cover
Contact Name
Iqmal Tahir
Contact Email
iqmal@ugm.ac.id
Phone
+628999411449
Journal Mail Official
jpe-ces@ugm.ac.id
Editorial Address
Editor Jurnal Manusia dan Lingkungan Pusat Studi Lingkungan Hidup - Universitas Gadjah Mada (PSLH - UGM) Komplek UGM, Jalan Kuningan, Jalan Kolombo, Catur Tunggal, Yogyakarta
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Manusia dan Lingkungan
ISSN : 08545510     EISSN : 24605727     DOI : https://doi.org/10.22146/jml.30101
Jurnal Manusia dan Lingkungan is published by the Center for Environment Studies, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia. The journal is focused to the relationship between people and its environment that are oriented for environmental problems solving. Jurnal Manusia dan Lingkungan receives a manuscript with interdisciplinary and multidisciplinary approach Abiotic : physical, chemical, technical, geo-environmental science and modelling science Biotic : environmental biology, ecology, agro environment Culture : environmental-socio,-economics,-culture, and environmental health.
Articles 16 Documents
Search results for , issue "Vol 21, No 3 (2014): November" : 16 Documents clear
KAJIAN PENGARUH PENGGUNAAN LUMPUR MINYAK TERHADAP KONSENTRASI TOTAL PARTIKULAT TERSUSPENSI (TSP) DAN SULFUR DIOKSIDA (SO2) DARI EMISI TANUR PUTAR INDUSTRI SEMEN (Assessment of Oil Sludge Utilization Influence on Total Suspended Particulate) Rofie Fatimah; Allen Kurniawan; Arief Sabdo Yuwono
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 21, No 3 (2014): November
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18552

Abstract

ABSTRAKIndustri semen merupakan industri padat energi dengan memanfaatkan bahan bakar fosil. Beberapa pabrik semen mencari sumber energi alternatif mengingat cadangan bahan bakar fosil terbatas dengan harga yang meningkat. Di sisi lain, pengelolaan limbah sangat dibutuhkan sebagai dampak dari aktivitas perindustrian. Co-processing merupakan salah satu upaya untuk mengatasi permasalahan tersebut dengan memanfaatkan limbah industri sebagai sumber energi baru. Salah satu limbah yang dapat dimanfaatkan adalah lumpur minyak. Atas dasar deskripsi tersebut, tujuan penelitian ini untuk membandingkan konsentrasi Total Partikulat Tersuspensi (TSP) dan sulfur dioksida (SO2) yang diemisikan dari tanur industri semen saat menggunakan bahan bakar utama (batu bara) dan batu bara yang digabung dengan lumpur minyak, membandingkan konsentrasi setiap kondisi dengan nilai baku mutu yang berlaku, serta mengkaji karakteristik lumpur minyak sebagai bahan bakar alternatif. Pengambilan contoh uji dilakukan di salah satu industri semen yang telah memanfaatkan bahan bakar alternatif dengan mengacu pada  standar internasional EN 13284-1 dan  ISO 7934. Konsentrasi rata-rata TSP dan SO2 saat penggunaan batu bara masing-masing diperoleh sebesar 31,48 dan 19,67 mg/Nm3, sementara saat penggunaan batu bara dan lumpur minyak masing-masing adalah 19,60 dan 12,21 mg/Nm3. Kedua konsentrasi berada di bawah ambang batas baku mutu emisi masing-masing. Dari hasil beberapa penelitian, kandungan terbesar lumpur minyak berupa senyawa-senyawa organik terutama hidrokarbon. Kandungan abu dalam lumpur minyak berkisar 1,88-18,51% dan kandungan sulfur berkisar 2,06-2,26% dari total persen berat, sehingga emisi TSP dan SO2 yang dihasilkan relatif rendah.ABSTRACTCement industry needs lots of energy, which fulfilled by fossil fuel. Therefore, finding alternative energy should be encouraged. On the other side, there is a need to manage the waste as the result of industrial activities. One of the alternatives is co-processing, which is a process to recover the energy and waste for industrial production process. One of the waste that has been used is oil sludge. The purposes of this research were to compare the concentration of Total Suspended Particulate (TSP) and Sulfur dioxide (SO2) when they use coal only and coal which added by oil sludge, to compare the concentrations with the standard limit, also to characterize the oil sludge. Samples were taken at one of the cement industries that have used alternative fuel  according to international standard EN 13284-1 and ISO 7934. The average concentration of TSP and SO2 which only used coal were 31.48 and 19.67 mg/Nm3 respectively, while the TSP and SO2 concentration that used coal and oil sludge were 19.6 and 12.21 mg/Nm3, respectively. The concentration of TSP and SO2 were below the standard limit. The major content of oil sludge are organic compounds, especially hydrocarbon. In the oil sludge, ash content ranged between 1.88-18.51% and sulfur content ranged between 2.06-2.26% of the total weight, so the TSP and SO2 emissions may be produced in low concentration.
EMISI CO2 TANAH AKIBAT ALIH FUNGSI LAHAN HUTAN RAWA GAMBUT DI KALIMANTAN BARAT (Soil Emissions of CO2 Due to Land Use Change of Peat Swamp Forest at West Kalimantan) Rossie Wiedya Nusantara; Sudarmadji Sudarmadji; Tjut Sugandawaty Djohan; Eko Haryono
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 21, No 3 (2014): November
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18553

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis alih fungsi lahan gambut yang menyebabkan perubahan emisi CO2 tanah pada hutan rawa gambut primer (HP), hutan gambut sekunder (HS), semak belukar (SB), kebun sawit (KS), dan kebun jagung (KJ) dan menganalisis pengaruh suhu dan jeluk muka air tanah (water-table depth) terhadap emisi CO2 tanah. Sampel dari tiap tipe lahan diambil sebanyak lima ulangan, total sampel 25. Saat pengukuran respirasi CO2 tanah gambut dilakukan pengukuran suhu tanah dan muka air tanah. Pengukuran di lapangan dilaksanakan dua kali yaitu awal musim kemarau dan musim hujan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa emisi CO2 tanah tertinggi dan terendah pada dua waktu pengukuran tersebut adalah pada tipe lahan KJ (6,512 ton ha-1 th-1) dan SB (1,698  ton ha-1 th-1) serta pada tipe lahan KS (6,701 ton ha-1 th-1) dan SB (3,169 ton ha-1 th-1) berturut-turut. Suhu tanah gambut tertinggi dan terendah pada dua waktu pengukuran tersebut berturut-turut adalah pada tipe lahan SB (27,78 oC) dan HP (22,78 oC), dan pada tipe lahan KS (29,08 oC) dan HP (26,56 oC) serta jeluk muka air tanah gambut berturut-turut pada tipe lahan KJ (56,2 cm) dan  SB (32,1 cm). Faktor-faktor yang menyebabkan perubahan emisi CO2 tanah gambut adalah suhu tanah, jeluk muka air tanah dan pengelolaan lahan yang menyebabkan perubahan sifat tanah gambut, seperti ketersediaan C-organik (jumlah dan kualitas bahan organik), pH tanah dan kematangan gambut.ABSTRACTThis study aims to analyze peatland use change that caused changes soil emissions of CO2 at primary peat swamp forest (HP), secondary peat forest (HS), shrub (SB), oil palm plantations (KS) and corn field (KJ), and to analyze the influence of temperature and water-table depth to soil emission of CO2. Soil samples were taken from each five replications that accunt for 25 samples. Simultaneously with measurement of soil respiration measuremnts soil temperature. Field measurement is carried out twice at the beginning of dry season and the rainy season. The research shows that the highest and lowest soil emissions of CO2 at the  two measurements are at KJ (6.512 ton ha-1 yr-1) and SB (1.698  ton ha-1 yr-1), and at KS (6.701 ton ha-1 yr-1) and SB (3.169 ton ha-1 yr-1), respectively. The highest and lowest temperature of peat soil the  two measurements are at SB (27.78 oC) and HP (22.78 oC), and at KS (29.08 oC) dan HP (26.56 oC). Also the highest and lowest water-table depth of peat soil are at KJ (56.2 cm) and  SB (32.1 cm). The factors caused to differences of CO2 emissions are soil temperature, water-table depth and land cultivation which caused changing of peat-soil properties such as organic-C stock, soil pH and peat maturity.
SEBARAN ASPEK KERUANGAN TIPE LONGSORAN DI DAERAH ALIRAN SUNGAI ALO PROVINSI GORONTALO (Spread of Spatial Aspect of Landslide Types at Alo Watershed in Gorontalo Province) Fitryane Lihawa; Indriati Martha Patuti; Nurfaika Nurfaika
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 21, No 3 (2014): November
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18554

Abstract

ABSTRAKSebaran aspek keruangan tipe longsoran di DAS Alo Provinsi Gorontalo telah dikaji dan dievaluasi menggunakan bentuk Peta Sebaran Tipe Longsoran Skala 1 : 50.000. Lokasi penelitian ini meliputi seluruh wilayah DAS Alo Provinsi Gorontalo dengan luas 7.588 Ha. Penentuan sampel penelitian dilakukan secara Accidental Sampling yaitu dengan melakukan penelusuran di seluruh wilayah yang rawan longsor di DAS Alo untuk menemukan titik-titik kejadian longsoran. Dalam pengkajian tipe dan sebaran longsoran, dilakukan pengamatan dan pengukuran terhadap kejadian longsoran yang terjadi pada seluruh wilayah DAS Alo yaitu sejumlah 15 (lima belas) titik kejadian longsoran.  Tipe longsoran ditentukan melalui pengukuran dan pengamatan morfometri longsoran untuk menentukan indeks klasifikasi longsoran dan hasil analisis tersebut di plot ke dalam Peta Lokasi Sebaran Tipe Longsoran Skala 1 : 50.000 untuk mengetahui sebaran keruangan dari kejadian longsoran di DAS Alo Provinsi Gorontalo. Berdasarkan analisis morfometri dan indeks klasifikasi longsoran menunjukkan bahwa tipe longsoran yang terjadi adalah rotational slide, planar slide, slide flow dan rock block slide. Kejadian longsoran yang terjadi di DAS Alo Provinsi Gorontalo tersebar pada wilayah dengan kemiringan lereng curam dan sangat curam dengan bentuk permukaan lereng cembung dan cenderung lurus. Kejadian longsoran juga terjadi pada wilayah dengan tekstur tanah lempung dan lempung berlanau, serta jenis batuan vulkanik dan batuan beku yang mengandung silika tinggi dan telah mengalami pelapukan. Berdasarkan wilayah  administrasi, kejadian longsoran tersebar di wilayah Kecamatan Tibawa, Kecamatan Pulubala dan Kecamatan Isimu Utara.   ABSTRACTDistribution of spatial aspect of landslide at ALO Watershed of Gorontalo Province has been studied by providing it through form of spread landslide maps at scale of 1 : 50.000. Research site involved all areas of ALO Watershed in Gorontalo Province as having an area of 7,588 Ha. Research sampling was conducted through accidental sampling as exploring all areas across the region prone to landslides at ALO Watershed in order to invent potential spot of landslide occurence. Regarding to the discussion and spread landslide, it was conducted an observation and measurement toward landslide which was occured to all areas of  ALO Watershed  15 number spots of landslide occurance. Type of landslide was determined by the measurement and observation of landslide morphometry toward classification index and analysis result. Then it was distributed into the map of spread landslide at scale of 1 : 50.000 in order to acknowledge the spatial spread of landslide occurence at ALO Watershed in Gorontalo Province. Based on the morphometry analysis and classification index of landslide, they showed that landslide types are rotational slide, planar slide, slide flow, and rock block slide. Landslide occurence of  ALO Watershed in Gorontalo Province has been spread  in areas with steep slope and very steep slopes by having convex surface shape and tend to be straight. It also occures to the area of clay texture and silted loam, and types of volcanic and igneous rocks which contained high silica and encountering weathering. Regarding to the administration area, landslide occurence is spread to the subdistrict of Tibawa, Pulubala, and Isimu Utara subdistricts.
BIODEGRADASI RESIDU TOTAL PETROLEUM HIDROKARBON DI BAWAH KONSENTRASI 1% (W/W) HASIL PROSES BIOREMEDIASI (Biodegradation of Total Petroleum Hydrocarbons Residues below 1% Concentration (W/W) Using Bioremediation Process) Allen Kurniawan; Agus Jatnika Effendi
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 21, No 3 (2014): November
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18555

Abstract

ABSTRAKSektor pertambangan minyak bumi dan gas cenderung menghasilkan limbah yang dipersepsikan sebagai salah satu sumber pencemaran lingkungan. Menurut Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 128/2003, proses bioremediasi merupakan teknologi alternatif untuk meminimalisasi dan memulihkan lahan tercemar dengan melibatkan aktivitas mikroorganisme hingga persyaratan konsentrasi akhir limbah minyak bumi berupa Total Petroleum Hydrocarbons (TPH) kurang dari 1%. Pemilihan mikroorganisme indigenous pada konsentrasi substrat kecil diharapkan menghasilkan nilai saturasi substrat terkecil sehingga tingkat afinitas tertinggi dapat diperoleh. Tujuan penelitian ini mencari dan mengidentifikasi isolat mikroorganisme petrofilik dari contoh uji hasil proses bioremediasi pada konsentrasi TPH 1%, menentukan nilai parameter kinetika biodegradasi, dan mengaplikasikan mikroorganisme terpilih pada proses bioremediasi tipe landfarming. Tahap isolasi dan identifikasi bakteri indigenous menghasilkan isolat bakteri Pseudomonas putida AK.A dan Pseudomonas diminuta AK.B. Penentuan kinetika biodegradasi dilakukan pada setiap jenis isolat dan kultur tercampur. Nilai laju pertumbuhan spesifik (µ), laju pertumbuhan spesifik maksimum (µmax), konsentrasi setengah jenuh (KS), koefisien produksi sintesis sel (Y), laju utilisasi substrat spesifik (q), laju utilisasi substrat spesifik maksimum (qmax), dan koefisien kematian indigenous (kd) pada P. putida AK.A. berturut-turut sebesar 0,0679-0,0788/jam; 0,078/jam; 0,0152%; 0,1011; 0,6716-0,7794/jam; 0,76/jam; 0,0085/jam; P. diminuta AK.B sebesar 0,0754-0,0874/jam; 0,0873/jam; 0,0182%; 0,1246; 0,7458-0,8645/jam; 0,701/jam; 0,0058/jam; dan kultur tercampur sebesar 0,0825-0,0948/jam 0,0945/jam; 0,016%; 0,2257; 0,8160-0,9377/jam; 0,419/jam; 0,0035/jam. Kultur tercampur digunakan pada reaktor landfarming skala laboratorium. Berdasarkan hasil penelitian, isolat bakteri Pseudomonas dalam kultur tercampur dapat menurunkan konsentrasi TPH di bawah 1%, dengan efisiensi sebesar 87,4% dalam jangka waktu satu bulan.ABSTRACTThe mining sector of oil and gas are likely to generate waste wbich is perceived as a source of environmental pollution. According to “Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 128/2003” (Environmental Ministry Decree), the process of bioremediation is an alternative technology to minimize and recover land which polluted by microorganism activities until the final requirements of petroleum waste concentration is less than 1%. Indigenous microorganisms elected on small substrate concentrations are expected to get the smallest saturation value of the substrate so the highest affinity level can be obtained. The purpose of the research sought and identified petrofilic microorganisms isolated by bioremediation process resulted of 1% Total Petroleum Hydrocarbons concentration, determined the value of biodegradation kinetic parameters, and applied the microorganisms selected on bioremediation process of landfarming. The isolation and identification of indigenous bacteria process produced Pseudomonas putida AK.A and Pseudomonas diminuta AK.B. Determination of biodegradation kinetics was performed on each isolate and mixed culture. The value of specific growth rate (μ), maximum specific growth rate (μmax), the concentration of half saturation (KS), the synthesis of cell production coefficient (Y), specific substrate utilization rate (q), maximum specific substrate utilization rate (qmax), and endogenous decay coefficient (kd) for P. putida AK.A are 0.0679-0.0788/hour; 0.078/hour; 0.0152%; 0.1011; 0.6716-0.7794/hour; 0.76/hour; 0.0085/hour; P. diminuta AK.B are 0.0754-0.0874/hour; 0.0873/hour; 0.0182%; 0.1246; 0.7458-0.8645/hour; 0.701/hour; 0.0058/hour; meanwhile for mix culture are 0.0825-0.0948/hour; 0.0945/hour; 0.016%; 0.2257; 0.8160-0.9377/hour; 0.419/hour; 0.0035/hour. The mixed culture bacteria was used on landfarming reactor. Based on the results, isolates of Pseudomonas bacteria in mixed cultures can reduce TPH concentrations below 1% at landfarming reactor.
KEBERADAAN FUNGI MIKORIZA ARBUSKULA DI KAWASAN TAILING TAMBANG EMAS TIMIKA SEBAGAI UPAYA REHABILITASI LAHAN RAMAH LINGKUNGAN (The Presence of Arbuscular Mycorrhizal Fungi in the Tailings of Mining Gold Timika as An Attempt of Environmentally Friendly) Suharno Suharno; Retno Peni Sancayaningsih; Endang Sutariningsih Soetarto; Rina Sri Kasiamdari
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 21, No 3 (2014): November
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18556

Abstract

ABSTRAKFungi mikoriza arbuskula (FMA) berperan penting dalam menunjang rehabilitasi lahan terdegradasi, termasuk lahan tailing. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui keberadaan FMA lokal di lahan tailing tambang emas Timika – Papua, Indonesia. Metode yang digunakan adalah survei dengan mengisolasi FMA dari rhizosfer beberapa jenis tumbuhan dominan di kawasan daerah pengendapan pasir sisa tambang. Pengecatan akar untuk melihat infeksi oleh FMA dilakukan dengan trypane blue, sedangkan perhitungan persen infeksinya dilakukan dengan metode slide. Keberadaan spora FMA dilakukan dengan metode wet sieving. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat FMA di lahan tailing di kawasan pengendapan Modified Ajkwa Deposition Area (ModADA). Persentase infeksi tertinggi (>50%) diketahui pada jenis tumbuhan Ficus adenosperma (86,7%), Brachiaria sp (73,3%), Amomum sp (66,7%), Bidens pilosa (63,3%), dan Musaenda frondosa (56,7%), sedangkan beberapa jenis lain mempunyai persen infeksi yang lebih rendah. Jumlah spora pada rhizosfer tumbuhan Brachiaria sp., F. adenosperma, dan Amomum sp., merupakan yang tertinggi dibanding dengan tumbuhan lain yakni 17, 13, dan 11 spora per 10 g tanah. ABSTRACTArbuscular Mycorrhizal Fungi (AMF) has an important role in supporting the rehabilitation of degraded land such as tailings. The purpose of this research was to reveal the existence of indigenous AMF in tailing area of gold mine in Timika – Papua, Indonesia. The method was a survey by isolating some types of AMF from rhizosphere of dominant plant in the deposit area of mine sand residue. To define the AMF infected roots was conducted painting roots using trypane blue, where as the calculation of percent infection was carried out using slide methods. The presence of spores of AMF was done by wet sieving method. The results showed that AMF was found in tailings deposition on the Modified Ajkwa Deposition Area (ModADA). The highest percentage infections (>50%) was found under Ficus adenosperma (86.7%), Brachiaria sp (73,3%), Amomum sp (66,7%), Bidens pilosa (63,3%), and Musaenda frondosa (56,7%) rhizospheres, where as some other types of AMF have a lower infection percentage. The highest number of spores was found in rhizosphere of Brachiaria sp., F. adenosperma, and Amomum sp. which are 17, 13, and 11 spores per 10 g of soil respectively.
METALLOTHIONEIN PADA HATI IKAN SEBAGAI BIOMARKER PENCEMARAN KADMIUM (Cd) DI PERAIRAN KALIGARANG SEMARANG (Metallothionein in The Fish Liver as Biomarker of Cadmium (Cd) Pollution in Kaligarang River Semarang) Nur Kusuma Dewi; Purwanto Purwanto; Henna Rya Sunoko
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 21, No 3 (2014): November
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18557

Abstract

ABSTRAKPenanda dini pencemaran kadmium  di sungai Kaligarang perlu diketahui sebagai alat monitoring pencemaran logam berat,  mengingat sungai Kaligarang digunakan untuk memenuhi kebutuhan air minum bagi masyarakat kota Semarang. Ikan yang hidup di Kaligarang diambil sampelnya secara random. Sampel diambil hatinya, untuk diperiksa ada tidaknya metallothionein pengikat Cd, menggunakan  HPLC. Sebagai kontrol diambil sampel ikan secara  random, dari perairan yang tidak tercemar yakni dari Balai Benih Ikan Air Tawar. Sampel  dianalisis sama seperti sampel ikan dari sungai Kaligarang. Hasil analisis  HPLC sampel dari Kaligarang  dibandingkan dengan sampel ikan dari Balai Benih Ikan untuk menentukan ada tidaknya metallothionein pengikat Cd. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada hati ikan yang hidup di Kaligarang didapatkan metallothionein-Cd, sedangkan ikan yang hidup di Balai Benih Air Tawar tidak ditemukan metallothionein-Cd. Hal ini menunjukkan bahwa ikan dari balai Benih tidak mengakumulasikan Cd, sedang ikan dari Kaligarang mengkumulasikan Cd. Hasil penelitian ini diperkuat oleh hasil AAS sampel air sungai Kaligarang mengandung Cd dan sampel air  Balai Benih ikan tidak mengandung Cd.  Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa metallothionein-Cd merupakan Biomarker pencemaran Cd di Kaligarang. Biomarker metallothionein yang ditemukan dapat digunakan sebagai alat deteksi dini dalam monitoring pencemaran Cd  di perairan. ABSTRACTEarly markers of cadmium pollution in the river Kaligarang need to know as heavy metal pollution monitoring tool, given the river Kaligarang used to meet the needs of drinking water for the city of Semarang.  Fish lived in Kaligarang were collected randomly as sample. The liver of the fish were taken and examined for the presence of Cd-binding metallothionein, using HPLC. As the control, fish were collected randomly from unpolluted water, i.e. from Freshwater Fish Hatchery, Ungaran. These samples were analyzed using the same method with the samples taken from Kaligarang. HPLC result of Kaligarang samples was compared with HPLC result of unpolluted samples to determine the presence of Cd-binding metallothionein. The result is metallothionein-Cd was present in fish taken from Kaligarang, whereas fish from unpolluted waters did not contain metallothionein-Cd. This means that fish from Freshwater Fish Hatchery, Ungaran did not accumulated Cd, whereas fish from Kaligarang accumulated Cd. This was supported by the result from AAS; water samples from Kaligarang contained Cd and water samples from Freshwater Fish Hatchery, Ungaran did not contain Cd. It was concluded that the presence of Metallothionein-Cd  may be considered as biomarker of Cd pollution in Kaligarang. Metallothionein biomarker found may be used as monitoring tool for Cd  pollution in aquatic. 
ISOLASI DAN PEMANFAATAN BAKTERI PROTEOLITIK UNTUK MEMPERBAIKI KUALITAS LIMBAH CAIR PENGOLAHAN BANDENG PRESTO (Isolation and Utilization of Proteolytic Bacteria to Improve The Quality of Milkfish Presto Processing Wastewate) Riky Paskandani; Ustadi Ustadi; Amir Husni
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 21, No 3 (2014): November
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18558

Abstract

ABSTRAKIndustri pengolahan ikan menghasilkan limbah dengan kadar protein tinggi. Penambahan bakteri proteolitik diharapkan dapat membantu mendegradasi limbah berprotein tinggi. Pada penelitian ini, isolasi bakteri proteolitik dilakukan untuk mendapatkan isolat dengan aktivitas proteolitik tinggi. Isolat terbaik diuji kemampuan hidup dan aktivitasnya pada berbagai konsentrasi NaCl dan pH. Kemampuan isolat meningkatkan kualitas limbah juga diuji pada limbah pengolahan bandeng presto. Hasil penelitian diperoleh 36 isolat bakteri proteolitik dari limbah cair pencucian ikan Pasar Kranggan Yogyakarta. Dari ke-36 isolat tersebut, isolat D61 merupakan isolat dengan aktivitas proteolitik tertinggi dengan zone diameter 20,5 mm. Isolat tersebut mampu hidup pada NaCl 0-10% dan kisaran pH 5-10, namun aktivitas proteolitik tertingginya pada NaCl 0-2% dan kisaran pH 7-8 dan pH 10. Berdasarkan karakteristik morfologi dan biokimianya, isolate D61 memiliki kemiripan 93,93% dengan Bacillus soli. Hasil ujicoba pada limbah cair pengolahan bandeng presto ternyata isolat D61 tidak mampu memperbaiki kualitas limbah tersebut.ABSTRACTIn this research, isolation of proteolytic bacteria was performed to obtain isolates with high proteolytic activity based on their ability to degrade the protein. The best isolate was examined for their growth ability and proteolytic activity in different concentrations of NaCl and degree of acidity (pH). Furthermore, the isolate ability to improve wastewater quality was observed in milkfish presto processing wastewater. Thirty-six proteolytic bacteria were isolated from fish washing wastewater of Kranggan Market, Yogyakarta. Isolate D61 has the highest proteolytic activity with activity about 20,5 mm. Isolate D61 was able to grow at a concentration of 0-10% NaCl with the highest proteolytic activity at the concentration of 0-2% NaCl. Isolate D61 was also able to live at pH 5-10 with the highest proteolytic activity at pH 7-8 and pH 10. Based on morphology and biochemical characteristics, D61 has 93.93% similarity with Bacillus soli. However, isolate D61 was not able to improve the quality of milkfish presto processing wastewater.
ISOLASI, SKRINING DAN IDENTIFIKASI JAMUR XILANOLITIK LOKAL YANG BERPOTENSI SEBAGAI AGENSIA PEMUTIH PULP YANG RAMAH LINGKUNGAN (Isolation, Screening and Identification Xylanolytic Local Fungi that Potentially as Pulp Bleaching Agents) Elisa Nurnawati; Sebastian Margino; Erni Martani; Sarto Sarto
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 21, No 3 (2014): November
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18559

Abstract

ABSTRAKXilanase merupakan enzim yang berfungsi luas dalam bidang industri. Xilanase digunakan sebagai perlakuan awal proses pemutihan kertas di industri pulp dan kertas sehingga dapat mengurangi penggunaan senyawa klorin yang berbahaya bagi lingkungan. Xilanase yang cocok digunakan dalam industri pulp dan kertas seharusnya bebas dari aktivitas selulase. Jamur merupakan salah satu kelompok mikrobia yang mampu menghasilkan xilanase. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh isolat jamur unggul lokal penghasil xilanase dari tanah yang diasumsikan memiliki kandungan xilan tinggi. Tanah di sekitar industri pulp dan kertas; hutan akasia di Kab. Muara Enim dan Ogan Ilir, Sumatera Selatan; hutan Wanagama, Yogyakarta; penggergajian kayu di kota Palembang dan Yogyakarta serta TPA Palembang digunakan sebagai sumber isolat jamur. Berdasarkan skrining awal dalam media basal xilan agar diketahui bahwa dari 111 isolat jamur yang diperoleh, sebagian besar mempunyai potensi menghasilkan xilanase, akan tetapi hanya 12 isolat yang mempunyai kemampuan xilanolitik tinggi. Skrining selanjutnya dilakukan pada media basal xilan cair menunjukkan bahwa jamur yang diidentifikasi sebagai Chaetomium globosum, Penicillium simplicissimum, Aspergillus tamarii dan Monocillium sp. berpotensi unggul dalam menghasilkan xilanase dibandingkan isolat lainnya berdasarkan aktivitas enzim spesifiknya. Keempat jamur tersebut diketahui juga memiliki aktivitas lignolitik dan selulolitik. Oleh karena itu, xilanase yang diproduksi ke empat jamur tersebut berpotensi dikembangkan sebagai agen pemutih pulp.ABSTRACTXylanase has great potential for industry application. Application of xylanase can be done in pretreatment of pulp bleaching in the pulp and paper industry. Enzyme application can reduce the use of chlorine compounds that are harmful to the environment. Therefore, xylanase that used in pulp bleaching should be free of cellulase activity. Fungi are one of the groups of microbes that are able to produce xylanase. The aims of this study was to obtain local xylanase-producing fungal isolates from soil that assumed contain of xylan. The source of fungal isolates were the soil around the pulp and paper industry; Acacia forests in the district Ogan Ilir and Muara Enim, South Sumatra; Wanagama, Yogyakarta; sawmills in Palembang and Yogyakarta; and Palembang landfill. Based on the initial screening in the agar basal medium, 111 fungal isolates were obtained. Most of them were the xylanase-producing fungi, but only 12 fungal isolates that have high xylanolytic capabilities. Further screening was performed on xylan liquid basal medium. The results showed that the fungus identified as Chaetomium globosum, Penicillium simplicissimum, Aspergillus tamarii and Monocillium have higher xylanase specific activity than the other isolates. They were also have lignolytic and cellulolytic activities. Therefore, fungal xylanase potentially developed as a pulp bleaching agent.
PENGARUH LOKASI TUMBUH, UMUR TANAMAN DAN VARIASI JENIS DESTILASI TERHADAP KOMPOSISI SENYAWA MINYAK ATSIRI RIMPANG Curcuma mangga PRODUKSI BEBERAPA SENTRA DI YOGYAKARTA (Impact of Growing Sites, Plant Ages and Variance of Distillation Types to Curcuma) Endang Astuti; Retno Sunarminingsih; Umar Anggara Jenie; Sofia Mubarika; Sismindari Sismindari
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 21, No 3 (2014): November
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18560

Abstract

ABSTRAKMinyak atsiri rimpang Curcuma mangga telah diketahui bersifat toksik terhadap beberapa jenis sel kanker. Toksisitas minyak atsiri dipengaruhi oleh komposisi senyawa penyusunnya. Komposisi minyak atsiri dipengaruhi oleh berbagai faktor ekologi dan metode isolasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lokasi tumbuh, umur tanaman dan variasi jenis destilasi terhadap komposisi senyawa minyak atsiri rimpang C. mangga. Untuk mempelajari pengaruh lokasi tumbuh diambil rimpang C. mangga yang berasal dari beberapa daerah di Daerah Istimewa Yogyakarta. Pengaruh umur tanaman terhadap komposisi senyawa dalam minyak atsiri digunakan rimpang C. mangga umur 1, 2, 3, 7, 10, 11 dan 12 bulan, sedangkan jenis destilasi yang digunakan adalah destilasi uap dan uap air. Analisis komponen senyawa minyak atsiri digunakan Kromatografi Gas-Spektrometer Massa (KG-SM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa rimpang yang berasal dari daerah dataran rendah memiliki jenis senyawa yang lebih banyak daripada dataran tinggi dan dimungkinkan karena curah hujan di dataran rendah lebih kecil daripada dataran tinggi. Minyak atsiri rimpang C. mangga optimum apabila tanaman dipanen pada saat umur 8-10 bulan dan jenis destilasi berpengaruh terhadap komposisi minyak atsiri.  Namun begitu, senyawa utama minyak atsiri rimpang C. mangga untuk semua variasi perlakuan adalah sama yaitu β-osimen, β-pinen, β-mirsen dan p-sineol. ABSTRACTThe essential oil of Curcuma mangga has been known to be toxic to several cancer cells. The toxicity is influenced by the substances composition. The substances composition of the essential oil is influenced by ecological factor and isolation method. Therefore, this study have several aims to recognize the impact of growing sites, plant ages and variance of distillation types to C. mangga essential oil compositions. To study the impact of the growing sites, C. mangga samples are collected from several places in Yogyakarta. To determine the impact of substances composition of C. mangga essential oil, samples of 1, 3, 7, 10, 11 and 12 months were chosen, while for distillation method, steam and water-steam distillations were used. For C. mangga essential oil’s susbtances analysis, Gas Chromatography-Mass Spectrometer (GC-MS) was performed. The results of study shown that the land samples contain more substances variance in comparison with the planteau samples, it is probably influenced by the rainfall frequency of land areas, which is lower than planteau areas. In addition, the optimum essential oil are the 8-10 month samples and the distillation method influences to the essential oil compositions. However, all variance treatment has the same main component, i.e., β-ocimene, β-pinene, β-myrcene and p-cineole. 
KONDISI TERUMBU KARANG DI PULAU WEH PASCA BENCANA MEGA TSUNAMI (Coral Reef Condition in Weh Island after Mega Tsunami Disaster) Dini Purbani; Terry Louise Kepel; Amadhan Takwir
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 21, No 3 (2014): November
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18561

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi terumbu karang pasca tsunami sebagai langkah awal dalam upaya rehabilitasi terumbu karang. Metode yang digunakan adalah dengan membandingkan kondisi terumbu karang tahun 2002 sebelum tsunami dan tahun 2009 pasca tsunami menggunakan citra satelit Landsat ETM7 melalui analisis Lyzenga. Pengamatan langsung di lapangan menggunakan metode LIT (Line Intercept Transect) dan pengukuran kualitas perairan. Lokasi pengamatan berada di Ujung Seurawan,  Sea Garden di Pulau Rubiah,  Sea Garden 1, Rubiah Channel 2 dan  Loh Weng. Kondisi terumbu karang yang berada di Taman Wisata Alam (TWA) Pulau Weh ini berada pada kondisi yang buruk sampai baik. Terumbu karang kondisi baik terdapat di lokasi Sea Garden 1 (54,26 %), kondisi sedang di Rubiah Channel 2 (26,32%) dan Sea Garden 2 (39,5%) sedangkan kondisi buruk terdapat di Ujung Seurawan (19,28 %) dan Loh Weng (15,14%). Bentuk kerusakan terumbu karang antara lain patah, terbalik dan hanyut. Jenis terumbu karang yang rusak terdapat di sebelah timur Pulau Weh yaitu sekitar Pulau Rubiah dan sekitar Teluk Loh Pria Laot. Kisaran kondisi perairan berupa pH, salinitas, suhu dan DO menunjukkan bahwa kualitas perairan berada pada kondisi baik untuk perencanaan kegiatan rehabilitasi terumbu karang.ABSTRACTThis study aims to determine the condition of coral reefs after the tsunami as the first step in the rehabilitation of coral reefs. The methods used are of comparing the condition of coral reefs between pre-tsunami in 2002 and post-tsunami in 2009 using Landsat satellite imagery ETM7 through Lyzenga analysis, direct observe of the coral reefs in the field have been done using the LIT (Line Intercept Transect) and measurement of water quality. Locations of observations are in Ujung Seurawan, Sea Garden in Rubiah Island, Sea Garden 1, Rubiah Channel 2 and Loh Weng. The condition of coral reefs in the Natural Park (TWA) Weh Island is generally in the range between poor and good. The coral reefs at Sea Garden 1 (54.26 % ) are in good condition, those in Rubiah Channel 2 (26.32 % ) and Sea Garden 2 (39.5 %) are in moderate condition, while those in Ujung Seurawan (19.28 % ) and Loh Weng (15.14 %) are in  poor conditions. Forms of damage to coral reefs are including broken, overturned and swept away. The damaged reefs are located on the east of Weh Island, which is around Rubiah Island and around the Gulf of Loh Pria Laot. Range of water conditions such as pH, salinity, temperature and DO indicate that the qualities of the waters are good for rehabilitation planning of coral reefs.

Page 1 of 2 | Total Record : 16


Filter by Year

2014 2014


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 2 (2020): 2 Vol 27, No 1 (2020): 1 Vol 26, No 2 (2019): 2 Vol 26, No 1 (2019): 1 Vol 25, No 2 (2018): 2 Vol 25, No 1 (2018): 1 Vol 24, No 3 (2017): September Vol 24, No 2 (2017): Mei Vol 24, No 1 (2017): Januari Vol 23, No 3 (2016): September Vol 23, No 2 (2016): Juli Vol 23, No 1 (2016): Maret Vol 22, No 3 (2015): November Vol 22, No 2 (2015): Juli Vol 22, No 1 (2015): Maret Vol 21, No 3 (2014): November Vol 21, No 2 (2014): Juli Vol 21, No 1 (2014): Maret Vol 20, No 3 (2013): November Vol 20, No 2 (2013): Juli Vol 20, No 1 (2013): Maret Vol 19, No 3 (2012): November Vol 19, No 2 (2012): Juli Vol 19, No 1 (2012): Maret Vol 18, No 3 (2011): November Vol 18, No 2 (2011): Juli Vol 18, No 1 (2011): Maret Vol 17, No 3 (2010): November Vol 17, No 2 (2010): Juli Vol 17, No 1 (2010): Maret Vol 16, No 3 (2009): November Vol 16, No 2 (2009): Juli Vol 16, No 1 (2009): Maret Vol 15, No 3 (2008): November Vol 15, No 2 (2008): Juli Vol 15, No 1 (2008): Maret Vol 14, No 3 (2007): November Vol 14, No 2 (2007): Juli Vol 14, No 1 (2007): Maret Vol 13, No 3 (2006): November Vol 13, No 2 (2006): Juli Vol 13, No 1 (2006): Maret Vol 12, No 3 (2005): November Vol 12, No 2 (2005): Juli Vol 12, No 1 (2005): Maret Vol 11, No 3 (2004): November Vol 11, No 2 (2004): Juli Vol 11, No 1 (2004): Maret Vol 10, No 3 (2003): November Vol 10, No 2 (2003): Juli Vol 10, No 1 (2003): Maret Vol 9, No 3 (2002): November Vol 9, No 2 (2002): Juli Vol 9, No 1 (2002): Maret Vol 8, No 3 (2001): Desember Vol 8, No 2 (2001): Agustus Vol 8, No 1 (2001): April More Issue