cover
Contact Name
Adit Widodo Santoso
Contact Email
adit.santoso@ukrida.ac.id
Phone
+6285171706076
Journal Mail Official
meditek@ukrida.ac.id
Editorial Address
Gedung A Lantai 5 Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Kristen Krida Wacana, Jl. Arjuna Utara No. 6, Duri Kepa, Kebon Jeruk, Jakarta Barat 11510
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Kedokteran Meditek
ISSN : 26861437     EISSN : 26860201     DOI : https://doi.org/10.36452/jkdoktmeditek
Core Subject : Health, Science,
Jurnal Kedokteran MEDITEK merupakan jurnal ilmiah yang mempublikasikan artikel-artikel dalam lingkup bidang kedokteran dan biomedik secara open access. Proses publikasi artikel melalui proses penelaahan oleh pakar sebidang (peer-review) secara double-blind. Jurnal Kedokteran Meditek berafiliasi pada Fakultas Kedokterandan Ilmu Kesehatan Universitas Kristen Krida Wacana, dengan misi mendorong penyebarluasan perkembangan ilmu kedokteran & biomedis di Indonesia maupun secara global dengan menerbitkan 3 edisi dalam setahun, yaitu: Januari, Mei dan September.
Articles 8 Documents
Search results for , issue "VOL. 22 NO. 59 MEI-AGUSTUS 2016" : 8 Documents clear
Mekanisme Biomolekuler Pseudomonas aeruginosa dalam Pembentukan Biofilm dan Sifat Resistensi terhadap Antibiotika Wani Devita Gunardi
Jurnal Kedokteran Meditek VOL. 22 NO. 59 MEI-AGUSTUS 2016
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v22i59.1272

Abstract

Abstrak            Bakteri Pseudomonas aeruginosa adalah salah satu bakteri batang Gram negatif penghasil biofilm yang banyak berperan dalam  infeksi akut dan kronik. Komponen biofilm bakteri Pseudomonas aeruginosa adalah Alginat yang merupakan polimer asetil dari asam beta D-mannouronik dan alfa-L- asam guluronik. Biofilm ini resisten terhadap antimikroba dan sistem pertahanan  imun tubuh sehingga sulit untuk dieradikasi.  Ketidakberhasilan terapi antibiotika pada keadaan  infeksi biofilm dikarenakan adanya struktur biofilm yang tersusun dari matriks Extracelullar Polimeric Substances (EPS) yang sulit ditembus oleh antibiotika. Komponen  matriks eksopolisakarida (EPS) sebagai bahan pembungkus biofilm terdiri dari Psl, Pel, Alg, dan eDNA. P.aeruginosa diketahui mampu menghasilkan tiga eksopolisarida biofilm yaitu alginat, Psl dan Pel. Komponen Psl dan Pel berperan dalam proses pematangan atau maturasi biofilm dan  resistensi antibiotika, sedangkan komponen Alg lebih banyak berperan dalam menghasilkan mukus untuk melindungi Pseudomonas aeruginosa dari antimikroba dan sistem imunitas tubuh.  Antibiotika golongan makrolida (eritromisin, claritromisin, dan azitromisin) memunyai aktivitas antibiofilm yang kuat secara in vitro dan in vivo pada infeksi bakteri biofilm batang Gram negatif dengan menghambat alginat yang membentuk EPS.  Semua jenis antibiotik kecuali polymyxin  ditolak oleh sistem mekanisme pompa efflux P.aeruginosa yaitu  meAX-oprM, mexXY-oprM, mexCD-oprJ dan mexEF-oprN. Virulensi bakteri Pseudomonas aeruginosa  berhubungan dengan produk bakteri seperti eksotoksin A, eksoenzim S, alginat, hemolisin, fosfolipase C, elastase, alkalin protease dan siderofor. Semua faktor virulensi ini telah memainkan peranan penting pada patogenesis infeksi traktus respiratorius, saluran kemih, luka dan keratitis. Kata kunci : Pseudomonas aeruginosa,  bakteri penghasil biofilm, resistensi biofilm terhadap antibiotika  Abstract            Pseudomonas aeruginosa  is one of the gram-negative bacteria producing biofilm which has an important role in acute and chronic infection.  Pseudomonas aeruginosa ‘s biofilm  material is known as  asetyl polimer originate from D-mannouronik beta acid and alfa-L- guluronik acid. This biofilm is resistant to antibiotics and immune systems which make it hard to be eradicated. The ineffectiveness of antibiotics treatment to biofilm infections due to high level of biofilm resistance as a result from biofilm structure itself, build by exopolysaccharide matrix known as extracelullar polimeric substances (EPS). This EPS functioned  as a biofilm shield, contains of Psl, Pel, Alg, dan eDNA. P.aeruginosa is known to be capable of producing three different type of exopolysaccharide matrix, which are alginate, PsI and Pel. Psl and Pel material have role in maturation process and antibotics resistant mechanism. Meanwhile, the Algs modulate defense mechanism of host’s imune system and antibiotic resistance by producing slime. Makrolide antibiotic class (eritromisin, claritromisin and azitromisin) has a strong antibiofilm activity in vitro and in vivo towards all gram-negative bacteria producing biofilm infections by detaining the Alginate which produces EPS. All types of antibiotics class, except polymyxin, were ejected by Pseudomonas aeruginosa efflux pumping mechanism  like meAX-oprM, mexXY-oprM, mexCD-oprJ dan mexEF-oprN. Virulence factor of Pseudomonas aeruginosa related with bacteria products such as exotoxin A, exoenzyme S, alginate, hemolysin, phospholipase C, elastase, alkaline protease and siderofor. All of these virulence factors play an important role in pathogenesis of respiratory tract infection, urinary tract infection, wounds and keratitis. Keywords : Pseudomonas aeruginosa, biofilm producer, multidrugs resistant biofilm producer
Heterogenitas pada Struktur Genotipe Hepatitis C Virus Donna Mesina Rosadini Pasaribu
Jurnal Kedokteran Meditek VOL. 22 NO. 59 MEI-AGUSTUS 2016
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v22i59.1273

Abstract

AbstrakHepatitis C merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus hepatitis C (HCV), famili Flaviviridae, genom Ribo Nuclead Acid (RNA), berutas tunggal, polaritas positif. Hidup dan bereplikasi di dalam sel hapatosit. Stuktur genom HCV terdiri atas satu ORF (open reading frame) yang memberi kode pada polipeptida komponen struktural, terdiri atas nukleokapsid (inti C), protein selubung atau envelope (E1 dan E2), serta bagian non struktural dibagi menjadi NS2, NS3, NS4a, NS4b, NS5a, dan NS5b. Bagian genom HCV yang paling stabil adalah nukleokapsid atau protein inti (core), dan dipakai untuk deteksi antibodi dalam serum pasien.  Protein envelope E2 merupakan bagian HCV yang sangat heterogen, dan yang paling tinggi variabilitasnya sehingga disebut hypervariabel region 1 (HVR 1).  Berdasarkan struktur genom HCV yang heterogen tersebut penggolongn HVC berdasarkan genotip, subtipe dan kuasispesies. Penelitian sekuens genom HCV membuktikan bahwa keragaman kuasipsesies pada HCV memunyai korelasi yang kuat dengan kemampuan progresivitas dan kronisitas virus terhadap hospes. Selama proses replikasi virus, menutup fungsi normal hepatosit atau membuat lebih banyak lagi hepatosit yang terinfeksi. Tingkat penularan yang tinggi terjadi pada  pasien dengan riwayat sebagai pengguna narkoba jarum suntik (53%), dan janin akan tertular dari ibu pengidap HCV (25%).Kata Kunci: HCV, Flaviridae, Hepatosit, Quasispesies, Hypervariabel Region 1. Abstract               Hepatitis C is a disease caused by the hepatitis C virus (HCV), family Flaviviridae, genome Ribo Nuclead Acid (RNA), single-strand, positive polarity. Live and replicate inside hepatocyte cells. Structure of the genome of HCV consists of ORF (open reading frame) that encodes the polypeptide structural components, consisting of nucleocapsid (core C), protein sheath or envelope (E1 and E2), as well as parts of non structurally divided into NS2, NS3, NS4a, NS4b, NS5a and NS5B. HCV genome is part of the most stable nucleocapsid or core protein and used for the detection of antibodies in the serum of patients. E2 envelope protein of HCV is part of a very heterogeneous, and the most high variability so-called hypervariabel region 1 (HVR 1). Based on the structure of the heterogeneous HCV genome. HVC classified by genotype, subtype and quasispecies. Research proved that the HCV genome sequences in the HCV quasipsecies diversity has a strong correlation with the progression and chronicity  of the virus to the host. During the process of viral replication closes normal hepatocyte function or make more of an infected hepatocytes. The transmission rate is higher in patients with  history of injecting drug users (53%) and fetus can be infected  from mothers with HCV (25%). Keywords: HCV, Flaviviridae, Hepatocytes, Quasispecies, Hypervariable Region 1.
Penegakan Diagnosis dan Penatalaksanaan Subclavian Steal Syndrome Darminto Salim
Jurnal Kedokteran Meditek VOL. 22 NO. 59 MEI-AGUSTUS 2016
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v22i59.1274

Abstract

Abstrak Subclavian steal Syndrome (SSS) merupakan sindrom yang disebabkan penyempitan atau  penyumbatan  arteri  subclavia. Penyebab paling sering SSS adalah aterosklerosis. Kelainan ini sering kali tidak terdiagnosis. Gejala  umum dari SSS pada lengan atas yang terkena  klaudikasio, nadi lemah bahkan tidak teraba, perbedaan tekanan darah > 20 mmHg antara kanan dan kiri. Keluhan neurologis (diperburuk dengan latihan lengan) berupa pusing, vertigo, sinkop, ataksia, gangguan penglihatan, disartria, kelemahan, dan, gangguan sensorik. Kelainan neurologis ini disebabkan karena gangguan perfusi serebral. Pemeriksaan penunjang untuk mendiagnosis SSS adalah  doppler, ultra sonografi, magnetic resonance angiography, dan computed tomography angiography. Terapi untuk SSS: Endovascular, dan operasi bypass. Semua terapi ini bertujuan untuk mengurangi risiko terjadinya penyakit kardiovaskular dan serebrovaskular. Kata kunci: subclavia, perfusi serebral, angiografi  Abstract Subclavian steal syndrome (SSS) is a syndrome that is caused by abnormal blood flow due to narrowing or blockage of the subclavian artery. The most common cause of SSS is atherosclerosis. The disorder is often not diagnosed. The common symptoms of SSS in the upper arm are claudication, weak pulse does not even exist, differences in blood pressure > 20 mmHg between right and left. Neurological disorder (exacerbated by arm exercises) such as dizziness, vertigo, syncope, ataxia, visual disturbances, dysarthria, weakness, and, sensory disorders. This neurological disorders caused by cerebral perfusion. Investigations to diagnose SSS: doppler, ultra sonography, magnetic resonance angiography, and computed tomography angiography. Therapy for SSS: Endovascular, and bypass surgery. All of this therapy will reduce the risk of cardiovascular and cerebrovascular diseases. Keywords: subclavian, cerebral perfusion, angiography
Dampak Gelombang Elektromagnetik Telepon Seluler terhadap Otak Erma Mexcorry Sumbayak
Jurnal Kedokteran Meditek VOL. 22 NO. 59 MEI-AGUSTUS 2016
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v22i59.1275

Abstract

Abstrak Setiap tahun angka pengguna telepon seluler (ponsel) di Indonesia semakin meningkat. Penggunaan ponsel yang semakin meningkat membuat para pengguna harus lebih mencermati efek samping terhadap kesehatan manusia. Telepon seluler atau ponsel, adalah salah satu alat komunikasi nirkabel, yang memanfaatkan gelombang radio sebagai medianya. Saat ini sebuah ponsel bukan saja menjadi sarana komunikasi, tetapi juga menjadi sumber berita dan media transfer data mobile yang cepat. Sampai saat ini, penggunaan ponsel yang demikian luas masih banyak  diperdebatkan di kalangan masyarakat mengenai kemungkinan bahayanya bagi kesehatan manusia. Efek samping yang dikhawatirkan terhadap para pengguna adalah paparan radiasi gelombang elektromagnetik, khususnya bagian kepala. Radiasi elektromagnetik yang dipancarkan oleh ponsel adalah sejenis gelombang microwave yang termasuk jenis radiasi non-ionisasi, dan levelnya tergolong rendah (low level radiation). Penelitian-penelitian mengenai dampak radiasi ponsel terhadap otak manusia masih berlangsung untuk mendapatkan bukti-bukti ilmiah yang lebih valid  dan masih banyak hal dan aspek yang perlu diteliti lebih lanjut  mengenai dampak ponsel bagi kesehatan, khususnya otak. Kata kunci: telepon seluler, radiasi gelombang elektromagnetik, otak AbtractEvery year, the number of mobile phone users in Indonesia is increasing. The use off cell phone will cause side effects to the human health. Cell phone or mobile phone is a wireless communication device which use radio waves as the medium. Now days, cell phones not only for communication but also as a tool for sending news and fast mobile data transfer. Until now, mostly grow cell phone using is still in debate in public about the possible dangers to the human health. The side effects caused by the exposure to the radiation of the electromagnetic wave, particularly to the head. The electromagnetic radiation emitted by cell phone is a microwave that includes of non-ionizing radiation, and a relatively low level radiation. Studies of mobile phone radiation effects on human brain is still going on to find out the scientific evidence. Many aspects need further study of mobile phone effects on health, especially the brain Keywords: cellular  phone, electromagnetic wave radiation, the brain
Berbagai Teknik Terapi Jaringan Parut Pascajerawat (Acne Scars) Linda Fransiska; Marcel Antoni
Jurnal Kedokteran Meditek VOL. 22 NO. 59 MEI-AGUSTUS 2016
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v22i59.1276

Abstract

AbstrakAcne vulgaris adalah penyakit kulit yang disebabkan peradangan kronis kelenjar pilosebaseus. Acne vulgaris diderita hampir 85% remaja di dunia, biasanya saat memasuki usia pubertas sampai dengan dekade kedua. Manajemen terapi acne vulgaris bergantung pada tingkat keparahan dan penyebabnya. Semakin berat tingkat keparahannya, jaringan parut yang terbentuk juga semakin berat dan membutuhkan berbagai teknik untuk memperbaikinya. Dari tipe scaryang terbentuk ketika proses penyembuhan luka, dibagi menjadi dua bagian besar yaitu scar atrofik dan scar hipertrofik. Dalam tinjauan pustaka ini akan dibahas berbagai teknik pengobatan scar atrofik akibat acne vulgaris, antara lain dengan peeling kimia, dermabrasi, laser, bedah, filler, juga manajemen scar hipertrofik seperti penggunaan gel silikon, penyuntikan steroid intralesi, krioterapi, dan pulsed dye laser. Kata Kunci : Terapi, acne-scar atrofik, hipertrofik  Abstract               Acne vulgaris is a skin disease caused by chronic inflammation of pilosebaceus gland . Acne vulgaris is suffered by nearly 85 % of teenagers in the world , usuallyon pubertal age  until the second decade of life. Acne vulgaris therapy depends on its severity and the cause of acne vulgaris itself. The more severe, the more scars occur and therefore require different techniques to fix it . There are two major types of acne scar which  occur after wound healing process ,which known as atrophic scar and hypertrophic scar . In this paper we will review various techniques in the management of atrophic scar which occur due to acne vulgaris, such as the use of  chemical peeling , dermabrasion, laser, surgery , fillers, and also management of hypertrophic scar such as the use of silicone gel, intralesion steroid inejction, cryotherapy, and pulsed dye laser . Keywords : Therapy, Atrophic acne scar, hypertrophic acne scar
Monitoring, Pencegahan, dan Penanganan Keracunan pada Pekerja Terpapar Cadmium Susanty Dewi Winata
Jurnal Kedokteran Meditek VOL. 22 NO. 59 MEI-AGUSTUS 2016
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v22i59.1277

Abstract

Abstrak Cadmium merupakan logam berat yang berisiko besar bagi kesehatan manusia dan banyak ditemukan di daerah pertambangan, industri keramik, industri baterai, penyepuhan,  dan tempat peleburan logam. International Agency for Research on Cancer (IARC) mengklasifikasikan Cd dalam kelompok I, yaitu bersifat karsinogenik pada manusia. Waktu paruh Cd yang panjang menyebabkan logam ini sukar dieliminasi dari tubuh sehingga berpotensi menyebabkan kerusakan terutama pada ginjal. Keracunan yang disebabkan oleh cadmium dapat bersifat akut dan kronis. Toksisitas kronis menimbulkan gangguan paru, tulang, organ reproduksi, dan lain lain. Bila menyerang  sistem respirasi harus dirawat untuk diobservasi, monitoring fungsi ginjal. Therapi khelasi dilakukan pada intoksikasi akut. Nilai Biological Exposure Index (BEI) cadmium dalam urin adalah 5 μg/g kreatinin dan dalam darah adalah 5 μg/L. Untuk deteksi dini dilakukan pemeriksaan pada pekerja meliputi pemeriksaan prakerja dan berkala. Pengendalian dilakukan berupa pengukuran pajanan cadmium di tempat kerja, pengendalian teknis, administratif maupun penggunaan alat pelindung diri (APD).Kata kunci: cadmium, toksisitas akut, toksisitas kronik AbstractCadmium is one of the heavy metals which have impact in health. It is found in mining, porcelain process, metal platting, and steel process. International Agency for Research on Cancer (IARC) has classified Cd into Group I (carcinogen). Cadmium has a long period half time so it cause disorder especially in renal. Toxicity of cadmium can be acute and chronic. Chronic toxicity involve lung, bone, reproductive organ, and others. If it inhaled, the patient must be observe and monitore the renal function. Chealating therapy can be used for acute toxicity. Biological Exposure Index (BEI) of cadmium in urine 5 ug/g creatinine and in blood 5 ug/L. Early detection of workers should be done praemployment and regulary. Hygene industry of cadmium involve measuring cadmium at the workplace, technical engineering, administrative control, personal protection equipment (PPE). Keywords: cadmium, acut toxicity, chronic toxicity
Motivasi dalam Kegiatan Belajar Mengajar Budiman Hartono
Jurnal Kedokteran Meditek VOL. 22 NO. 59 MEI-AGUSTUS 2016
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v22i59.1278

Abstract

AbstrakMotivasi mengacu pada alasan yang mendasari perilaku seseorang yang ditandai dengan kesediaan dan kemauan dari orang tersebut. Dalam proses belajar, motivasi sangat diperlukan, tidak ada kegiatan belajar yang efektif tanpa motivasi. Ada  dua motivasi yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Kedua motivasi ini menentukan pendekatan pembelajaran dari seorang mahasiswa. Dalam proses belajar, ada tiga pendekatan pembelajaran yang dapat diterapkan oleh mahasiswa, yaitu Surface learning approach, Deep learning approach, dan Achieving learning approach. Kata kunci: Motivasi, Motivasi instrinsik, Motivasi ekstrinsik, pendekatan pembelajaran.  Abstract Motivation refers to reasons that underlie behavior that is characterized by willingness and volition.  In the process of learning, motivation is required, there is no effective learning activities without motivation. There are two motivations; intrinsic motivation and extrinsic motivation . These two motivations determine the student’s learning approach. In the learning process, there are three learning approaches that can be applied by students ; Surface learning approach, deep learning approach, and achieving learning approach Keywords: Motivation, intrinsic motivation, extrinsic motivation, learning approaches
Terapi Ulkus Kaki Diabetes dengan NPWT (Negative Pressure Wound Therapy) Ronald Winardi Kartika
Jurnal Kedokteran Meditek VOL. 22 NO. 59 MEI-AGUSTUS 2016
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v22i59.1665

Abstract

Diabetes melitus (DM) adalah suatu kondisi serius seumur hidup yang merupakan salah satu penyebab utama kematian di dunia. Dokter umum sering menemukan pasien dengan diabetes melitus. Lima belas persen dari pasien dengan diabetes mellitus akan menderita ulkus kaki diabetik. Pasien dengan ulkus di kaki memiliki risiko tinggi untuk amputasi dan angka kematian semakin meningkat. Kaki diabetik berisiko tinggi dapat diidentifikasi dengan pemeriksaan skrining yang sederhana dan ulkus kaki selanjutnya dapat dicegah. Mengenal pasti secara awal dari kaki diabetik berisiko tinggi dan pengobatan yang tepat pada waktunya akan menyelamatkan kaki dan meningkatkan kualitas hidup pasien. Penyakit arteri perifer, neuropati, deformitas, riwayat amputasi sebelumnya dan infeksi merupakan faktor utama yang berkontribusi terhadap perkembangan ulkus kaki diabetik. Mengenal pasti secara awal dari kaki berisiko tinggi penting untuk mengurangi tingkat morbiditas dan mortalitas. Pendekatan interprofesional (yaitu, dokter, perawat, dan spesialis perawatan kaki) sering diperlukan untuk mendukung kebutuhan pasien. Terapi terbaru untuk penanganan ulkus kaki diabetik adalah dengan tekanan negatif yang diaplikasikan pada ulkus kaki diabetik. Dengan alat ini cairan eksudat bisa dihisap secara aktif oleh alat tersebut sehingga sangat membantu proses penyembuhan. Di laporkan tiga serial kasus dari pemakaian tekanan negatif pada ulkus kaki diabetes dengan hasil yang baik Kata kunci: ulkus kaki diabetik, luka kronik, terapi luka tekanan negatif

Page 1 of 1 | Total Record : 8


Filter by Year

2016 2016


Filter By Issues
All Issue Vol 31 No 6 (2025): November Vol 31 No 5 (2025): SEPTEMBER Vol 31 No 4 (2025): JULI Vol 31 No 3 (2025): MEI Vol 31 No 2 (2025): MARCH Vol 31 No 1 (2025): JANUARI Vol 30 No 3 (2024): SEPTEMBER Vol 30 No 2 (2024): MEI Vol 30 No 1 (2024): JANUARI Vol 29 No 3 (2023): SEPTEMBER Vol 29 No 2 (2023): MEI Vol 29 No 1 (2023): JANUARI Vol 28 No 3 (2022): SEPTEMBER-DESEMBER Vol 28 No 2 (2022): MEI-AGUSTUS Vol 28 No 1 (2022): JANUARI-APRIL Vol 27 No 3 (2021): SEPTEMBER - DESEMBER Vol 27 No 2 (2021): MEI - AGUSTUS Vol 27 No 1 (2021): JANUARI - APRIL Vol 26 No 3 (2020): SEPTEMBER - DESEMBER Vol 26 No 2 (2020): MEI-AGUSTUS Vol 26 No 1 (2020): JANUARI - APRIL Vol 25 No 3 (2019): SEPTEMBER - DESEMBER Vol 25 No 2 (2019): MEI - AGUSTUS Vol 25 No 1 (2019): JANUARI - APRIL VOL. 24 NO. 68 OKTOBER-DESEMBER 2018 VOL. 24 NO. 67 JULI-SEPTEMBER 2018 VOL. 24 NO. 66 APRIL-JUNI 2018 VOL. 24 NO. 65 JANUARI-MARET 2018 VOL. 23 NO. 64 OKTOBER-DESEMBER 2017 VOL. 23 NO. 63 JULI-SEPTEMBER 2017 VOL. 23 NO. 62 APRIL-JUNI 2017 VOL. 23 NO. 61 JANUARI-MARET 2017 VOL. 22 NO.60 SEPTEMBER-DESEMBER 2016 VOL. 22 NO. 59 MEI-AGUSTUS 2016 VOL. 22 NO. 58 JANUARI-APRIL 2016 Vol. 21 No. 57 September-Desember 2015 Vol. 21 No. 56 Mei-Agustus 2015 Vol. 21 No. 55 Januari - April 2015 Vol. 20 No. 54 September-Desember 2014 Vol. 20 No. 53 Mei-Agustus 2014 Vol. 20 No. 52 Januari-April 2014 Vol. 18 No. 48 September - Desember 2012 Vol. 18 No. 47 Mei - Agustus 2012 Vol. 18 No. 46 Januari - April 2012 Vol. 17 No. 45 September - Desember 2011 vol. 17 no. 44 Mei-Agustus 2011 vol. 17 no. 43 Januari-April 2011 Vol. 16 No. 43B Mei - Agustus 2010 Vol. 16 No. 42A Januari - April 2010 vol. 16 no. 42 September-Desember 2009 vol. 15 no. 40 Januari-April 2009 Vol. 15 No. 39C Januari-April 2008 Vol. 15 No. 39E September-Desember 2008 Vol. 15 No. 39A Mei-Agustus 2007 Vol. 15 No. 39B September-Desember 2007 vol. 15 no. 39 Januari-April 2007 vol. 14 no. 38 September-Desember 2006 vol. 14 no. 37 Mei-Agustus 2006 vol. 14 no. 36 Januari-April 2006 vol. 13 no. 35 September-Desember 2005 vol. 13 no. 34 Mei-Agustus 2005 vol. 13 no. 33 Januari-April 2005 vol. 12 no. 32 September-Desember 2004 vol. 12 no. 31 Mei-Agustus 2004 vol. 12 no. 30 January-April 2004 vol. 11 no. 29 Agustus-Desember 2003 vol. 11 no. 28 April-July 2003 Vol. 10 No. 27 Januari-April 2002 Vol. 9 No. 26 September - Desember 2001 Vol. 9 No. 25 Mei-Agustus 2001 Vol. 8 No. 23 September - Desember 2000 Vol. 7 No. 20 Juli-Oktober 1999 Vol. 6 No. 17 Oktober-Desember 1998 Vol. 6 No. 15 April-Juni 1998 Vol. 5 No. 13 Oktober-Desember 1997 Vol. 5 No. 12 Juli-September 1997 Vol. 5 No. 11 Juli-September 1997 Vol. 4 No. 10 September-Desember 1996 Vol. 4 No. 9 Mei-Agustus 1996 Vol. 4 No. 8 Januari-April 1996 Vol. 3 No. 7 September-Desember 1995 Vol. 3 No. 6 Mei-Agustus 1995 Vol. 3 No. 5 Januari-April 1995 More Issue