cover
Contact Name
Adit Widodo Santoso
Contact Email
adit.santoso@ukrida.ac.id
Phone
+6285171706076
Journal Mail Official
meditek@ukrida.ac.id
Editorial Address
Gedung A Lantai 5 Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Kristen Krida Wacana, Jl. Arjuna Utara No. 6, Duri Kepa, Kebon Jeruk, Jakarta Barat 11510
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Kedokteran Meditek
ISSN : 26861437     EISSN : 26860201     DOI : https://doi.org/10.36452/jkdoktmeditek
Core Subject : Health, Science,
Jurnal Kedokteran MEDITEK merupakan jurnal ilmiah yang mempublikasikan artikel-artikel dalam lingkup bidang kedokteran dan biomedik secara open access. Proses publikasi artikel melalui proses penelaahan oleh pakar sebidang (peer-review) secara double-blind. Jurnal Kedokteran Meditek berafiliasi pada Fakultas Kedokterandan Ilmu Kesehatan Universitas Kristen Krida Wacana, dengan misi mendorong penyebarluasan perkembangan ilmu kedokteran & biomedis di Indonesia maupun secara global dengan menerbitkan 3 edisi dalam setahun, yaitu: Januari, Mei dan September.
Articles 9 Documents
Search results for , issue "VOL. 22 NO. 58 JANUARI-APRIL 2016" : 9 Documents clear
Implikasi Klinis Angiosome pada Revaskularisasi Iskemia Tungkai Kritis Ronald Winardi Kartika
Jurnal Kedokteran Meditek VOL. 22 NO. 58 JANUARI-APRIL 2016
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v22i58.1263

Abstract

AbstrakIan Taylor memperkenalkan konsep angiosome, membagi  tubuh menjadi blok tiga dimensi berdasarkan  pasokan sumber arteri. Perlunya memahami angiosome dari kaki dan pergelangan kaki serta  interaksi di antara arteri tersebut  secara klinis berguna dalam revaskularisasi iskemia tungkai kristis pada kaki dan pergelangan kaki, terutama bila disertai dengan luka pada kaki yang sulit disembuhkan. Dengan bantuan angiosome, ahli bedah pembuluh darah dapat menentukan target utama dalam revaskularisasi untuk luka kronik pada iskemia tungkai kritis. Ada enam angiosome dari kaki dan pergelangan kaki yang berasal dari tiga arteri utama dengan  cabang-cabangnya di daerah plantar. Tiga cabang A. tibialis posterior masing-masing memasok bagian-bagian yang berbeda dari kaki plantar. Dua cabang A. peroneal memasok bagian anterolateral dari pergelangan kaki dan kaki belakang. Arteri tibialis anterior memasok pergelangan kaki anterior, dan bila diteruskan, arteri pedis dorsalis, persediaan dorsum kaki. Dengan selektif melakukan pemeriksaan USG pembuluh darah (doppler ultrasound)  pada koneksi angiosome ini dapat dengan  cepat memetakan pembuluh darah kaki  yang ada dan arah aliran, sehingga target revaskularisasi dapat ditentukan dengan tepat. Dari beberapa penelitian, revaskularisasi langsung pada angiosome luka kronik sangat berpengaruh pada penyembuhan luka.Pengetahuan rinci tentang anatomi vaskular dari kaki dan pergelangan kaki memungkinkan ahli bedah vaskuler merencanakan revascularisasi  pembuluh darah  kaki dan pergelangan kaki. Ahli bedah vaskuler juga dapat  merancang eksposur yang aman dari kerangka yang mendasari, dan memilih revaskularisasi yang paling efektif untuk luka kronik pada pasien. Kata kunci : Iskemia Tungkai Kritis, Revaskularisasi, Angiosome                                                            AbstractIan Taylor introduced the concept angiosome, dividing the body into three different dimensional blocks of tissue which supply by the artery. Understanding angiosomes of the foot and ankle and the interaction between their source arteries is clinically useful in the surgery of the foot and ankle, especially with the presence of peripheral vascular disease. Based on  angiosome, the vascular surgeon can determine the primary target in the revascularization of the chronic wounds in critical limb ischemia.There are six angiosomes of the foot and ankle, which is derived from the three main arteries and their branches to the foot and ankle. The three branches of the posterior tibia artery supply different parts of the plantar foot. Two branches of the peroneal artery supply the anterolateral part of the ankle and hind legs. The anterior tibia artery supply the anterior ankle, and its continuation, the dorsal pedis artery, supplies the dorsum of the foot. The blood flow to the foot and ankle redundant; because the three main arteries of each legs have some connection..Using selective Doppler examination of this connection, it is possible to  map the existing leg veins and the direction of flow. Some author reported that direct revascularization  of chronic wound angiosome well influence quickly in wound healing. Detailed knowledge of the vascular anatomy of the foot and ankle allows the surgeon to plan the reconstruction the veins of the legs and ankles. Surgeons also can design a safe exposure of the underlying framework, and choose the most effective revascularization of the wound. Keywords : Critical Limb Ischemia, Revascularization, Angiosome
Gambaran Klinis dan Tata Kelola Batu Saluran Kemih pada Bayi dan Anak-anak Ahmad Ricardo
Jurnal Kedokteran Meditek VOL. 22 NO. 58 JANUARI-APRIL 2016
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v22i58.1264

Abstract

AbstrakPrevalensi batu saluran kemih pada anak saat ini berkisar 2-3%, sedangkan tingkat rekurensinya dapat mencapai 6,5-54%. Penyebabnya sebagian besar faktor metabolik. Penyebab lain berupa kelainan anatomis dan infeksi saluran kemih. Jenis batu paling sering berupa  batu kalsium oksalat (40-60%), dan paling jarang berupa batu urat (2-10%). Lokasi batu sebagian besar di ginjal pada anak berusia 0-5 tahun (68%). Sedangkan batu pada uretra lebih sering ditemukan pada kelompok anak berusia 6-10 tahun (64%), dan berusia 11-18 tahun (82%).Keluhan yang dirasakan dapat berupa nyeri perut yang tidak khas, mudah menangis, muntah, sulit mengeluarkan urine, tidak nafsu makan dan sering memegang alat kelaminnya tanpa sebab yang jelas. Namun sebagian anak ada yang tidak mengeluhkan gejala sama sekali. Selain anamnesis yang teliti, diperlukan pemeriksaan radiologis seperti USG (utama), Foto Polos Abdomen atau Spiral CT Scan (dilakukan sesuai indikasi) untuk mencari kelainan anatomis dan mengetahui lokasi batu. Pemeriksaan urinanalisa yang diperlukan antara lain derajat keasaman (pH) urine, dan pemeriksaan urine 24 jam untuk mengetahui kandungan kristal (seperti kalsium, oksalat, sitrat, asam urat, magnesium, fostat, sistin dan kreatinin) pada urine. Pemeriksaan serum (darah), sebaiknya diperiksa kadar Ca, PO4, Na, K, HCO3, asam urat, Mg, Kreatinin serum, serta kadar alkalin fosfatase. Jika batu keluar secara spontan, pemeriksaan analisa batu sangat berguna untuk penegakan diagnosis, penentuan jenis batu dan mencegah terjadinya batu saluran kemih berulang.Penanganan batu saluran kemih pada anak dapat berupa pemberian analgetik, peningkatan intake cairan untuk meningkatkan volume urine, dan tindakan operatif seperti pembedahan terbuka (open stone surgery), ureteroskopi, Extracorporeal shock wave lithotripsy (ESWL), hingga Percutaneous nephrolithotomy (PCNL). Kata kunci: Batu saluran kemih, anak, keluhan, pemeriksaan  AbstractThe prevalence of urinary tract stones in children is now about 2 to 3%, while the recurrence rate can reach 6.5 to 54%. The largest cause being metabolic factors. Other causes are anatomic abnormalities and urinary tract infections. These types of stones are most often in the form of calcium oxalate stones (40-60%), while the least common form is urate stones (2-10%). The location is most often in the kidneys in children aged 0-5 years (68%). Whereas stones in the urethra are more often found in the group of children aged 6-10 years (64%) and aged 11-18 years (82%).While complaints of abdominal pain are not typical, patients often suffer from: crying easily, vomiting, difficulty passing urine, loss of appetite, and often touch their genitals for no apparent reason. However, some children do not complain of any symptoms at all. In addition to a careful history, radiological examinations are required, including ultrasounds (foremost), Plain Abdominal x-ray or Spiral CT Scans (performed as indicated) to search for anatomical abnormalities and to know the location of the stone. Urinanalysis examinations are required, among other analyses, to measure the degree of acidity (pH) of urine and a 24-hour urine test to determine the content of crystals (such as calcium, oxalate, citrate, uric acid, magnesium, phosphate, cystine and creatinine) in the urine. Examination of serum (blood) should be conducted as well as examination of levels of: Ca, PO4, Na, K, HCO3, gout, Mg, serum creatinine, and alkaline phosphatase levels. If the stones come out spontaneously, stone analysis is very useful for diagnosis as well as determining of the type of stone in order to prevent recurrent urinary tract stones.Handling of urinary tract stones in children can be pain relief, increase fluid intake to increase urine volume and take operative measures, such as open surgery (open stone surgery), ureteroscopy, extracorporeal shock wave lithotripsy (ESWL), or Percutaneous nephrolithotomy (PCNL). Key words: Urinary tract stone, children, complaint, examination
Malformasi Anorektal Irene Lokananta; Rochadi .
Jurnal Kedokteran Meditek VOL. 22 NO. 58 JANUARI-APRIL 2016
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v22i58.1265

Abstract

Abstrak Atresia ani, yang kini dikenal sebagai malformasi anorektal (MAR) adalah suatu kelainan kongenital yang menunjukkan keadaan tanpa anus atau dengan anus yang tidak sempurna. Malformasi anorektal merupakan kelainan kongenital yang sering kita jumpai pada kasus bedah anak. Lebih dari setengah abad terakhir terjadi perkembangan terapi bedah untuk malformasi anorektal dari cut back sederhana sampai dengan yang sering dikerjakan saat ini, yaitu posterior sagittal anorectoplasty (PSARP).Karena malformasi anorektal merupakan kasus bedah anak yang paling sering dijumpai dan berhubungan dengan tingginya morbiditas maka perlulah para ahli medis dan orang awam segera mengenali diagnosis penyakit kongenital ini. Kata kunci: Atresia ani, malformasi anorektal, posterior sagittal anorectoplasty, kolostomi.  Abstract Imperforata ani that now known as anorectal malformation (ARM) is a congenital disorder that indicates the absence or the imperfect of the ani. Anorectal malformation is a congenital disorder which is often encountered in pediatric surgery. Over the last half century the surgical treatment for anorectal malformation is developed, from the simple cut back to posterior sagittal anorectoplasty (PSARP). Because anorectal malformation is the most common case in pediatric surgery and also associated with high morbidity, it is necessary for immediately medical experts and layman to recognize the diagnosis of this congenital disease.  Keywords: Imperforate ani, anorectal malformation, posterior sagittal anorectoplasty, colostomy.
Diagnosis dan Penatalaksanaan Terkini Pituitary Tumor William Stevenson
Jurnal Kedokteran Meditek VOL. 22 NO. 58 JANUARI-APRIL 2016
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v22i58.1266

Abstract

Abstrak Hipofisis dikenal sebagai "master gland" karena membantu untuk mengontrol sekresi hormon kelenjar lain dan target organ dalam tubuh mencakup tiroid, adrenal, testis, dan ovarium. Tumor hipofisis insidensnya 12 -19% dari semua tumor otak, membuat mereka yang ketiga yang paling umum tumor otak primer pada orang dewasa, meningioma berikut dan glioma. Tumor hipofisis dapat ditemukan di setiap kelompok umur, insiden cenderung meningkat sesuai usia.  Wanita didiagnosa tumor hipofisis lebih banyak dibandingkan dengan laki-laki. Pengobatan tumor hipofisis tergantung pada aktivitas hormonal tumor, ukuran dan lokasi tumor, serta usia dan kondisi umum dari penderita. Tujuan pengobatan untuk menghilangkan tumor, mengurangi atau mengontrol ukuran tumor, dan / atau untuk mengatur keseimbangan kadar hormon.1 Kata kunci : Hipofisis,  tumor,  kelenjar, pengobatan  Abstract Pituitary gland is known as the “master gland” because it controls the secretion of hormones from a number glands and “target” organs in the body. These include the thyroid, the adrenals, testes and ovaries. Pituitary tumors account for 12 -19% of all primary brain tumors, making them the third most common primary brain tumor in adults, following meningiomas and the gliomas. Pituitary tumors can be found in every age group, but their incidence tends to increase with age.  Women are diagnosed with pituitary tumors slightly more often than men. Treatment of a pituitary tumor depends on the hormonal activity of the tumor, the size and location of the tumor, as well as the age and overall health of the person with the tumor. The goals of treatment are to remove the tumor, to reduce or control tumor size, and/or to re-balance hormone levels. 1 Keywords : Pituitary,  tumor,  glands, treatments
Gangguan Fungsi Tiroid pada Penggunaan Amiodaron David Susanto; Visakha Revana Irawan
Jurnal Kedokteran Meditek VOL. 22 NO. 58 JANUARI-APRIL 2016
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v22i58.1267

Abstract

AbstrakAmiodaron merupakan obat anti aritmia yang efektif untuk mengontrol ritme aritmia yang mengancam, namun pengobatan ini dapat memberikan berbagai efek samping. Disfungsi tiroid merupakan efek samping yang cukup sering terjadi selama terapi amiodaron. Hal ini disebabkan karena tingginya jumlah ion iodin dan adanya hambatan pada aktivitas enzim deiodinase. Disfungsi tiroid yang disebabkan oleh amiodaron, memiliki variasi klinis, mulai dari tanpa gejala, hipotiroid, hingga tirotoksikosis. Di perlukan pemantauan pengobatan jangka panjang karena eliminasi amiodaron yang memanjang dan waktu paruh yang terkait dengan komplikasinya. Kata Kunci: amiodaron, gangguan tiroid, hipotiroid, tirotoksikosis  AbstractAmiodarone is an effective anti arrhytmic agent to control the rhytm of life threatening arrhytmia but will causevarious side effects. Thyroid dysfunction is not uncommon during amiodarone therapy and is caused by iodide excess and inhibition of deiodinase activity. Amiodarone induced thyroid dysfunction and it varies from asymptomatic variation in thyroid function to clinically hypothyroidism and thyrotoxicosis. Amiodarone should be monitored due to its prolong elimination and half life which is associated with its complication. Keywords: amiodarone, hypothyroidism, thyroid disorder, thyrotoxicosis
Mendengkur Erna M. Marbun
Jurnal Kedokteran Meditek VOL. 22 NO. 58 JANUARI-APRIL 2016
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v22i58.1268

Abstract

AbstrakMendengkur merupakan suatu masalah sosial yang harus diwaspadai, karena dapat menjadi  petunjuk adanya masalah kesehatan yang berhubungan dengan struktur fisiologi anatomi saluran pernapasan atas. Salah satu penyakit yang memiliki gejala  mendengkur  adalah Obstructive Sleep Apnea (OSA). Pada orang yang menderita OSA, pernapasan  dapat terhenti sesaat  sehingga asupan oksigen pada jantung dan otak dapat berkurang, hal ini dapat mengancam jiwa. Menurut American Academy of Otorhinolaringology, 45% orang dewasa pernah mengalami snoring dan lebih sering ditemukan pada laki-laki, sedangkan prevalensi terjadinya OSA pada usia 30-60 tahun adalah sebanyak 12 juta. Oleh karena itu, penting  untuk mengetahui penyebabnya dengan menggunakan teknik yang tepat agar gangguan ini mendapatkan pengobatan yang efektif. Kata kunci :  Mendengkur, OSA (Obstructive Sleep Apnea) Abstract Snoring is a social problem that needs more attention because, it can be an indication of health problems that associated with the anatomy physiology structure of the upper respiratory tract. One of the diseases that have symptoms of snoring is Obstructive Sleep Apneu (OSA). Breathing can stop for a moment so that supply of oxygen to the heart and brain is reduced. The complication and sequele of snoring can be life  threatening. According to American Academy of Otorhinolaringology, 45% of adults have experienced snoring and commonly found in men. While the prevalence of OSA happened at the age of 30-60 years is 12 million. Therefore it is important for us to find out the  cause by using the right technique so that these disorders receive effective treatment  Keywords : Snoring, (OSA) Obstructive Sleep Apnea
Peran Kalsium dalam Penurunan Berat Badan pada Obesitas Anna Maria Dewajanti; Flora Rumiati
Jurnal Kedokteran Meditek VOL. 22 NO. 58 JANUARI-APRIL 2016
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v22i58.1269

Abstract

AbstrakKegemukan atau obesitas terjadi karena konsumsi makanan yang melebihi kebutuhan Angka Kecukupan Gizi (AKG) per hari. Bila kelebihan ini terjadi dalam jangka waktu lama, dan tidak diimbangi dengan aktivitas yang cukup untuk membakar kelebihan energi, lambat laun kelebihan energi tersebut akan diubah menjadi lemak dan ditimbun di dalam sel lemak di bawah kulit. Banyak upaya yang telah dilakukan untuk menurunkan berat badan, tetapi cara yang efektif adalah melalui perbaikan pola makan atau dengan diet yang diimbangi dengan melakukan olah raga dengan tujuan untuk membakar lemak. Penelitian tentang peranan kalsium untuk menurunkan berat badan telah dilakukan menggunakan hewan coba. Mekanisme kerja kalsium berhubungan dengan peran kalsium dalam metabolisme pada jaringan adiposa. Adanya peningkatan konsumsi kalsium dalam bahan pangan akan menurunkan konsentrasi 1,25-dehidroksi vitamin D3 (1,25 (OH2) D3), sehingga  akan menyebabkan penurunan pengaturan transfer kalsium ke jaringan adiposa dan pankreas.  Pada jaringan adiposa, penurunan konsentrasi kalsium intraseluler akan menurunkan enzim asam lemak sintase, penurunan proses lipogenesis, dan peningkatan lipolisis. Sementara, pada sel pankreas, penurunan konsentrasi kalsium intraseluler akan menurunkan produksi insulin yang akan berpengaruh terhadap penurunan lipogenesis dan peningkatan lipolisis dalam adiposit. Kombinasi keduanya ini berperan dalam penurunan simpanan lemak dalam jaringan adiposa. Kata kunci : obesitas, metabolisme kalsium, peranan kalsium intraseluler  Abstract Overweight or obesity occurs due to consumption of food that exceed the recommended Dietary allowance.  When this excess occurs in the long term, and not enough activity to burn off the excess energy, eventually the energy will be converted into fat and deposited in fat cells under the skin. Much effort has been made to lose weight, but how effective it is through improved diet or a diet that balanced with exercise for the purpose of fat burning. The research of the role of calcium for weight loss has been carried out using experimental animals. The mechanism of action of calcium associated with the role of intracellular calcium metabolism in adipose tissue. An increase of calcium consumption in food will lower the concentration of 1,25-dehidroksi vitamin D3 (1,25 (OH2) D3), which will cause a decrease of calcium transfer to adipose tissue and pancreas. In adipose tissue,  the reduction of intracellular calcium concentration will decrease fatty acid synthase enzyme, decreased lipogenesis process, and increase lipolysis. Meanwhile, in the pancreatic cells, a decrease in intracellular calcium concentration will decrease the production of insulin which will affect the decrease in lipogenesis and increased lipolysis in adipocytes. This combination plays a role in decreasing the fat deposits in adipose tissue. Keywords: obesity, calcium metabolism, the role of intracellular calcium
Kegemukan dan Obesitas pada Anak-anak Grace JMT Winaktu
Jurnal Kedokteran Meditek VOL. 22 NO. 58 JANUARI-APRIL 2016
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v22i58.1270

Abstract

AbstrakKegemukan dan obesitas merupakan masalah gizi berlebih yang makin banyak dijumpai pada anak-anak di seluruh dunia. Masalah obesitas sendiri dapat terjadi pada usia anak-anak, remaja, hingga dewasa. Kegemukan dan obesitas dari segi kesehatan merupakan salah satu penyakit salah gizi, sebagai akibat konsumsi makanan jauh melebihi kebutuhannya. Perlu dilakukan upaya pencegahan dan penanggulangan faktor risiko obesitas pada anak-anak usia 5-15 tahun, dengan menanamkan pendidikan kesehatan pada anak-anak sejak usia dini, melalui peningkatan komunikasi, informasi, dan edukasi, seperti gerakan anti-rokok, gerakan cinta serat (sayur dan buah), serta membudayakan aktivitas fisik. Kata kunci: kegemukan, obesitas, anak-anak  AbstractOverweight and obesity is a problem of excessive nutrients which is found in children around the world. In terms of health malnutrition is a result of food consumption more than their needs. To overcome this obesity problem in children (5-15 years old), it is necessary  to provide health education to children from early age with appropriate  information, education and communication such as anti smoking program, eat of fiber (vegetables and fruits) and develop a habitual of sport activities.  Keywords: overweight, obesity, children
Manfaat Meniran (Phyllanthus niruri) untuk Penyembuhan Demam Berdarah Dengue Laotesa Rammang; Esther Sri Majawati
Jurnal Kedokteran Meditek VOL. 22 NO. 58 JANUARI-APRIL 2016
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v22i58.1271

Abstract

Abstrak Saat ini insiden demam berdarah dengue cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Penyebab meningkatnya jumlah kasus demam berdarah karena semakin padatnya penduduk, tingginya mobilitas penduduk, dan kurangnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya lingkungan yang bersih. Artinya penyebaran nyamuk akan semakin luas, seiring dengan semakin bertambahnya penduduk. Demam berdarah dengue (DBD) disebabkan oleh virus dengue yang ada pada nyamuk Aedes aegypty penularnya. Tidak semua nyamuk dapat menyebabkan demam berdarah dengue, hanya nyamuk  yang mengandung virus dengue yang dapat menyebabkan penyakit. Demam berdarah dengue menyebabkan seseorang mengalami peradangan hati, daya tahan tubuh menurun. Meniran (Phyllanthus niruri) sering digunakan sebagai pengobatan herbal pada demam berdarah dengue . Penelitian medis tentang meniran terus dilakukan, terutama efeknya yang dapat meningkatkan daya tahan tubuh dan antihepatoksik,yang pada penderita demam berdarah dengue sering terjadi penurunan daya tahan tubuh dan peradangan hati. Kata kunci : Meniran, DBD, falvanoid, filatin, hepofilatinAbstractCurrently the insidens of dengue fever tend to increase from year to year. The cause of the increasing number of cases of dengue fever due to of dense population,  high population mobility and  public minimal awareness of the importance of a clean environment. The spreading of mosquitoes will be more extensive, along with the increasing population. Dengue fever is caused by dengue virus and Aedes aegypty as the vector.  Not all mosquitoes causing dengue fever , the only mosquitoes carrying the dengue virus can cause disease. Dengue fever can cause liver inflammation, decreased immune system due to a viral infection. Meniran (Phyllanthus niruri) is often used in herbal medicine. Medical research on meniran is still continuing, especially its   effect on the defense mechanism and liver inflammation which always decreasing during the fever.  Keywords : Meniran, DHF, falvanoid, filatin, hepofilatin

Page 1 of 1 | Total Record : 9


Filter by Year

2016 2016


Filter By Issues
All Issue Vol 31 No 6 (2025): November Vol 31 No 5 (2025): SEPTEMBER Vol 31 No 4 (2025): JULI Vol 31 No 3 (2025): MEI Vol 31 No 2 (2025): MARCH Vol 31 No 1 (2025): JANUARI Vol 30 No 3 (2024): SEPTEMBER Vol 30 No 2 (2024): MEI Vol 30 No 1 (2024): JANUARI Vol 29 No 3 (2023): SEPTEMBER Vol 29 No 2 (2023): MEI Vol 29 No 1 (2023): JANUARI Vol 28 No 3 (2022): SEPTEMBER-DESEMBER Vol 28 No 2 (2022): MEI-AGUSTUS Vol 28 No 1 (2022): JANUARI-APRIL Vol 27 No 3 (2021): SEPTEMBER - DESEMBER Vol 27 No 2 (2021): MEI - AGUSTUS Vol 27 No 1 (2021): JANUARI - APRIL Vol 26 No 3 (2020): SEPTEMBER - DESEMBER Vol 26 No 2 (2020): MEI-AGUSTUS Vol 26 No 1 (2020): JANUARI - APRIL Vol 25 No 3 (2019): SEPTEMBER - DESEMBER Vol 25 No 2 (2019): MEI - AGUSTUS Vol 25 No 1 (2019): JANUARI - APRIL VOL. 24 NO. 68 OKTOBER-DESEMBER 2018 VOL. 24 NO. 67 JULI-SEPTEMBER 2018 VOL. 24 NO. 66 APRIL-JUNI 2018 VOL. 24 NO. 65 JANUARI-MARET 2018 VOL. 23 NO. 64 OKTOBER-DESEMBER 2017 VOL. 23 NO. 63 JULI-SEPTEMBER 2017 VOL. 23 NO. 62 APRIL-JUNI 2017 VOL. 23 NO. 61 JANUARI-MARET 2017 VOL. 22 NO.60 SEPTEMBER-DESEMBER 2016 VOL. 22 NO. 59 MEI-AGUSTUS 2016 VOL. 22 NO. 58 JANUARI-APRIL 2016 Vol. 21 No. 57 September-Desember 2015 Vol. 21 No. 56 Mei-Agustus 2015 Vol. 21 No. 55 Januari - April 2015 Vol. 20 No. 54 September-Desember 2014 Vol. 20 No. 53 Mei-Agustus 2014 Vol. 20 No. 52 Januari-April 2014 Vol. 18 No. 48 September - Desember 2012 Vol. 18 No. 47 Mei - Agustus 2012 Vol. 18 No. 46 Januari - April 2012 Vol. 17 No. 45 September - Desember 2011 vol. 17 no. 44 Mei-Agustus 2011 vol. 17 no. 43 Januari-April 2011 Vol. 16 No. 43B Mei - Agustus 2010 Vol. 16 No. 42A Januari - April 2010 vol. 16 no. 42 September-Desember 2009 vol. 15 no. 40 Januari-April 2009 Vol. 15 No. 39C Januari-April 2008 Vol. 15 No. 39E September-Desember 2008 Vol. 15 No. 39B September-Desember 2007 vol. 15 no. 39 Januari-April 2007 Vol. 15 No. 39A Mei-Agustus 2007 vol. 14 no. 38 September-Desember 2006 vol. 14 no. 37 Mei-Agustus 2006 vol. 14 no. 36 Januari-April 2006 vol. 13 no. 35 September-Desember 2005 vol. 13 no. 34 Mei-Agustus 2005 vol. 13 no. 33 Januari-April 2005 vol. 12 no. 32 September-Desember 2004 vol. 12 no. 31 Mei-Agustus 2004 vol. 12 no. 30 January-April 2004 vol. 11 no. 29 Agustus-Desember 2003 vol. 11 no. 28 April-July 2003 Vol. 10 No. 27 Januari-April 2002 Vol. 9 No. 26 September - Desember 2001 Vol. 9 No. 25 Mei-Agustus 2001 Vol. 8 No. 23 September - Desember 2000 Vol. 7 No. 20 Juli-Oktober 1999 Vol. 6 No. 17 Oktober-Desember 1998 Vol. 6 No. 15 April-Juni 1998 Vol. 5 No. 13 Oktober-Desember 1997 Vol. 5 No. 12 Juli-September 1997 Vol. 5 No. 11 Juli-September 1997 Vol. 4 No. 10 September-Desember 1996 Vol. 4 No. 9 Mei-Agustus 1996 Vol. 4 No. 8 Januari-April 1996 Vol. 3 No. 7 September-Desember 1995 Vol. 3 No. 6 Mei-Agustus 1995 Vol. 3 No. 5 Januari-April 1995 More Issue