cover
Contact Name
Harriyadi
Contact Email
amerta@brin.go.id
Phone
+6281225308529
Journal Mail Official
amerta@brin.go.id
Editorial Address
Direktorat RMPI - BRIN, Gedung BJ Habibie, Jl. M.H. Thamrin No.8, RW.1, Kb. Sirih, Kec. Menteng, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10340, Jakarta Pusat, Provinsi DKI Jakarta
Location
Kota tangerang selatan,
Banten
INDONESIA
Amerta
Published by BRIN Publishing
ISSN : 02151324     EISSN : 25498908     DOI : https://doi.org/10.55981/amt
Starting at Volume 40 Number 2 December 2022, AMERTA’s objective is to promote the wide dissemination of the results of systematic scholarly inquiries into the broad field of archaeological research in proto-history and history chronology themes in the Indonesian Archipelago. The primary, but not exclusive, audiences are researchers, academicians, graduate students, practitioners, and others interested in archaeological research. AMERTA accepts original articles on historical archaeology-related subjects and any research methodology that meets the standards established for publication in the journal. Papers published in the journal may cover a wide range of topics in historical archaeology, including, but not limited to: 1. Field of archaeological findings in Indonesia’s Proto History, Hindu-Buddhist, Islam, and Colonial periods; 2. New theoretical and methodological analyses; 3. Synthetic overviews of topics in the field of historical archaeology.
Articles 727 Documents
KEHIDUPAN MANUSIA MODERN AWAL DI INDONESIA: SEBUAH SINTESA AWAL Truman Simanjuntak
AMERTA Vol. 29 No. 2 (2011)
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Rentang waktu Plestosen Akhir atau paruh kedua Plestosen Atas pada umumnya merupakan periode yang mengait dengan kemunculan dan perkembangan Manusia Modern Awal (MMA) di Indonesia. Bukti-bukti arkeologi sedikit banyaknya telah meyakinkan keberadaannya, berikut rekaman perilakunya yang khas, dalam periode tersebut. Terlepas dari pertanggalan kolonisasi awal yang belum diketahui pasti dari manusia modern awal ini, pertanggalan radiometri yang tersedia menampakkan bahwa mereka telahmenghuni Indonesia, dan Asia Tenggara pada umumnya, paling tidak sejak sekitar 45 ribu tahun lalu hingga akhir kala Plestosen. Beberapa fenomena perilaku yang paling menonjol, yang membedakannya dari perilaku manusia purba yang mendiami Indonesia sejak jutaan tahun sebelumnya, adalah: (1) ekploitasi geografi yang semakin luas di kepulauan; (2) perubahan lokasi hunian dari bentang alam terbuka ke relung-relung alam seperti gua dan ceruk; (3) pengembangan teknologi litik yang menghasilkan alat-alat serpih menggantikan alatalat yang tergolong kelompok kapak perimbas/penetak; dan (4) sistem mata pencaharian yang lebih maju dan beragam dengan eksploitasi lingkungan (flora dan fauna) yang lebih bervariasi. Keseluruhan fenomena perilaku tersebut akan menjadi pokok bahasan tulisan ini. Kata kunci: Manusia Modern Awal (MMA), fenomena perilaku, Plestosen Akhir Abstract. The Life of Early Modern Human in Indonesia: A Preliminary Synthesis. The Late Pleistocene period or, in broader sense, the second half of the Upper Pleistocene, was in general related to the emergence and development of Early Modern Human (EMH) in Indonesia. Archaeological evidences have more or less confirmed their existence - with records of their unique behavior - within the period. In spite of the still obscure date of their initial occupation, the available radiometry dating reveals that this early Homo sapiens had inhabited Indonesia, and Southeast Asia in general, at least since ca. 45 kya up to the end of the Ice Age. Some of the most prominent behavior phenomena, which distinct modern human to early men's behavior who inhabited Indonesia since millions of years previously, are: (I) exploitation of wider geographical area within the archipelago; (2) change of activity orientation from open-air areas to natural niches, such as caves and rock shelters; (3) development of lithic technology that produced flake tools, replacing the chopper/chopping tool groups; and (4) more advanced and diverse systems of subsistence with more varied animals to hunt. The entire phenomena of behavior are the mainfocus of this paper. Keywords: Early Modern Human (EMH), behavior phenomena, Late Pleistocene
THE ROLE OF BHIMA AT CANDI SUKUH (As represented by a number of reliefs¹) Hariani Santiko
AMERTA Vol. 29 No. 2 (2011)
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Peranan Bhima di Candi Sukuh. Tokoh Bhima digambarkan dalam sejumlah relief di Kompleks Percandian Sukuh. Tokoh ini dijumpai pada episode-episode ceritera Bhimaswarga yang dipahatkan pada dinding Candi Kyai Sukuh, yaitu sebuah kuil kecil di muka kuil utama Candi Sukuh. Fragmen dari cerita yang sama juga ditemukan di gerbang Kala-mrga. Selain itu, ditemukan pula fragmen ceritera Sudamala yang menggambarkan Bhima menyerang tokoh iblis di sebuah papan batu, sedangkan sejumlah relief Bhima lainnya yang belum dikenali asal ceriteranya ditemukan tersebar di halaman Kompleks Percandian Sukuh. Berdasarkan studi banding antara data artefaktual dan data tekstual penulis meyakini bahwa tokoh Bhima dipuja sebagai perantara antara Dewa Siwa dan orang-orang yang ingin mencapai pelepasan akhir (moksa). Peranan Bhima sebagai penyelamat manusia dapat dijumpai pada ceritera Bhimaswarga. Pada relief yang mengambarkan episode terakhir Bhimaswarga, tokoh Bhima digambarkan sedang diberi sebotol amrta oleh Siwa. Kata kunci: Werkodara, Amrta, Kalamrga, Kebenaran Sejati, Sang Hyang Tunggal Abstract: Bhimafigureis represented in a number of reliefs at the complex of Candi Sukuh. It isfound I the Bhimaswarga episodes depicted on the wall of Kyai Sukuh temple, a small temple in front of the ma temple of Sukuh. A fragment of the same story is also depicted in a Kala-mrga arch. A fragment of the Sudamala illustrating Bhima s attacks on a demon, is depicted on a slab of stone, and another unidentifi reliefs of Bhima scattered in the courtyard of Sukuh. From the comparative study of the artefactual data with the textual data, I presume that Bhima was worshipped as a mediator between god Siwa and men who wanted to get theirfinalrelease (moksa). Bhima s role as the saviour of men is found in the story ofBhimaswarga. In thefinalepisode of Bhimaswarga-reliefs, Bhima is given a bottle of amrta by Siwa. Keywords: Werkodara, Amrta, Kalamrga, Ultimate Truth, Sang Hyang Tun
LINGKUNGAN GEOLOGI SITUS HUNIAN GUA GEDE DI PULAU NUSA PENIDA, KABUPATEN KLUNGKUNG PROVINSI BALI Dariusman Abdillah
AMERTA Vol. 29 No. 2 (2011)
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Gua Gede adalah salah satu gua karst di lereng perbukitan Banjar Pendem, Nusa Penida dengan lingkungan yang memungkinkan sebagai tempat hunian. Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Balai Arkeologi Denpasar di gua ini ditemukan sisa-sisa pemukiman dari masa prasejarah berupa alat-alat dari tulang, alat batu, tembikar, dan sisa-sisa makanan dari moluska. Manusia dapat bertahan hidup di lingkungan karst pada masa prasejarah di daerah ini, didukung oleh kondisi gua yang memenuhi syarat sebagai tempat hunian dengan ketersediaan sumberdaya alam. Kedua faktor ini terpenuhi di Gua Gede sehingga menjadikannya sebagai tempat hunian di zaman prasejarah. Seperti apa kondisi Gua Gede dan sumberdaya lingkungan apa saja yang mendukung kehidupan manusia prasejarah didalamnya, menjadi pokok bahasan dalam tulisan ini Kata Kunci: Gua Gede, lingkungan, karst, hunian, sumberdaya Abstract The Geological Environment Of The Habitation Site Of Gede Cave In Nusa Penida Island, Klungkung Regency, Bali Province. Gede Cave is one of the karst caves in the slopes of the hills of Banjar Pendem, Nusa Penida, Bali, with an environment that is suitable for a shelter. From results of research conducted by the Archaeological Research Office of Denpasar (Balai Arkeologi Denpasar), we learn that in the cave were discovered remains ofprehistoric settlements in forms of bone tools, stone tools, pottery, debris from mollusks (probably remains of food). Humans can survive in karst environment in this area during the prehistoric period because such area is supported by caves that are suitable for shelter, as well as the availability of natural resources. Both factors can befound at Gede Cave. Therefore it was used as a shelter in prehistoric period. What was the condition of Gede Cave and what were the environmental resources that support the life of prehistoric human community are the subject of this paper. Keywords: Gede Cave, environment, karst, shelter, resources.
PERIODESASI CANDI SIMANGAMBAT: Tinjauan Terhadap Beberapa temuan ragam hias Candi Sukawati Susetyo
AMERTA Vol. 29 No. 2 (2011)
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Candi Simangambat merupakan suatu candi yang terletak di bagian Selatan Provinsi Sumatera Utara yang kondisinya sudah runtuh. Beberapa artefak yang ditemukan baik dari hasil penggalian maupun yang sudah berada di permukaan tanah yaitu batu-batu berbentuk kala; makara; batu berelief guirlande, gapa, pilar dan motif kertas tempel; menunjukkan kemiripan dengan artefak dari candi-candi zaman Mataram Kuna. Berdasarkan hal itu maka diduga bahwa Candi Simangambat dibangun sezaman dengan candi-candi dari jaman Mataram Kuna. Kata kunci: Periodisasi Candi Simangambat, Ragam Hias Candi Abstract. Periodization of Simangambat Temple: A Review on Some Temple Ornaments. Simangambat Temple is the ruin of a temple which is located in the southern part of North Sumatra Province. Some artefacts found during ground surveys and excavations vary from kala-shaped stones, makara, guirlande reliefs, garia, pillars, and 'kertas tempel' motifs. These findings show similarities to the artefacts found in the temples from Old Mataram era; hence it can be concluded that Simangambat Temple might have been built in the same period as the temples of Old Mataram era. Keywords: Periodization of Simangambat Temple, temple ornamental
KONSEP OPEN AIR MUSEUM: Alternatif Model Pelestarian Situs Arkeologi di Indonesia Atina Winaya
AMERTA Vol. 29 No. 2 (2011)
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Open air museum adalah jenis museum yang memamerkan koleksinya di ruang terbuka. Dalam perkembangannya, open air museum tidak hanya memamerkan koleksinya secara outdoor, melainkan merupakan salah satu media dalam upaya pelestarian situs arkeologi. Konsep tersebut sudah banyak dikembangkan di negara-negara maju. Melalui konsep open air museum, suatu situs arkeologi berubah menjadi hidup kembali. Lansekap dan bangunan Cagar Budaya direkonstruksi sesuai dengan kondisinya di masa lalu. Selain tinggalan budaya tangible, tinggalan budaya intangible juga direkonstruksi kembali. Dengan demikian, masyarakat masa kini dapat memperoleh pengetahuan dan pengalaman mengenai suasana situs beserta kehidupannya di masa lampau. Konsep open air museum masih dapat dikatakan asing di Indonesia. Padahal jika dikaji lebih lanjut, konsep tersebut dapat dijadikan salah satu solusi dalam upaya pelestarian dan pemanfaatan situs secara optimal. Potensi-potensi yang terkandung di dalam situs, baik fisik maupun nilai, digali dan dikembangkan semaksimal mungkin, sehingga dapat memberikan manfaat bagi masyarakat. Dengan demikian, makna yang terkandung di dalam situs dapat dipahami oleh masyarakat masa kini dan masa yang akan datang sehingga menumbuhkan kesadaran akan identitas dan jati diri bangsa, serta meningkatkan rasa cinta tanah air. Kata Kunci: open air museum, pelestarian situs, situs arkeologi. Abstract. Open air museum is a kind of museum that exhibits its collections in an open space. In its development, it not only displays the collections outdoor, but also an attempt to preserve archaeological sites. The concept is already developed in advanced countries. Through this concept, an archaeological site was transformed into "life " again. Landscape and heritage buildings were reconstructed in accordance with the conditions in thepast. Beside the tangible remains, the intangible remains were also reconstructed. Recently, people can obtain knowledge and experience about the atmosphere of the past. In Indonesia, the concept is rather new. The concept can be used as one of the solutions in order to optimally preserve archaeological sites. Significant values, both physical and non-physical, are well-developed to benefit the community. Thus, the meaning of the archaeological sites can be understood by today andfuture society, so it would grow the awareness of national identity and increase the patriotism. Keywords: open air museum, preservation of sites, archaeological sites.
Appendix Amerta Volume 29, No 2, Tahun 2011 Atina Winaya
AMERTA Vol. 29 No. 2 (2011)
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cover Amerta Volume 29, No 1, Tahun 2011 Redaksi Arkenas
AMERTA Vol. 29 No. 1 (2011)
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PRASASTI BATUTULIS BOGOR¹ Hasan Djafar
AMERTA Vol. 29 No. 1 (2011)
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abtrak. Makalah ini mengemukakakn hasil pembacaan dan translitrasi prasasti Batutulis, yang merupakan salah satu peninggalan yang amat penting dari masa Kerajaan Sunda ketika beribukota di Pakuan-Pajajaran. Hasil pembacaan transliterasi yang ada masih belum memuaskan, beberapa bagian prasasti ini masih belum terbaca dengan jelas sehingga dapat menimbulkan berbagai penafsiran yang berbeda dan dapat menyebabkan ketidakpastian dalam uraian kesejarahanya.keadaan yang demikian ini terutama disebabkan karena beberapa permasalahan paleografi. Dalam makalah ini dikemukakan trasliterasi hasil pembacaan baru terhadap prasasti Batutulis dengan memperhatikan berbagai permasalahan, terutama bentuk paleografinya. Hasil pembacaan baru ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang sebenarnya seperti yang tertulis dan tersirat pada prasasti Batutulis. Kata kunci: Batutulis, Pakuan Pajajaran, prasasti, transkripsi Abstract. The Inscription of Batutulis, Bogor. This article present result of reading and transliteration of the Batutulis inscription, which is a very important remain form the Kingdom of Sunda at the period when is capital was in Pakuan-Padjajaran. The existing result of readings and transliterations are still unsatisfactory. Some parts of the inscriptionhave not able to be read clearly so that there are various different interpretations. It can cause uncertainty in its historical explanation. Such condition is mainly due to some paleographical problems. In this article will be presented the transliteration of new reading on the Batutulis inscription, including the various problems regarding it, particularly the paleographic forms. It is hoped that this new reading will give a more actual depiction like what were written on the inscription and that were meant by the figure who issued it. Keywords: Batutulis, Bogor, Pakuan Padjajaran, inscription,transcription.
PROSPEK PENELITIAN ARKEOLOGI INDUSTRI DI INDONESIA: Sebuah Pemikiran Awal Libra Hari Inagurasi
AMERTA Vol. 29 No. 1 (2011)
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Tulisan ini merupakan pemikiran awal bertujuan untuk memperkenalkan kajian arkeologi industri (industrial archaeology) di Indonesia. Pertimbangannya ialah arkeologi industri telah lama di kenal di Eropa khususnya di Inggris tetapi di Indonesia merupakan sebuah hal yang baru. Indonesia memiliki peninggalan industri, namun selama ini penelitian arkeologi yang menaruh perhatian pada arkeologi industri belum dilakukan secara optimal. Industri-industri tua tersebut saat ini banyak yang telah punah tenggelam oleh kemajuan zaman, namun masih ada yang bertahan. Peninggalan material industri yang berasal zaman kolonisasi oleh Belanda menjadi bukti-bukti arkeologis tentang aktivitas industri pada masa lampau. Pokok-pokok pemikiran yang tertuang di dalam tulian ini meliputi pengertian arkeologi industri dan sejarah perkembangannya di Eropa, latar belakang pertumbuhan industri di Indonesia, ranah arkeologi industri di Indonesia, prospek penelitian dan pengembangan arkeologi industri di Indonesia. Diharapkan pemikiran yang tertuang dalam tulisan tersebut menjadi langkah awal untuk memajukan arkeologi industri di Indonesia. Kata Kunci: arkeologi industry, prospek di Indonesia Abstract. The Prospect of Industrial Archaeology Reserch: a Preliminary Notion. This article is a preliminary notion, which objection is to introduce industrial archaeology in Indonesia. The reasoning is that industrial archaeology has long been known in Europe, UK in particular, but in Indonesia it is a new subject. Although Indonesia has quite many old industrial remains, thus far archaeological investigations with industrial archaeology as the main focus have not been optimally performed. Many of the old industries have now perished due to modernization. However, there are still some that survive. Remains of industrial activities from the Dutch colonial period are the archaeological evidences about the industrial activities in the olden days. The main considerations in this article include the definition of industrial archaeology and its development history in Indonesia, the domain of industrial archaeology in Indonesia, the prospect of research and development of indus- trial archaeology in Indonesia. It is hoped that the notions in this article can be the initial step to develop industrial archaeology in Indonesia. Keywords: industrial archaeology, prospect in Indonesia
EKSPLORASI GEOARKEOLOGI GUA-GUA KARST AMAHAI, KABUPATEN MALUKU TENGAH, PROVINSI MALUKU Muhammad Fadhlan Syuaib Intan
AMERTA Vol. 29 No. 1 (2011)
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Penelitian di wilayah Amahai bertujuan untuk mengeksplorasi gua-gua hunian prasejarah, serta menindaklanjuti hasil penelitian Balai Arkeogi Ambon di Gua Tanah Merah yang termasuk wilayah administratif Desa Tamilaow, Kecamatan Amahai, Kabupaten Maluku Tengah (Pulau Seram), Provinsi Maluku. Eksplorasi ini dilaksanakan di Bukit Paliya, sebuah perbukitan batugamping yang memanjang sejajar mengikuti bentuk Pulau Seram. Bentang alamnya terdiri dari satuan morfologi dataran, satuan morfologi bergelombang lemah, dan satuan morfologi karst. Sungai yang mengalir berstadia Sungai Dewasa-Tua (old-mature river stadium), dan kenampakan pola pengeringan dendritik, dan termasuk pada Sungai Periodik/Permanen. Berdasarkan hasil analisis petrologi, maka batuan penyusun wilayah Amahai adalah batugamping, batugamping terumbu, sekis, batusabak, dan aluvial. Eksplorasi gua-gua karst di wilayah Amahai menghasilkan sepuluh buah gua, dengan Gua Tanah Merah sebagai lokasi ekskavasi dengan membuka tiga buak kotak tespit. Pada umumnya gua- gua yang ditemukan di wilayah ini merupakan gua lorong (berbentuk luweng) dan aliran sungai bawah tanah dengan luas ruang gua yang cukup memadai, dengan faktor kelembaban serta pH yang cukup baik, namun tidak ada tanda-tanda bekas hunian manusia. Dua di antaranya (Gua Akohi dan Gua Batu Meja) merupakan gua dengan ornamen yang sangat indah serta sangat prospek untuk pengembangan pariwisata di wilayah ini. Kata Kunci: Lingkungan, Gua karst, Sumberdaya arkeologi Abstract: Geoarchaeological Exploration of Amahai Karst Caves, Central Molucca Regency, Molucca Province. The purpose of exploration in Amahai area is to reveal possible caves prehistoric habitation, as well as to follow up the result of research carried out by the Archaeological Research Office of Ambon at Tanah Merah Cave. Administratively the Tanah Merah Cave is a part of Tamilaow Village, Amahai District, Central Maluku Regency (Seram Island), in the Province of Maluku. The exploration is conducted at Paliya Hill, a limestone hilly area that form elongated along the the Seram Island. The landscape consists of the following morphological units: lowland, weak wavy land, and karts. The rivers that flow in that area show old-mature river stadium, dendritic drying pattern, and periodic/permanent rivers. Based on petrological analysis, the rock found in Amahai are limestone (reef limestone), schist, slate, and alluvial. The exploration of karst caves in Amahai area reveals the occurrence of ten caves. Excavation was carried out at Tanah Merah Cave, opened three test pits. The caves in this area are generally in form of corridors with underground rivers and quite extensive space, as well as quite good humidity and pH. However, there are no trace of human habitations. Two of the caves, Akohi and Batu Meja, have very beautiful ornaments, are might have to be developed into tourism objects. Keywords: Environment, Karst Caves, Archaeological Resource