD SELAMA PANDEMI COVID-19: STUDI DESKRIPTIF DI RSUP PERSAHABATAN
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 49 No 1 (2022)
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (827.219 KB) | DOI: 10.33820/mdvi.v49i1.301

Abstract

Pendahuluan: Pandemi coronavirus disease (COVID-19) menimbulkan tantangan tersendiri bagi tenaga kesehatan yang bekerja merawat pasien COVID-19 karena akan menggunakan alat pelindung diri (APD) dalam jangka waktu lama. Kondisi tersebut dapat menimbulkan reaksi simpang di kulit dan mengganggu kinerja tenaga kesehatan. Tujuan: Mendapatkan gambaran dan insidens reaksi simpang pada kulit akibat penggunaan APD di RSUP Persahabatan, Jakarta. Metode: Menggunakan desain potong lintang deskriptif untuk mendeskripsikan berbagai reaksi simpang pada kulit akibat penggunaan APD (tingkat perlindungan 3) beserta insidensnya. Data tersebut diperoleh melalui kuesioner yang diisi secara mandiri oleh responden. Hasil: Reaksi simpang akibat penggunaan APD dikeluhkan oleh 58,8% responden, berupa keluhan kulit akibat masker N95 (41,6%), sarung tangan medis (34,3%), pakaian pelindung (26,2%), kaca mata pelindung (17,6%), dan APD lain (20,2%). Diskusi: Berdasarkan data yang didapatkan dari hasil penelitian ini, reaksi simpang akibat penggunaan APD masih sering terjadi meskipun durasi dan frekuensi penggunaan APD sudah sesuai anjuran. Masker N95 adalah jenis APD yang paling sering menimbulkan reaksi simpang pada kulit. Kesimpulan: Diperlukan suatu upaya tambahan pada tenaga kesehatan untuk mengurangi risiko munculnya reaksi simpang di kulit akibat APD, misalnya melalui edukasi cara menggunakan APD secara tepat dan peningkatan peran dokter spesialis kulit dan kelamin untuk menangani keluhan tersebut secara dini.
MIKROBIOTA KULIT DAN PERANANNYA PADA DERMATITIS ATOPIK
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 49 No 1 (2022)
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (997.195 KB) | DOI: 10.33820/mdvi.v49i1.303

Abstract

Mikrobiota kulit adalah flora normal yang biasa ditemukan pada permukaan kulit, terdiri dari bakteri, virus, dan jamur. Interaksi antara mikrobiota dengan inang memiliki peran penting pada perkembangan imunitas dan berfungsi sebagai proteksi terhadap berbagai patogen. Mikrobiom kulit adalah suatu hubungan simbiosis, komensal, ataupun patogen antara mikrobiota, gen, dan metabolit dari mikrobiota dengan suatu individu pada kulit. Dermatitis atopik (DA) merupakan kelainan kulit kronis dengan penyebab multifaktorial yang ditandai dengan ruam kulit dan kulit kering yang rasa gatal. Patogenesis DA sangat kompleks karena melibatkan latar belakang genetik, pemicu dari lingkungan, kelainan sistem imun, serta dipengaruhi oleh kondisi stres. Saat ini, peranan mikrobiom sedang banyak diteliti pada berbagai penyakit kulit termasuk pada DA, karena tidak lagi dipandang sebagai flora normal, tetapi merupakan mikrobiota kompleks yang berhubungan dengan sistem imunologis dan berinteraksi aktif dengan sel-sel di sekelilingnya. Pada kondisi kerusakan sawar kulit seperti DA, mikrobiom sangat berperan dalam mencetuskan terjadinya DA. Berbagai penelitian mengenai mikrobiom kulit pada individu dengan DA memberikan hasil yang berbeda. Hal ini disebabkan sulitnya mengidentifikasi bakteri spesifik pada individu dengan DA. Pemahaman lebih baik mengenai peranan mikrobiota kulit pada DA diharapkan dapat menjadi dasar pertimbangan terapi DA di masa yang akan datang.
SENSITIVITAS DAN SPESITIVITAS PEMERIKSAAN DERMOSKOPI PADA TINEA KAPITIS
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 49 No 1 (2022)
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1298.652 KB) | DOI: 10.33820/mdvi.v49i1.309

Abstract

Pendahuluan: Tinea kapitis adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh infeksi jamur pada kulit kepala, dengan gambaran klinis yang khas. Terdapat beberapa tipe tinea kapitis, yaitu black dot, gray patch (bentuk non-inflamasi), kerion, dan favosa (bentukinflamasi). Dermoskopimerupakan teknik noninvasif dan cepat, membantu menegakkan diagnosis tinea kapitis, karena setiap jenis tinea kapitis memiliki gambaran dermoskopi yang berbeda. Tujuan: Tujuan penelitian untuk menentukan sensitivitas dan spesitivitas pemeriksaan dermoskopi tinea kapitis. Metode: Penelitian merupakan uji diagnosis dengan pendekatan potong-intang. Semua pasien yang telah dilakukan pemeriksaan kalium hidroksida (KOH) diagnosis dilakukan pemerikaan dermoskopi. Hasil: Penelitian ini dilakukan terhadap 52 pasien tinea kapitis terdiri dari tipe klinis; black dot 17 pasien, gray patch 11 pasien, favosa 6 dan kerion 2 pasien. Dengan pemeriksaan dermoskopi dijumpai fitur; comma hairs 26 pasien, corkscrew hairs 15 orang, Black dots, broken hair 7 orang dan Coiled hair 4 orang. Masih ada fitur dermoskopi yang lain, tapi agak sulit mengklasifikasikan seperti peripilar casts, dystrophic dan cadaverized hairs, tubular hair cast. Kesimpulan: Dermoskopi dapat diterapkan untuk menegakkan diagnosis tinea kapitis dan dapat digunakan membedakan kelaian kulit kepala dan rambut yang lainnya dengan sensitivitas 81,1% dan spesitivitas 82,0 %. Kata kunci: Sensitivitas, spesitivitas, dermoskopi, gambaran klinis, tinea kapitis
BERBAGAI MODALITAS TERAPI STRETCH MARK BERBASIS BUKTI
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 49 No 1 (2022)
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v49i1.310

Abstract

Stretch mark (striae distensae) adalah kelainan yang diduga disebabkan oleh faktor kekuatan mekanik, perubahan intrinsik struktur dan fungsi kulit, serta faktor hormonal. Kelainan ini muncul di usia 5 sampai 50 tahun, serta ditemukan paling banyak saat puncak pertumbuhan dan wanita, terutama wanita hamil. Stretch mark memiliki presentasi klinis berupa striae rubra berwarna eritematosa hingga terjadi hipopigmentasi dan atrofi disebut striae alba. Diagnosis kelainan ini dengan dermoskopi, mikroskop elektron, hingga pemeriksaan histopatologi, dengan diagnosis banding utama adalah linear focal elastosis dan anetoderma. Tidak terdapat pedoman standar yang tersedia untuk manajemen stretch mark. Berbagai pilihan pengobatan yang tersedia, antara lain terapi topikal misal dengan tretinoin, injeksi asam hialuronat, tehnik mekanik mikrodermabrasi, platelet-rich plasma, microneedling therapy, galvanopuncture, radiofrekuensi, karboksi terapi, terapi berbasis cahaya, dan laser, termasuk laser fraksional. Laser fraksional non-ablatif lebih disukai daripada ablatif karena risiko komplikasi lebih rendah dan waktu pemulihan lebih singkat, walaupun lebih banyak perawatan. Stretch mark adalah masalah umum yang menyebabkan masalah estetik hingga gangguan psikososial, artikel ini terutama akan membahas profilaksis dan pengobatan stretch mark berbasis bukti terbaru. Kata Kunci: stretch marks, tata laksana berbasis bukti
OKRONOSIS EKSOGEN: PEMBAHARUAN DALAM DIAGNOSIS DAN TATA LAKSANA
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 49 No 1 (2022)
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (781.117 KB) | DOI: 10.33820/mdvi.v49i1.361

Abstract

Exogenous ochronosis is a skin disorder characterized by blue-black or greyish pigmentation with the histological appearance of brownish-yellow deposits of polymerized homogentisic acid (HGA) in the dermis. Exogenous ochronosis is common in dark-skinned individuals, but recent studies have shown that the disease can also occur in ethnic Asians in China, Thailand, and Singapore. The majority of exogenous ochronosis occurs due to the continuous use of topical hydroquinone for a long period of time. The clinical picture of exogenous ochronosis can be different, according to the stage classification. Skin biopsy is an invasve procedure for diagnosing exogenous ochronosis, the standard gold examination with the histological appearance of yellow-brown or green banana-shaped fibres in the dermis. Dermoscopy is one of the latest non-invasive tools that can help diagnose exogenous ochronosis from other hyperpigmented lesions. Dermoscopy examination showed an arciform curvilinear (worm-like pattern) appearance with telangiectasia with grey-blue dots and globules with a caviar-like appearance. Exogenous ochronosis remains a challenging condition to treat. Several therapeutic modalities, such as topical and laser therapy, are available. The European Society of Laser Dermatology (ESLD) recommends laser therapy as the latest therapy in the management of exogenous ochronosis with the principle of fractional ablative modality. However, no single therapeutic modality is consistently satisfactory.
PERAWATAN KULIT ANAK DENGAN DERMATITIS ATOPIK
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 49 No 1 (2022)
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (801.772 KB) | DOI: 10.33820/mdvi.v49i1.362

Abstract

Atopic dermatitis (AD) is a very itchy, chronic residual skin inflammation often found in children, thus affecting the quality of life of patients and their families. The pathogenesis of AD is complex and multifactorial, with the primary pathological state being a skin barrier disorder that may induce acute exacerbations. Skincare in AD patients is one of the nonpharmacological measures to repair the skin barrier and prevent a recurrence. The use of mild cleansers, the routine use of moisturizers, the choice of clothing materials, breaking the scratch-itch cycle, and eliminating trigger factors are a series of skincare that have been researched for their clinical benefits in skin barrier disorders. The management of AD patients requires a holistic approach followed by integrating evidence-based skincare and pharmacologic therapy. Improving the pathological skin barrier is the basic principle in managing AD patients. Implementing proper skincare for AD in children needs the help and support of their parents. It is hoped that the adherence, independence, and improvement of the quality of life of patients and their families are expected to be achieved.
MUNGKINKAH COVID-19 MENULAR MELALUI KONTAK SEKSUAL ?
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 49 No 1 (2022)
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (779.963 KB) | DOI: 10.33820/mdvi.v49i1.363

Abstract

The widespread Covid-19 outbreak has raised many questions about the origin and transmission of the virus. It has now been proven that it can be transmitted through droplets, physical contact and aerosols. Additionally, several other possible modes of transmission are being explored. The discovery of SARS-CoV-2 and ACE2 in male and female reproductive organs, raises suspicions of the possibility of transmitting Covid-19 through sexual contact. The main purpose of this paper is to review the existing literature on possible modes of transmission of Covid-19, primarily through sexual contact; also to develop an understanding of the causes and spread of SARS-CoV-2, and to suggest recommendations for containing and preventing the spread of new coronavirus. An assessment of possible modes of transmission of SARS-CoV-2 was carried out based on reports and articles available on PubMed and ScienceDirect.com with keywords, ‘transmission’, ‘sexual contact’, ‘Coronavirus’, ‘SARS-CoV-2’, and ‘Covid-19’. Various studies have shown different results regarding the presence of SARS-CoV-2 in the reproductive organs of both men and women, some found SARS-Cov-2 in kidney, anal, semen, and vaginal fluids; but some other researchers did not find. Likewise, the existence of the ACE2 receptor in the reproductive organs as a receptor that determines a person's susceptibility to infection, the results are controversial. A long study is still needed to be able to conclude whether Covid-19 can be transmitted through sexual contact. The experts advise someone affected by Covid-19 to postpone close contact, including sexual contact, always maintain personal and environmental hygiene, also adhering to health protocols.

Page 1 of 2 | Total Record : 11