cover
Contact Name
Saiful Mustofa
Contact Email
episteme@uinsatu.ac.id
Phone
+62335321513
Journal Mail Official
episteme@uinsatu.ac.id
Editorial Address
Jl. Mayor Sujadi No.46, Kudusan, Plosokandang, Kec. Kedungwaru, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur 66221
Location
Kab. tulungagung,
Jawa timur
INDONESIA
Epistemé: Jurnal Pengembangan Ilmu Keislaman
FOCUS Epistemé: Jurnal Pengembangan Ilmu Keislaman aims to strengthen transdisciplinary perspective on issues related to Islam and Muslim societies. The journal is committed to publishing scholarly articles dealing with multiple facets of Islam and Muslim societies with a special aim to expand and to deepen a transdisciplinary approach in the study of Islam as tradition, culture, and practice. It focuses on topical issues which include scholarship on classical and contemporary studies on Islam and Muslim societies and takes a transdisciplinary approach that benefits from a cross-cultural perspective. SCOPE Epistemé: Jurnal Pengembangan Ilmu Keislaman specializes in the study of Islam and Muslim societies and aims to strengthen transdisciplinary studies on Islam and Muslim societies. The published articles will explore the discussions on classical and contemporary Islamic studies from different socio-scientific approaches, such as anthropology, sociology, politics, international relations, ethnomusicology, arts, film studies, economics, human rights, law, diaspora, minority studies, demography, ethics, communication, education, economics, philosophy, and philology. Studies grounded in empirical research and comparison of relevance to the understanding of broader intellectual, social, legal, and political developments in contemporary Muslim societies reserve as the crucial scope of the journal.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 202 Documents
DIALECTICS OF EDUCATIONAL TECHNOLOGY AND REPOSITION ISLAMIC EDUCATION (PAI) TEACHER’S ROLE IN GLOBALIZATION ERA Agus Purwowidodo
Epistemé: Jurnal Pengembangan Ilmu Keislaman Vol 11 No 2 (2016)
Publisher : Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21274/epis.2016.11.2.311-338

Abstract

Learning technology as applied disciplines grows and evolves according to the needs of learning: more effective, efficient, spacious, and quickly in the global era. It also facilitates problem solving learning on design aspects, development, utilization, assessment processes and learning resources. Perspective of learning technology in the global era is how Islamic education (PAI) teachers professionally are able to design and create innovative learning environment with reference to the process of national education standard that sets out in the framework of national education. PAI teacher’s challenge in the global erais the demands of the learning process that can improve information literacy that is well supported by data and facts to deliver to the students in the era of information society and the knowledge society. So it is needed an approach and innovative method of learning strategies that address the challenges of learning needs in the globalization and information era. Dialectics of technology on learning in a globalization era are characterized by the demands of the students to have critical thinking skills, problem solving, innovative and creative, mastering ICT, fluent communication and multi languages. And also Islamic education teacher competence and interaction and learning technologies such as ICT products that push reposition the role of an advanced teacher trainer, counselor, manager, participants, leader and author of learning works asan abstraction and a high commitment as a base quality of professionalism.Teknologi pembelajaran sebagai disiplin ilmu terapan tumbuh dan berkembang sesuai kebutuhan belajar yang lebih efektif, efisien, luas dan cepat di era global. Selain itu juga memfasilitasi pemecahan masalah belajar pada aspek desain, pengembangan, pemanfaatan, penilaian proses-proses serta sumber-sumber belajar. Perspektif teknologi pembelajaran di era global adalah bagaimana guru PAI secara profesional mampu mendesain dan menciptakan lingkungan belajar yang inovatif dengan mengacu pada standar proses pendidikan nasional yang ditetapkan dalam kerangkan pendidikan nasional. Tantangan guru PAI di era global adalah tuntutan terhadap proses pembelajaran yang mampu meningkatkan information literacy yang baik didukung oleh data dan fakta untuk mengantarkan siswanya menuju pada era masyarakat informasi dan masyarakat ilmu pengetahuan. Sehingga dibutuhkan pendekatan strategi dan metode inovatif pembelajaran yang mampu menjawab tantangan kebutuhan pembelajaran pada era globalisasi dan informasi. Dialektika teknologi terhadap proses pembelajaran di era global diwarnai dengan tuntutan terhadap siswa mempunyai keterampilan dalam berpikir kritis, memecahkan masalah, inovatif dan kreatif, menguasai ICT, komunikasi lancar, multi bahasa. Serta interaksi kompetensi guru PAI dan produk teknologi pembelajaran berupa ICT yang mendorong reposisi peran guru menjadi pelatih, konselor, manajer, partisipan, pemimpin serta pengarang karya pembelajaran sebagai daya abstraksi dan komitmen yang tinggi sebagai basis kualitas profesionalisme.
MEMBANGUN PARTISIPASI POLITIK KELAS MENENGAH MUSLIM INDONESIA Wasisto Raharjo Jati
Epistemé: Jurnal Pengembangan Ilmu Keislaman Vol 11 No 2 (2016)
Publisher : Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21274/epis.2016.11.2.375-402

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk menganalisis mengenai karakter politik dan tipologi masyarakat kelas menengah Muslim Indonesia pascareformasi. Karakter tersebut menjadi penting dikaji untuk melihat basis-basis pembentukannya. Pada umumnya, kelas menengah Muslim Indonesia tumbuh karena dua sumber: intelektualisme dan borjuasi. Intelektualisme menandai adanya transformasi pemikiran Islam yang serba ortodoks dan puritan menjadi kritis. Sedangkan borjuasi menandai adanya pergeseran basis ekonomi yang semula bercorak agraris menjadi tergantung pada jasa, perdagangan, maupun birokrasi. Modernisasi menjadi kata kunci terhadap pembaruan kelas menengah Muslim Indonesia. Ia terbagi dalam tiga rentang waktu, yakni masa kolonialisme, pascakemerdekaan dan masa pascareformasi. Sejalan dengan modernisasi tersebut, arah partisipasi dan representasi politik kelas menengah Muslim Indonesia kemudian berkembang ke dalam ranah politik maupun non-politik. Secara politis, pendirian partai politik merupakan solusi bagi mereka dalam mengartikulasikan kepentingannya. Sedangkan,secara non-politis atau kultural, mereka umumnya terepresentasikan dalam kegiatan keagamaan dan pengajian kaum elit.This article aimed to analyze about political character of Indonesia Muslim middle class in postreformation era. In addition to analyze, this article is also describe the typology of Indonesian Muslim middle class. That typologies are becoming important to observe the establishment bases of Indonesian Muslim middle class. In general terms, Indonesian Muslim middle class have grown up due to intellectualism and bourgeoises. Intellectualism has indicated such transformation from traditional thinking method based on pesantren to critical studies. Meanwhile, bourgeoises indicated transformation from farming activities towards trade, bureaucracy, and manufactures. In other words, modernizationis pivotal words among Indonesian Muslim middle class which devided into three parts; colonialization, republicanism, and postreformation era. Those three parts have own modernization characteristic. In line with that growth pattern, political party establishment is sole solution among Indonesian middle class to articule their political interest. Furthermore, middle class who were not in political struggle tend to creating “majelis ta’lim” and other forms. It is came to conclusion that society strengthening is ultimate option to carry out political interest and representation. This article will elaborate more deeply about political participation among Indonesian Muslim middle class.
MODEL PENGAJARAN KEJUJURAN MENGGUNAKAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI (TIK) DI PONDOK PESANTREN AL-AZHAAR LUBUKLINGGAU Ah. Mansur
Epistemé: Jurnal Pengembangan Ilmu Keislaman Vol 11 No 2 (2016)
Publisher : Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21274/epis.2016.11.2.339-374

Abstract

Penelitian ini dimaksudkan untuk mengembangkan model pengajaran kejujuran menggunakan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dengan menyasar enam indikator: disiplin, amanah, komitmen, konsisten, adil, dan berkata benar. Melalui enam indikator tersebut tingkat kejujuran seseorang diukur; apakah seseorang dapat dikategorikan sebagai seorang yang jujur atau sebaliknya. Model pengajaran ini sangat cocok diterapkan di pondok pesantren atau sekolah berasrama. Karena model ini mengharuskan adanya peran maksimal orang tua dan pendidik secara simultan dan berkelanjutan. Di pesantren atau di asrama peran orang tua digantikan oleh pembimbing akademik selaku pengasuh dan sekaligus berperan sebagai pendidik yang bertindak sebagai model karakter yang diinginkan. Penelitian ini adalah penelitian tindakan (action research) menggunakan metode eksprimen semu (quasi experiment) dan berpedoman pada konsep penelitian tindakan yang dikembangkan oleh Kurt Lewin, dengan melaksanakan tiga siklus treatment. Masing-masing siklus dilakukan selama satu bulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Model Pengajaran Kejujuran Menggunakan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) berpengaruh sangat signifikan. Di mana nilai karakter jujur sebelum treatment ditunjukkan dengan nilai rata-rata1,71, dan karakter jujur setelah treatment ditunjukkan dengan nilai rata-rata 3,58. Peningkatan ini sangat drastis karena nilai-nilai kejujuran diinternalisasikan secara massif dengan melibatkan pembimbing akademik sebagai model atau figur dan kolaborator sebagai pengamat. Di samping itu penelitian ini melibatkan hampir semua media dan program pondok yang sudah ada. Berdasarkan hasil penelitian ini maka direkomendasikan agar lembaga pendidikan umum maupun swasta, khususnya yang berasrama dapat menggunakan model pengajaran kejujuran menggunakan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK).This study aimed to develop a model of honesty teaching by using Informationand Communication Technology (ICT) by targeting the six indicators: discipline, responsible, commitments, consistent, fair, and honest. Through the six indicators measured someone’s honesty; whether a person can be categorized as an honestman, or otherwise. This teaching model is very suitable to be applied in a pesantren or a boarding school. Because this model requires the maximum role of parents and educators simultaneously and continuously. In boarding schools or in the dorm role of parents is replaced by counselors as care giver role is as an educator who acts as a model for the character you want. This research is action research by using quasi-experimental methods and guided by the concept of action research developed by Kurt Lewin, to carry out three cycles of treatment. Each cycle is done for one month. The results showed that Honesty Teaching Modelby Using Information and Communication Technology (ICT) is very significant effect. Where the value of honest character before treatments are indicated by an average value of 1.71, and honest character after treatment is indicated by an average value of 3.58. This increase drastically because the values of honesty internalized massively involving academic supervisor as models or figures and collaborators as observers. Besides, this study involved almost all the media and the pesantren (boarding school) program that already exists. Based on these results,it is recommended that the public and private educational institutions, especially the boarding school can use the teaching model of honesty by using Information and Communication Technology (ICT).
MENGGALI NILAI-NILAI “PENDIDIKAN TALI ASIH” MELALUI TRADISI AHLEN DI KECAMATAN KALIJAMBE SRAGEN JAWA TENGAH Azam Syukur Rahmatullah
Epistemé: Jurnal Pengembangan Ilmu Keislaman Vol 11 No 2 (2016)
Publisher : Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21274/epis.2016.11.2.289-310

Abstract

Tulisan ini berupaya menggali sisi-sisi positif dari tradisi Ahlen, sebuah tradisi kebudayaan berbasis Islam yang dikembangkan selama bertahun-tahun di Kecamatan Kalijambe, Sragen, Jawa Tengah. Acara tersebut dilaksanakan setiap tahun, yakni pada bulan Syawal. Tradisi ini berupaya mengembangkan kegiatan yang syarat dengan “nilai-nilai pendidikan tali asih,” yang antara lain: pertama, menghidupkan rumah keprabon untuk acara Ahlen. Kedua, pembacaan doa kepada leluhur dengan tahlil. Ketiga, mengenalkan anggota keluarga baru. Keempat, pembacaan ikrar janji untuk rukun tanpa permusuhan. Kelima, pembagian angpau. Keenam, bersalam-salaman antara sesama saudara. Kegiatan yang senantiasa diupayakan untuk menghidupkan pemaknaan (meaningful of action), artinya memaknai kegiatan Ahlen ini menjadi dasar yang tidak boleh ditinggalkan lantaran di sinilah pusat tarbiyah an-nafs. Secara tidak langsung tradisi Ahlen ini juga memberikan dampak positif untuk hati, mengajari untuk lebih menghargai leluhur, meninggalkan egoisitas diri, memaafkan kesalahan saudara, dan tulus untuk berjabat tangan dengan saudara. Budaya Ahlen ini mengarahkan dan merealisasikan kepada setiap pelakunya untuk menuju pada hati yang hidup bukan hati yang mati sebab untuk sampai pada tahapan manusia yang penuh manfaat, fondasi dasar yakni hati yang hidup sangat diperlukan.This paper sought to search the positive part from the tradition of Ahlen;one of tradition based on Islam. It developed for many years in districs of Kalijambe, Sragen, Central Java. That event held every years on Syawal month. This tradition sought to develop the event that have many “values ofaffection education”. Firstly, revive “kepabron’s home” to doing the Ahlen’s programme. Secondly, read of prayer to ancestor by tahlil. Thirdly, to acquaint all of the new comer in big family. Fourthly, read of pledge to make the unity without the hostility. Fifthly, give the angpau. Sixthly, shake hands to the others. This event sought to raise the meaningful of action, it means all people have to intepret this event. It is to make foundation and can’t leave it, cause here is the central of tarbiyah an-nafs (the education of soul). The traditionof Ahlen having good impact to the soul, because the tradition of Ahlen rich the education of soul and educate to appreciate ancestor, leave self ego, giving a forgive to another, and sincere shake hands to another. The tradition of Ahlen direct and realize to the people to go to life’s soul and it is not die’s soul, cause this step to be useful’s human kind need the life’s soul.
KURIKULUM PENDIDIKAN DASAR ISLAM ERA KLASIK: Komparasi Pemikiran Ibnu Suhnūn dan al-Qābisi S Syahrizal
Epistemé: Jurnal Pengembangan Ilmu Keislaman Vol 11 No 2 (2016)
Publisher : Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21274/epis.2016.11.2.435-463

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis perbedaan dan persamaan antara kurikulum pendidikan dasar Islam yang dipaparkan Ibnu Suhnūn dengan kurikulum pendidikan dasar Islam yang dikemukakan al-Qābisi dan menganalisis implementasi pemikiran keduanya dalam rangka pengembangan pendidikan dasar Islam dalam konteks keindonesiaan. Berdasarkan metode deskriptif, content analysis, analisis komparatif dan analisis sintesis maka hasil penelitian menunjukkan bahwa pemikiran Ibnu Suhnūn dan al-Qābisi tentang kurikulum pendidikan dasar Islam memiliki perbedaan dan persamaan. Perbedaannya mencakup aspek klasifīkasi isi kurikulum pendidikan dasar Islam dan rincian mata pelajaran al-Qur’an. Sedangkan persamaannya meliputi aspek pengertian, klasifīkasi, keseimbangan, kategori, tujuan dan corak kurikulum pendidikan dasar Islam. Kurikulum pendidikan dasar Islam versi Ibnu Suhnūn dan al-Qābisi memungkinkan untuk diimplementasikan dalam rangka pengembangan kurikulum pendidikan dasar Islam di Indonesia. Hal ini karena kurikulum pendidikan dasar Islam yang didesain oleh kedua tokoh pendidikan Islam klasik tersebut masih relevan hingga dewasa ini. Meskipun ada beberapa kekurangan lantaran faktor lini masa, kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi dan sebagainya, namun tetap bisa disempurnakan sesuai dengan tuntutan dan kemajuan zaman.This study aimed to analyzing the differences and the similarities between Islamic elementary school curriculum of Ibnu Suhnūn and al-Qābisi, and to analyze the implementation both of them in the Islamic elementary school of Indonesia. Based on descriptive, content, comparative, and synthesis analysis, the result of study showed that Ibnu Suhnūn and al-Qābisi’s thought on Islamic elementary school curriculum has the differences and the similarities.The differences include classifying contain of it and detailing Qur’anic subject aspect. While the similiarities include the defīning, classifying, balancing, categorizing, purposing and patterning of Islamic elementary school curriculum aspect. Ibnu Suhnūn and al-Qābisi’s thought was enabled to be implementated in order to develop the curriculum of Islamic elementary school in Indonesia. Because the concept of them are still relevant in contemporary era. Eventhough any weaknesses because some factors, such as different in term of time, the progress of sciences and technology, etc, but can be enhanced in accordance with the demands and the progress of time.
TUHAN DI ANTARA DESAKAN DAN KERUMUNAN: KOMODIFIKASI SPIRITUALITAS MAKKAH DI ERA KAPITALISASI Al Makin
Epistemé: Jurnal Pengembangan Ilmu Keislaman Vol 12 No 1 (2017)
Publisher : Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21274/epis.2017.12.1.1-28

Abstract

Artikel ini ditulis berdasarkan data etnografi berupa catatan, observasi, pengalaman langsung penulis dan beberapa wawancara ritual umrah di Makkah tang gal 12-20 Maret, 2016. Tulisan ini berusaha memotret kota Makkah modern dari relasi antara perkembangan kota ini dan bagaimana pelaksanaan ritual umrah meliputi: tawaf, sai, dan kehidupan para peziarah di sana ketika penulis melaksanakan ibadah itu. Lebih jelasnya, penulis coba menilik pencarian Tuhan di tengah kerumuman manusia dalam kehidupan modern-postmodern dalam kesibukan kota Makkah sebagai pusat ritual dan sakralitas Muslim. Proses komodifikasi ibadah dengan berbagai motif dan latar belakang bisnis dan kehidupan sosial dan ekonomi terlihat jelas dalam ibadah umrah. Pencarian Tuhan dalam ritual ini tidak pada kondisi kesepian dan menyendiri, tetapi pencarian di tengah kerumunan kapitalisasi dan komersialisasi tempat-tempat utama Makkah di sekitar area Haram. Ritual umrah dan komodifikasi ritual di tengah pasar global menunjukkan menyatunya Islam dengan kapitalisme.This article is written based on ethnographical notes, that is observation, and experience of  the writer during the performance of umrah (lesser pilgrimage) to Mecca March 12-20th, 2016. Firstly, this articles portrays the modern city of Mecca and its relation to the performance of umrah which includes tawaf (Ka’ba circumambulation), sai (running between Shofa and Marwa), and the way Muslims performed the rituals. This article describes the way Muslims sought for God amids crowded city with hundreds of people visiting the sacred sites of Kakbah, drinking water Zamzam, in the complex of Mosque Haram. The process of commodification of  the ritual of umrah amidts the booming business within the political, social, and economy contexts can be seen. In this regard, praying to God in the ritual is not necessarily in the quietness,but in the crowded process of capitalization and commercialization of places in the area of Haram of Mecaa. The umrah ritual and commodification of all related activities amid the global market demonstrates the unity of Islam and capitalism.
RESOLUSI KONFLIK DI ASIA TENGGARA: PENGALAMAN MUSLIM INDONESIA Badrus Sholeh
Epistemé: Jurnal Pengembangan Ilmu Keislaman Vol 12 No 1 (2017)
Publisher : Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21274/epis.2017.12.1.29-52

Abstract

Artikel ini akan mengkaji peran kepemimpinan Muslim Indonesia dalam mewakili pemerintah dan masyarakat sipil pada upaya perdamaian di Asia Tenggara. Ini dilakukan sejak masa Menlu Ali Alatas dalam memediasi konflik di Kamboja dan Filipina Selatan, hingga periode Menteri dan Wakil Presiden Jusuf Kalla, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Professor M. Din Syamsuddin yang memediasi Filipina Selatan dan Aceh. Muslim Indonesia juga turut memainkan peran aktif dalam memediasi konflik di Thailand Selatan dan Timur Tengah. Sebagai negara demokratis ketiga di dunia dan negara Muslim terbesar, Indonesia telah berubah menjadi negara dengan kekuatan menengah (Middle Power) dan melakukan peran utama dalam menciptakan wilayah Asia Tenggara yang stabil dan sejahtera. Artikel ini berargumen bahwa pengalaman ini bisa membawa Indonesia pada peran lebih besar di Timur Tengah dan Afrika. Tetapi peran ini terhambat akibat masih kurangnya kepercayaan negara-negara Arab yang masih memandang Indonesia sebagai negara pinggiran.This article examines the role of  Indonesian Muslim leaders representing state and civil society on conflict resolution in Southeast Asia from the period of Foreign Minister Ali Alatas on mediating conflict in Cambodia and Southern Philippines to the period of Minister and Vice President Jusuf Kalla, President Susilo Bambang Yudhoyono and Professor M. Din Syamsuddin who mediating conflict of Aceh and Southern Philippines. Indonesian Muslims also took active participation in mediating conflicts in Southern Thailand and conflicts in the Middle East. As the third largest democratic country and the largest Muslim country, Indonesia have transformed as middle power country and confidently taken a leading role in managing stable, peacefu and prosperous region of Southeast Asia. It argues the experience of Indonesia in regional mediation will lead Indonesia towards international conflict resolution in the Middle East and Africa. However, Arab countries still consider Indonesia as periphery of Islam and cultural gap which influence the trust from Arabcountries.
THE DEVELOPMENT OF FEMINIST EPISTEMOLOGY IN ISLAMIC STUDIES IN INDONESIAN UNIVERSITYA: Case Study of Akhwal Syaikhsiyah Study Program of Darussalam Islamic Institute, Ciamis West Java S Sumadi
Epistemé: Jurnal Pengembangan Ilmu Keislaman Vol 12 No 1 (2017)
Publisher : Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21274/epis.2017.12.1.231-259

Abstract

The main issue to be discussed in this study is the development of epistemology in feminist perspective in the academic context. Gender bias still dominates in Islamic study. Ahwal Syaikhsiyah study program or also known as Islamic Family law study program in Indonesia is closely related to internalization of gender equality values. The subjects in this study programare related to family and relations in the family according to Islamic Law. Therefore, the development of feminist epistemology in Ahwal Syaikhsiyah study program is inevitable in Indonesia. Some of the development is performed by Ahwal Syaikhsiyah study program of Darussalam Islamic Institute, Ciamis. The development of feminist epistemology starts from developing a curriculum designed with a feminist perspective, learning subjects with feminist perspective and implementation of research model with feminist perspective for lecturers and students. The result, students can respond to the development of feminist epistemology starting from a class lesson, critical analysis on issues based on misogynistic Islamic perspective which marginalizes, subordinates, and contains elements of violence against women. The analysis result of various problems of the relation between gender and Islam in the study of Ahwal Syaikhsiyah was studied in this research. The students who focused on the study of relation in the family used feminist perspective as an analysis tool in undergraduate theses. However, for lecturers, feminist perspective wasn’t used as perspective in research. The development of feminist epistemology can be a systematic way in creating a women-friendly academic atmosphere which supports gender equality and equity.Masalah pokok yang dibahas dalam kajian ini adalah pengembangan epistemologi berperspektif feminis dalam ranah akademis. Di Indonesia bias gender masih mendominasi kajian Islam. Program Studi Ahwal Syaikhsiyah atau yang disebut dengan Program Studi Hukum Keluarga Islam, di Indonesia termasuk yang memiliki keeratan dengan internalisasi nila-nilai kesetaraan gender. Sebab pada program studi ini mata kuliahnya terkait relasi-relasi dalam keluarga menurut hukum Islam. Oleh karena itu pengembangan epistemologi feminis pada program studi Ahwal Syaikhsiyah menjadi keniscayaan di Institut Agama Islam Darussalam Ciamis. Pengembangan epistemologi feminis diawali dari pengembangan kurikulum yang dirancang dengan perspektif feminis, pembelajaran matakuliah dengan perspektif feminis, dan penerapan model penelitian dengan perspektif feminis bagi dosen dan mahasiswa. Hasilnya, untuk para mahasiswa dapat merespon pengembangan epistemologi feminis dari mulai pembelajaran di kelas, analisis kritis pada masalah-masalah yang didasari oleh perspektif Islam yang misoginis, memarjinalkan, mensubordinasi, dan mengandung unsur kekerasan terhadap perempuan. Hasil analisis terhadap berbagai masalah relasi gender dan Islam dalam kajian Ahwal Syaikhsiyah dijadikan sebagai masalah yang dikaji dalam bentuk penelitian. Para mahasiswa yang memfokuskan pada kajian relasi dalam keluarga menjadikan perspektif feminis sebagai alat analisis dalam penelitian-penelitian dalam bentuk skripsi. Akan tetapi untuk para dosen, perspektif feminis cenderung belum menjadi perspektif dalam penelitian. Pengembangan epistemologi feminis dapat menjadi jalan secara sistematis dalam mewujudkan atmosfir akademik yang ramah perempuan dengan menjunjung kesetaraan dan keadilan gender.
HAMZAH FANSURI: PELOPOR TASAWUF WUJUDIYAH DAN PENGARUHNYA HINGGA KINI DI NUSANTARA Syamsun Ni’am
Epistemé: Jurnal Pengembangan Ilmu Keislaman Vol 12 No 1 (2017)
Publisher : Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21274/epis.2017.12.1.261-286

Abstract

Artikel ini ingin melacak aspek historisitas dan kontinuitas tasawuf yang tumbuh dan berkembang di Nusantara. Hamzah Fansuri adalah sufi pertama yang mengajarkan tasawuf berpaham wujudiyah (panteisme) di Nusantara. Tasawuf paham wujudiyah diperoleh Hamzah Fansuri dari Ibnu ‘Arabi, Abu Yazid al-Bisthami, al-Hallaj, al-Rumi, al-Attar, al-Jami, dan lain-lain. Karya Hamzah Fansuri yang dianggap monumental yang hingga kini memiliki pengaruh besar di Nusantara adalah Asrar al-‘Arifin, al-Muntahi, dan Syarab al-‘Asyiqin. Tidak sedikit kajian yang muncul tentang tasawuf Hamzah Fansuri ini baik dari pengkaji Barat maupun Timur. Pengaruhnya pun tidak hanya di wilayah Jawa, namun juga hingga ke Negeri Perak, Perlis, Kelantan, Terengganu, dan lain-lain. Adapun struktur artikel ini terdiri dari pendahuluan, biografi singkat Hamzah Fansuri berikut karya-karyanya, ajaran tasawuf wujudiyah-nya, pengaruhnya di Nusantara dan dunia, dan Kontribusi Hamzah Fansuri terhadap perkembangan studi Islam di Nusantara. Akhirnya ditemukan bahwa tasawuf wujudiyah Hamzah Fansuri telah memberikan pengaruh luas, tidak hanya dalam lanskap kajian tasawuf, namun juga pada kajian Islam pada umumnya. Pengaruh kuat dalam kajian tasawuf setelahnya adalah munculnya dua kelompok yang berbeda. Satu kelompok mengapresiasi dan mengembangkan ajarannya hingga kini, dan kelompok lainnya justru menentang dan menganggapnya sebagai ajaran tasawuf sesat (heterodoks).This article is trying to trace the aspect of tasawuf historicity and continuity that has grown and developed in Nusantara. Hamzah Fansuri is the first Sufi who teaches tasawuf referred to wujudiyah (panteism) in Nusantara. Tasawuf wujudiyah was gained by Hamzah Fansuri from Ibn ‘Arabi, Abu Yazid al-Bisthami, al-Hallaj, al-Rumi, al-Attar, al-Jami, and others. The monumental Hamzah Fansuri works that have a big influence in Nusantara are Asrar al-’Arifin, al-Muntahi, and Syarah al-’Asyiqin. There are some studies that discuss about his tasawuf, either from Western or Eastern scholars. His influence is not only in Java, but also in Perak, Perlis, Kelantan, Terengganu, and others. The structure of this article consists of an introduction, a brief biography of Hamzah Fansuri and his works, the teachings of his tasawuf wujudiyah, the contribution of Hamzah Fansuri for Islamic studies development in Nusantara, and his influence in Nusantara and the world. It is found that his tasawuf wujudiyah has given wide spread influence, not only in the tasawuf field, but also on Islamic studies in general. The strong influence in the study of tasawuf there after is the emergence of two distinct groups. One group appreciates and develops his teachings up to now, and the other opposes and regards his tasawuf as the doctrine of heretical heresy.
REPOSISI KONSEP KETUHANAN: TANGGAPAN MUHAMMAD IQBAL DAN SAID NURSI ATAS PERJUMPAAN ISLAM DAN SAINS M Maftukhin
Epistemé: Jurnal Pengembangan Ilmu Keislaman Vol 12 No 1 (2017)
Publisher : Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21274/epis.2017.12.1.77-102

Abstract

Artikel ini menghadirkan dua cara pandang berbeda antara Muhammad Iqbal dan Said Nursi dalam upaya reposisi konsep ketuhanan saat Islam bertemu sains. Artikel ini memperlihatkan bagaimana Iqbal menerima sains dengan melakukan penyesuaian ajaran Islam agar sejalan dengan epistemologi sains dan rasionalisme dengan tetap merujuk pada al-Qur’an. Konsep ketuhanan teis yang dirasa tidak sesuai dengan rasionalisme dan perkembangan sains, mendapat sentuhan Iqbal dengan dikonstruksi menjadi konsep panentheisme. Sementara itu, Said Nursi, meskipun ia juga mendorong adopsi sains, namun Nursi hampir tidak melakukan penyesuaian apa pun dalam konsep ketuhanan Islam. Sebagai pewaris pemikiran al-Asy’ariyyah, justru Nursi memilah sains dalam dua kategori, yaitu sains yang memuat nilai positif dan sains yang memuat aspek negatif. Selanjutnya Nursi hanya mengambil aspek positif dan meninggalkan aspek negatifnya. Dengan menggunakan teori Ian Barbour, artikel ini memasukkan pendekatan Iqbal dalam kategori integrasi epistemologis, sedangkan pendekatan Said Nursi masuk dalam kategori integrasi ontologis.This article seeks to presents a distinct view of two Muslim thinkers on repositioning concept of God in the face of adoption to science. That is of Muhammad Iqbal’s and of Said Nursi’s. It shows that Iqbal used methods of reconstruction on Islamic theology in order for which go in line with scientific epistemology despite it remains strongly based on the Qur’an. Iqbal is of the view that theistic God of Islam appears to come in contrast to the rationalism and modern scientific approaches. For that reason, Iqbal changed this theistic God to be a panentheistic God of modern sciences. On the other side, Said Nursi urges Muslim community to adopt science as well, but—in contrast to Iqbal—he did almost nothing in reconstructing Islamic theology. As in heritor of the doctrines of Ash’arite, instead he classified modern science into two camps, that of the positive in term of Islamic interests and that of the negative. He adopts the positive one while keeping at bay the rest. Departing from Ian Barbour’s theory, this article categorizes Iqbal’s and Nursi’s adoption to science as integration. This article proposes that the method of Iqbal’s integration during his reconstruction on Islamic theology is an epistemological integration, meanwhile Nursi’s approach is ontological integration.

Page 9 of 21 | Total Record : 202