cover
Contact Name
Muhamad Abdul Muid
Contact Email
jpi@uiidalwa.ac.id
Phone
+6285882211471
Journal Mail Official
jpi@uiidalwa.ac.id
Editorial Address
Jl . Raya Raci No. 51 PO Box 8 Bangil Pasuruan
Location
Kab. pasuruan,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Pendidikan Islam
ISSN : 25810065     EISSN : 2654265X     DOI : https://doi.org/10.38073/jpidalwa
The journal focuses scope on specializes in Indonesian Islamic education in particular, and Southeast Asian Islamic education in general, and is intended to communicate original research and current issues on the subject. We invite scientists, scholars, researchers, as well as professionals in the field of Islamic Education in Southeast Asia to publish their researches in our Journal. The journal publishes medium quality empirical and theoretical research covering all aspects of Islamic Education in Indonesia and Southeast Asia.
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 9 No 1 (2019)" : 5 Documents clear
Kajian Psikologis Taḥfiẓ Al-Qur’an Anak Usia 6-12 Tahun Moch. Khafidz Fuad Raya
Jurnal Pendidikan Islam Vol 9 No 1 (2019)
Publisher : Research Department (Lemlit) Islamic Institute of Darullughah Wadda’wah Bangil, Pasuruan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Melihat sejarah perkembangan dunia Islam dalam upaya pemeliharaan Al-Qur’an sampai akhir zaman melalui Taḥfiẓ al-Qur’an, rupanya telah menginspirasi pendidikan Islam saat ini. Program Taḥfiẓ al-Qur’an yang saat ini digandrungi oleh masyarakat sebagai program unggulan yang ditawarkan oleh lembaga pendidikan Islam telah membuat laju perkembangan pendidikan Islam meningkat. Program ini bukan hanya diminati oleh orang dewasa yang mempunyai keinginan menghafal Al-Qur’an tetapi juga dari level anak-anak seusia 6-12 tahun. Peningkatan animo orang tua untuk mengikutsertakan anaknya ke dalam program Taḥfiẓ al-Qur’an harus diapreasiasi, namun para pendidik dan orang tua juga harus memperhatikan kondisi psikologis perkembangan anak seusia 6-12 tahun. Perlu kajian lebih lanjut mengenai kondisi psikologis anak dalam menghafal Al-Qur’an, jangan sampai kegiatan tambahan ini akan membebani anak diusia mereka dan menghilangkan jatidiri mereka sebagai anak diusia tersebut; melihat pertimbangan kepadatan waktu pendidikan yang ditempuh anak di pendidikan formal seperti di sekolah dasar, ekstrakurikuler, dan pendidikan lainnya.
Nilai Pendidikan Islam pada Komunitas Majelis Ṣalawāt Syekhermania di Mataraman Jawa Timur dalam Menumbuhkan Nasionalisme Imaduddin Imaduddin
Jurnal Pendidikan Islam Vol 9 No 1 (2019)
Publisher : Research Department (Lemlit) Islamic Institute of Darullughah Wadda’wah Bangil, Pasuruan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini mendeskripsikan nilai pendidikan Islam majelis ṣalawāt Habib Syekh Bin Abdul Qodir Assegaf dalam menumbuhkan Nasionalisme di daerah Mataraman, Jawa Timur. Studi ini penting dilakukan karena dalam banyak kasus, isu nasionalisme sering diperbincangkan publik. Beberapa riset yang telah dilakukan menunjukan bahwa di beberapa daerah, generasi muda (remaja) mulai meragukan Pancasila sebagai dasar negara. Bahkan, ideologi bangsa (Pancasila) sering dipertentangkan dengan ideologi agama (Islam). Jika dibiarkan kondisi ini akan sangat berbahaya bagi keberlangsungan suatu bangsa. Keberadaan majelis ṣalawāt Habib Syekh menjadi penting dalam rangka menumbuhkan nasionalisme. Apalagi komunitas pecinta Habib Syekh yang disebut “Syekhermania” mencapai ribuan orang dan berusia remaja. Basis utama “Syekhermania” adalah daerah Mataraman, Jawa Timur. Komunitas ini terbentuk atas inisiatif kesadaran sendiri. Dengan kata lain, komunitas ini lahir bukan dibentuk oleh “Top Down” tetapi “Bottom Up”. Mereka adalah aset bangsa yang kelak meneruskan estafet kepemimpinan bangsa Indonesia. Dalam beberapa kegiatan majelisnya, Habib Syekh secara terbuka mengajak jamaahnya untuk mencinta terhadap bangsa dan negaranya. Setiap kali Habib Syekh tampil di panggung, dalam akhir acara selalu menyanyikan lagu-lagu nasioalisme. Lagu-lagu yang dinyanyikan tersebut disadari atau tidak merupakan bagian penting dalam menanamkan nasionalisme.
Krisis Karisma Kiai di Tengah Modernitas Masnun Masnun
Jurnal Pendidikan Islam Vol 9 No 1 (2019)
Publisher : Research Department (Lemlit) Islamic Institute of Darullughah Wadda’wah Bangil, Pasuruan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam struktur hierarki masyarakat tradisional, dahulu kiai dianggap sebagai pemilik elit sosial dan keagamaan, karenanya ia memegang peran sentral dalam masyarakat. Namun, dengan adanya modernitas yang bersifat dinamis, progresif dan transparan setidaknya telah merubah orientasi ketokohan kiai dalam masyarakat. Kiai tidak dianggap lagi sebagai agen sentral-tunggal dalam perubahan sosial masyarakat dan negara, karena sifat modernitas yang melahirkan faktor-faktor yang menyebabkan memudarnya karisma kiai, seperti: munculnya generasi muda santri yang memang berkarakter modern dan meningkatnya jumlah kelas muslim yang terdidik, munculnya intelektual muda yang kebanyakan kemampuannya melebihi sosok kemampuan karisma kiai di zaman dahulu. Fungsi karisma kiai menjadi kurang dan terbatas sehingga menggusur sosok karismatik yang dahulu begitu dihormati oleh masyarakat karena keteladanannya.
Problematika Pendidikan Islam di Era Revolusi Industri 4.0. Bahru Rozi
Jurnal Pendidikan Islam Vol 9 No 1 (2019)
Publisher : Research Department (Lemlit) Islamic Institute of Darullughah Wadda’wah Bangil, Pasuruan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keberadaan pendidikan Islam di Indonesia sudah sejak lama sejak abad ke 13 M namun berbagai persoalan selalu mengiringi pendidikan Islam dari zaman penjajahan kolonial, Orde Lama, Orde Baru, Reformasi, hingga di Era Revolusi Industri 4.0. apalagi di tengah zaman industrialisasi ini memaksakan semua elemen di dalam Negara dan masyarakat berbasis digitalisasi dan manufaktur. Hal ini sangat jauh berbeda dengan paradigm pendidikan Islam yang berfokus pada pembimbingan manusia agar menjadi insan yang berspiritual Islami harus berorientasi pada teknologi dan manufaktur. Ada beberapa permasalahan yang masih menjadi “batu ganjalan” pendidikan Islam di tengah arus deras zaman industrialisasi ini ialah: Pertama, masih adanya dikotomi ilmu (antara ilmu umum dengan ilmu agama); Kedua, masih lemahnya budaya penelitian dalam lembaga pendidikan Islam (baik sarjananya, praktisinya, pengambil kebijakannya, maupun keterbukaan lembaga pendidikan semisal pesantren dan madrasah yang masing menganggap penelitian adalah produk Barat); Ketiga, problem kurikulum yang sering berganti seiring perubahan menteri pendidikan; Keempat, keterbatasan SDM secara kuantiti maupun kualitas (baik guru, dosen, tutor, ustadz, dan lain-lain); Kelima, sistem manajemen pendidikan Islam yang masih tidak tertata dengan baik; penguasaan ilmu pengetahuan dan ICT dalam penyelenggaraan pendidikan, dan; Keenam, sistem evaluasi pendidikan yang selama ini masih bertumpu pada nilai ujian nasional.
Dinamika Tradisi Pendidikan Salaf Pesantren Lirboyo Kediri di Tengah Arus Modernisasi Arif Rahman
Jurnal Pendidikan Islam Vol 9 No 1 (2019)
Publisher : Research Department (Lemlit) Islamic Institute of Darullughah Wadda’wah Bangil, Pasuruan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini telah merespon masalah perubahan (changing) dan kebertahanan (survival) dalam tradisi salaf pesantren Lirboyo dalam menghadapi arus modernisasi. Dengan menggunakan pendekatan sosio-antropologis, tulisan ini menjadi referensi bagi pesantren lainnya dalam melakukan tata kelola pesantren mempertahankan tradisi pendidikan salaf namun tidak menutup diri dari perkembangan modernisasi. Pesantren Lirboyo lebih fokus pada menghasilkan santri-santri yang berkualitas di zaman modern daripada perubahan mendasar yang keluar dari jati diri pesantren, artinya pesantren Lirboyo menggunakan pola kebertahanan dengan langkah reproduksi. Pertama, reproduksi proses komposisi sistem sosial genetikal secara hierarki yang memegang teguh prinsip bahwa pesantren merupakan warisan leluhur yang harus dijaga kelestariannya. Kedua, reproduksi paradigma bangunan keilmuan pesantren (dari ilmu agama saja menjadi perpaduan ilmu agama dengan ilmu umum) yang berimplikasi pada skill dan karakter lulusan pesantren. Ketiga, reproduksi tata kelola pesantren secara desentralisasi dan otonomi pada pondok cabang dan unit-unit yang dimiliki.

Page 1 of 1 | Total Record : 5