cover
Contact Name
Avi Meilawati
Contact Email
avimeilawati@uny.ac.id
Phone
+6285820103395
Journal Mail Official
avimeilawati@uny.ac.id
Editorial Address
Jl. Colombo no 1 Yogyakarta
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Ikadbudi : Jurnal Ilmiah Bahasa, Sastra, dan Budaya Daerah
ISSN : 20897537     EISSN : 26858282     DOI : https://doi.org/10.21831/ikadbudi.v13i1
Ikadbudi journal is a journal belonging to the professional organization IKADBUDI (Indonesian cultural lecturer association) which accommodates thoughts and research on language, literature, regional culture and learning.
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol. 13 No. 2 (2024)" : 5 Documents clear
Analisis Semiotika Roland Barthes Gerongan dalam Cakepan Gerongan Ladrang Raja Manggala Laras Pelog Pathet Nem Suryobintoro, Suryobintoro
Jurnal IKADBUDI Vol. 13 No. 2 (2024)
Publisher : Fakultas Bahasa Seni dan Budaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ikadbudi.v13i2.77357

Abstract

 AbstrakKesenian karawitan adalah salah satu cabang seni yang mediumnya menggunakan suara baik suara0manusia (vokal) maupun suara gamelan yang berlaras slendro dan pelog. Cakepan pada gerongan pada umumnya menggunakan sekar macapat atau sekar lain, yang penyajianya menyesuaikan gending yang disajikan. Bahasa Jawa yang dimanfaatkan untuk ekspresi seni dalam pedalangan adalah adanya pemakaian potensi bunyi atau persajakan (purwakanthi), afiksasi dan penggunaan kata-kata arkhais, gaya bahasa, serta kekhasan struktur sintaksis. Penelitian kualitatif ini menggunakan metode etnografi dengan pendekatan semiotik Roland Barthes. Semiotika adalah metode pemaknaan terhadap objek linguistik, teks, non teks yang berkaitan dengan tanda. Gendhing kurmat dalem adalah gendhing khusus yang disajikan pada saat Ngarsa dalem miyos atau hadir. Dalam cakepan gerongan atau syair tersebut pada intinya adalah memuji Sultan dan mengharapkan sultan selalu diberi Kesehatan dan keselamatan, serta memimpin rakyat Yogyakarta dengan sebaik-baiknya. Kata kunci: Gerongan, Raja Manggala, Semiotika, Roland Barthes  AbstractKarawitan is a branch of musical art whose medium uses both sound and voice humans (vocals) and the sound of a harmonized. Cakepan or sentence generally use macapat or another tembang, whose presentation adjusts the music presented. The Javanese language that is used for artistic expression in puppetry is the use of sound or rhyme potential (purwakanthi), affixation and use of archaic words, language style, as well as the peculiarities of syntactic structure. This qualitative research uses the ethnographic method with the semiotic approach of Roland Barthes. Semiotics is a method of interpreting linguistic objects, texts, non-texts related to signs.The honor of the house is a special gendhing that is served at the timeBefore the house was born or present. Inclose up roar or the poem basically is praising the Sultan and hoping that the sultan will always be given health and safety, and lead the people of Yogyakarta as well as possible. Keywords: Gerongan, Raja Manggala, Semiotic, Roland Barthes
Metafora Konseptual Pertanian Padi di Kabupaten Kebumen, Provinsi Jawa Tengah Hariyanto, Prima; Winarti, Daru
Jurnal IKADBUDI Vol. 13 No. 2 (2024)
Publisher : Fakultas Bahasa Seni dan Budaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ikadbudi.v13i2.78104

Abstract

Dalam berkomunikasi, penutur memiliki pilihan untuk menyampaikan maksudnya secara harfiah atau secara metaforis. Masyarakat Jawa melihat, menghayati, dan memahami padi sebagai bagian integral dari kebudayaan mereka. Artikel ini membahas metafora konseptual dalam bidang pertanian padi pada masyarakat Kabupaten Kebumen, Provinsi Jawa Tengah. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Pendekatan yang digunakan adalah studi semantik, khususnya teori metafora konseptual. Data diambil melalui observasi, pengumpulan data, dokumentasi, dan wawancara. Berdasarkan hasil analisis, ditemukan sebanyak 14 metafora konseptual dalam bidang pertanian padi. Ranah sumber yang paling banyak adalah manusia, yakni sebanyak 12 metafora dengan perincian 9 ranah sumber manusia tanpa melihat jenis kelamin dan 3 ranah sumber manusia dengan jenis kelamin perempuan. Konsep dalam ranah sumber manusia digunakan untuk menggambarkan konsep ranah target berupa padi, tanaman padi, air, rumput, dan pembajakan sawah. Metafora konseptual tersebut terbagi lagi menjadi dua, yakni metafora ontologis dan metafora struktural. Berdasarkan hasil analisis, ditemukan sebanyak 12 metafora ontologis dan 2 metafora struktural. Metafora ontologis menjadikan entitas non-human memiliki kualitas, sifat, atau perilaku seperti human atau manusia. Metafora struktural melihat konsep yang abstrak (dalam ranah target) menjadi terstruktur dalam konsep yang lebih konkret (sebagaimana ranah sumber). Konsep dalam ranah sumber manusia digunakan untuk menggambarkan konsep ranah target berupa padi, tanaman padi, air, rumput, dan pembajakan sawah. Kearifan lokal yang tecermin dalam metafora konseptual tersebut yaitu siklus hidup manusia, kerendahhatian, kebijaksanaan (keseimbangan ekosistem dan sumber daya serta pengelolaan irigasi), gotong royong, teknologi pertanian lokal, kesederhanaan, dan keberlanjutan kehidupan.
Model Window Shopping dalam Pembelajaran Membaca Cerita Pendek (Studi Praeksperimen pada Kelas XI MIPA 3 SMA Negeri 2 Majalengka Tahun Ajar 2023/2024) Nurhalizah, Atifah; Isnendes, Retty; Nugraha, Haris Santosa
Jurnal IKADBUDI Vol. 13 No. 2 (2024)
Publisher : Fakultas Bahasa Seni dan Budaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ikadbudi.v13i2.76525

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kurangnya pemahaman siswa terhadap bahasa sunda, kurangnya minat membaca siswa, kurangnya minat mempelajari bahasa sunda, banyak siswa yang belum mengetahui tentang karya sastra sunda khususnya cerpen, siswa merasa jenuh di dalam kelas, dan kurangnya kreativitas guru dalam menerapkan model pembelajaran. Dengan menerapkan model Window Shopping diharapkan mampu menyelesaikan permasalahan yang dihadapi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: 1) kemampuan siswa dalam membaca cerpen sebelum menggunakan model pembelajaran Window Shopping, 2) kemampuan siswa dalam membaca cerpen setelah menggunakan model pembelajaran Window Shopping, 3) perbedaan kemampuan membaca carita pondok sebelum dan sesudah menggunakan model Window Shopping. Penelitian ini menggunakan metode kuasi praeksperimen dengan jenis pendekatan kuantitatif dan menggunakan desain one group pre-test and post-test. Sumber datanya adalah kelas XI MIPA 3 SMA Negeri 2 Majalengka Tahun Ajaran 2023/2024 yang berjumlah 36 siswa, 14 siswa laki-laki dan 22 siswa perempuan dengan menggunakan teknik tes. Hasil dari penelitian ini adalah: 1) kemampuan membaca cerita pendek sebelum menggunakan Window Shopping, 2) kemampuan membaca cerita pendek siswa setelah menggunakan Window Shopping, 3) perbedaan kemampuan membaca cerita pendek siswa sebelum dan sesudah menggunakan Window Shopping. Penelitian ini diuji parametrik signifikansi sig.(2-tailed) 0,000 < 0,05 berarti H0 ditolak dan H1 diterima. Oleh karena itu dapat dibuktikan terdapat perbedaan yang signifikan kemampuan membaca cerpen siswa kelas XI MIPA 3 SMA Negeri 2 Majalengka Tahun Pelajaran 2023/2024 sebelum dan sesudah menggunakan model Window Shopping. 
Medan Makna Leksikon 'Makan' dalam Bahasa Jawa di Yogyakarta Mauliza, Chusna Amanda; Winarti, Daru
Jurnal IKADBUDI Vol. 13 No. 2 (2024)
Publisher : Fakultas Bahasa Seni dan Budaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ikadbudi.v13i2.78203

Abstract

Setiap leksem yang menggambarkan tindakan 'makan' dalam bahasa Jawa tidak hanya menggambarkan tindakan makan secara literal, tetapi juga mencerminkan nilai-nilai budaya yang hidup dalam masyarakat Yogyakarta. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan variasi makna dan penggunaan leksikon 'makan' secara rinci, dengan menyoroti bagaimana leksem-leksem tersebut mencerminkan budaya masyarakat Yogyakarta. Data diperoleh dari hasil wawancara mendalam dengan narasumber berusia minimal 25 tahun, untuk mendapatkan wawasan langsung dari penutur asli. Melalui analisis komponensial, penelitian ini mengungkap kekayaan dan variasi leksikon 'makan' dalam bahasa Jawa di Yogyakarta, yang menjadi cerminan kuat dari struktur sosial dan tradisi budaya masyarakat Jawa. Leksikon makan dalam bahasa Jawa sangat kaya dan bervariasi, mencerminkan berbagai aspek hubungan sosial, tingkat formalitas, keakraban, dan nilai-nilai budaya yang dijunjung tinggi oleh masyarakat Jawa khususnya di Yogyakarta. Pemilihan kata yang tepat dalam konteks tertentu dapat membantu menjaga harmoni sosial, menunjukkan rasa hormat, serta memperkuat ikatan antara individu-individu yang terlibat dalam komunikasi.
On the Majalengka Sundanese: Lexical Variations and Morphology Purwitasari, Ana
Jurnal IKADBUDI Vol. 13 No. 2 (2024)
Publisher : Fakultas Bahasa Seni dan Budaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ikadbudi.v13i2.77017

Abstract

Majalengka Sundanese has been heavily influenced by Indonesian and Javanese for having a Javanese enclave. On the contrary, Indonesian influences vocabulary spoken mainly in Majalengka, Sukahaji, Panyingkiran, Cigasong and Kadipaten sub-districts as those regions are located near from the city centre of Majalengka Regency. Majalengka Sundanese words got shaped by Javanese are natively uttered in the Javanese enclave, referring to Patuanan rural village in Leuwimunding sub-district. Those are also uttered in Jatitujuh rural village in Kertajati sub-district and Parapatan rural village in Sumberjaya sub-district for sharing border with Indramayu and Cirebon regencies as home of Javanese speakers. The data were gathered by interviewing natives. Those words altered by Javanese include (1) pertelon "˜T-intersection', (2) enok "˜child (to call a girl)', (3) sugih "˜wealthy' and (4) waras "˜get well'. Moreover, the Majalengka Sundanese words modified by Indonesian add up to 26 words. Compared to Standard Sundanese, Majalengka Sundanese has also distinct vocabulary characterized Majalengka people, amounting to 55 words. Morphologically, Majalengka Sundanese differs from Standard Sundanese for having these suffixes, e.g. (1) nga-, (2) nga-keun and (3) nga-an to replace suffixes m-, m-keun and m-an which are frequently found in Standard Sundanese to form particular words. Nevertheless, there are several exceptions found in the specific lexicons.

Page 1 of 1 | Total Record : 5