cover
Contact Name
Moh. Heri Hermiyanto
Contact Email
redaksipsg@gmail.com
Phone
+6281223388976
Journal Mail Official
redaksipsg@gmail.com
Editorial Address
Sekretariat Redaksi Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral Pusat Survei Geologi, Badan Geologi, Gedung A, Lantai 1 Jalan Diponegoro No. 57, Bandung, Indonesia
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral (Journal of Geology and Mineral Resources)
Published by Pusat Survei Geologi
ISSN : 08539634     EISSN : 25494759     DOI : https://doi.org/10.33332
Core Subject : Science,
The JGSM acts as a publication media of high quality scientific investigations resulted from various geological scientific issues. Published articles covers Geo-sciences, Geo-resources, Geo-hazards, and Geo-environments. Geo-sciences are basic earth sciences in geology, geophysics, and geochemistry. Geo-resources are applied earth sciences scoping in geological resources. Geo-hazards are applied earth sciences concerning in geological hazards. Geo-environments are applied earth sciences focusing in environmental geology.
Articles 486 Documents
PERKEMBANGAN ELEMEN-ELEMEN PENTING TEKTONIK ASIA Torkis Sihombing
Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral Vol. 15 No. 2 (2014): Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral
Publisher : Pusat Survei Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33332/jgsm.geologi.v15i2.61

Abstract

Di wilayah Asia terdapat beberapa elemen tektonik penting yang berinteraksi, sehingga sangat menentukan evolusi tektonik kawasan ini. Lempeng-lempeng tersebut meliputi lempeng Indo-Australia di selatan, lempeng Eurasia di baratlaut, serta lempeng Laut Filipina di bagian timur. Lempeng benua India merupakan bagian dari lempeng utama Indo-Australia yang terdiri atas sub-kontinen India dan cekungan di bawah Samudera Hindia. Himalaya merupakan salah satu pegunungan termuda di bumi ini. Menurut teori tektonik lempeng, pembentukan pegunungan tersebut sebagai hasil dari tumbukan benua, atau orogeni, sepanjang batas konvergensi antara Lempeng Indo-Australia (Lempeng India) dengan Lempeng Eurasia. Sementara secara geologi, Plato Tibet tidak dapat dipisahkan dari Himalaya, karena wilayah ini menyatu, dan sama-sama terbentuk sebagai akibat tumbukan lempeng India dengan Asia / Eurasia.Kata kunci: lempeng Indo-Australia, lempeng Eurasia, lempeng Laut Filipina, tumbukan, orogeni
PERKEMBANGAN KERANGKA TEKTONIK LAUT MALUKU, KEPULAUAN BANGGAI – SULA DAN LAJUR OFIOLIT SULAWESI TIMUR Bambang Hermanto
Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral Vol. 15 No. 2 (2014): Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral
Publisher : Pusat Survei Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33332/jgsm.geologi.v15i2.62

Abstract

Laut Maluku, bagian timur Sulawesi, dan Kepulauan Banggai – Sula merupakan tiga daerah yang saling berbatasan namun memiliki ciri kerangka tektonik yang berbeda. Laut Maluku merupakan zona tumbukan busur dengan busur, yang terletak di daerah pertemuan antara lempeng-lempeng Eurasia, Pasifik dan Filipina. Kepulauan Banggai - Sula merupakan benua renik pecahan dari Australia. Sesar-naik Sula di utara Banggai-Sula merupakan bagian selatan dari zona pensesaran berarah barat-timur selebar 30 – 40 km. Zona sesar ini diduga merupakan batas akhir bagian barat zona sesar Sorong yang tersingkap di bagian barat Papua. Sementara itu bagian timur Sulawesi dicirikan oleh adanya lajur ofiolit yang berasal dari pengalihtempatan atau obdaksi.Kata kunci: Laut Maluku, Kepulauan Banggai – Sula, lajur ofiolit, obdaksi.
PENSESARAN MENDATAR DAN ZONA TUNJAMAN AKTIF DI SULAWESI: HUBUNGANNYA DENGAN KEGEMPAAN Koesnama Koesnama
Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral Vol. 15 No. 2 (2014): Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral
Publisher : Pusat Survei Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33332/jgsm.geologi.v15i2.63

Abstract

Di daerah Sulawesi, disamping dijumpai beberapa sesar regional aktif, juga dijumpai tunjaman aktif. Keberadaan tunjaman aktif ini dapat memicu terjadinya aktifitas pada sesar-sesar tersebut, sehingga menimbulkan gempa-bumi. Sesar-sesar aktif yang merupakan zone sumber gempa tersebut antara lain adalah Sesar Palu-Koro dan Sesar Walanae di Sulawesi bagian barat, Sesar Matano dan Sesar Lawanopo di Sulawesi bagian timur, serta Sesar Gorontalo di Sulawesi bagian utara. Secara keseluruhan sesar-sesar yang merupakan zone sumber gempabumi tersebut adalah sesar-sesar mendatar berskala besar.Kata kunci : sesar mendatar, tunjaman aktif, Sulawesi, kegempaan.
POLA KELURUSAN TOPOGRAFI DI WILAYAH MAJALENGKA, JAWA BARAT Zufialdi Zakaria
Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral Vol. 15 No. 2 (2014): Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral
Publisher : Pusat Survei Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33332/jgsm.geologi.v15i2.64

Abstract

Penelitian ini mencakup wilayah Kabupaten Majalengka, Sumedang, dan Kuningan, Jawa Barat. Penelitian bertujuan untuk mengetahui peran tektonik serta menguji pengaruh tektonik aktif terhadap kelurusan morfologi di wilayah tersebut. Hasil uji beda dengan T-test pada semua pola kelurusan topografi di batuan Tersier dan batuan Kuarter menunjukkan tidak terdapatnya perbedaan yang signifikan dengan thit= - 0,301, dan ttabel =1,971 (a=0.05). Tektonik aktif ditunjukkan oleh kesamaan pola kelurusan pada dua batuan yang berbeda umur, yaitu pada batuan berumur Kuarter dan Tersier. Kedua batuan sama-sama terkena proses deformasi, dan sama-sama mengalami pengangkatan. Jika pola kelurusan dibagi secara khusus menjadi empat pola, yaitu Pola Meratus, Pola Jawa, Pola Sumatera dan Pola Sunda, maka hasil uji beda kelurusan topografi pada batuan Tersier dan Kuarter (T-test, dengan a=5%) adalah sebagai berikut: Kelurusan topografi dari pola Meratus menunjukkan perbedaan nyata, dengan thit=-3,117, dan ttabel =2,011 (a =0,05). Kelurusan topografi berpola Jawa, menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan dengan thit=-0,980, dan ttabel =2,024 (a=0.05). Kelurusan topografi berpola Sumatera menunjukkan perbedaan nyata, dengan thit=2,567, dan ttabel =1,983 (a=0.05). Kelurusan topografi berpola Sunda tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan, dengan thit=0,473, dan ttabel =1,998 (a=0.05). Tektonik yang menyebabkan perbedaan pada Pola Meratus dan Pola Sumatera adalah tektonik masakini (neotektonik) yang diperlihatkan melalui reaktivasi sesar-sesar yang ada, terutama melalui keberadaan sesar aktif misalnya Sesar Baribis.Kata kunci: kelurusan topografi, neotektonik.
MIKROFASIES DAN DIAGENESIS BATUGAMPING FORMASI BATURAJA DI LINTASAN AIR KITI, OKU, SUMATERA SELATAN Sigit Maryanto
Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral Vol. 15 No. 2 (2014): Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral
Publisher : Pusat Survei Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33332/jgsm.geologi.v15i2.65

Abstract

Aspek mikrofasies dan diagenesis batugamping Formasi Baturaja di sepanjang lintasan Air Kiti, Sumatera Selatan, telah dipelajari guna mengetahui mekanisme pengendapan batuan dan sejarah proses geologi paska pengendapan batuan. Percontoh batugamping telah diambil secara sistematis pada formasi batuan yang berumur Miosen Awal tersebut, dan dipakai untuk bahan pengujian petrografi di laboratorium. Analisis petrografi telah dilakukan terhadap dua puluh empat puluh dua percontoh batugamping memperlihatkan bahwa jenisnya adalah batugamping mudstone, wackestone, packstone, floatstone, rudstone, bafflestone dan bindstone. Lingkungan pengendapan batugamping Formasi Baturaja meliputi fasies terumbu belakang, bangunan terumbu, sayap terumbu dan terumbu depan. Beragam proses diagenesis pasca pengendapan batuan, yang meliputi: bioturbasi, penyemenan, neomorfisme, pemikritan, pemampatan, peretakan, dan pelarutan.Kata kunci: Baturaja, batugamping, petrografi, mikrofasies, diagenesis.
GEOLOGI BAWAH PERMUKAAN DATARAN KLATEN BERDASARKAN INTERPRETASI DATA MIKROTREMOR Marjiyono Marjiyono; Ratdomopurbo Ratdomopurbo; Suharna Suharna; Moch. Heri Hermiyanto Zajuli; Robby Setianegara
Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral Vol. 15 No. 1 (2014): Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral
Publisher : Pusat Survei Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33332/jgsm.geologi.v15i1.66

Abstract

Dataran Klaten dan sekitarnya ditutupi oleh endapan fluvial vulkanik Merapi yang bersifat lepas. Hal ini menyulitkan dalam mengidentifikasi struktur geologi dibawahnya. Sehubungan dengan hal tersebut telah dilakukan pengukuran mikrotremor pada tiga (3) lintasan di daerah ini. Pengolahan data dilakukan dengan metode Horizontal to Vertical Spectral Ratio (HVSR, metode Nakamura) untuk mendapatkan penampang spektrum HVSR. Hasil pengolahan menunjukkan adanya pola struktur bawah permukaan berupa dataran, cekungan dan sesar normal yang berarah utara-selatan.Kata kunci : mikrotremor, HVSR, fluvial vulkanik Merapi, perioda/frekuensi resonansi, penampang spektrum.
PENENTUAN UMUR FOSIL MANUSIA PURBA DI JAWA BERDASARKAN MAGNETOSTRATIGRAFI Budi Setyanta; Harry Parulian Siagian; Hendro Wahyono
Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral Vol. 15 No. 1 (2014): Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral
Publisher : Pusat Survei Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33332/jgsm.geologi.v15i1.67

Abstract

Studi magnetostratigrafi telah dilakukan di daerah Sangiran, Trinil, Kedungbrubus, Mojokerto dan Patiayam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fosil manusia purba di Sangiran berada antara batas bawah subkron Jaramilo sampai batas krono Brunhes/Matuyama atau berumur 0.78 – 1.070 juta tahun yang lalu (jtl). Di Mojokerto fosil manusia purba pada batas bawah subkron Jaramillo atau berumur 1.070 jtl, di Trinil pada batas atas Jaramillo atau 0.990 jtl. dan di Patiayam pada posisi di Brunches atau berumur lebih muda dari 0.78 jtl. Manusia purba tertua di Jawa dijumpai di Sangiran dan yang termuda dijumpai di Patiayam, sedangkan di Kedungbrubus tidak jelas lokasi penemuannya.Kata kunci : Fosil manusia purba, magnetostratigrafi, Sangiran
GEOLOGI KUARTER DATARAN PANTAI JEPARA, JAWA TENGAH Ungkap M Lumbanbatu; Suyatman Hidayat; Woro Sri Sukapti; Emma Yan Patriani
Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral Vol. 15 No. 1 (2014): Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral
Publisher : Pusat Survei Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33332/jgsm.geologi.v15i1.68

Abstract

Untuk mengetahui dinamika Kuarter di daerah penelitian, urut-urutan lingkungan pengendapan baik secara vertikal dan mendatar perlu dilakukan. Selain itu, untuk menafsirkan proses pengisian cekungan sedimen, korelasi beberapa penampang stratigrafi sangat diperlukan. Pengumpulan data geologi bawah permukaan dilakukan dengan pemboran dangkal menggunakan bor tangan. Sejumlah 52 pemboran telah dilakukan dengan kedalaman maksimum 11,50 m dan total kedalalaman 268,61m. Berdasarkan data tersebut diketahui bahwa satuan batuan di daerah ini dapat dipisahkan Tanah penutup (S), endapan dataran banjir (FP), endapan cekungan banjir (FB), endapan alur Sungai Purba), endapan pasir dataran pantai (B), endapan pasir pematang pantai (BS), endapan rawa bakau (SW), endapan paya (LG), koral / reef (Q), endapan laut dangkal (SM), endapan volkanik / (V), endapan pre-Holosen (pHs). Secara vertikal kombinasi urut-urutan lingkungan pengendapan tersebut menghasilkan 16 tipe penampang. Hasilnya beberapa fenomena geologi dapat diamati seperti adanya perulangan lingkungan endapan rawa, satu indikasi daerah yang mengalami penurunan secara perlahan lahan. Kehadiran endapan volkanik muda berupa tuf dapat ditafsirkan sebagai hasil aktivitas Gunung api Muria paling Muda. Indikasi proses-proses progradasi atau retrogradasi garis pantai ditunjukkan oleh proporsi mangrove yang perlahan-lahan semakin berkurang sementara polen-polen grassland semakin meningkat. Dari kedalaman 150 cm, kecenderungan perubahan itu berbalik yaitu proporsi polen-polen mangrove semakin bertambah sementara polen-polen grassland semakin berkurang. Secara umum kondisi cekungan sedimen pada saat proses pengendapan adalah dalam kondisi tenang (stabil). Dengan demikian abrasi tidak berhubungan dengan kegiatan tektonika.Kata kunci : Dinamika kuarter, retrogradasi, progradasi, kondisi tenang
SEDIMEN PASANG-SURUT DI KALI KERUH, DESA LOR AGUNG,KABUPATEN PEKALONGAN Surono Martosuwito; Rachmat Fakhruddin
Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral Vol. 15 No. 1 (2014): Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral
Publisher : Pusat Survei Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33332/jgsm.geologi.v15i1.69

Abstract

Singkapan sedimen yang diukur di Kali Keruh mempunyai ketebalan 194 m. Batuannya penyusunnya terdiri atas batulumpur, batulempung, napal dan batulanau; dengan sisipian batupasir. Singkapan itu merupakan endapan pasang-surut, yang lingkungannya berubah-ubah dari zona pasir sampai zona lumpur. Perubahan lingkungan itu mungkin disebabkan oleh tektonik lokal. Batuan penyusun singkapan itu dan lingkungan pengendapannya sama dengan Formasi Merawu, namun mempunyai perbedaan umur. Analisa Foraminifera contoh batuan dari singkapan itu menghasilkan umur N17 – N19 atau akhir Miosen Akhir – akhir Pliosen Awal, sedangkan Formasi Merawu berumur N4 – N13 atau Miosen Awal – Miosen Tengah.Kata kunci: pasang-surut, zona lumpur, Formasi Merawu dan Kali Keruh.
OPTIMASI TEKNIK FIRE ASSAY DAN KONDISI KUPELASI UNTUK MEMPEROLEH KOMPOSISI FLUKS TERBAIK PADA ANALISIS KADAR EMAS Ronaldo Irzon; Kurnia Kurnia
Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral Vol. 15 No. 1 (2014): Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral
Publisher : Pusat Survei Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33332/jgsm.geologi.v15i1.70

Abstract

Pencarian terhadap emas tidak ada habisnya, bahkan sejak 4000 SM bahan ini sudah digolongkan sebagai logam mulia. Karena keberadaan emas di alam berada dalam keadaan heterogen dengan konsentrasi rendah, maka dibutuhkan teknik prakonsentrasi agar analisis kandungannya menjadi lebih tepat. Fire assay merupakan pilihan prakonsentrasi yang telah dikenal pada era Mesir maupun Romawi kuno. Teknik ini memang membutuhkan energi besar dan bahan campuran yang banyak walau ketepatan nilai analisisnya terbukti sangat baik. Optimasi metoda lead fire assay yang dipadukan dengan perangkat AAS pada pemeriksaan kadar emas terhadap contoh jenis pasir hitam telah dilakukan. Penelitian ini mendapatkan komposisi fluks terbaik menilik kepada jenis contoh tersebut untuk menghasilkan lead button tertinggi. Hasilnya menunjukkan bahwa reaksi fusi campuran fluks tercapai pada temperatur 1000 °C dengan pemanasan selama 60 menit. Optimasi energi dalam penjagaan kondisi furnace pada tahap kupelasi juga telah didapat dengan tingkat recovery mencapai 89,5%.Kata kunci: emas, pasir hitam, fire assay, fluks, kupelasi

Page 6 of 49 | Total Record : 486


Filter by Year

2006 2026


Filter By Issues
All Issue Vol. 27 No. 1 (2026) Vol. 26 No. 4 (2025) Vol. 26 No. 3 (2025): JURNAL GEOLOGI DAN SUMBERDAYA MINERAL Vol. 26 No. 2 (2025): JURNAL GEOLOGI DAN SUMBERDAYA MINERAL Vol. 26 No. 1 (2025): JURNAL GEOLOGI DAN SUMBERDAYA MINERAL Vol. 25 No. 4 (2024): JURNAL GEOLOGI DAN SUMBERDAYA MINERAL Vol. 25 No. 3 (2024): JURNAL GEOLOGI DAN SUMBERDAYA MINERAL Vol. 25 No. 2 (2024): JURNAL GEOLOGI DAN SUMBERDAYA MINERAL Vol. 25 No. 1 (2024): JURNAL GEOLOGI DAN SUMBERDAYA MINERAL Vol. 24 No. 4 (2023): JURNAL GEOLOGI DAN SUMBERDAYA MINERAL Vol. 24 No. 3 (2023): JURNAL GEOLOGI DAN SUMBERDAYA MINERAL Vol. 24 No. 2 (2023): JURNAL GEOLOGI DAN SUMBERDAYA MINERAL Vol. 24 No. 1 (2023): JURNAL GEOLOGI DAN SUMBERDAYA MINERAL Vol. 23 No. 4 (2022): Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral Vol. 23 No. 3 (2022): Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral Vol. 23 No. 2 (2022): Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral Vol. 23 No. 1 (2022): Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral Vol. 22 No. 4 (2021): JURNAL GEOLOGI DAN SUMBERDAYA MINERAL Vol. 22 No. 3 (2021): JURNAL GEOLOGI DAN SUMBERDAYA MINERAL Vol. 22 No. 2 (2021): JURNAL GEOLOGI DAN SUMBERDAYA MINERAL Vol. 22 No. 1 (2021): JURNAL GEOLOGI DAN SUMBERDAYA MINERAL Vol. 21 No. 4 (2020): JURNAL GEOLOGI DAN SUMBERDAYA MINERAL Vol. 21 No. 3 (2020): Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral Vol. 21 No. 2 (2020): JURNAL GEOLOGI DAN SUMBERDAYA MINERAL Vol. 21 No. 1 (2020): Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral Vol. 20 No. 4 (2019): Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral Vol. 20 No. 3 (2019): Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral Vol. 20 No. 2 (2019): Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral Vol. 20 No. 1 (2019): Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral Vol. 19 No. 4 (2018): Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral Vol. 19 No. 3 (2018): Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral Vol. 19 No. 2 (2018): Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral Vol. 19 No. 1 (2018): Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral Vol. 18 No. 4 (2017): Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral Vol. 18 No. 3 (2017): Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral Vol. 18 No. 2 (2017): Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral Vol. 18 No. 1 (2017): Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral Vol. 17 No. 4 (2016): Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral Vol. 17 No. 3 (2016): Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral Vol. 17 No. 2 (2016): Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral Vol. 17 No. 1 (2016): Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral Vol. 16 No. 4 (2015): Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral Vol. 16 No. 3 (2015): Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral Vol. 16 No. 2 (2015): Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral Vol. 16 No. 1 (2015): Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral Vol. 15 No. 4 (2014): Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral Vol. 15 No. 3 (2014): Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral Vol. 15 No. 2 (2014): Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral Vol. 15 No. 1 (2014): Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral Vol. 23 No. 3 (2013): Jurnal Sumber Daya Geologi Vol. 23 No. 2 (2013): Jurnal Sumber Daya Geologi Vol. 23 No. 1 (2013): Jurnal Sumber Daya Geologi Vol. 14 No. 4 (2013): Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral Vol. 22 No. 4 (2012): Jurnal Sumber Daya Geologi Vol. 22 No. 3 (2012): Jurnal Sumber Daya Geologi Vol. 22 No. 2 (2012): Jurnal Sumber Daya Geologi Vol. 22 No. 1 (2012): Jurnal Sumber Daya Geologi Vol. 21 No. 5 (2011): Jurnal Sumber Daya Geologi Vol. 21 No. 4 (2011): Jurnal Sumber Daya Geologi Vol. 21 No. 3 (2011): Jurnal Sumber Daya Geologi Vol. 21 No. 2 (2011): Jurnal Sumber Daya Geologi Vol. 21 No. 1 (2011): Jurnal Sumber Daya Geologi Vol. 20 No. 6 (2010): Jurnal Sumber Daya Geologi Vol. 20 No. 5 (2010): Jurnal Sumber Daya Geologi Vol. 20 No. 4 (2010): Jurnal Sumber Daya Geologi Vol. 20 No. 3 (2010): Jurnal Sumber Daya Geologi Vol. 20 No. 2 (2010): Jurnal Sumber Daya Geologi Vol. 20 No. 1 (2010): Jurnal Sumber Daya Geologi Vol. 19 No. 6 (2009): Jurnal Sumber Daya Geologi Vol. 19 No. 5 (2009): Jurnal Sumber Daya Geologi Vol. 19 No. 4 (2009): Jurnal Sumber Daya Geologi Vol. 19 No. 3 (2009): Jurnal Sumber Daya Geologi Vol. 19 No. 2 (2009): Jurnal Sumber Daya Geologi Vol. 19 No. 1 (2009): Jurnal Sumber Daya Geologi Vol. 18 No. 6 (2008): Jurnal Sumber Daya Geologi Vol. 18 No. 5 (2008): Jurnal Sumber Daya Geologi Vol. 18 No. 4 (2008): Jurnal Sumber Daya Geologi Vol. 18 No. 3 (2008): Jurnal Sumber Daya Geologi Vol. 18 No. 2 (2008): Jurnal Sumber Daya Geologi Vol. 18 No. 1 (2008): Jurnal Sumber Daya Geologi Vol. 17 No. 6 (2007): Jurnal Sumber Daya Geologi Vol. 17 No. 5 (2007): Jurnal Sumber Daya Geologi Vol. 17 No. 4 (2007): Jurnal Sumber Daya Geologi Vol. 17 No. 3 (2007): Jurnal Sumber Daya Geologi Vol. 17 No. 2 (2007): Jurnal Sumber Daya Geologi Vol. 17 No. 1 (2007): Jurnal Sumber Daya Geologi Vol. 16 No. 6 (2006): Jurnal Sumber Daya Geologi Vol. 16 No. 5 (2006): Jurnal Sumber Daya Geologi Vol. 16 No. 4 (2006): Jurnal Sumber Daya Geologi Vol. 16 No. 3 (2006): Jurnal Sumber Daya Geologi Vol. 16 No. 2 (2006): Jurnal Sumber Daya Geologi Vol. 16 No. 1 (2006): Jurnal Sumber Daya Geologi More Issue