cover
Contact Name
Eka Widiyananto
Contact Email
ewdynt@gmail.com
Phone
+628122089782
Journal Mail Official
jurnalarsitektur@sttcirebon.ac.id
Editorial Address
© Redaksi Jurnal Arsitektur Program Studi Arsitektur Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon Gd.Lt.1 Jl.Evakuasi No.11, Cirebon 45135
Location
Kota cirebon,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Arsitektur
ISSN : 20879296     EISSN : 26856166     DOI : 10.59970/jas
Core Subject : Engineering,
Fokus Jurnal Arsitektur adalah mahasiswa dan dosen pembimbing untuk Mata Kuliah Metodologi Penelitian, Seminar atau Skripsi di Program Studi Arsitektur Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon atau Prodi Arsitektur pada Perguruan Tinggi lain di Indonesia. Ruang lingkup pada Jurnal Arsitektur adalah ilmu kearsitekturan dengan bidang keilmuan diantaranya bidang keilmuan kota, perumahan dan permukiman, bidang keilmuan ilmu sejarah Arsitektur, filsafat dan teori arsitektur, bidang keilmuan teknologi bangunan, manajemen bangunan, building science, serta bidang keilmuan perancangan arsitektur.
Articles 134 Documents
Division of the Northern, Central, and Southern Spaces in Tongkonan Traditional Houses and Their Functions and Meanings: Division of the Northern, Central, and Southern Spaces in Tongkonan Traditional Houses and Their Functions and Meanings Andi Abidah; Rangga Riana; Muh Rifai
Jurnal Arsitektur Vol. 18 No. 1 (2026): Jurnal Arsitektur
Publisher : Program Studi Arsitektur Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rumah adat Tongkonan merupakan pusat kosmos spiritual, sosial, dan budaya masyarakat Toraja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pembagian ruang secara vertikal dan horizontal pada Tongkonan, khususnya konsep tritunggal Utara (ratiang), Tengah (sali), dan Selatan (sumbung) serta fungsi dan makna simbolis yang melekat padanya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif-analitis, melalui studi literatur dan observasi etnografis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembagian ruang Utara–Tengah–Selatan bukan sekadar pembagian fisik, tetapi merupakan pengejawantahan dari kosmologi dan filosofi hidup masyarakat Toraja yang dikenal sebagai Aluk Todolo. Ruang Utara (ratiang), yang berorientasi pada arah mata angin utara (searah dengan puya/alam arwah), berfungsi sebagai area sakral untuk meletakkan sesaji dan kepala hewan kurban, serta tempat orang tua dan benda-benda pusaka. Ruang Tengah (sali) merupakan area inti dari aktivitas sehari-hari keluarga, seperti memasak, berkumpul, dan tidur, yang melambangkan dunia manusia. Sementara itu, Ruang Selatan (sumbung) yang menghadap selatan (arah kehidupan), berfungsi sebagai area yang lebih profane, seperti tempat penerimaan tamu dan kegiatan sosial, serta tempat tidur anak-anak. Kesimpulannya, pembagian ruang tritunggal ini merefleksikan hierarki sakral–profane, siklus hidup manusia (lahir–hidup–mati), dan tatanan sosial yang harmonis, sehingga Tongkonan tidak hanya berfungsi sebagai hunian fisik, tetapi lebih sebagai simbol mikrokosmos dari alam semesta (makrokosmos) masyarakat Toraja.
LITERATURE REVIEW: FASILITAS ARSITEKTURAL PADA DESA WISATA PEMENANG LDWN DAN ADWI BERDASARKAN PENDEKATAN PENTAHELIX Mokhammad Ali Mustofa; Febrianto.s.r
Jurnal Arsitektur Vol. 18 No. 1 (2026): Jurnal Arsitektur
Publisher : Program Studi Arsitektur Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Desa wisata merupakan bentuk pembangunan berkelanjutan yang mengintegrasikan potensi lokal dengan kegiatan pariwisata berbasis masyarakat. Pemerintah melalui Lomba Desa Wisata Nusantara (LDWN) dan Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) berupaya mendorong kemandirian serta daya saing desa melalui penguatan aspek atraksi, aksesibilitas, dan amenitas (Kemenparekraf, 2023). Dalam konteks arsitektur, penyediaan fasilitas wisata (amenitas) berperan penting dalam menciptakan kenyamanan, identitas ruang, dan pengalaman pengunjung (Maharani, 2024). Penelitian ini merupakan kajian literatur yang bertujuan mengidentifikasi peran fasilitas arsitektural dalam pengembangan desa wisata pemenang LDWN dan ADWI berdasarkan pendekatan pentahelix. Metode yang digunakan ialah analisis kualitatif deskriptif terhadap penelitian terdahulu yang membahas amenitas, pentahelix, dan pengembangan kawasan wisata berkelanjutan. Hasil kajian menunjukkan bahwa ketersediaan fasilitas arsitektural dipengaruhi oleh kategori pengembangan desa wisata dan kolaborasi antaraktor pentahelix pemerintah, akademisi, pelaku bisnis, komunitas, dan media dalam menciptakan ruang wisata yang adaptif, partisipatif, dan berkelanjutan (Kuswandi et al., 2025).
IDENTIFIKASI PENERAPAN PRINSIP ARSITEKTUR BERKELANJUTAN PADA MASJID KUNO GAMEL DI KABUPATEN CIREBON Elgri Yugawati Wisesa; Neliana; Rama Hardiansyah
Jurnal Arsitektur Vol. 18 No. 1 (2026): Jurnal Arsitektur
Publisher : Program Studi Arsitektur Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masjid Kuno Gamel di Desa Gamel, Kecamatan Plered, Kabupaten Cirebon merupakan bangunan bersejarah yang masih mempertahankan karakteristik arsitektur tradisional. Keberadaan berbagai elemen bangunan menunjukkan adanya penerapan kearifan lokal yang relevan dengan prinsip arsitektur berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi penerapan prinsip arsitektur berkelanjutan pada Masjid Kuno Gamel melalui aspek lingkungan, konstruksi, dan sosial. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan etnografi arsitektur. Data dikumpulkan melalui observasi lapangan, wawancara, dokumentasi, dan studi pustaka, kemudian dianalisis secara deskriptif berdasarkan indikator arsitektur berkelanjutan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bangunan menerapkan prinsip keberlanjutan melalui desain yang adaptif terhadap iklim tropis, seperti penggunaan atap tajug bertingkat, ventilasi alami, dan pencahayaan alami yang mendukung kenyamanan termal serta mengurangi kebutuhan energi buatan. Dari aspek konstruksi, penggunaan material kayu, sistem soko guru, dan sambungan pasak mencerminkan teknik konstruksi tradisional yang mendukung ketahanan bangunan. Sementara itu, dari aspek sosial, masjid tetap berfungsi sebagai pusat kegiatan keagamaan, interaksi masyarakat, dan pelestarian budaya. Temuan ini menunjukkan bahwa kearifan lokal pada Masjid Kuno Gamel mengimplementasikan prinsip arsitektur berkelanjutan yang masih relevan sebagai referensi perancangan masa kini.
PERUBAHAN KONFIGURASI RUANG MASJID AL-KAROMAH DEPOK Mohammad Dimas Firmansyah; Elgri Yugawati Wisesa; Iwan Purnama
Jurnal Arsitektur Vol. 18 No. 1 (2026): Jurnal Arsitektur
Publisher : Program Studi Arsitektur Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masjid Al-Karomah Depok di Kabupaten Cirebon diperkirakan berdiri sejak akhir abad ke-14 masa syiar Islam para wali(Scribd, 2021; Radar Cirebon, 2024). Sebagai struktur peribadatan tertua, masjid ini menghadapi tantangan berupa fluktuasi intensitas jamaah secara kontras antara ritme shalat lima waktu dan aktivitas rutin skala besar seperti shalat Jumat maupun tabligh akbar. Lonjakan beban manusia yang dinamis menuntut fleksibilitas konfigurasi ruang tinggi. Penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana konfigurasi tata ruang Masjid Al-Karomah Depok beradaptasi secara spasial dalam mengantisipasi perubahan beban kapasitas jamaah tersebut. Menggunakan metode deskriptif-kualitatif, penelitian berfokus pada evaluasi tata letak ruang dan sirkulasi melalui penelusuran data dokumenter serta wawancara pihak pengelola masjid. Hasil penelitian menunjukkan Masjid Al-Karomah menerapkan zonasi pola konsentris yang membagi area menjadi ruang utama (inti), selasar semi-terbuka, dan koridor luar. Adaptasi ruang dilakukan secara horizontal-radial, di mana dinding bata merah ekspos tebal pembatas permanen tetap terkoneksi melalui bukaan-bukaan makro (pintu dan jendela besar). Saat terjadi lonjakan jamaah, selasar semi-terbuka dan koridor luar dikonversi menjadi perluasan saf (spatial extension) yang menyatu visual dan orientasi ke arah mihrab utama. Disimpulkan bahwa konfigurasi ruang Masjid Al-Karomah memiliki adaptabilitas spasial tinggi, di mana integrasi antara ruang dalam masif dan ruang luar fluid mampu merespons sirkulasi serta kepadatan jamaah secara optimal tanpa menghilangkan nilai sakralitas ruang inti.