cover
Contact Name
Iqmal Tahir
Contact Email
iqmal@ugm.ac.id
Phone
+628999411449
Journal Mail Official
jpe-ces@ugm.ac.id
Editorial Address
Editor Jurnal Manusia dan Lingkungan Pusat Studi Lingkungan Hidup - Universitas Gadjah Mada (PSLH - UGM) Komplek UGM, Jalan Kuningan, Jalan Kolombo, Catur Tunggal, Yogyakarta
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Manusia dan Lingkungan
ISSN : 08545510     EISSN : 24605727     DOI : https://doi.org/10.22146/jml.30101
Jurnal Manusia dan Lingkungan is published by the Center for Environment Studies, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia. The journal is focused to the relationship between people and its environment that are oriented for environmental problems solving. Jurnal Manusia dan Lingkungan receives a manuscript with interdisciplinary and multidisciplinary approach Abiotic : physical, chemical, technical, geo-environmental science and modelling science Biotic : environmental biology, ecology, agro environment Culture : environmental-socio,-economics,-culture, and environmental health.
Articles 444 Documents
ZONASI PERIKANAN PASI UNTUK KEPENTINGAN PEMANFAATAN SECARA BERKELANJUTAN SUMBERDAYA IKAN KAKAP MERAH DI KEPULAUAN LEASE (Pasi Zone for Interest Sustainable Utilization of Red Snapper Resources in Lease Islands) Delly Dominggas Paulina Matrutty; Sulaeman Martasuganda; Domu Simbolon; Ari Purbayanto
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 21, No 3 (2014): November
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18562

Abstract

ABSTRAKPasi adalah daerah penangkapan spesifik ikan kakap merah di Kepulauan Lease. Eksploitasi terhadap sumberdaya ikan kakap merah cenderung tinggi akhir-akhir ini karena sangat disukai di pasar lokal, regional maupun internasional, selain dijadikan sebagai objek wisata pancing. Kondisi ini akan mengancam kelestarian sumberdaya jika tidak dikelola dengan baik. Penetapan zonasi merupakan salah satu alternatif pengelolaan sumberdaya perikanan yang baik, dan jika dilakukan dengan benar akan memberikan nilai tambah bagi masyarakat, tanpa mengganggu kelestariannya. Tujuan penelitian ini adalah menentukan zonasi perikanan pasi untuk kepentingan pemanfaatan berkelanjutan sumberdaya ikan kakap merah di Kepulauan Lease. Data yang digunakan meliputi hasil kajian potensi sumberdaya ikan kakap merah, kondisi oseanografi  daerah penangkapan (pasi), dan sistem nilai perikanan pasi yang meliputi komponen nilai dasar ekologi, sosial dan teknologi, serta metode Participatory Rural Appraisal (PRA).  Berdasarkan kriteria yang dibangun dari seluruh aspek tersebut  maka dibuat zonasi khusus untuk kawasan pasi di Kepulauan Lease.  Berdasarkan hasil  analisis  diperoleh 4 (empat) dari  25  pasi  ditetapkan sebagai zona lindung, 21 pasi ditetapkan sebagai zona perikanan berkelanjutan sub-zona perikanan tangkap, sedangkan 13 di antaranya ditetapkan sebagai zona pemanfaatan sub-zona wisata pancing.ABSTRACTPasi is a specific fishing ground for Red Snapper in Lease Islands.  Recently, the exploitation of the red snapper population is tend to increase due to high demand of local, regional and international market as well as object for fishing tourism. This condition will threat the sustainability of the resources as if it is unmanaged in good way.  Zone determination is one of the alternatives of good fisheries resources management. If it is done in a right way, it will add value to community without disturbing the sustainability. The objectives of the present study were to determine fisheries pasi zone to the sustainability importance of red snapper resources in Lease Islands.  Data used included study of potential of red snapper resources, oceanographically condition, fishing ground (pasi), and fisheries value system namely basic value of ecological component, social and technology as well as PRA method (Participatory Rural Appraisal).  Based on the criteria which were formulated of all aspects, specific zonation was made for pasi region in Lease Islands.  The analysis showed that there were 4  out of 25 pasi determined as shelter zone, 21 pasi was for sustainable fisheries zone sub-zone of catch whereas 13 pasi was determined as utilization zone sub-zone fishing tourism.
HUTAN DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT HATAM DI LINGKUNGAN CAGAR ALAM PEGUNUNGAN ARFAK (Forest In Hatam Community Live On Arfak Mountains Natural Reserve Environment) Susan Trida Salosa; San Afri Awang; Priyono Suryanto; Ris Hadi Purwanto
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 21, No 3 (2014): November
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18563

Abstract

ABSTRAKPegunungan Arfak adalah suatu wilayah dengan keunikan tersendiri di wilayah Propinsi Papua Barat. Wilayah ini didominasi oleh gunung-gunung yang tinggi dan ekosistemnya adalah ekosistem daerah pegunungan dan alpin, serta mengingat keunikan flora, fauna dan lingkungannya, maka wilayah ini ditetapkan sebagai Cagar AlamPegunungan Arfak. Wilayah Pegunungan Arfak ditempati oleh suku besar Arfak yang salah satu sub sukunya adalah sub suku Hatam. Hutan merupakan bagian dari kehidupan masyarakat Hatam. Terbentuknya kabupaten-kabupaten pemekaran secara tidak langsung akan berakibat terhadap kelestarian jenis yang ada di cagar alam. Analisis SWOT yang digunakan dalam studi ini dimaksudkan untuk merumuskan strategi-strategi yang memungkinkan untuk mengakomodasi kepentingan masyarakat dan menjaga kelestarian cagar alam. Penelitian dilaksanakan di kampung Anggra dan Apui di Distrik Minyambouw pada bulan Juni 2013. Hasil studi menunjukkan bahwa hutan sangat berperan dalam kehidupan masyarakat terutama dalam mengaplikasi nilai budaya dalam kehidupan masyarakat. Strategi yang tepat untuk menjaga kelestarian hutan dan mengakomodasi kepentingan masyarakat diharapkan agar didasarkan pada kearifan masyarakat dalam memanfaatkan hutan.ABSTRACTArfak Mountains is a region with its own uniqueness in the Province of West Papua. This region is dominated by high mountains with particularities of flora and fauna in ecosystems of mountain and alpine. Therefore, it is designated as a Natural Reservation of Arfak Mountains. Arfak Mountains region is occupied by a large tribe of Arfak which is Hatam is one of its sub-tribe. Forests are part of Hatam people's lives. Establishment of districts expansion will indirectly result in the preservation of species in natural reservation. SWOT analysis used in this study is intended to look at the potential strategies in accomodating people interest and preserving the natural reservation. The study was conducted in villages of Anggra and Apui in the sub district of Minyambouw in June 2013. The study showed that forests play an important role in people's lives, especially in applying cultural values in public life. Appropriate strategies to preserve forests and to accommodate the interests of society are expected to be based on the wisdom of the community in forest use.
KONSEP PENATAAN LANSKAP UNTUK WISATA ALAM DI KAWASAN TAMAN WISATA ALAM SORONG (Landscape Arrangement Concept for Natural Tourism at Sorong Natural Tourism Park) Matheus Beljai; Harini E.K.S Muntasib; Bambang Sulistyantara
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 21, No 3 (2014): November
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18564

Abstract

ABSTRAKTaman Wisata Alam Sorong (TWAS) merupakan suatu kawasan hutan yang memiliki potensi sumberdaya lanskap dan potensi wisata yang baik, seperti: keragaman topografi, hidrologi, flora dan fauna, pemandangan alam serta aksesibilitas yang mudah. Saat ini TWAS belum dimanfaatkan secara optimal, sehingga perlu pemanfaatan sumberdaya dan ruang yang ada. Pengembangan zonasi pemanfaatan wisata dibuat berdasarkan hasil analisis kesesuaian potensi biofisik lahan dan potensi obyek dan atraksi wisata alam yang ada di TWAS. Penataan lanskapnya mengacu pada konsep dasar taman wisata alam sesuai UU No. 5 Tahun 1990 sebagai suatu kawasan pelestarian alam yang dimanfaatkan untuk tujuan pariwisata alam (wisata alam) dan disesuaikan dengan kondisi biofisik kawasan dan keragaman obyek dan atraksi wisata alam. Zona yang dapat dikembangkan di TWAS ialah zona intensif, zona semi intensif dan zona ekstensif. Ruang yang dapat dikembangkan ialah ruang penerimaan dan pelayanan, ruang wisata inti, ruang wisata penunjang dan ruang konservasi.ABSTRACTSorong Natural Tourism Park (SNTP) is a potentiall resource forest area which consists of potenstial landscape and it attractive objects such as topographical diversity, hydrology, highly abundant of flora fauna as well as natural view sublimity. Currently, seems that SNTP has not optimally managed yet so as it needs further management and space in the SNTP. Expansion activities in SNTP directed towards nature tourism action and adapted to both condition and function of the area. Landscape arrangement plan is refer to the basic concept of natural tourism park as a region for developed tourism in the form of regional spatial and divided by specific biophysical potency and tourism. Circulation path system is developed as a liaison between zone and attraction. Zone planned in SNTP are intensive, semi intensive and extensive while space planned are receptions and services, core tourism area, supporting area and conservation.
DAMPAK PERKEMBANGAN KAWASAN PENDIDIKAN DI TEMBALANG SEMARANG JAWA TENGAH (The Impact Development of Education Area in Tembalang Semarang Jawa Tengah) Budi Prasetyo Samadikun; Sudibyakto Sudibyakto; Bakti Setiawan; Rijanta Rijanta
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 21, No 3 (2014): November
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18565

Abstract

ABSTRAKKawasan Tembalang merupakan salah satu wilayah pemekaran Kota Semarang Propinsi Jawa Tengah yang peruntukannya sebagai daerah pusat pengembangan pendidikan serta  pertumbuhan perumahan dan permukiman.  Pada tahap awal,  perkembangan kampus (kawasan pendidikan) di wilayah ini masih berdampak positif, khususnya pada pertumbuhan/perbaikan infrastruktur. Seiring dengan berjalannya waktu, ternyata mulai timbul dampak negatif pada lingkungan di sekitar kawasan kampus. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tahapan dan bentuk perubahan yang terjadi di Kawasan Tembalang, serta mengkaji kondisi eksisting permukiman dan infrastruktur di wilayah ini. Metode penelitian ini menggunakan metode penelitian survei dengan menggabungkan metode kuantitatif dan metode kualitatif. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposive, teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner, wawancara mendalam, dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat beberapa tahapan dan bentuk perubahan yang terjadi selama empat tahap mencakup aspek kependudukan, matapencaharian, kondisi sosial-ekonomi-budaya, suplai kebutuhan, tata guna lahan, kondisi infrastruktur, dan lingkungan. Nilai skoring terhadap infrastruktur eksisting bernilai baik untuk kondisi transportasi dan drainase, kondisi bangunan dinilai buruk, dan kondisi persampahan dinilai sedang. ABSTRACTTembalang region is one of expansion area in Semarang City that used for regional center of educational development and growth of housing and settlements. In the early stages, the development of the campus in the region still poses a positive impact, especially on the growth/improvement of infrastructure. Further developments, it began to be a negative impact on the environment around the campus area. The objectives of this research are to examine the changing phase and shape that occur in Tembalang region, and to assess the existing condition of settlements and infrastructure  in the region. This research uses survey methods by combining the method of quantitative and qualitative. Sampling was conducted with a purposive technique, the data of the research were collected from questionnaires, in-depth interviews, and observation. The results showed that there are several changing stages and forms that occurred during the four decades of covering aspects of demography, livelihood, socio - economic - cultural, supply needs, land use, infrastructure, and environment. Scoring value to existing infrastructure is well worth for transportation and drainage conditions; condition of the building was considered poor, and the condition of the waste is considered moderate .
PERANAN PETANI TERHADAP STRATEGI PEMBANGUNAN HUTAN RAKYAT DI BAGIAN HULU SUB DAS LOGAWA DI KABUPATEN BANYUMAS, JAWA TENGAH (Roles of Farmers on Development Strategies of Community Forests at Upstream Areas of Logawa Sub River Stream Regions in Banyumas) Dyah Ethika; Ris Hadi Purwanto; Senawi Senawi; Masyhuri Masyhuri
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 21, No 3 (2014): November
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18566

Abstract

ABSTRAKPendekatan strategi pembangunan hutan rakyat sebagai bagian pemanfaatan lahan sangat relevan seiring dengan semakin lajunya degradasi dan deforestasi Sumber Daya Alam (SDA) di Sub DAS Logawa di Kabupaten Banyumas Jawa Tengah.Tujuan penelitian untuk menggali potensi dan problematika hutan rakyat dari aspek lingkungan, aspek ekonomi, dan aspek sosial serta menemukan rumusan strategi pembangunan hutan rakyat untuk keberlanjutan pengelolaan di bagian hulu Sub DAS Logawa. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survai dan analisis deskriptif, yaitu suatu metode penelitian yang memusatkan perhatian pada pemecahan masalah yang terjadi pada masa sekarang, sedangkan masalah yang dipecahkan adalah masalah yang faktual. Pendekatan partisipasi petani dilakukan melalui kegiatan PRA dengan metode FGD dan dilanjutkan analisis hirarki menggunakan analisis hirarki proses (AHP). Hasil penyusunan hirarki dengan pembobotan tertinggi atau penentuan skala kepentingan terhadap kriteria penilai dengan uji konsisten menunjukan bahwa kriteria aspek sosial; sub kriteria pada meningkatkan partisipasi; alternatif pada faktor harga merupakan prioritas yang tertinggi yang paling penting untuk diperhatikan. Hasil rumusan merupakan strategi atau cara yang di implementasikan dalam agenda besar atau merupakan arahan program yang akan memberikan manfaat yang optimal bagi masyarakat, baik secara lingkungan, ekonomi dan sosial. Arahan rumusan strategi pembangunan hutan rakyat di bagian hulu Sub DAS Logawadi Kabupaten Banyumas Jawa Tengah, adalah dengan  penguatan kelompok tani  hutan rakyat, melalui model pendampingan, penyuluhan,  pelatihan dan kemitraan untuk meningkatkan kemampuan petani sampai bisa mandiri, sehingga petani memiliki kemampuan menghilangkan hambatan yang terjadi secara seri bertahap dan lengkap mulai dari yang paling penting, terutama bagaimana untuk mendapatkan posisi tawar baik dari hasil kayu maupun non kayu yang berkualitas, kemudahan memperoleh modal, akses pasar dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan.ABSTRACTStrategy approach in the development of community forests as portion for land utilization is mostly relevant in connection with quicker degradation and deforestation of natural resources at the Logawa Sub River Drainage Area Stream Regionsin Banyumas Regency in Central Java.  Aims of the research were to exploite potency and problem community forestsfrom the environmental, social and economic aspects, and to formulate strategies to develop community forests to sustain management at the upstream areas of the Logawa Sub River Stream Regions. It used survey method and a descriptive analysis, i.e. a research method focusing on attention at problem solving occurring in current period, whereas the problem solved was the factual problem. Through RPA activities and by using FGD method and continued by using AHP. Testresultsof the preparation of the hierarchy with the highest weighting orscalingconsistencycriteria ofinterestto theassessorsaidconsistentlyshowsthatsocialcriteria; sub-criteriatoincreaseparticipation; alternativeto thepricefactoristhehighestpriorityis most important tonote. Results of the formulation become a grand strategy that is implemented in a great agenda or become a directed program, so it will give optimal benefits for the society by environmental, economical, and socialapproaches.  The strategic formulation directed for development of small holder forests at the Logawa Sub River Stream Regions is by strengthening farmer groups of the small holder forests, through models of counseling, extension, training, and collaboration to enhance farmers’ capabilities until being self service, so they have capability to eliminate obstacles happened serially step by step and to be completed starting from the most important thing, particularly how to achieve bargaining position either obtained from qualified wood or non-wood product, easiness to get capital and market access by staying to keep environmental everlasting.
PERAN SIKAP DALAM MEMEDIASI PENGARUH PENGETAHUAN TERHADAP PERILAKU MINIMISASI SAMPAH PADA MASYARAKAT TERBAN, YOGYAKARTA (The Role of Attitude to Mediate The Effect of Knowledge on People’s Waste Minimization Behaviour in Terban, Yogyakarta) Hanif Akhtar; Helly Prajitno Soetjipto
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 21, No 3 (2014): November
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18567

Abstract

ABSTRAKKondisi lingkungan hidup di Indonesia saat ini dalam kondisi yang memprihatinkan. Sebagian besar masalah lingkungan ini diakibatkan oleh perilaku manusia. Salah satu cara untuk memecahkan masalah ini adalah dengan meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang lingkungan yang kemudian akan diteruskan menjadi perilaku peduli lingkungan. Akan tetapi, hasil survey menunjukkan bahwa pengetahuan yang sudah baik tidak sejalan dengan perilaku peduli lingkungan. Sikap memegang peran penting dalam meningkatkan perilaku peduli lingkungan. Penelitian ini fokus pada salah satu perilaku peduli lingkungan yakni perilaku minimisasi sampah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pola hubungan antara pengetahuan, sikap, dan perilaku minimisasi. Penelitian dilakukan di Kelurahan Terban, RW 02 dan RW 11 selama bulan Januari sampai Februari 2014 dengan jumlah subjek sebanyak 105. Pengumpulan data menggunakan kuesioner, dengan menggunakan tiga skala, yakni skala perilaku minimisasi sampah, skala sikap terhadap minimisasi sampah, dan skala pengetahuan tentang minimisasi sampah. Analisis data menggunakan analisis regresi model analisis jalur, sedangkan uji pengaruh mediasi menggunakan Sobel Test. Analisis efek tidak langsung menunjukkan nilai efek tidak langsung sebesar 0,742 dengan z=3,42 dan p<0,01. Hal ini menunjukkan adanya efek tidak langsung pengetahuan terhadap perilaku minimisasi sampah melalui sikap terhadap minimisasi sampah. Dengan demikian dapat disimpulkan sikap terhadap minimisasi sampah memediasi pengaruh pengetahuan terhadap perilaku minimisasi sampah.ABSTRACTEnvironmental quality in Indonesia today is in poor condition. Many of these problems root in human behaviour. One way to solve this problem is by increasing people’s environmental knowledge which is translated into pro-environmental behaviour. However, empirical evidence showed that high level of environmental knowledge is not always followed by high level of environmental behaviour. Attitude toward behaviour plays a significant role in behavioural change. This research will focus on one kind of pro-environmental behaviour namely waste minimisastion behaviour. The purpose of this research is to find out the relationship between waste minimization knowledge, attitude, and behaviour. This research was conducted in Kelurahan Terban, RW 02 and RW 11, Yogyakarta in January until February 2014. Total of the subjects are 105. Data were collected using three scales that is: waste minimization behaviour scale, waste minimization attitude scale, and waste minimization knowledge scale. Data were analysed using regression analysis with path analysis model. Sobel Test was used to estimate the mediation effect. Indirect effect analysis showed the indirect effect coeficient was 0,742 with z=3,42 and p <0,01. It is showed that there was an indirect effect of waste minimization knowledge to waste minimization behaviour through waste minimization attitude. Thus, we can conclude that waste minimization attitude mediates the relationship between waste minimization knowledge and waste minimization behaviour.
LINGKUNGAN TROPIS BERKEPADATAN TINGGI: LOKALITAS, TRADISI DAN MODERNITAS (High Density Environment in the Tropict: Locality, Tradition and Modernity) Mas Santosa
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 8, No 1 (2001): April
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18568

Abstract

ABSTRAKTulisan ini mengenai hasil penelitian tentang perkembangan bentuk ruang pada tatanan lingkungan dan ruang pada tatanan hunian sebagai salah satu bentuk hubungan antara manusia dan lingkungannya, khususnya di daerah tropis yang berkepadatan tinggi. Lingkungan termal ditandai sebagai salah satu bentuk lingkungan yang mendominasi pembentukan ruang, oleh sebab itu indikator utama dalam penelitian ini ialah prinsip penahanan dan penghalauan panas oleh ruang dan elemen pembentuknya. Tiga bentuk hunian ditetapkan sebagai studi kasus, yakni hunian tradisional, kolonial dan hunian flat di lingkungan kampung, serta hunian modern di lingkungan modern. Hasil menunjukkan bahwa dalam perkembangan pembentukan ruang tidak terjadi keberlanjutan prinsip penahanan dan penghalauan ruang dari hunian tradisional serta kolonial yang terbukti lebih baik ke hunian modern. Kondisi ini terjadi karena terdapat perkembangan sosiokultural pada pembentukan ruang. ABSTRACTThis paper reports the development of spatial formation in a high density area of urban settlement in tropical area. Thermal envcironment in this instance is seen as the major effect of the spatial formaton and therefore, the main indicator of this study research is the nature of the heat resistance of the building, which is formed by the space itself and the building elements. The kampong settlement resulted in a high response to tropical encironment. In the meantime, its development in the modern settlement indicated that the continuity of this high response was not found.
DAMPAK PEMBUANGAN LIMBAH TERHADAP PERUBAHAN KUALITAS OSEANOGRAFI BIOFISIK-KIMIA DAN PRODUKSI IKAN TERI (Stolephorus spp.) DI PERAIRAN LAUT TELUK AMBON (The Impact of Waste Disposal on the Biophysical-chemical Characteristics Changes and Teri fish) Latif Sahubawa
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 8, No 1 (2001): April
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18569

Abstract

ABSTRAKTujuan penelitian adalah untuk: (l) mengidentifikasi karakteristik limbah hasil aktivitas manusia di pesisir teluk yang berpengaruh potensial terhadap penurunan sifat oseanografi biofisik-kimia perairan Laut Teluk Ambon; (2) mengevaluasi perubahan sifat oseanografi biofisik-kimia perairan dalam kaitannya dengan penyimpangan persyaratan peruntukkan sebagai tempat budi daya perikanan; dan (3) mengevaluasi pengaruh penyimpangan persyaratan peruntukan badan air laut terhadap potensi dan densitas ikan pelagis kecil, serta produksi ikan teri pada musim Timur dan Barat. Sampel penelitian terdiri atas air laut, ikan teri, dan kerang. Teknik pengambilan sampel ialah dengan pengacakan dan tanpa pengacakan. Teknik pengambilan data berupa survei, analisis laboratorium, wawancara, dan kuesioner. Metode analisis data Kurva Normal, Kuadrat Terkecil, Rancangan Acak Lengkap Pola Faktorial dan Berblok dengan Uji-F, Koefisien Nilai Nutrisi (KNN), Produksi Surplus, Hidroakustik, dan Sedimentasi Utermohl. Berdasarkan hasil analisis statistik, umumnya variabel penelitian tidak berpengaruh terhadap perubahan parameter oseanografi biofisik-kimia perairan Teluk Ambon, kecuali bahwa lokasi sampling berpengaruh terhadap nilai kecerahan pada tingkat signifikansi 95%. Kisaran nilai parameter oseanografi biofisik-kimia perairan laut ialah temperatur 23,7 - 28,7"C; TSS 2,005 - 12,436 mg/^; salinitas 24,00 - 35,50 mill; kecerahan 2,5 - 9,0 meter; pH 6,5 - 8,6; oksigen terlarut 2,09 - 6,88 mgA; BODs 10 - 50 mg/l; COD 22,5 - 150,8 mg/l; PO43- 0,22 - 3,29 mg/L, NQ-0.02 -2,94 mg/L; NO3- 21- 15,40 mg/L; Hg 0,001- 0,065 mg/L; KNN 0,27 -0/8 gr/cm; fitoplankton red-tede spesies Alexandrium affrne dengan jumlah 60,0 x 105 sel/liter menimbulkan perubahan warna perairan menj adi merah-kecoklatan. Produksi ikan teri pada musim Timur 191,5 ton (59,5 %) dan musim Barat 130,2 ton (40,5 %). Populasi maksimum telur dan larva ikan teri adalah 4.090 telur/SO mt pada musim Timur dan 396 ekor/50 m2 pada musim Barat di wilayah Ambang Galala-Rumahtiga. Potensi ikan pelagis kecil pada musim Timur 63.968,76 tor/tahun, Peralihan 56.311,55 ton/tahun, dan Barat 60.244,35 ton/tahun atau 3,86Vo dari total potensi ikan pelagis kecil perairan Maluku (1.564,000 ton/tahun). Densitas ikan pelagis kecit pab musim Timur 34,62 kg/m3, Peralihan 29,83 kg/m3, dan Barat 32,33 kg/m3. Tingkat eksploitasi sumber daya ikan pelagis kecil perairan Teluk Ambon yaitu 30 % ("status sedang berkembang"). ABSTRACTThe research objectives are: (1) identify the characteristics of waste from human activities that cause reduced biophysical-chemical oceanography characteristics of Ambon Bay Marine; (2) to evaluate the reduced biophysichemical oceanography characteristics of Ambon Bay marine in relation to assigmen requirements for fish aquaticulture; and (3) to evaluate the effect of assignment requirements fulfillment on the abundance and density of small pelagic fish, and teri fish production during Eastern and Western monsoons. Research samples consisted of sea water, teri fish, and mollusca. Sample collection methods were simple random and nonrandom sampling. Data were analyzed by using Norman Curve, Least Square, Factorial and Block completely Randomized Design with F-test, Nutritional Value Coefficient (NVC), surplus production, Hydroacoustic and Utermohl Sedimentation Methods. The results of the statistical analyses show that in general, the variables did not affect the biophysical-chemical oceanographic parameters of the Ambon Bay marine waters. The values range of the biophysical-chemical oceanography parameters of Ambon Bay marine are: temperature 23.7-28oC, TSS 2.005-12.436 mg/l, salinity 24.00-32.66 ppt, clearance 2.5-9.0 meters, pH 6.5-8.6, solved oxygen 2.09-6.88 mg/l, BOD5 10.0-50.0 mg/l, COD 22.5-150.8 mg/l, PO43- 0.22-329 µg/l, NO2- 0.22-2.94 µg/l, NO3- 0.21-15.40 µg/l, Hg in the water body 0.001-0.065 mg/l and mollusca meat 0.115-0.741 mg/l, and hydrocarbons 0.011-2.540 mg/l, NVC 0.27-0.78 gram/cm, red-tide phytoplankton of the alexandrium affine species that have 60.0x106 cells/liter, changes the water body color into the brownish-red. The production of teri fish during the Eastern monsoon was 191.5 tons (59.5%) and  the Western monsoon 130.2 tons (40.5%). The abundance of small pelagic fish on the Eastern  monsoon was 63,968.76 ton/year, the transition monsoon 56,311.55 tons/year, and the Western monsoon 60,244.35 tons/year, respectively, or 3.85% of small pelagic fish resources total on Moluccas waters (1,564,000 tons/year). The density of small pelagic fish on the Eastern monsoon was 34.62 kg/m3, the transition monsoon 29.83 kg/m3, and the Western monsoon 32.33 kg/m3. The exploitation rate of small pelagic fish resources in the Ambon Bay marine was 30% (still in the developing status).
USAHA MENURUNKAN PENGGUNAAN PESTISIDA KIMIA DENGAN PROGRAM PENGENDALIAN HAMA TERPADU (Efforts to Reduce Chemical Pesticides Use through Integrated Pest Management Program) Joko Mariyono; Irham Irham
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 8, No 1 (2001): April
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18570

Abstract

ABSTRAKPestisida kimia merupakan bahan beracun yang menyebabkan pencemaran lingkungan dan berbahaya bagi kesehatan manusia. Penggunaannya yang berlebihan telah menimbulkan biaya eksternal yang sangat tinggi. Sejak tahun 1989 Pemerintah Indonesia telah berusaha mengurangi penggunaan pestisida kimia melalui program Pengendalian Hama Terpadu (PHT) Untuk mengetahui dampak program PHT, digunakan fungsi permintaan pestisida kimia. Analisis ini menggunakan data sekunder selama sembilan tahun yang diambil dari empat kabupaten wilayah Yogyakarta. Hasil analisis menunjukkan bahwa  dampak program PHT telah berhasil mengurangi penggunaan pestisida kimia pada padi dan kedelai. Penurunan penggunaan pestisida kimia disebabkan oleh kenaikan harga dan penyebaran teknologi PHT. Turunnya penggunaan pestisida kimia ini akan meningkatkan kualitas lingkungan dan kesehatan manusia karena tersedia bahan pangan yang residu pestisida kimianya rendah. ABSTRACTChemical pesticide is a poisonous agent that causes deterioration on environment quality and thereatens to human health. It causes considerable high externat cost. Sice 1989 the Government of Indonesia had removed chemical pesticide subsidy and introduced a new program called Integrated {est <amage,emt (IPM)  in ornder to reduce chemical pestidice use. The objectives of this research was to determine the impact of IPM Program on cemical pesticide use in rice and soybean cultivation. To determine the impact, ademand model of cemical pesticide was employed. Time series secondary data for nine years collected from related institutions in four revencies of Yogyakarta were utilized as the basic analysis. Results of the analysis indicated that chemical pesticide uses in rice and soybean cultivation have declined. The reduction of chemical pesticide use was caused by the increase of chemical pesticide price due to the discontinuation of chemical pesticide subsidy, and dissemination of IPM program. It implied that the program will improve environment quality and human health, and provide  food with low chemical pesticide residue.
RELIEF JENIS-JENIS FAUNA DAN SETTING LINGKUNGANNYA PADA PAHATAN DINDING CANDI BOROBUDUR (Fauna and Environmental Setting Reliefs on Sculptured Wall of the Borobudur Temple) Bambang Agus Suripto; Listia Pranowo
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 8, No 1 (2001): April
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18571

Abstract

ABSTRAKDalam perkembangan kebudayaannya, manusia selalu akrab dengan fauna yang hidup di sekitar lingkungannya. Pada dinding gua yang pernah dihuni oleh manusia, bangunan candi, piramid, sphinx dsb. dijumpai gambaran tentang fauna. Pada dinding Candi Borobudur banyak dijumpai relief berbagai kelompok fauna tetapi belum diketahui apakah fauna itu semuanya berasal dari India atau terdapat pula kelompok yang ada atau pernah ada di Pulau Jawa. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui relief jenis-jenis fauna yang dipahat pada dinding candi Borobudur, dan mengetahui asal-usul jenis yang tergarnbar pada relief itu dari Pulau Jawa atau dari India. Informasi itu diharapkan dapat diungkapkan ada tidaknya gambaran setting lingkungan Pulau Jawa tercermin pada pahatan di dinding Candi itu. Relief fauna pada pahatan dinding langkan, dinding utama bagian atas-bawah di tingkatan Rupadhatu dipotret dan nama kelompok fauna diindentifikasi dengan buku-buku kunci identifikasi bergambar, kemudian penyebaran alami masing-masing kelompok fauna diketahui melalui kajian pustaka. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif untuk mengungkap ada atau tidaknya gambaran setting lingkungan Pulau Jawa yang tercermin pada pahatan di dinding Candi Borsbudur. Pada dinding Candi Borobudur terdapat relief paling sedikit 25 jenis anggota Osteichthyes, Reptilia, Aves dan Mammalia yang dipahat secara natural, dan terdapat paling sedikit 5 jenis hewan yang dipahat secara setilir. Semua jenis fauna itu terdapat di Asia Selatan, dan beberapa di anlaranya secara alami tidak pernah hidup di Pulau Jawa, misalnya singa Pantera leo. Setting lingkungan India Abad VII tervisualisasi dengan baik pada relief pahatan dinding Candi Borobudur, tetapi setting lingkungan Pulau Jawa sampai sebelum masa penjajahan Belanda tidak tergambar dengan baik. ABSTRACTIn the cource of culture development, human was always close to fauna in their surrounding areas. Pictures of fauna are found in cavewalls inhabited by human, temples, pyramids, and sphinxes. Sculptures on the wall of Borobudur Temple, show fauna reliefs, but the originof the fauna are still obscure, whether or not they came from India or part of them were from Java. The objectives of this research were to determine the species of group names of the fauna picture in the reliefs on the sculptured wall of the Borobudur Temple, Their origin, and to assess whether of not Java environment settings were depicted in the wall. Pictures of fauna reliefs in sculpture wall of langkan, the main wall from top to bottom in each Rupadhatu levels were taken, the name of each fauna species or group was identified using identification books, and their origins were determined through a literature study. Data were interpreted descriptively in order to understand whether of not Java environment settings were portrayed in the sculptured wall of the Borobudur Temple. There are at least 25 species of Osteighthyes, Reptilia, aves and Mammalia classess pictured naturally in the reliefs of the wall, and at least 5 species are pictured setilirly. These entire fauna naturally found in south Asia. Some of them have never lived in Java Island, such as lion, Pantera leo. Environment settings of seventh centure India were illustrated very well in the reliefs however, those of Java until the Dutch colonial era were  not pictured at all. 

Filter by Year

2001 2020


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 2 (2020): 2 Vol 27, No 1 (2020): 1 Vol 26, No 2 (2019): 2 Vol 26, No 1 (2019): 1 Vol 25, No 2 (2018): 2 Vol 25, No 1 (2018): 1 Vol 24, No 3 (2017): September Vol 24, No 2 (2017): Mei Vol 24, No 1 (2017): Januari Vol 23, No 3 (2016): September Vol 23, No 2 (2016): Juli Vol 23, No 1 (2016): Maret Vol 22, No 3 (2015): November Vol 22, No 2 (2015): Juli Vol 22, No 1 (2015): Maret Vol 21, No 3 (2014): November Vol 21, No 2 (2014): Juli Vol 21, No 1 (2014): Maret Vol 20, No 3 (2013): November Vol 20, No 2 (2013): Juli Vol 20, No 1 (2013): Maret Vol 19, No 3 (2012): November Vol 19, No 2 (2012): Juli Vol 19, No 1 (2012): Maret Vol 18, No 3 (2011): November Vol 18, No 2 (2011): Juli Vol 18, No 1 (2011): Maret Vol 17, No 3 (2010): November Vol 17, No 2 (2010): Juli Vol 17, No 1 (2010): Maret Vol 16, No 3 (2009): November Vol 16, No 2 (2009): Juli Vol 16, No 1 (2009): Maret Vol 15, No 3 (2008): November Vol 15, No 2 (2008): Juli Vol 15, No 1 (2008): Maret Vol 14, No 3 (2007): November Vol 14, No 2 (2007): Juli Vol 14, No 1 (2007): Maret Vol 13, No 3 (2006): November Vol 13, No 2 (2006): Juli Vol 13, No 1 (2006): Maret Vol 12, No 3 (2005): November Vol 12, No 2 (2005): Juli Vol 12, No 1 (2005): Maret Vol 11, No 3 (2004): November Vol 11, No 2 (2004): Juli Vol 11, No 1 (2004): Maret Vol 10, No 3 (2003): November Vol 10, No 2 (2003): Juli Vol 10, No 1 (2003): Maret Vol 9, No 3 (2002): November Vol 9, No 2 (2002): Juli Vol 9, No 1 (2002): Maret Vol 8, No 3 (2001): Desember Vol 8, No 2 (2001): Agustus Vol 8, No 1 (2001): April More Issue