cover
Contact Name
Iqmal Tahir
Contact Email
iqmal@ugm.ac.id
Phone
+628999411449
Journal Mail Official
jpe-ces@ugm.ac.id
Editorial Address
Editor Jurnal Manusia dan Lingkungan Pusat Studi Lingkungan Hidup - Universitas Gadjah Mada (PSLH - UGM) Komplek UGM, Jalan Kuningan, Jalan Kolombo, Catur Tunggal, Yogyakarta
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Manusia dan Lingkungan
ISSN : 08545510     EISSN : 24605727     DOI : https://doi.org/10.22146/jml.30101
Jurnal Manusia dan Lingkungan is published by the Center for Environment Studies, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia. The journal is focused to the relationship between people and its environment that are oriented for environmental problems solving. Jurnal Manusia dan Lingkungan receives a manuscript with interdisciplinary and multidisciplinary approach Abiotic : physical, chemical, technical, geo-environmental science and modelling science Biotic : environmental biology, ecology, agro environment Culture : environmental-socio,-economics,-culture, and environmental health.
Articles 444 Documents
PEROMBAKAN SENYAWA HIDROKARBON AROMATIS POLISIKLIK (NAFTALEN) PADA KADAR TINGGI OLEH Pseudomonas NY-I (Biodegradation of Polycyclic Aromatic Hydrocarbon (Naphthalene) at High Concentration by Pseudomonas NY-1) Yanisworo Wijayaratih
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 8, No 3 (2001): Desember
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18582

Abstract

ABSTRAKNaftalen merupakan salah satu senyawa hidrokarbon aromatis polisiklik (HAP) yang banyak dijumpai dalam minyak bumi, batu bara dan hasil alam lainnya. Meskipun bukan senyawa xenobiotik, naftalen dapat menjadi persoalan yang serius karena penggunaannya yang luas dan penanganan yang tidak hati-hati. Naftalen diketahui bersifat mutagenik. Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan isolat bakteri yang dapat merombak naftalen dan mempelajari kemampuannya merombak naftalen kadar tinggi dalam medium mineral (MM) cair. Tanah yang tercemari minyak bumi dan sumber isolat diperoleh dari unit pengolah minyak Pertamina, Cilacap. Isolat dipreroleh melalui kultur diperkaya menggunakan naftalen. Jumlah naftalen yang ditambahkan ke dalam MM cair sebesar 907, 1362 dan 1813 ppm. Inkubasi dilakukan selama 28 hari dalam keadaan gelap. Parameter yang diamati meliputi: jumlah sel hidup dengan metode drop plate dan kadar naftalen sisa dengan menggunakan GC. Hasil penelitian menunjukkan bahwa isolat bakteri yang dipilih, teridentifikasi sebagai Pseudomonas NY-l. Dalam MM cair, naftalen pada semua konsentrasi terombak pada kecepatan yang mirip. Jumlah naftalen yang terombak adalah 777,3 ppm, 728,6 ppm dan 837,2 ppm dari konsentrasi awal berturut-turut sebesar 907, 1362, dan 1813 ppm. ABSTRACTNaphthalene is one of the Polycyclic Aromatic Hydrocarbons (PAHs), found in petroleum, coal and other natural products. although, it is nonxenobiotic, it could cause a serious problem when improperly used and handled. It is considered as a mutagenic compound. This study is primarily concerned with the isolation of bacteria that could utilize naphthalene and the investigation of its biodegradation ability of naphthalene in high concentration in liquid mineral media (MM). The contaminated soil and isolates were obtained from oil treatment unit, Pertamina, Cilacap. Bacterial isolation was conducted through enriched culture. Naphthalene was added to the liquid MM at the concentration of 907, 1362, and 1813 ppm. the culture was incubated in the dark for 28 days. Parameters examined were: the viable cells which was measured by drop plate method and naphthalene residues which was analyzed using GC. The result showed that the isolated bacteria was identified as Pseudomonas NY-1. The naphthalene at all concentrations were degraded at relatively similar speed. The amount of naphthalene degraded were: 777.3 ppm, 728.6 ppm and 837.2 ppm for the initial concentration of 907 ppm, 1362 ppm, and 1813 ppm, respectively.
COMMUNITY INITIATIVE AND INVOLVEMENT IN CREATING HEALTHY AND FRIENDLY CITIES: LESSONS FROM YOGYAKARTA (Inisiatip dan Keterlibatan Komunitas dalam Menciptakan Kota yang Sehat dan Akrab) Bakti Setiawan
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 9, No 1 (2002): Maret
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18583

Abstract

ABSTRACTAs urbanization continue, more and more people will settle in cities. Cities in developing countries, however, are beset by a host of problems emanating from improper planning and design. Further, cities in developing countries, including Indonesia, also tend to lost their cultural identity and humanity, due to the influence of global market that penetrate the human spirits of the local dwellers. Cities are no longer save and friendly environments to live. This paper addresses this issue. It argues that community initiative and involvement in urban development is crucial for creating healthy and friendly cities. Based on case studies from Yogyakarta, the paper highlights several important factors for communities to be effectively involved in a more “friendly” urban development. From these five case studies, this paper learned that community’s initiatives and involvements could only be effectively conducted if they were better organized and understood the dynamics of urban planning and development. It is therefore very crucial for communities and interest groups to under-stand the “politics” of urban development and to actively involve in the day-to-day decision making process related to urban development.ABSTRAKSejalan dengan peningkatan urbanisasi, akan semakin banyak orang tinggal di kota. Persoalannya adalah bahwa kota kota di Negara berkembang menghadapi berbagai persoalan lingkungan, ekonomi dan sosial, terutama karena pendekatan dan praktek perencanaan dan perancangan kota yang tidak pas. Lebih jauh, kota kota di Negara berkembang sebagaimana di Indonesia cenderung kehilangan identita kulturalnya, terutama karena proses pertumbuhan kota yang dipengaruhi oleh pasar global dan tidak memungkinkan penduduk lokal untuk ikut berpartisipasi dalam pembangunan kotanya. Paper ini berargumen bahwa partisipasi penduduk lokal merupakan prasarat bagi terwujudnya kota yang aman dan akrab. Didasarkan atas studi kasus lima proyek di Yogyakarta yang melibatkan penduduk kota, paper ini merumuskan faktor-faktor penting untuk meningkatkan keterlibatan penduduk lokal. Dari lima studi kasus ini, paper ini berkeyakinan bahwa keterlibatan penduduk lokal akan optimal apabila mereka terorganisir dan memahami dinamika proses pembangunan kota. Adalah penting bagi komunitas untuk memahami proses politik dalam pembangunan kota dan secara aktip terlibat dalam proses keeharian pengambilan keputusan yang menyangkut pembangunan kota.
KAJIAN PENGELOLAAN KUALITAS LIMBAH RUMAH TANGGA DI KOTA MAKASSAR (Study of the Household Waste Quality Management in Makassar City) Muhammad Siri Dangnga
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 9, No 1 (2002): Maret
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18584

Abstract

ABSTRAKTujuan kajian ini adalah: (1). Untuk mengetahui kebijakan Pemerintah Daerah Kota Makassar mengnai sistm dan pengembangan prasarana serta langkah-langkah yang ditempuh dalam pembuangan limbah rumah tangga, dan (2). Untuk mengetahui konsentrasi sat pencemar pada limbah rumah tangga yang terdapat di saluran pembuangan yang akan dilepas ke lingkungan. Pengelolaan limbah rumah tangga yang diterapkan di Kota Makassar adalah: (1) meningkatkan sistem setempat dari lubang peresapan menjadi tangki septik yang dilengkapi lubang resapan, (2) mengembangkan organisasi pengelola sistem terpusat, (3) mengembangkan sistem jaringan pelayanan air limbah untuk bagian kota yang padat penduduknya, (4) membangun sebuah instalasi pengolahan air limbah (IPAL), (5) memotivasi partisipasi masyarakat dan swasta dalam sistem pengelolaan air limbah, dan (6) mengembangkan sistm interceptor di luar daerah yang dilayani oleh sistem pengelolaan air limbah.     Hasil pengukuran menunjukkan bahwa beberapa parameter kandungan limbah rumah tangga telah melampaui baku mutu atau nilai ambang batas untuk limbah Golongan I. Parameter tersebut adalah Oksigen terlarut (DO), fosfat, BOD, dan deterjen. ABSTRACTThe objectives of the study are: (1) to know the government policies in Makassar city about system and infrastructure developing and efforts condacted in household waste disposal. (2) to understand the concentration of pollutant on household waste content which exists in disposal system discharge to the environment. The household waste management applied in Makassar City were to: (1) increase the spot system from infiltrate hole to septic tank equipped with absorption level. (2) develop the central system management organization, (3) develop the waste network system in densely populated city; (4) build the waste management installation, (5) motivate the participation of the general public and private in the waste management system; (6) develop the interceptor system outside territory served by the waste management system. The result of the measurement show that a small number of the household waste content has exceeded the standard quality. The parameters of household waste content that had surpassed the quality standard for the waste class I Dissolved Oxygen (DO), phosphate, Biochemical Oxygen Demand (BOD) and detergent.
PENGOLAHAN LIMBAH CAIR INDUSTRI SUSU (Liquid Waste Management in Milk Factory) Wagini Wagini; Karyono Karyono; Agus Setia Budi
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 9, No 1 (2002): Maret
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18585

Abstract

ABSTRAKTelah dilakukan suatu penelitian untuk mengetahui kondisi limbah cair industri susu. hasil penelitian menunjukkan bahwa limbah cair industri susu mengandung zat-zat pencemar dalam tingkat yang membahayakan lingkungan, sehingga limbah cair tersebut perlu didaur ulang. Untuk itu diperlukan suatu instalasi peralatan yang mampu mengolah limbah tersebut. Pada penelitian ini proses pengolahan dilakukan dengan mengkombinasikan proses-proses pengolahan secara Fisika, Kimia dan Biologi. Dengan tahapan proses pengolahan yang dipilih meliputi; Proses equalisasi, proses anaerob, proses aerasi, lumpur aktif, proses sedimentasi, proses koagulasi-flokulasi, proses sedimentasi, proses flotasi, proses pengendapan partikel ringan, proses penyaringan dengan pasir dan arang aktif.    Kualitas air hasil pengolahan dianalisa secara Fisika, Kimia dan Biologi melalui parameter-parameter: suhu, kekeruhan, zat padat tersuspensi, zat padat terlarut, daya hantar listrik, PH, BOD, COD dan jumlah bakteri. Penelitian ini menunjukkan air hasil pengolahan aman untuk dibuang ke lingkungan. ABSTRACTA research to identify the condition of milk industry liquid waste was conducted. The result showed that the waste contained pollutants at the level the endangered the environment. Therefore, the waste had to be recycled in which a liquid waste treatment installation is needed. In this research, the process of milk industry liquid waste was done by combining processing techniques of physics, chemistry and biology. The processing steps include the processes of equalization, anaerobe, aeration, sedimentation, coagulation-flocculation, sedimentation, flotation, sedimentation, filtering with sand and activated carbon. The water resulted from the processes was analyzed in terms of physical, chemical and biological characteristics e.g. temperature, turbidity, suspended solid, solutes solid, conductivity, pH, BOD, COD and amount of bacteria. This research, shows that the water resulted from the treatment was safe for the environment.
VALUASI EKONOMI KEHILANGAN MANFAAT BERSIH AKIBAT BIAYA KESEHATAN PENGGUNAAN PESTISIDA KIMIA (Economic Valuation of Net Benefit Loss Due to Health Cost of Chemical Pesticides Use) Joko Mariyono
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 9, No 1 (2002): Maret
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18586

Abstract

ABSTRAKMengingat pestisida merupakan bahan beracun, maka penggunaannya juga menimbulkan  risiko kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengestimasi bsarnya kehilangan manfaat bersih akibat adanya eksternalitas yang diakibatkan oleh penggunaan pestisda kimia. Manfaat yang hilang ditentukan menghitung selisih antara manfaat bersihmaksimum dihitung dengan menggunakan konsep yang mendalilkan bahwa manfaat bersih marjinal sama dengan biaya eksternal marjinal. Manfaat bersih marjinal diturunkan dari fungsi produksi, sedangkan biaya eksternal marjinal diperoleh dari fungsi biaya kesehatan yang telah diestimasi oleh peneliti sebelumnya. Studi ini menggunakan data nasional produksi padi mulai tahun 1974 sampai dengan 2000. Hasil studi menunjukkan bahwa kehilangan manfaat bersih akibat biaya kesehatan karena penggunaan pestisida sangat tinggi. Kehilangan manfaat bersih yang sangat tinggi ini terjadi karena elastisitas produksi dari pestisida terhadap padi sangat kecil. ABSTRACTSince pesticide is a poisonous agent, its use also causes health risk. The objective of this study is to estimate the value of net benefit loss associated with chemical pestiside uses. The net benefit loss is determined by finding the difference between actual value of net benefit and maximum value of net benefit of pesticides use. The maximum value of net benefit can be obtained by employing the concept postulating that the net benefit is occurred when the marginal net benefit is aqual to marginal external cost. The marginal net benefit is derived from estimated production function of rice, whereas the marginal external cost is obtained by adopting health cost function of pesticides use that has been estimated by previous researchers. The study utilized the national data of rice production and agro-chemical input use during from 1974 to 2000. The results of the study show that there are extremely high net benefit losses associated with health costs of pesticides use. It is happened since the rice production elasticity of pesticides is too low.
HUTAN DAN PERILAKU ALIRAN AIR: KLARIFIKASI KEBERADAAN HUTAN DAN PENGARUHNYA TERHADAP BANJIR DAN KEKURANGAN AIR (Forest and Stream Flow Behaviour: Clarification on Forest Relation With Flood and Drought Issues) Chay Asdak
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 9, No 1 (2002): Maret
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18587

Abstract

ABSTRAKBanjir bandang di wilayah hilir Daerah Aliran Sungai (DAS) seringkali dihubungkan dengan penebangan hutan di wilayah hulu DAS. Hal ini terkait dengan dua hal: (1) perhatian masyarakat terhadap tingginya laju degradasi sumberdaya hutan di banyak tempat di Indonesia, dan (2) adanya kesenjangan pemahaman tentang keterkaitan antara vegetasi, air, dan tanah. kedua hal ini mendorong terbentuknya pemahaman bersama (masyarakat luas termasuk akademisi) yang cenderung bersifat simplistik bahwa banjir bandang tersebut terjadi karena mengingkatnya penebangan hutan. Apakah pemahaman tersebut di atas didukung oleh bukti-bukti ilmiah? Atau karena didorong oleh emosi bahwa kerusakan hutan makin meningkat. Tulisan ini mencoba untuk menunjukkan hasil penelitian bahwa, pada banyak kasus, banjir bandang lebih disebabkan oleh tingginya intensitas curah hujan. ABSTRACTBig floods found in downstream areas that occurred in the wettest months of rainy season are often said to be associated with forest cutting in the upper parts of a watershed. This is partly caused by an increasing strong concerned from many people on high rate of forest destruction in many parts of Indonesia. Partly by false perception on forest-water-soil interaction. In the mean time, there is a common perception among the people including some scientific communities that large floods with severe economic impact are closely linked with the increasing forest cutting. Does this allegation have scientific justification? Or is it just a public emotion driven by the fact that many forest stands are becoming degraded overtime. This article is trying to bring up some scientific findings that, in many cases, big floods were often associated with extreme rainfall. Some illustrations used in this article are mainly from research findings in the temperate climates, with small protions from tropical regions.
PEMBIAYAAN RESTRUKTURISASI INDUSTRI BUS PERKOTAAN SESUAI DENGAN KERANGKA KERJA PROTOKOL KYOTO (Funding for Industrial Restructuring Urban Bus Industry following Kyoto Protocol) Danang Parikesit; Muchlich Z. Asikin
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 9, No 2 (2002): Juli
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18588

Abstract

ABSTRAKSektor transportasi, khususnya sektor angkutan umum telah lama disadari sebagai kontributor utama emisi gas rumah kaca (Green House Gases Emissions). Investasi pada angkutan umum perkotaan sangat dibutuhkan walaupun pembiayaan yang konvensional sering sulit dilakukan karena tingginya tingkat investasi dan prioritas pemerintah saat ini. Angkutan perkotaan juga dilihat sebagai daerah kekuasaan sektor swasta yang membuat pemerintah sulit untuk mengeluarkan uang publik. Ratifikasi Kyoto Protocol telah memberi jalan untuk mengembangkan alternatif pembiayaan untuk pembangunan yang berkelanjutan. Clean Development Mechanism pada Kyoto Protocol telah membuka kesempatan bagi otoritas angkutan umum perkotaan dengan menggunakan prinsip carbon trading. Sumber daya untuk menerapkan proyek angkutan umum perkotaan dengan CDM sangat esensial. Pekerjaan di masa datang harus diarahkan untuk mempelajari metodologi dalam mengkombinasi soft measures dan melaksanakan proyek secara optimal. Pembiayaan dengan sistem CDM ini telah dimulai di Yogyakarta dengan judul The Green House Gases Emission Reduction Program for Urban Buses in Yogyakarta atau Program Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca untuk Bus Perkotaan di Yogyakarta. Sebuah aliansi dengan nama YUPTA (Yogyakarta Urban Public Transport Alliance) telah dibentuk yang terdiri dari 3 lembaga yaitu Dinas Perhubungan Propinsi DIY, Pusat Studi Transportasi dan Logistik (PUSTRAL) UGM dan Koperasi Pengusaha Angkutan Kota Yogyakarta (KOPATA). ABSTRACTTransportation sector, especially public transportation, has been known as the main contributor to the green house hases emission. Investment to urban public transportation is needed but conventional funding is often difficult to be obtained because of the high investment level and the present government priority. Urban transportation is also seen as a private sector domain making the government difficult to use public fund. Kyoto protocol ratification has opened the way to develop funding alternative to sustainable development. Clean development mechanism of Kyoto Protocol provides opportunity for urban public transportation in developing countries to support urban public transportation project applying CDM is essential in which future tasks should be directed to study the methodology in combining soft measures and conducting the project optimally. Funding applying CDM system has been started in Yogyakarta under the title “the Green House Gases Emission Reduction Program for Urban Buses in Yogyakarta”. An alliance called YUPTA (Yogyakarta Urban Public Transport Alliance) has been established which it consist of three institution, i.e, the Transportation office of Yogyakarta Province, study Center for Transportation and Logistic Gadjah Mada University and KOPATA (Cooperation of Urban Transportation Businessman of Yogyakarta)
CONTINGENT VALUATION METHODS DALAM PENILAIAN KUALITAS UDARA DI YOGYAKARTA (Contingent Valuation Methods in Air Quality Valuation in Yogyakarta, Indonesia) Indah L. Murwani Yulianti; Dwijoko J. Ansusanto
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 9, No 2 (2002): Juli
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18589

Abstract

ABSTRAKKegiatan transportasi merupakan salah satu penyumbang yang besar bagi pencemaran udara di daerah perkotaan. tempat terakumulasinya polutan cenderung berada pada tempat-tempat yang direncanakan sebagai pusat kegiatan ekonomi. Akibatnya masyarakat tidak cukup mendapat perlindungan kenyamanan yang kemudian dirasakannya sebagai suatu ketidakadilan. Dengan prinsip polluters pay kiranya dapat dirasakan bahwa keadilan itu ada apabila pencemar baik perorangan ataupun pemerintah melakukan pembayaran penuh atas biaya kerusakan lingkungan yang ditimbulkan oleh kegiatan mereka. Metode valuasi kontingensi dapat digunakan untuk mengetahui keinginan membayar (willingness to pay) dari masyarakat untuk pemulihan kualitas udara tersebut. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa masyarakat mempunyai kemauan membayar untuk upaya memelihara lingkungan melalui dana yang ditarik dari setiap liter BBM yang dikonsumsi untuk melakukan perjalanan (transportasi). ABSTRACTTransportation activities are one of the largest contributors to the air pollution in urban area. The locations of accumulative pollution tend to take place allocated as the central economic activities. As a consequences, people have not been adequately protected against the pollution which has been considered as injustice. based on the “polluters pay” principle, justice is in existence if the polluters pay in full for the environmental degradation as the impact of their activities. The contingeny valuation method can be used to identify the willingness to pay of the people to improve the air quality. The study concluded that people has “willingness to pay” in order to conserve the environment through payment of each liter of fuel consumed for transportation.
VALUASI EKONOMI BIODIVERSITY KARS: STUDI KASUS VALUASI EKONOMI KAWASAN KARS MAROS, SULAWESI SELATAN (Economic Valuation of Karst Biodiversity: A Case Study of Karst Region in Maros, South Sulawesi, Indonesia) Gustami Gustami; Heru Waluyo
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 9, No 2 (2002): Juli
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18590

Abstract

ABSTRAKStudi ini bertujuan untuk menghitung nilai ekonomi total dari kawasan kars Maros Sulawesi Selatan. Studi berlokasi di Taman Wisata Alam bantimurung, Cagar Alam Karaenta, dan Taman Wisata Alam Gua Pattunang. Kegiatan ini merupakan kerjasama Kementerian Lingkungan Hidup dan Collaborative Environmental Project in Indonesia (CEPI) dengan melibatkan Staf Bapedal Regional III Makassar, Pemda Maros, Universitas Muhammadiyah dan Universitas Hasanuddin Ujung Pandang. Pendekatan biaya perjalanan adalah yang pertama dikaji untuk menghitung nilai guna langsung dari kegiatan rekreasi. Penghitungan nilai tidak langsung keberadaan kawasan kars beserta hutannya yang didasarkan pada nilai dari fungsinya sebagai sumber air dan pencegah terjadinya banjir dan longsor. Nilai preservasi kawasan kars yang dinilai dengan menghitung keinginan membayar pengunjung untuk konservasi kupu-kupu dan kumbang,perbaikan lingkungan terutama yang berkaitan dengan kebersihan, keindahan dan kesejukan dengan jumlah kunjungan pertahun. Berdasarkan hasil analisis, nilai ekonomi total yang terdiri dari nilai guna langsung, nilai guna tidak langsung serta nilai bukan guna (non use value) yang berupa nilai preservasi adalah Rp. 639,556,607,830,-. Walaupun kenyataannya masih banyak nilai ekonomi lain yang belum dikaji, namun studi ini telah mengungkapkan sebagian nilai ekonomi kawasan kars yang dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar ataupun masyarakat di luar yang mengunjungi kawasan ini untuk menikmati fenomena “kars tropika klasik” Maros. ABSTRACTThe objective of this study is to assess total economic values of karst region in Maros, South Sulawesi, spesifically at Taman wisata alam Bantimurung, Cagar alam Karaenta, and Taman Wisata Alam Gua Pattunuang. This activity was a joint project between the Ministry of Environmental Republic of Indonesia and the Collaborative Environmental Project in Indonesia (CEPI) involving staff of BAPEDAL Regional III, Makassar, local government of Maros, Muhammadiyah University and Hassanudin University in Makassar. A travel expenditure approach was firstly assessed to determine the direct use value of recreation activities. Indirect value determination abou the existence of karst region including its forest was conducted based lor the value of its function as water resources and prevention of flood and land slide. The preservation value of karst region was determined by computing visitors willingness to pay for butterfly conservation, environmental improvement, amenity, and also the number of visitors. Based on the result of the analysis, the total economic value consisted of the direct use value, indirect use value, and non-use value which formed the preservation value amounting Rp. 639.556.607,830,-. Even though there other economic values which have not been assessed, this study has addressed some parts of economic values of a karst region which was developed by both local and outside people who enjoy the classical tropical karst of Maros.
MENAKSIR NILAI EKONOMI TAMAN HUTAN WISATA TAWANGMANGU: APLIKASI INDIVIDUAL TRAVEL COST METHOD (Estimating the Economic Value of Tawangmangu Tourism Forest: An Application of the Travel Cost Method) Achmad Raharjo
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 9, No 2 (2002): Juli
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18591

Abstract

ABSTRAKStudi ini merupakan kajian dalam rangka penerapan salah satu dari metode valuasi lingkungan, individual travel cost method (ITCM), yang implementasinya menggantungkan data masing-masing individu. Untuk kajian ini dipilih Taman Hutan Wisata Twangmangu yang merupakan salah satu obyek wisata hutan terkenal khususnya di Jawa. Selanjutnya, untuk pentahapan pengumpulan data dilakukan survei langsung (wawancara) berasar kuesioner kepada pengunjung. Diasumsikan, nilai valuasi ekonomi hasil penerapan ITCM di negara berkembang mungkin lebih kecil angkanya bila dibandingkan studi serupa di negara maju akibat perbedaan karakteristik sosial-ekonomi masyarakatnya. Oleh karenanya, hipotesis studi ini adalah jumlah kunjungan ke obyek wisata (rekreasi) juga relatife lebih sedikit sebagai akibat tingkat kesejahteraan masyarakat yang relatife lebih rendah dibandingkan masyarakat negara maju. Dari kondisi tersebut, nilai keuntungan kegiatan rekreasi yang dicerminakn dengan agregat consumer surlus (CS) juga akan kecil. Studi ini menunjukkan bahwa nilai keuntungan rata-rata sebesar US$41.50 per tahun per individu atau sebesar US$18.20 per individu setiap kunjungan. Total nilai ekonomi Taman Hutan Wisata Tawangmangu adalah US$7.51 juta. Nilai hasil studi ini comparable terhadap studi-studi serupa di beberapa negara maju maupun negara sedang berkembang di Asia. ABSTRACTThe study applied the Individual Travel Cost Method (ITCM) as one of the available environmental evaluation methods. The implementation of ITCM depends on individual data. Tawangmangu Tourism Forest, a well-known tourism forest in Java, was selected as the study area. The data were collected by directly interviewingthe visitors. It was assumed the values as a result of ITCM application in developing countries were lower than those in developed countries because of their different socio-economic characteristics. Therefore, the hypothesis of this study was just adjusted: the number of the visitors to the tourism objects is lower as a consequence of the lower people welfare compared to that of developed countries. Based on this condition, benefit obtained from recreation activities reflected by consumer surplusa aggregate (CS) will also small. This study shows that the average economic benefit was US$ 41.50 per year per individual or US$ 18.20 per individual in each visit. The total economic values of Tawangmangu tourism forest was US$ 7.51 millions. This value is comparable to the values of similar studies conducted in other countries.

Filter by Year

2001 2020


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 2 (2020): 2 Vol 27, No 1 (2020): 1 Vol 26, No 2 (2019): 2 Vol 26, No 1 (2019): 1 Vol 25, No 2 (2018): 2 Vol 25, No 1 (2018): 1 Vol 24, No 3 (2017): September Vol 24, No 2 (2017): Mei Vol 24, No 1 (2017): Januari Vol 23, No 3 (2016): September Vol 23, No 2 (2016): Juli Vol 23, No 1 (2016): Maret Vol 22, No 3 (2015): November Vol 22, No 2 (2015): Juli Vol 22, No 1 (2015): Maret Vol 21, No 3 (2014): November Vol 21, No 2 (2014): Juli Vol 21, No 1 (2014): Maret Vol 20, No 3 (2013): November Vol 20, No 2 (2013): Juli Vol 20, No 1 (2013): Maret Vol 19, No 3 (2012): November Vol 19, No 2 (2012): Juli Vol 19, No 1 (2012): Maret Vol 18, No 3 (2011): November Vol 18, No 2 (2011): Juli Vol 18, No 1 (2011): Maret Vol 17, No 3 (2010): November Vol 17, No 2 (2010): Juli Vol 17, No 1 (2010): Maret Vol 16, No 3 (2009): November Vol 16, No 2 (2009): Juli Vol 16, No 1 (2009): Maret Vol 15, No 3 (2008): November Vol 15, No 2 (2008): Juli Vol 15, No 1 (2008): Maret Vol 14, No 3 (2007): November Vol 14, No 2 (2007): Juli Vol 14, No 1 (2007): Maret Vol 13, No 3 (2006): November Vol 13, No 2 (2006): Juli Vol 13, No 1 (2006): Maret Vol 12, No 3 (2005): November Vol 12, No 2 (2005): Juli Vol 12, No 1 (2005): Maret Vol 11, No 3 (2004): November Vol 11, No 2 (2004): Juli Vol 11, No 1 (2004): Maret Vol 10, No 3 (2003): November Vol 10, No 2 (2003): Juli Vol 10, No 1 (2003): Maret Vol 9, No 3 (2002): November Vol 9, No 2 (2002): Juli Vol 9, No 1 (2002): Maret Vol 8, No 3 (2001): Desember Vol 8, No 2 (2001): Agustus Vol 8, No 1 (2001): April More Issue