cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota tangerang selatan,
Banten
INDONESIA
AL-MAKTABAH
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 219 Documents
Book Review: Konsep universitas Islam dan Islamisasi ilmu pengetahuan Agus Rifai
Al Maktabah Vol 2, No 1 (2000)
Publisher : Pusat Perpustakaan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (544.729 KB) | DOI: 10.15408/almaktabah.v2i1.1732

Abstract

Uraian dalam buku ini sekalipun terkesan sangat idealis karena betapa sulit melakukan rekonstruksi terhadap semua cabang ilmu pengetahuan, juga karena masih terdapatnya perbedaan di kalangan masyarakat muslim terhadap perlu tidaknya Islamisasi ilmu pengetahuan tersebut. Meskipun demikian, buku ini layak dibaca dan bahkan perlu dikaji lebih lanjut terutama bagi para mahasiswa maupun akademisi lainnya yang mempunyai kepedulian terhadap masalah-masalah pendidikan.
The management of the lain library in Jakarta: Report from consultations in July and December 2000 Lorna K. Rees; Potter Potter
Al Maktabah Vol 3, No 1 (2001)
Publisher : Pusat Perpustakaan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (592.312 KB) | DOI: 10.15408/almaktabah.v3i1.1677

Abstract

A library is an essential part of an academic institution. The Jakarta IAIN Library has had a difficult number of years especially due to the fact of its location at some distance from the main campus. The library now has a new building in the main campus area and should use this change in location as an opportunity to develop the library to become a model for all IAIN libraries.
Internet dan perpustakaan Ade Abdul Hak
Al Maktabah Vol 1, No 2 (1999)
Publisher : Pusat Perpustakaan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (777.408 KB) | DOI: 10.15408/almaktabah.v1i2.1710

Abstract

Tujuan utama dari tulisan ini adalah untuk menekan kepedulian lembaga induk dan kesadaran pustakawan sebagai seorang profesional di bidang pengelolaan informasi mengenai penting mengambil bagian yang aktif sebagai penyedia informasi dalam era informasi. Kita mempunyai kesempatan untuk mengembangkan karir kita dalam menghadapi tantangan pada arah baru. Hal ini berarti bahwa kita harus bias memanfaatkan teknologi yang mutakhir untuk mengakses informasi terbaru di seluruh dunia, untuk memenuhi kebutuhan para pemakai perpustakaan abad ke-21. Pustakawan harus aktif dan effesien dalam pemakaian informasi teknologi, termasuk internet, supaya kita masih tetap ada di depan dengan peranan yang sentral. Kata Kunci: Internet, perpustakaan
Jurnal elektronik sebagai sarana komunikasi ilmiah Miswan Miswan
Al Maktabah Vol 4, No 1 (2002)
Publisher : Pusat Perpustakaan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (776.26 KB) | DOI: 10.15408/almaktabah.v4i1.1643

Abstract

Komunikasi ilmiah secara formal untuk menyebarkan pengetahuan dan hasil penelitian telah dilakukan oleh para ilmuwan sejak beberapa abad yang silam. Media yang digunakan pada awalnya berupa surat-menyurat, treatise dan buku. Namun akhirnya mereka menggunakan majalah sebagai sarana komunikasi ilmiah formal karena majalah dapat diterbitkan lebih cepat. Sampai sekarang jurnal merupakan sarana komunikasi ilmiah yang mapan. Seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi muncul jurnal dalam bentuk elektronik yang dapat diterbitkan dengan lebih cepat, lebih murah dan dapat disebarkan dengan cepat dan mudah. Namun kemunculan jurnal elektronik sebagai sarana komunikasi ilmiah masih menimbulkan kontroversi di kalangan ilmuwan. Di antara mereka ada yang meragukan legitimasinya dan enggan menggunakannya. Namun tidak sedikit para ilmuwan yang secara antusias menyambut kehadiran jurnal elektronik ini dan merasa optimis suatu saat nanti jurnal tercetak yang tradisional akan hilang digantikan jurnal elektronik ini. Tulisan ini menganalisis beberapa hasil penelitian yang pernah dilakukan tentang jurnal elektronik dan fungsinya sebagai sarana komunikasi ilmiah. Hasilnya adalah perlu ada penelitian lebih lanjut mengenai dampak jurnal elektronik terhadap komunikasi ilmiah dengan secara lebih adil dan seimbang agar diperoleh hasil yang obyektif. Kata Kunci: Jurnal elektronik, komunikasi ilmiah
Literasi informasi: Respon terhadap kemajuan teknologi lnformasi dan strategi baru pembelajaran di era lnformasi lrvan Muliyadi
Al Maktabah Vol 10, No 1 (2010)
Publisher : Pusat Perpustakaan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (593.453 KB) | DOI: 10.15408/almaktabah.v10i1.1604

Abstract

Literasi informasi adalah kemampuan seseorang untuk mengartikulasikan kebutuhan informasinya, mengidentifikasi, menemukan, dan mengevaluasi sumber-sumber informasi yang ditemukan serta kemampuan untuk menggunakan informasi tersebut. Kemajuan teknologi informasi dan prinsip pembelajaran seumur hidup adalah dua alasan pentingnya literasi informasi. Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi menjadikan informasi melimpah ruah dan dapat dikomunikasikan dengan waktu yang relative singkat tanpa mengenal batas-batas ruang ataupun geografis. Dengan prinsip pembelajaran seumur hidup, seseorang dituntut untuk bisa belajar secara mandiri melalui sumber-sumber informasi yang telah tersedia dari berbagai media. Untuk menyukseskan program literasi informasi khusunya di lembaga pendidikan diperlukan kerja sama antara staf pengajar dan pustakawan. Perubahan system pengajaran yang menyediakan paket informasi harus dirubah ke system pengajaran yang mengarahkan peserta didik untuk mengexplorasi sendiri sumber-sumber informasi dari berbagai media. Pustakawan memiliki tanggung jawab untuk mengenali dan menyediakan sumber-sumber informasi yang dibutuhkan oleh peserta didik dalam proses pembelarannya sekaligus mengajarkan literasi informasi. Untuk itu pustakawan memiliki tantangan berupa penguasaan teknologi informasi dan komunikasi dan kemampuan untuk mendisain, mengimplementasikan dan mengevaluasi program pengajaran literasi informasi. Kata Kunci: Literasi informasi, teknologi informasi, era informasi, strategi Pembelajaran, Pustakawan
Kolaborasi pustakawan dan ilmuwan di perguruan tinggi dalam Community Of Practice (CoP) Kalarensi Naibaho
Al Maktabah Vol 14, No 1 (2015)
Publisher : Pusat Perpustakaan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (482.756 KB) | DOI: 10.15408/almaktabah.v14i1.2254

Abstract

Community of Practice (CoP) is one of the communities (research groups) from various disciplines and have an interest in a particular subject. The existence of this CoP is not always permanent. The amount was not observed. Communities can be dispersed when the research is complete, and may be flocking back when they have other interests are the same. CoP presence is not always planned, but its activities must be well planned. According to Weber, a person becomes a member of CoP when she played a man practicing something (practitioners) and interact with fellow members to exchange experiences, learn to solve practical problems, and exchange information. The communication system is similar to the CoP members of the scientific comunication. CoP always associated with learning activities together (collective learning), where the library has an important role. Library as a learning resource provider become an important asset for the CoP. According Pendit (2003) in the context of shared learning, CoP theory to develop a view on access to learning resources and the right to participate in activities of a CoP. Learning resource librarian is what makes it is possible to collaborate with the CoP. Librarians can engage in activities CoP with a role as a facilitator, mediator, and subject specialist, without being a member of the CoP. The existence of a CoP, peripherals process each member is an interesting and unique process. The whole process can be monitored and recorded by the librarian becomes tacit knowledge institution.  
Book Review: People skills for library managers: A common sense guide for beginners Ida Farida
Al Maktabah Vol 6, No 1 (2004)
Publisher : Pusat Perpustakaan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (470.353 KB) | DOI: 10.15408/almaktabah.v6i1.1634

Abstract

Judul Buku: People skills for library managers: A common sense guide for beginners Pengarang: Lucile Wilson Tempat Terbit: Colorado, as Penerbit: Libraries Unlimited, inc Tahun Terbit: 1996 Oleh: Ida Farida, MLIS
Asal-usul Dewey Decimal Classification: melacak pemikiran Melvil Dewey dalam organisasi pengetahuan Anis Masruri; Khusnul Khotimah
Al Maktabah Vol 16, No 1 (2017)
Publisher : Pusat Perpustakaan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (195.484 KB) | DOI: 10.15408/almaktabah.v16i1.8091

Abstract

The library material needs to be classified according to the content or subject to be easily recoveredwhen searched by library users. To classify the library materials required a classificationguideline. The most popular and widely used Classification Guidelines are Dewey DecimalClassification (DDC). This DDC was created by Melvil Dewey. In fact, Melvil Dewey is not theabsolute inventor of DDC, because he was influenced by previous scientists, such as S.F. Bacon,William Torrey Haris, William Phipps Blake, Schwartz and Hegel’s philosophy. Nevertheless,Melvil Dewey is considered to have a very important role so known as the Father of ModernLibrarianship. This paper reveals the origin of Dewey Decimal Classification (DDC) and theprocess of making it.
Kompetensi menelusur informasi melalui mesin pencari "Google" Erika Erika
Al Maktabah Vol 11, No 1 (2012)
Publisher : Pusat Perpustakaan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (822.567 KB) | DOI: 10.15408/almaktabah.v11i1.1595

Abstract

Google is a search engine providing information with a high level of conformity to the requirements in comparison with other search engines. Using natural language index makes Google can accept all forms of queries that arc entered into the database. Despite the popular search engine has a design and search facilities as varied as simple and advanced searches, remain relevant information is obtained when a searcher has a good competence. Where the searcher has to understand the concept of information needs before conducting a search. Competence in searching through Google with a case study of Library Science Departement Student Adab and Humanities Faculty at UIN Syarif Hidayatullah Jakarta clone by observing the five informants to the understanding of the information needs, search strategies selection, strategies implementation, results assessment, and alternatives search if the results is not appropriate the needs. This study adapted the standard of competence ACRL Information Literacy Standards: The Information Literacy Competency Standards for Higher Education to provide indicators, outcomes, and coverage in the analysis. Kata kunci: Kompetensi Menelusur, Mesin Pencari Google, Literasi Informasi
Era otonomi pendidikan: Saat tepat untuk mereposisi peran perpustakaan dalam dunia pendidikan Pungki Purnomo
Al Maktabah Vol 2, No 2 (2000)
Publisher : Pusat Perpustakaan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (681.96 KB) | DOI: 10.15408/almaktabah.v2i2.1901

Abstract

Suatu hal yang tidak dapat dipungkiri, perpustakaan adalah merupakan bagian integral dalam suatu institusi pendidikan yang peranannya sangat penting sekali dalam menentukan kualitas pendidikan secara keseluruhan. Namun sayangnya tradisi dunia pendidikan di Indonesia masih sangat rendah dalam menempatkan peran perpustakaan tersebut. Dampak dari hal tersebut maka profesi pustakawan di Indonesia khususnya dilingkungan institusi pendidikan adalah merupakan profesi yang kurang dapat apresiasi yang wajar. Rencana pemerintah dalam menerapkan otonomi pada dunia pendidikan adalah suatu momentum yang tepat yang perlu dimanfaatkan baik oleh pustakawan maupun para pemegang kebijakan untuk memperbaiki kondisi dunia perpustakaan kita. Tanpa adanya tindakan nyata tersebut maka dapat dipastikan bahwa kualitas pendidikan di Indonesia akan terus tertinggal.

Page 9 of 22 | Total Record : 219