cover
Contact Name
Eka Widiyananto
Contact Email
ewdynt@gmail.com
Phone
+628122089782
Journal Mail Official
jurnalarsitektur@sttcirebon.ac.id
Editorial Address
© Redaksi Jurnal Arsitektur Program Studi Arsitektur Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon Gd.Lt.1 Jl.Evakuasi No.11, Cirebon 45135
Location
Kota cirebon,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Arsitektur
ISSN : 20879296     EISSN : 26856166     DOI : 10.59970/jas
Core Subject : Engineering,
Fokus Jurnal Arsitektur adalah mahasiswa dan dosen pembimbing untuk Mata Kuliah Metodologi Penelitian, Seminar atau Skripsi di Program Studi Arsitektur Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon atau Prodi Arsitektur pada Perguruan Tinggi lain di Indonesia. Ruang lingkup pada Jurnal Arsitektur adalah ilmu kearsitekturan dengan bidang keilmuan diantaranya bidang keilmuan kota, perumahan dan permukiman, bidang keilmuan ilmu sejarah Arsitektur, filsafat dan teori arsitektur, bidang keilmuan teknologi bangunan, manajemen bangunan, building science, serta bidang keilmuan perancangan arsitektur.
Articles 125 Documents
PERENCANAAN FOOTBALL ACADEMY DI KOTA PURWOKERTO DENGAN PENDEKATAN SUSTAINABLE ARCHITECTURE IDGAR JULIANO; WITA WIDYANDINI; YOHANA NURSRUWENING
Jurnal Arsitektur Vol. 16 No. 2 (2024): Jurnal Arsitektur
Publisher : Program Studi Arsitektur Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sepak bola merupakan permainan yang dilakukan oleh dua tim berbeda, dengan komposisi pemain yang berada di lapangan sebanyak sebelas orang. Masing-masing tim berupaya untuk menang dengan mencetak gol ke gawang lawan. Kabupaten Banyumas memiliki klub sepakbola yang mewakili daerah di Liga Indonesia sejak 1986 yaitu Persibas Banyumas dengan basis supporter yang cukup banyak. Namun prestasi sepakbola Persibas Banyumas belum cukup baik, hanya mampu bermain di Liga 2 Indonesia selama 1 musim, dan setelah itu turun ke Liga 3 Indonesia. Banyumas sendiri memiliki banyak pemain muda yang berbakat namun belum tersedia tempat berlatih (Academy) yang fasilitasnya lengkap. Untuk itu, salah satu opsi yang dapat menangani permasalahan tersebut adalah dengan menyediakan wadah Football Academy Persibas Banyumas yang diharapkan dapat menciptakan bakat para pemain muda di Banyumas dan mampu membantu serta memperbaiki prestasi sepakbola di Banyumas (Persibas Banyuamas). Penerapan konsep Sustainable Architecture pada Football Academy Persibas Banyumas dilakukan dengan menciptakan kenyamanan yang ramah lingkungan dan pemanfaatan sumber daya alam yang ada seperti cahaya matahari, air, dan tumbuhan yang berkelanjutan sehingga dapat memberikan manfaat untuk sumber daya manusia yang ada.
PENGARUH PERBEDAAN PENGGUNAAN DIMENSI UBIN TERHADAP EFISIENSI BIAYA BANGUNAN Alan Purnama; Erwin Yuniar Rahadian
Jurnal Arsitektur Vol. 16 No. 2 (2024): Jurnal Arsitektur
Publisher : Program Studi Arsitektur Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada beberapa tahun terakhir perkembangan pembangunan pada dunia arsitektur mengalami perkembangan yang cukup signifikan. Hal ini dapat terlihat dari keberagaman komponen arsitektural pada masa kini yang terus berkembang. Salah satunya adalah ubin keramik, hal ini dapat terlihat dari keberagaman teknologi, bentuk, motif, serta ukuran pada setiap ubin keramik yang tersedia dipasaran saat ini. Adapun penggunaan ubin keramik yang sering digunakan pada bangunan saat ini didominasi oleh ubin keramik dengan ukuran 30x30 cm, 40x40 cm dan 60x60 cm. Perbedaan ukuran ubin keramik juga disesuaikan dengan desain dan kebutuhan ruang yang tersedia pada suatu bangunan dimana hal ini juga akan mempengaruhi biaya pembangunan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh perbedaan penggunaan dimensi ubin keramik terhadap efisiensi biaya pembangunan. Penelitian ini menggunakan metodologi deskriptif kuantitatif, yang hasilnya akan menjelaskan data tentang perbedaan biaya pembangunan pada bangunan yang menggunakan ubin keramik ukuran 30x30 cm dengan yang menggunakan ubin keramik berukuran 40x40 cm serta 60x60 cm. Berdasarkan pembahasan dapat ditarik kesimpulan bahwa pemasangan dimensi ubin yang efektif pada ruangan dipengaruhi oleh pemilihan ukuran ubin yang diterapkan pada ruangan.
KONSEP ARSITEKTUR KOLONIAL PADA BANGUNAN GEREJA SANTO YUSUF Helmi Nur Riyaman; Sasurya Chandra
Jurnal Arsitektur Vol. 17 No. 1 (2025): Jurnal Arsitektur
Publisher : Program Studi Arsitektur Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji konsep mengenai gereja kolonial yang berada pada sebuah rumah makan yang berlokasi di Gereja Santo Yusuf yang terletak pada Kota Cirebon. Gereja yang berada di daerah kolonial pada Kota Cirebon ini menjadi salah satu ikon gereja yang berada di Kota Cirebon, dibangun oleh pengusaha gula di era tahun-1877- yang bernama Louis Theodorus Gonsalves. Pembangunan Gereja Santo Yusuf ini memiliki tujuan untuk memenuhi kebutuhan ibadah pada warga kolonial yang beragama Katolik, pada masa masa awal berdirinya Gereja Santo Yusuf dijalani oleh para Pastor Jesuit. Dengan bangunan yang berkonsep kolonial eropa ini memiliki konsep yang sangat memanfaatkan sirkulasi udara dengan baik, dan penggunaan gewel/fasade bangunan yang biasanya berbentuk segitiga. Untuk Gereja Santo Yusuf dari era kolonial hingga sekarang dalam perbaikan dan penambahan untuk gereja tersebut tidak merubah keaslian dari bangunan awalnya. Menurut informasi yang didapat kapasitas Gereja Santo Yusuf Cirebon dapat memuat 800 orang, hingga sekarang Gereja Santo Yusuf Cirebon masih dilayani oleh pastor dari Ordo Salib Suci . Konsep Kolonial Belanda ini yang diterapkan pada bangunan Gereja Santo Yusuf ini menggunakan karakteristik kolonial, prinsip arsitektur kolonial dan gaya arsitektur kolonial yang digunakan pada Gereja Santo Yusuf sehingga menciptakan konsep colonial yang khas. Oleh karena itu Gereja Santo Yusuf ini tetap dijaga keaslian bentuk colonial meskipun sudah ditambah dengan renovasi yang dilakukakan.
ANATOMI ARSITEKTUR GEDUNG BUNDAR KEBUMEN Rahel zahra Anindya; Sasurya Chandra
Jurnal Arsitektur Vol. 17 No. 1 (2025): Jurnal Arsitektur
Publisher : Program Studi Arsitektur Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Arsitektur kolonial merupakan sebutan singkat untuk langgam arsitektur yang berkembang selama masa kependudukan Belanda di tanah air. Arsitektur kolonial ini pun menambah kekayaan ragam arsitektur di nusantara, mereka memperkenalkan bangunan modern seperti administrasi pemerintah kolonial, rumah sakit atau fasilitas militer. Bangunan – bangunan inilah yang dikenal dengan sebutan bangunan kolonial. Arsitektur kolonial juga memiliki cirikhasnya tersendiri yang diadaptasi dari gaya arsitektur yang dipelopori oleh Gubernur Jenderal HW yang dikenal dengan the Empire Style, atau The Ducth Colonial Villa. Dengan hasil adaptasinya dibentuk gaya Hindia Belanda yang bercitra Kolonial yang disesuaikan dengan lingkungan lokal, iklim dan material yang tersedia pada masa itu. Bangunan-bangunan yang berkesan grandeur (megah) dengan gaya arsitektur Neo Klasik (Indische Architectuur). Dengan ciri khas arsitektur kolonial yang banyak melekat pada bangunan kolonial yang tersebar hampir diseluruh nusantara, apakah ciri khas tersebut terdapat juga pada salah satu bangunan kolonial Gedung Bundar Kebumen yang ada Di Kota Cirebon? Tujuan studi ini adalah untuk mengetahui eksisting elemen arsitektural sebagai pembentuk karakter fisik dari bangunan kolonial melalui bedah anatomi arsitektural. Penelitianini menggunakan metode kualitatif - deskriptif dengan cara mendeskripsikan elemen eksisting Gedung Bundar Kebumen,melalui bedah anatomi Arsitektural yang berbasis pada penciptaan ruang yang dikaitkan dengan konteks tempat. Data diperoleh dengan cara observasi lapangan dan studi literatur. Hasil dari penelitian dijabarkan berdasarkan anatomi arsitektur secara lengkap yang meliputi seluruh lingkup yang terkait, yaitu: lingkungan, tapak, bangunan, sosok, dan keberlangsungan sumber material serta hasil kelayakan bangunan untuk dikonservasi. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai referensi bagi mahasiswa, praktisi dan masyarakat umum.
IDENTIFIKASI ELEMEN ARSITEKTUR RUMAH TINGGAL DI KAWASAN PECINAN JAMBLANG Volante, Kevin; Iwan Purnama
Jurnal Arsitektur Vol. 17 No. 1 (2025): Jurnal Arsitektur
Publisher : Program Studi Arsitektur Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rumah tinggal pecinan di Jamblang, Cirebon memiliki elemen arsitektur yang unik dan khas. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi elemen arsitektur yang terdapat pada rumah tinggal tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi langsung dan wawancara dengan pemilik rumah. Data yang dikumpulkan meliputi gambar, foto, dan catatan lapangan yang dianalisis dengan teknik deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rumah tinggal di Pecinan Jamblang memiliki beberapa elemen arsitektur khas, seperti atap berbentuk limasan dengan penutup genteng tanah liat, dinding berlapis tembok batu bata, ornamen dekoratif pada bagian atap dan dinding, pola lantai yang berbeda-beda, pola plafon yang terbuat dari kayu, ukiran pada jendela dan pintu, jendela yang berukuran besar dengan bingkai kayu, serta penggunaan material kayu sebagai bahan utama konstruksi. Selain itu, terdapat juga elemen arsitektur yang lebih kompleks, seperti tangga yang terletak di bagian depan rumah dan terbuat dari batu alam, Selain itu, penggunaan warna-warna cerah seperti putih dan cream juga menjadi ciri khas dari rumah tinggal tersebut. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman lebih dalam mengenai keunikan arsitektur rumah tinggal Pecinan di Cirebon dan dapat menjadi referensi bagi pembaca dalam mempertahankan warisan budaya bangsa
IDENTIFIKASI POLA TATA RUANG PADA BANGUNAN GEDONG DUWUR KABUPATEN INDRAMAYU Nanda Aldiyan; Nurhidayah; Edi Mulyana
Jurnal Arsitektur Vol. 17 No. 1 (2025): Jurnal Arsitektur
Publisher : Program Studi Arsitektur Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indramayu merupakan salah satu kota di Indonesia yang terletak di pulau Jawa dan dikenal sebagai kota yang kaya akan nilai sejarah. Salah satunya di Kabupaten Indramayu yang memiliki bangunan bersejarah peninggalan massa kolonial Belanda yang masih berdiri kokoh tanpa kehilangan ornamen atau bentuk aslinya. Karena itu, tidak mengherankan jika diIndramayu banyak ditemukan bangunan bekas pemerintahan beserta rumah dinasnya. Salah satunya adalah bekas bangunan Asisten Residen Indramayu (Gedong Duwur). Gedong Duwur merupakan Gedung Tinggi. Hal ini dikarenakan bangunan tersebut cukup tinggi, dimana di bagian berandanya terdapat undakan dan anak tangga. bangunan ini dulunya di fungsikansebagai gedung pemerintahan. Gedong Duwur cukup berbeda dengan bangunan Gedong Duwur lain pada umumnya dari susunan/pola tata ruang yang berbeda dengan bangunan Gedong Duwur yang lain, ada perubahan fungsi ruang serta bahan matrial pada bangunan Gedung Duwur yang menjadi maksud dan tujuan dilakukannya Penelitian tentang pola tata ruang Gedung Duwur. Metode yang digunakan adalah Metode Kualitatif yaitu dengan cara melakukan observasi ke lapangan, mendeskripsikan dan menggambarkan fenomena yang ada, baik bersifat alamiah maupun rekayasa manusia, memperhatikan keterkaitan antar kegiatan, dengan observasi dan dokumentasi. Organisasi Pola tata Ruang yang dipakai sebagai landasan mencari bukti kondisi dilapangan. Dari hasil analisis pada bangunan Gedong duwur dapat di peroleh bahwa Pola Tata Ruang pada bangunan Gedong Duwur ini memiliki susunan dan pembentukan elemen yang sangat komplek dan saling terhubung pada ruanganya. Pada bangunan Gedong Duwur memiliki organisasi ruang yang terbagi berdasarkan Organisasi Ruang. Sehingga seiring waktu terjadi beberapa perubahan pada bangunan Gedong Duwur mulai dari Interior hingga Eksteriornya.
PERUBAHAN FUNGSI DAN BENTUK ARSITEKTUR PADA BANGUNAN CAGAR BUDAYA SMP NEGERI 15 KOTA CIREBON Moh Machali Hidayatullah; Yovita Adriani
Jurnal Arsitektur Vol. 17 No. 1 (2025): Jurnal Arsitektur
Publisher : Program Studi Arsitektur Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bangunan lama seringkali menunjukkan banyak hal yang berkaitan dengan budaya, yaitu identitas, tingkat pengetahuan dan kebijakan, Bangunan lama juga dapat bercerita tentang sejarah bangunan di masa lalu. Berdasarkan analisis arkeologi dan arsitektural pada bagian-bagian bangunan (denah, struktur, fasad, atap dan bagian muka) diketahui bahwa bangunan cagar budaya SMP Negeri 15 Kota Cirebon merupakan bangunan Cina memiliki berbagai sentuhan pengaruh dari berbagai kebudayaan, baik asli, local maupun Eropa. Hal tersebut menandakan adanya interaksi budaya yang telah berlangsung sejak lama. Latar belakang yang sangat mendorong terjadinya perubahan bangunan budaya tersebut adalah sebagai fungsi bangunan dan bentuk respon atau adaptasi terhadap berbagai kondisi, yaitu iklim, social, ekonomi dan politik. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui latar belakang bentuk-bentuk interaksi budaya yang terlihat pada bangunan SMPN 15 Kota Cirebon penelitian dilakukan dengan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi Pustaka melalui observasi secara langsung terhadap objek studi. Penelitian menunjukan bahwa interaksi yang terjalin dengan pendatang Eropa juga turut mempengaruhi ekspresi pada bangunan SMPN 15 Kota Cirebon dengan mengadopsi gaya arsitektur dan pola pemanfaatan ruang yang berbeda dengan sebelumnya.
IDENTIFIKASI FASAD BANGUNAN CAGAR BUDAYA GEDUNG CERUTU DI KOTA SURABAYA Rayden Lauwirya Soegiarto; Stephanus Wirawan Dharmatanna; Rully Damayanti
Jurnal Arsitektur Vol. 17 No. 1 (2025): Jurnal Arsitektur
Publisher : Program Studi Arsitektur Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bangunan Gedung Cerutu merupakan salah satu bangunan berstatus cagar budaya tipe A, di Kota Surabaya, bangunan yang berdiri pada tahun 1916 serta didirikan oleh N. V. Maatschappij Tot Exploitatie van Het Technish Bureau Gebroeders Knaud, sebuah biro teknik bangunan dari Belanda. Bangunan Gedung Cerutu saat ini masih berdiri dengan kokoh, sertamendapatkan perawatan rutin untuk dapat menjaga kelestarian bangunan cagar budaya tersebut, meskipun begitu data mengenai dokumentasi bangunan cagar budaya tidak tersedia, sehingga menyulitkan dalam proses konservasi, terutama dalam bagian fasad bangunan, maka dari itu tujuan dari penelitian ini untuk dapat mengetahui identifikasi fasad bangunan Gedung Cerutu, yang dikaitkan dengan teori Arsitektur Kolonial. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif, yaitu dengan melakukan observasi langsung ke lapangan, dan pengambilan dokumentasi foto bangunan, serta setelah data yang dibutuhkan terkumpul kemudian dianalisis. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa bangunan Gedung Cerutu ini selain menjadi objek cagar budaya, dapat juga untuk membantu dalam proses konservasi serta identifikasi fasad bangunan Gedung Cerutu di kemudian hari.
EVALUASI PENCAHAYAAN ALAMI UNTUK KENYAMANAN VISUAL STUDI KASUS FOOD COURT DAN CO-WORKING SPACE SEKOLAH VOKASI IPB Diva Nurfadhilah; Nurtati Soewarno; Andri Sopiandi
Jurnal Arsitektur Vol. 17 No. 1 (2025): Jurnal Arsitektur
Publisher : Program Studi Arsitektur Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Desain pencahayaan alami yang kurang optimal dapat menyebabkan ketidaknyamanan visual serta berdampak negatif terhadap produktivitas pengguna, terutama di ruang publik seperti Food Court dan Co-Working space. Pengelolaan pencahayaan yang baik berperan penting dalam meningkatkan kualitas ruang, efisiensi energi, serta kenyamanan penghuni. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kinerja pencahayaan alami di Food Court dan Co-Working Space Sekolah Vokasi IPB guna memastikan bahwa desain yang diterapkan telah memenuhi standar kenyamanan visual sesuai dengan standar SNI. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus dengan pendekatan simulasi menggunakan perangkat lunak Climate Studio pada platform Rhinoceros 3D. Analisis dilakukan berdasarkan parameter Daylight Autonomy (DA), Useful Daylight Illuminance (UDI), dan Annual Sunlight Exposure (ASE) untuk menilai tingkat kecukupan, distribusi, serta potensi paparan cahaya berlebih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa area memenuhi kriteria DA dan UDI, sementara area lainnya memiliki nilai ASE yang tinggi, yang berpotensi menyebabkan silau. Oleh karena itu, diperlukan optimalisasi desain pencahayaan alami melalui penyesuaian dimensi dan orientasi bukaan, pemilihan material dengan karakteristik reflektansi yang sesuai, serta penerapan elemen shading yang efektif. Langkah-langkah ini diharapkan dapat meningkatkan kenyamanan visual, mengurangi konsumsi energi, dan menciptakan lingkungan yang lebih mendukung produktivitas serta kesejahteraan pengguna yang dapat menjadi dasar untuk optimalisasi desain pada tahap selanjutnya.
DESAIN LANSKAP TELAGA SUNDA SEBAGAI KAWASAN EDUTOURISM Rahmat Akhirul Amin; Akhmad Arifin Hadi
Jurnal Arsitektur Vol. 17 No. 1 (2025): Jurnal Arsitektur
Publisher : Program Studi Arsitektur Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Wisata edukasi merupakan program yang memadukan unsur kegiatan wisata dengan muatan edukasi di dalamnya. Danau Talaga Sunda merupakan salah satu kawasan yang berpotensi menjadi pengembangan ekowisata di Kabupaten Subang. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dan kualitatif dengan pendekatan aspek fisik dan biofisik, sosial dan budaya, dan legalitas dalam pengolahan data yang bertujuan untuk merancang desain ekowisata Danau Talaga Sunda. Permasalahan lingkungan yang terjadi pada kawasan Danau Talaga Sunda antara lain: rendahnya kualitas air, kualitas tanah yang rentan erosi dan penurunan keberagaman vegetasi dan satwa akibat aktivitas tambang. Konsep dasar yang direncanakan yaitu ekowisata dengan pengembangan wisata edukasi. Konsep ini dipertimbangkan dari hasil wawancara dengan pengelola, latar belakang kondisi tapak sebagai lahan bekas tambang, dan potensi yang dapat dioptimalkan dari tapak. Penelitian ini menghasilkan produk desain berupa gambar siteplan, gambar potongan, perspektif desain, rencana penanaman, dan gambar detil teknik dari beberapa elemen hardscape yang direncanakan. Desain lanskap Danau Talaga Sunda dapat menjadi pertimbangan dan rekomendasi bagi pengelola dan pihak terkait dalam mengembangkan arah kepariwisataan yang berkelanjutan untuk Danau Talaga Sunda dengan berlandaskan prinsip ekowisata

Page 11 of 13 | Total Record : 125