cover
Contact Name
Iqmal Tahir
Contact Email
iqmal@ugm.ac.id
Phone
+628999411449
Journal Mail Official
jpe-ces@ugm.ac.id
Editorial Address
Editor Jurnal Manusia dan Lingkungan Pusat Studi Lingkungan Hidup - Universitas Gadjah Mada (PSLH - UGM) Komplek UGM, Jalan Kuningan, Jalan Kolombo, Catur Tunggal, Yogyakarta
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Manusia dan Lingkungan
ISSN : 08545510     EISSN : 24605727     DOI : https://doi.org/10.22146/jml.30101
Jurnal Manusia dan Lingkungan is published by the Center for Environment Studies, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia. The journal is focused to the relationship between people and its environment that are oriented for environmental problems solving. Jurnal Manusia dan Lingkungan receives a manuscript with interdisciplinary and multidisciplinary approach Abiotic : physical, chemical, technical, geo-environmental science and modelling science Biotic : environmental biology, ecology, agro environment Culture : environmental-socio,-economics,-culture, and environmental health.
Articles 444 Documents
STUDI PEMAHAMAN LINGKUNGAN SURVEI PERBEDAAN PERSEPSI DIANTARA MAHASISWA (THE ENVIRONMENTAL BELIEF STUDY : A SURVEY ON THE DIFFERENCE AMONG UNIVERSITY STUDENTS) Agus Suyanto
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 14, No 1 (2007): Maret
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18662

Abstract

ABSTRAKStudi ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan persepsi mahasiswa (dengan kategori jender dan Negara) terhadap pemahaman lingkungan. Studi ini dilakukan melalui pendekatan kuantitatif dengan menggunakan survey tertutup online dan data dianalisis dengan menggunakan SPSS versi l0 termasuk uji independent sample. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang nyata, dalam kepekaan terhadap lingkungan antara jenis kelamin laki-laki dan perempuan terhadap variabel tertentu dari kepedulian terhadap lingkungan terutama variabel dominansi manusia terhadap alam. Namun demikian tidak ada perbedaan yang nyata antara laki-laki dan perempuan terhadap variabel dari persepsi lingkungan yaitu keseimbangan terhadap alam. Dalam hal kategori negara, secara umum dinyatakan terdapat perbedaan yang nyata antara mahasiswa yang berasal dari negara maju dan berkembang terhadap kepedulian lingkungan. ABSTRACTThis study is aimed at knowing the perspective among university student especially in terms of gender and country category towards environmental beliefs (concern). The study with quantitative methods used a close-ended online survey. Data analysis was performed by using Software Package for the Social Science (SPSS version 10). Several tools of analysis are used in this study including Independent sample T-test. The results of the survey have indicated that there is a difference in the sensitiveness between female and male towards certain variable of environmental concern, namely Man over Nature and there is no difference in preference between male and female among university student towards certain variables of environmental concern, i.e. Balance of nature. But, in terms of country category, in general there is a different sensitiveness between student from developed and developing country towards environmental concern.
PEMANFAATAN LIMBAH ABU TANDAN KOSONG SAWIT SEBAGAI KATALIS BASA PADA PEMBUATAN BIODIESEL DARI MINYAK SAWIT (Ash Waste from Empty Palm Fruit Bunches as Base Catalyst for Biodiesel Synthesis from Palm Oil ) Yoeswono Yoeswono; Triyono Triyono; Iqmal Tahir
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 14, No 2 (2007): Juli
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18663

Abstract

ABSTRAKPemanfaatan limbah abu tandan kosong sawit (TKS) sebagai sumber katalis basa telah dilakukan untuk aplikasi pada proses pembuatan biodiesel dari minyak biji sawit. Kadar logam kalium untuk mengetahui kadar basa dalam abu TKS dianalisis dengan AAS dan kadar ion karbonat diuji dengan uji alkanalis. Komposisi asam lemak dalam bahan minyak biji sawit  dianalisis dengan GC-MS. Abu TKS direndam dalam metanol untuk mendapatkan senyawa kalium metoksida yang selanjutnya digunakan untuk transesterifikasi minyak biji sawit. Rasio persentase berat abu terhadap minyak pada reaksi transesterifikasi tersebut divariasi kemudian persentase konversi biodiesel ditentukan dengan spektrometer 1H NMR. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar kalium dalam abu TKS = 29,82 % b/b, dan kadar ion karbonat = 19,63 % b/b, sehingga konversi (%) dimungkinkan kalium tersebut dalam bentuk karbonat. Konversi biodiesel meningkat dengan peningkatan persentase berat abu terhadap minyak. Kondisi optimum dicapai pada persentase berat abu terhadap minyak = 6 % b/b dengan diperoleh konversi biodiesel 69,67 %. ABSTRACTThe use of ash waste from empty palm fruit bunches (EFB) as a source of base catalyst have been done in biodiesel synthesis from palm kernel oil. The potasium metal content was analyzed using AAS and carbonate ions content was measured by alkalinity test. The fatty acids composition of palm kernel oil were analyzed by GC-MS. The ash was immersed in the methanol to form potassium methoxide, and then used in transesterification of palm kernel oil. Weigth of ratio of ash to oil was varied and then the biodiesel conversion was determined by 1H NMR spectrometer. The results showed that potassium content in the ash was 29.82 wt %, and the carbonate ion content was 19.63 wt %, the potassium might be in carbonate form. The biodiesel conversion increased with increase of weight ratio of ash to oil. The optimum condition was reached at weight ratio of ash to oil = 6 wt % with biodiesel conversion 69.67 %.  
PENJERAPAN P-KHLOROFENOL DALAM AIR LIMBAH DENGAN ZEOLIT (Adsorption of p-Chlorophenol from Wastewater using Zeolite) Sarto Sarto; Siti Syamsiah; Andreas Didit Herdito
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 14, No 2 (2007): Juli
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18664

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mempelajari kemampuan zeolit untuk menjerap p-khlorofenol dari limbah cair secara batch, pada suhu 30 °C dan tekanan 1 atmosfer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses penjerapan mengikuti persamaan Freundlich dan bersifat reversibel sebagian. Nisbah kinerja desorbsi dan penjerapan adalah antara 31,85 % dan 49,36 %. Kemampuan zeolit untuk menjerap p-khlorofenol meningkat dengan semakin rendahnya pH. pada nilai pH 3,92, berat zeolit 30 g, dan konsentrasi awal p-khlorofenol 97,302 mg/L. Adapun jumlah p-khlorofenol yang terjerap adalah sebesar 8,319 mg/L. ABSTRACTThe aim of this research is to study the characteristics of zeolit to adsorb p-chlorophenol from wastewater in a batch reactor at 30 oC and atmospheric conditions. The experimental results show that the adsorbtion process is partially reversible and fits with Freundlich Equation. The ratio of  desorption and adsortion performance is between 31.85 % and 49.36 %.  The performance of zeolit to adsorb p-chlorophenol increases with decreasing pH. At  pH about 3.92, using 30 g zeolit and 97.302 mg  p-chlorophenol/L. The concentration of adsorbed p-chlorophenol is about 8.319 mg/L.  
AKTIVITAS MIKROBA PADA BEBERAPA LAGUN ANAEROBIK PENGOLAHAN LIMBAH PETERNAKAN BABI (Microbial Activity Along A Spectrum of Anaerobic Swine Lagoons) Cynthia Henny; Melanie R. Mormille
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 14, No 2 (2007): Juli
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18665

Abstract

ABSTRAK Laguna anaerobik pengolahan limbah peternakan babi bergantung pada keseimbangan pada aktivitas mikroba dari fermentasi sampai metanogenesis. Keseimbangan produksi dan konsumsi produk intermediate, seperti hidrogen dan asam lemak selama perombakan limbah organik kompleks, merupakan kunci utamaberfungsinya lagun anaerobik. Ketidakseimbangan aktivitas mikroba akan menyebabkan timbulnya bau yang berasal dari kelebihan produksi asam lemak dan asam lemak serta hidrogen sulfide yang dihasilkan dari aktivitas bakteri pereduksi sulfat. Pada penelitian ini aktivitas mikroba di beberapa lagun dari yang berfungsi baik sampai yang tidak berfungsi diteliti untuk mendeterminasi faktor0faktor yang mempengaruhi kinerja lagun anaerobic agar berfungsi baik. Konsentrasi hidrogen lebih rendah pada lagun dengan rasio metan/COD dan MPN bakteri penghasil metan yang tinggi, dibandingkan konsentrasi hidrogen pada lagun dengan rasio metan/COD yang rendah. Bakteri pereduksi sulfat cukup tinggi pada lagun yang menerima beban masukan yang mengandung sulfat yang tinggi. bakteri fototrofik ungu dapat mengkonsumsi hidrogen sulfide dan asam lemak. MPN bakteri fototrofik tinggi pada lagun dengan konduktivitas kandungan COD, sulfat, ammonia dan padatan yang rendah. Selain mengontrol bau, bakteri fototrofik pada lagun yang berfungsi baik juga meningkatkan kerja lagun. Kandungan sulfat, COD dan padatan merupakan faktor yang menyebabkan aktivitas bakteri sangat bervariasi di lagun anaerobik peternakan babi dan yng menentukan lagun berfungsi baik.  ABSTRACT Anaerobic lagoons treating swine waste rely upon balanced microbial activity from fermentation to methanogenesis. A balance of production and consumption of intermediate products, such as hydrogen and volatile fatty acids (VFAs), during the degradation of complex organic wastes is crucial for proper functioning of anaerobic lagoons. If activity is not balanced, odors can result from VFAs and ammonia accumulation. Additional odors may be due to H2S produced by sulfate reducing bacteria (SRB). In this study, microbial activity was monitored in a spectrum of lagoons, ranging from well functioning to dysfunctioning, to determine what affects the functionality of these systems. Hydrogen concentrations were lower and achieved an apparent steady state earlier in lagoon microcosms with higher ratio methane/COD than those with lower ratio methane/COD as well as having higher MPN values of methanogens. Not surprising, SRB were more prevalent when sulfate input was higher, suggesting sulfate input contributes to odors. Phototropic purple bacteria can reduce odor by consuming H2S and VFA. phototropic bacteria MPNs were high in lagoons with low conductivity, concentrations of COD, sulfate, ammonia and solids. Phototropic bacteria in the functional lagoons may not only help in controlling offensive odors by consuming H2S but also in consuming excessive VFA thereby improving the lagoon’s performance. Sulfate, COD, and solids concentrations are factors that can cause high variability of the microbial activity in anaerobic swine lagoons and furthermore determine the lagoon’s functionality.  
STUDI PENGARUH JUMLAH PENGUNJUNG TERHADAP KEANEKAAN JENIS DAN KEMELIMPAHAN BURUNG DI KAWASAN WISATA ALAM KOPENG (Study on Effect of Visitor Number to The Species Variety and The Abundance of Birds in Kopeng Natural Tourism Area ) Retno Nur Utami; Djuwantoko Djuwantoko; Mukhlison Mukhlison
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 14, No 2 (2007): Juli
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18666

Abstract

ABSTRAKPenelitian yang dilakukan di Kawasan Wisata Alam (KWA) Kopeng ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jumlah pengunjung terhadap keanekaan jenis dan kemelimpahan burung di KWA Kopeng; mengetahui keanekaan jenis dan kemelimpahan burungterhadap tingkat kepuasan pengunjung; serta untuk memberikan arahan pengelolaan pengunjung berdasarkan hasil penelitian. Pengamatan burung dan pengunjung dilakukan dengan metode point count. Titik pengamatan dipilih secara representatif menggunakan teknik random sampling. Berdasarkan peta kawasan hutan wisata dan pengecekan lapangan dilakukan pembagian lokasi titik pengamatan sebanyak 21 titik. Titik pengamatan berbentuk lingkaran dengan radius 20 m, kemudian titik-titik pengamatan yang telah terpilih dipetakan dan didokumentasikan untuk memudahkan pengamatan pada periode berikutnya. Waktu pengamatan adalah selama dua (kali) hari Minggu. Hari Minggu dipilih atas pertimbangan kemudahan perjumpaan dengan pengunjung. Selain dilakukan pengukuran terhadap variabel-variabel terpilih (dalam rangka memperoleh data primer, juga dilakukan pengumpulan data sekunder yang meliputi data kondisi umum lapangan dan sistem pengelolaan kawasan. Data primer yang terkumpul selanjutnya dianalisis dengan menggunakan model regresi linier sederhana dan korelasi peringkat Spearman, masing-masing untuk mengetahui pengaruh jumlah pengunjung (variable bebas) terhadap keanekaan jenis burung dan jumlah kemelimpahan burung (variabel-variabel bergantung); dan untuk mengetahui korelasi antara variabel keanekaan jenis burung maupun variabel kemelimpahan burung dengan variabel kepuasan pengunjung. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa jumlah pengunjung tidak berpengaruh nyata terhadap keanekaan jenis dan kemelimpahan burung di Kawasan Wisata Alam Kopeng; terdapat korelasi yang negatif antara keanekaan jenis dan kemelimpahan burung dengan tingkat kepuasan pengunjung. ABSTRACTThe aims of this research were to know the effect of the visitor number to the species variety of birds; the effect of the visitor number to the abundance of birds; and the effects of the species variety and the abundance of birds to the satisfaction level of visitors in Kopeng Natural Tourism Area. Based on the research results, then some recommendations for the natural tourism area management were made. In observing birds and visitors, point count method was used. There were 21 points selected randomly to counting the bird individuals and species numbers. In these points with 25 m-radius each, the counting of respondent number and the searching information of  the level satisfaction of respondent were done, too. The data obtained, furthermore, was analysed by both descriptive and inferensial statistics methods. The inferensial statistics methods which were used consisted of the simple linear regression and the Spearman rank correlation. The research results showed that the visitor number did not influence the species variety as well as the abundance of birds significantly; there was a negative correlation between the species variety of birds and visitor satisfaction level, and so was the abundance of birds and the visitor satisfaction level.  
TINGKAT KERUSAKAN LINGKUNGAN DI DATARAN TINGGI DIENG SEBAGAI DATABASE GUNA UPAYA KONSERVASI (The Level of Environmental Damage in Dieng Plateau for Database to Conservation Action) Sri Ngabekti; Dewi Liesnoor Setyowati; Sugiyanto R. Sugiyanto Sugiyanto
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 14, No 2 (2007): Juli
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18667

Abstract

ABSTRAK Penebangan hutan secara liar guna memperluas area tanaman kentang di wilayah Dieng, berakibat menurunnya tingkat keanekaragaman hayati. Berdasarkan hasil penilaian oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Tengah (2001), hanya ditemukan kurang dari 50 jenis tumbuhan per hektar, sehingga dikategorikan sebagai kawasan miskin jenis tumbuhan dan perlu dilakukan upaya untuk mengatasi kerusakan lingkungan di dataran tinggi Dieng melalui konservasi lingkungan. Agar konservasi lingkungan berhasil, perlu adanya database kondisi lingkungan sehingga diperoleh cara konservasi yang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kerusakan di dataran tinggi Dieng sebagai database guna upaya konservasi. Penelitian ini menggunakan metode eksplorasi secara langsung di lokasi penelitian melalui pengamatan, pengukuran, pemetaan, dan wawancara dengan petani dan aparat terkait. variabel yang akan diukur adalah tingkat kerusakan fisik lahan, kerusakan biologis lingkungan, dan aspek demografi, ekonomi, sosial dan budaya masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara fisik, tingkat kerusakan lahan pertanian semakin parah, sehingga menurunkan produksi kentang di daerah ini. Secara biologis, tingkat keanekaragaman jenis tanaman liar berkisar antara 0,81 – 0,98, dan termasuk kategori rendah. Dari aspek perilaku penduduk dalam upaya konservasi, belum menunjukkan hasil, karena areal tanaman kentang menjadi semakin luas akibat penebangan hutan konservasi. Tingkat kerusakan lingkungan di daataran tinggi Dieng semakin parah, sehingga dapat menurunkan produksi kentang. Saran yang dapat disampaikan adalah perlunya dilakukan upaya pengelolaan dan konservasi kawasan Dataran Tinggi Dieng. Oleh karena kondisi geografisnya, pola usaha pertanian yang dilakukan di Dieng harus diikuti dengan kajian konservasi lahan, perlunya dicari tanaman pengganti kentang yang dapat mencegah terjadinya erosi. ABSTRACT Wild deforestation to expand potato cultivation area in Dieng Plateau has been reducing biodiversity. An assessment by Balai Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Tengah in 2001 found less than fifty species vegetation per hectare in the area, which means poor diversity. This research aims to know the level of environmental damage in Dieng Plateau as a database for conservation attempts. The variables to assess will be the level of environmental damages, both physically and biologically, in connection with demographic, economic, societal, and cultural aspects. Physical observation showed that plantation area was seriously damaged, which reduced the potato crops. Whereas from biological observation, it was found that the vegetational diversity index was relatively low (0.81-0.98). From behavioral view, it seemed that the inhabitants have not fully supported the conservation attempts; it can be seen that the potato cultivation area has expanded as deforestation has also spread out. As a result, waters resources have depleted significantly. From the current research, it was concluded that the level of environmental damage in Dieng Plateau was seriously damaged. It was suggested to manage the Dieng Plateau area. Due to unique geographical conditions, plantation design implemented in the area should be followed by conservation review. To prevent erosion, it is important to find substitutes to potatoes  
OPTIMISASI SISTEM USAHA TANI UNTUK PERTANIAN BERKELANJUTAN DI KAWASAN PESISIR BALI UTARA (Optimization of Farming System Towards Sustainable Agriculture in North Coastal Plain Bali) I Wayan Budiasa; Sri Widodo; Slamet Hartono; Irham Irham
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 14, No 3 (2007): November
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18668

Abstract

ABSTRAKPengembangan sistem usaha tani secara intensif pada lahan kurang subur dengan sumberdaya air yang terbatas dapat mengarah pada trade-off antara manfaat ekonomi dalam jangka pendek dan permasalahan lingkungan dalam jangka panjang. Akibat degradasi lingkungan yang meningkat dan alokasi sumberdaya yang tidak efisien, sistem usahatani akan tidak berlanjut. Studi ini bertujuan untuk mengoptimalkan model sistem usahatani beririgasi dan menilai keberlanjutannya. Dengan menggunakan analisis programasi linier, petani di kawasan pesisir Bali bagian Utara telah optimal dalam alokasi sumberdaya yang diindikasikan oleh pencapaian solusi optimal pada model sistem usahatani konvensional yang mencerminkan kondisi kenyataan. Dengan berbagai penyesuaian model sistem usahatani konvensional dapat diperluas menjadi model sistem usahatani berkelanjutan. Diperoleh bahwa sistem usahatani berkelanjutan lebih baik ketimbang sistem usahatani konvensional. Karena semua komponen dan indikator keberlanjutan telah dipertimbangkan dalam model dan semua kriteria berkelanjutan telah tercapai dalam solusi optimal, maka model sistem usahatani yang telah diperluas tersebut juga menjamin bahwa pengembangan sistem usahatani beririgasi pda level rumah-tangga akan dapat berkelanjutan. Agar sistem usahatani rumah-tangga dapat berlanjut, petani seharusnya menggunakan air tahan sebesar atau kurang dari 8.547 L/dt, menambah pupuk organik dari pupuk kandang minimal sebesar 5t/ha/th, meneruskan sistem usahatani campuran dan rotasi tanaman, tetap mempertimbangkan pengeluaran minimum rumah-tangga, dan bersedia membayar harga air sebesar Rp 1.218,29/m3. Model sistem usahatani berkelanjutaan yang dihasilkan dari studi ini telah melalui proses validasi. Dengan demikian, hasil tersebut dapat dikontribusikan untuk pengembangan ilmu pengetahuan di bidang pertanian. Juga, hasil tersebut dapat dijadikan pilihan praktek manajemen oleh petani dalam usahataninya. ABSTRACTIntensive farming system development (FSD) on poor fertile soil with limited water source can lead to trade-off between economic benefit in the short run and environmental problems in the long run. As environmental degradation increases and inefficient in resources allocation, farming system will become unsustainable. This study aims to optimize irrigated farming system model and to assess its sustainability. By using linear programming analysis, local farmer in north coastal plain of Bali was optimal in resources allocation indicated from optimal solution of conventional farming system model which conforms to observed behavior. By several adjustments, conventional farming system model can be extended to sustainable farming system model. It is found that the sustainable farming system is better than the conventional farming system. Since all components and indicators of sustainability were considered into model and all criteria of sustainability were fulfilled by optimal results, the extended farming system model also guarantees that irrigated farming system development at household level will become sustaipable. To make the sustainable farming system at household level, the farmer should be able to allocate the groundwater less than or equal to 8.547 Lis, to add the organic fertilizer from manure more than or equal to 5 t/ha/yr, to continue the mixed-farming system and crops rotation, to consider minimum household expenditure, and to put the sustainable value in the use of water in approximately Rp I ,218.29/CM into effect. The sustainable farming system model generated from this study passed validated process. Thus, it can be contributed to scientific development. Also, its results can become best management practices by local farmers on their farms.
KONSERVASI SAUJANA BUDAYA KAWASAN BOROBUDUR - ZONASI ULANG DENGAN PENDEKATAN EKOSISTEM (Conservation of the Borobudur Cultural Landscape: Rezoning of area Management by Ecosystem Approach) Amiluhur Soeroso
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 14, No 3 (2007): November
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18669

Abstract

ABSTRAKDalam banyak aspek, nilai saujana budaya Borubudur memiliki arti penting bagi masyarakat yang hidup di sekitamya. Namun demikian, sejak selesainya proyek restorasi, dan kemudian Candi Borobudur dijadikan sebagai pus aka dunia pada tabun 1991, saujana budayanya menghadapi berbagai konftik kepentingan yang disebabkan oleh ketidak-tepatan zonasi lama (karena hanya berorientasi kepada candi, monumen atau artifak sehingga menafikan ekosistem) dan pengelolaan yang dilakukan oleh banyak institusi. Masalah ini mengakibatkan risiko degradasi kualitas saujana budaya (polusi fisik, visual dan kebudayaan) yang berpengaruh terhadap eksistensi situs Borobudur di masa depan. Berkaitan dengan kelangkaan sumberdaya lingkungan yang dimilikinya, dibutuhkan studi mendalam dengan fokus mengkonsolidasikan dan melindungi integritas saujana budaya tersebut. Data zonasi ulang dengan tujuan untuk pengelolaan dilakukan dengan menampalkan peta-peta tematik berdasarkan pendekatan ekosistem. Hasilnya adalah: (1) zonasi konservasi Kawasan Borobudur dialokasikan menjadi empat bagi!ln (Mandala), (2) pentingnya konservasi pusaka sebaiknya dikomunikasikan melalui sarana pendidikan terhadap para pengguna dan menempatkan masyarakat di sekitamya sebagai titik penting dalam pengelolaan kawasan Borobudur. Dengan demikian, kelestarian Borobudur di masa depan tergantung pada kebijakan pembangunan yang berkelanjutan. Manajemen Kawasan Borobudur tidak dapat hanya fokus pada situs, material atau artifak semata tetap harus bergeser untuk memperhatikan ruang dan kawasan tempat manusia hidup. ABSTRACT The Borobudur cultural landscape values have conferred important meanings in many aspects for those who live in its surrounding neighborhood. Nevertheless, since the beginning of Borobudur restoration project and the acknowledgement of Borobudur Temple as the world's heritage in 1991, its cultural landscape is continually facing out of the ordinary kinds of conflicts caused by unappropriate old zoning area (because just oriented to the temple, monument or artifact so that neglected its ecosystem) and the taking part of many authorities in managing Borobudur area. This issue brings a serious concern on the risk of degrading quality of cultural landscape (pollution of physical, visual and cultural) which affecting the future existence of Borobudur’s site. Recognized to the scarcity nature of environmental resources, a widespread research on such area is required and should be conducted with focus on consolidating and protecting the integrity of its cultural landscape. Data of rezoning area were obtained from thematic maps and after that being super imposed basically on ecosystem approach. Its product is zone of management. The results indicate that: (1) the zoning allocation of Borobudur conservation area is specified in four parts called ‘ekomuseum’ (ecomuseum), ‘malar’ (continues), ‘trubus’ (growth) and ‘rumbai’ (fringe), (2) the importance of heritage conservation should be communicated by means of educating the users and putting the surrounding society as the focal point in managing Borobudur area. For the reason, the survival of Borobudur’s site in the future will fully depend on its sustainable development policy to those products. Management of Borobudur should have not to focus on sites, material or artifacts and shifting to space or area where human being living.
PEMANFAATAN LIMBAH BIOMASSA CANGKANG KAKAO DAN KEMIRI SEBAGAI BAHAN BAKAR BRIKET (Utilization of Biomass Wastes from Cocoa and Candlenut Shells as Fuel Briquette) Harwin Saptoadi; Moch. Syamsiro; Bisrul Hapis Tambunan
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 14, No 3 (2007): November
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18670

Abstract

ABSTRAK Biomassa adalah sumber energi utama jutaan manusia di dunia, akan tetapi penggunaannya menurun ketika batubara, minyak dan gas tersedia cukup melirnpah. Namun akhir-akhir ini perhatian muncul kembali karena terjadinya krisis energi dan isu-isu lingkungan. Pemanfaatan biomassa untuk menggantikan bahan bakar fosil dapat menurunkan persoalan emisi CO2 global. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji alternatif sumber energi terbarukan dengan pemanfaatan limbah biomassa cangkang kakao dan kemiri. Penelitian dilakukan dengan menghaluskan biomassa dengan ukuran partikel kurang dari I mm. Kemudian 5 gram campuran bahan baku dengan bahan pengikat gel tepung kanji dengan perbandingan 70:30 untuk kakao dan 80:20 untuk kemiri dibriket dalarn cetakan berdiarneter l6 mm. Setelah dibriket kemudian dikeringkan dengan oven pada suhu 50 oC selama 5 jam. Pembakaran dilakukan dalam ruang bakar pada temperatur dinding 350 oC dan laju aliran udara bervariasi antara 0,1 - 0,4 m/s. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cangkang kakao dan kemiri mempunyai nilai kalor masing-masing 16.998 dan 21.960 kJ/kg. Emisi CO cukup signifikan pada tahap devolatilisasi. Cangkang kakao memberikan total emisi CO lebih tinggi dibandingkan dengan cangkang kemiri. Laju aliran udara juga berpengaruh terhadap emisi CO yang dihasilkan. Penambahan laju aliran udara akan mengurangi emisi CO, hal ini karena adanya penambahan suplai oksigen sehingga pemnbakaran dapat berlangsung lebih sempurna. ABSTRACT Biomass was the  primary source of energy for millions of people in the world, but when coal, oil, and gas became widely available, its use was declined. However, in recent years interest in biomass utilization increases because of energy crisis and environmental issues. Utilization of biomass for substituting fossil fuel can reduce global CO2 emission problem. The objective of this research is to study alternative energy sources that utilize biomass waste from cocoa and candlenut shells. Biomass materials were crushed until particle size of less than 1 mm were obtained. Five grams mixture  of biomass and binder with composition 70:30 for cocoa and 80:20 for candlenut were briquetted in 16 mm cylindrical mould and dried in an oven at  50C for 5 hours. Combustion tests were conducted in a combustion chamber at constant wall temperature 350C and air velocity ranges between 0.1 – 0.4 m/s. The results show that cocoa and candlenut shells have calorific value of 16,998 and 21,960 kJ/kg respectively. The CO emission was generated significantly during devolatilization phase. Cocoa shell generate total CO emission higher than that of candlenut shell. The increase of air velocity can reduce CO emission, because more oxygen is supplied to the briquette that can help completing the combustion.
STUDI BIODEGRADASI POLI HIDROKSI BUTIRAT DALAM MEDIA CAIR (Biodegradation of Poly Hydroxy Butyrate in Liquid Medium) Eka Sari; Siti Syamsiah; Sarto Sarto
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 14, No 3 (2007): November
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18671

Abstract

ABSTRAK Poli hidroksi butirat (PHS) termasuk dalam golongan bioplastik. Plastik jenis ini diharapkan dapat menjadi plastik altematif yang ramah lingkungan sebagai pengganti plastik sintetis yang bersifat sangat suI it terdegradasi. Penelitian ini bertujuan menguji potensi biodegradabilitas PHS komersial dalam media cair dengan menggunakan lumpur aktif dan unit pengolahan limbah pabrik plastik sintetik. Identifikasi proses degradasi dilakukan dengan cara mengamati perubahan karakteristik PHS yang meliputi perubahan visual, perubahan morfologi permukaan, penurunan berat, perubahan kristalinitas, dan perubahan berat molekul selama 15 pekan inkubasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kerusakan PHS se1ama proses degradasi dapat dilihat secara visual. Disamping itu, morfologi permukaan mengalami perubahan signifikan. Adapun penurunan berat, kristalinitas, dan berat molekul berturut-turut mencapai 22,91 %,57.44 %, dan 29,52 %. ABSTRACT Poly hidroxy butyrate (PHB) is a member of bioplastic group. This type of plastic is expected to be alternative plastic which is environmently friendly to replace synthetic plastic that is known to be very difficult to degrade. This research aims to test the biodegradability of commercial PHB in liquid mediums used activated sludge from waste water treatment plant in plastic synthetic factory. Identification of biodegradation process  was done by monitoring the changes of PHB characteristics including visual change, surface morphology change, reduction of weight, reduction of crystallinity, and reduction of molecular weight during 15 weeks incubation. The result shows that  the damage of PHB sample during biodegradation could be seen visually and liquid medium show the existence of change which can be seen visually and the surface morphology of PHB changed significantly. Weight reduction, crystallinity  reduction, and molecular  weight reduction  revealed of 22.91%, 57.44%, and 29.52% respectively.

Filter by Year

2001 2020


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 2 (2020): 2 Vol 27, No 1 (2020): 1 Vol 26, No 2 (2019): 2 Vol 26, No 1 (2019): 1 Vol 25, No 2 (2018): 2 Vol 25, No 1 (2018): 1 Vol 24, No 3 (2017): September Vol 24, No 2 (2017): Mei Vol 24, No 1 (2017): Januari Vol 23, No 3 (2016): September Vol 23, No 2 (2016): Juli Vol 23, No 1 (2016): Maret Vol 22, No 3 (2015): November Vol 22, No 2 (2015): Juli Vol 22, No 1 (2015): Maret Vol 21, No 3 (2014): November Vol 21, No 2 (2014): Juli Vol 21, No 1 (2014): Maret Vol 20, No 3 (2013): November Vol 20, No 2 (2013): Juli Vol 20, No 1 (2013): Maret Vol 19, No 3 (2012): November Vol 19, No 2 (2012): Juli Vol 19, No 1 (2012): Maret Vol 18, No 3 (2011): November Vol 18, No 2 (2011): Juli Vol 18, No 1 (2011): Maret Vol 17, No 3 (2010): November Vol 17, No 2 (2010): Juli Vol 17, No 1 (2010): Maret Vol 16, No 3 (2009): November Vol 16, No 2 (2009): Juli Vol 16, No 1 (2009): Maret Vol 15, No 3 (2008): November Vol 15, No 2 (2008): Juli Vol 15, No 1 (2008): Maret Vol 14, No 3 (2007): November Vol 14, No 2 (2007): Juli Vol 14, No 1 (2007): Maret Vol 13, No 3 (2006): November Vol 13, No 2 (2006): Juli Vol 13, No 1 (2006): Maret Vol 12, No 3 (2005): November Vol 12, No 2 (2005): Juli Vol 12, No 1 (2005): Maret Vol 11, No 3 (2004): November Vol 11, No 2 (2004): Juli Vol 11, No 1 (2004): Maret Vol 10, No 3 (2003): November Vol 10, No 2 (2003): Juli Vol 10, No 1 (2003): Maret Vol 9, No 3 (2002): November Vol 9, No 2 (2002): Juli Vol 9, No 1 (2002): Maret Vol 8, No 3 (2001): Desember Vol 8, No 2 (2001): Agustus Vol 8, No 1 (2001): April More Issue