cover
Contact Name
Iqmal Tahir
Contact Email
iqmal@ugm.ac.id
Phone
+628999411449
Journal Mail Official
jpe-ces@ugm.ac.id
Editorial Address
Editor Jurnal Manusia dan Lingkungan Pusat Studi Lingkungan Hidup - Universitas Gadjah Mada (PSLH - UGM) Komplek UGM, Jalan Kuningan, Jalan Kolombo, Catur Tunggal, Yogyakarta
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Manusia dan Lingkungan
ISSN : 08545510     EISSN : 24605727     DOI : https://doi.org/10.22146/jml.30101
Jurnal Manusia dan Lingkungan is published by the Center for Environment Studies, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia. The journal is focused to the relationship between people and its environment that are oriented for environmental problems solving. Jurnal Manusia dan Lingkungan receives a manuscript with interdisciplinary and multidisciplinary approach Abiotic : physical, chemical, technical, geo-environmental science and modelling science Biotic : environmental biology, ecology, agro environment Culture : environmental-socio,-economics,-culture, and environmental health.
Articles 444 Documents
POLA PENCARIAN PENGOBATAN DAN PEMELIHARAAN KESEHATAN ANAK JALANAN DI KOTA YOGYAKARTA (Pattern of Medication Seeking and Health Care of Steed Children in Kota Yogyakarta, Indonesia) Purwadi Arifin; Suharyanto Supardi; Retna Siwi Padmawati
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 10, No 1 (2003): Maret
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18602

Abstract

ABSTRAKStudi ini bertujuan untuk mendiskripsikan pola pencarian pengobatan dan pemeliharaan kesehatan anak jalanan di Yogyakarta. Studi ini mencakup pula konsep kesehatan clan penyakit dari anak-anak jalanan dan perilaku mereka yang menyangkut resiko kesehatan. Studi ini menggunakan design kualitatif. Data dikumpulkan melalui FGD (Focus Group Discussion), wawancara, dan pengamatan langsung di lapangan, Studi ini dilakukan di daerah Malioboro Yogyakarta pada tahun 2001. Data divalidasi dengan menggunakan metode Trianggulasi, sedangkan reabilitas datanya dilakukan dengan metode data audit. Hasil studi menunjukkan bahwa konsep kesehatan dan penyakit dari anak jalanan hampir sama dengan orang-orang pada umunmya, menurut tingkat pendidikan yang menekankan pada karakter sehat dan sakit. Anak jalanan menghadapi resiko kesehatan, sebagai konsekuensi dari perilaku mereka ditambah dengan lingkungan yang mendukung penyakit tertentu atau gangguan kesehatan. Rokok, alkohol, penyalahgunaan obat dan narkotika, dan sex bebas adalah bagian dari kehidupan mereka. Yang paling buruk adalah perilaku mereka yang disebabkan oleh kecanduan narkoba. Pola pencarian pengobatan anak jalanan bervariasi, tcrgantung pada tempat dimana mereka berada, baik mereka yang bebas maupun yang ada dalam lingkungan organisasi pemerintah. Mereka yang bertempat tinggal dalam suatu rumah yang disediakan oleh organisasi non pemerintah berhubungan dengan sistim pemeliharaan kesehatan. sedangkan mereka yang tidak berkaitan dengan organisasi pemerintah biasanya mereka mencari pengobatan melalui pengobatan yang irasional. ABSTRACTThe study aimed at describing medication seeking and health care patterns of street children. Included in this study were health-sickness concept for street children and their health risked behavior. The study used qualitative design. Data were collected applying focus group discussion, depth interview, and observation. The study was conducted on Malioboro area at Yogyakarta in 2001. The data were validated by triangulation resources and method, while data reliability were determined by auditing the data. The result of the study showed that concept of health-illness of street children nearly the same as people in general, in accordance to education level that emphasized more to the character of health and ill. Street children faced risks in their life regarded to their health, as a consequence, it affected their behavior, and it was added by an environment that support a certain disease occurred or health disturbances. Smoking, alcoholic, narcotic, drug abused, and free sex were parts of their lives. The worst one was their behavior in hurting themselves because of the disappointment and narcotic addicted. The pattern of street children medication seeking were varied, according to the place where they belong to, either under open house or on government organization, or free man. They who lived/joint in open house or non government organization were connected to health care system. However they who did not live/joint to open house or non government organization, they had to find their own medication that were commonly irrational or out of customs.
EVALUASI PROGRAM PENATAAN DAN REHABILITASI PERMUKIMAN KUMUH STUDI KASUS KAWASAN BANTARAN SUNGAI CODE BAGIAN UTARA, YOGYAKARTA (The Evaluation of Slum Area Rehabilitation and Improvement Programs Case Study in Nothern Banks Area of Rivers Code Yogyakarta) Tri Rahayu; Sudaryono Sudaryono; M. Baiquni
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 10, No 2 (2003): Juli
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18603

Abstract

ABSTRAKMeskipun Pemerintah telah rnelaksanakan penanganan daerah kumuh untuk waktu yang cukup lama, infrastruktur yang dibangun telah diabaikan den ditinggalkan. Hal ini terkait dengan kebijakan pemerintah pada waktu yang lalu dinrana banyak program yang dilaksanakan tanpa melibatkan masyarakat. Belajar dari kegagalan ini, pemerintah mengubah pola pengembangan menuju aktivitas pemberdayaan masyarakat yang disebut Konsep TRIDAYA. Konsep ini memiliki 3 komponen pemberdayaan: (1) pemberdayaan komunitas sosial, (2) pemanfaatan lingkungan fisik, dan (3) peningkatan usaha kecil. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pencapaian pengembangan infrastruktur di daerah Sungai Code bagian utara dalam program penataan dan rehabilitasi permukiman kumuh. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-eksploratif, dengan melakukan interview tidak terstruktur dengan masyarakat yang terlibat dalam program. Hasilnya di analisis dengan metode deskriptif kualitatif. Program tersebut merniliki 3 komponen: (1) penyediaan air, (2) jalan setapak, (3) limbah padat. Dari setiap komponen program dapat dikembangkan 3 tema yaitu masalah sebelum adanya program, benefit dan dampak dari program, serta tanggapan terhadap program. Tema-tema ini dikelompokkan ke dalam beberapa konsep. Terdapat 2 katagori: 2 program berisikan penyediaan air, jalan setapak dapat dicapai, tetapi program limbah padat tidak dapat dikembangkan lagi. ABSTRACTEven though the government has been taking care of slum area improvement for a long time, the infrastructures that have been built have been neglected and abandoned. It is related with the government policy in the past that conceived many programs without involving the community learning from this failure, the government turned the development pattern into community empowering activities called Tridaya concept. It has three empowering components: (1) empowering social community, (2) taking advantage of physical environment, and (3) improving small business. The research was aimed to evaluate the achievement of the infrastructure development in the northern banks area of Code River under the slum area rehabilitation and improvement programs. The research used descriptive explorative methods, by means of exploration and unstructured interviewing with the community involved in the programs. Then the results analyzed with descriptive qualitative methods. The program contains three components: (1) water supply, (2) pathway, (3) solid waste. The results generate some themes from each component program, e.g. the problems prior to the programs, benefits and impacts of the programs, and response towards the program. These themes are clustered into concepts. The conclusions show two categories: the two programs that consist of waste supply, pathway have been achieved, but the slid waste program has not been improved anymore.
EVALUASI PERUBAHAN KUALITAS LINGKUNGAN PERMUKIMAN KOTA BERDASARKAN FOTO UDARA MULTITEMPORAL KASUS KECAMATAN UMBULHARJO DENGAN BANTUAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFI (Evaluation on The Changes of The Environmental Quality of Urban Settlement) Bambang Syaeful Hadi; Soewadi Mulyowiyono
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 10, No 2 (2003): Juli
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18604

Abstract

ABSTRAKDaerah urban berubah dengan cepat. Hal tersebut juga rnenyangkut kualitas lingkungan permukiman urban, perubahan yang terjadi disebabkan oleh peningkatan jumlah penduduk. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) akurasi variable kualitas lingkungan daerah urban sepeni yang diinferensi dari foto udara skala besar tahun l986 dan 1995, (2) perubahan kualitas lingkungan permukiman urban, serta jenis perubahannya, dan (3) perbedaan secara spasial dan temporal antara kualitas lingkungan pemukiman. Akuisisi data dilaksanakan dengan menginterpretasi foto udara pankromatik hitam putih dengan menggunakan pendekatan fotomorpik. Akurasi variabel hasil interpretasi di uji dengan matriks konfusi. Perubahan kualitas lingkungan permukirnan urban dari tahun 1986 dan 1996 diperoleh melalui metode overlay dengan menggunakan sistim informasi geografis. Untuk mengetahui adanya perbedaan yang signifikan secara spasial digunakan uji t. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) akurasi menyeluruh dari variabel yang diinterpretasi dari foto udara multitemporal dapat diterima, tetapi akurasi variable yang diekstrak dari foto udara 1986 berada sedikit dibawah akurasi yang dapat diterima, (2) Perubahan kualitas lingkungan pemukiman urban rnencakup daerah seluas 238,95 ha, 159,30 ha dari luasan tersebut menuju ke perbaikan sedangkan sisanya 79,65 ha terjadi kerusakan, dan (3) perubahan kualitas lingkungan permukiman urban berbeda secara signifikan untuk tiap kalurahan, dengan koefisien t -2,06 dan koefisien F 11,840 pada tingkat signifikansi kurang dari 0,05. ABSTRACTUrban areas are changing quickly. It is also the case with environmental quality of urban settlement, the change of which occurs due to the increasing urban population. This research is aimed to find out: (1) the accuracy of the environmental quality variables of urban settlement as inferred from large scale airphotos of 1986 and 1995, (2) the changes of the environmental quality or urban settlement, the type of change as well as its area, and (3) the spatial and temporal differences of environmental qualities among kalurahans. Data acquisition was carried by interpreting black and white panchromatic airphotos of 1986 and 1996 using photomorphic approach. Interpretation was conducted on 330 block. The accuracy of interpreted variables was terted using a confusion matrix. The change of the environmental quality or urban settlement from 1986 to 1996 was acquired though an overlay method using geographic information system. In order to find out whether the change differs significantly in spatial terms, at test and one way ANOVA were adopted. The result of this research indicated that: (1) the overall accuracy of variables interpreted from the multitemporal airphotos is acceptable, but the accuracy of variable extracted from airphotos of 1986 falls slightly below the acceptable accuracy; (2) the change of environmental quality of urabn settlement covers an area of 238.95 hectare, 159.30 hectare of which underwent a betterment, whereas the rest of 79.65 deteriorated; and (3) the change of environmental quality of urban settlement differed significantly for each kalurahan, with t coefficient of -2.060 and F coefficient of 11.840 at a significant level of less than 0.05.
PERUBAHAN FISIK KERUANGAN DAN SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT DI KAWASAN SEKITAR TEMPAT PEMBUANGAN AKHIR SAMPAH BANTARGEBANG KOTA BEKASI (Physical Environmental and Social Economic Changing in Bantargebang Solid Waste Dumping Site Area Surrounding Bekasi City) Nila Kesuma; Haryadi Haryadi; Agam Marsoyo
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 10, No 2 (2003): Juli
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18605

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menjelaskan perubahan fisik keruangan dan sosial ekonomi masyarakat di kawasan sekitar TPA Sampah Bantargebang. Metode penelitian yang digunakan adalah gabungan metode kualitatif dengan metode kuantitatif dengan pendekatan rasionalitas, yaitu data dan informasi dilapangan dikomparasikan dengan teori dan konsep yang berhubungan dengan masalah yang diteliti. Hasil penelitian dan pembahasan menunjukkan bahwa: (1) terdapat perubahan fisik keruangan di walayah penelitian yang ditandai dengan bertambahnya area terbangun, yaitu tumbuhnya tempat-tempat permukiman pemulung warung-warung, rumah-rumah penduduk, bertambah panjang dan lebarnya jalan, serta menurunnya kualitas air tanah, udara dan kesuburan lahan; (2) terdapat perubahan pada kondis; sosial masyarakat yang ditandai dengan bertambahnya jumlah penduduk, kegiatan ekonomi atau lapangan kerja, rendahnya angka partisipasi kasar pada setiap tingkat pendidikan, menurunnya derajat kesehatan masyarakat, serta terganggunya kenyamanan lingkungan yang akhirnya mengurangi kesejahteraan masyarakat; (3) terdapat perubahan pada ekonomi penduduk ke arah yang lebih baik, yang ditandai dengan meningkatnya jumlah pendapatan dan terbukanya peluang mengembangkan usaha sampingan. Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa bagi lingkungan sekitar dan masyarakat di wilayah penelitian sebara umum keberadaan TPA Sampah Bantargebang lebih memberikan pengaruh negatif daripada positif. ABSTRACTThis research aims to identify and to explain physical spatial and social economic community changing in the Bantargebang Solid Waste Dumping site area  and it surroundings. The research used deductive rational approach, with a combination of quantitative and qualitative methods, i.e. comparison between data and information collected in the field, and the concept and theory related to the subject. The research identified physical, social, and economic changes. The Physical change was marked by the increasing number of built area, i.e., the growing areas for garbage collectors housings, stalls, local inhabitants housings, increasing length and width of road, and decreasing quality of ground water, air, and solid fertility. The changes of social condition were marked by the increasing population, economic activities or job opportunities, low rate of participation in all levels of education, decreasing degree of health, and disturbed environmental comfort, all of which reduce people’s welfare. The income increase of income, hob opportunities, and business activities which marked the improvement of economic condition. the research concluded that Bantargebang dumping site brought more negative than positive impacts to the surrounding environment and society in the research location.
PERANSERTA MASYARAKAT DALAM PENGELOLAAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN DI KELURAHAN 5 ULU PALEMBANG (The Community Participation in Settlement Environment Management at Kelurahan 5 Ulu Palembang, Indonesia) Korlena Korlena; Leksono Probo Subanu; Pangestu Subagyo
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 10, No 2 (2003): Juli
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18606

Abstract

ABSTRAKKebutuhan untuk permukiman yang baik dan memaciai merupakan salah satu masalah perkotaan yang harus diatasi oleh pemerintah. Kampung lrnprovement Progran (KIP) yang berisikan pengembangan infrastruktur pemukiman merupakan jawaban untuk masalah tersebut. Kegunaan KIP adalah untuk memotivasi masyarakat agar dapat menolong dirinya sendiri dalam bentuk partisipasi dalam mengelola lingkungan sekitarnya. Penelitian ini berfokus pada partisipasi masyarakat di Kelurahan 5 Ulu Palembang. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tingkat partisipasi masyarakat dalam KIP di sepanjang sungai, dan mengidentifikasi faktor determinan yang mempengaruhi partisipasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan eksplanasi, dengan menggunakan proporsional random sampling dengan unit analisis rumah tangga di 2 wilayah yaitu daerah KIP dan sepanjang sungai. Data dikurnpulkan rnenggunakan kuesioner, interview pengamatan lapangan dan data sekunder. Metode statistik multiple regression digunakan untuk mengetahui pengaruh faktor sosial-demografi dan sosio-ekonomik terhadap tingkat partisipasi, Uji T-test independent sample dan Mann-Withey-test digunakan untuk membedakan partisipasi di 2 wilayah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) partisipasi di daerah KIP untuk jalan dan drainase cenderung berupa kontribusi tenaga dan uang, sedangkan pengelolaan sampah padat cenderung dalam bentuk uang, sementara di daerah sepanjang sungai hal tersebut cenderung tenaga saja; (2) tingkat partisipasi masyarakat yang tinggal di daerah KIP lebih tinggi dari pada yang ada di sepanjang sungai; (3) faktor sosial-demografi dan sosio-ekonomi menentukan tingkat partisipasi dalam pengelolaan jalan dan drainase, sedangkan faktor kepemilikan rumah dan faktor pendapatan menentukan tingkat partisipasi dalam pengelolaan limbah padat; (4) faktor determinan yang mempengaruhi tingkat partisipasi adalah kepemimpinan formal dan informal, kondisi geografis, infrastruktur KIP, rasa keterasingan, kebutuhan mendesak, keuntungan langsung dalam program KIP. ABSTRACTThe need for good and adequate settlement is one of city problems that must be overcome by the government. Kampung Improvement Program (KIP that consist of settlement infrastructure development was the answer for this problem. The purpose of KIP was to motivate the people in order to help themselves as a participation in managing environment surroundings. The research was focused on community participation at Kelurahan 5 Ulu Palembang. It aimed to assess the level of participation in KIP riverside area, and to identify determinant factors that influenced the participation. The research used an overview method with explanation approach. It utilized proportional random sampling with analysis unit of household in two areas, i.e. KIP and riverside area. Data were collected using questionnaires and interviews, field observations, and secondary data. Statistical methods by means of multiple regressions were apllied to find out the influence of social demography and social economic factor towards participation levels. Then T-test independent sample and mann-Withey-test were used to look for participation distinction between two areas of research. The result show that: (1) the participation in KIP area both of road and drainage tends to be in the form of contribution of both labour and money, while in solid waste management tends to be in the form of money only. While the riverside area, it tends to labour only; (2) the level of community participation who lived in KIP areas is higher than that of the riverside area; (3) social demography and social economic factors determined the level of participation in road and drainage management, housing ownership, stay, and income factors determined the level of participation in solid waste management; (4) the determinant factor that influenced the level of participation are formal and informal leadership, geographical condition, KIP infrastructure, feeling isolated, urgent needs, direct advantages in KIP Programs.
KAJIAN PROGRAM PENGELOLAAN AIR LIMBAH PERKOTAAN STUDI KASUS PENGELOLAAN IPAL MARGASARI BALIKPAPAN (Study on Urban Wastewater Management Program A Case Study at WWTP Margasari Management of Balikpapan City, Indonesia) Freddy Nelwan; Kawik Sugiana; Budi Kamulyan
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 10, No 2 (2003): Juli
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18607

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini ditujukan untuk mengkaji kinerja pengelolaarr limbah cair, dan untuk mengamati persepsi komunitas tentang fasilitas pengolahan limbah cair (WWTP). Analisis terhadap kinerja pengelolaan WWTP Margasari menunjukkan bahwa implenrentasi program rehabilitasi sanitasi berjalan dengan baik. WWTP nampu untuk mencakup 1500 pelanggan, yang sama dengan 1/5 dari pemukiman terapung di Kecamatan Balikpapan Barat. Kenaikan retribusi yang tekait dengan pengurangan subsidi untuk operasi dan pemeliharaan WWTP perlu dilakukan tahap demi tahap dan mempertimbangkan aspirasi masyarakat. Berdasarkan analisis persepsi masyarakat tentang tingkat pelayanan WWTP umumnya mereka peduli terhadap pelayanan pengolahan limbah tersebut. Di pihak lain terdapat hubungan yang signifikan antara kesiapan, daya tanggap, profesionalisme, dan kepuasan pelanggan terhadap pelayanan fasilitas WWTP dan petugasnya. Dapat disimpulkan bahwa projek percontohan ini memiliki kinerja yang baik yang terkait dengan tujuan dan target serta dapat diterima oleh masyarakat. Penelitian ini merekomendasikan agar program tersebut dilanjutkan mencakup perluasan area. Pengelolaan yang intensif untuk meningkatkan kinerja WWTP serta pelayanannya harus dilakukan terus-menerus yang mencakup fasilitas pendukung, kesejahteraan pegawai, dan peningkatan partisipasi masyarakat dan sektor swasta. ABSTRACTThis research was aimed to assess the performance of the wastewater management, and to observe the community perception about WWTP (wastewater treatment plant) facility. The analysis towards WWTP Margasari management performance shows that the implementation of the sanitation rehabilitation program has been operating well. The WWTP is able to cover 1500 costumers, which equal one fifth part of floating settlement area in Kecamatan Balikpapan Barat. Increasing retribution charge in accordance with subsidies reduction for WWTP operation and maintenance, needs to be done step by step and considers the community aspiration. According to the analysis of community perception about WWTP facility level of service, generally they concern about wastewater treatment and satisfy with its service. On the other hand, there are significant relationship among readiness, responsiveness, professionalism, and customer satisfaction towards the WWTP clerks and facilities services. It can be concluded that the pilot project performs well in accordance with its goal and target, and accepted by the community. This research recommends that the program should be continued covering the extent area. Intensive management to increase WWTP performance and its service should be done continuously, such as supporting facilities, employees wealth, and increasing community and private sector participation.
ANALISIS SIFAT AKUSTIK PAGAR PEMBATAS SEBAGAI PEREDAM BISING KENDARAAN BERMOTOR: SALAH SATU ALTERNATIF PENGENDALI BISING DI KOTA DENPASAR (Analysis on The Acoustic Characteristic of Fence to Reduce Noise from Motorized Vehicles: One of The Alternatives) Putri Kusuma; Sudibyakto Sudibyakto; Dewi Galuh
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 10, No 3 (2003): November
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18608

Abstract

ABSTRAKSalah satu sumber kebisingan di daerah urban adalah kendaraan bermotor. Upaya untuk menghadapi kebisingan ini adalah mengendalikannya dengan cara memasang penghalang (barrier) dalam bentuk pagar, seperti misalnya pada arsitektur tradisional Bali. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan studi tentang efektivitas berbagai macam pagar dan tentang efek pagar ini dan jumlah kendaraan bermotor terhadap tingkat kebisingan yang ditimbulkan. Penelitian ini dilaksanakan berdasar pada standar (ISO) R 1996, atau Equivalence of Noise Level of n number of sample. Penelitian ini mengadopsi sampling purposif untuk memilih jenis penghalang, dan berfokus pada objek berikut: (1) jenis pagar, (2) jarak dari sumber kebisingan, dan (3) jumlah jenis kendaraan. Efektivitas penghalang diekspresikan dalam jumlah reduksi kebisingan dari suatu kebisingan, baik menggunakan atau tidak menggunakan penghalang, serta koefisien keheningan (coefficient of muting) dari setiap penghalang. Tes untuk menganalisis data meliputi korelasi untuk mengetahui efektifitas penghalang, dan tes regresi untuk mengetahui hubungan antara jenis kendaraan dan tingkat kebisingan. Penelitian ini menemukan bahwa pagar masif merupakan pengurang kebisingan yang paling efektif diantara jenis-jenis pagar yang ada, dengan koefisien 0,12, tetapi jenis ini memiliki kekurangan elemen estetika dan memberikan kesan individualistik ditambah lagi bahwa struktur tersebut menghalangi pandangan apa yang terjadi diluar. Pagar yang berselang-seling dan ditutupi dengan vegetasi lebih baik ditinjau dari sisi estetika maupun fungsi fisik untuk mengurangi kebisingan, dengan koefisien 0,09. Relasi antara tingkat kebisingan dan jumlah kendaraan dapat diidentifikasi dengan menggunakan persamaan linier dengan memberikan jumlah kendaraan yang equivalen dengan jumlah sepeda motor. ABSTRACTOne of the sources of noise in urban areas is motorized vehicles. An attempt to deal with noise is to control it in its tract by setting up barriers in a form of fence, especially that in Balinese traditional architecture. The research aims to study the effectiveness of different kinds of fence and to study the effects of these fences and the number of vehicles on the noise level produced. The research was conducted based on the (ISO) R 1996 standard, namely the equivalence of noise level of n number of sample. It adopted a purposive sampling select the type of barrier, and focused on the following research objects: (1) type of fence, (2) distance of measurement from a noise source, and (3) type number of vehicles. The effectiveness of a barrier is expressed in the amount of noise reduction from a noise, either with or without barrier, and the coefficient of muting from each barrier. The tests to analyze the data are the correlation test to know the effectiveness of barrier and the regression test to know the kind of relationship between the type of vehicle and the noise level. The research found that a massive fence is the most effective noise reducer among different tyes of fence, with coefficient of 0.12. However, it offers less aesthetic element as it gives a impression of individualsm in addition to its structure that obstructs the eyes to see what is happening ourtside. A fence with gaps covered with vegetation is better both from the esthetic point of view and from physical function that is to reduce noise, with a coefficient of 0.09. The relation between the noise level and the number of vehicle can be identified by using a linear equation approach by putting the equivalence of the number of vehicle with that of motorcycle.
ANALISIS KUALITAS LINGKUNGAN PERAIRAN BERDASARKAN KOMUNITAS MEIOBENTOS DAN KUALITAS SEDIMEN DI PANTAI DAN AREA PERTAMBAKAN, PESISIR SRIWULAN KABUPATEN DEMAK (The Quality Analysis of Aquatic Environment based on Meiobentos Community and Sediment Quality ) Muhandis Sidqi; Shalihuddin Djalal Tandjung; Kamiso Handoyo Nitimulyo
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 10, No 3 (2003): November
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18609

Abstract

ABSTRAK Tujuan studi ini meliputi (1) menentukan kualitas lingkungan daerah pesisir dan tambak ikan, kualitas sedimen, dan komunitas meiobentos, (2) menemukan hubungan antara kualitas sedimen dan meiobentos, dan (3) menentukan tingkat produktivitas peikampungan tambak ikan berdasarkan jarak, tingkat polusi dan destruksi. Parameter kualitas air dianalisis menggunakan metode deskriptif-komparatif, sedangkan parameter sedimen dianalisis menggunakan PCA (Principal Component Analisys) untuk menentukan distribusi spasial pada setiap stasiun pemantauan dan lapisan kedalaman sedimen. Komunitas meiobentos diperiksa dengan menggunakan CA (Factorial Correspondence Analysis) untuk mendeteksi tingkat distribusi spasial yang juga berdasarkan stasiun pemantauan dan lapisan kedalaman sedimen. Data tersebut dianalisis menggunakan korelasi dan regresi untuk memahami pengaruh parameter bebas terhadap produktivitas tambak ikan. Kemudian tes statistik non parametric dari Kruskall Wallis digunakan untuk membedakan produktivitas pada 3 desa berdasarkan jarak terhadap sumber pencemaran dan tingkat destruksi tambak ikan. Penelitian ini menemukan bahwa nilai parameter kualitas air (muddy, TSS NH3, NO2, beyond threshold level), negative redox potential (Eh) sediment value/reduction zone, and IMLP adalah moderat. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi air di daerah penelitian tidak stabil. Penelitian juga menunjukkan nilai indeks diversitas yang rendah, dominasi organisme meiobentos tertentu, dan konformitas antar komunitas bentos. Hasil tes statistik Kruskall Wallis menunjukkan adanya signifikansi antara produktivitas tambak ikan dengan factor jarak dan tingkat destruksi diantara 3 desa dalam daerah penelitian yaitu Bedono, Sriwulan. Purwosari yaitu dengan nilai produktivitas 0.65,0.56, 0.41 ton/hektar/tahun. ABSTRACTThe objective of this study area to determine the environmental quality of coastal area and fish ponds which are on water quality, sediment quality, and Meiobentos community, to find out the relation between sediment quality and Meiobentos, and to determine the productivity level of fish ponds villages which are based on their distance, pollution level and destruction. The parameters of water quality were analyzed with descriptive comparative method, while the parameters of sediment were analyzed with principal component analysis (PCA) to find out its spatial distribution according at each monitoring station and the layer of sediment depth. Meiobentos community is to examined by factorial correspondence analysis (CA) to  detect the level of its spatial distribution, which based on the monitoring station and the layer of sediment depth. Socio-economic parameters was collected by interviewing fish pond owners and tenant at the research area. It is analyzed with correlation regression to understand the influence of dependent parameter on independent parameter (the productivity of fish ponds). Then the nonparametric test statistic of Kruskall Wallis was used to differentiate the productivity at the three villages based on their distance from waste source and the destruction level of fish ponds. The research find out that water quality parameters (Muddy, TSS, NH3, NO2, beyond threshold level), negative redox potential (Eh) sediment value/reduction zone, and IMLP value are moderate. This shows the waters condition at the research area is still not stable. The results also show the low value of diversity index, the dominance of particular meiobentos organisms, and the conformity between meiobentos community. The results of Krskall Wallis statistical test point out that there is a significant differences between fish ponds productivity with the distance factor and the level of destruction in the three villages research areas, i.e Bedono, Sriwulan, Purwosari consercutively with productivity value 0.65, 0.56, 0.41 ton/hectare/year.
AKUMULASI MERKURI PADA IKAN BAUNG (Mytus nemurus) DI SUNGAI KAHAYAN KALIMANTAN TENGAH (The Accumulation of Mercure on Baung Fish (Mytus nemurus) in The Kahayan Rice of Central Kalimantan, Indonesia) Adventus Panda; Kamiso Handoyo Nitimulyo; Tjut Sugandawaty Djohan
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 10, No 3 (2003): November
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18610

Abstract

ABSTRAKSungai Kahayan di Kalimantan Tengah mengalami tekanan lingkungan karena adanya limbah merkuri yang berasal dari aktivitas penambangan emas tradisional. Di tempat tersebut terdapat 10a4 tempat penambangan emas sepanjang sungai dari hulu sampai hilir. Merkuri dalam sedimen sungai secara berturut-turut mengalami metilasi (methylation) oleh reduksi sulfat bakteri. Riset ini merupakan studi akumulasi merkuri (FIg) dalam Mytus nemurus, sedimen dan air, dari hulu ke hilir di sungai Kahayan. Total jarak dari hulu sekitar 296 km. Data dikumpulkan dari 3 lokasi sepanjang sungai. Dalam tiap lokasi tapak sampling berada di dataran baniir (floodplain). Penelitian dilaksanakan selama musim hujan. lkan ditangkap menggunakan rengge (gillnet). Penentuan metil merkuri digunakan metode modified CV-AAS (cold vapor atomic absorption spectrophotometry). Hasil penelitian menunjukkan bahwa diantara sample yang diukur, akumulasi tertinggi masing-masing berada dalam sedimen sungai (0,336 mg.) dikutip dengan daging M. numerus (0,303 mg.g-1 + 0.342). dan air (0.058 mg-1). Merkuri memiliki tendensi meninggi menuju hilir. Hal ini disebabkan oleh tekstur sedimen yang didominasi oleh silt. Kondisi ini berpotensi untuk metilasi. Turbiditas, arus, dan pH menyumbangkan kenaikan tingkat merkuri di hilir. Asupan merkuri mingguan yang dapat ditoleransi menurut WHO adalah 171,42 mg adalah sama dengan 24,4 mg sehari jika seseorang mengkonsumsi 100 g daging M. numerus sehari. dimungkinkan bahwa akan ada 30,3 mg.g-1 yang masuk ke tubuh. Hal ini berarti bahwa merkuri disepanjang sungai Kahayan mengancam penduduk yang mengkonsumsi ikan dari sungai tersebut. ABSTRACTThe Kahayan River of Central Kalimantan had environmental stress due to mercury waste. This waste came from the traditional gold mining activities. There were 1014 gold mining sites along the river from upstream to downstream. Mercury in river sediment was subsequently methylated by sulfated reduction bacteria. This research were study the accumulation of mercury (Hg) on Mytus nemurus, sediment and water, from upstream to downstream in the Kahayan River. Total from up to downstream site was approximately 296 km. Data was collected from 3 location along the river. Within each location, sampling sites were at floodplain. Research was carried out during wet season. Fish were caught using rengge (gillnet). The determination of methylmercury was using modified CV-AAS (cold vapor atomic absorption spectrophotometry) methods. The results showed that among samples being measure, the accumulation was highest in river sediment (0,336 µg.g1), followed by the meat of M. numerous (0,303µg.g1 ± 0,342), and the water (0.058 mg1) respectively. Mercury had tendency higher toward downstream. This was due to sediment texture which was dominated by silt. Such condition was potential for methylation. Turbidity, water current and pH contributed to the increasing level of mercury in the downstream WHO permittable tolerarable weekly intake for mercury is 171,42 µg was equal to 24,4 µg daily if one person consume 100g M. numerous meat daily, it is possible that will be 30,3 up/g-1 enter the body. This means that mercury along the Kahayan River threaten the people who eat fish up from this river.
APLIKASI SIG UNTUK PEMETAAN INDEKS KEPEKAAN LINGKUNGAN: STUDI KASUS DI PESISIR CILACAP DAN SEGARA ANAKAN (GIS Application for Environmental Sensitivity Index Mapping Case Study in Cilacap Coastal Area and Segara Anakan) Utantyo Utantyo; Hartono Hartono; Sutikno Sutikno
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 10, No 3 (2003): November
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18611

Abstract

ABSTRAKSumberdaya pesisir dapat menerima dampak dari kecelakaan tumpahan minyak. Polusi minyak dapat terjadi dalam berbagai situasi lingkungan. Dalam hal ini, inventarisasi pesisir secara detil dikombinasikan dengan indeks sensitivitas memungkinkan ketersediaan informasi pada tingkat yang lebih baik bagi perencana pengelolaan tumpahan minyak. Sistem Informasi Geografis (SIG=Geographic Information System dapat meningkatkan penggunaan data yang dibutuhkan dalam menanggapi adanya tumpahan minyak tersebut serta perencanaan darurat. Studi ini dilakukan untuk mempelajari sensitivitas lingkungan dan mengkombinasikannya untuk membentuk prototipe sistem informasi sensitivitas lingkungan. Dengan menggunakan SIG di daerah pesisir Segara Anakan dan Cilacap. Salah satu strategi yang penting di dalam perencanaan darurat adanya tumpahan minyak adalah memprioritaskan respons tumpahan. Lingkungan pesisir dapat dikuantitatifkan dengan menetapkan skema klasifikasi indeks sensitivitas lingkungan (ISE=Environmemntal Sensitivity Index: ESI). Sensitivitas lingkungan mencerminkan derajad reaksi dari wilayah pesisir untuk bertatran dan pulih ketika terjadi bencana tumpahan minyak. Metode untuk menetapkan ISE adalah dengan mengkombinasikan factor-faktor yang terkait dari suatu sensitivitas lingkungan, antara lain (a) paparan terhadap energi gelombang dan pasut, (b) pelerengan garis pantai, (c) jenis substrata, dan (d) produktivitas biologi. Studi ini menekankan kemampuan SIG untuk memvisualisasikan dan memodernkan faktor-faktor sensitivitas lingkungan secara spasial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi SIG untuk mengelola memanipulasi dan menayangkan data pesisir yang relevan dapat dilaksanakan dan dapat dicatat keunggulannya di dalam upaya pemetaan sensitivitas lingkungan. Dalam penelitian ini wilayah pesisir Cilacap memiliki sensitivitas medium, karena daerah tersebut dibatasi oleh garis pantai ESI 5 (dengan panjang 11,6 km), dan dengan ESI 6 Sungai Donan (12,3 km), sementara wilayah Segara Anakan dianggap sensitif terhadap polusi minyak mengingat 112 km2 (45% ) dari 249 Km2 daerah Segara Anakan. Segara Anakan memiliki ranking sensitivitas tertinggi (ESl 8, 9, 10). ABSTRACTCoastal resources can be impacted during an oil spill incident. Given that oil pollution can occur under a wide variety of circumstances, the use of both detailed coastal inventories in conjunction with established sensitivity indexes and approaches allows for a greater level of information and options available to spill planners. a Geographic Information System (GIS) can greatly enhance and improve upon the use and development of data required for oil spill response and contingency planning. This study is determined to examine environmental sensitivities and to combine them into prototype of environmental sensitivity information systems with the aid of GIS in the lagoon of Segara Anakan and Cilacap coastal region. One of the most important strategies in oil spill contingency planning is prioritizing the spill response. Coastal environments would be prioritized and qualitatively queried by establishing Environmental Sensitivity Index (ESI) classification schema. Environmental sensitivity reflects the degree of reaction of coastal region to withstand and to recover when oil spill hazard was occurred. The method to establish an ESI is by combining related factors of an environmental sensitivity. i.e: (a) the exposure to wave and tidal energy, (b) the shoreline slope, (c) the substrate type, and (d) its biological productivity. This study emphasizes the ability of Geographic Information system (GIS) to visualize and to model environmental sensitivity factors spatially. the result shows that the application of a GIS to manage, manipulate, and display relevant coastal databases was possible to be done and had notable advantages in sensitivity mapping efforts, Cilacap coastal region has medium sensitivity, since the area is bordered by ESI 5 shoreline (with length of 11.6 km) and by ESI 6 Donan river (12.3 km), while Segara Anakan region is considered sensitive to oil pollution given that 112 km2 (45%) of the 249 km2. Segara Anakan study area is comprised of the highest sensitivity rankings (ESI 8, 9, 10).

Filter by Year

2001 2020


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 2 (2020): 2 Vol 27, No 1 (2020): 1 Vol 26, No 2 (2019): 2 Vol 26, No 1 (2019): 1 Vol 25, No 2 (2018): 2 Vol 25, No 1 (2018): 1 Vol 24, No 3 (2017): September Vol 24, No 2 (2017): Mei Vol 24, No 1 (2017): Januari Vol 23, No 3 (2016): September Vol 23, No 2 (2016): Juli Vol 23, No 1 (2016): Maret Vol 22, No 3 (2015): November Vol 22, No 2 (2015): Juli Vol 22, No 1 (2015): Maret Vol 21, No 3 (2014): November Vol 21, No 2 (2014): Juli Vol 21, No 1 (2014): Maret Vol 20, No 3 (2013): November Vol 20, No 2 (2013): Juli Vol 20, No 1 (2013): Maret Vol 19, No 3 (2012): November Vol 19, No 2 (2012): Juli Vol 19, No 1 (2012): Maret Vol 18, No 3 (2011): November Vol 18, No 2 (2011): Juli Vol 18, No 1 (2011): Maret Vol 17, No 3 (2010): November Vol 17, No 2 (2010): Juli Vol 17, No 1 (2010): Maret Vol 16, No 3 (2009): November Vol 16, No 2 (2009): Juli Vol 16, No 1 (2009): Maret Vol 15, No 3 (2008): November Vol 15, No 2 (2008): Juli Vol 15, No 1 (2008): Maret Vol 14, No 3 (2007): November Vol 14, No 2 (2007): Juli Vol 14, No 1 (2007): Maret Vol 13, No 3 (2006): November Vol 13, No 2 (2006): Juli Vol 13, No 1 (2006): Maret Vol 12, No 3 (2005): November Vol 12, No 2 (2005): Juli Vol 12, No 1 (2005): Maret Vol 11, No 3 (2004): November Vol 11, No 2 (2004): Juli Vol 11, No 1 (2004): Maret Vol 10, No 3 (2003): November Vol 10, No 2 (2003): Juli Vol 10, No 1 (2003): Maret Vol 9, No 3 (2002): November Vol 9, No 2 (2002): Juli Vol 9, No 1 (2002): Maret Vol 8, No 3 (2001): Desember Vol 8, No 2 (2001): Agustus Vol 8, No 1 (2001): April More Issue