Articles
6 Documents
Search results for
, issue
"Vol 3, No 2 (2001): JULY 2001"
:
6 Documents
clear
JERAT BUDAYA BUJUK-RAYU DALAM LAYAR KACA DESAIN KOMUNIKASI VISUAL
H. Istanto, Freddy
Nirmana Vol 3, No 2 (2001): JULY 2001
Publisher : Institute of Research and Community Outreach - Petra Christian University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (48.855 KB)
|
DOI: 10.9744/nirmana.3.2.
The global community%2C including Indonesian society are trapped in the condition where cultural enticement through television has been spreading. With full capacity%2C the screen presents women as the main cast dancing and singing alluring theme to conquer society into consumptive culture. Women are always accused to be the leading actresses in this enticement and the cast securing their position in family. On the other hand%2C the puppeteers playing women on the screen are less spotlighted. Some of them are men and the others are visual communication designers. Abstract in Bahasa Indonesia : Tidak saja di Indonesia%2C warga duniapun kini berada dalam kondisi dimana budaya bujuk rayu lewat layar kaca demikian meruyak kemana-mana. Dengan segala kemampuannya%2C layar kaca menghadirkan perempuan sebagai pemeran utama menari dan mendendangkan bujuk rayu untuk menaklukan masyarakat pada budaya konsumer. Perempuan selalu dituding sebagai pelaku utama peran bujuk rayu ini dan pemeran yang melanggengkan posisinya pada seputaran lingkup rumah tangga. Di sisi yang lain%2C kurang di soroti tangan-tangan yang menggerakkan peran perempuan di layar kaca. Sebagian dari mereka adalah laki-laki dan sebagian dari mereka adalah para Desainer Komunikasi Visual. cultural enticement%2C women%2C television%2C visual communication design.
PEREMPUAN DAN IKLAN: SEBUAH CATATAN TENTANG PATOLOGI IDEOLOGI GENDER DI ERA KAPITAL
Kasiyan, Kasiyan
Nirmana Vol 3, No 2 (2001): JULY 2001
Publisher : Institute of Research and Community Outreach - Petra Christian University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (35.294 KB)
|
DOI: 10.9744/nirmana.3.2.
Observing commercial ads attentively from gender perspective in mass media in capitalism era%2C it will soon prove empirically the gloomy side of ‘capital economic politics’ which is existing revolutionarily and globally in this era that is when ads media%2C turning out to be the most effective profit making machine%2C has far poked the sensitivity of gender injustice%2C particularly on women. When commercial ads expression almost always ‘use’ women decoratively within a big narration%2C not far from stereotype exploitation on womanhood of women%2C women’s dignity has been incredibly retrenched. Because of this%2C many times%2C their beings are recognized negatively. The remaining embodiment is conceived as merely an object being prone to victims due to low bargaining power she holds. Therefore%2C it is compelling and crucial to raise the issue on reconstructing universal awareness%2C trying to clear up the gender ideology expression in libidinal economic era%2C hence it can be dug out as an alternative outlet/release and collective attitude towards absurd gender ideology. The following article is attempting to approach the addressed issue that from certain diametrical%2C will sharpen ads reality and mass media as a gender regime and some conceptions from macro-paradigmatic. Abstract in Bahasa Indonesia : Menyimak cermati perihal wacana iklan komersial di media massa di era kapital dari perspektif gender%2C maka akan segera memberikan bukti empiris perihal satu sisi buram dari warna ‘politik ekonomi kapital’ yang amat revolutif dan mengglobal keberadaannya di saat ini%2C yakni ketika wacana iklan sebagai salah satu mesin profit komoditas yang paling efektif%2C ternyata telah terlampau jauh menyinggung sensitivitas ketidakadilan gender%2C terutama bagi kaum perempuan. Ketika ekspresi iklan komersial yang ada hampir selalu ‘memakai’ dekoratif perempuan dengan segala narasi besarnya%2C yang tak pernah jauh dari makna eksploitasi stereotipi ‘keperempuanan’ perempuan%2C maka ketika itu pula perempuan sebagai insani sudah demikian jauh tereduksi harkatnya%2C dan oleh karenanya kerap kali menjadi ternegasikan keberadaannya. Ejawantahan yang tersisa kemudian hanyalah tinggal maknawi perempuan sebatas sebagai objek yang akan senantiasa rentan terhadap terminologi korban%2C karena teramat rendahnya gravitasi tawar yang bisa ia (perempuan) genggam. Oleh karena itu merupakan sesuatu yang amat mendesak dan krusial kiranya%2C keberadaan sebuah konstruksi kesadaran baru bersama%2C yang mencoba menjernihi ekspresi ideologi gender dalam era ekonomi libidinal ini%2C sehingga akan dapat digali berbagai alternasi outlet/pelepasan serta penyikapan kolektif bagi kenyataan ideologi gender yang absurd tersebut. Tulisan berikut berupaya untuk mendekatkan dengan hal dimaksud%2C dalam artian pada diametrikal tertentu akan mencoba memberikan penajaman perihal realitas iklan dan media massa sebagai rezim gender dan beberapa konsepsional dari perspektif yang makro-paradigmatik. women%2C advertisement%2C gender ideology.
CITRA PEREMPUAN DALAM IKLAN DI MAJALAH FEMINA EDISI TAHUN 1999 Kajian Semiotik Terhadap Nilai-nilai Gender Dalam Desain Iklan
Martadi, Martadi
Nirmana Vol 3, No 2 (2001): JULY 2001
Publisher : Institute of Research and Community Outreach - Petra Christian University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (220.058 KB)
|
DOI: 10.9744/nirmana.3.2.
This writing is about a search for conventional values cast off by ads in Femina magazines and an analysis on the new gender eminence constituted by that magazine. The analysis shows that in general%2C images of women are portrayed as individuals playing a role as ‘warden of refined and noble civilization’ in family. In average%2C the concept of ads depicts women’s nature as graceful%2C elegant%2C good at cook%2C more emotional%2C physically weak and whose main responsibility is to produce offspring. There are five images of women illustrated in that ads: the image as being family caretaker%2C carrying out duties in the kitchen%2C always performing captivating look%2C following the trend in social intercourse and being the object of men’s gratification. Some ads still show women’s image viewed as ‘object’ to gratify men’s desires despite the refined (implied) portrayal Femina magazine presents that image. Other ads correspondingly disclose the traditional gender values which maintain the clear limit between men’s and women’s world or at least still regard the typical natures of these two genders. The new gender values in ads are spotted not too many. A few of these values are tried to be constructed that is women are depicted as to follow actual recent news%2C appear trendy%2C and put family’s importance above her own. Abstract in Bahasa Indonesia : Pencarian nilai-nilai lama yang diluruhkan oleh iklan-iklan di majalah Femina dan mengkaji pula nilai-nilai baru gender yang sedang dibangun pada majalah tersebut. Hasil analisa menunjukan bahwa secara umum citra perempuan digambarkan sebagai insan yang memiliki peran menjadi “penjaga nilai-nilai halus dan adiluhung” di rumah. Konsep iklan rata-rata menggambarkan bahwa kondrat perempuan sebagai makhluk dengan tugas utama penyambung keturunan%2C lemah lembut%2C anggun%2C pandai memasak%2C lebih emosional%2C dan fisiknya kurang kuat. Secara garis besar ada lima citra perempuan yang digambarkan dalam iklan tersebut%2C yaitu: citra perempuan sebagai pengurus utama keluarga citra perempuan sebagai pengemban tugas-tugas di dapur%2C citra perempuan yang selalu ingin tampil memikat%2C Citra perempuan yang selalu harus mengikuti pergaulan%2C citra perempuan sebagai obyek untuk menyenangkan (pemuas) laki-laki. Pada beberapa iklan%2C masih memperlihatkan citra perempuan yang dipandang sebagai “obyek” untuk memuaskan kaum laki-laki%2C meskipun dalam iklan di majalah Femina citra tersebut digambarkan secara lebih halus (tersirat). Pada beberapa iklan masih memperlihatkan secara jelas adanya nilai-nilai gender lama yang masih mempertahankan penarikan garis batas yang jelas antara dunia laki-laki dengan dunia perempuan atau sekurang-kurangnya yang masih menganggap adanya ciri kodrati dari kedua jenis kelamin tersebut. Nilai-nilai gender baru dalam iklan tidak terlalu banyak ditampilkan. Beberapa nilai-nilai gender baru yang dicoba untuk dibangun yaitu perempuan digambarkan harus mengikuti perkembangan berita-berita aktual%2C selalu tampil sesuai perkembangan jaman%2C dan selalu mementingkan kepentingan anggota rumah tangganya%2C dari pada kepentingan dirinya sendiri. women’s image%2C magazine’s advertisement.
ESTETISISME DAN DILEMA PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DALAM IKLAN
Pranata, Moeljadi
Nirmana Vol 3, No 2 (2001): JULY 2001
Publisher : Institute of Research and Community Outreach - Petra Christian University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.9744/nirmana.3.2.
The development in women%5C%27s role is constructed by ads%5C%27 aestheticism and women%5C%27s attitude. Aestheticism provokes bad taste advertisement reducing woman as a mere biological object. Capitalistic system and structure has encouraged women to compete in social arena and subordination of women by men as well as conflicts among women. The empowerment of women%5C%27s role in ads can be achieved by generating the awareness on women not to part in stereotype establishing which inflicts women%5C%27s esteem. Further%2C law enforcement is required to control bad taste advertising. Abstract in Bahasa Indonesia : Perkembangan peran perempuan disebabkan oleh estetisisme iklan dan sikap perempuan sendiri. Estetisisme menyebabkan bad taste advertisement yang mereduksi perempuan sebatas mahluk biologis semata. Sistim dan struktur kapitalistik telah mendorong perempuan berkompetisi dalam arena sosial yang sekaligus menjadi ajang subordinasi perempuan oleh laki-laki serta ajang konflik antar perempuan. Pemberdayaan peran perempuan dalam iklan dapat dilakukan dengan gerakan penyadaran kepada perempuan agar tidak larut dalam proses pemapanan stereotipe yang merugikan perempuan. Selain itu%2C penegakan supremasi hukum perlu dilakukan untuk mengendalikan bad taste advertising. advertisment%2C+aestheticism%2C+empowerment%2C+women.
PERSPEKTIF GENDER DALAM REPRESENTASI IKLAN
Agung Suwasana, Arief
Nirmana Vol 3, No 2 (2001): JULY 2001
Publisher : Institute of Research and Community Outreach - Petra Christian University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.9744/nirmana.3.2.
Reconstructing women to obtain a role equal to that of man requires cognizance on how to reconstruct the dominant ideology of patriarch. Ads representation plays as a means of legitimating or preserving ideology and social phenomena. However%2C ultimately%2C the ads representation also reflects social culture. Abstract in Bahasa Indonesia : Kesadaran untuk merekonstruksi perempuan memperoleh peran yang setara dengan laki-laki memang memerlukan penyadaran bagaimana merekonstruksi dominasi ideologi patriarki. Representasi iklan memang dapat menjadi sarana legitimasi atau pelestari ideologi dan fenomena sosial. Akan tetapi pada akhimya representasi iklan juga menjadi cerminan budaya masyarakat. ideology%2C images%2C culture.
KEBERWACANAAN VISUAL : MENCERMATI PERAN PEREMPUAN DALAM IKLAN
Kweldju, Siusana
Nirmana Vol 3, No 2 (2001): JULY 2001
Publisher : Institute of Research and Community Outreach - Petra Christian University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.9744/nirmana.3.2.
In everyday life%2C we are overwhelmed by visual information. The written information has more limited scope%2C particularly in educational milieu. Visual information is mostly practiced by ads which also exploit women for embellishment resulting in gender bias. Visual discourse needs to studying to educate ourselves in perceiving and interpreting ads at higher level. Abstract in Bahasa Indonesia : Dalam kehidupan sehari-hari informasi visual lebih banyak menerpa kita. Informasi tulis lebih kecil lingkupnya%2C terutama hanya di lingkungan sekolah saja. Informasi visual ini banyak dimanfaatkan oleh iklan%2C dan iklan juga banyak mengeksploitasi perempuan untuk menyemarakkannya%2C sehingga terjadi bias gender. Keberwacanaan visual perlu dipelajari supaya kita lebih cerdas dalam memahami dan menginterpretasi iklan. gender%2C advertisement%2C visual discourse.