cover
Contact Name
Nasri
Contact Email
nasri@unhas.ac.id
Phone
+62411-589592
Journal Mail Official
jpkwallacea@unhas.ac.id
Editorial Address
Kampus Tamalanrea Fakultas Kehutanan UNHAS, Jl. Perintis Kemerdekaan Km. 10, Makassar
Location
Kota makassar,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea
Published by Universitas Hasanuddin
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea (JPK Wallacea) was found in 2012. Initially, this journal was a regular scientifically reviewed printed journal focusing on the Conservation of Biological Resources. We are particularly interested in conservation issues in the biogeographical region of Wallacea, but related conservation issues from other parts of the world are also welcome.
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol. 10 No. 1 (2021)" : 8 Documents clear
Kekayaan jenis dan upaya konservasi araceae sulawesi di Kebun Raya Eka Karya Bali Ni Putu Sri Asih; Agung Kurniawan
Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea Vol. 10 No. 1 (2021)
Publisher : Foresty Faculty of Hasanuddin University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1008.986 KB) | DOI: 10.18330/jwallacea.2021.vol10iss1pp39-49

Abstract

Sulawesi merupakan salah satu pusat keragaman tumbuhan yang memiliki tingkat endemisitas tinggi di kawasan Wallacea. Akan tetapi, penelitian dan deskripsi keragaman suku Araceae pada pulau tersebut belum banyak dipelajari. Berdasarkan penelitian sebelumnya, sebanyak 40 jenis Araceaeterdistribusi di Sulawesi, dengan 15 jenis diantaranya endemik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keragaman Araceae asal Sulawesi di Kebun Raya Eka Karya (KREK) Bali dan upaya konservasi yang telah dilakukan. Metode penelitian dilakukan melalui studi pustaka, dokumentasi, dan observasi. Hasil studi menunjukkan bahwa KREK Bali telah mengoleksi Araceae asal Sulawesi sebanyak 41 jenis dan 14 marga dari berbagai provinsi dan yang terbanyak berasal dari Sulawesi Tenggara. Dari 14 marga tersebut, jenis terbanyak yang ditemukan adalah marga Schismatoglottis (10 jenis). Dari seluruh jenis Araceae asal Sulawesi tersebut, 17 jenis (41,46%) telah teridentifikasi sampai level jenis dan 24 jenis (58,54%) teridentifikasi sampai level marga. Dari jumlah 41 jenis tersebut, 28 jenis diantaranya memiliki karakter morfologi yang berbeda dan berpotensi tinggi menjadi jenis baru ataupun catatan baru. Hasil penelitian ini menunjukkan keragaman Araceae di Sulawesi sangat tinggi dan belum banyak terungkap. Usaha konservasi Araceae di KREK Bali masih berupa pengoleksian dan pemeliharaan jenis, belum melangkah pada pemanfaatan yang berkelanjutan dan reintroduksi jenis-jenis yang terancam punah.
Sifat anatomi, kimia, fisik, dan mekanik kayu wagha (Archidendron jiringa (Jack.) Nielsen) dari Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur Heny Rianawati; Retno Setyowati; Aziz Umroni; Siswandi
Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea Vol. 10 No. 1 (2021)
Publisher : Foresty Faculty of Hasanuddin University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (928.664 KB) | DOI: 10.18330/jwallacea.2021.vol10iss1pp51-62

Abstract

Kayu wagha (Archidendron jiringa(Jack.) Nielsen) merupakan salah satu jenis kayu potensial dari Kabupaten Ende, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Penelitian sifat dasar kayu wagha belum banyak dilakukan dibandingkan penelitian wagha sebagai tumbuhan obat. Mengingat kayu wagha digunakan juga oleh masyarakat sebagai kayu konstruksi, oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui struktur anatomi, sifat kimia, fisis dan mekanik kayu wagha yang diambil dari Desa Nangapanda, Kabupaten Ende, NTT. Pengujian sifat anatomi, kimia, fisis, dan mekanik dilakukan di laboratorium Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan (P3HH) Bogor. Pengamatan struktur anatomi kayu berdasarkan daftar ciri mikroskopis identifikasi kayu daun lebar (IAWA). Analisis mutu serat kayu berdasarkan pada kelas mutu untuk pulp/kertas. Pengujian sifat kimia kayu meliputi: kadar ekstraktif, kadar selulosa, kadar pentosan, kadar lignin, kadar abu, dan silika. Pengujian sifat fisis dan mekanis kayu mencakup: kadar air, berat jenis, kerapatan, penyusutan arah radial dan tangensial, keteguhan lentur pada batas proporsi dan batas patah, modulus elastisitas, keteguhan tekan sejajar serat, tegak lurus serat, geser sejajar serat, dan keteguhan pukul. Hasil pengujian menunjukkan bahwa ciri utama struktur anatomi kayu wagha adalah memiliki tipe parenkim vaskisentrik, aliform dan konfluen. Komposisi sel penyusun jari-jarinya adalah seluruhnya sel baring, terdapat kristal prismatik, dinding serat sangat tebal dengan kualitas serat kelas II. Kayu wagha memiliki kadar selulosa dan ekstraktif tinggi; kadar lignin, abu dan silika sedang; serta pentosan rendah, sehingga kurang sesuai untuk bahan baku pulp ataupun bioetanol. Kelas kuat kayu wagha tergolong kelas II-I (kuat). Oleh karenaitu kayu wagha cukup potensial digunakan sebagai kayu struktural/konstruksi untuk menyangga beban berat.
Nilai ekonomi dan analisis kebijakan perburuan dan perdagangan satwa liar di Kabupaten Manokwari Sepus Marten Fatem; Jonni Marwa; Melanesia Brigite Boseren; Yubel Maria Msen
Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea Vol. 10 No. 1 (2021)
Publisher : Foresty Faculty of Hasanuddin University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1117.098 KB) | DOI: 10.18330/jwallacea.2021.vol10iss1pp63-79

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai ekonomi satwa liar, teknik perburuan dan pola perdagangan, serta menganalisis kebijakan satwa liar yang diperdagangkan selama Mei–Agustus 2012 di Kabupaten Manokwari. Nilai ekonomi satwa liar dihitung menggunakan pendekatan harga pasar dan dijabarkan secara deskriptif. Terdapat lima kelas satwa liar yang diperdagangkan, yaitu: kakatua koki (Cacatua galerita), nuri bayan (Eclectus roratus), kasturi kepala hitam (Lorius lory), perkici pelangi (Trichoglossus haematodus), nuri kelam (Pseudeos fuscata), nuri cokelat (Chalcopsitta duivenbodei), cenderawasih kecil (Paradisaea minor), jalak (Sturnus contra) dan merpati (Columba sp.). Kelas Mamalia, yaitu rusa (Cervus timorensis), kuskus bertotol (Spilocuscus maculatus), babi hutan (Sus sp.) dan tikus tanah (Echymipera sp.).Kelas Reptilia, yaitu: kura-kura leher panjang (Chelodina spp.),penyu sisik (Eretmochelys imbricata), belut (Synbranchus marmoratus) dantelur kura-kura/penyu. Kelas Moluska, yaitu kerang kepah (Polymesoda sp.), siput mata bulan (Turbo sparverius) dan triton terompet (Charonia tritonis), dan Kelas Krustasea, yaitu kepiting bakau besar (Scylla sp.) dan udang (Triops cancriformis). Nilai Total Ekonomi perdagangan satwa liar adalah Rp91.925.378/tahun. Teknik perburuan meliputi menembak, menjerat, menangkap anak satwa liar, memungut, memancing dan menyelam. Perdagangan dilakukan secara langsung (Penjualan ke pasar lokal oleh penangkap) dan tidak langsung (Penjualan ke pasar lokal melalui penadah). Aktivitas perburuan dan perdagangan satwa liar didorong oleh faktor ekonomi dan nilai jual satwa liar yang cukup tinggi, serta lemahnya penegakkan hukum. Sosialiasi yang komprehensif kepada seluruh lapisan masyarakat dan skema kehutanan seperti perhutanan sosial dalam bentuk ekowisata dapat diterapkan pada daerah-daerah yang merupakan habitat satwa burung. Perdagangan dapat didukung dengan implementasi kuota dan penangkaran
Evaluation of planting design for cajuput development (Melaleuca cajuputi Powel) in KPH Bojonegoro Pandu Yudha Adi Putra Wirabuana; Ronggo Sadono; Dewanto
Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea Vol. 10 No. 1 (2021)
Publisher : Foresty Faculty of Hasanuddin University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1047.49 KB) | DOI: 10.18330/jwallacea.2021.vol10iss1pp1-9

Abstract

Development of cajuput plantation currently becomes the most important activity in KPH Bojonegoro since it provides an essential contribution to maintain the future viability of company. However,the growth performance of cajuput stand relatively varies one of which is influenced by planting design. This study aims to determine the optimum planting design for supporting cajuput stand development. It was conducted by evaluating two different planting designs that generally used for cajuput establishment, namely C1 (spacing 3 m x 1 m) and C2 (spacing 5 m x 1.5 m x 1.5 m). Five parameters were used to evaluate the growth performance and oil production of cajuput stand for each planting design, i.e., survival rate, quadratic mean diameter, basal area, harvesting biomass, and cajuput oil production. Data were collected by field measurementusing a sampling plot 50 m x 50 m with six replications for each planting design. Comparisonmean of cajuput growth performance between two planting designs were analyzed separately for each parameterusing t-test. Results documented there were not a significant different for all parameters, except survival rate. The planting design C2 generated higher survival rate (94.9%) than planting design C1 (64.7%).The planting design C2 was recommended for cajuput development in KPH Bojonegoro. Besides requiring the lower planting density, the use of planting design C2 can optimize land utility with a similar productivity to planting design C1.
Populasi dan sebaran bekantan (Nasalis larvatus) di Delta Berau Tri Atmoko; Ani Mardiastuti; M. Bismark; Lilik Budi Prasetyo; Entang Iskandar
Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea Vol. 10 No. 1 (2021)
Publisher : Foresty Faculty of Hasanuddin University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18330/jwallacea.2021.vol10iss1pp11-23

Abstract

Bekantan (Nasalis larvatus) adalah satwa primata langka dilindungi yang populasinya terus mengalami penurunan akibat hilang dan rusaknya habitat. Delta Berau adalah salah satu lokasi penyebaran bekantan yang berada di luar kawasan konservasi yang kurang mendapat perhatian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui populasi dan sebaran bekantan di Delta Berau dan sekitarnya. Perhitungan populasi dilakukan secara langsung dari sungai (boat survey) pada pagi dan sore hari. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 1.350-1.774 ekor bekantan yang terbagi dalam 115 kelompok satu-jantan, 5 kelompok semua-jantan, 1 soliter, dan 5 kelompok tidak teridentifikasi. Faktor koreksi sebagai pengali populasi tertinggi pada habitat riparian dan mangrove masing-masing sebesar 1,33 dan 1,27. Kepadatan populasi bekantan secara umum adalah 6,56 ekor/km2(kisaran: 0,91-93,33) atau 0,59 kelompok/km2(kisaran: 0,13-9,17). Nisbah kelamin kelompok satu-jantan pada tipe habitat riparian dan habitat mangrove masing-masing sebesar 1:5,6 dan 1:6,1. Sebaran bekantan tertinggi berada di wilayah Kampung Pulau Besing (Pulau Besing, Pulau Bungkung, dan Pulau Sambuayan), yaitu sebanyak 42 kelompok 426 ekor atau sebesar 32% dari total populasi bekantan. Populasi bekantan yang tinggi menunjukkan bahwa Delta Berau adalah habitat penting bagi bekantan di Indonesia. Inisiasi pengelolaan habitat bekantan sebagai Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) diperlukan, selain perlindungan bekantan secara lokal oleh masyarakat adat setempat sekaligus sebagai upaya melindungi sumber daya perikanan di sekitarnya.
Kualitas tanah dan pertumbuhan varietas murbei di Sentra Persutraan Alam Sulawesi Selatan C. Andriyani Prasetyawati; Heri Suryanto
Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea Vol. 10 No. 1 (2021)
Publisher : Foresty Faculty of Hasanuddin University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1126.638 KB) | DOI: 10.18330/jwallacea.2021.vol10iss1pp81-91

Abstract

Sulawesi Selatan merupakan salah satu daerah sentra industri persutraan alam di Indonesia. Daun murbei (Morus sp.) sebagai pakan bagi ulat sutra harus memenuhi kualitas dan kuantitas yang baik. Pertumbuhan tanaman murbei dipengaruhi oleh faktor genetik dan lingkungan. Kualitas tanah sebagai bagian utama dari faktor lingkungan mempunyai peran penting pembentukan kualitas tumbuhan pakan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menyeleksi lokasi yang optimal untuk pertumbuhan murbei dilanjutkan dengan seleksi terhadap kinerja varietas murbei pada lokasi terbaik (M. nigra, NI, KI 34, KI 41, AsI dan M. Multicaulis) di Sulawesi Selatan. Pengamatan kualitas tanah merupakan penelitian pendahuluan guna mengetahui kesesuaian tempat tumbuh murbei sebagai lokasi uji pertumbuhan varietas murbei. Evaluasi kualitas tanah dilakukan di beberapa lokasi: Desa Pising, Desa Sering (Kabupaten Soppeng), Desa Bekkae, Desa Walennae (Kabupaten Wajo), dan Desa Kalosi (Kabupaten Enrekang). Hasil pencandraan profil tanah, pengamatan sifat fisik dan sifat kimia tanah lahan murbei di beberapa kabupaten menunjukkan bahwa kondisi tanah yang paling baik untuk tanaman murbei adalah lahan di Desa Sering dengan kedalaman efektif perakaran sampai dengan 80 cm. Lapisan profil sampai kedalaman 100 cm masih berwarna hitam dengan sedikit berpasir dan liat dengan kualitas sifat kimia tanah baik. Pertumbuhan beberapa varietas murbei di Desa Sering, Kabupaten Soppeng menunjukkan bahwa KI 41 merupakan varietas murbei terbaik dengan tinggi rata rata tanaman 227,09 cm dan jumlah daun sebanyak 89,71. Korelasi antara tingkat pertumbuhan tinggi tanaman dan jumlah daun yang dihasilkan menunjukkan nilai positif dengan keeratan hubungan yang sangat kuat.
Karakteristik ekstrak tanin kulit kayu pinus (Pinus merkusii Jungh et de Vriese) S Hajriani; Andi Detti Yunianti; S Suhasman; ASRD Lestari
Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea Vol. 10 No. 1 (2021)
Publisher : Foresty Faculty of Hasanuddin University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (961.172 KB) | DOI: 10.18330/jwallacea.2021.vol10iss1pp93-102

Abstract

Perekat merupakan salah satu komponen utama yang diperlukan dalam industri pengolahan kayu komposit. Perekat sintetis, yang umumnya digunakan pada pembuatan kayu komposit, mengandung emisi formaldehida yang berbahaya bagi lingkungan dan kesehatanmanusia. Oleh karena itu,diperlukan alternatif jenis perekat lain untuk mengurangi penggunaanperekat sintetis. Tanin merupakan senyawa polifenol berasal dari tumbuhan yang berpotensi dijadikan sebagai perekat alami. Tanin dalam jumlah besar banyak ditemukan pada kulit kayu, khususnya pada kulit kayu Pinus merkusii. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh datakarakteristik fisik dan kimia pada ekstrak tanin kulit Pinus merkusii. Tanin diperoleh melalui metode ekstraksi dengan menggunakan pelarut air panas.Sifat fisikyang diamatiantara lain warna, kadar padatan,dan viskositas. Sifat kimia yang diamati berupa pH, analisis FTIR(Fourier-transform Infrared Spectroscopy), dan analisis GCMS(Gas Chromatography Mass Spectroscopy). Ekstrak tanin cair yang diperoleh berwarna cokelat terang, memiliki kadar padatan 0,3% dan viskositas 2,65 centipoise. Ekstrak tanin Pinus merkusiimemiliki pH asam yaitu 4,23. Setelah dilakukan analisis gugus fungsi melalui uji FTIR, maka gugus fungsi yang terkandung dalam ekstrak kulit pinus adalah gugus hidroksil, gugus karbonil, gugus CH alkana, cincin aromatik, aldehida,dan gugus eter. Hasil analisis GCMS menunjukkanbahwa beberapa senyawa fenolik terkandung dalam ekstrak tanin kulit pinus dengan konsentrasi sebesar 7,75%. Oleh karena adanya gugus fenolik, maka tanin dapat bereaksi terhadap formaldehida sehingga dapat berpolimerisasi kondensasi menjadi bahan perekat kayu.
Panduan karakterisasi jamur makroskopik di Indonesia: Bagian 1–Deskripsi ciri makroskopis Ivan Permana Putra
Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea Vol. 10 No. 1 (2021)
Publisher : Foresty Faculty of Hasanuddin University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2287.222 KB) | DOI: 10.18330/jwallacea.2021.vol10iss1pp25-37

Abstract

Penelitian terkait ragam dan taksonomi jamur makroskopisdi Indonesiaumumnya masih menggunakan pendekatan identifikasi morfologi. Identifikasi konvensional jamur makroskopisyang dilengkapi dengan deskripsi karakternya terkadang masih sulit dan membingungkan untuk penggiat jamur ataupun penelitidi Indonesia. Hal ini umumnya disebabkan karakter morfologi jamur makroskopisyang kompleks dan terlihat mirip satu sama lain,sehingga seringkali menjadi hambatan yang serius. Tulisan ini bertujuan untuk membantu interpretasi karakter makroskopis, terutama kaitannya dengan ekspansi pengembangan ilmu jamur makroskopisdengan panduan ilustrasi gambar berwarna. Koleksi data dilakukan pada tahun 2015-2019 di berbagai kawasan hutan alami dan hutan wisata di Indonesia. Pada tulisan ini digunakan contoh kelompok jamur yang memiliki tangkai dan tudung berlamelauntuk menjelaskan tahapan karakterisasi yang diperlukan saat mengidentifikasi jamurmakroskopis.

Page 1 of 1 | Total Record : 8