cover
Contact Name
Iqmal Tahir
Contact Email
iqmal@ugm.ac.id
Phone
+628999411449
Journal Mail Official
jpe-ces@ugm.ac.id
Editorial Address
Editor Jurnal Manusia dan Lingkungan Pusat Studi Lingkungan Hidup - Universitas Gadjah Mada (PSLH - UGM) Komplek UGM, Jalan Kuningan, Jalan Kolombo, Catur Tunggal, Yogyakarta
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Manusia dan Lingkungan
ISSN : 08545510     EISSN : 24605727     DOI : https://doi.org/10.22146/jml.30101
Jurnal Manusia dan Lingkungan is published by the Center for Environment Studies, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia. The journal is focused to the relationship between people and its environment that are oriented for environmental problems solving. Jurnal Manusia dan Lingkungan receives a manuscript with interdisciplinary and multidisciplinary approach Abiotic : physical, chemical, technical, geo-environmental science and modelling science Biotic : environmental biology, ecology, agro environment Culture : environmental-socio,-economics,-culture, and environmental health.
Articles 444 Documents
Adsorpsi lon Logam Zn(II) pada Bead Kitosan dari Cangkang Udang Windu (Penaus Monodon) (ADSORPTION OF ZrNK(II) METAL ION ON CHITOSAN BEAD FROM SHELL SHRIMP (Penaus monodon)) Sari Edi Cahyaningrum; Narsito Narsito; Sri Juari Santoso; Rudiana Agustini
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 15, No 2 (2008): Juli
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18682

Abstract

ABSTRAK Telah dibuat dua macam adsorben kitosan dan bead kitosan dari cangkang udang windu (Penaus monodon) sebagai bahan dasar untuk adsorpsi ion logam Zn(Il). Adsorben kitosan dibuat melalui deproteinasi, demineralisasi diikuti deasetilasi, sedangkan bead kitosan merupakan hasil penggembungan terhadap kitosan. Beberapa parameter adsorpsi seperti pH, laju adsorpsi, dan kapasitas adsorpsi ion logam Zn(ll) dipelajari. Penelitian ini diawali dengan identifikasi secara spektroskopi infra merah terhadap gugus fungsional adsorben yang diperkirakan berfungsi sebagai situs aktif adsorpsi. Model kinetika adsorpsi orde satu yang mendekati kesetimbangan digunakan sebagai dasar untuk mengestimasi laju adsorpsi, sedangkan model isoterm adsorpsi Langmuir digunakan untuk menetapkan kapasitas adsorpsi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adsorpsi ion logam Zn(ll) pada kitosan serbuk dan bead kitosan mempunyai pH optimum yang sama. Laju adsorpsi ion logam Zn(II) pada bead kitosan secara signifikan lebih cepat dibanding pada kitosan. Proses swelling meningkatkan kapasitas adsorpsi ion logam Zn(ll) pada kitosan. ABSTRACT Two typies of adsorbent , i.e: chitosan and chitosan bead using shell of shrimp (Penaus monodon ) as raw materials, for Zn(II) metal ion adsorption. The chitosan was made by deproteination, demineralization followed deacetilation, whereas the chitosan bead was prepared by swelling the chitosan. Adsorption parameters such as, the adsorption rate, and the capacity of adsorption were determined. This work was started with the Infra Red Spectroscopy identification of functional groups with are expected to be the adsorption activ sides. The adsorption kinetic orde one at eqilibrium model  was applied in the estimation the adsorption rate, whereas the isoterm adsorption Langmuir model were employed in the determination of the capacity in adsorption. The results show that adsorption of metal ion Zn(II) on chitosan and chitosan bead have the same of optimum pH. The adsorption rate of metal ion Zn(II) on chitosan bead significant faster than on chitosan. Modification with swelling process enhanced the adsorption capacity Zn(II) on chitosan.
KAJIAN ZONASI PENGEMBANGAN KAWASAN PUSAKA. STUDI KASUS: SITUS SANGIRAN, SRAGEN (Zoning Study of Heritage Site Development Case Study: Sangiran Site, Sragen) Wiendu Nuryanti; Nindyo Suwarno
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 15, No 3 (2008): November
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18683

Abstract

ABSTRAKSebagai Warisan Budaya Dunia (World Culture Heritage) yang ditetapkan oleh UNESCO pada tanggal 5 Desember 1996, Situs Sangiran merupakan bagian penting dalam sejarah manusia di dunia. Sesuai dengan keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Nomor 0701011977), situs tersebut telah ditetapkan sebagai cagar budaya (Widianto, et al.,1996). Penelitian ini memiliki dua tujuan utama: (1) menyusun konsepsi dasar pelestarian, dan (2) menyusun arahan desain (guidelines) pelestarian Situs Sangiran. Permasalahan utama dari kajian ini adalah perubahan lahan karena faktor alam dan aktivitas manusia (pertanian, pembangunan, penambangan), ancaman pencurian, penggelapan, dan jual beli fosil, rendahnya partisipasi masyarakat dalam upaya pelestarian Situs Sangiran, dan belum adanya panduan/arahan pelestarian dan pemanfaatan wisata yang jelas. Dengan metoda kualitatif naturalistik, dihasilkan konsepsi (prinsip) dasar pelestarian Situs Sangiran Sragen, dalanr masing-masing zona (zona I -3) sesuai dengan potensi tiap zona yang perlu dilestarikan dan dikernbangkan. Analisis yang digunakan dalam hal ini adalah analisis makro, meso, dan mikro. Dari kajian ini dapat disimpulkan bahwa dalam merencanakan pelestarian Situs Sangiran, hal terpenting adalah mentaati zonasi dasar situs, di mana setiap zona akan merniliki guidelines  tersendiri. Guidelines terdiri atas pengembangan produk (Klaster Ngebung, Bukuran, Dayu), street furniture, serta pemberdayaan masyarakat. ABSTRACT UNESCO has established Sangiran Site as a World Culture Heritage in December 5th 1996. Its present is important to the history of mankind in the world. Widianto, et al., 1996, stated that Sangiran site has become a Cultural Site regarding to the declaration of Minister of Culture and Education (No. 070/0/1977). This Research has two main purposes, (1) to arrange a conception of basic preservation, and (2) to arrange a design guidelines of Sangiran Site Preservation. There are several major issues in this research; natural factor and human activities (agriculture, development, and mining), criminal threats, corruption, illegal trading, the lack of  participations in order to preserve the Sangiran Site, and there is no basic preservation guidelines for tourism activities in Sangiran. Basic preservation conception of Sangiran Site is created with Naturalistic Qualitative Method at each zone of this site that appropriate to each potential zone and need to be developed and preserved. This research use macro, meso, and micro analysis. Conclusion has been made from this research. The most important thing to plan Sangiran Site preservation is obeying the site basic zone guidelines, because every zone has its own characteristics. The guidelines of development plan in Sangiran Site consist of Product Development (Ngebung, Bukuran, and Dayu cluster), street furniture, and community empowerment.
PERENCANAAN TATA GUNA LAHAN DAS WAY SEPUTIH HULU LAMPUNG TENGAH MENGGUNAKAN MODEL TATA AIR (Landuse Planning for Way Seputih Watershed at Central Lampung by Water Management Model) Mohammad Amin
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 15, No 3 (2008): November
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18684

Abstract

ABSTRAKDas Way Seputih Hulu merupakan sungai yang terletak di Kabupaten Larnpung Tengah, merniliki luas 175,28 km2. Kejadian banjir di Desa Segalarninder hilir Way Seputih Hulu terjadi setiap datang musim penghujan. Hasil penelitian bempa software program tata-air.exe, konsep dasar rnodel menggunakan neraca air (waterbalance) yang dibuat dengart program delphi versi 7. Hasil uji t-tes antara tebal aliran model simulasi dengan pengukuran lapangan menunjukkan nilai t-hitung (0,14) lebih besar dari t-tabel (2,51), sehingga dikatakan model dapat digunakan untuk melakukan simulasi berbagai alternatif penggunaan lahan. Hasil simulasi program tata-air.exe menunjukkan bahwa keseluruhan alternatif untuk eksperimentasi model menghasilkan nilai rasio tebal aliran di bawah angka 30. Kondisi rasio tebal aliran air Way Seputih Hulu memiliki nilai berkisar antara 2,84 sanrpai 3,40, sehingga dapat dikatakan dalam kondisi masih wajar bahkan dapat dikatakan mempunvai nilai yang cukup bagus. Alternatif penggunaan lahan yang mengarah kepada bentuk lahan kebun campuran akan memberikan nilai rasio paling kecil dan menghasilkan produksi air yang kecil pula. ABSTRACT Watersheed of Way Seputih Upstream represent river which located in Kabupaten Lampung Tengah, oing wide of 175,28 km2. Occurence of floods in Countryside of Segalaminder go downstream Way Seputih Upstream happened in every coming rain season. Result of the research namely tata-air.exe, base concept of modeling uses water balance was made by using Delphi 7th version. Result of t-test value between modeled discharge flow and field measurement result shows t-counting value (0.14) higher than t-table (2.51), hence the model is can be used for simulating various landuse alternative. The simulation result using tata-air.exe shows that entire alternatives for model experimentation resulted discharge ratio value was under 30. Condition of Way Seputih Hulu River discharge was in the range between 2.84 until 3.40, therefore it is assumed normally, even it can be assumed very good value. The landuse alternative to mix garden land can given smal value for runoff  ratio and water production.
IKLIM MIKRO DAN KEBUTUHAN RUANG TERBUKA HIJAU DI KOTA SEMARANG (The Micro Climate and The Need of Green Open Space for The City of Semarang) Dewi Liesnoor Setyowati
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 15, No 3 (2008): November
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18685

Abstract

ABSTRAK Salah satu darnpak perkembangan jumlah penduduk kota adalah terjadinya konversi lahan. Konversi ruang terbuka hijau (RTH) menjadi fasilitas bangunan menyebabkan terjadi pencemaran di kota. Berkurangnya RTH mengakibatkan terjadinya kenaikan temperatur lokal dalam kota. Keberadaan RTH memiliki manfaat cukup besar dalam peningkatan kualitas lingkungan hidup kota, seperti sebagai pengendali iklim mikro. Sebaran vegetasi perindang termasuk kategori jarang, terutama komposisi vegetasi rendah dan kerapatan pohon sangat jarang. Kondisi Iklim mikro secara keseluruhan termasuk kategori sebagian tidak nyaman, khususnya pada siang hari. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh kurangnya vegetasi perindang di sepanjang jalan, sehingga kondisi iklim mikro menjadi panas dan kering. Keberadaan RTH di Semarang Tengah yang hanya seluas 6,77% perlu ditambah RTH seluas 14,02%. Diharapkan luas RTH sebesar 20,79% dari total luas wilayah, sehingga akan dapat memperbaiki iklim mikro di kawasan perkotaan. ABSTRACT One of the impact of people growth in town is land conversion. Green open space conversion become building facilities cause contamination in the city. Decreasing of green open space result local temperature increase in the city. Existence of green open space have big enough benefit of the quality of city environment, for example by controller of micro climate. The leafy vegetation spread include categories seldom, especially composition of low vegetation and closeness of tree very rare. Condition of micro climate as categorized 'a part unpleasant', specially in the day time. The condition influenced by decrease of  vegetation in alongside street, so that cause situation of micro climate hot and dry. Existence of green open space in Middle Semarang which only for the width of 6.77% require to be added green open space by 14.02%. So that expectedly wide of green open space equal to 20,79% from wide of total region, will be able to improvement of micro climate in urban area.
MENINGKATKAN KESADARAN MASYARAKAT KABUPATEN POLEWALI MANDAR DI ERA OTONOMI DAERAH DALAM PENGELOLAAN SUMBERDAYA ALAM YANG BERKELANJUTAN (Improving The Society Awareness in Polewali Mandar Regency in The Area autonomy Era in Processing the Natural Resource Sukaji Sarbi
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 15, No 3 (2008): November
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18686

Abstract

ABSTRAKIndonesia pada umumnya dan khususnya Kabupaten Polewali Mandar krisis bencana lingkungan semakin serius. Keadaan ini telah mendorong tumbuhnya gerakan kepedulian terhadap penyelamatan sumberdaya alam dan lingkungan hidup. Bertujuan untuk melakukan reformasi terhadap praktek-praktek pengelolaan sumberdaya alamn dan lingkungannya yang secara bijaksana, sehingga krisis lingkungan hidup dapat dikendalikan. Kepada mayarakat dan berbagai pihak yang terkait dengan pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan diperlukan kesadaran untuk rnengimplementasikan moral dan etika lingkungan.  ABSTRACT General Indonesia and especially Polewali Mandar regency is having crisis on natural disaster seriously.   This condition grows a movement to take care the natural resources and the living space.  The aim is making reformation on the way of processing the natural resources (wealth) and environment that are not popular (suitable) anymore so that the living space can be controlled.  The society and the stakeholder of natural resource processing is hoped to have awareness to imply a change in  minding it (morals) and good environmental  behaviour.
CONTROL OF MOSQUITOES BY THE USE OF FISH IN ASIA WITH SPECIAL REFERENCE TO INDIA: RETROSPECTS AND PROSPECTS (Pengendalian Nyamuk dengan Penggunaan lkan di Asia dengan Rujukan Khusus ke India: Tinjauan Masa Lalu dan Masa Depan) Somnath Chakraborty; Swaha Bhattacharya; Sajal Bhattacharya
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 15, No 3 (2008): November
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18687

Abstract

ABSTRACTFish have their greatest potential as biocontrol agents against the aquatic stages of mosquitoes and are used as a major component of the integrated vector control programme. Many countries in Asia including India have used mosquito larvivorous fish for the containment of mosquito borne diseases, especially malaria. Present review is an attempt to prepare a list of potential mosquito larvivorous fish used in different countries in Asia with special emphasis on India.ABSTRAKIkan berpotensi paling besar sebagai agen hayati terhadap stadia akualik nyamuk dan digunakan sebagai komponen utama dalam program pengendalian vektor terpodu. Banyak Negara di Asia termasuk India telah menggunakan ikan pemakan jentik untuk ,menanggulangi penyakit bawaan nyamuk. terutama malaria. Tinjauan pustaka ini mencoba memberikan suatu daftar jenis-jenis ikan pemakan jentik yang digunakan di berbagai Negara di Asia dengan penekanan khusus di India.
MODEL PENGEMBANGAN TATA RUANG KAWASAN OBJEK WISATA AIR STUDI KASUS: OBJEK WISATA AIR JOLOTUNDO, KLATEN (Models of Land Use Development in Water Tourism Area Case Study: Jolotundo Water Recreation, Klaten) Nindyo Suwarno
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 16, No 1 (2009): Maret
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18688

Abstract

ABSTRAKKajian ini bertujuan untuk mengembangkan potensi kepariwisataan dan konservasi lingkungan di Objek Wisata Jolotundo, Kabupaten Klaten, sehingga dapat tumbuh dan berkembang sebagai kawasan tujuan wisata yang kompetitif dan mempunyai peran strategis dalam pengembangan kepariwisataan di Klaten. Permasalahan yang ada di Objek Wisata Jolotundo adalah karena belum maksimalnya penggunaan sumber daya yang berkelanjutan, belum adanya penataan ruang yang harmonis antara fungsi rekreasi dan fungsi preservasi lingkungan, serta kurangnya diversifikasi atraksi. Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah metode kualitatif dengan paradigma naturalistik. Sedangkan pendekatan yang digunakan meliputi pendekatan perencanaan pariwisata terpadu (integrated tourism development), keterpaduan supply dan demand pariwisata, preservasi konservasi, dan ekowisata. Berdasarkan hasil kajian ini, dapat disimpulkan bahwa perancangan Kawasan Jolotundo harus mengacu pada prinsip integrasi antara fungsi preservasi dengan fungsi rekreasi. dan menciptakan linkage dengan lokasi pemandian. Dalam perkembangan selanjutnya, konsep perancangan Kawasan Jolotundo diharapkan dapat melibatkan elemen air dan partisipasi masyarakat. ABSTRACTThe purpose of this research is to develop tourism potential and environment conservation of Jolotundo tourism destination, Klaten Municipality, so it can grow and develop as a competitive tourism destination with strategic role in Klaten tourism development. The problem of Jolotundo tourism destination especially related to the lack of sustainable resources use, disharmony land use planning between recreational and preservation function, and the lack of attraction diversification. The method of this research is qualitative approach with naturalistic paradigm, which are integrated tourism development, appropriate supply and demand, preservation- conservation  and ecotourism. The result of this research reveals the model of  Jolotundo planning which has to refer to integration principal between preservation, conservation and recreational function, and to built linkage with spring area. In the next development, Jolotundo planning will involve water element and community participation.
KONTRIBUSI HUTAN LINDUNG TERHADAP PENDAPATAN MASYARAKAT DESA DI SEKITARNYA: STUDI KASUS DI DESA AIR LANANG BENGKULU (Contribution of Protected Forest on Income People in The Village Surroundings: Case Study in Air Lanang, Bengkulu, Sumatera, Indonesia) Gunggung Senoaji
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 16, No 1 (2009): Maret
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18689

Abstract

ABSTRAKHutan lindung merupakan kawasan hutan yang fungsi pokoknya sebagai perlindungan lingkungan. Kenyataannya banyak hutan lindung yang diolah masyarakat menjadi kebun dan rnenjadi salah satu sumber pendapatannya. Upaya pemerintah mengeluarkan masyarakat dari kawasan ini berarti akan mengurangi pendapatannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besarnya pendapatan masyarakat yang diperoleh dari hutan lindung. Penelitian ini dilakukan di Desa Air Lanang, Bengkulu. Metode dasar yang digunakan adalah metode survey dengan teknik PRA. Data dan informasi yang dikumpulkan, dianalisis dengan analisis dekriptif kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahwa jumlah penduduk desa adalah 1.460 jiwa (285 KK). 96% pekerjaannya sebagai petani, 60 % tingkat pendidikannya lulusan sekolah dasar. Tanaman kopi merupakan tanaman utama dan menjadikan prestise bagi pemiliknya. Luas lahan mereka sekitar 2,5 hektar di lahan milik dan kawasan hutan. Kontribusi pendapatan masyarakat dari kawasan hutan lindung ini sebesar 52,5 % dari total pendapatan. Ini berarti bahwa mengeluarkan masyarakat dari aktifitasnya di hutan lindung akan mengurangi pendapatannya sebesar 52,5 %. ABSTRACTProtected forest is a forest area as the main function of environmental protection. In fact many of the protected forest to be used to garden by people and become a source of income. Efforts of the government to remove as the people from this area will reduce their income. This study aims to determine the amount of income earned from the protected forest. Research was conducted in the Desa Air Lanang, Bengkulu. The research used  descriptive method with  quantitative and qualitative approach. Data was collected using  participation-observation and opened-deepen interview. The result shows that the population of the village is 1460 people (285 families), 96% work as farmers, 60% level of education of primary school graduates. Coffee plants are the main crops and the prestige of the owner. Their area of about 2.5 hectares of property land and forest area. Contribution of people  income from the protected forest area is 52.5% of total revenues. This means that the issue of community activities in protected forests will reduce the incomes of 52.5%.
SUKSESI VEGETASI ALAMI DI BEKAS TAMBANG TIMBAH PULAU BANGKA (Succession of Natural Vegetation in Post Tin-Mining Bangka Island) Guat Tjhiaw; Tjut Sugandawati Djohan
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 16, No 1 (2009): Maret
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18690

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini mempelajari suksesi vegetasi alami berbagai umur sere di bekas tambang timah Pulau Bangka. Komunitas sere tersebut terdiri dari overburdern 2 bulan, overburden 1 tahun, subsoil 1 tahun, tailing 3 tahun, overburden < 10 tahun, tailing < 10 tahun, overburden > 20 tahun dan tailing > 20 tahun. Hasil tersebut dibandingkan dengan hutan alam yang belum ditambang. Metode yang digunakan adalah kuadrat plot yang disesuaikan dengan persebaran vegetasi di lokasi dengan ukuran 2m x 4 m, 5m x 5m dan 10m x 20 m serta ulangan berkisar 30-15 kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa growthform komunitas sere overburden lebih banyak dibandingan dengan tailing. Vegetasi yang dominan pada sere awal adalah rumput Ischaemum muticum dan Imperata cylindrica. Pada sere selanjutnya didominasi oleh semak Melastoma malbathricum, juga ditemukan familia Leguminosae dan Nepenthes sp sebagai indikator miskinnya hara tanah. Sedangkan seedling pohon terbesar jarang terdiri dari Macaranga sp, Malleuca leucadendron, Schima wallichii, Viotex pubescens, Anacardium occidentale, dan Alstonia schoolaris. Ternyata kehadiran vegetasi merespon pada kandungan hara, terutama bahan organik dan nitrat. Pada komunitas sere overburden < 10 tahun dan > 20 tahun, serta tailing > 20 tahun ditemukan introduce species, yaitu Acacia spp. Adanya pohon Dyera costulata (jelutung) di hutan alam sebagai indikasi hutan tersebut adalah hutan rawa gambut. Sebaliknya pada hutan alam dengan tekstur tanahnya mirip dengan tekstur tanah pada semua komunitas sere didominasi oleh pohon dan sapling Eugenia palembanica serta seedling Eugenia longiflora. ABSTRACTSuccession of natural vegetation at various seral-stages were studied in post tin-mining Bangka Island. These seral stages were 2 months of overburden, 1 year of tailing, 1 year of subsoil, 3 years of tailing, 10 years of overburden, 10 years of tailing, 20 years of overburden, and 20 years of tailing and were compared to the natural forest. Data were collected based on various growthforms using various quadrate plots of 2mx4m, 5mx5m, and 10mx20m, which replicated of 3 to 15 plots. The results showed that the number of growthforms of sere was found more at location of overburden more than the tailing. The dominant plants at pioneer stage were Ischaemum muticum and Imperata cylindrica. The next seral stage was dominated by shrubs of Melastoma malabathricum. We also found Leguminosae and Nepenthes sp, which indicated that the location of post mining were poor in nutrients. The tree seedlings were dispersed rarely, and consisted of Macaranga sp, Malaleuca leucadendron, Schima wallichii, Vitex pubescens, Anacardium occidentale, and Alstonia schoolaris. The present of vegetation during the seral stages were as a respon to the nutrient content especially organic matter and nitrate. On location 10 years and 20 years of overburden, and also 20 years of tailing were found introduce species of Acacia spp. Trees of Dyera costulata were found on natural forest, which were indicated that forest was peat swamp forest. The natural forest were dominated by trees and saplings of Eugenia palembanica and seedlings of Eugenia longiflora, but their soil textures were similar with all locations of post mining sere.
APLIKASI PENGOLAHAN POLUTAN ANION KHROM(VI) DENGAN MENGGUNAKAN AGEN PENUKAR ION HYDROTALCIT ZN-AI-SO4 (Synthesis of and its Application to Treat Chrom(VI) Pollutant Using Hydrotalcite Zn-Al_SO4 as Anion Exchanger) Roto Roto; Iqmal Tahir; Umi Nur Sholikhah
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 16, No 1 (2009): Maret
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18691

Abstract

ABSTRAKKeberadaan logam khrom di dalam sistem perairan bersifat polutan yang harus ditangani dengan baik, dan untuk khrom (Vl) yang sering dijumpai dalam bentuk anion dapat diolah dengan menggunakan mekanisme pertukaran ion. Suatu agen penukar anion telah dibuat berupa senyawa hidrotalsit Zn-Al-SOa melalui proses sintesis, karakterisasi serta dilakukan pula pengujian aplikasinya untuk pengurangan polutant anion khrom (VI) dalam bentuk ion dikromat. Sintesis hidrotalsit Zn-Al-SOa dilakukan dengan metode stoikiometri pada pH 8 dan perlakuan hidrotermal. Aplikasi pertukaran dikromat dengan anion sulfat dalam antar lapis hidrotalsit serta uji regenerasi bahan diamati dengan bantuan analisis struktur dan analisis kinetika reaksi pertukaran. Produk pertukaran ion dikarakterisasi dengan XRD, spektrofotometri IR dan spektrometri serapan atom. Rumus kimia hidrotalsit produk diketahui adalah Zn0,74Al0,26(OH)1,74(SO4)0,13.0,52H2O. Anion dikromat dapat menukar sulfat dalam antarlapis hidrotalsit yang ditunjukkan dalam spektra IR dan pola XRD. Kapasitas pertukaran anion untuk dikromat diketahui 216,84 mek/100 g, sedangkan kinetika reaksi pertukaran ion mengikuti orde dua dengan k = 3 x 10-8 ppm-1.detik-1. Hasil menunjukkan Zn-Al-Cr2O7 dapat mudah diregenerasi.  ABSTRACT Chrom as pollutant in aquatics system usually establishes as crom (VI) and should be worked with special treatment and as an example is ion exchanger. Material Zn-Al-SO4 hydrotalcite product have been synthesized and its application as anion exchanger for dichromate have been studied. Synthesis of Zn-Al-SO4 hydrotalcite was carried out by stoichiometric method at pH 8 and hydrothermal treatment. Sulphate in hydrotalcite interlayer was exchanged by dichromate. Kinetics of ion exchange was also investigated. The product of ion exchange was characterized by XRD, IR spectrophotometry and atomic adsorption  spectrometry. The chemical formula of the  hydrotalcite is Zn0.74Al0.26(OH)1.74(SO4) 0.13.0.52H2O. The dichromate anion can exchange sulphate in hydrotalcite interlayer as showed by IR spectra and XRD patterns. The anion exchange capacity was 216.84 mek/100 g, and the kinetics of ion exchange reaction follows the the second order with k = 3 x 10-8 ppm-1.s-1. It shows that Zn-Al-Cr2O7 could be regenerated easily.

Filter by Year

2001 2020


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 2 (2020): 2 Vol 27, No 1 (2020): 1 Vol 26, No 2 (2019): 2 Vol 26, No 1 (2019): 1 Vol 25, No 2 (2018): 2 Vol 25, No 1 (2018): 1 Vol 24, No 3 (2017): September Vol 24, No 2 (2017): Mei Vol 24, No 1 (2017): Januari Vol 23, No 3 (2016): September Vol 23, No 2 (2016): Juli Vol 23, No 1 (2016): Maret Vol 22, No 3 (2015): November Vol 22, No 2 (2015): Juli Vol 22, No 1 (2015): Maret Vol 21, No 3 (2014): November Vol 21, No 2 (2014): Juli Vol 21, No 1 (2014): Maret Vol 20, No 3 (2013): November Vol 20, No 2 (2013): Juli Vol 20, No 1 (2013): Maret Vol 19, No 3 (2012): November Vol 19, No 2 (2012): Juli Vol 19, No 1 (2012): Maret Vol 18, No 3 (2011): November Vol 18, No 2 (2011): Juli Vol 18, No 1 (2011): Maret Vol 17, No 3 (2010): November Vol 17, No 2 (2010): Juli Vol 17, No 1 (2010): Maret Vol 16, No 3 (2009): November Vol 16, No 2 (2009): Juli Vol 16, No 1 (2009): Maret Vol 15, No 3 (2008): November Vol 15, No 2 (2008): Juli Vol 15, No 1 (2008): Maret Vol 14, No 3 (2007): November Vol 14, No 2 (2007): Juli Vol 14, No 1 (2007): Maret Vol 13, No 3 (2006): November Vol 13, No 2 (2006): Juli Vol 13, No 1 (2006): Maret Vol 12, No 3 (2005): November Vol 12, No 2 (2005): Juli Vol 12, No 1 (2005): Maret Vol 11, No 3 (2004): November Vol 11, No 2 (2004): Juli Vol 11, No 1 (2004): Maret Vol 10, No 3 (2003): November Vol 10, No 2 (2003): Juli Vol 10, No 1 (2003): Maret Vol 9, No 3 (2002): November Vol 9, No 2 (2002): Juli Vol 9, No 1 (2002): Maret Vol 8, No 3 (2001): Desember Vol 8, No 2 (2001): Agustus Vol 8, No 1 (2001): April More Issue