cover
Contact Name
Ichsan Setiawan
Contact Email
ichsansetiawan@usk.ac.id
Phone
+6285220189228
Journal Mail Official
depik@usk.ac.id
Editorial Address
Faculty of Marine and Fisheries Universitas Syiah Kuala Jalan Meureubo No. 1, Kopelma Darussalam Banda Aceh, 23111, Indonesia
Location
Kab. aceh besar,
Aceh
INDONESIA
Depik Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan, Pesisir, dan Perikanan
ISSN : 20897790     EISSN : 25026194     DOI : 10.13170/depik
Depik Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan, Pesisir dan Perikanan is a peer review international journal, this journal is publishing high-quality articles in aquatic sciences and fisheries in general. The aim of the journal is to publish and disseminate the current or new findings of the research, and give a significant contribution to the development of fisheries and aquatic sciences in several topics, but not limited to: Fisheries (Aquaculture, Capture Fisheries, Fish Processing) Aquatic Ecology (Freshwater, Marine, and Brackishwater) Aquatic Biology (Fish, Mollusk, Crustacean, Plankton, Coral reefs) Oceanography.
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 6, No 1 (2017): April 2017" : 8 Documents clear
Distribusi karang keras (Scleractinia) sebagai penyusun utama ekosistem terumbu karang di Gosong Karang Pakiman, Pulau Bawean Oktiyas Muzaky Luthfi; Prima Tegar Anugrah
Depik Vol 6, No 1 (2017): April 2017
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.6.1.5461

Abstract

The objective of this research was to assess the condition and distribution of stony corals Scleractinian order at Karang Pakiman reef, Bawean Islands, Gresik. This research was conducted in May 2014. The biophysical conditions of coral reefs data were collected using line transect that placed on a line with the coastline, following the depth contours of the bottom waters and the geographical position was determined with GPS. The result showed that the condition of coral reefs in the study site was varied on the status of bad to good. Scleractinian coral in Karang Pakiman, Bawean spread over reef flat, reef crest, and reef slope zones. The main component of the coral reef at Karang Pakiman was Acroporidae, Faviidae, and Poritidae, while Poritidae and Faviidae family which were dominated by the coral massive (CM) life form and to be a constituent of coral reef ecosystems in the study site. The Diversity Index (H') was 1.72; Evenness Index (E) was 0.58, and Dominance Index (C) was 0.62. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kondisi dan distribusi karang keras Ordo Scleractinia di gosong Karang Pakiman, Pulau Bawean, Gresik. Penelitian ini dilaksanakan pada Bulan Mei 2014 di perairan Pulau Bawean, Gresik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian survei / deskriptif. Materi penelitian adalah karang keras yang diidentifikasi sampai tingkat spesies. Pengumpulan data kondisi bio – fisik terumbu karang dilakukan dengan menggunakan transek garis dan transek kuadran yang diletakkan sejajar garis pantai, mengikuti kontur dasar perairan. Posisi geografis penelitian ditentukan dengan GPS. Hasil analisis memperlihatkan kondisi terumbu karang di lokasi penelitian berada pada status buruk sampai dengan baik. Karang keras di gosong Karang Pakiman, Pulau Bawean tersebar pada zona reef flat, reef crest, dan reef slope. Penyusun utama ekosistem terumbu karang pada lokasi penelitian terdiri dari 3 famili, yaitu Acroporidae, Faviidae, dan Poritidae. Life form CM yang didominasi oleh famili Poritidae dan Faviidae merupakan bentuk pertumbuhan utama karang keras penyusun ekosistem terumbu karang di lokasi penelitian. Nilai H’ adalah 1,72; nilai E adalah 0,58 dan nilai C adalah 0,62. 
Pertukaran massa air di Laut Jawa terhadap periodisitas monsun dan Arlindo pada tahun 2015 Selvita Nurani Siregar; Lintang P. Sari; Noir P. Purba; Widodo S. Pranowo; Mega L. Syamsuddin
Depik Vol 6, No 1 (2017): April 2017
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.6.1.5523

Abstract

The Java Sea with a surface area about 467.000 km2, is located in the South East Sunda Shelf with the average of depth is 40 meters, affected by several phenomena, whether physical or meteorological. This research aims to analyze the characteristics of water masses in the Java Sea and its relationship with the periodicity of the monsoon and Indonesian Throughflow Water (ITF) phenomenon. Then analyze the exchange of water masses in the Java Sea. The data used are temperature and salinity to identify the characteristics of the water masses. Ocean currents data to identify ITF patterns and winds data to identify the monsoon patterns. The data used in 2015 from the Infrastructure Development of Space Oceanography (INDESO) sites with a resolution of 1/12°. The method used is a descriptive analysis of spatially and temporally. The results show that averaging seasonal found that southeast monsoon period salinity is higher (31-34 psu) than northwest monsoon period (29.5-33 psu), and southeast monsoon period temperature is lower (27-30.5°C) than northwest monsoon period (28.5-30.5°C). ITF phenomenon occurs in May through September and reaches its peak in June, July, and August. ITF strengthened in southeast monsoon and weakened in the northwest monsoon. ITF and monsoon have similar impacts on salinity and temperature in the Java Sea. The water masses in the Java Sea comes from the South China Sea and Makassar Strait. In the northwest monsoon, Java Sea filled by water masses of the South China Sea, while in the southeast monsoon phenomenon which coincides with ITF phenomenon, Java Sea water masses is filled by water masses from Makassar Strait. In the transition monsoon I and II, the Java Sea filled by the South China Sea and the Makassar Strait water masses. Laut Jawa dengan luas permukaan sekitar 467.000 km2, terletak dibagian tenggara paparan Sunda dengan kedalaman rata-rata adalah 40 meter dipengaruhi oleh beberapa fenomena, baik fisikal maupun meteorologikal. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi mengenai karakteristik massa air di Laut Jawa dan hubungannya dengan periodisitas monsun serta fenomena arlindo dan menganalisis pertukaran massa air di Laut Jawa. Data yang digunakan adalah suhu dan salinitas untuk mengidentifikasi karakteristik massa air. Arus untuk mengidentifikasi pola arlindo dan angin untuk mengidentifikasi pola monsun. Data yang digunakan tahun 2012 dari situs infrastructure development of space oceanography (INDESO) dengan resolusi 1/12°. Metode yang digunakan adalah deskriptif dengan pendekatan analisis secara spasial dan temporal. Berdasarkan hasil perata-rataan musiman didapatkan bahwa salinitas saat monsun timur lebih tinggi (31-34 psu) daripada saat monsun barat (29,5-33 psu), dan suhu saat monsun timur lebih rendah (27-30,5°C) daripada saat monsun barat (28,5-30,5°C). Fenomena arlindo terjadi pada bulan Mei sampai September dan mencapai puncaknya pada bulan Juni, Juli, dan Agustus. Arlindo menguat pada monsun timur dan melemah pada monsun barat. Monsun dan arlindo memiliki pengaruh yang sama terhadap salinitas dan suhu di Laut Jawa. Massa air di Laut Jawa berasal dari Laut Cina Selatan dan Selat Makassar. Pada monsun barat, Laut Jawa diisi oleh massa air Laut Cina Selatan, sedangkan pada monsun timur yang bertepatan dengan fenomena arlindo, massa air Laut Jawa diisi oleh massa air Selat Makassar. Pada monsun peralihan I dan II, Laut Jawa diisi oleh massa air Laut Cina Selatan dan juga Selat Makassar. 
Effectivitas infusum daun durian Durio zibethinus sebagai anestesi alami ikan bawal air tawar Colossoma macropomum Aris Munandar; Ginanjar Trisno Habibi; Sakinah Haryati; Mas Bayu Syamsunarno
Depik Vol 6, No 1 (2017): April 2017
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.6.1.5296

Abstract

The use of chemicals as an anesthetic can leave residues in the body of the fish and gave the negative impact to the human who consumed this fish. Therefore, the exploration of natural anesthesia as an alternative is crucial. One of the natural products that can be used is the leaves of durian. The purpose of this study was to determine the best concentration of the durian infuse for tambaqui anesthesia and the optimum time of transportation. This research was conducted in several two stages; extraction leaves durian and simulation of transport fish with a dry system using respective concentration of durian infuse. The tested concentrations of durian infuse were; 0 ppm, 1000 ppm, 2500 ppm, 5000 ppm, 7500 ppm, and 10000 ppm The study showed that the best concentration of durian leaf extract infused amounted to 5900 ppm. These concentrations resulted in fainting fastest time for 100 minutes, and the time conscious of 1 minute 30 seconds. Dry transport time that produces the best survival rate was approximately 2 hours with the survival rate of 83.3%. Penggunaan bahan kimia sebagai anestesi dapat meninggalkan residu dalam tubuh ikan dan berdampak negative pada manusia yang mengkonsumsi. Oleh karena itu, penggunaan bahan anestasi alami dapat digunakan sebagai alternatif untuk mengatasinya. Salah satu bahan alami yang dapat digunakan adalah daun durian. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan konsentrasi dan waktu transportasi terbaik dari infusum daun durian sebagai bahan anestesi. Penelitian ini dilakukan dalam dua tahap, yaitu pembuatan infusum daun durian dan simulasi transportasi ikan dengan sistem kering. Konsentrasi infusum yang diuji adalah 0 ppm, 1000 ppm, 2500 ppm, 5000 ppm, 7500 ppm and 10000 ppm Konsentrasi terbaik infusum daun durian adalah sebesar 5900 ppm. Konsentrasi tersebut dapat menghasilkan waktu pingsan tercepat selama 100 menit, dan waktu sadar 1 menit 30 detik. Waktu transportasi kering yang menghasilkan survival rate terbaik terdapat pada jam ke 2 yaitu sebesar 83,3%.
Analisis kualitas perairan berdasarkan metode indeks pencemaran di Pesisir Timur Kota Surabaya Guntur Guntur; Adi Tiya Yanuar; Syarifah H. J. Sari; Andi Kurniawan
Depik Vol 6, No 1 (2017): April 2017
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.6.1.5709

Abstract

Pollution has become the serious problem in aquatic ecosystems in Indonesia including east part of the coastal area of Surabaya City. One of the methods that can be used to analyze water quality in the coastal area is pollution index method. The method can provide information related to existing water quality in respect of utilization plan. The purpose of this study is to analyze the water quality in the coastal area in East part of Surabaya City based on the physical and chemical parameters, and then, analyze the data using pollution index method. The sampling points of this study are 10 areas in the coastal area in East Part of Surabaya City. The result of this study showed that the water parameters in the sampling points are described as follows: salinity (23.2 ± 7.33‰), pH (7.156 ± 0.356), dissolved oxygen (9.46 ± 3.364 mg/L), temperature (29 ± 1.4 °C), total suspended solid (91.9 ± 109.3 mg/L), fisibility  (25.15 ± 8.9 cm), ammonia (1.3 ± 1.1 mg/L), nitrate (0.095 ± 0.14 mg/L) dan biological oxygen demand (3.738 ± 0.956 mg/L). This study indicated that the value of pollution index in East Part of Surabaya City coastal area is 4.6 that indicated the areas are slightly polluted.Pencemaran merupakan sebuah permasalahan bagi sebagian besar wilayah perairan di Indonesia termasuk wilayah perairan di pesisir timur kota Surabaya. Salah satu cara untuk menganalisis kualitas perairan di wilayah pesisir adalah dengan menggunakan metode Indeks Pencemaran. Metode ini dapat memberikan informasi mengenai kondisi perairan sesuai peruntukannya. Tujuan dari penelitian adalah menganalisis kondisi perairan Pesisir Timur Kota Surabaya berdasarkan parameter fisika dan kimia serta menganalisa nilai indeks pencemaran Perairan Pesisir Timur Kota Surabaya. Penelitian ini dilakukan dengan mengambil sampel di 10 titik di Perairan Pesisir Timur Kota Surabaya. Hasil dari penelitian ini menunjukkan nilai rata-rata parameter fisika dan kimia adalah sebagaimana berikut: salinitas 23,2 ± 7,33‰, derajat keasaman (pH) 7,156 ± 0,356, dissolved oxygen 9,46 ± 3,364 mg/L, suhu 29 ± 1,4 °C, total padatan tersuspensi 91,9 ± 109,3 mg/L, kecerahan 25,15 ±8,9 cm, amoniak 1,3 ± 1,1 mg/L, nitrat 0,095 ± 0,14 mg/L dan Biological Oxygen Demand 3,738 ± 0,956 mg/L. Penelitian ini menunjukkan kalau nilai indeks pencemaran di Perairan Pesisir Timur Kota Surabaya adalah 4,6 yang mengindikasikan perairan ini dalam kondisi tercemar ringan
Kajian dinamika pantai : Studi kasus di Pantai Rening, Jembrana, Bali Nurin Hidayati; Raut Wahyuning Paluphi; Mohammad Arif Asadi; Hery Setiawan Purnawali
Depik Vol 6, No 1 (2017): April 2017
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.6.1.5457

Abstract

The objectives of present study were to determine the distribution of sediment associated with shoreline changes and to analyze the beach dynamics in Rening Beach. Sediment samples were taken from seventeen sampling points spread along the beach, and then followed by the lab test using granulometri method to determine the characteristics of sediment. Shoreline change was analyzed using analysis of satellite imagery in 2011, 2014 and 2016, while the sediment transport were analyzed using Hjulstrom graph. Then, Rening Beach dynamics can be analyzed. Sediment test results showed that sediment type in Rening Beach was dominated by sand with diameter of between 0.25-5 mm. The ocean currents movement was dominantly to the west. The results of shoreline change analysis between the years 2011-2016, and Hjulstrom graph analysis showed the same pattern that Rening Beach was eroded. The Rening Beach was high dynamics with subjected to beach erosion in the form of littoral drift due to longshore currents.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan garis pantai, transpor sedimen dan dinamika pantai di Pantai Rening. Pengambilan data arus dan sampel sedimen diambil dari tujuh belas titik pengambilan sampel yang tersebar merata di sepanjang perairan Pantai Rening. Sampel sedimen kemudian diujikan di laboratorium menggunakan metode granulometri untuk mengetahui karakteristik sedimen. Perubahan garis pantai dianalisa menggunakan analisis peta citra satelit tahun 2011, 2014 dan 2016, sedangkan pola transpor sedimen dianalisa menggunakan grafik Hjulstrom. Dari hasil analisa perubahan garis pantai dan transpor sedimen, dapat dianalisa dinamika Pantai Rening. Hasil uji sedimen menunjukkan bahwa jenis sedimen didominasi oleh pasir sedang dengan diameter antara 0.25-5 mm. Pergerakan arus dominan mengarah ke arah barat. Hasil analisis perubahan garis pantai antara tahun 2011-2016, dan analisa grafik Hjulstrom menunjukkan pola yang sama bahwa pada Pantai Rening mengalami erosi dan mundurnya garis pantai. Dinamika Pantai Rening cukup tinggi dengan kecenderungan terjadi erosi pantai berupa littoral drift akibat arus sejajar pantai. 
Penanganan penyu yang tertangkap rawai tuna di Samudera Hindia Budi Nugraha; Irwan Jatmiko; Hety Hartaty
Depik Vol 6, No 1 (2017): April 2017
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.6.1.5887

Abstract

Turtle is one of the vulnerable of megafauna and as a by-catch in tuna longline fisheries, however, management practices have not been done yet. This paper described the efforts to avoid the capture of turtles on the tuna longline fishery and its handling recommendation. It has been written based on the research results and observer programs of activities that have been implemented since 2005. It’s also including a literature review rules and regulations regarding the management of sea turtles. The record results during 2005 - 2014 conducted by an independent scientific board on tuna longline in the Indian Ocean with 72 times number of setting and 89,441number of hooks. There are 105 turtles caught, which are leatherback, olive ridley turtles, hawksbill, loggerhead sea turtles as well as the unknown green turtle where the current status of turtles in the Indian Ocean is in a state of vulnerable, endangered, critically even endangered. The olive ridley turtle, loggerhead and leatherback turtles are in a vulnerable status. While, the green turtles are in a state endangered and even hawksbill in a state extremely endangered. Policy measures for handling of turtles in tuna longline fishery needs to be taken in order to be implemented include the socialization of the use of intensified circle hooks and if necessary the government issued regulations regarding the use of circle hooks, the implementation of the placement of fishing monitoring (observer) aboard the tuna longline in order to assist the skippers monitoring the catch of turtles and turtle handling training for the skippers and crew in order to hold the caught turtles can be handled directly on the boat to reduce the mortality turtles which can be released back into the sea alive.Penyu merupakan salah satu biota yang rawan punah dan sebagai hasil tangkapan sampingan pada perikanan rawai tuna dimana pengelolaannya belum banyak dilakukan. Makalah ini membahas tentang upaya bagaimana menghindari tertangkapnya penyu dan rekomendasi penanganan penyu pada perikanan rawai tuna. Tulisan disusun berdasarkan penelusuran hasil penelitian maupun kegiatan program observer yang telah dilaksanakan sejak tahun 2005, dilengkapi kajian pustaka serta peraturan terkait pengelolaan penyu. Hasil pencatatan selama periode 2005 – 2014 yang dilakukan oleh pemantau ilmiah di kapal rawai tuna di Samudera Hindia dengan jumlah setting sebanyak 72 kali dan 89.441 buah pancing tertangkap 105 ekor penyu, yang terdiri dari penyu belimbing, penyu lekang, penyu sisik, penyu tempayan dan penyu hijau serta penyu yang tidak diketahui jenisnya dimana saat ini status penyu di Samudera Hindia berada dalam kondisi rentan, terancam punah bahkan sangat terancam punah. Penyu lekang, penyu tempayan dan penyu belimbing berada dalam status rentan. Sementara penyu hijau berada dalam keadaan terancam punah dan bahkan penyu sisik berada dalam keadaan sangat terancam punah. Langkah-langkah kebijakan penanganan penyu pada perikanan rawai tuna yang perlu dilaksanakan adalah mengintensifkan penggunaan pancing lingkar, perlu regulasi penggunaan pancing lingkar, implementasi penempatan pemantau penangkapan ikan (observer) di atas kapal rawai tuna agar dapat membantu para nahkoda memonitoring hasil tangkapan penyu dan pelatihan penanganan penyu bagi para nahkoda maupun anak buah kapal yang bertujuan agar penyu-penyu yang tertangkap dapat ditangani secara langsung di atas kapal sehingga menurunkan tingkat kematian penyu-penyu tersebut kemudian dapat dilepas kembali ke laut dalam kondisi hidup.
Kandungan Tembaga (Cu) dan Timbal (Pb) pada Lamun Enhalus accoroides dari Perairan Batam, Kepulauan Riau, Indonesia Ismarti Ismarti; Ramses Ramses; Fitrah Amelia; Suheryanto Suheryanto
Depik Vol 6, No 1 (2017): April 2017
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.6.1.5555

Abstract

The objective of the present study was to analyze the metal content of copper and lead in Enhalus accoroides seagrass in Batam Island waters. Samples of seagrass (E. accoroides) were collected from six locations along the western region of Batam Island then dried and performed with acid destruction. The measurements of Cu and Pb in the samples were conducted by Atomic Absorption Spectrophotometer. The result showed that there was an increasing of copper and lead contaminant level on sample E accoroides during two periods in a year.  The Cu level ranged from 0.63 to 46.1 mg/kg, meanwhile, lead level ranged from  2.14 to 10.52mg/kg respectively. The highest accumulation of copper and lead were recorded on leaves, it was reached 10.81 mg/kg and 5.98mg/kg, respectively.Penelitian ini bertujuan menganalisis kandungan logam tembaga (Cu) dan timbal (Pb) pada lamun Enhalus accoroides di sepanjang perairan barat Pulau Batam. Sampel lamun dikumpulkan dari enam lokasi  kemudian dikeringkan dan dilakukan destruksi dengan asam. Penentuan kadar logam tembaga dan timbal dalam sampel dilakukan dengan spektrometri serapan atom. Hasil penelitian menunjukan adanya peningkatan kadar logam Cu dan Pb pada sampel lamun E. accoroides selama 2 periode sampling dalam 1 tahun. Kadar logam Cu dan Pb pada lamun secara berturut berada pada rentang 0.63-46.1 mg/kg dan 2.14-10.52mg/kg. Akumulasi logam Cu dan Pb dalam lamun E. accoroides tertinggi pada bagian daun sebanyak 10.81 mg/kg Cu dan 5.98 mg/kg Pb. 
Pemantauan kondisi substrat menggunakan metode reef check di Perairan Selat Sempu, Kabupaten Malang Oktiyas Muzaky Luthfi; I Nyoman Januarsa; Hijrul Fajri; Fadil Muhammad; Nur Akhmad Tri Aji; Sofar Jumantry; Muhammad I. S. K. Ramadhan; Guntoro Ahmad Algadri; Firman Roganda; Mochamad F. A. Rizal; Ary Setyo Wicaksono; Amalia Safrudin Bendang; Albertus N. P. Christianda
Depik Vol 6, No 1 (2017): April 2017
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.6.1.5840

Abstract

The aim of this research was to know the coral reef condition in Sempu’s strait. This research has beeb conducted at December 2017 used PIT method in four research stations i.e. Teluk Semut 1, Teluk Semut 2, Watu Meja and Fish Apartement. In generally the substrate of Sempu strait was devided into two categories, they were living and non-living substrate. Living substrate include HC, SC, NIA, SP and OT while non-living were RKC, RC, RB, SD and SI. Station 1 was dominated by hard coral (33.75%), station 2 and 3 was by rock (59.38% and 40.63%), and station 4 was dominated by sand (39.38%) respectively. Based on the monitoring, the coral reefs ecosystem of Sempu Strait was categorised in damaged condition. It could be seen by the high covering of dead coral and the low covering of healthy coral along observed stations. The coral reefs rehabilitation program is needed to recover the reefs ecosystem in Sempu Strait.                                                          Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi terumbu karang di Selat Sempu dengan cara mengetahui susunan dari substrat dasar perairannya. Pelaksanaan penelitian ini dilakukan pada Desember 2016 dengan menggunakan metode PIT di empat stasiun penelitian yaitu Teluk Semut 1, Teluk Semut 2, Watu Meja dan Fish Apartement. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa substrat dasar perairan di Selat Sempu terbagai atas dua yaitu living (HC, SC, NIA, SP dan OT) dan non-living (RKC, RC, RB, SD dan SI). Stasiun 1 didominasi oleh hard coral (33,75%), stasiun 2 didominasi oleh rock (59,38%), stasiun 3 didominasi oleh rock (40,63%), dan stasiun 4 didominasi oleh sand (39,38%). Berdasarkan monitoring yang telah dilakukan, ekosistem terumbu karang di Selat Sempu telah mengalami kerusakan hal ini dapat dilihat dari tingginya tutupan karang mati dan rendahnya tutupan karang hidup yang ditemukan di sepanjang stasiun penelitian yang dilakukan. Program rehabilitasi terumbu karang sangat diperlukan untuk memulihkan kembali kondisi ekosistem karang di Selat Sempu.

Page 1 of 1 | Total Record : 8


Filter by Year

2017 2017