cover
Contact Name
Rusdiyanto
Contact Email
historia.islamica@iain-manado.ac.id
Phone
+6285330057514
Journal Mail Official
historia.islamica@iain-manado.ac.id
Editorial Address
https://ejournal.iain-manado.ac.id/index.php/historia/about/editorialTeam
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
Historia Islamica: Journal of Islamic History and Civilization
ISSN : -     EISSN : 2988361X     DOI : -
Jurnal Historia Islamica merupakan jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Program Studi Sejarah Peradaban Islam, Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah Institut Agama Islam Negeri Manado. Edisi online dan cetak jurnal ini terbit perdana pada tahun 2022 Jurnal Historia Islamica terbit satu volume yang terdiri dari dua edisi dalam setahun, edisi I terbit antara bulan Januari sampai dengan bulan bulan Juni, sedangkan edisi II terbit atara bulan Juli sampai dengan Desember. Jurnal Historia Islamica mengundang para, akademisi, peneliti, ilmuan, dan cendekiawan sejarah Islam untuk mengiriman hasil penelitian di bidang sejarah peradaban Islam, perubahan sosial, masalah sosial keagamaan, dan isu-isu aktual lainnya yang dikaji dengan pendekatan sejarah dan berkaitan dengan fokus dan scope jurnal. Mengenai sistematika tata tulis, dapat dibaca pada halaman tersendiri. Redaksi berhak memperbaiki susunan kalimat tanpa mengubah isi karangan yang dimuat.
Articles 46 Documents
DINASTI ILKHAN DI ERA KEKUASAAN ULJAYTU KHAN (1304-1316 M) Juma', Juma'; Amaria, Rahma Nur
Historia Islamica: Journal of Islamic History and Civilization Vol 4 No 2 (2025): Historia Islamica
Publisher : Program Studi Sejarah Peradaban Islam Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/historia.v4i2.1706

Abstract

This research aims to analyze the leadership of Uljaytu Khan (1304-1316 AD) using a descriptive-analytical approach, focusing on political policies, religious transformation, and his contributions to the development of Islamic civilization in Persia. Uljaytu Khan played a crucial role in the political, religious, and cultural transformation in post-Mongol Persia. His reign was marked by his shift from Sunni to the Twelver Shia sect as a strategic move to strengthen political legitimacy amid the dominance of the Shia community in his realm. This decision was not only religious but also an effective political integration mechanism. In the field of administration, Uljaytu maintained the Islamic legal system (Qanun) and appointed Rashid al-Din as vizier, who helped stabilize the government and promoted infrastructure development, including highways marked every mile. In the intellectual and cultural realm, he actively supported the advancement of knowledge, notably by maintaining the Maragha Observatory and building the new city of Sultaniyah as a center of administration and culture. Although now only ruins remain, Sultaniyah reflects great ambition as a symbol of the glory of his government. Additionally, Uljaytu is known to have spread Islam by inviting tens of thousands of his soldiers to convert to Islam. The research shows that Uljaytu successfully continued Ghazan Khan's program with strategic adaptations to the local context.
PERJUMPAAN SOSIAL MASYARAKAT ISLAM DAN ARAB Zainuri, Ahmad
Historia Islamica: Journal of Islamic History and Civilization Vol 4 No 2 (2025): Historia Islamica
Publisher : Program Studi Sejarah Peradaban Islam Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/historia.v4i2.1819

Abstract

Islam is a religion that does not recognize social class. The presence of Islam has become an integral part of the existence of various groups on earth. Arabs, which is the tribe where the Prophet Muhammad SAW. born and raised. In its development, they are so proud of their ethnicity, that they are in a policy and social attitudes in society. Islam has taught al-Musawat in life. Not differentiated from ethnicity, but united in Islam. Between Arabs and Ajams, Arabs and Mawalli, then the policy period of the Umayyads, Abbasids, on the expansion of areas by Arab Muslims, sparked the intrigue of the movement in some non-Arab groups, which we later know as the Shu'ubiyyah movement. This study will review further the relationship between Arab and Persian as an Islamic society. Researchers use historical approaches and historical methods as one of the procedural in historical research. The result is that the Arabs are still a tribe that is still proud of their ancestors. This is undeniable in the course of history. However, the Islamic diaspora has stopped in various countries and has direct contact with the country's tribes and ethnicities, for example Persia. So still, non-Arabic groups whose mother tongue is not Arabic (Ajam) are often still considered below the Arab tribal social class. So that's where the Shu'ubiyyah movements emerged as a form of resistance from the dominating Arab culture. Islam merupakan agama yang tidak mengenal kelas sosial. Kehadiran Islam telah menjadi satu ikatan utuh dari adanya kelompok-kelompok yang beragam di muka bumi. Arab, yang merupakan suku di mana Rasulullah Muhammad Saw. dilahirkan dan dibesarkan. Dalam perkembangannya, mereka begitu membangga-banggakan kesukuan mereka, hingga berada pada sebuah kebijakan dan sikap-sikap sosial dalam masyarakat. Islam telah mengajarkan al-Musawat dalam kehidupan. Tidak dibeda-bedakan dari suku, etnis tapi disatukan dalam keislaman. Antara Arab dan Ajam, Arab dan Mawalli, kemudian masa-masa kebijakan Umayah, Abbasiyah, atas ekspansi daerah-daerah oleh Muslim Arab, menyulut intrik gerakan pada sebagian kelompok non-Arab, yang kemudian kita kenal dengan gerakan Syu’ubiyyah. Penelitian ini akan mengulas lebih jauh terkait hubungan Arab dan Persia sebagai masyarakat Islam. Peneliti menggunakan pendekatan sejarah dan metode sejarah sebagai salah satu prosedural dalam penelitian sejarah. Adapun hasilnya bahwa kelompok Arab masih saja menjadi suku yang masih bangga akan nenek moyangnya. Ini tidak bisa dipungkiri dalam perjalanan sejarah. Akan tetapi diaspora Islam telah singgah diberbagai negara dan bersentuhan langsung dengan suku dan etnis negara tersebut, misalnya Persia. Sehingga masih saja, kelompok non-Arab yang bahasa ibunya bukan Arab (Ajam) mereka seringkali masih dianggap dibawah dari kelas sosial kesukuan Arab. Sehingga dari situlah muncul gerakan-gerakan Syu’ubiyyah sebagai salah satu bentuk perlawanan dari budaya Arab yang mendominasi.
SINERGI NILAI SPIRITUAL DAN TATA KELOLA NEGARA: ANALISIS KEPEMIMPINAN NABI MUHAMMAD SAW DAN UMAR BIN KHATTAB Dinda Melinda Febiyola; Danela Salsabila; Callina Maidella; Hawwa Perjuwa; Naufal Luthfi Alifa; Melani Adelia Sobrina
Historia Islamica: Journal of Islamic History and Civilization Vol 4 No 2 (2025): Historia Islamica
Publisher : Program Studi Sejarah Peradaban Islam Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/historia.v4i2.1983

Abstract

Secara ideal tata kelola pemerintahan diharapkan mampu mewujudkan keadilan, transparansi, akuntabilitas, dan kesejahteraan masyarakat, namun realitas terkini menunjukkan masih tingginya korupsi, ketimpangan sosial, serta lemahnya kualitas institusi di berbagai negara. Maka dari itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep kepemimpinan Nabi Muhammad SAW, kebijakan pemerintahan Umar bin Khattab, kontribusinya dalam sejarah ekonomi dunia, serta relevansinya terhadap pembangunan berkelanjutan modern. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif melalui metode studi kepustakaan terhadap berbagai literatur ilmiah dan jurnal relevan periode 2020–2025. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) kepemimpinan Nabi Muhammad SAW meletakkan fondasi tata kelola berbasis nilai tauhid, keadilan, amanah, dan etika sosial; (2) Umar bin Khattab mengembangkan nilai tersebut melalui sistem institusi negara yang terstruktur, kebijakan fiskal, serta pengelolaan Baitul Mal yang transparan dan akuntabel; (3) pemikiran ekonomi Islam klasik memberikan kontribusi penting terhadap konsep ekonomi modern terutama dalam keadilan distribusi, pengawasan pasar, dan kesejahteraan sosial; dan (4) integrasi nilai spiritual dan kebijakan negara tetap relevan dalam mendukung pembangunan berkelanjutan, khususnya pada pengentasan kemiskinan, pertumbuhan ekonomi inklusif, dan penguatan institusi yang adil. Ideally, governance is expected to realize justice, transparency, accountability, and public welfare. However, current realities still indicate high levels of corruption, social inequality, and weak institutional quality in various countries. Therefore, this study aims to analyze the leadership concept of Prophet Muhammad SAW, the governmental policies of Umar bin Khattab, their contributions to the history of the world economy, and their relevance to modern sustainable development. This research employs a qualitative approach through a literature study method based on various scientific literatures and relevant journals published between 2020–2025. The results of the study show that: (1) the leadership of Prophet Muhammad SAW established the foundation of governance based on the values of monotheism, justice, trustworthiness, and social ethics; (2) Umar bin Khattab developed these values through a structured state institutional system, fiscal policies, and transparent and accountable management of the Baitul Mal; (3) classical Islamic economic thought contributed significantly to modern economic concepts, particularly in distributive justice, market supervision, and social welfare; and (4) the integration of spiritual values and state policies remains relevant in supporting sustainable development, especially in poverty alleviation, inclusive economic growth, and the strengthening of just institutions.
THE PUNGGUAN TRADITION OF THE JAVANESE TONDANO COMMUNITY IN MINAHASA DURING THE 1890S Imam Mash'ud
Historia Islamica: Journal of Islamic History and Civilization Vol 4 No 2 (2025): Historia Islamica
Publisher : Program Studi Sejarah Peradaban Islam Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/historia.v4i2.2236

Abstract

The Pungguan tradition constitutes a crucial socio-religious rite historically and contemporarily practiced by the Javanese Tondano (Jaton) diaspora community in Minahasa, North Sulawesi. This study aims to systematically reconstruct the historical origins and the trajectory of cultural dynamics of the Pungguan tradition within the social and religious life of the Jaton community. Methodologically, this research is grounded in a cultural history framework, applying standard historical methods comprising four sequential stages: heuristics, source criticism, interpretation, and historiography. Empirical and primary data were comprehensively gathered through meticulous historical archival research, critical literature reviews, and extensive in-depth interviews with local traditional figures and religious leaders. The findings indicate that the cultural history of the Pungguan tradition is deeply rooted in ancestral Javanese traditions, operating as a localized cultural adaptation of the Nyadran or Megengan rites. This sacred practice was directly brought to the Minahasa region by the exiled entourage of Kyai Modjo following the Java War in the nineteenth century, particularly developing during the 1890s era. The Jaton community has successfully preserved and consistently transmitted this cultural practice intergenerationally up to the present day. The historical continuity of the Pungguan tradition reinforces its vital role as an enduring marker of collective historical origins, while simultaneously strengthening the construction of a distinct Javanese Tondano cultural identity that endures in Minahasa.
PERAN DIASPORA ETNIS GORONTALO TERHADAP SEJARAH PERKEMBANGAN ISLAM DI KOTA TAHUNA TAHUN 1960-2023 Siti Nurhadayati Igirisa
Historia Islamica: Journal of Islamic History and Civilization Vol 4 No 2 (2025): Historia Islamica
Publisher : Program Studi Sejarah Peradaban Islam Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/historia.v4i2.2241

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis peran diaspora etnis Gorontalo terhadap perkembangan Islam di Kota Tahuna, Kabupaten Kepulauan Sangihe, periode 1960–2023. Penelitian menggunakan metode sejarah melalui tahapan heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa diaspora Gorontalo tidak hanya berperan dalam kehidupan sosial dan ekonomi, tetapi juga berkontribusi terhadap penguatan kehidupan keagamaan masyarakat Muslim di Tahuna. Sejak dekade 1970-an, komunitas Gorontalo berkembang sebagai kelompok Muslim yang relatif solid melalui peran tokoh masyarakat, pendirian Masjid Al-Hikmah, serta pelaksanaan pengajian, majelis taklim, dan perayaan hari besar Islam. Kerukunan Keluarga Indonesia Gorontalo (KKIG) turut memperkuat peran tersebut melalui pengorganisasian kegiatan sosial-keagamaan, penyediaan lahan pemakaman, dan pelaksanaan Pasar Senggol. Dengan demikian, diaspora Gorontalo memiliki kontribusi penting dalam mempertahankan dan mengembangkan eksistensi Islam sekaligus membangun integrasi sosial di tengah masyarakat Tahuna yang majemuk. This study aims to analyze the role of the Gorontalo ethnic diaspora in the development of Islam in Tahuna City, Sangihe Islands Regency, during the period 1960–2023. This research employs a historical method through the stages of heuristics, source criticism, interpretation, and historiography. The findings indicate that the Gorontalo diaspora contributed not only to the social and economic life of the community but also to strengthening Islamic religious life in Tahuna. Since the 1970s, the Gorontalo community has developed into a relatively cohesive Muslim group through the role of community leaders, the establishment of Al-Hikmah Mosque, and the organization of Islamic activities such as religious study groups, majelis taklim, and Islamic celebrations. The Gorontalo Indonesian Family Association (KKIG) also strengthened these contributions through the organization of socio-religious activities, provision of cemetery land, and implementation of the Pasar Senggol. Thus, the Gorontalo diaspora has played an important role in maintaining and developing the presence of Islam while fostering social integration within Tahuna’s diverse society
RELASI POLITIK DAN AGAMA DI INDONESIA PERSPEKTIF NURCHOLISH MADJID Nurul Jannah
Historia Islamica: Journal of Islamic History and Civilization Vol 4 No 2 (2025): Historia Islamica
Publisher : Program Studi Sejarah Peradaban Islam Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/historia.v4i2.2246

Abstract

Relasi antara politik dan agama dalam sejarah Indonesia menunjukkan dinamika yang fluktuatif, tergantung pada kondisi sosial-politik di setiap zamannya. Pada era Orde baru, hubungan tersebut mengalami berbagai ketegangan yang dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Persoalan ini menjadi perhatian salah satu Intelektual Muslim Indonesia, Nurcholish Madjid (Cak Nur), yang turut memberikan kontribusi pemikirannya mengenai relasi politik dan agama di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pandangan Cak Nur terkait hubungan antara politik dan agama di Indonesia pada masa Orde baru serta menelaah gagasannya mengenai konsep negara Islam. Metode yang digunakan adalah studi pustaka yang dipadukan dengan pendekatan historis, meliputi empat tahapan yaitu heuristik, verifikasi, interpretasi dan historiografi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemikiran Cak Nur mengenai politik dan agama berkembang sesuai dengan konteks zaman. Sebagai intelektual yang aktif merespon dinamika sosial-politik, Cak Nur melihat bahwa ketegangan antara agama dan politik pada era Orde baru dipicu oleh dinamika internal dalam tubuh pemerintahan maupun di kalangan Islam sendiri. Kesimpulan dari penelitian ini adalah hubungan agama dan politik pada era Orde baru dalam pandangan Cak Nur menunjukkan pola love-hate reationship yang kompleks. Sementara terkait dengan konsep negara Islam, Cak Nur mendukung pandangan Amien Rais bahwa Nabi Muhammad saw tidak mewariskan bentuk negara Islam secara formal, melainkan nilai-nilai Islam substantif yang menurutnya telah tercermin dalam Pancasila sebagai dasar negara Indonesia.