cover
Contact Name
Bayu Eka Riarsa Thira
Contact Email
bayu.thira@stikesrespati-tsm.ac.id
Phone
+6281223004727
Journal Mail Official
lppm@stikesrespati-tsm.ac.id
Editorial Address
Jl. Singaparna KM. 11 Cikunir Singaparna Tasikmalaya Jawa Barat 46181
Location
Kab. tasikmalaya,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Kesehatan Bidkemas
ISSN : 20879822     EISSN : 29882699     DOI : 10.48186/bidkemas
Core Subject : Health,
Jurnal Kesehatan BIDKEMAS STIKes Respati Tasikmalaya, terlahir dari motivasi dan inovasi para dosen untuk ikut berkiprah mengembangkan dunia riset dalam bidang kesehatan. Adanya tuntutan informasi yang semakin berkembang maka keberadaan jurnal kesehatan BIDKEMAS ini diharapkan mampu memberikan kontribusi yang berarti bagi lingkungan akademik khususnya bidang kesehatan dan berdaya guna bagi institusi lainnya yang sangat membutuhkan informasi riset dalam lingkup profesi Kebidanan dan Kesehatan Masyarakat. Jurnal Kesehatan BIDKEMAS akan diterbitkan setiap pertengahan tahun (6 bulan sekali) dan memuat hasil riset untuk mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan baik dalam kebidanan maupun kesehatan masyarakat. Keberadaan jurnal BIDKEMAS mendapatkan pengelolaan khusus dari dewan redaksi sehingga setiap terbitan diharapkan mampu mendapatkan penerimaan yang baik dikalangan pengguna.
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol. 9 No. 1 (2018): Februari 2018" : 8 Documents clear
GAMBARAN FAKTOR RESIKO PARTUS PRETERM DI RS SMC KABUPATEN TASIKMALAYA TAHUN 2016 Novi Endah D.S., A.Md.Keb; Santi Susanti, S.SiT, M.Kes
JURNAL KESEHATAN BIDKEMAS RESPATI Vol. 9 No. 1 (2018): Februari 2018
Publisher : STIKes Respati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.48186/bidkes.v9i1.79

Abstract

Persalinan prematur merupakan penyebab utama terjadinya AKB yaitu sebesar 60-80% morbiditas dan mortalitas neonatal di seluruh dunia. Beberapa faktor yang mempengaruhi terhadap kejadian persalinan prematur adalah usia ibu, pekerjaan ibu, status gizi, kondisi sosio-ekonomi, riwayat persalinan sebelumnya, paritas, jarak kelahiran, antenatal care, dan penyakit kehamilan. Penelitian yang dilakukan di Rumah Sakit Singaparna Medika Citra Utama (RS SMC) diperoleh kasus kejadian partus preterm pada tahun 2016 sebanyak 506 orang (25,20%) dari jumlah ibu yang melahirkan sebanyak 2008. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan gambaran faktor resiko partus preterm di RS SMC Singaparna Kabupaten Tasikmalaya tahun 2016. Metode penelitian ini menggunakan deskriptif dengan pendekatan restrospektif. Subjek penelitian ini adalah seluruh ibu yang melahirkan partus premature tahun 2016 sebanyak 506 orang dengan sampel menggunakan simple random sampling sebanyak 84 orang. Teknik analisa data menggunakan analisis univariat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persalinan prematur pada ibu bersalin ada pada kategori preterm yaitu sebesar 63,1%, rata-rata umur ibu 28 tahun, paritas ada pada kategori multipara sebesar 53,6%, KPSW ada pada kategori tidak terjadi KPSW sebesar 69,0%, tidak terjadi gemeli sebesar 86,9%, tidak terjadi preeklamsia sebesar 69,0%, tidak terjadi ekslamsia sebesar 95,2%, tidak terjadi plasenta previa sebesar 86,9%, tidak terdapat penyakit yang menyertai sebesar 94,0%, tidak mempunyai riwayat persalinan preterm sebesar 77,4%. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa faktor penyebab terjadinya persalinan adalah umur, paritas, KPSW, gameli, preeklamsia, eklamsia, plasenta previa, penyakit yang menyertai, dan riwayat persalinan prematur. Hendaknya bidan memberikan pelayanan ANC secara terpadu sesuai dengan pedoman agar dapat mendeteksi secara dini faktor resiko terjadinya partus preterm.
GAMBARAN FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB KEMATIAN BAYI 0-12 BULAN DI RSUD SMC KABUPATEN TASIKMALAYATAHUN 2016 Neni Nuraeni, Am.Keb; Chanty Yunie Hartiningrum, SST, M.Kes
JURNAL KESEHATAN BIDKEMAS RESPATI Vol. 9 No. 1 (2018): Februari 2018
Publisher : STIKes Respati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.48186/bidkes.v9i1.80

Abstract

Angka kematian bayi di Indonesia masih cukup tinggi.Tedapat banyak faktor yang berkontribusi terhadap tinginya angka kematian ibu dan angka kematian bayi.Diantaranya faktor langsung dan faktor tidak langsung.Data yang diperoleh dari RSUD SMC Kabupaten Tasikmalaya. Jumlah kematian bayi tahun 2015 mencapai 186 kematian bayi (16.1%) dari 1.158 kelahiran, sedangkan pada tahun 2016 kasus kematian bayi menjadi 236 kasus (19.0%) dari 1.240 ibu melahirkan.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran faktor-faktor penyebab kematian bayi 0-12 bulan di RSUD SMC Kabupaten Tasikmalaya pada tahun 2016.Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan metode deskriptifretrospektif.sampel dalam penelitian ini seluruh bayi yang meninggal sebanyak 171 kasus diperoleh dengan teknik total sampling.Data diperoleh dengan menggunakan format isian yang berisikan tentang penyebab kematian bayi. Hasil penelitian diketahui bahwa Faktor kematian bayi pada tahun 2016 disebabkan karena faktor asfiksia (50.9%), prematur (8.8%), BBLR (57.3%), sepsis (7.0%), pneumonia (3.5%) dan aspirasi (2.3%), karena komplikasi persalinan berupa KPD (5.8%), prematur (8.8%), jenis persalinan pontan (74.9%),SC (25.1%), anemia (8.8%), preklampsia/eklampsia (2.9%) dan hipertensi (1.2%), usia resiko tinggi (22.2%), dan grandepara (8.2%) Kesimpulan dari penelitian bahwa penyebab kematian bayi tertinggi yaitu disebabkan oleh BBLR, asfiksia, bayi yang dilahirkan secara spontan dan ibu hamil dengan resiko tinggi. Oleh karena itu bidan disarankan memberikan pendekatan dan penyuluhan kepada ibu yang mempunyai resiko terhadap kematian bayi agar kematian bayi dapat dicegah sedini mungkin.
GAMBARAN PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN ANAK USIA 12 BULAN YANG DIBERI ASI EKSKLUSIF DAN YANG TIDAK DIBERI ASI EKSKLUSIF DI DESA BARUMEKAR KECAMATAN PARUNGPONTENG KABUPATEN TASIKMALAYA TAHUN 2017 Mutiah AMd.Keb; Hapi Apriasih, SST, M.Kes
JURNAL KESEHATAN BIDKEMAS RESPATI Vol. 9 No. 1 (2018): Februari 2018
Publisher : STIKes Respati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.48186/bidkes.v9i1.81

Abstract

Pemberian ASI Eksklusif sangatlah penting bagi bayi karena nutrisi yang baik pada masa bayi, dapat menyebabkan kesehatan yang baik, pertumbuhan dan perkembangan yang optimal selama beberapa bulan pertama kehidupan. Hasil studi pendahuluan yang peneliti lakukan di Kabupaten Tasikmalaya tahun 2016 cakupan ASI Eksklusif adalah 33,71 % dari target sebesar 65,5%, dan di Wilayah Kerja Puskesmas Parungponteng Kabupaten Tasikmalaya merupakan puskesmas ke-1 terendah masalah cakupan ASI Eksklusif sebesar 8,1%. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran pertumbuhan dan perkembangan Anak Usia 12 bulan yang diberi ASI Eksklusif dan yang tidak diberi ASI Eksklusif. Penelitian ini bermanfaat sebagai masukkan bagi ibu untuk meningkatkan kesadaran pentingnya pemberian ASI Eksklusif. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan observasional. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Barumekar Kecamatan Parungponteng dengan waktu penelitian bulan Maret-April 2017. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling, dengan jumlah responden anak usia 12 bulan yang diberi ASI Eksklusif sebanyak 11 orang, dan yang tidak diberi ASI Eksklusif sebanyak 19. Instrumen penelitian yang digunakan adalah lembar observasi, KMS dan KPSP. Analisa data menggunakan analisa univariat dengan menggunakan rumus persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan anak usia 12 bulan yang diberikan ASI Eksklusif ada pada kategori normal (100%), sedangkan yang tidak diberi ASI Eksklusif ada pada kategori tidak normal (36,8%). Perkembangan anak usia 12 bulan yang diberi ASI Eksklusif ada pada kategori sesuai (100%), sedangkan yang tidak diberi ASI Eksklusif hanya beberapa orang yang meragukan (15,8%). Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa pertumbuhan dan perkembangan bayi usia 12 bulan dapat dipengaruhi oleh pemberian ASI Eksklusif. Disarankan masyarakat/ ibu yang mempunyai anak usia 12 bulan untuk memperdalam mengenai manfaat ASI Eksklusif, dan harus memberikan ASI Eksklusif minimal 6 bulan setelah bayi baru lahir, agar pertumbuhan dan perkembangan anak optimal
FAKTOR-FAKTOR RISIKO YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN PNEUMONIA PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SARIWANGI KABUPATEN TASIKMALAYA TAHUN 2018 Wuri Ratna Hidayani, S.KM.,M.Sc.
JURNAL KESEHATAN BIDKEMAS RESPATI Vol. 9 No. 1 (2018): Februari 2018
Publisher : STIKes Respati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.48186/bidkes.v9i1.82

Abstract

Latar Belakang : Case fatality rate pneumonia di Provinsi Jawa Barat yaitu pada balita kurang dari 1 tahun sebesar 0,11 %, umur 1-4 tahun 0,00% dan umur 0-4 tahun sebesar 0,04 %. Kabupaten Tasikmalaya menempati peringkat ke 12 se Jawa Barat penemuan kasus pneumonia dan ditangani pada balita yaitu sebanyak 5.351 kasus (34,4%). Rendahnya cakupan kesehatan balita, perilaku tidak sehat, sosial ekonomi menjadi penyebab morbiditas pneumonia. Beberapa program penanggulangan penyakit ISPA tersebut belum menurunkan kejadian ISPA khususnya pneumonia pada balita. Tujuan : Penelitian ini bertujuan mengetahui faktor-faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian pneumonia balita yaitu mengetahui hubungan antara status imunisasi, status pemberian vitamin A, status gizi balita, ASI Ekslusif, BBLR, kebiasaan merokok, kebiasaan membuka jendela, tingkat penghasilan keluarga, program P2 ISPA promosi kesehatan penanggulangan pneumonia, kunjungan rumah pneumonia atau care seeking, pelayanan MTBS dengan kejadian pneumonia balita di Wilayah kerja Puskesmas Sariwangi. Metode : Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian observasional analitik dengan rancangan kasus kontrol. Pengambilan sampel yang dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Sariwangi secara totality sampling, sampel yang diambil 6 bulan terakhir yaitu Agustus-Januari 2018 terdiri dari 21 kasus dan 42 kontrol. Pengumpulan data menggunakan kuesioner. Analisis data yang digunakan adalah analisis univariat, analisis bivariat dan analisis multivariat menggunakan Regresi Logistik. Hasil : Hasil analisis bivariat (menggunakan tabel 2x2) menunjukkan bahwa secara statistik menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara status imunisasi (OR sama dengan 10,0;p sama dengan 0,000), status pemberian vitamin A (OR sama dengan 5,55; p=0,005) ASI Ekslusif (OR sama dengan 4,55; p sama dengan 0,009), BBLR (OR sama dengan 6,50; p sama dengan 0,020), kebiasaan membuka jendela (OR sama dengan 3,19; p sama dengan 0,044), kunjungan rumah pneumonia atau care seeking (OR sama dengan 0,01;p sama dengan 0,000), dengan kejadian pneumonia balita di Wilayah kerja Puskesmas Sariwangi. Tidak ada hubungan antara status gizi balita (OR sama dengan 3,08;p sama dengan 0,059), kebiasaan merokok (OR sama dengan 1,00;p sama dengan 1,000), tingkat penghasilan keluarga (OR sama dengan 1,00; p sama dengan 1,000), program P2 ISPA promosi kesehatan penanggulangan pneumonia (OR sama dengan 1,96; p sama dengan 0,210), pelayanan MTBS (OR sama dengan 0,74; p sama dengan 0,582) dengan kejadian pneumonia balita di Wilayah kerja Puskesmas Sariwangi Hasil analisis regresi logistik yang memasukkan semua faktor secara bersama-sama diketahui hasil model akhir yaitu kunjungan rumah pneumonia atau care seeking merupakan faktor dominan yang merupakan faktor protektif pneumonia balita. Kesimpulan : Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa kunjungan rumah pneumonia atau care seeking mempunyai hubungan yang bermakna dengan kejadian pneumonia balita di wilayah kerja Sariwangi.
GAMBARAN PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN BAYI DENGAN RIWAYAT BBLR DI WILAYAH KERJA UPTD PUSKESMAS PAGERAGEUNG KABUPATEN TASIKMALAYA TAHUN 2017 Laras Sekarkinanti; Tupriliany Danefi, SST, M.Kes
JURNAL KESEHATAN BIDKEMAS RESPATI Vol. 9 No. 1 (2018): Februari 2018
Publisher : STIKes Respati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.48186/bidkes.v9i1.83

Abstract

Kejadian Berat Badan Lahir Rendah di wilayah kerja UPTD Puskesmas Pagerageung Kabupaten Tasikmalaya tahun 2016 mengalami peningkatan dari tahun 2015. Pada tahun 2015 kejadian BBLR sebanyak 30 bayi (4,12%), sedangkan tahun 2016 menjadi 32 bayi (4,18%). BBLR sering kali menyebabkan komplikasi. Komplikasi jangka panjang diantaranya gangguan pertumbuhan dan gangguan perkembangan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui gambaran pertumbuhan dan perkembangan bayi dengan riwayat BBLR di wilayah kerja UPTD Puskesmas Pagerageung Kabupaten Tasikmalaya Tahun 2017. Adapun manfaat dari penelitian ini adalah diharapkan dapat memberikan kontribusi pada pengembangan ilmu kebidanan khususnya tentang pertumbuhan dan perkembangan bayi. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan metode deskriptif. Populasi dalam penelitian ini sebanyak 28 bayi yang memiliki riwayat BBLR dengan teknik pengambilan sampel yaitu total sampling. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar format DDST atau observasi dan kuesioner dan diolah dengan menggunakan analisisunivariat. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa sebagian besar bayi dengan riwayat BBLR mengalami pertumbuhan yang sesuai. Pada perkembangan bayi didapatkan hasil perkembangan tingkah laku sosial, bahasa dan motorik halus mengalami perkembangan yang sesuai tetapi pada perkembangan motorik kasar sebagian besar mengalami perkembangan yang tidak sesuai. Simpulan penelitian ini yaitu bayi dengan riwayat BBLR mempunyai resiko kecil untuk mendapatkan keterlambatan pertumbuhan namun mempunyai resiko lebih besar terjadinya keterlambatan perkembangan khususnya perkembangan motorik kasar. Saran kepada tenaga kesehatan serta orangtua untuk memantau pertumbuhan dan perkembangan bayi serta memberikan stimulasi secara optimal.
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERILAKU KUNJUNGAN IBU BALITA KE POSYANDU DI DESA SINGASARI KECAMATAN SINGAPARNA KABUPATEN TASIKMALAYA TAHUN 2015 Erna Nurjanah
JURNAL KESEHATAN BIDKEMAS RESPATI Vol. 9 No. 1 (2018): Februari 2018
Publisher : STIKes Respati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.48186/bidkes.v9i1.85

Abstract

Pos pelayanan terpadu (Posyandu) adalah suatu forum komunikasi, alih teknologi dan pelayanan kesehatan masyarakat yang mempunyai nilai strategis untuk pengembangan sumber daya manusia sejak dini. Data cakupan posyandu dari 8 Desa yang ada di Puskesmas Singaparna selama 4 bulan terakhir (Januari – April) mengalami penurunan di Desa Singasari yaitu 52,0%. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang berhubungan dengan perilaku kunjungan ibu balita ke Posyandu di Desa Singasari Kecamatan Singaparna Kabupaten Tasikmalaya Tahun 2015. Manfaat dari penelitian ini dapat menjadi bahan pengembangan ilmu Kesehatan Masyarakat khususnya pada bidang kesehatan ibu dan dan anak, gizi, promkes dan ilmu perilaku dengan titik berat pada kajian tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku kunjungan ibu balita ke Posyandu. Metode penelitian ini adalah analitik, pendekatan cros sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah ibu yang memiliki balita usia 4-59 bulan sebanyak 315 orang. Sampel yang di ambil sebanyak 76 orang di peroleh dengan teknik simple random sampling. Data di kumpulkan dengan kuesioner kemudian di analisis dengan menggunakan analisis univariat dan bivariat. Hasil penelitian menunjukan bahwa mayoritas pendidikan responden kategori dasar (55,3%), mayoritas responden tidak bekerja (53,9%), pengetahuan responden baik (60,5%), dukungan keluarga responden ada dukungan (55,3%), dukungan tokoh masyarakat responden mendukung (56,6%), jarak rumah responden sebagian besar dekat (55,3), kunjungan ibu balita termasuk kategori rutin (57,9%) dan ada hubunga antara pendidikan, pekerjaan, pengetahuan, dukungan keluarga, dukungan tokoh masyarakat serta jarak rumah dengan kunjungan ibu balita ke posyandu. Kesimpulan dalam penelitian ini adalah terdapat hubunga antara pendidikan, pekerjaan, pengetahuan, dukungan keluarga, dukungan tokoh masyarakat serta jarak rumah dengan kunjungan ibu balita ke posyandu. Berdasarkan hal ini dinas kesehatan, puskesmas harus lebih intensif mengadakan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan posyandu dan bagi ibu balita harus mengikuti kegiatan-kegiatan di posyandu serta lintas sector di harapkan bisa lebih mendukung kegiatan posyandu.
PERBEDAAN PENGETAHUAN IBU HAMILSEBELUM DAN SESUDAH KONSELING TENTANG PENTINGNYA NUTRISI IBU HAMIL DI KECAMATAN CISAYONG TAHUN 2017 chanty Yunie HR; Merry Dwijanti
JURNAL KESEHATAN BIDKEMAS RESPATI Vol. 9 No. 1 (2018): Februari 2018
Publisher : STIKes Respati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.48186/bidkes.v9i1.328

Abstract

Angka Kematian Ibu (AKI) atau Maternal Mortality Rate (MMR) menggambarkan besarnya resiko kematian ibu pada fase kehamilan, persalinan dan masa nifas atau pengelolaannya tetapi bukan karena sebab-sebab lain seperti kecelakaan atau terjatuh di setiap 100.000 kelahiran hidup dalam satu wilayah pada kurun waktu tertentu. Angka Kematian Ibu (AKI) nasional Indonesia tahun 2015 mencapai angka 305/100.000 kelahiran hidup (Dinkes RI, 2017). Gizi merupakan faktor penting yang berpengaruh terhadap kualitas seseorang termasuk ibu hamil. Penelitian ini adalah penelitian eksperimen sebelum dan sesudah satu kelompok. Populasi dalam penelitian ini adalah semua ibu hamil di Kecamatan Cisayong Tahun 2017.Sampel penelitian ini adalah sebagaian ibu hamil di Kecamatan Cisayong dengan teknik pengambilan sampling secara simple random sampling berjumlah 20 ibu hamil. Karakteristik responden pada 20 ibu hamil yaitu berdasarkan pekerjaan IRT memiliki proporsi paling banyak (75,0%) dibandingkan responden pedagang (25,0%).sedangkan berdasarkan umur menunjukkan bahwa responden yang berumur 16-20 tahun memiliki proporsi tertinggi (50,0), sedangkan responden yang berumur 21-25 tahun dan 26-20 tahun memiliki proporsi terendah (25,0). Hasil analisis bivariate menunjukkan ada perbedaan pengetahuan ibu hamil tentang nutrisi ibu hamil sebelum dan sesudah konseling.
GAMBARAN PENGETAHUAN SISWI TENTANG MENJAGA ORGAN REPRODUKSI DI SMA X KABUPATEN TASIKMALAYA TAHUN 2017 Widya Maya Ningrum; Susyanti Susyanti
JURNAL KESEHATAN BIDKEMAS RESPATI Vol. 9 No. 1 (2018): Februari 2018
Publisher : STIKes Respati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.48186/bidkes.v9i1.342

Abstract

Masalah kesehatan yang dapat diakibatkan karena kebersihan organ reproduksi yang kurang baik yaitu timbul beberapa penyakit kelamin seperti kanker serviks, keputihan, iritasi kulit genital, alergi, peradangan atau infeksi saluran kemih. Di Indonesia sebanyak 75% wanita pernah mengalami keputihan minimal 1 kali dalam hidupnya dan 45% diantaranya mengalami keputihan sebanyak dua kali atau lebih.Data statistik Indonesia 2008, dari 43,3 juta jiwa remaja perempuan yang berusia 15-24 tahun berperilaku tidak sehat seperti saat mengalami menstruasi mengganti pembalut harus menunggu penuh (Maghfiroh, 2010). Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui Gambaran pengetahuan siswi tentang menjaga organ reproduksi di SMA X Kabupaten Tasikmalaya tahun 2017Desain penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Populasi dari penelitian ini adalah Siswa kelas X dan XI di SMA X Tahun 2017. Tehnik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling. Pengambilan sampel pada penelitian ini adalah siswi yang memenuhi kriteria inklusi: remaja putri, bersedia menjadi responden sebanyak 68 orang.Variabel dalam penelitian ini adalah pengetahuan tentang menjaga kesehatan organ reproduksi. Instrumen yang digunakan adalah format isian yang tehnik pengambilan data penelitiannya dilakukan secara langsung terhadap responden. Analisis data yang digunakan adalah analisis univariat yang dihitung persentasenya kemudian disajikan dalam bentuk persentase dan naratif.Berdasarkan tabel diatas didapatkan bahwa mayoritas tingkat pengetahuan termasuk kategori kurang yaitu 45 (66,2%).Berdasarkan tabel diatas didapatkan bahwa mayoritas responden kurang mengetahui tentang cara membersihkan vagina secara benar, memiliki persepsi membersihkan vagina harus menggunakan sabun, penyakit akibat tidak menjaga kebersihan organ reproduksi, cara menjaga kesehatan reproduksi saat menstruasi serta aktifitas yang merugikan organ reproduksi.Berdasarkan tabel diatas didapatkan bahwa mayoritas tingkat pengetahuan termasuk kategori kurang yaitu 45 (66,2%).Saran bagi pihak sekolah, dapat melakukan kerjasama dengan instansi kesehatan seperti puskesmas untuk melakukan pembinaan kesehatan reproduksi remaja melaluikegiatanedukasi kesehatan secara berkesinambungan

Page 1 of 1 | Total Record : 8