cover
Contact Name
Saiful Mustofa
Contact Email
episteme@uinsatu.ac.id
Phone
+62335321513
Journal Mail Official
episteme@uinsatu.ac.id
Editorial Address
Jl. Mayor Sujadi No.46, Kudusan, Plosokandang, Kec. Kedungwaru, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur 66221
Location
Kab. tulungagung,
Jawa timur
INDONESIA
Epistemé: Jurnal Pengembangan Ilmu Keislaman
FOCUS Epistemé: Jurnal Pengembangan Ilmu Keislaman aims to strengthen transdisciplinary perspective on issues related to Islam and Muslim societies. The journal is committed to publishing scholarly articles dealing with multiple facets of Islam and Muslim societies with a special aim to expand and to deepen a transdisciplinary approach in the study of Islam as tradition, culture, and practice. It focuses on topical issues which include scholarship on classical and contemporary studies on Islam and Muslim societies and takes a transdisciplinary approach that benefits from a cross-cultural perspective. SCOPE Epistemé: Jurnal Pengembangan Ilmu Keislaman specializes in the study of Islam and Muslim societies and aims to strengthen transdisciplinary studies on Islam and Muslim societies. The published articles will explore the discussions on classical and contemporary Islamic studies from different socio-scientific approaches, such as anthropology, sociology, politics, international relations, ethnomusicology, arts, film studies, economics, human rights, law, diaspora, minority studies, demography, ethics, communication, education, economics, philosophy, and philology. Studies grounded in empirical research and comparison of relevance to the understanding of broader intellectual, social, legal, and political developments in contemporary Muslim societies reserve as the crucial scope of the journal.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 202 Documents
KRITIK TERHADAP SEKULARISASI TURKI: Telaah Historis Transformasi Turki Usmani M. Arfan Mu’ammar
Epistemé: Jurnal Pengembangan Ilmu Keislaman Vol 11 No 1 (2016)
Publisher : Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21274/epis.2016.11.1.117-148

Abstract

Dalam belantika sejarah, Turkilah negara Islam yang pertama kali mengadopsi konsep sekuler. Runtuhnya Turki Usmani dan berkembangnya arus modernisasi akhirnya menjadikan Turki bermanuver menjadi negara sekuler di bawah kendali Mustafa Kemal Atatürk. Ia beranggapan bahwa hanya dengan konsep sekulerlah Turki bisa bangkit dan menjadi negara maju layaknya Barat. Namun upaya sekularisasi tersebut, lebih tampak sebagai bentuk pemaksaan dari pemerintah rezim, bukan sekularisasi yang tumbuh sebagai suatu konsekuensi dari proses modernisasi seperti di negara-negara Eropa. Oleh karena itu, secara genealogi artikel ini mengkaji proses transformasi Turki Usmani menuju negara sekuler. Lebih tepatnya, telaah kritis terhadap sekularisasi dan modernisasi di Turki serta kritik terhadap usaha-usaha Mustafa Kemal Atatürk dalam ambisi sekularisasinya.Historically, Turkey is an Islamic state which firstly adopted the secular concept.The collapse of the Ottoman Empire and the development of modernization eventually make Turkey maneuvered into a secular state under the control of Mustafa Kemal Atatürk. He thinks that only the secular concept, Turkeycould rise up and become a developed state like the West. But the efforts of secularization, is more visible as coercion of a regime, not secularization growas a consequence of the modernization process as it is in European countries. Therefore, genealogically, this article examines the transformation process ofthe Ottoman Empire to the secular state. More precisely, critical studies of secularization and modernization in Turkey and criticism of the efforts ofMustafa Kemal Atatürk in secularization ambition.
ETOS PEMBERDAYAAN EKONOMI MASYARAKAT NU R. Andi Irawan
Epistemé: Jurnal Pengembangan Ilmu Keislaman Vol 11 No 1 (2016)
Publisher : Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21274/epis.2016.11.1.149-162

Abstract

NU adalah ormas Islam terbesar di Indonesia. Keberhasilannya dalam mengemban misi dakwah di tengah masyarakat telah menjadi bukti bahwa NU adalah bagian yang tak bisa dipisahkan dalam dinamika sejarah perkembangan bangsa Indonesia. Namun di balik kesuksesannya dalam dimensi sosio-religius itu ternyata berbanding terbalik dengan kondisi kesejahteraan ekonomi masyarakat Nahdliyin khususnya dan bangsa Indonesia pada umumnya. Meski secara prinsip keorganisasian NU sudah lama merumuskan konsep kesejahteraan ekonomi, akan tetapi secara praktis NU masih terkesan kurang memprioritaskan pemberdayaan dalam sektor ekonomi. Apalagi dalam menghadapi MEA (Masyarakat EkonomiASEAN), strategi dan tindakan NU dalam mengemban amanat untukmeningkatkan kesejahteraan umat haruslah tepat. Ketepatan strategi dan tindakan yang dimaksud tentu tetap berlandaskan pada dimensi keagamaan yang jelas. Beberapa di antaranya sebagaimana dalam al-Qur’an yang menjunjung tinggi etos transformasi (Q.S. 16:125), etos kerja (Q.S. 9: 105),etos intelektual (Q.S. 48: 11), etos sosial (Q.S: 107:1-3), etos moral (Q.S.87: 14-15) dan etos penghargaan (Q.S.99:7). Maka dari itu, artikel ini bertujuan untuk menelisik apa saja faktor penghambat yang menyebabkan NU terkesan lamban dalam peran peningkatan kesejahteraan hidup umat, sekaligus menyuguhkan strategi dan tindakan aplikatif yang jitu sebagai problem solving atas krisis multidimensi yang mendera masyarakat dewasa ini.NU is the largest Muslim organization in Indonesia. Its success in the mission of preaching in the community has become evident that NU can’t be separated in the dynamics of the historical development of the Indonesian. But behind the success in socio-religious dimension it faces a problem about the Nahdliyin’seconomic welfare. Although the principle of organizational NU had long been formulating, but practically NU still less impressed prioritize empowerment in the economic sector. Moreover, in response to MEA (ASEAN Economic Community), a strategy and action NU in undertaking to improve the welfare of the people must be right. Appropriateness of strategies and actions is of course still based on a clear religious dimension. Some of them, as in the Qur’an that up holds the ethos of transformation (Q.S. 16: 125), work ethos (Q.S. 9: 105), intellectual ethos (Q.S. 48: 11), a social ethos (Q.S.107: 1-3 ), moral ethos (Q.S. 87: 14-15) and the ethos of the award (Q.S.99: 7). Therefore, this article is to search for any factors that cause sluggish NU impressed in the role of improving the welfare of people’s lives, as well as presenting a strategy and action applicative sniper as problem solving on the multidimensional crisis that plague society today.
PERAN AGAMA DALAM MULTIKULTURALISME MASYARAKAT INDONESIA Rizal Mubit
Epistemé: Jurnal Pengembangan Ilmu Keislaman Vol 11 No 1 (2016)
Publisher : Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21274/epis.2016.11.1.163-184

Abstract

Multikulturalisme merupakan pengakuan bahwa beberapa kultur yang berbeda bisa eksis dalam lingkungan yang sama dan menguntungkan satu dan lainnya. Indonesia adalah bangsa yang sangat beragam adalah fakta yang tidak bisa dipungkiri lagi. Keragaman Indonesia tidak saja tercermin dari banyaknya pulau yang dipersatukan di bawah satu kekuasaan negara, melainkan juga keragaman warna kulit, bahasa, etnis agama dan budaya. Dalam perspektif sosiologi, agama dipandang sebagai sistem kepercayaan yang diwujudkan dalam perilaku sosial tertentu. Agama berkaitan dengan pengalaman manusia, baik sebagai individu maupun kelompok. Oleh karena itu, perilaku yang diperankan oleh individu ataupun kelompok itu akan terkait dengan sistem keyakinan dari ajaran agama yang dianutnya. Perbedaan cara pandang agama dapat menimbulkan fanatisme sempit dan penguncian diri terhadap pandangan lain dalam masyarakat. Maka agama memiliki potensi untuk menimbulkan suatu konflik internal maupun eksternal yang akhirnya dapat merugikan masyarakat itu sendiri.Multiculturalism is an acknowledgment that several different cultures can exist in the same environment and benefit from each other. Indonesia is avery diverse nation is a fact that can’t be denied by anyone. The diversity of Indonesia is not only reflected in the many islands that are united under the authority of the state, but also the diversity of skin color, language, religion and ethnic culture. In the perspective of sociology, religion is seen as a belief system that is embodied in certain social behaviors. Religion deals with human experience, both as individuals and groups. Therefore, the behavior that is played by individuals or groups that would be associated with the belief system of the teachings of their religion. The differences of religious paradigm can lead to narrow fanaticism and exclusivism to another in society. So religion has  the potential to cause an internal and external conflicts could be detrimental to the itself.
MENEGUHKAN ISLAM NUSANTARA UNTUK ISLAM BERKEMAJUAN: Melacak Akar Epistemologis dan Historis Islam (di) Nusantara Saiful Mustofa
Epistemé: Jurnal Pengembangan Ilmu Keislaman Vol 10 No 2 (2015)
Publisher : Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21274/epis.2015.10.2.405-434

Abstract

Sejatinya, Islam Nusantara bukanlah sesuatu yang baru. Penebalan kata “Nusantara” yang dikawinkan dengan “Islam” bukan hanya menegaskan nama, melainkan juga karakter untuk menunjukkan corak atau warna dari sebuah entitas yang heterogen. Keragaman sebagai salah satu tipologi Islam Nusantara adalah buah dari pergumulan panjang antara agama dan budaya; antara teks dengan konteks yang saling melengkapi satu sama lain sehingga menelurkan Islam yang ramah, inklusif dan fleksibel. Berangkat dari pijakan epistemologis dan historis, artikel ini coba menyuguhkan diskursus lama yang kembali mencuat di seputaran pertengahan tahun 2015 seiring dengan dihelatnya Muktamar dua ormas besar: NU dan Muhammadiyah. Hadirnya artikel ini sebetulnya juga ingin menjawab kasak-kusuk yang menuding bahwa Islam Nusantara hanya identik dengan kaum Nahdliyin. Sehingga term Islam Nusantara tidak lain dianggap sebagai nama baru dariIslam tradisionalis.Essentially, Islam Nusantara isn’t a new phenomenon. Bolding of both “Nusantara” with “Islam” not only affirmation about name but also character to show type or colour from the heterogenous entity. Diversity as one of Islam Nusantara typology is the result of a long struggle between religionand culture; between text and context that complement each other so that Islam spawned a friendly, inclusive and flexible. Start from the historical and epistemological approach, this article try to presents a classical discourse the back sticking around mid-2015 in line with the holding of the congress two major organizations: NU and Muhammadiyah. Actually, the presence o fthis article is also want to answer the rumors that accuse Islam Nusantara only synonymous with the Nahdliyin. Thus, Islam Nusantara considered as the new name of traditionalism Islam.
ISLAM RAHMATAN LIL ALAMIN PERSPEKTIF KH. HASYIM MUZADI Muhammad Makmun Rasyid
Epistemé: Jurnal Pengembangan Ilmu Keislaman Vol 11 No 1 (2016)
Publisher : Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21274/epis.2016.11.1.93-116

Abstract

Islam adalah agama rahmat untuk semesta alam. Agama yang telah melewati pelbagai tahapan ujian di dunia, mulai dari ujian zaman jahiliah, hingga zaman teknologi. Posisinya sebagai agama yang merahmati seluruh alam sekaligus sebagai penyempurna agama-agama sebelumnya menjadikan Islam istimewa. Salah satu tokoh yang mampu melihat dan memetik keistimewaan Islam itu adalah KH. Hasyim Muzadi. Dengan mengusung gagasan Islam Rahmatan lil Alamin, ia berhasil menampilkan wajah Islam yang khas, komprehensif, holistik dan building in Qur’an, dibandingkan istilah Islam Liberal, Islam Progresif, Islam Nusantara dan lain sebagainya. Ada tiga metode yang ia gunakan dalam mengampanyekan konsep tersebut: pendekatan dakwah, pendekatan hukum dan pendekatan politik. Ketiganya, dapat membawa Islam dengan rahmat, damai dan lemah lembut, di negara-bangsayang multi-agama, suku, etnis dan budaya.Islam is the grace religion for the universe. It’s religion has gone through various stages of examination at the world, start from jahiliah era, until theage of technology. The position of Islam as the religion grace on the wholeof nature as well as complement the previous religions makes it special. One of the figures who is able to watch and reap the privileges of Islam is KH. Hasyim Muzadi. By campaigning the idea of Islam Rahmatan lil Alamin, he managed to show the face of Islam typical, comprehensive, holistic and building in the Qur’an, than Liberal Islam, Progressive Islam, Islam Nusantara etc. There are three methods used in the campaign of this concept: dakwah, law and a political approach. The third approach, can carry Islam with grace, peace and gentleness, in the multi-religion nation-state, ethnicity and culture.
PENGARUH KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL DAN KOMPETENSI MANAJERIAL KEPALA SEKOLAH TERHADAP KINERJA GURU DI MADRASAH ALIYAH NEGERI SE-KABUPATEN TULUNGAGUNG Susmiyati S S
Epistemé: Jurnal Pengembangan Ilmu Keislaman Vol 11 No 1 (2016)
Publisher : Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21274/epis.2016.11.1.185-200

Abstract

Program sertifikasi guru di negeri ini telah berlangsung selama sepuluh tahun, dimulai sejak tahun 2005 hingga sekarang. Namun demikian hasilnya belum sesuai dengan harapan untuk mewujudkan guru profesional dengan indikasi masih rendahnya kinerja guru. Rendahnya kinerja guru sekaligus juga menunjukkan masih rendahnya kualitas pendidikan di negeri ini. Oleh karena itu, perlu adanya penelitian tentang kepemimpinan kepala sekolah dan kinerja guru. Dengan menggunakan metode kuantitatif penelitian ini berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti, apakah kepemimpinan transformasional dan kompetensi manajerial kepala sekolah berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja guru di Madrasah Aliyah Negeri seluruh Kabupaten Tulungagung? Apakah kepemimpinan transformasional kepala sekolah dan kompetensi manajerialnya secara simultan berpengaruh signifikan terhadap kinerja guru di Madrasah Aliyah Negeri seluruh Kabupaten Tulungagung Berdasarkan hasil analisis data, kesimpulannya adalah kepemimpinan transformasional dan kompetensi manajerial kepala sekolah berpengaruh positif terhadap kinerja guru di Madrasah Aliyah Negeri seluruh Kabupaten Tulungagung dan kepemimpinan transformasional serta kompetensi manajerial kepala sekolah berpengaruh signifikan secara simultan terhadap kinerja guru di Madrasah Aliyah Negeri seluruh Kabupaten Tulungagung.Teacher certification program in this country has been going on for ten years, since its inception in 2005. However, the results were not in line with expectations to achieve a professional teacher with an indication of the low performance of teachers. The low performance of teachers and also showed the low quality of education in this country. By using quantitative methods, this research is trying to answer questions such as, what is the transformational leadership and managerial competencies principals significantly affect the performance of teachers in Madrasah Aliyah Negeri throughout Tulungagung?What is transformational leadership principals and managerial competencies principals simultaneously significant effect on the performance of teachers in Madrasah Aliyah throughout Tulungagung? Based on the results of data analysis concluded both transformational leadership principals and competence managerial principals significantly influence the performance of teachers in Madrasah Aliyah throughout Tulungagung, and transformational leadership and managerial competencies principals simultaneously significant effect on the performance of teachers in Madrasah Aliyah throughout Tulungagung.
MEMPERTIMBANGKAN KONTRIBUSI CHARLES TAYLOR TERHADAP STUDI AGAMA DI INDONESIA Kamaruzzaman Bustamam- Ahmad
Epistemé: Jurnal Pengembangan Ilmu Keislaman Vol 11 No 2 (2016)
Publisher : Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21274/epis.2016.11.2.225-259

Abstract

Artikel ini membahas tentang Charles Taylor, salah satu filsuf dari McGill University, Kanada. Ia telah menghasilkan berbagai karya dalam bidang filsafat, sejarah ide, imajinasi sosial, modernitas, identitas, religi, ilmu kemanusiaan, ilmu sosial, bahasa dan mendapatkan perhatian dari berbagai sarjana di seluruh dunia, kecuali Indonesia. Artikel ini merupakan upaya perdana untuk memperkenalkan karya-karya Taylor, yang hampir semua berbahasa Inggris dan Prancis. Studi bibliografi ini, paling tidak akan memberikan genealogi gagasan-gagasan Taylor. Dalam studi ini dijelaskan siapa saja sarjana yang telah melakukan studi terhadap pemikiran Taylor. Adapun susunan artikel ini adalah biografi intelektual Taylor, karya-karyanya, para penstudi Taylor, dan cuplikan pemikirannya. Akhirnya, ditemukan bahwa karya-karya Taylor merupakan usahanya untuk memberikan peran kembali agama di dalam ruang publik, dimana argumen-argumennya telah banyak mengundang perdebatan di kalangan para sarjana. Paling tidak, artikel ini mampu memberikan masukan bagi para sarjana yang mengkaji Islam di Indonesia, untuk dapat mengunakan model-model argumen yang dilakukan oleh Taylor, dalam memahami religi dalam era kontemporer.This article is about Charles Taylor, a philosopher from McGill University, Canada. He has authored many works in philosophy, history of ideas, social imaginary, modernity, identity, human sciences, social sciences, language, and received many responses from scholars internationally, except Indonesia. This study is an introduction to his works, which are mostly written in English and France. As bibliographical study, this article will map out varieties of Taylor’s ideas in his works. This study listed some of scholars who study Charles Taylor’s thought. Furthermore, this article will examine intellectual biography of Taylor, his works, and works on him by Western scholars. Finally, it argued that his works have taken a step how to integrate the role of religion in public spaces, which is still debated among scholars. Last but not least, this essay will enhance of Muslim scholars in Indonesia to adapt Taylor’s argument in religious in contemporary era.
TURKIC SULTANATES AND FEMALE SOVEREIGN IN ISLAMDOM Hanafi Wibowo
Epistemé: Jurnal Pengembangan Ilmu Keislaman Vol 11 No 2 (2016)
Publisher : Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21274/epis.2016.11.2.261-288

Abstract

The status of women in the Islamdom is a source of frequent criticism. Some Western critics charge that Islam has misogynist tendencies that are often teaches and promoted the inferiority of women in Muslim societies. As a result the debate over female leadership in Islam is a become splinter of the debate on Islam’s views of women in general. The role of Women in Islam, as a political leader is considered a taboo, even sometimes get fierce opposition from a group of people, who interpret the word of God in a veil of monopolistic desires. However, there were numerous women in Islamic history that is capable of being head of state. In the various Arab speaking notes, women have been known as the head of state. In the Sultanate of Delhi, there was Razia Sultan, in Egypt there was Shajarat ad Durr, during Ottoman period, there was Mihrimah Sultan and coincidently, all of them were Turkic origin. The study examines the reason why those women can become leaders within Islamdom. The conclusion, secularism of Islamdom which orchestrated by Turkic Mercenaries, when the institution of Abbasid Caliphate and Sultanate was separated, makes the women are eligible to become sultanah, which consistent with women’s independent nature in Turkic society.Status perempuan di dunia Islam merupakan masalah yang kerapkali diperdebatkan. Beberapa kritikus Barat menuduh bahwa Islam memiliki kecenderungan misoginis yang sering mengajarkan rendahnya posisi perempuan dalam masyarakat Muslim. Akibatnya perdebatan kepemimpinan perempuan dalam Islam selalu mengarah menjadi perdebatan pada pandangan Islam tentang perempuan pada umumnya. Peran perempuan dalam Islam, sebagai pemimpin politik dianggap tabu, bahkan kadang-kadang mendapatkan perlawanan sengit dari sekelompok orang, yang menafsirkan firman Allah sesuai keinginannya sendiri. Namun, ada banyak perempuan dalam sejarah Islam yang mampu menjadi kepala negara. Dalam berbagai catatan berbahasa Arab, perempuan telah dikenal sebagai pemimpin negara. Di Kesultanan Delhi ada Razia Sultan, di Mesir ada Syajarat al Durr, di Turki Usmaniada Mihrimah Sultan dan kebetulan semua dari orang Turki. Artikel ini mengkaji alasan mengapa para perempuan dapat menjadi pemimpin di dunia Islam. Kesimpulannya, sekularisme di dunia Islam yang dilakukan oleh para tentara bayaran Turki mengakibatkan terjadinya separasi antara institusi Kekhalifahan Abbasiyah dan kesultanan yang memungkinkan perempuan untuk menjadi seorang sultanah serta konsisten dengan sifat perempuan yang mandiri dalam masyarakat Turki.
PENANGANAN MANTAN GAFATAR DI KALIMANTAN TENGAH DALAM PERSPEKTIF KOMUNIKASI Gondo Utomo
Epistemé: Jurnal Pengembangan Ilmu Keislaman Vol 11 No 2 (2016)
Publisher : Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21274/epis.2016.11.2.403-433

Abstract

Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) sempat menimbulkan kehebohan di kalangan masyarakat. Ratusan dan bahkan ribuan anggotanya dari beberapa provinsi diketahui melakukan eksodus ke beberapa provinsi di Kalimantan. Majelis Ulama Indonesia mengeluarkan fatwa yang menyatakan bahwa Gafatar sesat dan menyesatkan. Pemerintah melalui Kementerian Dalam Negeri, Jaksa Agung dan Kementerian Agama juga mengeluarkan keputusan bersama. Sedangkan Kepolisian Republik Indonesia melakukan penindakan hukum terhadap beberapa pemimpin Gafatar. Kementerian Agama melalui jajarannya melakukan sejumlah langkah pembinaan terhadap mantan Gafatar, termasuk di Kalimantan Tengah. Melalui metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus, diketahui bahwa sejumlah Kantor Kementerian Agama kabupaten/kota di Kalimantan Tengah telah melakukan penyuluhan agama Islam dan pendampingan terhadap mantan Gafatar. Penyuluhan agama Islam dan pendampingan tersebut dapat dilihat dalam perspektif komunikasi. Dalam pandangan komunikasi, penyuluhan dan pendekatan terhadap mantan Gafatar akan akan menghasilkan pemahaman bersama yang menjadi dasar perubahan perilaku. Perubahan perilaku pada mantan Gafatar diharapkan bisa mengembalikan mereka kepada ajaran Islam yang benar dan agar Gafatar tidak berkembang menjadi gerakan fundamentalis Islam radikal yang bisa memunculkan radikalisme agama sebagai awal dari terorisme.Fajar Nusantara Movement (Gafatar) has made social hype in the public recently. Hundreds and even thousands of its members that were from several provinces was known to have made an exodus to the provinces in Kalimantan.The Indonesian Ulama Council (MUI) issued a fatwa stating that the Gafatar organization is heretical and misleading as well. The government through the Ministry of Home Affairs (Kemendagri), the Attorney General (Jaksa Agung) and the Ministry of Religious Affairs (Kemenag) also issued a joint decision. Meanwhile, the Indonesian National Police also conducted legal actions against some Gafatar leaders. The Ministry of Religious Affairs through its staff also conducted a religious program as a teaching step for former members of the Gafatar, including those were in Central Kalimantan. Through a qualitative research method with a case study approach, a number of the offices of Religious Affairs Ministries in districts and cities in Central Kalimantan had conducted a religious counseling program and accompaniment to former Gafatar. Religious counseling and mentoring can be seen in the perspective of communication. In that perspective, counseling and mentoring to ex Gafatar would generate a common understanding that becomes the basic of changes in behavior. The changes in behavior of the former members of Gafatar are expected to restore them to the true Islam teachings and to prevent the growth of Gafatar organization not to grow the radical Islam fundamentalist movement that could lead to religion radicalism as the beginning of terrorism.
NALAR EPISTEMOLOGI AGAMA: Argumen Pluralisme Religius Epistemologis Abdul Karim Sorosh Aksin Wijaya
Epistemé: Jurnal Pengembangan Ilmu Keislaman Vol 11 No 2 (2016)
Publisher : Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21274/epis.2016.11.2.201-224

Abstract

Menurut Abdul Karim Sorosh, agama terdiri dari dua unsur: pengalaman seseorang bertemu dengan Yang Sakral dan kitab suci yang merupakan manifestasi dari pengalaman Yang Sakral itu. Tafsir terhadap agama diarahkan kepada dua unsur tersebut. Yang penting dicatat dalam konteks penafsiran bahwa di satu sisi, pengalaman keagamaan seorang nabi bervariasi dan kitab suci agama mengandung pesan beragam. Sedangkan di sisi lain, seorang mufassir agama melalui luar kerangka agama sehingga terselip asumsi-asumsi, harapan-harapan dan teori-teori ilmu pengetahuan sesuai dinamika hidup sang mufassir. Karena itu, tafsir terhadap agama yang disebut dengan istilah pemikiran keagamaan menurut Sorosh tidak hanya beragam, tetapi juga dinamis. Keragaman dan dinamika pemikiran keagamaan bisa dilihat dari banyaknya aliran pemikiran keagamaan yang berkembang di dunia, baik aliran keagamaan yang menjadi mainstream maupun non-mainstream. Contohnya, Sorosh melansir tiga kategori aliran pemikiran keagamaan yang berkembang saat ini: pertama, pemikiran keagamaan yang menekankan agama agar bermanfaat bagi manusia dalam menjalani hidupnya di dunia (maslahi). Kedua, pemikiran keagamaan yang menekankan agar agama bisa menjawab persoalan-persoalan epistemologis yang dihadapi manusia (ma’rifati). Ketiga, pemikiran keagamaan yang menekankan agar agama menjadi bagian dari pengalaman seseorang dalam bertemu dengan Tuhan (tajribati). Masing-masing aliran itu menurut Sorosh mempunyai variasi gerakan sendiri-sendiri, namun aliran keagamaan yang ketiga (tajribati) lebih bervariasi daripada dua aliran lainnya.According to Abdul Karim Sorosh, the religion consists of two components namely a person’s meeting experience to the Sacred and the holy books which is concreted from its Sacred experience. Interpretation of the religion is directed to these two elements. Meanwhile, prophets had varied religious experiences as well as religion’s holy books contain diverse messages. However, mufassir interprets religion through the outside framework of religion itself; as a result, assumptions, expectations and theories of science are which in accordance with the life of the mufassir start to emerge eventually. For that reason, the interpretation of religious according to Sorosh is not only diverse but also dynamic. The diversity and dynamics of religious thought can be seen from variability of sect developed around the world in the form of mainstream and non-mainstream. The example is that Sorosh divided three categories of religious thought sect nowdays. Firstly, it emphasizes that religion is beneficial for living in the world (maslahi). Secondly, it highlight that religion can solve epistemological problems faced by mankind (ma’rifati). Thirdly, it put emphasison the concept that religion as a part of one’s experience in meeting the Lord (tajribati). Each type of religious schools of thought proposed by Sorosh hasits own movement, however the movements for the third types (tajribati) is more various than the other two types.

Page 8 of 21 | Total Record : 202