cover
Contact Name
Sudadi
Contact Email
dsudadi@ugm.ac.id
Phone
+62811254834
Journal Mail Official
jka.jogja@gmail.com
Editorial Address
Departemen Anestesiologi dan Terapi Intensif, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada Jl. Farmako Sekip Utara, Yogyakarta 55281
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Komplikasi Anestesi
ISSN : 23546514     EISSN : 26155818     DOI : https://doi.org/10.22146/jka.v11i2.12773
Core Subject : Health,
JURNAL KOMPLIKASI ANESTESI (e-ISSN 2354-6514) is a scientific and original journal which published as a forum for various scientific articles including research, literature reviews, case reports and recent book reviews. The presence of this journal, it is hoped that it can provide input of knowledge and knowledge in the field of Anesthesiology and Intensive Therapy for medical personnel.
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 3 No 2 (2016): Volume 3 Number 2 (2016)" : 10 Documents clear
Manajemen Transfusi Masif pada Pediatrik Widyastuti, Yunita; Sari, Djayanti; Febrianti, Skolastika Rani
Jurnal Komplikasi Anestesi Vol 3 No 2 (2016): Volume 3 Number 2 (2016)
Publisher : This journal is published by the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy of Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, in collaboration with the Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Therapy , Yogyakarta Special Region Br

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jka.v3i2.7234

Abstract

Perdarahan yang tidak terkontrol dan membutuhkan transfusi masif sering terjadi pada operasi mayor dan trauma yang menjadi salah satu penyebab kematian. Jumlah anak-anak yang memerlukan dukungan transfusi darah selama proses pembedahan tidaklah sedikit. Kurangnya informasi mengenai gangguan koagulasi pada kelompok umur pediatrik membuat problem tersendiri. Perlunya kebijakan terhadap pemberian transfusi darah adalah karena banyaknya resiko komplikasi yang ditimbulkan transfusi. Seorang ahli anestesi harus dapat mempertimbangkan resiko dan keuntungan pemberian transfusi.
Perbandingan Efikasi Analgesi antara Penambahan Klonidin Konsentrasi Akhir 1,875 mcg/ml dengan Penambahan Fentanil Konsentrasi Akhir 1,25 mcg/ml pada Bupivakain 0,125% Isobarik untuk Analgesi Epidural Infus Kontinu Pascaoperasi Laparotomi Ginekologi Onkol Nur, Rifdhani Fakhrudin; Artika, I Gusti Ngurah Rai; Sudadi
Jurnal Komplikasi Anestesi Vol 3 No 2 (2016): Volume 3 Number 2 (2016)
Publisher : This journal is published by the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy of Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, in collaboration with the Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Therapy , Yogyakarta Special Region Br

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jka.v3i2.7236

Abstract

Latar belakang : Belum pernah dilakukan penelitian tentang perbandingan efi kasi analgesi penambahan klonidin dibandingkan fentanil pada obat anestesi lokal untuk analgesi epidural infus kontinu pada pasien pascaoperasi laparotomi ginekologi onkologi.Tujuan : Penelitian ini bertujuan membandingkan efi kasi analgesi antara penambahan klonidin dengan fentanil pada bupivakain 0,125% isobarik untuk analgesi epidural infus kontinu pascaoperasi laparotomi ginekologi onkologiMetode : Penelitian single blind randomized controlled trial ini melibatkan 60 pasien yang menjalani operasi laparotomi ginekologi onkologi dengan anestesi epidural dan analgesi epidural infus kontinu. Sampel dibagi melalui randomisasi menjadi 2 kelompok BF dan BK, masing-masing 30 pasien. Injeksi analgesi epidural pada kelompok BF adalah injeksi bolus 10 ml bupivakain 0,125%+fentanil 50 mcg dilanjutkan infus epidural kontinu bupivakain 0,125%+fentanil 1,25 mcg/ml. Kelompok BK mendapatkan injeksi bolus 10 ml bupivakain 0,125%+klonidin 75 mcg, dilanjutkan infus epidural kontinu bupivakain 0,125%+klonidin1 mcg/ml.Hasil : Nilai VAS saat istirahat dan saat gerakan ringan lebih rendah secara bermakna pada kelompok BK dibandingkan kelompok BF pada menit ke-15, jam ke-6 dan jam ke-12 pascaoperasi dengan nilai p<0,05. Perbedaan nilai VAS saat istirahat dan saat gerakan ringan antara dua kelompok kurang dari 0,9 cm pada semua periode penilaian. Frekuensi tambahan fentanil sebagai rescue analgetik lebih banyak secara bermakna pada kelompok BF (26,7%) daripada kelompok BK (3,3%). Kejadian hipotensi, bradikardi mual muntah dan pruritus tidak berbeda diantara dua kelompok.Kesimpulan : Penambahan klonidin menghasilkan efikasi analgesi lebih baik secara statistik namun tidak menghasilkan efikasi analgesi lebih baik secara klinis daripada penambahan fentanil pada bupivakain 0,125% isobarik untuk analgesi epidural infus kontinu pascaoperasi laparotomi ginekologi onkologi.
Perbandingan Lama Blok Sensorik dan Motorik pada Anestesi Spinal dengan Bupivacaine 0,5% Hiperbarik 7,5 mg Ditambah Fentanyl 25 μg dan Sufentanil 2,5 μg pada Operasi Transurethral Resection Anwar, Yusuf ‘Alim Musthofa; Pratomo, Bhirowo Yudo; Sari, Djayanti
Jurnal Komplikasi Anestesi Vol 3 No 2 (2016): Volume 3 Number 2 (2016)
Publisher : This journal is published by the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy of Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, in collaboration with the Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Therapy , Yogyakarta Special Region Br

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jka.v3i2.7237

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan lama blok sensorik dan motorik pada anestesi spinal dengan bupivacaine 0,5% hiperbarik 7,5 mg ditambah fentanyl 25 μg dan sufentanil 2,5 μg pada operasi reseksi transuretra.Penelitian dengan menggunakan metode uji acak buta ganda terkontrol pada pasien yang menjalani operasi TUR elektif di GBST RSUP Dr. Sardjito, IBS RSST Klaten, dan IBS RSKB Diponegoro Klaten. Subjek berjumlah 70 pasien yang dibagi dalam dua kelompok perlakuan, masing-masing 35 pasien. Kelompok BF adalah yang mendapatkan bupivacaine 0,5% hiperbarik 7,5 mg ditambah fentanyl 25 μg sedangkan kelompok BS adalah yang mendapatkan bupivacaine 0,5% hiperbarik 7,5 mg ditambah sufentanil 2,5 μg.Dilakukan pengamatan onset, tingkat, dan lama blok sensorik dengan metode pinprick test serta tingkat dan lama blok motorik dengan bromage score.Kelompok BF memiliki lama blok sensorik 95,06 ± 35,13 dan kelompok BS 116,86 ± 31,27 menit. Kelompok BS memiliki lama blok sensorik yang lebih panjang dibanding kelompok BF yang bermakna secara statistik dengan p < 0,05. Lama blok motorik pada kelompok BF 112,43 ± 30,42 menit dan kelompok BS 108,71 ± 36,53 menit. Keduanya tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna dengan p > 0,05.Kelompok BS memiliki lama blok sensorik yang lebih panjang dibandingkan kelompok BF dengan tanpa perbedaan blok motorik di antara dua kelompok.
Kadar Albumin Darah sebagai Prediktor Risiko Kematian di ICU RSUP Dr Sardjito Tahun 2014 Perbatasari, Inggita Dyah; Suryono, Bambang; Uyun, Yusmein
Jurnal Komplikasi Anestesi Vol 3 No 2 (2016): Volume 3 Number 2 (2016)
Publisher : This journal is published by the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy of Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, in collaboration with the Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Therapy , Yogyakarta Special Region Br

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jka.v3i2.7238

Abstract

Latar Belakang: hipoalbuminemia sangat berhubungan dengan mortalitas. Hipoalbuminemia dapat disebabkan karena kondisi yang bervariasi dan sebagian besar kasus terjadi pada pasien yang dirawat di rumah sakit baik karena penyakit akut maupun kronis. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menilai pengaruh kadar albumin darah terhadap mortalitas pasien di ICU RSUP Dr. Sardjito.Metode : sebanyak 420 pasien dewasa yang dirawat di ICU RSUP Dr Sardjito dan memenuhi kriteria inklusi dari Januari sampai Desember 2014 dilibatkan dalam penelitian retrospektif ini. Seluruh pasien dianalisis resiko kematiannya berdasarkan pemeriksaan albumin dan pemeriksaan penunjang yang lain dengan ujibivariat dan multivariat.Hasil: mortalitas di ICU adalah sebesar 26,2%. Karakteristik pasien yang hidup dan meninggal tidak berbeda bermakna pada jenis kelamin, tingkat pendidikan dan indeks massa tubuh, tetapi berbeda bermakna pada umur dan lama rawat di ICU. Dari pemeriksaan kadar albumin darah, pasien dengan albumin kurang dari 2,5 g/dl mengalami mortalitas 36% dengan uji chi-square p=0,008 dibandingkan albumin >3,5 g/dl, dengan nilai risk ratio 1,87. Dengan uji multivariat didapatkan bahwa albumin merupakan salah satu prediktor risiko kematian pasien di ICU dengan Odds Ratio 2,36 (1,06-5,26) (Indeks Kepercayaan/IK 95%). Selain itu, prediktor risiko yang lain adalah natrium, BUN, dan pH.Kesimpulan: kadar albumin darah <2,5 g/dl merupakan salah satu prediktor risiko kematian pasien sakit kritis yang dirawat di ICU RSUP Dr. Sardjito dengan Odds Ratio 2,36 (1,06-5,26) (Indeks Kepercayaan/IK 95%).
Perbandingan Kadar Sevoflurane dan Nitrous Oxide (N2 O) selama Anestesi di Ruang-Ruang Operasi dengan Filter Hepa (High Efficiency Particulate Air) dan Tanpa Filter Hepa Husein, Akhmad Syaiful Fatah; Pratomo, Bhirowo Yudo; Suryono, Bambang
Jurnal Komplikasi Anestesi Vol 3 No 2 (2016): Volume 3 Number 2 (2016)
Publisher : This journal is published by the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy of Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, in collaboration with the Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Therapy , Yogyakarta Special Region Br

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jka.v3i2.7239

Abstract

Latar belakang. Semakin luasnya penggunaan sevofl urane sebagai zat anestesi inhalasi dan nitrous oksida (N2O) masih menjadi zat inhalasi umum karena memiliki efek anxiolitik, analgesi dan euforia. Sevofl urane dalam jangka panjang dapat menyebabkan gangguan ginjal akibat akumulasi metabolit dalam urin, sementara N2O berpotensi menyebabkan defisiensi neurologis, anemia megaloblastik hingga pemanasan global, tetapi keduanya tidak diukur secara rutin. Kadar keduanya sangat dipengaruhi oleh adanya instalasi HEPA, sistem penghisapan (exhausted) di ruang operasi dan sirkuit napas mesin anestesi.Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar Sevofl urane dan N2O di ruang-ruang operasi yang memiliki filter HEPA dibandingkan dengan ruang- ruang operasi tanpa filter HEPA yang berada di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta. Kadarnya dinilai keseuaiannya dengan standard National Institute of Occupational Safety and Health 1977 (NIOSH 1977).Metode. Dengan metode potong lintang, hasil penelitian diambil dari populasi seluruh ruang operasi yang digunakan operasi dengan anestesi umum lebih dari 2 jam dan menggunakan anestesi sevofl urane dan N2O selama operasi. Dari 18 ruang operasi didapatkan sampel sebanyak 7 ruang operasi dan diukur pada zona 4 dan zona 5 pada 30 menit sebelum anestesi dimulai, jam ke-2 anestesi, jam ke-4 anestesi dan30 menit setelah anestesi.Hasil. Hasilnya didapatkan rata-rata kenaikan kadar sevofl urane dan N2O di ruang-ruang operasi dengan sistem HEPA adalah 12,69 ppm (2,27 %) dan 17,53 ppm (2,70%). Kenaikan kadar sevofl urane dan N2O di ruang-ruang operasi tanpa fi lter HEPA adalah 168,46 ppm (3,45 %) dan 8,61 ppm (1,86 %).Kesimpulan. Ruang operasi yang menggunakan sistem fi lter HEPA kadarnya lebih rendah 65,5 % dibanding ruang operasi tanpa fi lter HEPA dan masih memenuhi standard NIOSH 1977.
Penanganan Perioperatif Pasien dengan Atrial Septal Defect Kurniawaty, Juni; Baskoro, Ronggo
Jurnal Komplikasi Anestesi Vol 3 No 2 (2016): Volume 3 Number 2 (2016)
Publisher : This journal is published by the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy of Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, in collaboration with the Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Therapy , Yogyakarta Special Region Br

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jka.v3i2.7240

Abstract

Atrial septal defect (ASD) adalah bentuk penyakit jantung kongenital yang paling sering didapatkan pada pasien dewasa muda setelah kelainan katup aorta bikuspid dan prolaps katup mitral. Komorbid yang paling sering didapatkan pada defek kongenital pada usia dewasa muda adalah hipertensi pulmonal, aritmia, infeksi respirasi dan penyakit kardiovaskular lainnya. Terapi optimal ASD masih kontroversial. Secara sederhana, operasi direkomendasikan pada pasien usia pertengahan dan usia tua dengan shunting kiri kekanan yang bermakna.Dilaporkan pasien perempuan usia 39 tahun dengan atrial septal defect dengan hipertensi pulmonal berat yang dilakukan operasi ASD closure dan Tricuspid Valve Repair (TVr). Persiapan preoperasi mencakup anamnesa, pemeriksaan fi sik dan pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan penunjang preoperasi mencakup pemeriksaan kateterisasi dengan hasil reaktif terhadap test oksigen. Perubahan patologi utama adalahpeningkatan resistensi vaskuler paru dan tekanan vaskuler paru, sekunder terhadap peningkatan aliran darah dari shunt kiri ke kanan. Masalah yang dihadapi pasien perioperasi pasien ini adalah hipertensi pulmonal, dengan tekanan arteri pulmonal 2/3 tekanan darah arteri. Pasien dirawat di ICU selama 3 hari dan kemudian dipindahkan ke bangsal.
Penatalaksanaan Anestesi pada Pasien Hidrosefalus Obstruktif dengan Crouzon Syndrome Widyastuti, Yunita; Sari, Djayanti; Nugraha, Achmad Fauzani
Jurnal Komplikasi Anestesi Vol 3 No 2 (2016): Volume 3 Number 2 (2016)
Publisher : This journal is published by the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy of Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, in collaboration with the Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Therapy , Yogyakarta Special Region Br

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jka.v3i2.7241

Abstract

Crouzon syndrome merupakan salah satu tipe Cloverleaf skull syndrome yang terjadi karena penutupan beberapa sutura secara premature (craniosynostosis) sehingga terjadi gangguan pertumbuhan calvaria, basis cranii dan wajah yang bisa menyebabkan gangguan perkembangan otak, hidrosefalus obstruktifdengan peningkatan tekanan intrakranial dan obstruksi jalan nafas serta penyulit dalam manajemen jalan nafas.Pada kasus ini berpotensi terjadi kesulitan menguasi jalan nafas dan peningkatan tekanan intrakranial karena hidrosefalus obstruktif sehingga diperlukan persiapan yang cukup untuk manajemanjalan nafas sulit dan kedalaman anestesi serta relaksasi yang cukup untuk mencegah gejolak peningkatan tekanan intrakranial. Dilaporkan penatalaksanaan pasien bayi perempuan usia 6 bulan dengan hidrosefalus obstruktif ec.cloverleaf skull syndrom (Crouzon syndrome) yang dilakukan vp shunt.
Duchenne Musculer Dystrophy Jufan, Akhmad Yun; Sari, Djayanti; Mahardieni, Karlina
Jurnal Komplikasi Anestesi Vol 3 No 2 (2016): Volume 3 Number 2 (2016)
Publisher : This journal is published by the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy of Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, in collaboration with the Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Therapy , Yogyakarta Special Region Br

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jka.v3i2.7242

Abstract

Duchenne muscular dystrophy merupakan suatu kelainan otot yang sering ditemui. Penyakit ini terpaut pada kromosom X yang disebabkan oleh mutasi gen dystrophin. Gejalanya berupa kelemahan otot proksimal yang berat, bersifat degenerasi progresif dan infi ltrasi lemak ke otot. Efek duchenne muscular dystrophy terhadap otot respirasi dan berhubungan dengan kardio-miopati yang dapat mengarah ke kematian.Dilaporkan anak laki-laki usia 12 tahun dengan diagnosa duchenne muscular dystrophy dd/ Baker’s muscular dystrophy dilakukan prosedur biopsi. Pasien dinilai sebagai status fi sik ASA 2 yang dilakukan general anesthesia dengan teknik TIVA. Setelah persiapan preoperasi, pasien diberikan ko induksi dengan midazolam 1,5mg, induksi dengan ketamine 20mg. Pemeliharaan anestesi dengan O2 melalui nasal kanul. Hemodinamik durante operasi stabil dengan jalan nafas terjaga dengan kepala ekstensi. Operasiberlangsung selama 20menit. Perdarahan minimal dan urine output 25cc. Kondisi pasien setelah operasi stabil dan kembali ke bangsal.
Agitasi Pasca Anestesi dengan Agen Sevoflurane Widyastuti, Yunita; Sari, Djayanti; Atmojo, Danang Dwi
Jurnal Komplikasi Anestesi Vol 3 No 2 (2016): Volume 3 Number 2 (2016)
Publisher : This journal is published by the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy of Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, in collaboration with the Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Therapy , Yogyakarta Special Region Br

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jka.v3i2.7244

Abstract

Sevofl urane merupakan agen inhalasi yang sangat popular digunakan. Agitasi pasca penggunaan sevofl urane bukan merupakan hal baru. Pertama kali dilaporkan pada tahun 1961. Mulai menjadi perhatian setelah kejadian agitasi post operasi meningkat pada penggunaan Sevofl urane menggantikan halotan. Agitasi pasca penggunaan sevofl urane tidak hanya terjadi pada pasien pediatri, namun juga dapat terjadi pada pasien dewasa.
The Use of Popliteal and Femoral Blocks for Pedis Amputation in Patient with Congestive Heart Failure Stage III Bisono, Luwih; Tantri, Aida R; Satoto, Darto
Jurnal Komplikasi Anestesi Vol 3 No 2 (2016): Volume 3 Number 2 (2016)
Publisher : This journal is published by the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy of Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, in collaboration with the Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Therapy , Yogyakarta Special Region Br

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jka.v3i2.7245

Abstract

The choice of peripheral nerve blocks for lower extremity operation are popliteal and femoral block. But at the special condition, the patient could not be performed with general anesthesia, subarachnoid block or epidural block anesthesia because various of reasons. In consequense, it is needed the other anesthesia technique by different way for lower extremity operation using peripheral nerve block. There are some recognized peripheral nerve blocks with or without ultrasonography guidance. Some of them are femoral block, sciatik/popliteal block, ankle block and psoas block. In this case report, the patient with congestive heart failure stage III and history of pulmonary edema with ejection fraction 23% was performed by lateral popliteal and femoral block usg guided for pedis amputation.

Page 1 of 1 | Total Record : 10