cover
Contact Name
Andree Wijaya Setiawan
Contact Email
fpb.andre@uksw.edu
Phone
+628156580993
Journal Mail Official
jurnal.agric@adm.uksw.edu
Editorial Address
Fakultas Pertanian dan Bisnis Universitas Kristen Satya Wacana Gedung I, Jl. Diponegoro 52-60 Salatiga 50711 Jawa Tengah - Indonesia
Location
Kota salatiga,
Jawa tengah
INDONESIA
AGRIC
ISSN : 08549028     EISSN : 25499343     DOI : https://doi.org/10.24246/agric.2023.v35.i1
AGRIC Journal of Agricultural Science is a peer-reviewed and published two times a year by Agriculture and Business Faculty of Universitas Kristen Satya Wacana. Agric journal publishes original articles on agronomy, horticulture, plant breeding, plant science, pest or diseases of plant, agriculture and food processing, food science, microbiology, biotechnology, agribusiness.
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol. 29 No. 2 (2017)" : 7 Documents clear
PENGENDALIAN PENYAKIT TUNGRO MELALUI ELIMINASI PERAN VEKTOR WERENG HIJAU DENGAN PENGENDALIAN RAMAH LINGKUNGAN Dini Yuliani; I Nyoman Widiarta
Agric Vol. 29 No. 2 (2017)
Publisher : Fakultas Pertanian dan Bisnis, Universitas Kristen Satya Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24246/agric.2017.v29.i2.p77-88

Abstract

Green leafhopper (GLH)plays an important role in tungro disease epidemics. Reduce the activity of GLHsuckasvectorsof tungro virus was effective to limit transmission of the virus. Integrated control of tungro disease may involve multiple components at once including using sambilata with entomopathogenicfungus Metarhiziumanisopliae. This research was conducted to determine the effect of sambilata and M.anisopliaein controlling the GLH as tungro virus vectors. The experiment was conducted in tungro endemic areas in Tanjungsiang,Subang District at dry season 2013 and wet season 2013/2014. Experiments using split plot design with four replications. The main plot was consists of GLH resistant varieties(IR66), tungro resistant varieties (Inpari 9), and check varieties(Ciherang). The subplots were M.anisopliae applications, sambilata, and control. Application was done on rice plant age 14, 28 and 42 days after planting (DAP).The results showed that the intensity of tungro on Ciherang showed the highest intensity compared toIR66 and Inpari9. Effect of entomopathogenic fungus M.anisopliae application to tungro disease showed a lower intensity compared with sambilata extracts and control. The intensity of tungro disease in farmers’ fields as a comparison of experiment was high enough on average between 1 until 69%. In general, the density of GLH population began to increase on the observation of 14 to 28 DAP. GLH population density was highest at 28 DAP. However, the population density of GLH decreased at 42 until 56 DAP.
PERBANDINGAN HASIL ANALISIS KEKERABATAN PADI LOKAL BERDASARKAN KARAKTER KUALITATIF DAN KUANTITATIF Wage Ratna Rohaeni; Nani Yunani
Agric Vol. 29 No. 2 (2017)
Publisher : Fakultas Pertanian dan Bisnis, Universitas Kristen Satya Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24246/agric.2017.v29.i2.p89-102

Abstract

Karakter morfo-agronomik terdiri dari dua jenis yaitu karakter kualitatif dan kuantitatif. karakter kualitatif bersifat diskret dan berupa data skore sedangkan kuantitatif bersifat kontinyu dan terukur. Analisis kekerabatan penting bagi pemulia untuk mengetahui jarak genetik antar genotype dan untuk menentukan tetua persilangan. Diduga terdapat perbedaan hasil analisis kekerabatan genetik berdasarkan data karakter kualitatif dengan kuantitatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan hasil analisis kekerabatan berdasarkan informasi data kualitatif dan kuantitatif hasil karakterisasi fenotipik padi lokal. Sebanyak 43 padi lokal Jawa Barat digunakan pada kegiatan karakterisasi fenotipik. Karakter kualitatif yang diamati sebanyak 24 karakter dan kuantitatif sebanyak 23 karakter. Karakter-karakter tersebut merupakan hasil karakterisasi MT 2 2014 di Kebun Percobaan Sukamandi-BB Padi. Analisis data menggunakan Minitab versi 14. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil analisis kekerabatan dengan menggunakan data kualitatif, kuantitatif maupun kombinasi keduanya tidak berbeda nyata pada komponen analisis jumlah Kluster dan level kesamaan. Perbedaan nyata terdapat pada level jarak genetik. Pola distribusi anggota Kluster pada hasil analisis dendogram berdasarkan data karakter kualitatif berbeda dengan hasil analisis dendogram berdasarkan data karakter kuantitatif dan kombinasi. Analisis kekerabatan antar genotipe direkomendasikan menggunakan data kombinasi dari karakter kualitatif dan kuantitatif agar informasi jarak genetik antar genotype lebih valid.
KAJIAN SIFAT KIMIA LAHAN GAMBUT PADA BERBAGAI LANDUSE Yondra Yondra; Nelvia Wawan
Agric Vol. 29 No. 2 (2017)
Publisher : Fakultas Pertanian dan Bisnis, Universitas Kristen Satya Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24246/agric.2017.v29.i2.p103-112

Abstract

Hutan alam rawa gambut yang dialihfungsikan dapat merubah sifat kimia tanah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana perubahan sifat kimia tanah yang terjadi setelah dilakukannya alih fungsi lahan dari hutan rawa gambut menjadi kebun sawit, HTI Acacia crasicarpa, dan kebun sagu serta mengetahui jenis tanaman mana yang bersifat sustainable (berkelanjutan) pada lahan gambut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pH tanah mengalami peningkatan setelah dilakukannya alih fungsi lahan. Sedangkan kadar air mengalami penurunan. Sifat kimia seperti C-organik, kadar abu, KTK, kejenuhan basa, hara makro (NPK) dan basa-basa dapat ditukar juga mengalami perubahan setelah mengalami perubahan landuse, akan tetapi tidak terdapat pelanggaran berdasarkan pada undang undang yang dibuat oleh pemerintah pada PP. No 25 Tahun 2000 tentang kriteria kerusakan gambut dan Peraturan Pemerintah No. 150 Tahun 2000 tentang pengendalian kerusakan tanah untuk produksi biomasa. Sagu adalah tanaman yang paling sustainable dibanding lainnya karena mengalami perubahan sifat kimia tanah tidak terlalu jauh berbeda dengan landuse lainnya meskipun ditanam dalam jangka waktu yang lama.
PENERAPAN DRIP IRRIGATION PADA PERTUMBUHAN TANAMAN KAPAS (Gossypium sp.) Syahruni Thamrin; Budiman Budiman; Baso Darwisah; Junaedi Junaedi
Agric Vol. 29 No. 2 (2017)
Publisher : Fakultas Pertanian dan Bisnis, Universitas Kristen Satya Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24246/agric.2017.v29.i2.p113-120

Abstract

Kondisi penanaman kapas di Sulawesi Selatan selalu terkendala dalam pemenuhan air. Semua tahap pertumbuhan tanaman tidak optimal untuk meningkatkan produksi, sehingga perlu adanya teknologi pengelolaan air yang baik, seperti melalui penyediaan air bersih dengan sistem irigasi tetes. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi pengelolaan irigasi pada tanaman kapas dengan menggunakan sistem irigasi tetes. Model aplikasi dengan merancang sistem irigasi tetes dan penanaman kapas di lahan disiapkan sebagai plot demonstrasi. Pengamatan dilakukan pada fase perkecambahan dan fase vegetatif tanaman awal. Berdasarkan hasil desain irigasi tetes, laju alir emiter (EDR) adalah 34.266 mm / jam dengan waktu operasi 4.08 menit / hari. Dari pengamatan pertumbuhan kapas, diketahui bahwa waktu perkecambahan berlangsung dari 6 sampai 13 hari setelah tanam, rata-rata tinggi tanaman mencapai 119,66 cm, dengan jumlah daun rata-rata 141,93 buah dan jumlah bolls rata-rata 57,16 boll.
ANALISIS SUBSEKTOR PERTANIAN UNGGULAN KABUPATEN/KOTA DI PROVINSI BENGKULU Agung Ridho Pratama; Ketut Sukiyono; Nyayu Neti Arianti
Agric Vol. 29 No. 2 (2017)
Publisher : Fakultas Pertanian dan Bisnis, Universitas Kristen Satya Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24246/agric.2017.v29.i2.p121-136

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisa dan menentukan subsektor pertanian unggulan di kabupaten/kota di Provinsi Bengkulu dan kondisi subsektor pertanian unggulan kabupaten/ kota sebagai daerah utama di Provinsi Bengkulu sebelum dan sesudah perluasan wilayah. Metode analisis yang digunakan adalah Location Quotient (LQ), Dynamic Location Quotient (DLQ), analisis Shift-Share analysis (SS) dan Overlay. Penelitian ini menggunakan data sekunder PDRB Bruto (PDRB) kabupaten/kota dan Provinsi Bengkulu dari tahun 2004 sampai dengan tahun 2014 berdasarkan harga dasar konstan. Berdasarkan analisis overlay, subsektor peternakan dan subsektor tanaman perkebunan adalah subsektor unggulan. Subsektor peternakan terkemuka, subsektor maju, memiliki daya saing di Kota Bengkulu dan Kaur. Di Bengkulu Selatan, sebelum wilayah ekspansi, subsektor perikanan menjadi satu-satunya subsektor unggulan pertanian. Setelah ekspansi, subsektor pertanian terkemuka meningkat ke subsektor perikanan dan subsektor peternakan. Di Rejang Lebong, subsektor tanaman pangan tetap merupakan subsektor unggulan pertanian sebelum dan sesudah melakukan ekspansi. Sementara di Bengkulu Utara, sebelum perluasan areal subsektor peternakan sebagai subsektor unggulan pertanian. Saat melakukan ekspansi, posisi subsektor peternakan digantikan oleh subsektor perikanan.
PERAN AGEN HAYATI AZOTOBACTER-TRICHODERMA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL CABAI MERAH (Capsicum annuum L.) PADA PERCOBAAN POT Reginawanti Hindersah; Priyanka Asmiran; June Putinella; Wilhelmina Rumahlewang; Marthin Kalay
Agric Vol. 29 No. 2 (2017)
Publisher : Fakultas Pertanian dan Bisnis, Universitas Kristen Satya Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24246/agric.2017.v29.i2.p137-146

Abstract

Mikroba tanah dapat digunakan sebagai input pertanian. Rizobakteri Azotobacter pemfiksasi nitrogen menjaga ketersediaan unsur hara nitrogen dan pertumbuhan tanaman sedangkan Trichoderma mampu menurunkan kejadian penyakit tular tanah melalui aktivitas antagonistik. Percobaan pot ini bertujuan untuk mendapatkan dosis dan waktu aplikasi inokulan Azotobacter- Trichoderma yang dapat meningkatkan ketersediaan nitrogen tanah, pertumbuhan dan hasil tanaman cabai (Capsicum annuum L.). Bibit cabai ditanam di tanah dengan kesuburan rendah yang dicampur dengan pupuk kotoran sapi. Rancangan percobaan adalah rancangan petak terbagai yang menguji empat taraf dosis inokulan dan tiga waktu aplikasi. Hasil percobaan memperlihatkan bahwa tidak ada pengaruh agen biologi terhadap tinggi tanaman pada tiga dan enam minggu setelah tanam. Inokulasi 7,5 g pot-1 inokulan padat Azoto-Tricho pada saat tanam secara signifikan meningkatkan kadar NO3 - tanah jika diikuti dengan penyiraman inokulan cair Azotobacter ke tanah pada 10 hari setelah tanam. Inokulan padat Azoto-Tricho meningkatkan hasil tanaman. Hasil tertinggi, 290 g per tanaman diperoleh dari tanaman yang diberi 7,5 g Azoto-Tricho pada saat tanam diikuti aplikasi inokulan cair Azotobacter. Percobaan pot ini menjelaskan bahwa inokulan padat Azotobacter-Trichoderma berpotensi untuk digunakan sebagai agen hayati pada produksi cabai.
PENGARUH WAKTU TANAM, PEMBERIAN MULSA JERAMI DAN PENANAMAN REFUGIA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN JAGUNG (Zea mays L.) VARIETAS NK 6326, HAMA DAN PATOGEN PENYAKIT SERTA MUSUH ALAMINYA Rejo Wagiman; Yohanes Hendro Agus
Agric Vol. 29 No. 2 (2017)
Publisher : Fakultas Pertanian dan Bisnis, Universitas Kristen Satya Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24246/agric.2017.v29.i2.p147-157

Abstract

Research on the effect of planting times, using straw, and planting refugia against growth and yield of corn (Zea mays L.) NK 6326variety, it’s pest and diasaes and natural enemies had been conducted in Tulung sub-district, Klaten district, Central Java province.The purpose of this research was to determine the effect of two different planting time based on “pranata mangsa” time (local wisdom) and farmer’s planting time which were combined with using straw and planting refugia against growth and yield of corn, it’s pest and diseases, it’s natural enemies population. This research used a Strip Plot Design with two main treatments with four additional treatments, and five replications. The main treatments were planting time based on farmer habit (A1) and planting time bades on “pranata mangsa” or ancient local wisdom (A2). Additional treatments included: using straw mulch and planting “refugia” (B1), using only straw mulch (B2), planting only “refugia” (B3), and without using straw mulch and without planting “refugia” (B4). The result of the experiment were analyzed by using the Analysis of Variance (ANOVA) and the Honestly Significance Difference (HSD) test at 95% confidence level. The result of this research showed that: (1) planting time based on farmer’s habit were higher than the planting time based on “pranata Mangsa” against plant height, wet weight of mass, dry weight of mass, weight of seded per cob, weight of seed per plot seed weight per hectare, and 1000 grains weight,(2) planting time based on farmer’s habit combined with using straw mulch and planting “refugia” were higer than planting time based on “pranata mangsa” combined with using straw mulch and palnting refugia against plant height, cob length, wet weight of mass, dry weigt of mass, total number of seed per ear, weight of seeds per cob, weight seeds per plot, weight of seed per hectare, and weight of 1000 grains, (3) planting refugia can increase the natural enemy population.

Page 1 of 1 | Total Record : 7