cover
Contact Name
Nike Vonika
Contact Email
versahekmatyar@poltekesos.ac.id
Phone
+6281220025612
Journal Mail Official
jurnal@poltekesos.ac.id
Editorial Address
Jl. Ir. H. Juanda No. 367 Kota Bandung
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Peksos: Jurnal Ilmiah Pekerjaan Sosial
ISSN : 14125153     EISSN : 25028707     DOI : https://doi.org/10.31595/peksos.v20i1
Core Subject : Social,
Peksos: Jurnal Ilmiah Pekerjaan Sosial is a scholarly refereed journal to expand knowledge and promote the fields of social work, social welfare, and community development. Its major focus is on the development of social work as well as social welfare and community development issues. It aims is to explore the social work theory and practice at the micro, mezzo, and macro level. The journal wants to support the publication to embodies the aspirations and conceptual thinking of the various local, national, and international studies in the context of social work, social welfare, and community development.
Articles 256 Documents
SELF INSTRUCTIONAL DAN POSITIVE REINFORCEMENT DALAM MENINGKATKAN KEPERCAYAAN DIRI “US” PENYANDANG DISABILITAS TUBUH DI BALAI REHABILITASI SOSIAL PENYANDANG CACAT CIMAHI Riyati .
Peksos: Jurnal Ilmiah Pekerjaan Sosial Vol 15 No 2 (2016): PEKSOS
Publisher : Politeknik Kesejahteraan Sosial Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31595/peksos.v15i2.88

Abstract

Abstract Individuals who have high self-confidence have indicators covering believe in the ability of themselves, acted independently in making decisions, having a positive sense of self and the courage to express opinions.Confidence influenced by mental, social and physical factors. Physical state such as obesity, body parts defects or damage to one of the senses is an obvious flaws seen by others. A disability may not be able to react in a positive way so that there arises a sense of inferiority that became insecurity. This happens on US, persons with physical disability at BRSPC Cibabat Cimahi. People with disabilities that everyone who experiences physical limitations, intellectual, mental or sensory for long periods which in interaction with the environment may experience obstacles and difficulties to participate fully and effectively based on equality. This research aims to know and examine the implementation of Self instructional and Positive Reinforcement Technique to the self confident improvement of “US”. The Self Instructional Technique is a Self-Management strategy that contributes to a self-determination of the individual's ability in instructing and controlling themselves to prevent the emergence of low self-esteem behavior. Positive reinforcement is the establishment of behavior with a reward or reinforcement immediately after the behavior that is expected to appear. This research uses quantitative approach with a single subject design research methods were implemented to evaluate the implementation and achievement of a goal of intervention through repeated measurements. A validity test of measuring instruments in this research is to test the validity (face validity). Analysis of the data used testing the hypothesis by using the formula 2 standard deviations. The results of this research indicate that the Self instructional and Positive reinforcement techniques can improve confidence on US person with physical disability at BRSPC Cibabat Cimahi.Key words: Self confidence, People with Disabilities, Self Instructional and Positive Reinforcement Technique Abstrak Individu yang memiliki kepercayaan diri tinggi memiliki indikator yang meliputi percaya kepada kemampuan diri sendiri, bertindak mandiri dalam mengambil keputusan, memiliki rasa positif terhadap diri sendiri dan berani mengungkapkan pendapat. Kepercayaan diri dipengaruhi oleh faktor mental, sosial dan fisik. Keadaan fisik seperti kegemukan, cacat anggota tubuh atau rusaknya salah satu indera merupakan kekurangan yang jelas terlihat oleh orang lain. Seorang penyandang disabilitas bisa saja tidak dapat bereaksi secara positif sehingga timbulah rasa minder yang menjadi rasa tidak percaya diri. Hal ini terjadi pada US, penyandang disabilitas tubuh di BRSPC Cibabat Cimahi. Penyandang disabilitas yaitu setiap orang yang mengalami keterbatasan fisik, intelektual, mental dan atau sensorik dalam jangka waktu lama yang dalam berinteraksi dengan lingkungan dapat mengalami hambatan dan kesulitan untuk berpartisipasi secara penuh serta efektif berdasarkan kesamaan hak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mengkaji tentang penerapan teknik self instructional dan positive reinforcement terhadap peningkatan kepercayaan diri “US”. Teknik Self instructional merupakan strategi manajemen diri yang memberikan kontribusi bagi suatu penentuan kemampuan diri dari individu dalam menginstruksi dan mengendalikan diri untuk mencegah munculnya perilaku rendah diri. Positive reinforcement merupakan pembentukan tingkah laku dengan memberikan ganjaran atau perkuatan segera setelah tingkah laku yang diharapkan muncul. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode penelitian single subject design yang diimplementasikan untuk mengevaluasi pelaksanaan dan pencapaian suatu tujuan intervensi melalui pengukuran secara berulang. Uji validitas alat ukur dalam penelitian ini adalah uji validitas muka (face validity). Analisis data yang digunakan adalah pengujian hipotesis dengan menggunakan rumus 2 standar deviasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa teknik Self instructional dan teknik Positive reinforcement dapat meningkatkan kepercayaan diri pada US penyandang disabilitas tubuh di BRSPC Cibabat Cimahi.Kata kunci: Kepercayaan Diri, Penyandang Disabilitas, Teknik Self-Instructional dan Positive Reinforcement
PENERAPAN BEHAVIORAL THERAPY TERHADAP PENINGKATAN KEMAMPUAN ACTIVITY OF DAILY LIVING PENYANDANG DISABILITAS INTELEKTUAL BERAT DI KOTA BANDUNG Ika Nugrahaeni
Peksos: Jurnal Ilmiah Pekerjaan Sosial Vol 15 No 2 (2016): PEKSOS
Publisher : Politeknik Kesejahteraan Sosial Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31595/peksos.v15i2.89

Abstract

AbstractThis research aims to know and examine the implementation of behavioral therapy to the Improvement of D Basic Activity of Dalily Living who experiencing severe intellectual disability. This research has benefit both theoritically and practically for social work development. The method used action research with qualitative approach. Data collection technique used in-depth interview, observation and documentation study. The data source used primary and secondary data source. While the primary data derived from interview and direct observation toward D and family, while the secondary are community environment and documentation study. Data analysis done in descriptive qualitative. The research location is in Sadang Serang Village Coblong Sub-district Bandung. Based on the results of action research study on the application of behavioral therapy models against D experience severe intellectual disability can impact the improvement of social skills and changes in attitude in assisting families to D. In this case the family can teach social skills ADL base with a better way and rise to a change in the accompanying family habituation D when performing basic ADL. Changes in the family can impact the behavior of D for the better and is trained in basic ADL, the behavior of eating, dressing, and bathing. With the achievement of these objectives, the family is a source of strength and resolve problems solving nearby.Key words:  Behavioral Therapy, People with Severe Intellectual Disability, ADL  AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mengkaji tentang penerapan behavioral therapy terhadap peningkatan kemampuan ADL dasar D yang mengalami disabilitas intelektual berat. Penelitian ini memiliki manfaat baik secara teoritis maupun praktis bagi perkembangan pekerjaan sosial. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode action research dengan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi. Sumber data yang digunakan yaitu sumber data primer dan sumber data sekunder. Adapun sumber data primer berasal dari wawancara dan observasi langsung terhadap D dan keluarga, sedangkan sumber data sekunder  yaitu lingkungan masyarakat dan studi dokumentasi. Analisis data secara deskriptif kualitatif. Lokasi penelitian adalah di Kelurahan Sadang Serang Kecamatan Coblong Kota Bandung. Berdasarkan hasil penelitian action research tentang penerapan model behavioral therapy terhadap D yang mengalami disabilitas intelektual berat dapat memberikan pengaruh terhadap peningkatan keterampilan sosial dan perubahan sikap keluarga dalam melakukan pendampingan kepada D. Dalam hal ini keluarga dapat mengajarkan keterampilan sosial ADL dasar dengan cara yang lebih baik dan memunculkan perubahan pembiasaan keluarga dalam mendampingi  D saat melakukan ADL dasar. Perubahan yang terjadi pada keluarga dapat memberikan pengaruh terhadap perilaku D menjadi lebih baik dan terlatih dalam melakukan ADL dasar, yaitu perilaku makan, berpakaian, dan mandi. Dengan tercapainya tujuan tersebut, maka keluarga merupakan sumber kekuatan dan pemecahan terdekat dalam mengatasi masalah.Kata kunci:  Behavioral Therapy, Penyandang Disabilitas Intelektual Berat, ADL
PENERAPAN TEKNIK SELF MANAGEMENT TERHADAP KEPATUHAN BEROBAT PENDERITA HIV DI YOGYAKARTA Yuliati Hasanah
Peksos: Jurnal Ilmiah Pekerjaan Sosial Vol 16 No 1 (2017): PEKSOS
Publisher : Politeknik Kesejahteraan Sosial Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31595/peksos.v16i1.97

Abstract

Abstract Self management is a strategy in which the cognitive behavioral approach in the application, subject to the expected full attendance during the intervention process. NAP is an HIV patient and had undergone antiretroviral therapy. Saturation, fatigue experienced by NAP during the ARV therapy, so found some times subject medical leave provisions. Healthy behavior in a sick person (in this case a person suffering from HIV) one of which is adherent to treatment that must be endured. This research aims to gain result the applying of self management techniques against medication adherence of NAP patient with HIV in the Balai Rehabilitasi Sosial Pamardi PutraYogyakarta. This study focuses on the application of self-management techniques that include self-monitoring, self reinforcement and self evaluation of medication adherence that includes aspects of belief, accept and act on the subject. Researchers used quantitative approach by using the method of single subject design N = 1 model A-B-A now where the measurements and observations made in each phase. The subject in this study as many as one person with initials NAP. The purpose of this study is to look at the effect of applying the self management technique against NAP’s medication adherence. The results of this study indicate that the application of self-management techniques have a positive effect in improving NAP’s medication adherence with skor of 2SD smaller than skor of the mean phase difference A2 and A1. Stages through the application of this technique is extracting and determining value, set goals, formulate an action plan, the implementation of self-monitoring, self reinforcement and self evaluation. Based on the analysis of the results of the study concluded that the motivation, participation and discipline will determine the effectiveness of the intervention. Support of family members is also important to support the commitment of the subjects in this therapy.Keywords: behavior modification, HIV, medication adherence, self-management AbstrakManusia dapat memutuskan dan menentukan dirinya sendiri. Berdasarkan asumsi tersebut teknik self management merupakan salah satu teknik modifikasi perilaku yang memfokuskan pada regulasi diri. Self management merupakan salah satu strategi dalam pendekatan perilaku kognitif dimana dalam penerapannya, subjek diharapkan kehadiran penuh selama proses intervensi. NAP adalah seorang penderita HIV dan telah menjalani terapi ARV. Kejenuhan, kelelahan dialami NAP selama mengikuti terapi ARV, sehingga ditemukan beberapa kali subjek meninggalkan ketentuan-ketentuan medis. Perilaku sehat pada orang sakit (dalam kasus ini seseorang yang menderita HIV) salah satunya adalah patuh terhadap pengobatan yang harus dijalani. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh hasil dari penerapan teknik self management terhadap kepatuhan berobat subjek NAP sebagai penderita HIV di Balai Rehabilitasi Sosial Pamardi Putra Yogyakarta. Penelitian ini menitikberatkan pada penerapan teknik self management yang mencakup self monitoring, self reinforcement dan self evaluation terhadap kepatuhan berobat yang mencakup aspek mempercayai (belief), menerima (accept) dan tindakan (act) pada subjek. Peneliti menggunakan pendekatan kuantitatif dengan menggunakan metode single subject design N=1 dengan model A-B-A dinama pengukuran dan pengamatan dilakukan di setiap fase. Subjek dalam penelitian ini sebanyak satu orang dengan inisial NAP. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat pengaruh penerapan teknik self management terhadap kepatuhan berobat subjek NAP. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan teknik self management mempunyai pengaruh positif dalam meningkatkan kepatuhan berobat subjek NAP dengan nilai 2SD lebih kecil dari selisih mean fase A2 dan A1. Tahapan yang dilalui dalam penerapan teknik ini adalah penggalian dan penentuan value, menetapkan goals, merumuskan rencana tindakan, pelaksanaan self monitoring, self reinforcement dan self evaluation. Berdasarkan analisa hasil penelitian disimpulkan bahwa motivasi, peran serta dan kedisiplinan akan menentukan efektifitas intervensi. Dukungan anggota keluarga juga penting untuk mendukung komitmen subjek dalam terapi ini.Kata kunci:  HIV, kepatuhan berobat, modifikasi perilaku, self management
HUBUNGAN KONDISI FISIK, PSIKOLOGIS, DAN SOSIAL LANJUT USIA DENGAN DISABILITAS FUNGSIONAL LANJUT USIA DI YOGYAKARTA Catur Hary Wibawa
Peksos: Jurnal Ilmiah Pekerjaan Sosial Vol 16 No 1 (2017): PEKSOS
Publisher : Politeknik Kesejahteraan Sosial Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31595/peksos.v16i1.98

Abstract

Abstract This research aims to reveal 1. the condition of older people who lives in Plosokerep Shleter, 2. the psychological condition of older people in Plosokerep Shelter, 3. the social condition of older people in Plosokerep Shelter, 4. the relationship of physical condition experienced by older people with their functional disabilities in Plosokerep Shelter, 5. the relationship of psychological condition experienced by older people with their functional disabilities in Plosokerep Shleter, 6. to know the relatonship of social condition experienced by older people with their functional disabilities in Plosokerep Shelter. The research method used is explanatory-analytic correlational design, to examine the relationship of factors: Physical (X1 variable), Psychological (X2), and social (X3) with older people functional disabilities (Y variable) descriptive survey used explanatory-analytic correlational design. Data collection carried out through questionnaire. Research data analysis used descriptive statistic technique with Spearman test statistic. The result showed that: 1. some older people in Plosokerep shleter have high physical condition and the rest of them in the low physical condition category, 2. from the psychological condition some of older people are in high category, 3. Social condition experienced by older people who live in shelter are in high category, 4. The relationship of physical condition experienced by older people in the shelter with functional disabilities even though there is a correlation but not significant, 5. the relationship of psychological condition experienced by older people in shleter with functional disabilities even though there is a correlation but not significant, 6. the relationship of social condition experienced by older people in the shelter with functional disabilities even though there is a correlation but not significant, 7. the relationship of Physical, psychological and social condition together with functional disabilities even though there is a correlation but not significant.Keywords: physical, psychological, and social condition, functional disabilities, older people Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan: 1. Mengetahui kondisi fisik lanjut usia yang ada di shelter Plosokerep, 2. Mengetahui kondisi psikologis lanjut usia yang ada di shelter Plosokerep, 3. Mengetahui kondisi sosial lanjut usia yang ada di shelter Plosokerep, 4. Mengetahui hubungan kondisi fisik yang dialami lanjut usia dengan disabilitas fungsionalnya selama tinggal di shelter Plosokerep, 5. Mengetahui hubungan kondisi psikologis yang dialami lanjut usia dengan disabilitas fungsionalnya selama tinggal di shelter Plosokerep, 6. Mengetahui hubungan kondisi sosial yang dialami lanjut usia dengan disabilitas fungsionalnya selama tinggal di shelter Plosokerep.Metode penelitian yang digunakan adalah disain korelasional eksplanatori-analitis, yaitu untuk menguji hubungan antara faktor-faktor: fisik (variabel X1), psikologis (X2), dan sosial (X3) dengan disabilitas fungsional lanjut usia (variabel Y)survey deskriptif dengan menggunakan disain penelitian korelasional eksplanatori-analitis. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner. Analisis data penelitian menggunakan teknik Statistik deskriptif, dengan statistik uji Spearman.Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1. Sebagian lanjut usia di shelter pengungsian Plosokerep memiliki kondisi fisik kategori tinggi, dan sebagian lagi berada dalam kondisi fisik kategori rendah, 2. Dilihat dari kondisi psikologis, sebagian besar lanjut usia berada dalam kategori tinggi, 3. Kondisi sosial yang dialami lanjut usia selama berada di shelter pengungsian, sebagian besar juga berada dalam kategori tinggi, 4. Hubungan kondisi fisik yang dialami lanjut usia selama berada di shelter pengungsian dengan disabilitas fungsional, meskipun terdapat korelasi tetapi tidak signifikan, 5. Hubungan kondisi psikologis yang dialami lanjut usia selama berada di shelter pengungsian dengan disabilitas fungsional, meskipun terdapat korelasi tetapi tidak signifikan, 6. Hubungan kondisi sosial yang dialami lanjut usia selama berada di shelter pengungsian dengan disabilitas fungsional, meskipun terdapat korelasi tetapi tidak signifikan, 7. Hubungan kondisi fisik, psikologis, dan sosial secara bersama-sama dengan disabilitas fungsional, meskipun terdapat korelasi tetapi tidak signifikan.Kata kunci:  disabilitas fungsional, kondisi fisik, psikologis, dan sosial, lanjut usia
PENERAPAN TEKNIK IMAGINATIVE PRETEND PLAY TERHADAP PENANGANAN MASALAH PERILAKU AGRESIF ANAK KORBAN KEKERASAN SEKSUAL DI BANDUNG Ika Putri Nawangsari
Peksos: Jurnal Ilmiah Pekerjaan Sosial Vol 16 No 1 (2017): PEKSOS
Publisher : Politeknik Kesejahteraan Sosial Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31595/peksos.v16i1.99

Abstract

Abstract This research aims to determine the effectiveness of the implementation of Play Therapy through Imaginative Pretend Play technique in Handling Cases Agresive Behavior Child Victim of Sexual Abuse. The Agressive behavior that are refered in this research are divided into two; Phyisic aggresive and verbal agressive. The methode in this reserach is Single Subject Design with A-B-A-B. Data collecting technique conducted by observation, unstructur interviews, documentary study and filling questionaire. All the measurment using this research are formed.  The result showed that the aplication of Imaginative Pretend Play technique in Handling Cases Agressive Behavior Child Victim of Sexual Abuse is effective to reduce the agressive behavior frequencty of child. The frequency of physical agressive that consist of  hitting, wresting, throwing, threat with showing and imitating sexual adult activity  decresed from 39 before intervention to 11 after intervention. The frequency of verbal  agressive that consist of  bellowing, mocking and speaking with dirty word decresed from 39 before intervention to 11 after intervention. The result of ECBS show intervention influence to cognition aspect significantly, intervention influence to social relation aspect significantly and intervention influence to self adjustment aspect significantly.Keywords: Child, Sexual Abuse, ECBS, Imaginative Pretend Play, Play Therapy Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas Play Therapy melalui teknik Imaginative Pretend Play dalam menangani masalah perilaku agresif anak korban kekerasan seksual. Adapun agresif yang dimaksud disini mencakup agresivitas fisik maupun agresivitas verbal. Metode Penelitian ini menggunakan Single Subject Design dengan pola A-B-A-B. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara tidak terstruktur, studi dokumentasi dan pengisian angket atau kuosioner. Hasil penelitian menunjukan bahwa penerapan Teknik Imaginative Pretend Play dalam Penanganan Masalah Perilaku Agresif Anak Korban Kekerasan Seksual. Jumlah frekuensi agresivitas fisik anak yang terdiri dari memukul, merebut, melempar, mengacungkan kepalan tangan untuk mengancam dan menirukan aktivitas seksual orang dewasa berjumlah 39 turun menjadi 11 setelah intervensi. Jumlah frekuensi agresivitas verbal yang terdiri dari membentak, mengejek atau menghina dan mengeluarkan kata kotor berjumlah 32 turun menjadi 9 setelah intervensi. Hasil pengujian melalui instrumen ECBS menunjukan intervensi berpengaruh signifikan terhadap aspek kognisi namun tidak merubah kategori dalam level sedang, intervensi berpengaruh signifikan terhadap aspek relasi sosial dan terjadi peningkatan level aspek sosial dari sedang menjadi tinggi dan intervensi berpengaruh signifikan terhadap aspek penyesuaian diri anak dan terjadi peningkatan level aspek sosial dari sedang menjadi tinggi. Kata kunci: Anak, ECBS, Imaginative Pretend Play, Kekerasan Seksual, Play Therapy
KOMPETENSI PEKERJA SOSIAL DALAM PELAKSANAAN TUGAS RESPON KASUS ANAK BERHADAPAN DENGAN HUKUM DI CIANJUR Ellya Susilowati
Peksos: Jurnal Ilmiah Pekerjaan Sosial Vol 16 No 1 (2017): PEKSOS
Publisher : Politeknik Kesejahteraan Sosial Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31595/peksos.v16i1.100

Abstract

AbstractThis research aims to assess the competence of Social Workers as a profession mandated by Law Number 11 of 2012 on the criminal justice system children in the handling of children in conflict with the law (ABH), especially in performing the case response task to ABH. This research used qualitative descriptive method to seven people who carry out the task of ABH cases response in Cianjur Regency. Data collection techniques used were interviews, observation and documentation study. The results showed that the Social Worker in Cianjur has implemented ABH case response. The implementation of the ABH cases response under the control of Cianjur Regency social service with the support of the child and family support centre of Save the Children. Implementation of the cases response has not referring to the response stage such cases the guidelines of the Directorate of Social Rehabilitation for Children, in which case the response must perform duty service: 1) the emergency; 2) crisis intervention; 3) assisting the completion of the case; 4) social rehabilitation; and 5) the strengthening of child and family services. However, some Social Workers carry out the case response based on the stage of social work and case management approach. The competence of social workers are already using a framework of knowledge, skills and values of social work especially the practice of social work with children.the  recommendations from this research are to: 1) The Directorate of Child Social Rehabilitation Ministry of Social Affairs to continue to disseminate ABH case response and technical assistance for ABH cases response; 2) the child's social worker conduct periodic discussion and sharing about the competence with regard to the response of social work cases ABH.   Keywords: Case Response, Children in Conflict with The Law, Social WorkerAbstrakPenelitian ini dilakukan untuk mengkaji kompetensi Pekerja Sosial sebagai profesi yang dimandatkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012  tentang Sistem Peradilan Pidana Anak dalam penanganan Anak Berhadapan dengan Hukum (ABH), khususnya dalam melaksanakan  tugas respon kasus kepada ABH.  Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan metode deskriptif kepada tujuh orang Pekerja Sosial yang melaksanakan tugas respon kasus ABH di Kabupaten Cianjur. Teknik Pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pekerja Sosial di Kabupaten Cianjur telah melaksanakan respon kasus ABH. Pelaksanaan respon kasus ABH ini dibawah kendali Dinas Sosial Kabupaten Cianjur dengan dukungan dari Pusat Dukungan Anak dan Keluarga Save The Children. Pelaksanaan respon kasus belum merujuk pada tahapan respon kasus seperti pedoman dari Direktorat Rehabilitasi Sosial Anak, dimana dalam melakukan respon kasus harus melaksanakan tugas layanan: 1)  kedaruratan; 2)  intervensi krisis; 3) pendampingan penyelesaian kasus; 4) rehabilitasi sosial; dan 5)  layanan penguatan anak dan keluarga. Namun demikian, beberapa Pekerja Sosial melaksanakan respon kasus berdasarkan tahapan pekerjaan sosial dan pendekatan manajemen kasus. Kompetensi pekerja sosial sudah menggunakan kerangka pengetahuan, keterampilan dan nilai dari pekerjaan sosial khususnya praktik pekerjaan sosial dengan anak. Rekomendasi dari penelitian ini adalah kepada: 1) Direktorat Rahebilitasi Sosial Anak Kementerian Sosial untuk terus melakukan sosialisasi respon kasus ABH dan bimbingan teknis untuk respon kasus ABH; 2) Pekerja sosial anak melakukan diskusi dan sharing berkala tentang kompetensi pekerjaan sosial berkaitan dengan respon kasus ABH. Kata kunci:  ABH, Pekerja Sosial, Respon Kasus
PENGUATAN MANAJEMEN ORGANISASI LOKAL DALAM PENCEGAHAN PENYALAHGUNAAN NARKOTIKA, PSIKOTROPIKA, DAN ZAT ADIKTIF DI BANDUNG Putra Pratama Saputra
Peksos: Jurnal Ilmiah Pekerjaan Sosial Vol 16 No 1 (2017): PEKSOS
Publisher : Politeknik Kesejahteraan Sosial Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31595/peksos.v16i1.101

Abstract

AbstractThe drug abuse problem that occurs in society these days is very alarming. The existence of the perpetrator and the activity of drug abuse have become a custom of the community. However, permissiveness has shown as if the people let these problems occur. The existence of stakeholders is expected to have a positive impact, so that the functions of society can work well, especially in the prevention of drug abuse. Strengthening the management of local organizations is an effort to prevent drug abuse. This research aims to produce the right model for strengthening the management of local organizations in efforts to prevent drug abuse. The method used in this research is a qualitative research method with action research. The Place of research conducted in RW 18 Sadang Serang Village, Coblong Sub-district, Bandung with a number of main informants and supporting  informant were 9 people out of 7 people. The intervention is done through several activities, namely the Development of Local Organizations "Pemuda Anti NAPZA" (Training Administration and Reorganization Membership Organization), and Build Job Network (Increasing Participation Extention, Benchmark and Audiency). The results showed an increase in management capacity of local organizations "Pemuda Anti NAPZA" in efforts to prevent drug abuse in RW 18 Sadang Serang Village. Final model has been enhanced tending to be more effective in addressing the problem of drug abuse which is occured.Keywords: Local Organisation, Management, NAPZA (Narcotics, Psychotropics and Addicted Subtances), Preventing Drugs AbuseAbstrakMasalah penyalahgunaan NAPZA yang terjadi di masyarakat akhir-akhir ini sangat mengkhawatirkan. Keberadaan pelaku dan aktivitas penyalahgunaan NAPZA sudah menjadi kebiasaan yang dilakukan masyarakat. Akan tetapi, sikap permisif yang ditunjukkan masyarakat seolah-olah membiarkan permasalahan tersebut terjadi. Keberadaan stakeholders diharapkan dapat memberikan dampak positif, sehingga fungsi masyarakat dapat berjalan dengan baik terutama dalam upaya pencegahan penyalahgunaan NAPZA. Penguatan manajemen organisasi lokal merupakan salah satu upaya pencegahan penyalahgunaan NAPZA. Tujuan penelitian ini adalah menghasilkan model yang tepat untuk penguatan manajemen organisasi lokal dalam upaya pencegahan penyalahgunaan NAPZA. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif dengan jenis penelitian tindakan (action research). Tempat penelitian dilakukan di RW 18 Kelurahan Sadang Serang, Kecamatan Coblong, Kota Bandung dengan jumlah informan utama sebanyak 9 orang dan informan pendukung sebanyak 7 orang. Intervensi dilakukan melalui beberapa kegiatan, yaitu Pengembangan Organisasi Lokal “Pemuda Anti NAPZA” (Pelatihan Administrasi Organisasi dan Reorganisasi Keanggotaan), serta Membangun Jejaring Kerja (Penyuluhan Peningkatan Partisipasi, Benchmark, dan Audiency). Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan kemampuan manajemen organisasi lokal “Pemuda Anti NAPZA” dalam upaya pencegahan penyalahgunaan NAPZAdi RW 18 Kelurahan Sadang Serang. Model akhir yang telah disempurnakan cenderung lebih efektif untuk mengatasi masalah penyalahgunana NAPZA yang terjadi.Kata kunci: Manajemen, Organisasi Lokal, NAPZA, Pencegahan Penyalahgunaan NAPZA
PENERAPAN RATIONAL EMOTIVE BEHAVIOR THERAPY TERHADAP KONTROL DIRI DALAM MENGURANGI PENYALAHGUNAAN NARKOTIKA, PSIKOTROPIKA, DAN ZAT ADIKTIF DI BANDUNG Yulia Herlina
Peksos: Jurnal Ilmiah Pekerjaan Sosial Vol 16 No 1 (2017): PEKSOS
Publisher : Politeknik Kesejahteraan Sosial Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31595/peksos.v16i1.102

Abstract

Abstract Harm Reduction prevention pattern is presumably in the form of harm reduction of drug abuse. One form of Harm Reduction is Methadone maintenance therapy. This therapy using methadone as a substitution media in reducing drug use. The findings in the field showed that the implementation of this therapy is less reducing behavioral dependency, because even though the use of one type of drug is reduced but result in dependence methadone is also one type of drug, so the implementation of Methadone therapy maintenance should be accompanied by therapy behavior change to change behavior dependence. This research takes the case of a client AM that has lower self-control based on the measurements of the initial assessment. Appropriate intervention is Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) because it can modify aspects of cognition and generate positive confidence to achieve the expected behavior. This research aims to see the effect of Rational Emotive Behavior Therapy Application to Client AM self-control by using Single Subject Design with A-B-A pattern, to see the description of self-control on before intervention phase (A1), during the intervention (B) and after the intervention (A2). In each phase conducted measurement and observation. Hypothesis test done by comparing the average difference A2 phase and A1 phase with a value 2 standard of deviations on A1 phase. The research showed that the average difference of A1 phase and A2 phase is bigger than the value 2 standard of deviations on A1 phase either by the measurement (14,4 ≥ 2,32)as well as the observation (7 ≥ 1,15). This result showed that the Rational Emotive Behavior Therapy can improve client AM self-control. The determination coefficient is about 0,9 indicates that the Rational Emotive Behavior Therapy affect the self-control improvement 90% while another 10% is the value of epsilon that is outside factor of Rational Emotive Behavior Therapy be the influence of friends and wife as part of client’s environment that contribute to improve client AM self-control. Cognitive control aspect, 52% are influenced by REBT and 48% affected by environmental factor. Behavior control aspect is fully influenced by REBT, and aspect control of decision is fully influenced by environmental factor. The results apply to client AM and can not be generalized to other clients because each client has a different level of acceptance of the intervention provided.Keywords: narcotics, psychotropic, and addictive substance abuse, Rational Emotive Behavior Teraphy, self control Abstrak Pola pencegahan Harm Reduction merupakan upaya pencegahan berupa pengurangan dampak buruk dari penyalahgunaan NAPZA. Salah satu bentuk dari Harm Reduction adalah Terapi Rumatan Metadon. Terapi ini menggunakan metadon sebagai media substitusi dalam mengurangi pemakaian NAPZA. Hasil temuan di lapangan menunjukkan bahwa pelaksanaan terapi ini kurang mengurangi perilaku ketergantungan, karena meskipun pemakaian salah satu jenis NAPZA berkurang namun berakibat pada ketergantungan metadon yang juga merupakan salah satu jenis NAPZA, maka pelaksanaan Terapi Rumatan Metadon perlu disertai dengan terapi perubahan perilaku untuk merubah perilaku ketergantungan. Penelitian ini mengambil kasus klien AM yang memiliki kontrol diri rendah berdasarkan pengukuran pada asesmen awal. Intervensi yang sesuai adalah Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) karena dapat memodifikasi aspek kognisi dan menghasilkan keyakinan positif untuk mencapai target perilaku yang diharapkan. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh penerapan Rational Emotive Behavior Therapy terhadap kontrol diri klien AM dengan menggunakan desain Singgle Subject Design pola A-B-A, melihat gambaran kontrol diri pada fase sebelum intervensi (A1), selama intervensi (B) dan setelah intervensi (A2). Dalam setiap fase dilakukan pengukuran dan pengamatan. Uji hipotesis dilakukan dengan cara membandingkan selisih rata-rata Fase A2 dan Fase A1 dengan nilai 2 Standar Deviasi pada Fase A1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa selisih rata-rata Fase A1 dengan Fase A2 lebih besar dari nilai 2 Standar Deviasi pada Fase A1 baik berdasarkan pengukuran (14,4 ≥ 2,32), maupun berdasarkan pengamatan (7 ≥ 1,15). Hasil ini menunjukan bahwa Rational Emotive Behavior Therapy dapat meningkatkan kontrol diri klien AM. Koefisien determinasi sebesar 0,9, menunjukan bahwa  Ratinonal Emotive Behavior Teraphy berpengaruh terhadap peningkatan kontrol diri klien sebesar 90%, sedangkan 10% lagi adalah nilai epsilon yaitu faktor di luar Ratinonal Emotive Behavior Therapy berupa pengaruh dari teman dan istri sebagai bagian dari lingkungan klien yang berkontribusi terhadap peningkatan kontrol diri klien AM. Aspek kontrol kognitif, 52% dipengaruhi oleh REBT dan 48% dipengaruhi faktor lingkungan. Aspek kontrol perilaku sepenuhnya dipengaruhi oleh REBT, dan aspek kontrol keputusan sepenuhnya dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Hasil tersebut berlaku untuk klien AM dan tidak dapat digeneralisir untuk klien lain karena masing-masing klien mempunyai tingkat penerimaan yang berbeda terhadap intervensi yang diberikan. Kata kunci: kontrol diri, penyalahgunaan narkotika, psikotropika, dan zat adiktif, Rational Emotive Behavior Therapy
PENDAMPINGAN SOSIAL DALAM PENGEMBANGAN KAPASITAS KELOMPOK USAHA BERSAMA DI BANDUNG Josias Jefry Suitela
Peksos: Jurnal Ilmiah Pekerjaan Sosial Vol 16 No 1 (2017): PEKSOS
Publisher : Politeknik Kesejahteraan Sosial Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31595/peksos.v16i1.103

Abstract

AbstractThis study aims to generate an appropriate model for social assistance in developing the capacity of KUBE. The method used in this study is a qualitative research method with action research (action research). Action research is a study that is used to make changes to the individual, group, and community in fulfilling the needs or solve the problems it faces. Place of research done at Village Cibeunying, Cimenyan subdistrict, Bandung regency. Data obtained from 17 informants as a source of primary data and related documents as a secondary data source. Model of social assistance in the development of the capacity of the group is done through comparative studies, training / socialization, and Enhancing Cooperation with Related Parties and social events. Mentoring is applied to obtain information Overview KUBE social assistance to enhance the initial design upon social assistance in capacity building KUBE, results of executing the initial design of social assistance in capacity building KUBE and the final design. Design programs to be formulated derived from the implementation of the action plan of capacity building programs that have been carried out four activities through social assistance. Community needs the assistance because with the assistance can accommodate them to have knowledge based on experience. The research showed that the social assistance in the development of capacity KUBE Proven has increased the capacity of management and members in the manage KUBE Maju Sejahtera in Sub Cibeunying, it looks like the motivation of members increased and the board increases, Leadership running effectively, financial administration orderly, group administration organized, and their financial transparency.Keywords: Kelompok Usaha Bersama, Social Assistance, The Development of Capacity AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menghasilkan model yang tepat untuk pendampingan sosial dalam mengembangkan kapasitas KUBE. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif dengan jenis penelitian tindakan (action research). Penelitian tindakan merupakan suatu penelitian yang digunakan untuk melakukan perubahan pada individu, kelompok, dan masyarakat dalam pemenuhan kebutuhan atau memecahkan permasalahan yang dihadapinya. Tempat penelitian dilakukan di Kelurahan Cibeunying, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung. Data diperoleh dari 17 informan sebagai sumber data primer dan dokumen terkait sebagai sumber data sekunder. Model pendampingan sosial dalam pengembangan kapasitas kelompok dilakukan melalui studi banding, pelatihan/sosialisasi, serta peningkatan kerjasama dengan pihak terkait dan bakti sosial. Pendampingan sosial yang dilaksanakan menghasilkan model yang dapat diaplikasikan bagi masyarakat sub-urban dengan karakteristik yang sama. Meskipun demikian, penelitian ini tidak dapat digeneralisasikan secara umum. Pendampingan yang diterapkan untuk mendapatkan informasi gambaran pendampingan sosial KUBE untuk menyempurnakan desain awal pada saat pendampingan sosial dalam pengembangan kapasitas KUBE, hasil dari pelaksanaan desain awal pendampingan sosial dalam pengembangan kapasitas KUBE dan desain akhir. Desain program yang akan dirumuskan berasal dari hasil implementasi rencana tindak lanjut program peningkatan kapasitas yang telah melaksanakan empat kegiatan lewat pendampingan sosial. Masyarakat membutukan pendampingan karena dengan adanya pendampingan dapat mengakomodir mereka untuk memiliki pengetahuan yang berdasarkan pada pengalaman. Hasil Penelitian pendampingan sosial dalam pengembangan Kapasitas KUBE terbukti telah meningkatkan kapasitas pengurus dan anggota dalam mengelolah KUBE Maju Sejahtera di Kelurahan Cibeunying, hal ini terlihat seperti motivasi anggota dan pengurus dalam mengelolah KUBE meningkat, kepemimpinan berjalan efektif, administrasi keuangan berjalan tertib, administrasi kelompok teratur, dan adanya transparansi keuangan. Kata kunci: Kelompuk Usaha Bersama, Pendampingan Sosial, Peningkatan Kapasitas
KOMUNIKASI NONVERBAL PADA REMAJA TUNARUNGU DI SEKOLAH LUAR BIASA BANDUNG Fauzan Ahdi Widyaputra
Peksos: Jurnal Ilmiah Pekerjaan Sosial Vol 16 No 1 (2017): PEKSOS
Publisher : Politeknik Kesejahteraan Sosial Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31595/peksos.v16i1.104

Abstract

Abstract Someone with special needs are part of the dynamic of life. Same thing with other normal human, somenone with special needs are communicating. Deaf human, specifc to teeneger, they are communicating with the environment by symbolic language. Indonesia use universal symbolic language, the language is confirmed in global. This study aims to gain insight about communication deaf teenagers at SLBN Cileunyi Kabupaten Bandung. In particular to determine used of sign languange, action language, and object language in deaf teenagers. This research used the qualitative method with in-depth interview, observation and documentation study. The data resource which is used was the primary and secondary data, this research also carried out the validity data test with credibility, transferability, dependability and confirmability. The informant in this research was the students of SLB Negeri Cileunyi which is purposively determined. Furthermore, the field data was analyzed by using qualitative analysis. This study demonstrated that: sign language of deaf teenager still needed special assistance like signal, logo and grafic symbol. So it is with action language which actually not specific to replace the words, but transfering the meaning, and object language of deaf teenager like props, it should be made interesting. Keywords: communication, deaf, nonverbal Abstrak Seseorang dengan kebutuhan khusus adalah bagian dari dinamika kehidupan. Sama halnya dengan manusia pada umumnya, seseorang dengan kebutuhan khusus melakukan komunikasi. Remaja tunarungu dapat mengenali lingkungan sekitarnya dengan cara berkomunikasi dengan yang lainnya menggunakan bahasa isyarat. Bahasa isyarat yang digunakan di Indonesia adalah bahasa isyarat yang telah disepakati oleh seluruh dunia. Tujuan studi ini adalah untuk mengkaji  tentang komunikasi nonverbal pada remaja tunarungu. Secara khusus untuk mengetahui bahasa tanda, bahasa tindakan, dan bahasa objek di remaja tunarungu. Metode yang digunakan dalam penulisan studi ini adalah kualitatif – interaksi simbolik, dengan teknik pengumpulan data yaitu observasi parsitipasif, wawancara mendalam dan studi dokumentasi. Sumber data yang digunakan adalah sumber data primer dan sekunder. Teknik pemeriksaan keabsahan data menggunakan Credibility, Transferability, Dependability, dan Confirmability. Infoman penelitian adalah siswa Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Cileunyi yang ditentukan dengan purposif. Selanjutnya teknik analisis yang digunakan adalah teknik analisi kualititatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahasa tanda pada remaja tunarungu masih memerlukan bantuan khusus seperti sinyal, logo, dan simbol grafis. Begitu juga dengan bahasa tindakan pada remaja tunarungu yang sebenarnya tidak dikhususkan sebagai pengganti kata tetapi menghantarkan makna, seperti menggebrak meja, dan bahasa objek pada remaja tunarungu seperti alat peraga harus dibuat menarik. Kata kunci: komunikasi, nonverbal, tunarungu

Page 8 of 26 | Total Record : 256