cover
Contact Name
Samgar Setia Budhi
Contact Email
samgar.budhi@gmail.com
Phone
+6281349436165
Journal Mail Official
huperetes@sttkalimantan.ac.id
Editorial Address
Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan (STT Kalimantan) Jalan Gajah Mada No. 50 Kecamatan Pontianak Selatan, Kota Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat
Location
Kota pontianak,
Kalimantan barat
INDONESIA
HUPERETES: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen
ISSN : 27164314     EISSN : 27160688     DOI : https://doi.org/10.46817/huperetes
Core Subject : Religion, Education,
HUPERETES: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen merupakan wadah publikasi penelitian dalam bidang Teologi dan Pendidikan Agama Kristen dengan nomor ISSN: 2716-0688 (online) dan 2716-4314 (print) yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan dengan lingkup penelitian meliputi: Teologi Biblika, Teologi Sistematika, Pastoral, Misiologi, dan Pendidikan Agama Kristen.
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 1 (2020): Desember 2020" : 7 Documents clear
Pokok Anggur yang Benar: Eksegesis terhadap Yohanes 15:1-3 Daniel Horatius Herman
HUPERETES: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 2, No 1 (2020): Desember 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46817/huperetes.v2i1.48

Abstract

The various interpretations of John 15:1-3 point to errors in the method of interpretation. Of course, Jesus only had one purpose. This research aims to find the meaning of the true teachings of Jesus that will lead every believer to the true Christian life, so that the wrong meaning, which confuses Christian to Understand the teachings of Jesus, can be anticipated. This study uses a hermeneutic research method that specifically exegesis to the discussion texts. This research examines the context of Jesus in the Gospel of John as a whole; the Old Testament context relating to John 15:1-3; and reviews in general, the context of the chapters around John 15:1-3 and concludes based on these steps. John 15:1, explains Jesus' statement as Yahweh and the statement of Jesus as the embodiment of Israel. John 15:2a describes “the cut branches” referring to all Israelites who rejected Jesus. Meanwhile "the cleansed branches" (15:2b) refers to Jesus' disciples and all the Israelites who believed in Him. The statement in John 15:3 is a statement that Jesus' disciples were in a state of cleanness. For the first recipients of John's Gospel, these verses meant believing Jews were "a branch bearing fruit" and "cleansed" whereas unbelieving Jews were "a cut branch."Penafsiran yang beragam atas Yohanes 15:1-3 menunjukkan kesalahan metode penafsiran. Tentu saja Yesus hanya mempunyai satu maksud.  Penelitian ini bertujuan untuk menemukan makna ajaran Yesus yang benar yang akan menuntun setiap orang percaya kepada kehidupan Kristen yang benar, sehingga makna yang keliru, yang menyebabkan kebingungan terhadap ajaran Yesus akan dapat diantisipasi.  Penelitian ini menggunakan metode penelitian hermeneutika yang secara khusus mengeksegesis teks-teks pembahasan. Penelitian ini mempelajari Konteks Yesus dalam Injil Yohanes secara keseluruhan; konteks Perjanjian Lama yang berhubungan dengan Yohanes 15:1-3; dan meninjau secara umum, konteks pasal-pasal di sekitar Yohanes 15:1-3 serta menyimpulkan berdasarkan langkah-langkah tersebut. Yohanes 15:1 menjelaskan pernyataan Yesus sebagai Yahweh dan pernyataan Yesus sebagai perwujudan Israel. Yohanes 15:2a menjelaskan “ranting-ranting yang dipotong” menunjuk pada semua orang Israel yang menolak Yesus.  Sementara “ranting-ranting yang dibersihkan” (15:2b) menunjuk pada murid-murid Yesus dan semua orang Israel yang percaya kepada-Nya.  Pernyataan dalam Yohanes 15:3 adalah pernyataan bahwa murid-murid Yesus sedang dalam keadaan bersih.  Bagi penerima pertama Injil Yohanes, ayat-ayat ini berarti orang-orang Yahudi yang percaya adalah “ranting yang berbuah” dan “dibersihkan” sedangkan orang-orang Yahudi yang tidak percaya adalah “ranting yang dipotong."
Roh Kudus Meterai Keselamatan Kekal Orang Percaya menurut Efesus 1:13-14 Yoel Benyamin
HUPERETES: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 2, No 1 (2020): Desember 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46817/huperetes.v2i1.49

Abstract

The many teachings of Christianity that teach about uncertain salvation, including the mistaken opinion of the work of the Holy Spirit as the seal of eternal salvation for believers, create doubts as well as undermine the consistency of the teachings and the authority of the Bible because it seems that its truth becomes relative. This study aims to provide a rebuttal to the opinion that rejects salvation as only God's grace, focus on research on how the work of the Holy Spirit works on salvation in believers. This study uses a qualitative method with a thematic analysis approach and analyzes the text of Ephesians 1: 13-14 as its basis, and considers various views on salvation. This research concludes that the sealing of the Holy Spirit occurs when a person believes in Jesus as Lord and Savior. The Holy Spirit works in the believer, providing protection, assurance, and care for God so that they escape punishment and gain eternal life. The Holy Spirit is a sign that the believer belongs to God because of the redemption of Christ's blood according to the faith response to God's grace.Banyaknya ajaran Kekristenan yang mengajarkan mengenai keselamatan yang tidak pasti, termasuk kekeliruan pandangan mengenai karya Roh Kudus sebagai meterai keselamatan kekal orang-orang percaya,  memunculkan kebimbangan sekaligus meruntuhkan konsistensi ajaran dan wibawa Alkitab. Penelitian ini bertujuan memberikan bantahan mengenai pandangan yang menolak keselamatan hanya anugerah Allah, dengan fokus penelitian pada bagaimana karya Roh Kudus mengerjakan keselamatan dalam diri orang-orang percaya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan analisis tematik dan menganalisis teks Efesus 1:13-14 sebagai dasarnya, serta memperhatikan berbagai pandangan tentang keselamatan. Kesimpulan penelitian ini adalah bahwa pemeteraian Roh Kudus terjadi pada saat seseorang percaya Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Roh Kudus berkarya dalam diri orang percaya, memberi perlindungan, jaminan dan pemeliharaan Allah sehingga luput dari hukuman dan memperoleh kehidupan kekal. Roh Kudus menjadi tanda bahwa orang percaya telah menjadi milik Allah oleh karena penebusan darah Kristus sesuai tanggapan iman kepada kasih karunia Allah.
Kajian Didaktis Mengenai Cinta Lelaki dan Wanita dalam Kidung Agung Paulus Dimas Prabowo
HUPERETES: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 2, No 1 (2020): Desember 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46817/huperetes.v2i1.28

Abstract

A popular interpretation of the Song of Solomon states that the love poetry in it is a description of the relationship between God and His people. The Jews interpreted it as the relationship between Yahweh and Israel (allegorical), while Christians interpreted it as the relationship between Christ and the church (Christological). However, if one considers the genre of the book, the use of the Hebrew word dod, and the close praise for Solomon and the Shulamite, it would be argued that the Song of Songs contains a celebration of eros love between man and woman as an offering God that can be enjoyed. Song of Songs also presents another dimension in all of its articles, namely the values about the love relationship between a man and a woman. This article is written to explore the didactic aspects of the love relationship between a man and a woman in the entire Song of Songs. The method to be used is thematic analysis, using a literal perspective that takes into account the rules of Hebrew poetry. Finally, it found the didactic aspects of love in it including the right timing, a binding marriage, a charming character, equality, strong loyalty, role as a friend, communication, and solving problems quickly.Penafsiran yang populer terhadap Kidung Agung menyatakan bahwa puisi cinta di dalamnya merupakan penggambaran dari hubungan antara Tuhan dengan umat-Nya. Orang Yahudi memaknainya sebagai hubungan antara Yahweh dengan umat Israel (alegoris), sedangkan orang Kristen memaknainya sebagai hubungan antara Kristus dengan gereja (Kristologis). Namun bila mempertimbangkan genre kitab, pemakaian kata Ibrani dod, dan adanya puji-pujian fisik yang begitu intim antara Salomo dengan gadis Sulam, maka akan dimengerti bahwa Kidung Agung berisi selebrasi tentang cinta eros antara lelaki dan wanita sebagai pemberian Tuhan yang perlu dinikmati. Tidak sekedar urusan seksualitas dan sensualitas, Kidung Agung juga menyajikan dimensi lain di dalam seluruh pasalnya, yakni nilai-nilai pengajaran tentang hubungan cinta antara seorang laki-laki dan seorang wanita. Artikel ini ditulis untuk mengupas aspek didaktis tentang hubungan cinta seorang laki-laki dan seorang wanita di dalam seluruh kitab Kidung Agung. Metode yang akan dipakai adalah analisis tematis, dengan memakai perspektif literal yang memperhatikan kaidah-kaidah puisi Ibrani. Akhirnya, ditemukanlah aspek didaktis tentang cinta di dalamnya meliputi waktu yang tepat, pernikahan yang mengikat, karakter yang memikat, persamaan derajat, kesetiaan yang kuat, peran sebagai sahabat, komunikasi yang hangat, dan penyelesaian masalah dengan cepat.
Implikasi Teori Pendidikan Spiritualitas menurut Parker J. Palmer bagi Spiritualitas Pendidik Kristen di Gereja Merensiana Hale
HUPERETES: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 2, No 1 (2020): Desember 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46817/huperetes.v2i1.37

Abstract

Spirituality education is a necessity in the church. This becomes very important to note because, in the educational process, there is a tendency for educators to only maximize cognitively and ignore the spirituality of students. This paper aims to build the spirituality of educators in the church. This goal helps educators carry out spirituality education in the church. The method used to achieve the goal is descriptive qualitative. The result is that educators need to build and maintain Christian spirituality as the basis for educating educators in the church.Pendidikan spiritualitas merupakan kebutuhan dalam gereja. Hal ini menjadi sangat penting untuk diperhatikan sebab dalam proses mendidik ada kecenderungan bahwa pendidik hanya memaksimalkan kognitif dan mengabaikan spiritualitas nara didik. Tulisan ini bertujuan membangun spiritualitas pendidik dalam gereja. Tujuan ini menolong para pendidik dalam melakukan pendidikan spiritualitas di gereja. Metode yang digunakan untuk mencapai tujuan adalah kualitatif deskriptif. Hasilnya pendidik perlu membangun dan merawat spiritualitas Kristen sebagai dasar dalam mendidik naradidik di gereja. 
Studi Eksposisi tentang Penegasan Kembali Perjanjian Allah dengan Abraham dalam Kejadian 15:1-21 Yoseph Yoseph
HUPERETES: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 2, No 1 (2020): Desember 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46817/huperetes.v2i1.40

Abstract

The Bible reveals that every believer is given the privilege of being an heir (John 1:12), including as an heir of God's promises (Rom. 8:17; Gal. 4:7; Eph. 3:6). Even so, believers can still experience difficulties in life. The Bible shows that believers can also experience fluctuations in faith as a result of circumstances that occur around them, such as Abraham's example. Therefore, the discussion of Abraham's experience in Genesis 15:1-21 in waiting for God's promises becomes an interesting topic and contributes to believers today in trusting God and His care during life's struggles. There is also scope for this article to focus on exposition studies regarding the reaffirmation of God's covenant with Abraham regarding heirs and the promised land. This research uses the descriptive-analytical method, which describes or provides an overview of the object of research. The object of research is in the form of data obtained through an exposition study of the text which is the subject of discussion. Based on research it is found that figures like Abraham, including believers, can experience doubts about God's promises. But on the other hand, God remains faithful in fulfilling His covenant to Abraham by reaffirming His promises bound in a covenant ceremonial (Covenant).Alkitab mengungkapkan bahwa setiap orang percaya diberikan hak istimewa yaitu sebagai ahli waris (Yoh. 1:12), termasuk sebagai pewaris dari janji-janji Allah (Rm.8:17; Gal. 4:7; Ef. 3:6). Meskipun demikian orang percaya masih dapat mengalami kesulitan hidup. Alkitab menunjukkan bahwa orang percaya juga dapat mengalami fluktuasi dalam hal iman sebagai akibat dari keadaan yang terjadi disekitarnya, seperti contohnya Abraham. Oleh karena itu, pembahasan tentang pengalaman Abraham dalam Kejadian 15:1-21 dalam menanti janji Allah menjadi topik yang menarik dan memberi kontribusi bagi orang percaya masa kini dalam mempercayai Allah dan pemeliharaan-Nya di tengah pergumulan hidup. Ada pun lingkup pembahasan artikel ini adalah seputar studi eksposisi mengenai penegasan kembali perjanjian Allah dengan Abraham tentang ahli waris dan tanah perjanjian. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif – analitis, yaitu mendeskripsikan atau memberikan gambaran terhadap objek penelitian. Adapun objek penelitian itu berupa data yang diperoleh melalui studi eksposisi terhadap teks yang menjadi pokok pembahasan.  Berdasarkan penelitian ditemukan bahwa tokoh seperti Abraham, termasuk orang percaya, dapat mengalami keragu-raguan terhadap janji Allah. Namun di sisi lain, Allah tetap setia dalam memenuhi perjanjian-Nya kepada Abraham dengan memberikan penegasan kembali janji-Nya yang diikat dalam sebuah seremonial perjanjian (Covenant)
Membangun Kerukunan Antarumat Beragama dan Implikasinya bagi Misi Kristen Yonatan Alex Arifianto; Kalis Stevanus
HUPERETES: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 2, No 1 (2020): Desember 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46817/huperetes.v2i1.44

Abstract

Indonesia is a pluralistic nation because it consists of various races, languages, cultures, and religions. Diversity has the potential for horizontal conflict in society. Jesus commanded that Christians manifest love for others as well as for themselves. Sincere love will create harmony and harmony with others regardless of the differences in it. This research uses a descriptive qualitative method through exploring literature related to the topic and using parallel biblical texts that describe how believers carry out their call to live in harmony and at the same time carry out a Christian mission to save those who do not believe in Christ. From this research, it is concluded that the Christian mission is the application of the love of Christ. Love is the basis in society to foster tolerance and mutual respect for the rights of everyone, including belief. This reality must change the paradigm and practice of modern Christian mission. Christian mission must stick to the Bible which affirms that faith in Christ is an absolute requirement of salvation. Therefore, there is no reason for the believer or the church not to carry out this missionary command by maintaining religious harmony so that it can be a blessing for those who do not know Christ.Indonesia adalah bangsa yang majemuk karena terdiri dari berbagai suku, bahasa, budaya dan agama. Kemajemukan memiliki potensi konflik horisontal di masyarakat. Yesus memerintahkan agar orang Kristen mewujudkan kasih kepada sesama seperti kepada diri sendiri. Kasih yang tulus akan menciptakan kerukunan dan keharmonisan dengan sesama tanpa memandang perbedaan yang ada di dalamnya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif melalui menggali literatur yang berkaitan dengan topik dan menggunakan teks-teks paralel Alkitab yang mendeskripsikan bagaimana orang percaya menjalankan panggilan untuk hidup rukun sekaligus mengemban misi Kristen untuk menyelamatkan mereka yang belum percaya pada Kristus. Melalui penelitian ini disimpulkan bahwa misi Kristen adalah penerapan dari kasih Kristus. Kasih itu menjadi dasar dalam  bermasyarakat untuk menumbuhkembangkan sikap toleransi dan saling menghormati hak-hak setiap orang termasuk berkeyakinan.  Realitas ini harus mengubah paradigma dan praktik dari misi Kristen modern. Misi Kristen harus tetap berpegang teguh pada Alkitab yang menegaskan bahwa iman dalam Kristus sebagai persyaratan mutlak keselamatan. Tetapi tidak ada alasan bagi orang percaya atau gereja untuk tidak menjalankan perintah misioner tersebut dengan tetap menjaga kerukunan beragama agar dapat menjadi berkat bagi orang yang belum mengenal Kristus.
Integrasi Integritas dan Lingkungan Sosial untuk Membentuk Reputasi: Analisis Sastra Hikmat Amsal 22:1-2 Farel Yosua Sualang; Eden Edelyn Easter
HUPERETES: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 2, No 1 (2020): Desember 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46817/huperetes.v2i1.46

Abstract

This article describes the integration of integrity and the social environment that shapes a person's reputation based on the study of Proverbs 22:1-2, which uses the research method of wisdom literature analysis with 4 (four) interpretations, namely: literal interpretation, context, structure and figures of speech. This study aims to discover a concept and a sustainable application of integrity and the social environment to one's reputation. Even so, many interpreters (such as Solomon Olusola Ademiluka, Kathrine J. Dell and Allen P. Ross, and others) only emphasized a one-way process from reputation to social environment. However, reputation is not a single concept but departs from the factor of integrity and the social environment in its use of Proverbs 22:1-2. This process is based on the author's explanation of the factors of integrity (Integrity towards Personality, Integrity towards Emotional Intelligence) and social environmental factors (Social Environment towards Social Relations and Social Environment towards Generosity) which are interrelated with one another.Artikel ini menjelaskan mengenai integrasi integritas dan lingkungan sosial yang membentuk reputasi seseorang berdasarkan studi Amsal 22:1-2, yang mana menggunakan metode penelitian analisis sastra hikmat dengan 4 (empat) penafsiran, yaitu: penafsiran literal, konteks, struktur dan kiasan. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan suatu konsep dan penerapan secara berkelanjutan terhadap integrasi integritas dan lingkungan sosial terhadap reputasi seseorang. Sekalipun banyak penafsir (seperti: Solomon Olusola Ademiluka, Kathrine J. Dell dan Allen P. Ross dan lain-lain) hanya menekankan suatu proses searah dari reputasi kepada lingkungan sosial. Namun, reputasi bukan sebuah konsep tunggal, melainkan berangkat dari faktor integritas dan lingkungan sosial dalam penggunaannya Amsal 22:1-2. Proses ini didasarkan kepada penjelasan penulis mengenai faktor integritas (Integritas ke arah Kepribadian, Integritas ke arah Kecerdasan Emosional) dan faktor lingkungan sosial (Lingkungan Sosial ke arah Relasi Sosial dan Lingkungan Sosial ke arah Murah Hati) yang saling berkaitan satu dengan lainnya.

Page 1 of 1 | Total Record : 7