cover
Contact Name
Prima Daniyati Kusuma
Contact Email
jkn@stikes-notokusumo.ac.id
Phone
+6285701512299
Journal Mail Official
jkn@stikes-notokusumo.ac.id
Editorial Address
Jl. Bener No. 26 Tegalrejo, Yogyakarta 55243
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Keperawatan Notokusumo
ISSN : 23384514     EISSN : 28081781     DOI : 10.53423
Jurnal Keperawatan diterbitkan oleh Program Studi Ilmu Keperawatan STIKES Notokusumo. Jurnal ini diterbitkan secara berkala dua kali dalam setahun yaitu periode Juni - Desember. Jurnal ini memuat hasil-hasil penelitian dan kajian dalam bidang ilmu keperawatan.
Articles 4 Documents
Search results for , issue "Vol. 12 No. 1 (2024): Juni" : 4 Documents clear
TINGKAT PENGETAHUAN MENGENAI KESEHATAN REPRODUKSI PADA REMAJA: LITERATURE REVIEW: LEVEL OF KNOWLEDGE REGARDING REPRODUCTIVE HEALTH ADOLESCENTS: LITERATURE REVIEW Sabarofek, Willem M.; Yesnath, Amandus R.; Gurning, Maylar; Manoppo, Inggerid A.
Jurnal Keperawatan Notokusumo Vol. 12 No. 1 (2024): Juni
Publisher : LPPM STIKES NOTOKUSUMO YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Remaja merupakan masa dimulainya perkembangan organ-organ reproduksi, kurangnya pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi dapat menimbulkan masalah dalam kesehata reprodusi, masalah yang akan timbul jika remaja tidak mengetahui pengetahuan yang cukup tentang kesehatan reproduksi yaitu penyakit menular seksual. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui tingkat pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi. Metode pencarian database menggunakan NIH public Access, Google Scholar yang dibatasi dari tahun Januari 2019 sampai Januari 2024 selama 5 tahun dengan mereview 10 jurnal. Hasil yang ditemukan dalam literatur review ini diapatkan masih banyak sekali sekali pengetahuan remaja yang kurang tentang kesehatan reproduksi pada remaja laki laki dan remaja perempuan. Remaja memiliki pengetahuan yang cukup dan kurang tentang kesehatan reproduksi pada remaja.   Adolescence is the period when the development of reproductive organs begins. Lack of knowledge about reproductive health in adolescents can cause problems in reproductive health, problems that will arise if adolescents do not have sufficient knowledge about reproductive health, namely sexually transmitted diseases. The aim of the research is to determine the level of knowledge of adolescents about reproductive health. The database search method used NIH public Access, Google Scholar which was limited from January 2019 to January 2024 for 5 years by reviewing 10 journals. The results found in this literature review show that there is still a lot of adolescent knowledge that is lacking regarding reproductive health in male and female adolescents. Adolescents have insufficient and insufficient knowledge about reproductive health in adolescents.
STATUS ASI EKSKLUSIF DAN KEJADIAN BALITA STUNTING DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS UMBULHARJO I: STUDI KORELASIONAL: EXCLUSIVE BREASTFEEDING STATUS AND THE INCIDENT OF STUNTING TODDLERS IN THE WORKING AREA OF UMBULHARJO I HEALTH CENTER: CORRELATIONAL STUDY Eka Oktavianto; Izzati, Shifani Nazah; Timiyatun, Endar; Sunny, Suniarti
Jurnal Keperawatan Notokusumo Vol. 12 No. 1 (2024): Juni
Publisher : LPPM STIKES NOTOKUSUMO YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Pada masa balita, masalah stunting dapat menjadi masalah fatal jika tidak diatasi dengan baik. Stunting adalah masalah kurang gizi yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama, sehingga mengakibatkan tinggi badan anak lebih pendek dari standar usianya. Tidak hanya sekedar permasalahan tinggi badan yang terhambat, stunting juga berdampak pada kecerdasan anak. Status ASI yang tidak eksklusif diduga menjadi salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kejadian stunting. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan status ASI eksklusif dengan kejadian balita stunting di wilayah kerja Puskesmas Umbulharjo I. Penelitian ini berjenis observasional, menggunakan rancangan case control. Penelitian ini dilakukan di ruang rekam medis Puskesmas Umbulharjo I. Pengambilan sampel dalam penelitian ini yaitu total sampling dengan jumlah 116 balita stunting sebagai kelompok kasus dan 116 balita tidak stunting sebagai kelompok kontrol. Instrumen penelitian ini menggunakan daftar tilik. Data balita didapatkan dari rekam medis. Uji statistik menggukan uji chi square. Hasil: Hasil penelitian ini menunjukkan dari 116 balita stunting 39 balita (33,6%) mendapatkan ASI eksklusif dan 77 balita (66,4%) tidak mendapatkan ASI eksklusif. Dari 116 balita tidak stunting 106 balita (91,4%) mendapatkan ASI eksklusif dan 10 balita (8,6%) tidak mendapatkan ASI eksklusif. Balita yang tidak mendapatkan ASI eksklusif cenderung mengalami stunting yakni sejumlah 77 balita (66,4%) dan yang mendapatkan ASI eksklusif yakni sejumlah 106 balita (91,4%). Hasil uji chi square didapatkan nilai p= 0,000 (nilai <0,05). Kesimpulanya: ada hubungan antara status ASI eksklusif dengan kejadian balita stunting di wilayah kerja Puskesmas Umbulharjo I.   Background: During toddlerhood, stunting can become a fatal problem if it is not addressed properly. Stunting is caused by a lack of nutritional intake for a long time, resulting in a child's height being shorter than the age standard. It's not just a problem of stunted height, stunting also has an impact on children's intelligence. Non-exclusive breastfeeding status is thought to be one of the factors that can influence the incidence of stunting. Objective: This study aims to determine the relationship between exclusive breastfeeding status and the incidence of stunting in toddlers. Method: Observational research with a case control design was used in this research. This research was conducted in the medical records room. The sampling in this study was total sampling with 116 stunted toddlers as the case group and 116 non-stunted toddlers as the control group. This research instrument used a checklist created by researchers to record stunting and breast milk status. Data on toddlers was obtained from medical records. Statistical tests used the chi square test. Results: The results of this study show that toddlers who do not receive exclusive breastfeeding tend to experience stunting, namely 77 toddlers (66.4%) and those who receive exclusive breastfeeding tend not to be stunted, namely 106 toddlers (91.4%). The results of the chi square test obtained a p value = 0.000 (value <0.05). Conclusion: there is a relationship between exclusive breastfeeding status and the incidence of stunting in toddlers. Health workers are expected to be more active in promoting exclusive breastfeeding to prevent stunting.
PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN TERHADAP PENGETAHUAN TENTANG BAHAYA SEKS BEBAS PADA REMAJA JALANAN DI YAYASAN RUMAH IMPIAN YOGYAKARTA: THE INFLUENCE OF HEALTH EDUCATION ON KNOWLEDGE ABOUT THE DANGER OF FREE SEX IN STREET TEENAGERS AT RUMAH IMPIAN FOUNDATION YOGYAKARTA Endar Timiyatun; Rahmiati, Mira; Oktavianto, Eka; Nurhayati, Pipin
Jurnal Keperawatan Notokusumo Vol. 12 No. 1 (2024): Juni
Publisher : LPPM STIKES NOTOKUSUMO YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Remaja jalanan rentan berisiko terhadap berbagai permasalahan karena keterbatasan yang dimiliki. Salah satu permasalahannya ialah kesehatan reproduksi, rata-rata remaja jalanan sudah aktif secara seksual sejak dini, memiliki pasangan seksual lebih dari satu, menganggap kekerasan seksual dan seks komersial adalah hal yang biasa. Selain itu, rasa ingin tahu dan mencoba hal-hal baru terutama dikalangan remaja laki-laki yang diimbangi dengan rasa senang, membuktikan cinta dan kasih sayang kepada pasangannya tetapi dengan pengaruh media massa mereka melakukan hal yang mengarah kepada pornografi. Untuk mencegah dampak negatif dan memberikan dasar yang kuat bagi remaja dalam mengambil keputusan, maka perlu diberikan pendidikan kesehatan terhadap pengetahuan tentang bahaya seks bebas kepada remaja sejak usia dini dengan media video animasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya pengaruh pendidikan kesehatan terhadap pengetahuan tentang bahaya seks bebas pada remaja jalanan di Yayasan Rumah Impian Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan desain pre experimental (one group pre-posttest design) pada desain ini terdapat satu kelompok yang digunakan untuk penelitian. Teknik Analisa data menggunakan uji Wilcoxon. kriteria inklusi untuk responden yaitu: remaja yang berusia 14-16 tahun, remaja yang tinggal di jalanan. Instrumen yang digunakan dalam penelitian adalah kuesioner pengetahuan mengenai bahaya seks bebas. Hasil penelitian ini menunjukkan nilai p= 0,000 (nilai p<0,05) yang artinya terdapat pengaruh Pendidikan Kesehatan terhadap pengetahuan tentang bahaya seks bebas. Kesimpulannya adalah ada pengaruh pendidikan kesehatan terhadap pengetahuan tentang bahaya seks bebas pada remaja jalanan di Yayasan Rumah Impian Yogyakarta.   Street teenagers are vulnerable to various problems because of their limitations. One of the problems is reproductive health. On average, street teenagers are sexually active from an early age, have more than one sexual partner, and consider sexual violence and commercial sex to be normal. Apart from that, curiosity and trying new things, especially among teenage boys, is balanced with a sense of pleasure, proving love and affection for their partners, but with the influence of mass media, they do things that lead to pornography. To prevent negative impacts and provide a strong basis for teenagers in making decisions, it is necessary to provide health education regarding knowledge about the dangers of free sex to teenagers from an early age using animated video media. This research aims to determine the influence of health education on knowledge about the dangers of free sex among street teenagers at the Rumah Impian Yogyakarta Foundation. This research uses a pre-experimental design (one group pre-posttest design). In this design, there is one group used for research. Data analysis techniques used the Wilcoxon test. Inclusion criteria for respondents were: teenagers aged 14-16 years, teenagers living on the streets. The instrument used in the research was a knowledge questionnaire regarding the dangers of casual sex. The results of this study show a p value = 0.000 (p value <0.05), which means that there is an influence of health education on knowledge about the dangers of free sex. The conclusion is that there is an influence of health education on knowledge about the dangers of free sex among street teenagers at the Rumah Impian Yogyakarta Foundation.
PENERAPAN SENAM KAKI UNTUK MENGATASI PENURUNAN PERFUSI PERIFER PADA PASIEN DIABETES MELLITUS: STUDI KASUS : THE APPLICATION OF FOOT EXERCISES TO OVERCOME DECREASED PERIPHERAL PERFUSION OF DIABETES MELLITUS PATIENTS: A CASE STUDY Henny Pramidyastuti, Chatarina; Theresia, Siwi Ikaristi Maria
Jurnal Keperawatan Notokusumo Vol. 12 No. 1 (2024): Juni
Publisher : LPPM STIKES NOTOKUSUMO YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pencegahan komplikasi pada penderita diabetes militus dapat dilakukan dengan mengubah perilaku kesehatan melalui penanganan farmakologi dan non farmakologi. Latihan senam kaki merupakan upaya awal dalam mencegah, mengontrol, dan mengatasi diabetes karena senam kaki dapat meningkatkan aliran darah dan memperlancar sirkulasi darah. Studi kasus ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penerapan) senam kaki terhadap peningkatan sirkulasi perifer pada pasien Diabetes Melitus tipe II di Ruang Rawat Inap RS Panti Rini Yogyakarta. Subyek yang digunakan adalah dua orang pasien yang dilakukan intervensi senam kaki dengan frekuensi 1 kali sehari dengan durasi 10 - 15 menit selama 3 hari berturut-turut untuk setiap pasien. Hasil studi menunjukkan bahwa terdapat peningkatan sirkulasi darahh memalui pemeriksaan CRT dari 3 detik menjadi 2 detik dan SpO2 yang stabil. Selain itu terdapat peningkatan sensitivitas tajam tumpul dari score 5 menjadi 8 pada kedua kaki serta sensitivitas panas dingin yang konsisten tidak mengalami penurunan. Oleh karena itu perawat hendaknya melakukan edukasi dan memberikan intervensi senam kaki pada pasien yang opname untuk mengatasi masalah keperawatan perfusi perifer tidak efektif yang dapat mengakibatkan komplikasi neuropati perifer yang dapat berdampak terjadinya ulkus diabetikus.   Prevention of complications in patients with diabetes militus can be done by changing health behavior through pharmacological and non-pharmacological treatments. Foot exercises are an early effort in preventing, controlling, and overcoming diabetes because foot exercises can increase blood flow and improve blood circulation. This case study aims to determine the effect of the application of foot exercises on improving peripheral circulation in type II Diabetes Mellitus patients in the Inpatient Room of Panti Rini Hospital Yogyakarta. The subjects used were two patients who were intervened with foot exercises with a frequency of 1 time a day with a duration of 10 - 15 minutes for 3 consecutive days for each patient. The results of the study showed that there was an improvement in blood circulation through CRT examination from 3 seconds to 2 seconds and stable SpO2. In addition, there was an increase in blunt sharp sensitivity from a score of 5 to 8 on both feet and a consistent cold heat sensitivity that did not decrease. Therefore, nurses should educate and provide foot exercise interventions for patients who are hospitalized to overcome nursing problems of ineffective peripheral perfusion which can lead to complications of peripheral neuropathy which can have an impact on diabetic ulcers.

Page 1 of 1 | Total Record : 4