cover
Contact Name
M Dian Hikmawan
Contact Email
m.dian.hikmawan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
dian.hikmawan@untirta.ac.id
Editorial Address
Jl raya Pandeglang-Rangkas KM 2 Cilendu, Pandeglang-Banten
Location
Kab. pandeglang,
Banten
INDONESIA
Journal of Citizenship
Published by HK-Publishing
ISSN : -     EISSN : 28296028     DOI : https://doi.org/10.37950/joc
Core Subject : Social,
Journal of Citizenship (JOC) is an open-access journal and peer-reviewed journal. JOC try to disseminate current and original articles from researchers and practitioners on various contemporary social and Political issues in Asia: Democratization, citizenship, Comparative politics, environmental issues, digital society and disruption, community welfare, social development, public policy innovation, international politics & security, media, information & literacy, governance, human rights & democracy. (JOC) Invites researcher, academician, practitioners, and public to submit their critical writings and to contribute to the development of social and political sciences.
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Volume 3 Issue 1, 2024" : 5 Documents clear
Degradasi Identitas di Kalangan Generasi Z : Studi Kasus Kota Serang Yasin, Gathan Rizqi; Lestari, Firda Puji
Journal of Citizenship Volume 3 Issue 1, 2024
Publisher : HK-Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37950/joc.v3i1.362

Abstract

Abstract: Identity is something abstract that cannot be defined. Identity is one of the most important issues because it relates to the life and activities of individuals and groups. Then, with the existence of globalization and the development of science and technology, this also influences one's identity because of the entry of foreign values and understanding so that this also changes how a person or group understands, feels, and sees things. Generation Z, which is referred to as a modern and open-minded generation, often triggers polemics in response to something, so that people say that generation Z is a generation with an identity crisis. Gadgets and Globalization are factors that cause identity degradation among generation Z. Based on the results of the questionnaire we gave to respondents, there were 48.7% of people who occasionally did not participate in religious and cultural activities, which can be said to be a result of globalization and the influence of gadgets/gadgets among generation Z. The next percentage is related to their belief in religious/cultural dogmas, where there are 32.4% who doubt this and 67.6% who still believe. This percentage is contradictory to the previous percentage related to participation in religious/cultural activities, where there are 48.7% who sometimes and do not participate in religious/cultural activities, but 67.6% still believe in these religious/cultural dogmas. Therefore, the influence of globalization and gadgets also influences the understanding of identity among Generation Z in the city of Serang. This is due to globalization and the development of the times as well as the influx of outside values and understandings that have resulted in a fusion of values between native and foreign which has resulted in friction and confusion in society, especially generation Z.Keywords: Identity, Gen-Z, Globalization Abstrak: Identitas merupakan sesuatu yang abstrak yang tidak dapat di definisikan. Identitas menjadi salah satu masalah yang begitu penting karena berhubungan dengan kehidupan dan aktivitas individu maupun kelompok. Lalu, dengan adanya globalisasi dan perkembangan IPTEK hal tersebut turut mempengaruhi identitas seseorang karena masuknya nilai-nilai dan pemahaman asing sehingga hal tersebut turut mengubah bagaimana seeorang atau kelompok memahami, merasakan, dan melihat sesuatu. Generasi Z yang disebut sebagai generasi yang modern dan open minded sering kali memicu polemik dalam menanggapi suatu hal, sehingga masyarakat mengatakan bahwa generasi Z merupakan generasi yang krisis identitas. Gawai dan Globalisasi menjadi faktor yang membuat terjadinya degradasi identitas di kalangan generasi Z.  berdasarkan hasil kuisioner yang kami berikan kepada responden terdapat 48,7% masyarakat yang terkadang dan tidak mengikuti kegiatan agama serta kebudayaan, di mana hal tersebut dapat dikatakan akibat dari adanya globalisasi dan pengaruh dari gawai/gadget di kalangan generasi Z. presentase berikutnya terkait kepercayaan mereka terhadap dogma agama/budaya, di mana terdapat 32,4% yang ragu terhadap hal tersebut dan 67,6% yang masih percaya. Presentase tersebut kontradiktif dengan persentasi sebelumnya terkait partisipatif dalam kegiataan keagamaan/kebudayaan, di mana terdapat 48,7% yang terkadang dan tidak mengikuti kegiatan kegamaan/kebudayaan, tetapi 67,6% masih percaya terhadap dogma agama/budaya tersebut. Oleh karena itu, dengan adanya pengaruh dari globalisasi dan gadget turut mempengaruhi pemahaman identitas di kalangan generasi Z yang ada di kota serang. Hal tersebut karena  adanya globalisasi dan perkembangan jaman serta masuknya nilai dan pemahaman  luar membuat terjadinya fusi nilai antara asli dengan asing yang mengakibatkan pergesekan dan kebingungan di masyarakat khususnya generasi Z.Kata Kunci: Identitas, Gen Z, Globalisasi
Resistensi Perempuan: Studi Perlawanan Kelompok Perempuan (GERAPAS) Terhadap Pembangunan PLTB Padarincang Sari, Puput Mustika; Putri, Rara Anindya; Pradika, Fajri Drajat; Mahpudin, Mahpudin
Journal of Citizenship Volume 3 Issue 1, 2024
Publisher : HK-Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37950/joc.v3i1.465

Abstract

Abstract: The Sapar Women's Movement (GERAPAS) is a women's movement group in alliance with the Padarincang People's Struggle Union (SAPAR) in rejecting the construction of a Geothermal Power Plant (PLTPB), PT. Sintesa Banten Geothermal became the company appointed to carry out this development. The GERAPAS movement began in 2015. The rejections made by GERAPAS both privately and openly show that they do not accept the construction of PLTP which will have an impact on their nature. This women's movement was encouraged because of the strong desire of women to participate in defending their territory, by highlighting the struggle of prophets and national heroes as the basis of theirenthusiasm to fight for the Padarincang region. This article seeks to explain the pattern of mobilization and what is behind this women's movement. This research uses qualitative methods of case studies with observation, interview and documentation data collection techniques. This research shows that the rejection carried out by GERAPAS is at least able to make this geothermal development successful to be stopped temporarily.Keywords:  Territorial identity, Gender Identity, Resistance, Women's Groups. Abstrak: Gerakan Perempuan Sapar (GERAPAS) merupakan kelompok pergerakan perempuan yang berafiliasi dengan Serikat Perjuangan Rakyat Padarincang (SAPAR) dalam menolak pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPB), PT. Sintesa Banten Geothermal menjadi perusahaan yang ditunjuk untuk melakukan pembangunan ini. pergerakan GERAPAS mulai dilakukan sejak tahun 2015. Penolakan-penolakan yang dilakukan GERAPAS baik secara tertutup maupun terbuka menunjukkan bahwa mereka tidak terima dengan adanya pembangunan PLTPB yang akan berdampak pada alam mereka. Gerakan perempuan ini didorong karena adanya rasa keinginan yang kuat dari para perempuan untuk ikut mempertahankan wilayah mereka, dengan menyorot perjuangan para nabi dan pahlawan nasional menjadi pijakan semangat mereka untuk memperjuangkan wilayah Padarincang. Artikel ini berusaha untuk menjelaskan bagaimana pola mobilisasi serta hal apa yang melatarbelakangi pergerakan perempuan ini. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif studi kasus dengan teknik pengumpulan data observasi, wawancara dan dokumentasi. Penelitian ini menunjukkan bahwa penolakan yang dilakukan GERAPAS setidaknya mampu membuat pembangunan panas bumi ini berhasil untuk diberhentikan sementara waktu.Kata kunci: Identitas teritorial, Identitas gender, Perlawanan, Kelompok perempuan.
Blankspot (Internet Shutdown) Sebagai Bentuk Afirmasi Pemerintah Terhadap Keunikan Masyarakat Baduy Meidiany, Ratu Nur Aisyah; Prasatyastri, Prasatyastri
Journal of Citizenship Volume 3 Issue 1, 2024
Publisher : HK-Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37950/joc.v3i1.483

Abstract

Abstract: This study aims to explain how the government can affirm the uniqueness of the Baduy  Dalam community, where when the community demands internet access but the Baduy community is  the opposite, then in this study it also explains how the government can overcome the differences  that exist in the community, besides that it also explains how the Baduy Dalam community in the era  of modernization is very rapidly developing, but the Baduy Dalam community is still obedient to  customs and its culture or pikukuh . This study also explains about the Inner Baduy Community  which is closed to outsiders and how the Inner Baduy community can still preserve its culture. This  research also explains the reasons why the Baduy Dalam community asked the government to  eliminate internet access in the customary land area and how internet access can be said to be a  public service.Keyword: Baduy Dalam, Internet access, Government Abstrak: Dalam penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana pemerintah dapat  mengafirmasi keunikan masyarakat Baduy Dalam, dimana ketika masyarakat menuntut  adanya akses internet tetapi masyarakat Baduy malah sebaliknya lalu dalam penelitian ini  juga menjelaskan bagaimana pemerintah dapat mengatasi perbedaan yang ada  dimasyarakat, selain itu juga menjelaskan bagaimana masyarakat Baduy Dalam di era  modernisasi yang sangat berkembang pesat, tetapi masyarakat Baduy Dalam masih patuh  terhadap adat dan budayanya atau pikukuh. Pada penelitian ini juga menjelaskan mengenai  Masyarakat Baduy Dalam yang tertutup bagi orang luar dan bagaimana masyarakat Baduy  Dalam masih dapat melestarikan budayanya. Penelitian ini juga menjelaskan alasan  masyarakat Baduy Dalam meminta kepada pemerintah untuk menghilangkan akses  internet dikawasan tanah ulayat tersebut dan bagaimana akses internet bisa dikatakan  sebagai pelayanan publik.Kata Kunci: Baduy Dalam, Akses Internet, Pemerintah
Stigma Negatif Mantan Narapidana dalam Persepsi Masyarakat Rohman, Haikal Bintang; Komara, Rd. Naura Maulida
Journal of Citizenship Volume 3 Issue 1, 2024
Publisher : HK-Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37950/joc.v3i1.370

Abstract

Abstract: Former convicts often get bad views and negative stigma for the community because they are considered to be repeating their past actions, be it theft, which in the end, ex-convicts are often ostracized in society. Although not all ex-convicts received discriminatory treatment from the community because of their higher social and economic status, for example ex-corruption convicts did not receive discrimination while ordinary people's prisoners with middle to lower social and economic status often received discrimination from the community. Not to mention that in the world of work, many companies do not want to have employees with a bad reputation, such as having been in prison for theft, and the public should be able to judge ex-convicts as people who have returned to the good way and as people who have regretted their past actions.Keywords: Ex-Convict, Negative Stigma, Reputation Abstrak: Mantan narapidana sering kali mendapatkan pandangan yang buruk dan stigma negatif bagi masyarakat karena dianggap akan mengulangi perbuatannya dimasa lalu baik itu pencurian yang akhirnya mantan narapidana sering di kucilkan di lingkungan masyarakat.  Walaupun tidak semua mantan narapidana mendapatkan perlakuan diskriminasi dari masyarakat karena status sosial dan ekonomi lebih tinggi, seperti mantan narapidana korupsi tidak mendapatkan diskriminasi sedangkan narapidana rakyat biasa berstatus sosial dan ekonomi menengah kebawah seringkali mendapatkan diskriminasi dari masyarakat. Belum lagi dunia kerja banyak perusahaan yang tidak mau memiliki pegawai dengan reputasi buruk seperti pernah di penjara akibat kasus pencurian, dan seharusnya masyarakat bisa menilai mantan narapidana adalah orang kembali kepada jalan yang baik dan sebagai orang yang pernah menyesal atas perbuatan nya di masa lalu.Kata kunci: Mantan Narapidana, Stigma, Reputasi
Peranan Politik Etnisitas Dalam Kontestasi Pemilu di Indonesia Agustini, Wanda Qori; David, David; Arzikah, Sahliah Dita
Journal of Citizenship Volume 3 Issue 1, 2024
Publisher : HK-Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37950/joc.v3i1.371

Abstract

Abstract: Indonesia as one of the countries that has wealth in the form of quite a lot of diversity in the world, this is supported by the many differences between different individuals within one country, one of these differences is motivated by differences in race or ethnicity. According to the 2010 Statistics Agency census, there were 1,340 ethnic groups in Indonesia. This ethnic diversity is the identity of the Indonesian nation and a differentiator from other nations. But on the other hand, in fact this diversity also creates problems for our nation, one of which is when the election is approaching. It is often found that parties selling the issue of ethnicity in election contests which in turn lead to divisions and groupings between ethnicities, this problem is not a new problem in Indonesia, the issue of ethnicity existed long before the reform era.Keywords: Ethnicity, Election, Diversity Abstrak: Indonesia sebagai salah satu negara yang memiliki kekayaan berupa keanekaragaman yang cukup banyak di dunia, hal ini didukung oleh banyaknya perbedaan antar individu yang bebeda di dalam satu negara, salah satu perbedaan tersebut dilatar belakangi oleh adanya perbedaan ras ataupun etnis. Menurut sensus Badan Statistik pada tahun 2010 tercatat ada 1.340 jumlah etnis yang ada di Indonesia, adanya keanekargaman etnis ini menjadi identitas bangsa Indonesia dan menjadi pembeda dari bangsa-bangsa lain. Namun di sisi lain nyatanya keanekaragam ini juga menimbulkan adanya persoalan bagi bangsa kita, salah satunya yakni ketika menjelang pemilu. Seringkali ditemukannya pihak-pihak yang menjual isu etnisitas di dalam kontestasi pemilu yang pada akhirnya menimbulkan perpecahan serta pengelompokan antar etnis, permasalahan ini memang bukan menjadi persoalan baru di Indonesia, isu etnisitas sudah ada jauh sebelum masa reformasi.Kata Kunci: Etnisitas, Pemilu, Keanekaragaman

Page 1 of 1 | Total Record : 5